27 research outputs found
Interlanguage Pragmatic Motivation in EFL Context
This research sets out to explore the Interlanguage pragmatic motivation in EFL to their pragmatic production. This research is focus on the construct and impact of Interlanguage pragmatic motivation in EFL to their pragmatic production. The participants of the study were the university students chosen randomly from among intermediate EFL learners. There are three instruments in this study; there will be different types of analyses. Both general and speech-act-specific motivation questionnaires will be analysed by using factor analysis on a five-point Likert scale (1-5). Skewness and kurtosis will be calculated to investigate whether the questionnaires and the WDCT items fell within the normal range. Regression analysis will be done to measure how well general pragmatic motivation and Speech-act-specific motivation could predict pragmatic production. Several conclusions can be drawn from the resent study. First, language learners possess a specific type of motivation for the acquisition of interlanguage pragmatics, called pragmatic motivation, which refers to two interrelated types of motivation: general pragmatic motivation and speech-act-specific motivation. Second, EFL learners are strongly motivated to acquire and develop English pragmatic features, i.e. their pragmatic motivation is high; however, they do not have the necessary pragmatic knowledge. Third, predicting EFL learners’ pragmatic production based on their speech-act-specific motivation is somehow possible since both pragmatic production and speech-act-specific motivation focus on learners’ illocutionary competence, i.e. language functions and speech acts.</jats:p
The Use Of Quizlet For Vocabulary Learning: A Lesson From Innovative Application
Sebagai elemen penting untuk komunikasi yang efektif, pengetahuan kosakata
memainkan peran penting dalam penguasaan bahasa. Dengan semakin pentingnya
pembelajaran kosakata, muncullah revolusi baru yang disebut MALL (Mobile-
Assisted Language learning). Beberapa penelitian telah menyelidiki kemungkinan
keuntungan Quizlet. Namun, sebagian besar terkonsentrasi pada pemanfaatan
materi yang sudah tersedia dan konsekuensinya terhadap motivasi siswa dan
penguasaan kosakata reseptif. Sebagai perbandingan, hanya sedikit penelitian yang
dilakukan untuk membahas persepsi siswa dalam penggunaan aplikasi Quizlet
sebagai alat pembelajaran kosakata, khususnya pada siswa sekolah menengah atas.
Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki persepsi siswa dengan
tingkat pencapaian berbeda tentang penggunaan aplikasi Quizlet. Quizlet sebagai
alat pembelajaran kosakata. Peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif dan
wawancara sebagai instrumen untuk mendapatkan pemahaman mendalam tentang
persepsi siswa dalam penggunaan Quizlet. Terdapat enam siswa dengan tingkat
prestasi berbeda dalam kursus bahasa Inggris sebagai peserta penelitian. Peneliti
menggunakan analisis tematik untuk menganalisis data yang dikumpulkan.
Berdasarkan temuan tersebut, Quizlet terbukti menjadi alat yang berguna untuk
meningkatkan perolehan kosa kata, dan opini positif siswa diperkuat oleh elemen
gamified dan integrasi multimedia. Ketika teknologi terus membentuk lanskap
pendidikan, platform seperti Quizlet menjadi contoh bagaimana aplikasi inovatif
dapat merevolusi pengalaman belajar. Namun, temuan ini dapat diperkuat denga
Effective business writing
Isi dari buku ini akan membantu para pembaca untuk menjadi lebih efektif dan efisien dalam menulis bisnis - menulis pesan email yang menjawab pertanyaan, memecahkan masalah, langsung pada intinya, dan menghasilkan tindakan, serta menulis proposal bisnis dan surat-surat penting. Buku ini dirancang untuk memberikan referensi dalam memahami proses penulisan yang jelas dan ringkas, memahami kebutuhan pembaca, mendesain dokumen untuk meningkatkan keterlibatan pembaca, mengorganisir pemikiran untuk menciptakan hasil yang diinginkan, menggunakan gaya dan teknik yang berbeda untuk membuat tulisan menjadi menarik, serta mengedit dan mengoreksi pekerjaan secara efisien
The Impact Of Hidden Object Game To Increase Students’ Vocabulary Mastery In Junior High School
Penguasaan kosakata sangat penting untuk menguasai bahasa Inggris
sebagai bahasa asing. Semakin banyak kosakata yang dimiliki seorang siswa,
semakin mahir mereka dalam bahasa tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk
melihat seberapa efektif media permainan objek tersembunyi untuk meningkatkan
penguasaan kosa kata Bahasa inggris siswa dibandingkan dengan media
konvensional menggunakan kamus. Metode yang digunakan adalah data kuantitatif
dengan penelitian eksperimen semu. Data dari penelitian ini diperoleh dari murid�murid di salah satu SMP di Jawa Timur. Partisipan tersebut akan dibagi menjadi
dua kelompok yakni kelompok eksperimen yang menggunakan media permainan
objek tersembunyi dan kelompok control yang menggunakan media kamus untuk
mencari arti kosa kata. Untuk mengukur apakah terdapat perbedaan di antara dua
kelompok, setelah masing-masing perlakuan diberikan, siswa akan diminta
mengerjakan post-test. Pengolahan data yang digunakan adalah uji-t sampel
independen. Data menunjukkan skor post-test kelompok eksperimen memiliki rata�rata 84,69 dengan skor tertinggi 100 dan skor terendah 50. Sedangkan kelompok
kontrol mempunyai rata-rata 69,69 dengan skor tertinggi 100 dan skor terendah 20.
Selisih rata-rata kedua kelompok adalah 15. Hasil uji-t sampel independen adalah
0.003 atau kurang dari nilai p (0.05) yang mengartikan bahwa permainan objek
tersembunyi lebih efektif sebagai media belajar kosa kata Bahasa inggris
dibandingkan menggunakan kamus
Correlation between Affective Variables and Willingness to Communicate in Digital Setting.
Pada konteks pemerolehan Bahasa kedua, variabel afektif memengaruhi kesediaan untuk berkomunikasi karena berhubungan dengan perasaan dan emosi. Komuniatas dalam jaringan menyediakan wadah untuk memulai komunikasi dengan orang lain dengan latar belakang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana hubungan antara variabel afektif dan kesediaan berkomunikasi pada konteks dalam jaringan, dan menetukan variabel yang signifikan. Subyek pada penelitian ini adalah 85 mahasiswa semester dua pada program studi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Brawijaya.
Metode dari penelitian ini adalah kuantitatif dengan menggunakan desain korelasi. Penelitian ini menggunakan kuesioner. Affective variables scale diadaptasi dari Yashima (2002), Lee dan Lee (2019), Teimouri (2020) dan Wattana (2013). Terdapat tiga sub-dimensi pada variabel afektif, yaitu motivasi, kegigihan, dan kecemasan berbahasa, sementara pada Willingness to Communicate in Digital Setting scale diadaptasi dari Lee dan Lee (2019). Data dalam penelitian ini dianalisis menggunakan regresi berganda pada SPSS.
Penelitian ini menunjukkan bahwa korelasi antara variabel afektif dan kesediaan untuk berkomunikasi sebesar 30.4%, sementara sisanya disebabkan oleh variabel yang lain. Variabel yang paling berpengaruh adalah motivasi, dan diikuti oleh kecemasan berbahasa, sementara kegigihan tidak memengaruhi kesediaan siswa untuk berkomunikasi. Hal tersebut menunjukkan bahwa siswa yang memiliki motivasi tinggi dan kecemasan berbahasa yang rendah cenderung memiliki kesediaan untuk berbicara tinggi pula. Jika dalam kasus apapun, siswa memiliki motivasi yang rendah dan kecemasan berbahasa yang tinggi ternyata memiliki kesediaan untuk berkomunikasi yang tinggi, mungkin dikarenakan oleh factor-faktor yang tidak disebutkan pada penelitian ini. Oleh karena itu, penulis menyarankan untuk penelitian selanjutnya untuk mengadakan penelitian dengan menggunakan variabel yang berbeda, atau dengan pendekatan kualitatif
English Phonemic Awareness of Students with Visual Disabilities
Most of researches have reported the significance of English phonemic awareness to the success of learning English, but less discussions involving students with visual disabilities. Students with visual disabilities lacks of visual input and form a strong sensitivity to audio input, researches have reported that this condition affect their spelling ability, yet, their ability in recognizing English phonemes has been less explored especially in Indonesia. Thus, this research aims to describe the phonemic awareness of students with visual disabilities who learn English as Foreign Language. The participants of this research are students with visual disabilities whether active or passive braille user. 7 students with visual disabilities participated in an Online English Phonemic Awareness Test. Two independent raters rated the data independently. Interrater agreement was applied to ensure the objectivity of two independent interrater. The findings show that students with visual disabilities are aware of consonants Fricative alveolar, Plosive bilabial, and Plosive alveolar sounds but struggling with Fricative velar and Affricative velar sound, they are also aware of vowels Close mid front vowel, Close front long vowel sounds, Close mid back vowel and Open central vowel but struggling in identifying Open back vowel, Close mid central vowel, and Open mid back vowel. English phonemic awareness is a very important basic thing in language learning. However, it will be very challenging for ESL learners, especially those who learn are blind students because of certain obstacles that blind students have so that strategies are needed in language learning
Exploring EFL Students’ Perceptions on Reading Comprehension Difficulties in Indonesian Junior High Students
Pemahaman membaca (reading comprehension) bermanfaat bagi siswa untuk memperoleh keterampilan lain dalam belajar bahasa. Namun, siswa Indonesia cenderung memiliki beberapa kesulitan dalam pemahaman bacaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja kesulitan pemahaman bacaan yang menonjol yang dihadapi oleh siswa kelas 8 SMP di SMPN 7 Malang. Metode kuantitatif digunakan dan kuesioner offline yang terdiri dari 11 pernyataan dibagikan. Pernyataan-pernyataan tersebut terbagi menjadi kesulitan pemahaman membaca yang terus muncul dalam beberapa penelitian sebelumnya, yaitu kosakata (vocabulary), latar belakang pengetahuan (background knowledge), dan membuat kesimpulan (making inference). Peneliti juga menambahkan pengalaman membaca (reading experience) sebagai salah satu dimensi untuk melihat pengalaman membaca siswa kelas 8. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 66,70% dari 171 siswa setuju pada pernyataan bahwa mereka menghadapi kesulitan pada struktur gramatikal dalam teks bahasa Inggris. Siswa juga menemukan kesulitan untuk menghubungkan topik teks bahasa Inggris dengan pengetahuan mereka sendiri yang menunjukkan sebagian besar siswa memiliki latar belakang pengetahuan yang rendah
The Effect of Life-Story-Retelling Technique on Students’ Speaking Fluency
Kefasihan menjadi masalah baru yang perlu diatasi dalam mempelajari
suatu bahasa terutama sebagai bahasa kedua atau bahasa asing. Siswa sering
mengalami kesulitan dalam kefasihan berbicara, yang dapat disebut sebagai
‘disfluency’. Disfluency dapat disebabkan oleh beberapa masalah seperti tugas
yang sulit dan kurangnya latihan. ‘Retelling’ adalah suatu kegiatan baik dalam
bentuk tertulis maupun lisan untuk menjelaskan gagasan pokok suatu teks untuk
membangun pemahaman siswa. Dalam penelitian terdahulu, siswa membutuhkan
banyak literasi karena mereka menceritakan kembali sesuatu yang tidak
berdasarkan pengalaman mereka. Oleh karena itu, peneliti ingin mengubah jenis
genre menjadi Students’ Life Story karena tidak meminta siswa
membaca/membutuhkan literasi dari orang lain karena mereka dapat
mengalaminya sendiri. Sehingga, peneliti berharap penggunaan Students’ Life
Story dengan teknik retelling benar-benar dapat meningkatkan kefasihan berbicara sisw
Investigating Private Middle School Students’ English Pragmatic Competence: Production of Refusal for Teachers
Kompetensi pragmatik adalah salah satu kemampuan yang penting dan dibutuhkan di pengakuisisian bahasa Inggris. Kompetensi ini mempengaruhi kemampuan berkomunikasi pelajar, sedangkan komunikasi adalah salah satu tujuan utama pembelajaran bahasa. Kemampuan ini juga dibutuhkan untuk menghindari kegagalan komunikasi. Untuk mengakuisisi kemampuan ini. Dibutuhkan waktu dan eksposur terhadap bahasa. Namun, kurikulum di sekolah swasta Indonesia menyediakan waktu yang terbatas untuk pembelajaran bahasa Inggris yang menimbulkan masalah di proses akuisisi kompetensi pragmatik.
Masalah lain muncul ketika siswa mengungkap bahwa mereka mengalami kesulitan dalam memproduksi salah satu tindak tutur dalam kompetensi pragmatik yaitu penolakan. Studi sebelumnya mengindikasikan bahwa siswa merasa kesusahan ketika menolak lawan bicara dengan perbedaan status sosial, misalnya guru. Mengingat budaya Indonesia yang menganggap penolakan secara langsung sangat tidak sopan, ada kecenderungan pelanggaran maksim Grice dalam produksi penolakan siswa Indonesia.
Akibat dari masalah dan urgensi diatas, studi ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan: Bagaimana kompetensi pragmatik siswa sekolah menengah pertama swasta dalam memproduksi penolakan untuk lawan bicara dengan jarak status sosial? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, peneliti menginvestigasi kompetensi pragmatik siswa sekolah menengah pertama swasta dalam memproduksi tindak tutur penolakan terhadap lawan bicara guru dengan perbedaan status sosial. Investigasi dilakukan secara analisis kualitatif dari hasil wawancara dan data kuesioner pelengkapan wacana.Hasil dari investigasi menunjukkan bahwa mayoritas penolakan yang diproduksi siswa sesuai dengan konteks. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa siswa dapat menggunakan berbagai strategi untuk menolak permintaan, undangan, tawaran, dan saran dari guru sebagai lawan bicara. Pengalaman belajar partisipan mengindikasikan bahwa gaya belajar, strategi, dan persepsi dari interaksi terhadap bahasa target menunjukkan relevansi terhadap kompetensi mereka. Hal ini ditunjukkan dari hubungan antara efektivitas pengalaman belajar mereka terhadap proses akuisisi kemampuan komunikatif berdasarkan studi terdahulu. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa siswa sekolah menengah pertama swasta memiliki level kompetensi pragmatik yang beragam berdasarkan hasil produksi penolakan kepada guru
