7 research outputs found

    Kajian pustaka efektivitas dan efek samping silodosin pada pasien benign prostatic hyperplasia

    No full text
    Benign prostatic hyperplasia (BPH) adalah kondisi klinis yang disebabkan adanya pembesaran suatu kelenjar karena pertumbuhan sel stroma dan sel epitel kelenjar prostat yang berlebihan. Prevalensi BPH di Indonesia sekitar 50% pada laki-laki berusia di atas 50 tahun dan diperkirakan terdapat 2,5 juta laki-laki yang menderita BPH. Silodosin memiliki mekanisme kerja menghambat reseptor α-1A sehingga memberikan efek berupa relaksasi otot polos prostat yang menyebabkan peningkatan aliran urin, perbaikan gejala BPH serta dapat memperbaiki kualitas hidup pasien BPH. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas dan efek samping silodosin pada pasien BPH. Proses pencarian literatur menggunakan database PubMed dan Google Scholar dengan kombinasi kata kunci Benign Prostatic Hyperplasia, silodosin, efficacy, safety, therapy. Hasil efektivitas silodosin dibandingkan dengan obat pembanding dalam menurunkan skor IPSS, tiga artikel melaporkan bahwa silodosin lebih efektif dan tiga artikel melaporkan sama efektifnya. Pada parameter penurunan skor QoL, dua artikel menyatakan bahwa silodosin efektif dan tiga artikel menyatakan kedua obat sama efektifnya dalam menurunkan skor QoL. Dari parameter peningkatan Qmax, dua artikel melaporkan silodosin lebih efektif dan dua artikel melaporkan obat pembanding lebih efektif. Parameter penurunan PVR, satu artikel melaporkan silodosin lebih efektif dan empat artikel melaporkan silodosin tidak efektif. Efek samping yang dilaporkan pada penggunaan silodosin seperti ejakulasi retrograde, dizziness dan hipotensi ortostatik tidak berbeda signifikan dibandingkan dengan obat pembanding. Berdasarkan kajian pustaka, silodosin signifikan dalam perbaikan skor IPSS dan QoL namun tidak signifikan dalam perbaikan nilai Qmax dan PVR serta efek samping yang dilaporkan tidak signifikan
    corecore