1,720,962 research outputs found
PENDEKATAN HUMANIS SEBAGAI UPAYA NON-PENAL SEBAGAI IMPLEMENTASI NILAI-NILAI PANCASILA DALAM MENGURANGI KRIMINALITAS DAN PREMANISME
Dari seluruh uraian tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa kriminalitas dan premanisme merupakan fakta sosial yang terjadi dimanapun dan pada lapisan apapun. Persoalannya adalah setiap orang tidak ada yang menginginkan menjadi seorang criminal atau preman, namun kondisi sosial telah menyebabkan mereka dalam kriminalitas dan premanisme baik di lapisan masyarakat bawah, menengah maupun atas. Pada masyarakat lapisan bawah terjadi karena tekanan ekonomi dan pada masyarakat menengah dan atas justru karena ketamakan manusia. Namun perlu dipahami bahwa persoalan tersebut juga bersumber pada kehipokritan masyarakat dalam memandang norma dan status sosial sehingga masyarakat bawah terprovokasi berbuat criminal dan premanisme jalanan sebagai bentuk balas dendam sosial. Sedangkan masyarakat menengah dan atas terprovokasi menghalalkan cara untuk mengejar materi yang di bawah sadar menjadi kebanggaan masyarakat bila berhasil mencapainya. Kata kunci: Pendekatan Humanis, Non-Penal, Nilai-nilai Pancasila, Kriminalitas, Premanism
PERMASALAHAN TRISENTRA PENDIDIKAN DALAM PENANAMAN NILAI-NILAI PANCASILA JELANG ERA TEKNOLOGI 5.0
Proses pendidikan dalam kehidupan seorang manusia tidak lepas dari peran besar pendidikan dari keluarga, sekolah dan masyarakat karena setiap seorang manusia hampir semuanya melewati fase ini. Oleh karena itulah, kerja sama setiap pihak yang ada dalam tri sentra pendidikan merupakan kunci suksesnya membuat generasi muda Pancasila terkait posisi yang sangat strategis yang dimiliki tri sentra pendidikan dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila. Penelitian ini bertujuan untuk mengupas permasalahan tri sentra Pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah dan sosial. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif yang mendeskripsikan temuan-temuan hasil penelitian yang bersumber pada jurnal atau artikel. Hasil penelitian menemukan perubahan teknologi membawa pengaruh yang sangat besar pada perubahan karakter, budaya dan nilai yang berdampak pada pemahaman generasi muda akan nilai-nilai Pancasila. Disinilah diperlukan perubahan mental bagi para pendidik untuk mau menerima kritikan dan mau belajar untuk memanfaatkan teknologi untuk dapat dengan mudah menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda.
KELUARGA HUKUM SOSIALIS DILIHAT DARI SUDUT PANDANG PANCASILA (SUATU STUDI ILMU PERBANDINGAN HUKUM)
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi perbandingan antara keluarga hukum sosialis dalam konteks Uni Soviet dan perspektif ideologi Pancasila. Penelitian ini mengadopsi pendekatan ilmu perbandingan hukum untuk menganalisis perbedaan mendasar antara dua keluarga hukum tersebut dalam hal ideologi, sistem politik, nilai-nilai agama, keadilan sosial, dan peran keluarga serta Masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kepustakaan dengan menggunakan buku-buku referensi yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan dan persamaan antara keluarga hukum Sosialis dan Ideologi Pancasila dilihat dari aspek-aspek Ketuhanan, Kemanusiaan, Kemasyarakatan dan Keadilan Sosial. Selain itu perlu adanya penelitian lanjutan tentang implikasi dari penelitian ini yang mendukung pengembangan kebijakan hukum yang lebih sesuai dengan nilai-nilai dan kebutuhan masyarakat Indonesia
NASIONALISME DI ERA DIGITAL: TANTANGAN DAN PELUANG BAGI GENERASI Z INDONESIA
Nasionalisme di era digital merupakan fenomena yang kompleks dan relevan dalam konteks perkembangan sosial, budaya, dan politik global saat ini. Generasi Z, yang tumbuh dewasa di tengah kemajuan teknologi informasi yang cepat, menghadapi tantangan dan peluang yang unik terkait dengan identitas nasional mereka. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji interaksi Generasi Z dengan nasionalisme, mengidentifikasi tantangan, dan memberikan saran strategis. Metode penelitian menggunakan studi pustaka untuk menganalisis literatur terkait. Hasilnya menunjukkan bahwa Generasi Z rentan terhadap pengaruh globalisasi yang dapat mengikis identitas nasional. Meskipun demikian, adaptabilitas dan kritik terhadap pemerintah menunjukkan rasa nasionalisme yang dinamis. Simpulannya, pentingnya pendidikan adaptif, peran tokoh panutan, dan memberikan kepercayaan kepada Generasi Z untuk memperkuat rasa nasionalisme. Saran strategis meliputi perlunya pendidikan yang relevan, figur teladan yang menginspirasi, dan dukungan untuk kontribusi Generasi Z dalam memajukan bangsa. Dengan demikian, Generasi Z dapat terus memperkuat rasa nasionalisme mereka sesuai dengan perkembangan era digita
EKSISTENSI KELUARGA HUKUM SOSIALIS DI DUNIA DAN KEMUNGKINAN KOMPILASINYA SECARA DE FACTO PADA HUKUM NASIONAL
Artikel ini membahas eksistensi nilai-nilai hukum sosialis dalam hukum nasional Indonesia dan kemungkinan integrasinya dalam kerangka ideologi Pancasila. Latar belakang penelitian ini adalah kebutuhan untuk memahami bagaimana prinsip-prinsip keadilan sosial dan kolektivisme dapat diadaptasi dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk. Tujuan penelitian adalah menganalisis pengaruh keluarga hukum sosialis terhadap hukum nasional dan mengeksplorasi potensi integrasi lebih lanjut. Metode yang digunakan adalah penelitian yuridis normatif, yang berfokus pada kajian norma hukum yang tertulis dalam peraturan perundang-undangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai sosialis telah diintegrasikan dalam berbagai regulasi, seperti UUD 1945 dan UU Ketenagakerjaan, yang mencerminkan perlindungan terhadap masyarakat. Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa meskipun terdapat elemen hukum sosialis dalam hukum nasional, penerapannya harus tetap berlandaskan pada prinsip-prinsip Pancasila untuk mencapai keadilan sosial yang berkelanjutan. Saran untuk penelitian selanjutnya adalah mengeksplorasi lebih dalam tentang implementasi nilai-nilai ini dalam praktik hukum sehari-hari
MEMBUMIKAN NILAI-NILAI PANCASILA DALAM DUNIA PENDIDIKAN DI INDONESIA
nilai-nilai Pancasila dirasakan sudah mulai sulit ditemukan dalam kehidupan sehari hari, baik dalam masyarakat maupun pada siswa sekolah yang seharusnya menjadi contoh bagi masyarakat sekitarnya. Untuk itulah diperlukan gerakan untuk membumikan nilai-nilai Pancasila, khususnya dalam dunia pendidikan di Indonesia, salah satunya dengan cara menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kurikulum, metode pengajaran sehingga nilai-nilai Pancasila akan menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari siswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian desktiptif dengan menganalisa dan mendeskripsikan peristiwa yang terjadi di masyakarat dan memberikan solusi berdasarkan referensi yang ada. Hasil dari penelitian ini adalah perlunya membumikan kembali nilai-nilai Pancasila dalam dunia pendidikan dengan cara mengadakan profil pelajar Pancasila, memasukkan materi pendidikan moral Pancasila di setiap jenjang pendidikan dan menghidupkan kembali program penataran P4 dengan wajah baru dan selera generasi milenial
MENUMBUHKAN NASIONALISME DAN SIKAP BELA NEGARA MELALUI PELATIHAN MILITER PADA ANAK BERMASALAH: TINJAUAN PSIKOLOGIS, HAM, DAN SUARA ORANG TUA
Menurunnya rasa nasionalisme di kalangan generasi muda, khususnya pada anak-anak bermasalah yang terlibat dalam kenakalan remaja, menjadi tantangan serius dalam pembangunan karakter bangsa. Salah satu pendekatan yang mulai banyak diperbincangkan adalah pelatihan militer sebagai media pembentukan kedisiplinan dan sikap bela negara. Artikel ini membahas secara kritis potensi pelatihan militer terhadap anak bermasalah melalui perspektif psikolog anak, hak asasi manusia (HAM), dan pandangan orang tua. Hasil kajian menunjukkan bahwa pelatihan militer dapat bermanfaat jika diterapkan secara edukatif, non-represif, dan berbasis nilai rehabilitatif. Program ini harus sejalan dengan prinsip perlindungan anak dan melibatkan orangtua serta tenaga profesional psikologi anak
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
- …
