1,721,015 research outputs found

    PENGELUARAN KAYU SISTEM KABEL LAYANG GAYA GRAVITASI DENGAN KERETA PENGANGKUT KAYU BER-REM KITO PADA DAERAH BERTOPOGRAFI SULIT DI SUKABUMI.

    No full text
    Uji coba pengeluaran kayu pinus dengan teknologi kabel layang menggunakan gaya gravitasi dan dikenal dengan istilah GSS, dicoba dilakukan di Kampung Cigalasar, Desa Bojongkalong, Kecamatan yalindung,  Sukabumi, pada tegakan pinus berdiameter antara 24-45 cm yang saat ini masih disadap getahnya. Hasil uji coba pengeluaran kayu ke arah bawah lereng dengan bentangan alam ± 350 m memperlihatkan bahwa teknologi ini cukup baik dan produktif. Sejumlah hambatan yang dialami dan dinilai masih perlu perbaikannya antara lain perlunya penyangga di beberapa tempat agar muatan kayu tidak menyentuh pemukaan tanah akibat panjangnya bentangan kabel, tiang penyangga dilengkapi dengan pijakan panjat agar mudah saat melakukan pemasangan atau bila terjadi sesuatu perbaikan, pemasangan jalur kabel agar berada pada satu garis lurus sehingga kabel mudah lepas dari penyangga, hati-hati dalam saat memasang posisi kereta angkut kayu, hati-hati dalam memasang ulang kabel tanpa ujung, pengikatan kayu yang praktis clan kuat, penggunaan tenaga yang memadai dan model pengunci kabel penarik lebih kuat. Produktivitas kerja GSS sebesar 5-9.104,3 m'.hm/jam dengan rata-rata 7,033 m'.hm/jam dan biaya pengeluaran kayu sebesar Rp 48.668/jam atau Rp 6.920/m'.  Dengan investasi sebesar Rp 20 juta dan dapat disewakan dengan biaya sewa sebesar Rp 10.500 / m' /hm, maka  setelah 6 tahun dapat diperoleh nilai NPV sebesar Rp 14.445.241 dan IRR sebesar 31,9%

    PRODUKTIVITAS DAN BIAYA ALAT HASIL REKAYASA DALAM PENGELUARAN KAYU JATI DI DAERAH CURAM

    No full text
    This study deals with the trial on teak wood-log extraction on a steep terrain using skyline system. This system used a small capacity yarder machine (5.5 PK) of generation II's Expo prototype. The wood log was pulled from a tree-felling plot all theway about 50-m distance to the bill slope. As such, the yarder afforded the productivity in average 0.6263 m²/hour, implying that it was still below the targeted range (2.5-5m/bour). The investment cost reached Rp 72,000,000 or correspond to Rp 102,986/bour or Rp 156,351/ ni'. Financial analysis using the actual performance of such tool at the rents price similar to the log-extracting cost brought out negative NPV and IRR values. Such values could have been positive had the rents price been greater, equal to Rp 185,000/m². &nbsp

    PENGAMATA PENEBANGAN DAN PENGANGKUTAN SAGU DI DESA TANJUNG KECAMATAN TEBING TINGGI PROPSI RIAU

    No full text
    ln  indonesia  Sago  (Metroxylon sp)  is one  of  the  natural  resources   which  is potenlally  great   enaugh for  developing  national income.  The   areas   distribute over  many  places  particularly  in Irian.  Jaya,    Maluku, some parts  of  Sulawesi,    Kalimantan and Sumatera, covering  ± 6 00  000 ha. In Sumatera, sago grow in swampy area like South Sumatera, Jambi, Riau and Aceh.  ln Riau the most famous producer sago area is Sab Districl of  Tebing   Tinggi of District Bengkalis .  According  to the last report  of 1989,  the total sago area in Sub District of Tebing tinggi  is± 15 915 ha,  and has producted sago of 156  500 ton. This paper  discussing same aspects of technical harvesting of sago.  which has preliminary observed in an area  of the  farmer  as one of the sharing sago cooperation of Harmonis,  that  localed  in Desa Tanjung. Sub District of Tebing Tinggi. Those aspects   were felling, toping and branching and tranportalion with and addition of sago proccesing.                                                          The resul: showed that felling  topping and branching and sago tranportation are carried out by group of felling  operation  wkich is consist of 6-8 men/group. the salary system is done by contract. The sagos are felled before  flowering  and each trees was cut  wilh diameter ranged.from 49-64 cm and need ±   16,1 minutes/tree. the log then cutted after lopping and branching into 8-11 pieces depend   on the  tog length  1, 05-1 ,25 m/pieces.  This pieces   are   called tual.  Each  tual  then hauled   using  manual  system  as  well as  "nglebek"   on  a rail system  of the  wood.   In average to haul  of  the  distance ± 400 in from the felling   site  to sago industry   was ±  30 minutes. The sago processing    covered some  aclivities    of burking,   slicing   and flouring need±  4,5  minutes  per   tual.  Therefore   plus other delayed  time  with  calculation  10  tual/tree, the total  processing   of one  tree  sago  need  1 hour.  The productivity   of man  power   is able  to finish  of sago  horvesting  ±  1  tree/man.    Using  the wage  of Rp.  400/tual,   therefore  the total salary is Rp,  4000/day

    UJI COBA MESIN KABEL LAYANG EXPO-2000 GENERASI-II DENGAN KONSTRUKSI DUA GIGI EKSENTRIK TERPISAH UNTUK EKSTRAKSI KAYU

    No full text
    Studies of timber extraction was carried out in steep areas by using the prototype Expo-2000 Generation II withengine of 13 HP. Cable line stretching of about 400 m with slope of about 50%. Logs of rasamala of 2-4 m length anddiameter ranged of 20-40 cm were extracted to landing around a tower. The machine was placed on the hill located in themiddle of two cable stretches.The first cable stretch was used for pulling logs upward and the second cable stretch for pullingdownward. The cost for machine investment was about Rp 110 millions with operation costs of Rp 111.975 /hour. Logsextraction productivity is 0.59 m /hour, and the extraction cost was about Rp 189,788 per m

    KAJIAN HUBUNGAN ANTARA TINGGI BAGIAN KAPAL YANG MASUK DALAM AIR DAN BESARNYA VOLUME MUATAN KAYU BUNDAR

    No full text
    Dolok yang diantar pulaukan dapat diangkut menggunakan perahu/kapal laut, ponton dan rakit. Belakangan ini penyelundupan kayu menggunakan perahu/kapal laut cenderung meningkat, sehingga untuk segera memperoleh informasi besarnya volume kayu yang akan diselundupkan, diperlukan teknik khusus. Studi ini dilakukan dalam upaya mencoba mengantisipasi para petugas lapangan untuk menangani permasalahan tersebut.   Kajian dilakukan dengan cara mengamati tinggi badan kapal setelah diisi muatan yang masuk dalam air yang dalam istilah perkapalan disebut Immersion. Selanjutnya dilakukan analisis regresi linier sederhana untuk mengetahui hubungan antara tinggi badan kapal yang masuk dalam air dengan besamya muatan. Berat muatan diperoleh dari volume dan untuk mendekati volume aktualnya, maka dugaan volume tersebut dikalikan dengan faktor koreksi. Untuk mengetahui gambaran penambahan badan kapal yang masuk ke dalam air setelah diisi muatan, dapat dibaca pada skala ukur yang terdapat di badan kapal sebelah luar. Hasil studi memperlihatkan terdapat hubungan erat antara tinggi bagian badan kapal yang masuk dalam air (m) dengan berat muatan (ton). Persamaan hubungan tinggi badan kapal yang masuk dalam air dengan berat muatan diperoleh Y = 1. 0456 + 0, 00051 X;di mana Y = tinggi badan kapal setelah muatan yang masuk dalam air (m) dan X = berat muatan kapal yang masuk dalam air (ton).Dalam penggunaannya di lapangan, hasil analisis memperlihatkan bahwa untuk mendekati nilai volume sebenamya. Setelah berat muatan (ton) dikembalikan ke dalam volume (m3) kemudian perlu dikoreksi dengan angka koreksi sebesar I,0021

    PERBAIKAN KATROL DAN DRUM BALIK SISTEM KABEL LAYANG EXP0-2000 UNTUK EKSTRAKSI KAYU

    No full text
    Ada dua kelemahan utama yang perlu diperbaiki dari uji coba Expo-2000 tahun 2005 lalu yaitu 1) drum balik (haulback drum) memerlukan sistem pengunci yang lebih kuat dan 2) katrol penghantar kabel sering masuk di antara rol katrol. Pada tahun 2006, perbaikan drum penarik balik kereta muatan kayu dilakukan dengan membuat model sistern rem cakram, sehingga ekstraksi kayu dapat dilakukan ke arah atas maupun ke arah bawah lereng dan juga dibangun katrol kecil untuk menggantikan katrol lama. Dari perbaikan itu Expo-2000 mencapai produktivitas cukup baik sekitar 5-19 m3.hm/jam tergantung jarak, ukuran kayu, kondisi permukaan lapangan dan kerapatan tegakan. Dengan investasi sebesar Rp 100 juta hasil analisis memperlihatkan biaya pemilikan dan operasi pengeluaran kayu mencapai Rp 60.175/jam atau biaya produksi sebesar Rp 11.620/m3. Dengan suku bunga bank 18%/tahun dan proyeksi biaya 6 tahun, perhitungan bila ada kenaikan biaya operasi 10% mengakibatkan adanya penurunan pendapatan, yang tercermin dari nilai NPV maupun IRR yang akan menjadi positif pada sewa alat Rp 25.000/ m3, padahal bila tidak ada kenaikan, dengan biaya sewa alat Rp 22.500/m3 pun NPV dan IRR sudah positif

    KAJIAN OPERASI PENGELUARAN KAYU S

    No full text

    PRODUKTIVITAS DAN BIAYA REKAYASA MESIN PEMBUAT SERPIH KAYU YANG MUDAH DIPINDAH

    No full text
    A prototype mobile chipper was built to convert small logs (diameter less than 20 cm). Testing runs were undergone inthe village of Cipari, Sub District of South Sukanegara, Cianjur and Sub District of Sadang Purwakarta. Performanceof the chipper much better than the-I type which could convert the waste into chips in average capacity of about 582kg/hour. The owning and operation costs of wood chipper was about Rp 62,929/hour, with operation cost Rp 108/kg.The owing and cost operation using the type-1 prototype chipper was about Rp 249/kg. Cost analysis using rental cost Rp125/kg, the NPV is achieved at about Rp 13.209.928 with IRR at about 30%

    PERCOBAAN PENGGUNAAN HASIL MODIFIKASI ALAT UKUR DOLOK DI AIR

    No full text
    Hingga saat ini tongkat ukur rnasih dipergunakan untuk mengukur diameter dolok. Dengan bantuan pengait di ujung tongkat, diameter dolok diketahui dalam satuan cm inelalui pengukuran di ujung dan pangkal batang. Pada kenyataannya, alat ukur ini menjadi kurang praktis terutama bila pengukuran itu dilakukan pada rakitan dolok yang sistem pengikatannya hanya dilakukan di salah satu bagian ujungnya saja. Cara pembuatan rakit seperti ini banyak ditemukan di daerah Kalimantan Tengah. Dengan cara pengukuran seperti itu, di samping cukup memakan waktu, juga berisiko tinggi, karena sering munculnya gelombang akibat tingginya kegiatan transportasi sungai, seperti speed boat, perahu besar maupun kecil. Dalam penelitian ini dikaji penggunaan modifkasi alat ukur tongkat, yang dipergunakan dengan memakai prinsip cukup kuat, ringan. mudah dibawa serta memiliki ketelitian tinggi. Dari percohaan diperoleh gambaran bahwa untuk menghitung volume dolok di air dibanding hasil pengukuran di darat yang dipandang sebagai yang paling telili perlu faktor koreksi (FK). Untuk jenis kayu ramin FK diameter besamya 1,0143 dan FK volumenya sebesar 1,0308. Untuk jenis kayu hutan tanah kering, FK diameter sebesar 1,0155 dan FK untuk volumenya sebesar 1,0272. Berdasarkan uji keragaman, dengan hasil pengukuran di darat (M4) sebagai kontrol, temyata tidak berbeda terhadap 2 cara pengukuran di air yakni mengukur pada jarak sekitar 1 meter dari kedua ujung batang (M1) dan mengukur diameter pada sekitar pertenguhan setiap panjang batang (M2). Sedangkan pengukuran dengan cara acak (M3) berbeda nyata dengan ketiga cara pengukuran itu. Berdasarkan hal itu alat ukur ini cukup praktis dan teliti untuk dipakai para petugas di lapangan
    corecore