1,721,073 research outputs found
Penentuan Titik-Titik Pengendalian Kritis Penanganan Ikan Tuna di Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman Jakarta
The purpose of this study was to identify the critical control points of tuna handling processes in the fishing port Nizam Zachman Jakarta with the HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point). Research method used was a case study during the handling of tuna on board and in fishing port Nizam Zachman Jakarta. Data were collected through observation when handling fish tuna, interviews guided by a questionnaire and secondary data collection from the fishing port to support the primary data. The decision tree has been applied to analysis critical control point-CCP during process of tuna handling. Results of the study showed that the identification of critical control points in the process of handling fresh tuna with a decision tree was known that the gaffing and landing of fish to the board; killing; bleeding, gilling and gutting; onboard storage; unloading and storage in tuna landing center are critical control points- CC
Pemanfaatan Karang Hias Berkelanjutan di Perairan Teluk Lampung, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung.
Indonesia is the main supplier of ornamental coral reef in the world. The second biggest ornamental coral supplier in Indonesia is Lampung Bay, after South Sulawesi. According to the Convention on International in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), ornamental corals are classified in Appendix 2, which means they are species that are not necessarily threatened with extinction, but may become so unless trade in specimens of such species is subject to strict regulation in order to avoid utilization incompatible with the survival of the species in the wild. Therefore, in order to ensure that management of the coral ornamental is sustainable, its abundance based on group size, its biological nature, environmental factors and its utilization should be considered. Data and information were collected and analyzed based on those above aspects. Approximately 90% of ornamental coral species usually characterized as slow growing corals. The commercial types have very high quota in the market. However, during three years of observation, the fishers were only able to deliver approximately 50% of exporter’s orders. The result of the survey taken from 16 stations showed that only 4 species of 24 species that had abundance of ≥2000 ind/ha, the rests had a very low abundance. The evidence of over-exploitation was also found. The ideal management should be based on the potential of ornamental coral in each location, in order to set the Total Allowable Collect (TAC). Based on the calculation of TAC, five species were not recommended for use because they had not only low abundance but also they did not have mature colony for reproduction. Hence the utilization of the other nineteen species should be limited in the range of 2-15% of the existing population in the area. According to value of TAC expected in the future, these species still have the opportunity to increase their population
Efektifitas Informasi Daerah Penangkapan Ikan untuk Perikanan Tangkap Yang Berbasis di Malang Selatan
Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Pondok Dadap merupakan salah satu pelabuhan perikanan dengan penghasil ikan terbesar di Jawa Timur yang terletak di Pantai Sendangbiru Kabupaten Malang. Nelayan di PPP Pondok Dadap sebagian besar menggunakan pancing ulur untuk melakukan kegiatan penangkapan ikan yang beroperasi di Samudera Hindia. Samudera Hindia memiliki potensi perikanan yang sangat besar, ikan yang dominan tertangkap antara lain tuna, cakalang, marlin, tongkol, layang dan ikan bernilai potensial tinggi lainnya. Untuk mengoptimalkan potensi sumberdaya perikanan maka diperlukan informasi yang dapat memudahkan nelayan untuk melakukan kegiatan penangkapan ikan. Informasi mengenai peta perencanaan daerah penangkapan ikan (PPDPI) merupakan informasi yang dapat membantu nelayan dalam mengoptimalkan potensi sumberdaya ikan. PPDPI masih belum dapat digunakan oleh nelayan dengan baik dikarenakan informasi peta yang kurang lengkap. Selain informasi pada PPDPI yang kurang lengkap nelayan lebih mengandalkan rumpon untuk melakukan kegiatan penangkapan ikan.
Persepsi agen dan aktor terhadap PPDPI untuk keberhasilan penangkapan ikan dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan skala likert dengan beberapa aspek. Aspek yang berpengaruh terhadap keberhasilan penangkapan ikan antara lain aspek ekologi, teknologi, sosial dan lingkungan. Dari beberapa aspek tersebut memiliki tingkat kepentingan dan pelaksanaan yang dipetakan dalam peta perseptual. Hasil dari analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis kesesuaian DPI terhadap beberapa faktor dan ikan yang dominan tertangkap bernilai ekonomis tinggi. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap DPI antara lain daya jangkau kapal, komposisi hasil tangkapan, produktivitas, klorofil-a, suhu permukaan laut (SPL), salinitas, pH dan kedalaman perairan. Faktor-faktor tersebut dianalisis menggunakan analisis sistem informasi geografi (GIS) dan CPUE dengan menggunakan data primer dan sekunder. Hasil dari analisis kesesuaian digunakan untuk menentukan efektvitas PPDPI.
Nelayan pancing mampu menjangkau DPI pada jarak 40 mil hingga 200 mil. Ikan ekonomis tinggi layak tangkap lebih banyak daripada ikan ekonomis tinggi yang tidak layak tangkap. CPUE alat tangkap pancing termasuk dalam kategori CPUE yang baik karena hasil tangkapannya selalu diatas rata-rata. Sebanyak 16 sampel salinitas sesuai dengan salinitas optimum adaptasi ikan tuna dan sebanyak 14 sampel pH sesuai dengan pH optimum adaptasi ikan tuna. Klorofil-a dan SPL tidak terlalu berpengaruh terhadap DPI. Ikan yang dominan tertangkap adalah ikan tuna jenis bigeye yang mampu berenang pada kedalaman lebih dari 300 meter. Dari 27 lokasi DPI hanya 12 lokasi yang termasuk kategori efektif dan 15 lokasi yang masuk kategori tidak efektif
Analisis Sistem Fair Trade USA pada Nelayan Tuna dengan Alat Tangkap Handline di Dusun Supulesi Kabupaten Maluku Tengah
Fair Trade USA, merupakan salah satu bentuk sistem gerakan perdagangan
adil yang bertujuan mengurangi kemiskinan di tingkat global, meningkatkan
kapasitas nelayan skala kecil, dan mempromosikan sistem perdagangan
berkelanjutan. Tujuan dari penelitian ini yaitu mendeskripsikan sistem perikanan
fair trade USA dan menganalisis kesesuaian sistem tersebut terhadap kriteria
perdagangan adil dalam rangka pembangunan perikanan berkelanjutan. Metode
penelitian yang dilakukan adalah metode survey berupa purposive sampling serta
melalui studi beberapa literatur terkait. Terdapat tiga aspek yang digunakan untuk
mengetahui penerapan sistem fair trade USA dalam konsep perikanan
berkelanjutan, yaitu ekonomi, ekologi dan sosial. Hasil penelitian menunjukkan
masih terdapat praktek perikanan yang belum sesuai dengan sistem sertifikasi fair
trade USA ini dan beberapa hal yang belum sejalan dengan pembangunan
perikanan berkelanjutan. Oleh karena itu dapat dikatakan pengelolaan sistem
sertifikasi fair trade USA yang tengah berjalan belum memenuhi konsep perikanan
berkelanjutan secara sempurna, meskipun demikian komoditi tuna setempat telah
memenuhi seleksi tahun nol untuk mendapatkan sertifikasi label fair trade US
Aplikasi Konsep Traceability Tuna Ditinjau dari Aspek Supply Chain Perikanan Handline di PPP Sadeng, Yogyakarta.
Sistem ketelusuran (traceability) mutlak diperlukan untuk mengetahui transparasi data produk tuna, dan kualitas ikan tetap terjaga dengan baik, sehingga margin harga ikan di pasar internasional akan menurun, dan kesejahteraan nelayan pun meningkat. Sistem supply chain yang ideal tentunya akan memperbesar kemungkinan kualitas ataupun mutu tuna akan tetap terjaga dengan baik sehingga diharapkan akan menghasilkan tuna dengan kualitas yang sangat baik. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis supply chain ikan tuna, dan penentuan titik kritis, mengkaji persepsi nelayan terhadap penerapan traceability, dan merumuskan permasalahan penerapan supply chain dan traceability dari aspek harga dan mutu ikan. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan menggunakan analisis deskriptif dan content analysis. Hasil analisis ini menunjukan PPP Sadeng memiliki pola struktur supply chain yang mempengaruhi distribusi ikan tuna, sedangkan titik kritis terjadi pada aktor-aktor yang terlibat dalam supply chain, salah satunya alur informasi yang kurang valid. Respon dan persepsi nelayan mengenai penerapan sistem traceability di PPP Sadeng sangat baik dan mendukung adanya sistem tersebut dengan catatan tidak merugikan nelayan, penerapan ini pun didukung oleh peraturan legal mengenai sistem traceability dari beberapa negara. Permasalahan dalam penerapan supply chain dan traceability, yaitu kurangnya minat dalam pengisian logbook, fasilitas yang sangat minim, dan sistem pendataan yang masih bersifat pasif
Postur Kerja pada Perikanan Purse Seine.
Kegiatan penangkapan ikan melibatkan kapal perikanan, alat tangkap dan nelayan. Aktivitas penangkapan ikan dengan kapal purse seine di Rembang dilakukan secara manual sehingga dapat menyebabkan gangguan musculoskeletal. Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi kondisi postur kerja nelayan saat melakukan penangkapan ikan dengan alat tangkap purse seine, mengidentifikasi kondisi yang tergolong membahayakan bagi otot dan gangguan musculoskeletal yang dirasakan setelah melakukan aktivitas penangkapan. Data yang digunakan berupa sikap tubuh saat melakukan aktivitas penangkapan ikan yang diperoleh melalui observasi lapang. Data keluhan otot yang dirasakan setelah melakukan aktivitas penangkapan ikan diperoleh dari wawancara terhadap nelayan purse seine sebanyak 100 responden. Data sikap tubuh diolah menggunakan metode Ovako Working Posture Analysis System (OWAS) merupakan metode untuk menganalisa postur kerja yang dapat menyebabkan keluhan otot, meliputi pergerakan tubuh bagian punggung, bahu, tangan dan kaki, termasuk paha, lutut dan pergelangan kaki. Nordic body map merupakan metode untuk mengetahui keluhan otot yang dirasakan pada bagian tubuh dan job safety analysis merupakan metode untuk mengidentifikasi bahaya dan mengevaluasi dari potensi kecelakaan yang dihasilkan terhadap suatu pekerjaan. Hasil penilitian menunjukan bahwa aktivitas penangkapan ikan melibatkan sikap kerja berdiri yaitu pada aktivitas perbekalan, setting, hauling, pemasangan rumpon, bongkar muat dan sikap kerja duduk pada aktivitas sortir ikan dan perbaikan jaring. Aktivitas yang tergolong membahayakan adalah dengan mengangkat beban dalam kondisi ketika mengangkat beban melebihi bahu seperti aktivitas perbekalan dan bongkar muat. Bagian atas tubuh yang paling banyak merasakan sakit adalah lengan atas kanan dan kiri, bagian tengah adalah punggung dan bagian bawah adalah betis kiri dan kanan
Fisheries management model through effectiveness and zoning based on ecosystem approach in southeast aru conservation area, aru islands district
Southeast Aru conservation area with an area of 114 000 ha, has seven small islands that are uninhabited, and they are potential habitats for turtles nesting areas. In addition to a conservation area, geopolitically, this region was a border area between Indonesia and Australia. Therefore the management of the region must come through ecological, social, policy or governance and security approaches. The purpose of the research was to develop a fisheries management model through the determination of effectiveness and zoning based on ecosystem approach in Southeast Aru conservation area. The conclusion of the research include: (1) Management of Southeast Aru conservation area for 20 years, not develop and tends to be left so that the management still on first level, which means the area management have not been able to making a positive impact on sustainability of fisheries resources and increase of community economic, (2) the collaboration model of zoning was found four main zones namely core zone, sustainable fisheries zone, use zone and other zone which are expected to give their best efforts to manage the Southeast Aru conservation area, to answer the problems of fisheries resources management, and to increase the social welfare
Analisis Kelayakan dan Pengembangan Usaha Perikanan Jaring Insang Hanyut di Teluk Banten
The Business of drift gillnet fisheries in Banten Bay is certain specifications about construction tools and operation. Therefore need to do technical analysis, financial analysis, sensitivity analysis, market analysis, social analysis and business development strategy. Technical analysis is used to determine fishing gear construction, ships is used, number and classification job of fishermen, method of operation, fish of catch, season and fishing ground. Financial analysis consist of business analysis and investment analysis. Business analysis consist of revenue analysis, Revenue Cost Ratio (R/C), analysis of time behind capital (Payback Period) and Return on Investment (ROI). Analysis of investment criteria consist of Net Present Value (NPV), analysis of Net Benefit-Cost Ratio (Net B/C) and Internal Rate of Return (IRR). Market analysis is used to determine marketing channel and marketing margin. Social analysis is used to determine the social life of fishermen. Business development strategy consist of identification SWOT factors, IFE and EFE matrix, SWOT diagrams, SWOT analysis, SWOT matrix and the main formulation strategies. Technical analysis shows method of operation affected additional buoy on the rope. The fishermen are operating total of three to four people. The catch of drift gillnet channeled through four marketing channel with the margin marketing obtained differently. Result of revenue drift gillnet Rp 99.857.300,00; Revenue-Cost Ratio 1,15; Payback Period 3,13 years and Return on Investment (ROI) 32%. The result of investment criteria analysis drift gillnet consist of Net Present Value 52.439.759,95, Net B/C 2,22 and Internal Rate of Return 42,90%. The drift gillnet fisheries in Banten Bay to be feasible because NPV value>0, Net B/C>1 and IRR higher than discount rates. The business of drift gillnet fisheries is very sensitive to catch decreased. There are three main strategy in the development of drift gillnet in Banten Bay.Usaha penangkapan jaring insang hanyut di Teluk Banten memiliki spesifikasi tertentu yaitu dalam hal konstruksi alat dan pengoperasiannya. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis teknis, analisis financial, analisis sensitivitas, analisis pasar, analisis sosial dan strategi pengembangan usaha. Analisis teknis untuk mengetahui konstruksi alat tangkap, kapal yang digunakan, jumlah nelayan dan tugasnya di atas kapal, metode pengoperasiannya, perolehan hasil tangkapan, musim penangkapan dan daerah penangkapan ikan. Analisis finansial terdiri atas analisis usaha dan analisis kriteria investasi. Analisis usaha terdiri atas analisis pendapatan usaha, Revenue-Cost Ratio (R/C), analisis waktu balik modal (Payback Period) dan Return on Investment (ROI). Analisis kriteria investasi terdiri atas Net Present Value (NPV), analisis Net Benefit-Cost Ratio (Net B/C), dan Internal Rate of Return (IRR). Analisis pasar digunakan untuk mengetahui mengetahui saluran pemasaran dan margin pemasaran. Analisis sosial untuk mengetahui kehidupan sosial nelayan. Strategi pengembangan usaha yang terdiri atas identifikasi faktor-faktor SWOT, matriks IFE dan EFE, diagram analisis SWOT, matriks SWOT dan perumusan strategi utama. Hasil analisis teknis menunjukkan pelampung tambahan pada tali pelampung mempengaruhi metode pengoperasian jaring insang hanyut. Nelayan yang mengoperasikan jaring insang hanyut berjumlah tiga hingga empat orang. Hasil tangkapan jaring insang hanyut disalurkan melalui empat saluran pemasaran dengan margin pemasaran yang diperoleh berbeda-beda. Analisis usaha penangkapan jaring insang hanyut memperoleh keuntungan sebesar Rp 99.857.300,00; nilai Revenue-Cost Ratio sebesar 1,15; nilai Payback Period sebesar 3,13 tahun dan Return on Investment (ROI) sebesar 32%. Analisis kriteria investasi usaha penangkapan jaring insang hanyut memperoleh nilai Net Present Value sebesar 52.439.759,95, nilai Net B/C sebesar 2,22, nilai Internal Rate of Return sebesar 42,90%. Usaha penangkapan jaring insang hanyut di Teluk Banten dapat dikatakan layak karena nilai NPV>0, Net B/C>1 dan IRR lebih tinggi dari tingkat suku bunga. Usaha penangkapan jaring insang hanyut sangat sensitif terhadap penurunan hasil tangkapan. Terdapat tiga strategi utama dalam pengembangan jaring insang hanyut di Teluk Banten
Dinamika Daerah Penangkapan Ikan, Kaitannya Dengan Aktivitas Pertambangan Nikel Kabupaten Halmahera Timur
Kabupaten Halmahera Timur merupakan salah satu pusat kawasan pertambangan Nikel (Ni) di Maluku Utara. Pertambangan ini memiliki dampak besar terhadap perubahan kualitas perairan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan kualitas perairan kawasan pertambangan, radius berapa jauh daerah penangkapan ikan (DPI) bebas dari pengaruh nikel, dan dinamika DPI pada kawasan pertambangan.
Penelitian menunjukkan muatan padatan tersuspensi (MPT) di perairan Halmahera Timur telah memberikan pengaruh bagi kepentingan perikanan. Rata-rata kandungan MPT berada diatas 25 mg/l terkecuali Wasile. Kandungan Ni di perairan diketahui berada dibawah 0.05 mg/l, tetapi telah mendekati nilai ambang batas, dimana Ni telah berdampak terhadap perairan. Perubahan kualitas perairan telah memberi dampak pada terdegradasinya ikan di perairan, dimana ikan yang tertangkap dengan menggunakan alat tangkap bagan memiliki ukuran illegal size (IS) lebih dominan, dimana ikan teri memiliki ukuran IS mencapai 62%, dan cumi-cumi mencapaii IS 67%. Besarnya IS pada ikan teri dan cumi-cumi disebabkan oleh pengoperasian bagan yang berada dekat dengan kawasan pesisir dimana, daerah ini telah mengalami tekanan oleh aktivitas pertambangan. Purse seine dan gillnet berada sebaliknya dimana ukuran legal size (LS) lebih dominan. Ikan layang memiliki ukuran LS 96% dan ikan kembung memiliki ukuran LS 90%. Tingginya ukuran LS disebabkan alat tangkap tersebut melakukan penangkapan jauh dari daerah pantai. Nilai variabelitas klorofil-a di perairan Halmahera Timur berada diatas 15%. Keadaan ini menunjukkan sebaran klorofil-a dipengaruhi oleh kekeruhan perairan. Selain menyebabkan penurunan ukuran tangkapan dan kepadatan klorofil-a di perairan pertambangan menyebabkan kerusakan daerah penangkapan ikan dimana DPI yang berjarak kurang dari 1 mil tidak potensial bagi perikanan tangkap
Prospek Penerapan Traceability Perikanan Tuna Dan Cakalang Di Pelabuhan Perikanan Pantai (Ppp) Sadeng, Gunung Kidul, Yogyakarta
Konsep traceability sekarang pada awalnya merupakan salah satu sistem
manajemen risiko dalam menjamin mutu dan keamanan pangan global dengan
fokus dalam memudahkan pelacakan produk. Saat penerapan traceability
dikembangkan untuk menambah nilai ekonomis hasil tangkapan sehingga nelayan
lebih sejahtera. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kesiapan penerapan
traceability untuk perikanan tuna dan cakalang di Sadeng berdasarkan faktor
internal dan eksternal serta merumuskan strategi yang tepat dalam mendukung
penerapan traceability. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dan
menggunakan analisis deskriptif dan analisis SWOT. Hasil analisis menunjukkan
faktor internal yang digunakan sebagai kekuatan yang mendukung penerapan
traceability yaitu 1) ikan tuna dan cakalang memiliki nilai ekonomis tinggi, 2)
nelayan menggunakan Global Positioning System (GPS), 3) penyimpanan ikan
didominasi menggunakan es, 4) nelayan pancing ulur yang dominan, 5) bycatch
yang ditangkap sedikit. Faktor eksternal yang digunakan sebagai kekuatan
mendukung penerapan traceability yaitu 1) nilai ekspor tuna dan cakalang masih
tinggi, 2) dukungan pemerintah dalam pengelolaan perikanan tuna dan cakalang,
3) potensi sumberdaya perikanan tuna dan cakalang, 4) kesempatan kerja dibidang
perikanan tinggi, 5) jumlah rumpon diperairan semakin bertambah. Terkait
strategi yang dapat dipilih untuk mendukung penerapan traceability perikanan
tuna dan cakalang di Pelabuhan Perikanan Pantai Sadeng adalah 1)
mengoptimalkan pemanfaatan SDI tuna dan cakalang, 2) melakukan
pengembangan perikanan tuna dan cakalang, 3) peningkatan pendidikan
sumberdaya manusia, 4) peningkatan pemahaman mengenai ukuran tuna layak
tangkap dan traceability 5) membangun kerjasama dengan Lembaga Swadaya
Masyarakat (LSM) dalam penerapan traceability, 6) membuka investasi dalam
penerapan traceability, 7) memperkuat peraturan traceability untuk nelayan
pancing ulur, 8) meningkatkan pengawasan dalam kegiatan penangkapan ikan, 9)
perbaikan pengembangan fasilitas pelabuhan, 10) meningkatkan sosialisasi
perikanan rumpon dan traceability, dan mengadakan 11) pelatihan sertifikasi
traceability
- …
