1,720,970 research outputs found
Kelimpahan Hama Dan Musuh Alami Pada Pertanaman Padi Varietas Pandanwangi Di Kecamatan Warungkondang Kabupaten Cianjur
Pandanwangi merupakan salah satu varietas padi lokal aromatik yang
berasal dari Kabupaten Cianjur. Padi Pandanwangi rentan terhadap serangan
hama. Hal tersebut merupakan salah satu faktor pembatas produksi padi
Pandanwangi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kelimpahan hama dan
musuh alami serta perkembangan populasinya pada tanaman padi Pandanwangi di
Desa Bunikasih, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur. Pengamatan
dilakukan dengan menggunakan metode pengamatan langsung, lubang perangkap
(pitfall trap), dan jaring serangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hama
yang banyak ditemukan pada pertanaman padi Pandanwangi fase vegetatif awal
adalah trips. Kepinding tanah, wereng batang cokelat dan wereng hijau ditemukan
pada fase vegetatif dan generatif. Walang sangit dan kepik hijau ditemukan pada
fase generatif. Musuh alami yang banyak ditemukan adalah laba-laba predator
yaitu Tetragnathidae, Lycosidae, Oxyopidae, Araneidae, dan serangga predator
Formicidae, Carabidae, Coccinellidae dan Staphylinidae
Pengaruh Perlakuan Insektisida terhadap Kelimpahan Hama pada Pertanaman Jagung (Zea mays L.).
Jagung merupakan komoditas pangan utama sebagai sumber karbohidrat
kedua setelah padi. Salah satu kendala dalam budidaya tanaman jagung adalah
serangan hama. Upaya pengendalian hama dapat dilakukan dengan menggunakan
insektisida. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh aplikasi insektisida
terhadap kelimpahan hama pada pertanaman jagung (Zea mays L.). Penelitian
menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan enam perlakuan dan
empat ulangan. Pengamatan dilakukan dari umur tanaman 17 hari setelah tanam
(HST) hingga 73 HST dengan metode pengamatan langsung. Jenis insektisida
yang digunakan yaitu insektisida kimiawi berbahan aktif lamda sihalotrin,
insektisida nabati serai wangi dan insektisida berbahan aktif bakteri
entomopatogen Bacillus thuringiensis. Hasil penelitian menunjukkan hama-hama
yang ditemukan pada pertanaman jagung yaitu belalang Oxya sp., hama putih
palsu Cnaphalocrosis medinalis, kutudaun Rhopalosiphum maidis, penggerek
batang Ostrinia furnacalis, dan penggerek tongkol Helicoverpa armigera. Lamda
sihalotrin yang disemprotkan seminggu sekali efektif terhadap penurunan tingkat
kerusakan daun oleh C. medinalis, dan penurunan persentase batang terserang O.
furnacalis. Perlakuan B. thuringiensis efektif terhadap penurunan persentase
tongkol terserang H. armigera. Sementara itu, serai wangi efektif dalam menekan
populasi R. maidis
Kelimpahan Artropoda Predator Permukaan Tanah pada Tiga Ekosistem Pertanaman
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan artropoda predator permukaan tanah pada ekosistem pertanaman jagung, ubi jalar dan cabai di Kelurahan Situgede Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor. Lubang perangkap yang dipergunakan untuk mengambil artropoda predator permukaan tanah terbuat dari gelas plastik bekas air mineral bervolume 240 ml. Dalam satu buah lubang perangkap dimasukkan formalin 2% sebanyak 30 ml. Jumlah lubang perangkap pada masing-masing pertanaman 20 buah yang dipasang menyebar secara sistematis dengan jarak 5 m antar lubang perangkap. Perangkap dipasang selama 3 x 24 jam dengan interval satu minggu selama delapan minggu. Artropoda predator permukaan tanah yang berhasil ditangkap dihitung jumlahnya dan diidentifikasi di laboratorium serta diawetkan ke dalam botol film yang berisi alkohol 90%. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Kelimpahan total artropoda predator permukaan tanah pada pertanaman jagung berjumlah 1196 individu, sedangkan pada pertanaman ubi jalar dan cabai masing-masing berjumlah 532 dan 421 individu. Artropoda predator permukaan tanah yang dominan pada tiga ekosistem pertanaman adalah semut (Formicidae), kumbang tanah (Carabidae) dan laba-laba serigala (Lycosidae). Proporsi ketiga artropoda predator tersebut pada pertanaman jagung adalah 54.52%, 25.42%, dan 16.97%, sedangkan pada pertanaman ubi jalar masing-masing sebesar 66.92%, 19.36%, dan 13.16%, serta pada pertanaman cabai masing-masing sebesar 45.13%, 44.89% dan 6.89%. Perkembangan kelimpahan artropoda predator pada tiga ekosistem pertanaman dipengaruhi oleh serasah, sedangkan curah hujan dan Collembola tidak tampak jelas pengaruhnya. Berdasarkan data yang telah dianalisis secara statistik menunjukkan bahwa rata-rata kelimpahan total artropoda predator permukaan tanah pada pertanaman jagung tertinggi dan berbeda nyata bila dibandingkan dengan pertanaman ubi jalar dan cabai
Aphis craccivora Koch (Hemiptera: Aphididae) and their control in yardlong bean field
Kacang panjang merupakan tanaman sayuran yang berperan sebagai sumber
protein, vitamin, dan mineral. Salah satu hama penting tanaman kacang panjang
adalah kutu daun Aphis craccivora. Pengendalian yang umum dilakukan petani
terhadap hama ini adalah penggunaan insektisida sintetik. Studi pustaka ini
bertujuan memberikan informasi tentang bioekologi kutu daun A. craccivora dan
cara pengendaliannya pada pertanaman kacang panjang sebagai dasar penyusunan
strategi pengendalian secara terpadu. Pengumpulan data dan informasi dilakukan
dengan metode studi pustaka. Tahapan penulisan terdiri dari perumusan masalah,
pengumpulan data, analisis, dan simpulan. Berdasarkan studi pustaka, kutu daun
mulai ditemukan di pertanaman kacang panjang pada fase bibit, pertumbuhan
vegetatif sampai fase generatif. Perkembangan populasinya secara alami
dipengaruhi oleh faktor makanan, musuh alami dan faktor lingkungan seperti curah
hujan. Pengendalian kutu daun secara terpadu dapat dilakukan dengan budidaya
tanaman yang baik, pemanfaatan musuh alami hama, bioinsektisida, insektisida
nabati, dan insektisida sintetik sebagai alternatif terakhir. Musuh alami kutu daun
antara lain Menochilus sexmaculatus, Ischiodon scutellaris, Aphidius sp., dan
Lysiphlebus fabarum. Bioinsektisida Lecanicillium lecanii dan Beauveria bassiana
serta insektisida nabati ekstrak daun sirsak, gulma siam, dan daun pepaya
berpotensi sebagai sarana pengendalian alternatif yang aman dan ramah
lingkungan.Yardlong bean is a vegetable plant that contains high protein, vitamins, and
minerals. One of the important pests of the yardlong bean plant is the Aphis
craccivora Koch. Farmers often control this pest by using synthetic insecticides.
This literature research aims to provide information about the bioecology of A.
craccivora and methods to control them in yardlong bean cultivation as the basis
for developing an integrated control strategy. Data and information collection were
carried out using the literature study method. The writing stages consist of problem
formulation, data collection, analysis, and making conclusions. Based on literature
studies, aphids appeared to become destructive in yardlong bean plantations on
seedling, vegetative growth to generative phase. Aphids population development is
often influenced by food factors natural enemies, and environmental factors such
as rainfall. Integrated control of aphids can be carried out by good cultivation of
plants, utilization of natural enemies of pests, bioinsecticides, botanical
insecticides, and synthetic insecticides as a last resort. Natural enemies of aphids
include Menochilus sexmaculatus, Ischiodon scutellaris, Aphidius sp., and
Lysiphlebus fabarum. Bioinsecticides Lecanicillium lecanii and Beauveria
bassiana as well as vegetable insecticides soursop leaf extract, siamese weeds, and
papaya leaves have the potential as a means of controlling safe and environmentally
friendly alternatives
Pengaruh Perlakuan Insektisida terhadap Kelimpahan Artropoda Permukaan Tanah pada Pertanaman Jagung di Situgede.
Jagung merupakan tanaman potensial bagi Indonesia dan dapat diandalkan
untuk mendukung keberhasilan dan diversifikasi pangan. Pengendalian hama pada
tanaman jagung dengan menggunakan insektisida yang kurang tepat dapat
memengaruhi kelimpahan dan keanekaragaman artropoda permukaan tanah.
Artropoda sebagai fauna tanah terbesar berperan dalam menjaga kesuburan tanah,
dekomposisi dan humirasi bahan organik, serta pengendali hama dan penyakit
tanaman. Tujuan penelitian ini adalah melihat pengaruh berbagai perlakuan aplikasi
insektisida terhadap kelimpahan artropoda permukaan tanah. Penelitian dilakukan
di lahan pertanaman jagung di Kelurahan Situgede, Kecamatan Bogor Barat, Kota
Bogor. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok
(RAK) dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang digunakan yaitu
insektisida dengan bahan aktif lamda sihalotrin yang disemprotkan setiap minggu,
setiap dua minggu satu kali, pada fase vegetatif (42 HST) dan fase generatif (56
HST), insektisida dengan bahan aktif Bacillus thuringiensis yang disemprotkan
setiap minggu, insektisida dengan bahan aktif serai wangi yang disemprotkan setiap
minggu, dan kontrol tanpa perlakuan insektisida. Pengamatan artropoda permukaan
tanah dilakukan dengan menggunakan pitfall trap. Artropoda permukaan tanah
yang ditemukan didominasi oleh famili Entomobryidae dan Isotomidae
(Collembola), Pheropsophus occipitalis (Carabidae), Pardosa pseudoannulata
(Lycosidae), dan Formicidae. Pengaruh perlakuan insektisida tidak berbeda nyata
terhadap kelimpahan artropoda permukaan tanah
Perkembangan Populasi Tiga Hama Utama pada Tanaman Jagung (Zea mays L.)
Corn is an important cereal crops as a carbohydrate source for millions people in the world. That also a biggest part of people menu in developing countries. The main pests of the often problem in the cultivation corn are Rhopalosiphum maidis Fitch (Hemiptera: Aphididae), Ostrinia furnacalis Guenee (Lepidoptera: Pyralidae) and Helicoverpa armigera Hubner (Lepidoptera: Noctuidae). The aims of this study is to determine population growth and attack of aphids R. maidis, O. furnacalis, H. armigera on corn plantation. Observation of three types pests implemented on 10 plots of planting corn, each plot measuring 4 m x 5 m. Observations were made on vegetative and generative plant of maize. The observations result indicate that the population density of aphids R. maidis peaked at the age of 49 days after planting, while the natural enemies of the family Coccinellidae reach peak population at the age of plants 65 days after planting. Larvae O. furnacalis and H. armigera start found on corn cobs at age 59 days after planting. The both of pest attack symptoms can be distinguished, O. furnacalis make holes on the ends of cob and elongate, while H. armigera borer on tip of the corn cob and eat the kernel on the ends of the corn cob. The intensity of damage result by O. furnacalis and H. armigera on corn cobs is low and didn't give real effect to production. Production of corn, from the stem were attacked by O. furnacalis is not significantly different with the production of healthy stems
Potensi Pemangsaan dan Perkembangan Cheilomenes sexmaculata Fabricius (Coleoptera: Coccinellidae) pada Kutudaun
Cheilomenes sexmaculata merupakan predator yang memiliki kisaran
mangsa yang luas. Predator ini dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan
kutudaun. Kutudaun yang ditemui pada tanaman cabai adalah Aphis gossypii
sedangkan pada tanaman bawang daun adalah Neotoxoptera formosana.
Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi pemangsaan C. sexmaculata terhadap
mangsa A. gossypii dan N. formosana, serta perkembangan predator C.
sexmaculata pada mangsa A. gossypii. Kerapatan mangsa A. gossypii dan N.
formosana yang dipaparkan adalah 5, 10, 20, 30, 40, dan 50 ekor. Pemaparan
dilakukan selama 24 jam dengan beberapa periode pengamatan yaitu 0-3 jam, 3-6
jam, 6-12 jam, dan 12-24 jam. Pengamatan perkembangan dilakukan dengan
mengamati 50 individu C. sexmaculata dari stadia telur sampai stadia imago.
Pengamatan kebutuhan mangsa dilakukan dengan mengamati 30 individu C.
sexmaculata, mulai instar I sampai instar IV. Hasil penelitian menunjukkan
kemampuan memangsa larva C. sexmaculata dengan jenis mangsa A. gossypii dan
N. formosana berbeda nyata. Predator C. sexmaculata lebih menyukai A. gossypii
dibandingkan dengan N. formosana. Larva instar I, II, III, dan IV masing-masing
membutuhkan A. gossypii rata-rata 20.60 ekor, 67.34 ekor, 90.21 ekor, dan 263.77
ekor selama hidupnya. Keberhasilan larva C. sexmaculata yang menjadi imago
cukup tinggi dengan pemberian mangsa A. gossypii, persentase peluang hidupnya
mencapai 72%. Manfaat dari penelitian ini adalah memberikan informasi
mengenai kefektifan predator C. sexmaculata dalam memangsa A. gossypii dan
N. formosana. Selain itu, dapat diketahui kesesuaian dan jumlah mangsa A.
gossypii yang dibutuhkan untuk perkembangan C. sexmaculata sehingga mampu
memberi kontribusi dalam penerapan budi daya tanaman organik atau sistem
pengendalian hama terpadu di lapangan
Survei Hama, Musuh Alami dan Penyakit Tanaman Padi Sawah Program Upsus di Kabupaten Karawang Provinsi Jawa Barat.
Program Upsus (Upaya Khusus) adalah program pemerintah Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman padi sawah guna mencapai percepatan swasembada pangan. Sasaran Upsus adalah peningkatan indeks pertanaman (IP) sebesar 0,5 dan peningkatan produktivitas sebesar 0,3 ton/ha/GKP. Sasaran belum tercapai karena serangan hama dan penyakit. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui jumlah/jenis hama dan musuh alami dominan, intensitas serangan hama dan tingkat keparahan penyakit, pengetahuan, sikap dan tindakan petani Upsus dalam mengendalikan hama dan penyakit, melakukan kegiatan budidaya padi sawah dan implementasi pelaksanaan Upsus di tingkat petani. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Tempuran dan Kecamatan Tirtajaya Kabupaten Karawang pada bulan Oktober 2018 – April 2019. Penelitian terdiri dari pengamatan langsung dan pemberian kuisioner. Pengamatan langsung dilakukan dengan menggunakan metode diagonal pada empat stadia pertumbuhan tanaman padi yaitu pada fase persemaian, fase bibit, fase vegetatif dan fase generatif. Hama dominan yang ditemukan adalah Nilaparvata lugens, Leptocorisa oratorius, Scirpophaga incertulas, Scotinophara lurida, Cnaphalocrosis medinalis, Mythimna separata dan Rattus argentiventer. Kerapatan populasi dan intensitas serangan hama relatif rendah dan berada dibawah ambang ekonomi kecuali intensitas serangan S. incertulas pada fase bibit. Hal ini disebabkan oleh keberadaan musuh alami dan aplikasi pestisida yang dilakukan secara terjadwal. Kerapatan populasi musuh alami yang ditemukan masih relatif rendah. Jenis musuh alami dominan yang ditemukan adalah Paederus sp. Penyakit dominan yang ditemukan adalah hawar daun bakteri (Xanthomonas oryzae), blas (Pyricularia oryzae) dan bercak coklat sempit (Cercospora oryzae) dengan tingkat keparahan penyakit yang relatif rendah. Penentuan responden kuisioner menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah responden yang diwawancarai sebanyak 60 orang. Sikap dan tindakan petani Upsus dalam mengendalikan hama dan penyakit masih belum mengacu pada konsep pengendalian hama terpadu yang dianjurkan Upsus
Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian IPB 2009
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi permasalahan perkebunan kakao rakyat dan menyusun rekomendasi/solusi untuk pengembangan perkebunan kakao tersebut. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Luwu Utara, Propinsi Sulawesi Selatan. Permasalahan yang dihadapi petani kakao di wilayah Kab. Luwu Utara adalah kondisi tanaman yang sudah tua, serangan hama penggerek buah kakao (PBK), penyakit busuk buah Phytophthora palmivora dan penyakit VSD. Di samping itu permasalahan lainnya adalah beberapa areal produksi tergenang banjir sehingga banyak tanaman yang tidak dapat berproduksi bahkan mati. Kondisi tersebut menyebabkan produksi hasil kakao mengalami penurunan yang cukup drastis dalam beberapa tahun terakhir. Peran dan fungsi kelembagaan di tingkat petani (kelompok tani) masih terbatas jika ada program/proyek pemerintah. Peran kelompok tani masih terbatas pada kegiatan pemeliharaan tanaman, seperti pengolahan tanah dan penyiangan, sementara peran sebagai penyedia sarana produksi dan pemasaran hasil kakao masih belum dilakukan. Kendala utama yang dihadapi kelompok adalah terbatasnya permodalan dan akses terhadap lembaga pembiayaan dan pemasaran.The objectice of this research was to problem identify of smallholder cocoa estate and to arrange recommendation / solution. This exeperiment was located at North Luwu District, South Sulawesi Province. Smallholder cocoa problems were oldest plant, cocoa fruit borer attacted, diseases attacted by Phytophthora palmivora and Vasculer strike D and Vasculer Strike Disease (VSD). Beside there was any flooded cocoa area, and it caused plants will died and become unproductive area. This condition caused the cocoa production drastic decreased in several last year. Participatory and function of farmer institution level (farmer group) was limited, if any was specially of government project. Participation of farmer group was limited on plant maintenance such as soil tillage and weed control. Function for production input and yiled marketing were not done yet. The main problem were limited of capital and access to credit and market institutions
- …
