1,721,079 research outputs found

    PEREMPUAN DALAM KESUSASTRAAN INDONESIA

    Full text link
    Membaca Simone de Beauvoir Membaca Simone de Beauvoir adalah membaca sebuah dongeng kutukan yang melekat pada sebuah tubuh tempat rahim bersemanyam yang menyebabkan namanya berakhiran vocal i, Dewi, Lakmi, atau Putri. Membaca Simone de Beauvoir adalah membaca sebuah takdir yang diciptakan sejarah tentang oposisi biner kelas dan kasta, kiri dan kanan, emosi dan logika, inferior dan superior yang melekat pada payudara dan dada. Membaca Simone de Beauvoir adalah membaca sebuah perlawanan yang tetap terbelenggu dalam penjara asmara Sang Sartre hingga eksistensimu terbaca samar. Membaca Simone de Beauvoir adalah membaca sebuah mimpi yang terlambat karena betahun lalu telah ada Ratu Shima dan Ratu Kalinyamat yang tak lagi tinggal di kelas dua yang membuatmu selalu gelisah dan inferior tak berkesudahan. Wiyatmi, Yogyakarta, 20 Desember 2019Puisi tersebut adalah salah satu puisi yang saya tulis ketika sedang mengerjakan penelitian Hibah Penelitian Dasar Dikti tahun lalu yang berjudul “Konstruksi Gender Perempuan Super dalam Folkore Indonesia dan Transformasinya dalam Sastra Indonesia Mutakhir.†Dari penelitian ini, saya menemukan sejumlah tokoh perempuan dalam folklore dari berbagai daerah di Indonesia, dengan latar waktu berpuluh abad lampau yang telah menduduki tahta kerajaan atau pun kepala suku, dan panglima perang melawan kolonialisme asing. Saya mememukan lagi (karena sebelumnya pernah mendengar namanya, tetapi tidak begitu paham eksistensinya) adanya seorang gadis dari abad XVI, Renta Kencana, putri Sultan Trenggana, Sultan Demak salah satu kesultanan Islam di Jawa, yang diangkat sebagai seorang raja di Kerajaan Kalinyamat (sekarang wilayah Jepara). Selain itu, di pedalaman Kalimantan juga ada seorang perempuan bernama Asung Luwan yang diangkat sebagai Kepala Suku Dayak Kayan. Di Pulau Kupang, Kalimantan Tengah juga ada seorang perempuan, Nyai Undang yang menjadi raja dari sejak sebelum menikah. Selain mereka bertiga, masih bias ditemukan sejumlah raja dan pemimpin perempuan di beberapa kerajaan dan daerah di Nusantara (Indonesia), seperti pernah dikaji oleh salah seorang arkeolog di UI, Titi Sari Nastiti (2009).Setelah menemukan sejumlah hasil penelitian tersebut, saya pun menyimpulkan bahwa ternyata nenek moyang kita sudah lama memraktikkan kesetaraan gender atau yang sering dikenal dengan istilah feminisme, jauh sebelum konsep dn gerakan feminisme lahir di Eropa dan Amerika. Salah satu tokohnya adalah Simone de Baeboir di Perancis. Sebelum feminisme sebagai gerakan, cara pandang, dan ideologi kesetaraan gender lahir dan digaungkan di Eropa dan Amerika, kita sudah melaksanakan feminisme, yang dapat disebut feminisme nusantara. Selain artikel ilmiah yang dikirimkan ke jurnal internasional, dan menunggu publish, saya dan tim peneliti menulis temuan tersebut dalam buku berjudul Para Raja dan Pahlawan Perempuan, serta Bidadari dalam Folkolre Indonesia  (Wiyatmi, Sari, Liliani, 2020).Pertanyaan selanjutnya, kalau dalam sastra rakyat, sastra lama hasil kreasi nenek moyang sudah kental isu feminisme, bagaimana dengan sastra Indonesia modern? Penelitian lanjutan yang kami kerjakan tahun ini akan mengungkap hal tersebut. Sudah ada beberpa temuan yang bias dicatat

    Analisis semantik antologi puisi Suara Dari Balik Kabut karya Wiyatmi

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna denotasi dan makna konotasi pada lima belas puisi dalam antologi puisi Suara Dari Balik Kabut karya Wiyatmi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. data berupa kata, kalimat, bait, dan baris puisi. sumber data adalah buku antologi puisi Suara Dari Balik Kabut karya Wiyatmi. Teknik pengumpulan data berupa analisis dokumen, berupa gambar, tulisan atau hasil karya seseorang. Teknik analisis data dalam penelitian ini terdapat tiga tahapan yaitu: reduksi data, menyajikan data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyair banyak menggunakan makna konotasi dibandingkan makna denotasi. Hal ini dapat dilihat dari data yang ditemukan yaitu sebnyak 26 data makna denotasi dan 32 data makna konotasi. &nbsp

    DEKONSTRUKSI TERHADAP KUASA PATRIARKI ATAS ALAM, LINGKUNGAN HIDUP, DAN PEREMPUAN DALAM NOVEL-NOVEL KARYA AYU UTAMI

    No full text
    DEKONSTRUKSI TERHADAP KUASA PATRIARKI ATAS ALAM, LINGKUNGAN HIDUP, DAN PEREMPUAN DALAM NOVEL-NOVEL KARYA AYU UTAMI Wiyatmi, Maman Suryaman, dan Esti Swatikasari FBS Universitas Negeri Yogyakarta email: [email protected] Abstrak Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan strategi dekonstruksi terhadap kuasa patriarki atas alam, lingkungan hidup, dan perempuan dalam novel-novel Ayu Utami. Penelitian ini menggunakan aliran pemikiran ekofeminisme. Sumber data adalah tiga novel karya Ayu Utami, yaitu Bilangan Fu, Manjali dan Cakrabirawa, dan Maya. Hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, ketiga novel tersebut menggambarkan perjuangan tokoh dalam melawan kuasa patriarki atas alam, lingkungan, dan perempuan yang terjadi di kawasan taman bumi Sewugunung dan situs candi Calwanarang di era Orde Baru. Kedua, bentuk perlawanan yang dilakukan tokoh sejalan dengan pemikiran ekofeminisme dan merupakan strategi dekonstruksi terhadap kuasa patriarki atas alam, lingkungan, dan perempuan. Kata kunci: ekofeminisme, alam, patriarki, novel, Ayu Utami THE DECONSTRUCTION OF PATRIARCHAL POWER OVER NATURE, ENVIRONMENT, AND WOMEN IN AYU UTAMI’S NOVELS Abstract This study aims to describe deconstruction strategies against patriarchal power over nature, environment, and women in Ayu Utami’s novels. The study used ecofeminism. The data sources were Ayu Utami’s three novels, namely Bilangan Fu, Manjali dan Cakrabirawa, and Maya. The findings are as follows. First, the three novels portray characters’ struggle against patriarchy power over nature, environment, and women in the Sewugunung park area and the Calwanarang temple site in the New Order era. Second, the forms of the resistance that the characters make are in line with ecofeminism and are deconstruction strategies against patriarchal power over nature,environment, and women. Keywords: ecofeminism, nature, patriarchy, novels, Ayu Utam

    DEKONSTRUKSI TERHADAP KUASA PATRIARKI ATAS ALAM, LINGKUNGAN HIDUP, DAN PEREMPUAN DALAM NOVEL-NOVEL KARYA AYU UTAMI

    No full text
    DEKONSTRUKSI TERHADAP KUASA PATRIARKIATAS ALAM, LINGKUNGAN HIDUP, DAN PEREMPUANDALAM NOVEL-NOVEL KARYA AYU UTAMIWiyatmi, Maman Suryaman, dan Esti SwatikasariFBS Universitas Negeri Yogyakartaemail: [email protected] ini bertujuan mendeskripsikan strategi dekonstruksi terhadap kuasapatriarki atas alam, lingkungan hidup, dan perempuan dalam novel-novel Ayu Utami.Penelitian ini menggunakan aliran pemikiran ekofeminisme. Sumber data adalah tiganovel karya Ayu Utami, yaitu Bilangan Fu, Manjali dan Cakrabirawa, dan Maya. Hasilpenelitian sebagai berikut. Pertama, ketiga novel tersebut menggambarkan perjuangantokoh dalam melawan kuasa patriarki atas alam, lingkungan, dan perempuan yang terjadidi kawasan taman bumi Sewugunung dan situs candi Calwanarang di era Orde Baru.Kedua, bentuk perlawanan yang dilakukan tokoh sejalan dengan pemikiran ekofeminismedan merupakan strategi dekonstruksi terhadap kuasa patriarki atas alam, lingkungan,dan perempuan.Kata kunci: ekofeminisme, alam, patriarki, novel, Ayu UtamiTHE DECONSTRUCTION OF PATRIARCHAL POWEROVER NATURE, ENVIRONMENT, AND WOMEN IN AYU UTAMI’S NOVELSAbstractThis study aims to describe deconstruction strategies against patriarchal power overnature, environment, and women in Ayu Utami’s novels. The study used ecofeminism. Thedata sources were Ayu Utami’s three novels, namely Bilangan Fu, Manjali dan Cakrabirawa,and Maya. The findings are as follows. First, the three novels portray characters’ struggleagainst patriarchy power over nature, environment, and women in the Sewugunung parkarea and the Calwanarang temple site in the New Order era. Second, the forms of theresistance that the characters make are in line with ecofeminism and are deconstructionstrategies against patriarchal power over nature,environment, and women.Keywords: ecofeminism, nature, patriarchy, novels, Ayu Utami</jats:p

    Tanda-Tanda Puitik Sajak “Pertanyaan Srikandi” Karya Wiyatmi

    Full text link
    Abstrak: Tujuan penelitian ini mengungkapkan dan mendeskripsikan tanda-‐tanda puitik sajak Pertanyaan Srikandi karya Wiyatmi dengan pendekatan semiotik. Masalah penelitian adalah bagaimana tanda-‐tanda puitik pada tataran sintaktik, semantik, dan pragmatik terekspresikan dalam sajak Pertanyaan Srikandi? Metode yang digunakan adalah metode kualitatif interpretatif dengan ditopang analisis konten. Hasil penelitian membuktikan bahwa tanda-‐tanda puitik sajak Pertanyaan Srikandi pada tataran: (1) sintaktik semiotik menunjukkan bentuk sajak bebas; (2) semantik semiotik menunjukkan adanya testimoni Srikandi yang berisi pernyataan jati diri semasa kini sebagai perempuan androgini atau semasa generasi Sri Kresna sebagai kenya wandu yang berusaha menggugat akan kesetaraan gender; dan (3) pragmatik semiotik membuktikan adanya bentuk ujaran tunggal, komunikasi searah dengan saluran komunikasi teks tertulis, sudut pandang aku terlibat, dan menonjolkan fungsi bahasa aspek referensial situasional yang berisi pesan gugatan seorang perempuan dalam menghadapi tebalnya tembok patriarkat. Kata-‐Kata Kunci: tanda-‐tanda puitik, semiotik, sintaksis, semantik, pragmatik Abstract: This study aims to reveal and describe the poetic signs of "Pertanyaan Srikandi" by Wiyatmi with semiotic approach. The research problem is how the poetic signs at the syntactic, semantic, and pragmatic levels are expressed in the poem "Pertanyaan Srikandi". The study used qualitative method supported with the content analysis. The result shows that: (1) at syntactic level, the poetic signs of "Pertanyaan Srikandi" show the form of free verse; (2) at semantic level, the signs show Srikandis testimony containing statements during her current identity as an androgynous woman or during the generation of Sri Krishna as kenya wandu androgyny seeking a gender equality; and (3) at pragmatic level, they prove the existence of singular speech form, unidirectional communication through communication channel of written text, involvement of first person point of view, and emphasis on the situational referential aspects of language function containing a challenging message of a woman in dealing with the strength of patriarchy. Key Words: poetic signs, semiotic, syntactic, semantic, pragmati

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
    corecore