70 research outputs found
Application of Vidhana Tantrayukti in the Sequencing of Chapters in Nidanasthana of Ashtanga Hridaya: A Comparative Study with Mula Samhita and Sarvanga Sundari (SS) with Critically Edited Vakyapradeepika (VP) Commentary
Background: Tantrayukti are methodological tools employed in classical Ayurveda to reveal the intent of the author and the underlying structure of the text. Among them, Vidhana explains the sequential arrangement of topics and the rationale behind their narration. Ashtanga Hridaya Nidanasthana comprises sixteen chapters, whose order reflects the Sutrakara’s deliberate structuring. The commentary Vakyapradeepika by Acharya Parameshwara further elaborates these reasons.
Objective: To analyze the application of Vidhana Tantrayukti to the chapters of Nidanasthana of Ashtanga Hridaya and to compare the reasoning provided in the Sarvanga Sundari of Arunadatta with Vakyapradeepika commentary and even with Mula Samhita.
Methods: A chapter-wise textual analysis was conducted. For each chapter of the Nidanasthana, the sequencing rationale (Vidhana) was extracted from both the Mula text and the commentaries named Sarvanga Sundari (SS) and Vakyapradeepika (VP). These were compared systematically to identify concordance, divergence, and complementary perspectives.
Results: The Mula Samhita and Sarvanga Sundari Commentary predominantly bases sequencing on clinical-pathological logic, highlighting disease progression, etiological links, and symptomatic continuity. Vakyapradeepika, on the other hand, emphasizes pedagogical clarity, semantic precision, and Doshic grouping. In most chapters, both sources showed concordance, while in some cases complementary reasoning was observed.
Conclusion: The study demonstrates that Vidhana Tantrayukti functions both as a clinical guide and as an interpretive tool. Comparative analysis with Vakyapradeepika enriches understanding of the author’s intention and the pedagogical design of Nidanasthana, affirming the necessity of Tantrayukti for faithful study and application of Ayurvedic texts
Makna Pasal 7 Ayat (1) Undang-Undang No. 16 Tahun 2019 Tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan
Penentuan batasan usia untuk dapat melangsungkan perkawinan di Indonesia diatur oleh beberapa ketentuan yang berbeda. Misalnya dalam Undang-Undang Perkawinan, untuk dapat melangsungkan perkawinan usia bagi laki-laki dianjurkan harus mencapai usia 19 tahun sedangkan pada perempuan dianjurkan dengan usia 16 tahun. Namun di dalam ketentuan Undang-Undang Perlindungan Anak 16 tahun masih dianggap usia anak-anak karena patokan usia anak sampai pada 18 tahun. Selain itu, dalam hukum adat di Indonesia ukuran dewasa seseorang tidak ditentukan berdasarkan usia mereka, hanya pada perubahan fisik baik bagi pria maupun bagi wanita dan kecakapan mereka yang dianggap mampu untuk mencari uang sendiri (kuat gawe). Akibatnya sampai saat ini masih banyak seseorang yang melakukan perkawinan dibawah umur, baik itu keinginan sendiri maupun paksaan dari orangtua mereka yang terdesak oleh kebutuhan ekonomi. Berdasarkan hal tersebut Undang-Undang Perkawinan kemudian mengalami revisi pada tahun 2019 dengan adanya putusan MK No. No. 22/PUU-XV/2017, hal tersebut dilatar belakangi oleh para pemohon yang secara langsung mengalami akibat buruknya dari perkawinan dibawah umur. Dimana setelah adanya revisi Undang-Undang Pekawinan, usia menikah bagi pria dan wanita disetarakan menjadi 19 tahun. Akan tetapi, hal tersebut bukan menjadi salah satu solusi untuk meminimalisir banyaknya praktek perkawinan dibawah umur. Yang ada pengajuan perkara dispensasi perkawinan semakin meningkat di Pengadilan Agama. Dalam situasi tersebut akibat hukum yang ditimbulkan belum bisa dijadikan acuan untuk mengurangi kemungkinan dampak negatif yang terjadi dalam pelaksanaannya. Metode penelitian meliputi tipe penelitian yang bersifat yuridis normatif dan pendekatan masalah adalah pendekatan undang-undang (statue approach) dan pendekatan konseptual (conseptual approach). Berkaitan dengan hal tersebut dalam penulisan skripsi ini diangkat 2 rumusan masalah yaitu, pertama apa yang menjadi dasar atas perubahan batas usia perkawinan dalam Undang-Undang No. 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan; kedua apa akibat hukum atas penerapan aturan dispensasi perkawinan berdasarkan pasal 7 ayat (1) Undang-Undang No. 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Dalam menyelesaikan permasalahan pada rumusan tersebut, penelitian ini menawarkan gagasan yang mana seseorang yang belum cukup usia untuk melakukan perkawinan harus diberikan persyaratan lebih agar tidak mudah melakukan perkawinan saat mereka belum mencapai ketentuan yang ditetapkan oleh Undang-undang. Kemudian perlu dilakukan evaluasi yang lebih mendalam terkait Undang-Undang No. 16 Tahun 2019 Tentang Perubahan Atas UndangUndang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan mengenai batasan usianya agar penerapannya pun dapat dilakukan secara efektif dan bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa kedepannya.Nanang Suparto, S.H., MH> (Dosen Pembimbing I)
Rhama Wisnu Wardhana, S.H., M.H (Dosen Pembimbing II
Pengaruh Motivasi Dan Jaringan Sosial Terhadap Keberhasilah Usaha Pada Women Entrepreneur Yang Tergabung Dalam Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) Kota Bandung
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana Motivasi pada anggota IWAPI Kota Bandung, bagaimana Jaringan Sosial pada anggota IWAPI Kota Bandung, bagaimana Keberhasilan Usaha anggota IWAPI Kota Bandung, dan bagaimana pengaruh variabel Motivasi dan Jaringan Sosial terhadap Keberhasilan Usaha baik secara parsial maupun simultan. Jenis penelitian yang digunakan yaitu deskriptif dan verifikatif, dimana analisis verifikatif terdiri dari analisis korelasi berganda, koefisien determinasi dan pengujian hipotesis dengan alat bantu software SPSS 20.0 for windows. Teknik pengambilan sampel menggunakan rumus slovin dimana dengan populasi sebanyak 185 orang didapatkan sampel sebanyak 65 responden. Hasil penelitian bardasarkan analisis deskriptif menunjukkan bahwa responden memiliki motivasi, jaringan sosial, dan keberhasilan usaha yang baik. Sedangkan analisis secara verifikatif menunjukan bahwa Motivasi secara parsial berpengaruh terhadap keberhasilan usaha. Jaringan Sosial secara parsial berpengaruh terhadap keberhasilan usaha. Motivasi dan Jaringan Sosial secara simultan berpengaruh terhadap Keberhasilan Usaha
Adjunctive treatment with oral AKL1, a botanical nutraceutical, in chronic obstructive pulmonary disease
Claire Brockwell,1 Sundari Ampikaipakan,1,2 Darren W Sexton,1 David Price,3,4 Daryl Freeman,5 Mike Thomas,6 Muzammil Ali,4 Andrew M Wilson1,21Norwich Medical School, University of East Anglia, Norwich, UK; 2Norfolk and Norwich University Hospital Foundation Trust, Norwich, UK; 3Academic Primary Care, University of Aberdeen, Aberdeen, UK; 4Research in Real Life, Cambridge, UK; 5Mundesley Medical Centre, Mundesley, Norwich, UK; 6Primary Care Research, Aldermoor Health Centre, University of Southampton, Southampton, UKPurpose: The objective of this pilot trial was to evaluate the safety and efficacy of AKL1, a patented botanical formulation containing extracts of Picrorhiza kurroa, Ginkgo biloba, and Zingiber officinale, as add-on therapy for patients with chronic obstructive pulmonary disease (COPD) and chronic cough.Patients and methods: This randomized, double-blind, placebo-controlled trial enrolled male and female patients >18 years old with COPD and Leicester Cough Questionnaire (LCQ) score of <18. The 10-week study period comprised a 2-week single-blind placebo run-in period followed by add-on treatment with AKL1 or placebo twice daily for 8 weeks. The primary study endpoint was the change from week 0 to week 8 in cough-related health status, as assessed by the LCQ.Results: Of 33 patients enrolled, 20 were randomized to AKL1 and 13 to placebo. Patients included 19 (58%) men and 14 (42%) women of mean (standard deviation [SD]) age of 67 (9.4) years; 15 (45%) patients were smokers and 16 (49%) were ex-smokers. The mean (SD) change from baseline in LCQ score at 8 weeks was 2.3 (4.9) in the AKL1 group and 0.6 (3.7) in the placebo group, with mean difference in change of 1.8 (95% confidence interval: –1.5 to 5.1; P=0.28). The St George's Respiratory Questionnaire score improved substantially in the AKL1 treatment group by a mean (SD) of –7.7 (11.7) versus worsening in the placebo group (+1.5 [9.3]), with mean difference in change of –9.2 (95% confidence interval: –19.0 to 0.6; P=0.064). There were no significant differences between treatment groups in change from baseline to week 8 in other patient-reported measures, lung function, or the 6-minute walk distance.Conclusion: Further study is needed with a larger patient population and over a longer duration to better assess the effects of add-on therapy with AKL1 in COPD.Keywords: Leicester Cough Questionnaire, anti-inflammatory, Picrorhiza kurroa, Ginkgo biloba, Zingiber officinal
Meningkatkan Pencapaian Pemahaman Membaca Siswa SMP dengan Menggunakan Strategi SQ3R
Reading comprehension is regarded as an important skill to gain new information. It is a basic skill to discover and expand new knowledge as Henning (1997:4) says that reading can be said as the most important skill to be mastered because knowledge and information can only be obtained through reading comprehension. Reading also can be a medium of communication between the readers and the author. It means that while people are reading a text they are having a communication with the author. The communication between readers and author happens when the readers understand what the author‟s intention is. When the readers do not understand the author‟s intention in the text it means they are not reading. Hence, there are many learners who still fail in comprehending the text meaning. This is in line with the result of pleminary study that had been done at SMPN 1 Jember. It was found that the VIII-J grade students of SMPN 1 Jember had problem in comprehending a text that made them got low scores in reading class. It was proved by looking at their mean reading score (69.30) which was the lowest among the other eighth grade classes.
Thus, I determined to conduct a classroom action research and gave the students a reading comprehension strategy to be used in reading class. This classroom action research was conducted to enhance the VIII-J grade students‟ reading comprehension achievement at SMPN 1 Jember. The strategy used in this research was SQ3R strategy. SQ3R strategy was created by Francis P. Robinson in 1941. This strategy was designed to help process and increase retention of written information. Al-Ghazo (2015) states that SQ3R presents a detailed step-by step outline of what a reader should accomplish while reading. It means that it helps students think about the text they read while they are reading.
The study was done in two cycles to check the consistency of the research result. Each cycle covered two meetings of the action implementation and one meeting for administering the test. Besides, the observation checklist consisted of 5 indicators, namely 1) surveying the title and the picture of the text, 2) formulating questions based on the title and the picture that had been surveyed, 3) underlining the main points and the answer of their own questions, 4) reciting the main points of the text, and 5) reviewing and doing the task given. The students were categorized as active if they could fulfill at least 4 indicators. The observation results in Cycle 1 showed that there was 78% students were actively involved during the teaching and learning process. Besides, the percentage of the students who achieved the minimum of standard score (75) in Cycle 1 was 78% with the mean score was 77.2. It was improved from the previous score that was 69.30. Then, it was continued to Cycle 2 to check the students‟ consistency. The results of Cycle 2 showed much better. It informed that the observation improved about 12% from Cycle 1 (78%) to Cycle 2 (90%). While the results of the mean score of the students‟ reading achievement score in Cycle 2 were also improved. It was 82.5 with the percentage was 92%. The research results above proved that the use of SQ3R strategy could enhace the VIII-J grade students‟ reading comprehension achievement at SMPN 1 Jember. Therefore, it is recommended for the English teacher of SMPN 1 Jember to use SQ3R strategy as an alternative strategy in teaching reading comprehension
Rancang bangun aplikasi Stimulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak (SDIDTK) bagi bidan di posyandu
PERSEPSI ORANG TUA TENTANG PEMBERIAN VITAMIN A PADA ANAK DI TAMAN KANAK-KANAK
Background: Vitamin A deficiency is a major health problem in developing countries, including Indonesia. Vitamin A deficiency mainly affects young children, among those who are deficient can experience xerophthalmia and eventually become blind, limited growth, weak body defenses, and increase the risk of death. This is evidence that vitamin A deficiency can continue from school age and adolescence to adulthood. Objective: To determine the positive and negative perceptions of parents about giving Vitamin A to children. Methods: This type of research is quantitative using a cross-sectional research design with a sampling technique using total screening obtained a sample of 78 respondents. Results: The results showed that the perceptions of mothers who had children under five about giving vitamin A were mostly positive, as many as 66 people (84.62%), and 12 people with negative attitudes (15.38%), most of the mothers' knowledge was also good ( 74.49%) regarding knowledge about giving vitamin A to children. Suggestion: health workers (doctors, midwives, nutrition cadres, and trained health workers) together with school principals and kindergarten teachers to further increase the knowledge of parents by means of more routine education and installing posters or pamphlets related to vitamin A for disease Vitamin A deficiency in toddlers can be avoided.
Key words: Parents' Perception, Giving Vitamin A to ChildrenLatar Belakang: Kekurangan vitamin A merupakan masalah kesehatan utama di negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia.Kekurangan vitamin A terutama sekali mempengaruhi anak kecil, diantara mereka yang mengalami defisiensi dapat mengalami xerophthalmia dan dapat berakhir menjadi kebutaan, pertumbuhan yang terbatas, pertahanan tubuh yang lemah, serta meningkatkan resiko kematian. Hal ini menjadi nyata bahwa kekurangan vitamin A dapat terus berlangsung mulai usia sekolah dan remaja hingga masuk ke usia dewasa. Tujuan: Untuk mengetahui persepsi positif dan negatif orang tua tentang pemberian Vitamin A pada anak. Metode: Jenis penelitian ini kuantitatif menggunakan desain penelitian cross sectional dengan tehnik pengambilan sampel menggunakan total sampiling didapatkan sampel 78 responden. Hasil: bahwa hasil penelitian diperoleh persepsi ibu yang memiliki balita tentang pemberian vitamin A mayoritas bersikap positif yang berjumlah 66 orang (84,62 %), dan yang bersikap negatif berjumlah 12 orang (15,38 %), pengetahuan ibu juga mayoritas baik (74,49 %) tentang pengetahuan terhadap pemberian vitamin A terhadap Anak. Saran: tenaga kesehatan (dokter, bidan, kader gizi, dan tenaga kesehatan terlatih) bersama kepala sekolah dan guru TK untuk lebih meningkatkan pengetahuan orang tua dengan cara penyuluhan yang telah ada dilakukan lebih rutin dan pemasangan poster atau pamflet yang berhubungan dengan vitamin A sehingga penyakit kekurangan vitamin A pada balita bisa dihindari.
Kata kunci: Persepsi Orang tua, Pemberian Vitamin A pada Ana
Pemanfaatan Mesin Power Thresher Untuk Peningkatan Produktivitas Pasca Panen Bagi Petani Di Desa Sempadian
Community Service (PKM) activities have been carried out with the aim of utilizing a power thresher machine that has been designed and made by the Sambas State Polytechnic PKM Team to be implemented by farmer groups in Sempadian Village, Tekarang District, Sambas Regency. The team implementing this activity is a group of lecturers with multi-disciplinary fields, namely Mechanical Engineering for machine manufacturing, Agricultural Machinery Engineering for engineering design and machine performance testing, and Multimedia Engineering for design drawings. Apart from that, this activity was also assisted by mechanical technicians and several active students who were directly involved in service activities both when making tools and applying them in the field. The target audience involved in this activity is the Kartini Women's Farming Group (KWT) in Sempadian Village. The KWT has 13 active farmers. The implementation of this activity uses the main method of community empowerment, in the form of direct practice methods in the field. Among them are the practice of using, caring for and maintaining machines, as well as the theory and practice of Occupational Safety and Health (K3). This activity is able to contribute knowledge and application of technology from the Sambas State Polytechnic, namely a power thresher as a form of technology adoption for the community and increasing public knowledge about post-harvest. The result of this activity is that farmers are able to apply the technology provided properly and correctly independently, namely in the form of operating machines, maintaining and repairing minor damage to rice threshing machines. The impact of this activity is to increase the effectiveness and efficiency of agriculture for the community so that it can improve the community's economy, especially farmer groups in Sempadian Village.Telah dilaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dengan tujuan pemanfaatan mesin power thresher yang telah dirancang dan dibuat oleh Tim PKM Politeknik Negeri Sambas untuk diterapkan oleh kelompok tani di Desa Sempadian, Kecamatan Tekarang, Kabupaten Sambas. Tim pelaksana kegiatan ini adalah kelompok dosen dengan multi bidang ilmu yaitu Teknik Mesin untuk pembuatan mesin, Teknik Mesin Pertanian untuk perancangan teknik dan uji kinerja mesin, dan Teknik Multimedia untuk gambar perancangan. Selain itu, kegiatan ini juga dibantu oleh tenaga teknisi mesin dan beberapa mahasiswa aktif yang terlibat langsung dalam kegiatan pengabdian baik saat pembuatan alat maupun pengaplikasiannya di lapangan. Khalayak sasaran yang dilibatkan dalam kegiatan ini adalah Kelompok Wanita Tani (KWT) Kartini di Desa Sempadian. KWT tersebut memiliki jumlah petani aktif sebanyak 13 orang. Pelaksanaan kegiatan ini menggunakan metode utama pemberdayaan masyarakat, berupa metode praktik langsung di lapangan. Diantaranya adalah praktik penggunaan, perawatan, dan pemeliharaan mesin, serta teori dan praktik Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Kegiatan ini mampu memberikan sumbangsih pengetahuan dan penerapan teknologi dari Politeknik Negeri Sambas yaitu berupa mesin perontok padi (power thresher) sebagai bentuk adopsi teknologi bagi masyarakat dan peningkatan pengetahuan masyarakat tentang pasca panen. Hasil dari kegiatan ini adalah petani mampu menerapkan teknologi yang diberikan dengan baik dan benar secara mandiri, yaitu berupa cara mengoperasikan mesin, merawat dan memperbaiki kerusakan ringan mesin perontok padi. Dampak dari kegiatan ini adalah adanya peningkatan efektivitas dan efisiensi pertanian bagi masyarakat sehingga mampu meningkatkan perekonomian masyarakat, khususnya kelompok tani di Desa Sempadian
Uji Kinerja Alat Penjerap Warna dan pH Air Gambut Menggunakan Arang Aktif Tempurung Kelapa
Penelitian ini bertujuan untuk melakukan uji kinerja alat penjerap warna dan pH air gambut serta membuktikan lama waktu air mengalir dari kolom penjerap terhadap perubahan warna dan pH air gambut. Air gambut sebagai bahan uji berasal dari 3 lokasi yang berbeda. Pengukuran dilakukan saat air gambut mengalir keluar dari kolom penjerap pada menit ke 0, 10, 30, 60 dan 120 menit. Uji kinerja alat penjerap warna dan pH air gambut menghasilkan rata-rata debit aliran air sebesar 1.340 mL/menit, waktu kontak air dengan karbon aktif pada kolom penjerap sekitar 65 detik. Berdasarkan hasil pengujian, alat ini terbukti dapat melakukan penjerapan warna dan meningkatkan nilai pH air gambut. Kolom penjerap efektif digunakan untuk menjerap warna selama sekitar 60 menit atau dapat digunakan pada air gambut sebanyak 80, 4 Liter, serta dapat digunakan selama 120 menit untuk meningkatkan nilai pH air gambut atau dapat digunakan pada air gambut sebanyak 160,8 liter. Hasil uji kinerja alat penjerap warna dan pH air gambut menunjukkan bahwa penjerapan warna dan kenaikan pH terbaik diperoleh pada perlakuan T1 yaitu waktu aliran air keluar dari kolom penjerap pada 0 menit. Sampel A mengalami penurunan kadar warna dari 414 Pt-Co. menjadi 244 Pt-Co., dengan penjerapan warna 41,06%, sedangkan nilai pH mengalami kenaikan sebesar 1,26. Sampel B mengalami penurunan kadar warna dari 667 Pt-Co. menjadi 474 Pt-Co., dengan penjerapan warna 28,94%, sedangkan nilai pH mengalami kenaikan sebesar 1,55. Sampel C mengalami penurunan kadar warna dari 1537 Pt-Co. menjadi 1084 Pt-Co., dengan penjerapan warna 29,47%, sedangkan nilai pH mengalami kenaikan sebesar 1,23
- …
