1,721,009 research outputs found

    Analisis Pendapatan Petani Jeruk (Cytrus sinensis L.) di Kecamatan Tigapanah Kabupaten Karo Sumatera Utara

    No full text
    Orange is one of the leading fruit commodity in Karo. Pest attacks causing crop failure, a decrease of the production and productivity, besides operating costs for farming activity is large. Selling price of oranges in 2013 is better than the previous year. This study aims to analyze the cost structure, income, efficiency of citrus farming. Analysis of the efficiency of farming is by analyzing the cost, revenue, income and analysis return cost ratio (R/C) and financial income and size of farming. Business scale having an effect on the income of farmers. The greater business scale give large income to the farmers. Age of plant have an effect on farmer’s income. The largest profit containt to 11-16 years old. The cost of cash farm are mostly used for the purchase of pesticides and chemical fertilizers and non cash incurred labour in family. Large scale of citrus farming is more efficient than another business scale with R/C 2.53 and citrus farming on old plant aren’t efficient than the other with R/C 1.46

    Analisis Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Volume Penawaran Ekspor Pupuk Urea Indonesia.

    No full text
    Pupuk urea merupakan salah satu hasil industri yang memiliki peluang pasar dan difungsikan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun luar negeri. Selama periode tahun 1993-2005, produksi pupuk ini menunjukan adanya kecenderungan yang meningkat tiap tahun nya. Produksi ini terjadi di beberapa produsen pupuk urea yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia, dan perkembangan produksinya memiliki laju peningkatan produksi sebesar 5,31 persen per tahun

    Analisis Partisipasi Anggota dan Kinerja Koperasi Unit Desa Sumber Alam (Studi Kasus Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat)

    No full text
    Koperasi merupakan lembaga sosial ekonomi yang menggunakan prinsip mensejahterakan anggota. Kegiatan koperasi dalam melaksanakan prinsip dan peranannya harus berlandaskan partisipasi dan kebutuhan anggota. Peran koperasi dalam membangun perekonomian diperlukan upaya untuk meningkatkan kinerja yang bermanfaat bagi anggota dan masyarakat. Prinsip koperasi melaksanakan kegiatannya berdasarkan kebersamaan dan kekeluargaan dalam jatidirinya. Salah satunya Koperasi Unit Desa (KUD) yang berpengaruh terhadap perekonomian pedesaan. KUD diharapkan dapat menjadi solusi terhadap permasalahan ekonomi pedesaan dan dapat bersaing dengan lembaga lain dalam memberikan pelayanan kepada anggotanya. Sehingga diperlukan penelitian mengenai analisis manfaat dengan kegiatan pelayanan yang sesuai keinginan anggota untuk meningkatkan partisipasi. Penelitian ini dilaksanakan pada KUD Sumber Alam Kecamatan Dramaga Kabupaten Bogor. KUD ini melakukan berbagai kegiatan dalam meningkatkan kinerjanya dan banyaknya jumlah anggota yaitu 1525 orang di tahun 2010 namun data keanggotaan kurang jelas. Oleh karena itu dilakukan penelitian mengenai partisipasi anggota dan kinerja KUD. Tujuan dari penelitian adalah untuk 1) menganalisis manfaat ekonomi dan manfaat sosial yang diperoleh anggota petani dan non petani KUD Sumber Alam serta hubungannya dengan tingkat partisipasi., 2) menganalisis kinerja dan peranan KUD dengan Penilaian Tangga Perkembangan (PTP) dan keuangan serta menempatkannya pada jatidirinya

    Analisis Usahatani dan Tataniaga Jamur Tiram Putih (Studi Kasus: Desa Kertawangi, Kecamatan cisarua, Kabupaten Bandung).

    No full text
    Permintaan konsumsi pangan yang berasal dari bahan baku (komoditas) organik meningkat dengan cepat. Tanaman organik dibudidayakan dengan meminimalkan penggunaan pestisida kimiawi, maka tanaman ini relatif lebih aman. Harga komoditas tanaman organik yang cukup maha1, menyebabkan tidak semua kalangan masyarakat dapat mengkonsumsinya Namun tidak semua komoditas yang aman dari penggunaan pestisida kimiawi memiliki barga beli yang mahal Salah satunya Yaltu jamur tiram (pleurotus ostreoatus). Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Bandung merupakan salah satu sentra penanaman jamur tiram

    Analisis Sistem Tataniaga Nenas Bogor (Studi kasus: di Desa Cipelang, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor)

    Full text link
    Komoditas hortikultura merupakan salah satu komoditas pertanian yang mempunyai potensi untuk dikembangkan, mengingat wilayah Indonesia yang sebagian besar iklimnya cocok untuk tanaman hortikultura. Nenas merupakan komoditas hortikultura andalan Indonesia, baik yang di ekspor dalam bentuk segar maupun olahan. Departemen pertanian dalam Program Pengembangan Sentra Produksi Hortikultura di Jawa Barat telah menetapkan beberapa daerah yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Salah satu dari daerah tersebut adalah Bogor. Kecamatan Cijeruk merupakan daerah penghasil utama buah nenas di kota Bogor dengan tingkat kontribusi sebanyak 55,59 persen dari total jumlah produksi nenas yang ada di Bogor dengan produksi sebesar 33.120 kuintal. Kondisi kebun nenas yang ada di Desa Cipelang, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor merupakan kebun yang bersifat tumpang sari, sehingga dalam satu kebun terdapat tanaman nenas dengan tanaman yang lain seperti talas. Para petani di Desa Cipelang, Kecamatan Cijeruk belum dapat meningkatkan produksinya secara optimal. Salah satu alasan karena harga jual rendah. Untuk meningkatkan harga jual dan keuntungan petani, alternatif saluran pemasaran yang efisien dipandang mampu menjadi solusi. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober sampai November 2009 di Desa Cipelang, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat yang dijadikan sebagai studi kasus. Petani yang dijadikan sebagai responden sebanyak 20 orang. Penelitian ini menggunakan alat analisis saluran tataniaga, struktur dan perilaku pasar, marjin pemasaran, rasio keuntungan terhadap biaya (R/C) dan farmer’s share. Proses tataniaga nenas Bogor di Desa Cipelang yang dimulai dari petani sebagai penghasil (produsen) hingga konsumen akhir, melibatkan beberapa lembaga pemasaran. Lembaga yang terlibat dalam tataniaga nenas Bogor di lokasi penelitian adalah pedagang pengumpul desa (PPD), pedagang besar/ Grosir dan pedagang pengecer. Ada tiga pola saluran pemasaran nenas yang terbentuk dengan volume penjualan 4219 buah untuk tiap minggunya : Saluran I : Petani – Pedagang pengumpul Desa – Pedagang besar/ Grosir - Pedagang pengecer – Konsumen lokal, Saluran II: Petani – Pedagang Pengumpul Desa – Konsumen (pedagang pengolah), Saluran III : Petani – Pedagang pengecer – Konsumen loka

    Analisis kelayakan usahatani pepaya di desa Blendung, kecamatan Purwadadi, kabupaten Subang

    Full text link
    Indonesia merupakan negara agraris dimana sebagian besar penduduknya bekerja pada sektor pertanian. Salah satu sub-sektor pertanian yang memiliki peranan penting terhadap pendapatan nasional adalah hortikultura. Komoditi buah-buahan merupakan produk hortikultura yang telah memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dibandingkan dengan komoditas hortikultura lainnya. Meskipun demikian, tingkat konsumsi buahbuahan masyarakat Indonesia masih rendah yaitu di bawah standar yang direkomendasikan oleh FAO sebesar 60 kg/kapita/tahun. Artinya terdapat kekurangan pangan, khususnya buah. Dengan kata lain permintaan potensial komoditas buah cukup besar

    Sistem tataniaga tomat (Kasus di Desa Tugumukti, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat

    No full text
    Jawa Barat merupakan sentra produksi tomat terbesar di Indonesia. Salah satu sentra produksi tomat berada di Desa Tugumukti, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Berdasarkan data yang diperoleh, terdapat marjin tataniaga sebesar 40 persen dalam tataniaga tomat, fluktuasi harga di tingkat petani yang dipengaruhi oleh rendahnya posisi tawar petani dalam menjual hasil panen tomatnya kepada pedagang. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis pelaksanaan sistem tataniaga tomat di Desa Tugumukti dan (2) Menganalisis tingkat efisiensi operasional saluran tataniaga tomat dari sistem tataniaga tomat yang terbentuk di Desa Tugumukti. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Tugumukti, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat selama Bulan Mei hingga Juni 2012. Responden penelitian terdiri dari petani responden yang berjumlah 20 orang dan delapan orang responden lembaga tataniaga. Penarikan petani responden dilakukan dengan metode purposive sampling sedangkan penarikan pedagang responden dilakukan dengan metode snowball sampling dengan mengikuti alur tataniaga. Pendekatan analisis yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari analisis lembaga dan saluran tataniaga, fungsi tataniaga, struktur dan perilaku pasar yang dianalisis secara deskriptif. Selain itu dilakukan analisis terkait marjin tataniaga, farmer’s share, dan analisis rasio keuntungan terhadap biaya tataniaga untuk dapat menjelaskan terkait efisiensi operasional saluran tataniaga yang terjadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lembaga tataniaga yang terlibat dalam tataniaga tomat di Desa Tugumukti adalah pedagang kecil Pasar Andir Bandung (PKPAB), pedagang besar Pasar Induk Cibitung (PBPIC), Pedagang Besar Pasar Induk Kramat Jati (PBPIK) dan pedagang pengecer di masing-masing pasar. Pada sistem tataniaga tomat ini terbentuk enam pola saluran tataniaga. Saluran tataniaga yang paling banyak melibatkan petani dan lembaga tataniaga adalah saluran tataniaga III dimana melibatkan 18 orang petani, satu orang PBPIC dan dua orang pedagang pengecer di Pasar Induk Cibitung Bekasi. Penerapan fungsi-fungsi tataniaga oleh para pelaku yang terlibat dalam penyaluran tomat dari petani hingga konsumen telah berjalan cukup baik. Analisis struktur dan perilaku pasar yang dihadapi oleh petani menggambarkan adanya kecenderungan mengarah kepada struktur pasar monopsoni karena sebagian besar petani memiliki hambatan dalam memilih saluran tataniaga secara bebas. Pedagang merupakan pihak yang sangat dominan dalam penentuan cara pembayaran, menentukan harga tomat petani. Analisis struktur dan perilaku pasar yang dihadapi oleh pedagang besar/kecil (PKPAB, PBPIC dan PBPIK) dan pedagang pengecer mengindikasikan bahwa terdapat kecenderung mengarah kepada struktur pasar oligopoli karena jumlah penjual lebih sedikit dari pada pembeli dan penjual lebih memiliki peranan dominan dalam tata cara pembayaran dan penentuan harga tomat dibandingkan pembeli

    Analisis Usahatani Bawang Merah di Desa Rengaspendawa Kecamatan Larangan Kabupaten Brebes.

    No full text
    Bawang merah merupakan komoditi hortikultura yang memiliki nilai ekonomi cukup penting di Indonesia. Kabupaten Brebes merupakan sentra produksi bawang merah terbesar namun pertumbuhan produktivitasnya tergolong rendah. Desa Rengaspendawa merupakan desa di Kabupaten Brebes yang mengalami masalah kelangkaan bibit yang menyebabkan harga bibit menjadi mahal. Perbedaan harga dan biaya pada sistem penjualan tebasan dan setelah panen menyebabkan adanya perbedaan pendapatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat keragaan usahatani bawang merah dan menganalisis pendapatan usahatani bawang merah dengan membandingkan dua sistem penjualan. Penentuan responden petani secara snowball sampling sebanyak 40 orang. Hasil analisis menunjukkan bahwa keragaan usahatani di tempat penelitian memiliki corak usahatani yang orientasinya ke pasar, organisasi usahatani dilakukan secara individu oleh petani sendiri, pola tanam nya tidak khusus terdiri dari bawang merah, padi dan cabe serta ditanam campuran dengan tumpangsari (cabe dan bawang merah), dan tipe usahatani bawang merah sesuai dengan keadaan alamnya karena termasuk dalam budaya yang turun temurun. Hasil analisis pendapatan per hektar diperoleh bahwa sistem penjualan tebasan lebih menguntungkan. Sedangkan untuk keefisienan sistem penjualan tebasan lebih efisien apabila di lihat dari R/C rasio atas biaya total yaitu 1.28 dan sistem penjualan setelah panen lebih efisien apabila dilihat dari R/C rasio atas biaya tunai yaitu 2.77

    Analisis risiko produksi dan faktor-faktor yang mempengaruhi produksi paprika hidroponik (Studi kasus kelompok tani paprika “Dewa Family” Desa Pasirlangu Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat)

    No full text
    Bell Pepper (Capsicum annum var. grossum) or sweet pepper is newly cultivated in Indonesia. Production of bell pepper in Indonesia grows positively from 2008 to 2011, with an average growth is 90,42 percent. Pasirlangu village is one of bell pepper producing areas in West Java province. “Dewa Family” is one of the pioneer farmers group in hydroponic bell pepper development in Pasirlangu village. Members of “Dewa Family” face production risk, indicated by during four periods (2008 – 2010) productivity has fluctuated and the mean of productivity still under the potential productivity bell peppers yield. This study aims to analyze the cause of production risk sources and the risk level of production of hydroponic bell pepper. In addition, this study also determine the factors affecting the production of hydroponic bell pepper by using a Cobb-Douglas Production Function and a Principal Component Regression Analysis. The result showed that the risk faced by farmers is 33,18 percent of production value and the main constraints in cultivating are pests and diseases problem, weather conditions and the uncertain climate, and use of inputs production. Meanwhile, based on production factors which influential to the productions hydroponic bell pepper are size of greenhouse, amount of seeds, nutrition, insecticides, and labor. The conclusion of this research are that farmers can use inputs of production efficiently and precisely in order to produce the optimal production. Farmers also plan ahead of strategies to reduce risk productionPaprika (Capsicum annum var. grossum) merupakan tanaman sayuran yang baru dibudidayakan di Indonesia. Produksi paprika di Indonesia dari tahun 2008 hingga 2010 mengalami pertumbuhan yang positif, dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 90,42 persen. Pasirlangu merupakan salah satu sentra produksi paprika di Provinsi Jawa Barat. “Dewa Family” merupakan salah satu kelompok tani pionir yang mengembangkan paprika hidroponik di Desa Pasirlangu. Anggota “Dewa Family” menghadapi risiko produksi yang diindikasikan oleh produktivitas yang berfluktuasi selama empat periode (2008 – 2011) dan produktivitas aktual yang masih di bawah produktivitas potensialnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sumber penyebab risiko produksi dan seberapa besar risiko yang dihadapi. Selain itu, penelitian ini juga menentukan faktor produksi apa saja yang berpengaruh terhadap produksi paprika hidroponik menggunakan pendekatan Cobb-Douglas dan Analisis Komponen Utama. Dari hasil yang diperoleh, tingkat risiko produksi yang dihadapi petani adalah sebesar 33,2 persen dari nilai produksi pada saat terjadinya risiko. Sumber-sumber penyebab risiko adalah serangan hama dan penyakti, kondisi cuaca dan iklim, dan penggunaan input produksi. Sementara itu, faktor produksi yang berpengaruh terhadap produksi paprika hidroponik adalah luas greenhouse, jumlah benih, nutrisi, insektisida, dan tenaga kerja. Rekomendasi dari penelitian ini adalah petani sebaiknya memperhatikan penggunaan input secara efisien agar menghasilkan produksi yang optimal dan merencanakan strategi yang tepat untuk mengurangi risiko produksi

    Risiko Produksi Usaha Peternakan Sapi Perah di Kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat

    No full text
    Kecamatan Cisarua merupakan salah sentra produksi susu di Kabupaten Bogor. Produktivitas susu di Kecamatan Cisarua terbilang lebih rendah dari produktivitas susu di Kabupaten Bogor dan beberapa sentra produksi susu lainnya di Kabupaten Bogor. Selain itu, produktivitas susu di Kecamatan Cisarua pun terbilang berfluktuasi. Kedua hal tersebut mengindikasikan adanya risiko produksi pada usaha peternakan sapi perah di Kecamatan Cisarua. Adanya risiko produksi menyebabkan rendahnya produksi susu di Kecamatan Cisarua. Risiko produksi yang terjadi juga berdampak terhadap pendapatan usaha peternakan sapi perah di Kecamatan Cisarua. Selain itu, juga berpengaruh terhadap preferensi risiko peternak sapi perah dan manajemen risiko para peternak sapi perah di Kecamatan Cisarua. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: (1) menganalisis pengaruh faktor-faktor risiko produksi usaha peternakan sapi perah di Kecamatan Cisarua, (2) menganalisis pendapatan usaha peternakan sapi perah dengan adanya risiko produksi di Kecamatan Cisarua, (3) menganalisis preferensi risiko peternak sapi perah di Kecamatan Cisarua, dan (4) menganalisis manajemen risiko yang dilakukan peternak dalam menghadapi risiko produksi peternakan sapi perah di Kecamatan Cisarua. Penelitian dilaksanakan pada usaha peternakan sapi perah di wilayah Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data cross section. Penentuan sampel yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan secara purposive kepada 57 peternak yang sudah menjalankan usaha peternakan sapi perahnya selama minimal 3 tahun di Kecamatan Cisarua. Selanjutnya, pencatatan output produksi berupa hasil perahan susu dilakukan pada hewan ternak dalam masa laktasi kedua dan ketiga. Model Just and Pope digunakan untuk menganalisis fungsi risiko produksi usaha peternakan sapi perah, perhitungan expected return digunakan untuk menganalisis pendapatan dengan adanya risiko, model Arrow-Pratt Absolute Risk Aversion digunakan untuk menganalisis preferensi risiko peternak, serta analisis manajemen risiko. Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor produksi yang bersifat meningkatkan risiko produksi (risk inducing factor) pada usaha peternakan sapi perah terdiri dari pakan berupa dedak, ampas tahu, konsentrat dan waktu kerja, sedangkan faktor yang bersifat menurunkan risiko produksi (risk reducing factor) pada usaha peternakan sapi perah adalah pakan berupa polar dan hijauan. Hasil analisis nilai ekspektasi pendapatan usaha peternakan sapi perah dengan adanya risiko produksi berupa penyakit tetap bernilai positif. Preferensi risiko peternak sapi perah terhadap penggunaan input produksi secara keseluruhan bersifat risk taker atau berani terhadap risiko produksi. Peternak sapi perah di Kecamatan Cisarua telah melakukan tiga strategi manajemen risiko usahatani, yaitu strategi preventif (preventive), mitigasi (mitigation), dan risk coping. Para peternak sapi perah disarankan untuk melakukan pembelian pakan hijauan sebagai tambahan pakan hijauan yang diperoeleh dari hasil mengarit. Hal tersebut perlu dilakukan karena pakan hijauan merupakan pakan utama bagi ternak sapi perah yang secara signifikan mampu meningkatkan produktivitas susu dan menurunkan risiko produksi susu. Selain itu, para peternak juga disarankan untuk secara konsisten memberikan polar sebagai salah satu campuran pakan konsentratnya karena konsentrat diketahui mampu meningkatkan produktivitas susu dan menurunkan risiko produksi susu. Komponen biaya produksi yang biasanya diperuntukan untuk membeli ampas tahu, dapat dialihkan sebagian untuk pembelian polar. Dengan demikian, diharapkan produksi susu para peternak sapi perah di Kecamatan Cisarua dapat menjadi lebih baik
    corecore