4 research outputs found
Pengaruh model pembelajaran inkuiri terhadap hasil belajar dan kemampuan soft-skills siswa SMA pada materi hukum dasar kimia
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran inkuiri terhadap hasil belajar dan soft-skills siswa SMA pada materi hukum dasar kimia. Penelitian ini dilkasanakan di SMA Negeri 6 Balikpapan. Jenis penelitian ini tergolong ke dalam quasi experimental. Sampel dipilih dengan teknik purposive sampling adalah siswa kelas X yang berasal dari kelas X MIPA 2 dan X MIPA 3, masing-masing berjumlah 35 siswa. Siswa kelas X MIPA 3 diajar menggunakan model pembelajaran inkuiri (kelas eksperimen) dan siswa kelas X MIPA 2 diajar menggunakan model pembelajaran langsung (kelas kontrol). Hasil belajar dan soft-skills siswa dianalisis dengan menggunakan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar dan soft-skills siswa kelas eksperimen lebih baik secara signifikan (α=0,05) dibanding siswa kelas kontrol. Penggunaan model pembelajaran inkuiri berpengaruh terhadap hasil belajar dan kemampuan soft-skills siswa pada materi hukum dasar kimi
EVALUASI KUALITAS TEMATIK PETA PENGGUNAAN LAHAN YANG DIPEROLEH DARI DATA VOLUNTEERED GEOGRAPHIC INFORMATION Studi Kasus di Kota Yogyakarta: (Thematic Quality Assessment of Land-use Map Derived from Volunteered Geographic Information Data, Case study in Yogyakarta City)
Perkembangan kawasan perkotaan yang dinamis dan kompleks tidak diikuti dengan kecepatan perolehan data pemerintah daerah, seperti data penggunaan lahan. Pemerintah daerah biasanya memetakan penggunaan lahan menggunakan teknologi penginderaan jauh (citra satelit) dan survei lapangan. Kedua metode pemetaan tersebut memerlukan biaya yang besar dan waktu yang lama. Kondisi tersebut merupakan pendorong kebutuhan suatu metode akuisisi data yang murah, cepat dan tepat seperti metode Volunteered Geographic Information (VGI). VGI adalah suatu fenomena penggunaan web dalam membuat, mengumpulkandan menyebarluaskan informasi geospasial secara sukarela oleh individu yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda (bukan profesional). Data VGI yang bersumber dari platform seperti OpenStreetMap, Geonames, Twitter, Flickr dan Geo-Wiki, dapat menjadi suatu alternatif untuk memperoleh data penggunaan lahan yang riil dan terbaru. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis potensi data VGI, yaitu OpenStreetMap (OSM) sebagai sumber data dalam pembuatan peta penggunaan lahan riil. Data acuan yang digunakan untuk menguji kualitas peta penggunaan lahan adalah data penggunaan lahan dari Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Beberapa hasil ditunjukkan pada penelitian ini antara lain (1) nilai overall accuracy peta penggunaan lahan yang diperoleh sebesar 73% untuk klasifikasi penggunaan lahan level 1, dimana kelas transportasi dan hunian masing-masing memiliki user accuracy tertinggi yaitu 100% dan 74%; kelas hunian dan layanan kesehatan masing-masing memiliki nilai producer accuracy tertinggi yaitu 98% dan 24%; (2) terdapat 42% penggunaan lahan di area studi belum terpetakan di OSM, sebagian besar di Kelurahan Mergangsan dan Kelurahan Pringgokusuman; dan (3) kesalahan dalam klasifikasi disebabkan oleh tidak terdapatnya informasi atribut penggunaan lahan pada data OSM dan kekeliruan pengguna dalam memberikan tag atau data atribut
Pendokumentasian Pilar Batas Daerah Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman
Batas daerah antara Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman telah ditetapkan dan ditegaskan dalam Peranturan Menteri Dalam Negeri No 72 Tahun 2007, selanjutnya disebut sebagai Permendagri No 72/2007. Permendagri ini mengatur tentang batas daerah Kota Yogyakarta dan kabupaten Sleman dalam rangkaian koordinat titik pilar. Dalam batas daerah antara Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman, terdapat 66 pilar batas yang terdiri dari tiga jenis pilar batas. Ketiga jenis pilar tersebut yaitu Pilar Acuan Batas Utama (PABU), Pilar Batas Utama (PBU), dan Pilar Batas (PBA). Telah dilakukan pengamatan secara visual terhadap 66 pilar batas yang berada di sepanjang garis batas Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman. Artikel ini bermaksud untuk menyajikan hasil pengamatan secara visual pada pilar batas sebagai penanda (acuan) batas antara Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman dengan tujuan untuk membantu pihak yang berkepentingan, dalam hal ini Pemerintah Kota Yogyakarta, dan Pemerintah Kabupaten Sleman dalam pemeliharaan batas antara kedua daerah. Dari hasil pengamatan secara visual ini didapati beberapa hal yang kedepannya perlu menjadi perhatian semua pihak yang berkepentingan terhadap batas ini, antara lain adanya pilar batas yang hilang, pilar batas yang sudah rusak, pilar batas yang terhalang tajuk, dan bermacam kondisi lainnya. Namun demikian masih terdapat juga pilar batas yang kondisinya cukup terawat dengan baik.The regional boundary between Yogyakarta City and Sleman Regency has been defined and confirmed in the Regulation of the Minister of Home Affairs No 72/2007, hereinafter referred to as Permendagri No 72/2007. This Permendagri regulates the regional boundaries of Yogyakarta City and Sleman Regency in terms of coordinating pillar points. Within the regional boundary between Yogyakarta City and Sleman Regency, 66 boundary pillars are consisting of three types of boundary pillars. The three types of pillars are the Main Boundary Reference Pillar (PABU), the Main Boundary Pillar (PBU), and the Boundary Pillar (PBA). Visual observations have been made to the 66 boundary pillars along the boundary lines of Yogyakarta City and Sleman Regency. This article intends to present a visual observation of the boundary pillar as a marker (reference) for the boundary between Yogyakarta City and Sleman Regency to assist interested parties, in this case, the Yogyakarta City Government and the Sleman Regency Government in maintaining the boundary between the two regions. From the results of this visual observation, several things need to be the attention of all parties with an interest in this limit, including missing boundary pillars, damaged boundary pillars, boundary pillars that are blocked by the canopy, and various other conditions. However, there are also boundary pillars that are in a quite good condition
Extreme Coastal Flood Inundation Mapping Based on Sentinel 1 Using Google Earth Engine
Coastal flooding frequently occurs along the Northern Coast of Java due to the continuous land subsidence and sea level rise. On May 23rd, 2022, an extreme tidal flood happened and impacted a wide area around the central part of the Northern Coast of Java, with reports indicating that the inundated area was larger than that of typical flood events. Although several researchers have conducted local inundation mapping in various districts, comprehensive flood mapping of this event over a larger area has not yet been undertaken. Such study would benefit for hydraulic flood models. Therefore, this study aimed to map the coastal flood extent around the central part of the Northern Coast of Java using Sentinel-1 imagery data processed through the Google Earth Engine (GEE). The delineated inundation at several points was then compared with field observations from a previous study. The analysis suggests that Sentinel-1 is generally capable of estimating flood extent, although additional measures are necessary for mapping in densely populated urban areas. The findings indicate that the area inundated by the May 2022 flood was at least 5,562 hectares larger compared to the flooding in April 2022
