1,720,956 research outputs found
POLA ASUH DEMOKRATIS DALAM MENUMBUHKAN KEMANDIRIAN ANAK USIA DINI
Kemandirian merupakan hal penting yang harus ditumbuh kembangkan sejak dini pada anak, anak usia dini adalah individu yang sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan dengan pesat. Salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan kemandirian anak adalah pola asuh orang tua. Pola asuh yang efektif untuk menumbuhkan perkembangan kemandirian anak yaitu pola asuh demokratis, penulis melakukan kunjungan dan pengabdian di RA Nurul Huda yang beralamat di Desa Waluya, Kecamatan Kutawaluya, Kabupaten Karawang, Penulis mendapat kan informasi bahwa sebagian siswa di RA Nurul Huda Huda belum memiliki sikap mandiri yang baik, masalah yang paling menjadi hambatan pada aktivitas pembelajaran adalah siswa harus selalu didampingi oleh orang tuanya selama kegiatan pembelajaran berlangsung, hal ini membuat suasana pembelajaran menjadi tidak efektif. Tujuan dari kegiatan sosialisasi ini untuk memberikan psikoedukasi tentang pola asuh demokratis dalam mengambangkan kemandirian anak usia dini. Metode yang digunakan pada saat kegiatan sosialisasi adalah active learning (pembelajaran aktif) dengan ceramah secara tatap muka. Respon dianggap berhasil ketika mengulang materi yang telah disampaikan wali murid dan guru mampu memberikan dan menjawab pertanyaan pada saat sesi diskusi. Kegiatan dilakasanakn pada hari Kamis, 20 Juli 2022 di RA Nurul Huda, Dusun Pangasinan, Desa Waluya, Kecamatan Kutawaluya, Kabupaten Karawang, di hadiri oleh 30 peserta yaitu diantaranya orang tua siswa, guru dan siswa. Kesimpulan dari pembahasannya yaitu pengembangan kemandirian anak usia dini dapat di kembangkan secara efektif dengan menggunakan pola asuh demokratis
TINGKAT STRES PENGASUHAN PADA IBU DI DESA WALUYA KABUPATEN KARAWANG
Kekerasan pada anak semakin tahun semakin meningkat datanya. Jika dilihat dari lamanresmi KemenPPA, pada tahun 2022 terdapat 1,714 kasus yang dilaporkan mengenaikekerasan pada anak yang dilakukan oleh orang tua kandung anak tersebut. Kekerasan padaanak yang dilakukan oleh orang tua dapat terjadi karena niat melakukan disiplin yang keliru,hukuman yang diberikan karena perilaku yang kurang tepat dari anak atau karena orang tuatidak mampu meregulasi diri dan stres mereka. Stres pengasuhan menurut Deater-Deckarddalam Andriani, Sumintardja & Abdurachman (2019) adalah suatu kondisi stres negatifyang dialami oleh seseorang diakibatkan karena tuntutan sebagai orang tua. MenurutNeece, Green & Baker dalam Fitriani, Gina & Perdhana (2021), stres pengasuhan dapatberdampak pada kondisi psikologis orang tua, konflik dengan pasangan, cara mengasuhdan interaksi antara orang tua dan anak. Jika dilihat dari fenomena di atas, salah satu upayadalam pencegahan kekerasan pada anak yang dilakukan oleh orang tua adalah denganmeminimalisir atau mengelola stres pengasuhan yang dimiliki oleh orang tua. Sehinggapeneliti tertarik untuk melihat bagaimana tingkat stres pengasuhan pada ibu di DewaWaluya, Kecamatan Kutawaluya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Penelitian inidilakukan pada 31 responden yaitu ibu yang memiliki anak yang berdomisili di DesaWaluya. Teknik pengumpulan data menggunakan The Parental Stress Scale (PSS) yangdikembangkan oleh Berry & Jones (1995). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 83,9%responden memiliki tingkat stres pengasuhan yang rendah dan 16,1% dengan tingkat strespengasuhan sedang. Tidak ditemukan responden yang memiliki tingkat stres pengasuhanyang tinggi
PSIKOEDUKASI PENTINGNYA PENGASUHAN POSITIF UNTUK MENGHINDARI TERJADINYA KEKERASAN PADA ANAK DI DESA WALUYA KABUPATEN KARAWANG
Pengasuhan merupakan hal penting untuk diperhatikan oleh orang tua.Pengasuhan yang tidak tepat berdampak buruk pada anak. Bahkan bisamemunculkan terjadinya kekerasan yang dilakukan oleh orang tua pada anak,disadari ataupun tidak disadari. Contohnya seperti ancaman, pukulan, bentakan,perasaan ditinggalkan. Hal ini dilakukan orang tua dengan alasan pendisiplinan,namun sebenarnya sudah masuk dalam kategori kekerasan pada anak. Kekerasanmenurut Fayaz (2019) adalah perilaku dalam bentuk apa pun denganmenggunakan otoritas dengan intensi mengintimidasi, memaksa, menyakiti oranglain. Menurut Scarpa, Haden & Abercromby dalam Fayaz (2019), dampak darikekerasan pada anak dapat menimbulkan permasalahan perilaku, emosional,bahkan sampai trauma, agresi dan depresi. Dilihat dari dampak ini, makadiperlukan upaya preventif yang dilakukan dari lingkup mikrosistem anak, yaituorang tua. Orang tua perlu mengetahui pentingnya mengasuh secara positif untukmenghindari terjadinya kekerasan pada anak yang dilakukan oleh orang tua.Dengan latar belakang tersebut, penulis melakukan pengabdian dengan melakukanpsikoedukasi 1 hari dengan memaparkan tips dan trik mengasuh anak secara positifdengan audiens yaitu ibu dan ayah di Desa Waluya, Kecamatan Kutawaluya,Kabupaten Karawang yang berjumlah 33 orang. Dari kegiatan psikoedukasi ini,terlihat antusias dari peserta untuk bertanya dan mengikuti kegiatan. Dari kegiatanini, diharapkan orang tua jadi lebih paham mengenai pentingnya mengasuh secarapositif dan bagaimana cara meregulasi emosi supaya dapat merespon anak dengancara yang tepat tanpa kekerasan
POLA ASUH DEMOKRATIS DALAM MENUMBUHKAN KEMANDIRIAN ANAK USIA DINI
Kemandirian merupakan hal penting yang harus ditumbuh kembangkan sejak dini pada anak,anak usia dini adalah individu yang sedang mengalami proses pertumbuhan danperkembangan dengan pesat. Salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangankemandirian anak adalah pola asuh orang tua. Pola asuh yang efektif untuk menumbuhkanperkembangan kemandirian anak yaitu pola asuh demokratis, penulis melakukan kunjungandan pengabdian di RA Nurul Huda yang beralamat di Desa Waluya, Kecamatan Kutawaluya,Kabupaten Karawang, Penulis mendapat kan informasi bahwa sebagian siswa di RA NurulHuda Huda belum memiliki sikap mandiri yang baik, masalah yang paling menjadi hambatanpada aktivitas pembelajaran adalah siswa harus selalu didampingi oleh orang tuanya selamakegiatan pembelajaran berlangsung, hal ini membuat suasana pembelajaran menjadi tidakefektif. Tujuan dari kegiatan sosialisasi ini untuk memberikan psikoedukasi tentang pola asuhdemokratis dalam mengambangkan kemandirian anak usia dini. Metode yang digunakan padasaat kegiatan sosialisasi adalah active learning (pembelajaran aktif) dengan ceramah secaratatap muka. Respon dianggap berhasil ketika mengulang materi yang telah disampaikan walimurid dan guru mampu memberikan dan menjawab pertanyaan pada saat sesi diskusi.Kegiatan dilakasanakn pada hari Kamis, 20 Juli 2022 di RA Nurul Huda, Dusun Pangasinan,Desa Waluya, Kecamatan Kutawaluya, Kabupaten Karawang, di hadiri oleh 30 peserta yaitudiantaranya orang tua siswa, guru dan siswa. Kesimpulan dari pembahasannya yaitupengembangan kemandirian anak usia dini dapat di kembangkan secara efektif denganmenggunakan pola asuh demokrati
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
