382 research outputs found

    Kebijakan Maritim di Indonesia dalam Perspektif Sound Governance. Author: Eki Darmawan, Handam Handam, Arwanto Harimas Ginting

    No full text
    Kebijakan Maritim di Indonesia dalam Perspektif Sound Governance. Author: Eki Darmawan, Handam Handam, Arwanto Harimas Gintin

    Daya Tahan Lapisan Finishing Interior Pelarut Air pada Kayu Jati, Kamper, dan Pinus.

    No full text
    The limited supply of wood from natural forests makes markets interest to wood from plantation forest increase. However, the wood comes from plantation forests considered to be low in quality, including durability. Finishing is one of the solutions to overcome these problems. In this present day there has been developing water based finishing materials (waterbased finishes) that is safe for the environment and does not contain harmful chemicals that can threaten human health. A study has been conducted to determine the durability of the water based finishing layer (Impra Aqua and Sayerlack Waterborne) on Teak (Tectona grandis), Camphor (Dryobalanops aromatica), and Pine (Pinus merkusii). The type of testing conducted covers on the hot and cold test, resistance to household chemical materials, and cross-cut test. The test results showed that the finishing layer is resistant to the hot and cold test, thus can be classified into class 10 (with a completely unblemished surface). The Layer formed by Impra Aqua finishing material is also resistant to all household chemicals tested, so it is classified into class 10. Meanwhile the layer resistance of Sayerlack Waterborne finishing against ballpoint ink tend to be less powerful, so it is classified into class 9, but the finishing materials is resistant to chemicals such as Povidone-iodine. In the test results of paint adhesion (cross cut test), teak wood in wet conditions coated with both types of finishing materials has the weakest adhesion strength, so it is classified into class 3B. Meanwhile, finishing layer for all the wood samples under dry conditions have very strong adhesion, so it is classified in class 5B

    Karakteristik Kayu Jati Biotrop Arah Aksial dan Radial

    No full text
    Kayu Jati (Tectona grandis Linn F) merupakan salah satu bahan baku industri perkayuan yang sangat diminati. Peningkatan permintaan kayu jati mencapai 13-17% per tahun. Oleh karena itu, saat ini sedang maraknya perkembangan jati cepat tumbuh sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Salah satu jenis jati cepat tumbuh adalah jati biotrop (Tectona grandis variasi Biotrop). Karakteristik kayu jati biotrop hasil budidaya kultur jaringan masih belum diketahui oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik arah aksial dan radial terhadap sifat dasar kayu jati biotropika umur 8 tahun. Pengujian sifat fisis meliputi kadar air, kerapatan, dan berat jenis. Sifat mekanis meliputi MOE, MOR, dan kekerasan. Pengujian keawetan kayu menggunakan uji keawetan kayu terhadap rayap kayu kering dan graveyard. Pengujian sifat kimia dengan menganalisis kadar ekstraktif dan komponen kimia. Berdasarkan hasil penelitian, sifat dasar kayu baik sifat fisis, mekanis, keawetan alami kayu, dan kimia menunjukkan adanya variasi pada arah aksial dan radial

    Pengawetan Kayu Sengon (Falcataria moluccana Miq.) dengan Diffusol CB

    No full text
    Innovation in wood science and technology could improve the service life of sengon wood (Falcataria moluccana Miq.) through the wood preservation process, especially with a cold immersion method. Analysis of data was conducted in a descriptive with the retention, weight loss, grave yard test valuation, moisture content, density, specific gravity, MOE and MOR parameters of the sengon wood (Falcataria moluccana Miq.). Samples were prepared with 3 combinations of variant consisting of: (a) Variant of wood inside (sapwood and heartwood); (b) Variant of age (5, 6, 7 years); and (c) Variant of height position (bottom, middle, and upper). The application of preservative diffusol CB through the cold immersion method on sengon wood age 5, 6, and 7 years can improve the physical properties (moisture content, specify gravity and density of the wood), and durability of wood (retention, weight loss, grave yard test), as well as could reduce the organism attack (termite Macrotermes gilvus and fungi Pycnoporus cinnabarinus) when compared to control. Mechanical properties (MOE and MOR) sengon wood in bottom position of inclined downward from the pith to bark

    Pengaruh Kekasaran Permukaan dan Kekentalan Bahan Finishing Larut Minyak terhadap Keterbasahan Kayu Sengon dan Jabon

    No full text
    Kayu sengon dan jabon merupakan jenis kayu cepat tumbuh yang banyak digunakan sebagai bahan baku furnitur. Jenis kayu cepat tumbuh memiliki karakteristik yang kurang baik sehingga perlu dilakukan proses finishing pada jenis kayu tersebut. Keterbasahan (wettability) merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan untuk menganalisa kualitas dari finishing. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dari kekasaran permukaan, jenis bahan finishing, dan kekentalan bahan finishing larut minyak terhadap keterbasahan pada kayu sengon dan jabon. Permukaan contoh uji diamplas menggunakan kertas amplas dengan grid #120, #240, #360, dan juga tanpa amplas sebagai kontrol. Jenis bahan finishing yang digunakan yaitu polyurethane dan nitrocellulose serta pelarut yang digunakan yaitu thinner. Perbandingan bahan finishing dengan thinner yang digunakan yaitu 100:0, 90:10, 80:20, dan 70:30. Pengujian keterbasahan dilakukan dengan cara mengukur sudut kontak dengan metode sessile drop. Nilai K digunakan sebagai indikator keterbasahan berdasarkan S/G model yang dihitung dengan menggunakan program XLSTAT 2017. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa bahan finishing dengan kekentalan yang tinggi menghasilkan sifat keterbasahan yang lebih rendah. Pengamplasan permukaan kayu dengan nomor amplas yang besar dapat meningkatkan kehalusan permukaan kayu. Hal tersebut menyebabkan sudut kontak menjadi lebih besar sehingga menurunkan sifat keterbasahan kayu. Semakin tinggi kekentalan bahan finishing dan nomor amplas yang digunakan menghasilkan nilai K yang semakin kecil. Nilai K yang semakin kecil mengindikasikan bahwa sifat keterbasahan kayu semakin rendah

    Peningkatan Nilai Estetika Anyaman Bambu Melalui Finising Teknik Batik

    No full text
    Bambu memiliki sifat-sifat yang baik untuk dimanfaatkan serta relatif murah dibandingkan dengan bahan bangunan lain karena banyak ditemukan di sekitar pemukiman pedesaan. Oleh karena bambu memiliki sifat-sifat yang baik maka bambu dapat dijadikan alternatif pengganti kayu yang ketersediannya mulai menipis. Jenis bambu yang memiliki peluang yang cukup besar adalah bambu Tali (Giganthochloa apus BI. Ex (Schult.f.) Kurz) dan bambu Betung (Dendrocalamus asper (Schult. F.) Backer ex Heyne) karena potensinya yang cukup besar dan banyak ditemukan dilahan-lahan milik rakyat di pulau Jawa. Untuk lebih dapat bersaing dengan bahan baku yang lainnya maka diperlukan adanya peningkatan nilai estetika terhadap bambu. Dalam hal ini digunakan teknik batik yang merupakan warisan nenek moyang sebagai benteng watak dan kekuatan sosial budaya masyarakat Indonesia. Finishing batik dilakukan pada anyaman bambu Tali dan bambu Betung yang masing-masing berukuran (30x30) cm dengan 2 variasi bahan anyaman yaitu berbahan daging bambu dan berbahan campuran daging dan kulit bambu pada setiap jenis bambu. Masing-masing anyaman diberi perlakuan pembatikan dan finishing dengan urutan kerja yang berbeda dan penggunaan bahan finishing yang berbeda. Hasil dari pengaplikasian bahan finishing yang berbeda tersebut akan dibandingkan secara visual, kemudian dilanjutkan dengan pengujian sifat finishing-nya antara lain uji ketahanan lapisan finishing terhadap bahan kimia rumah tangga selama 1 jam dan 24 jam, uji ketahanan terhadap pengasapan, dan uji ketahanan terhadap uap air panas. Dari hasil penelitian yang dilakukan, urutan proses finishing yang baik dengan teknik batik pada anyaman bambu adalah pengapian sesaat untuk meghilangkan bulu-bulu halus serta kumbang penggerek perusak anyaman bambu, pengampelasan untuk menghaluskan permukaan, pemalaman, pewarnaan, penglorotan, pemberian sanding sealer, kemudian top coating. Bambu Betung menghasilkan warna yang lebih gelap dibandingkan dengan bambu Tali. Pada kulit bambu menghasilkan warna yang tidak bagus atau warna yang dihasilkan tidak begitu jelas. Bahan finishing melamin, nitroselulosa, dan aqua memiliki kelas finishing 10 untuk pengujian ketahanan lapisan finishing terhadap bahan kimia rumah tangga selama 1 jam dan 24 jam, uji ketahanan terhadap pengasapan dan dan uji ketahanan terhadap uap air panas selama 5-10 menit. Kadar padatan melamin lebih tinggi dibandingkan dengan nitroselulosa maupun aqua. Bahan finishing aqua memiliki kadar padatan yang paling rendah sehingga dapat dikatakan bahwa lapisan finising-nya tidak terlalu tebal atau berifat porous sehingga asap maupun uap air dapat masuk kedalam celah-celah lapisan. Teknik batik dapat diterapkan sebagai alternatif untuk meningkatkan nilai estetika pada anyaman bambu

    Pengaruh Kekasaran Permukaan terhadap Keterbasahan dan Daya Lekat Bahan Finishing pada Kayu Jati Rakyat dan Jati Perhutani

    No full text
    Penelitian ini bertujuan menganalisa pengaruh kekasaran permukaan terhadap keterbasahan dan daya lekat cat. Contoh uji menggunakan papan tangensial dan papan radial kayu Jati (Tectona grandis) pada kondisi kering udara. Sebelum finishing kayu, permukaan contoh uji diamplas. Kekasaran permukaan yang berbeda dihasilkan dari kertas amplas nomor 120, 240 dan 360. Keterbasahan dari dua jenis lapisan yang berbeda (cat larut air dan cat larut minyak) pada permukaan kayu yang diamplas kemudian diukur dengan menggunakan metode sessile drop. Model S/G digunakan untuk mengevaluasi dan membandingkan keterbasahan tersebut. Setelah itu, sampel kayu yang telah diamplas dilakukan dua kali pelapisan. Pengujian daya lekat menggunakan metode cross-cut. Nilai K pada model S/G menurun seiring dengan meningkatnya nomor kertas amplas. Hal ini menunjukkan bahwa keterbasahan menurun dengan menurunnya kekasaran permukaan. Keterbasahan antara pola penampang tangensial dan penampang radial tidak terdapat perbedaan yang mencolok. Cat Ultran Lasur (Alkyd) menghasilkan keterbasahan yang lebih baik dibandingkan cat Aqua Politur (Arcylic). Uji cross-cut menunjukkan bahwa kekuatan daya lekat lapisan film menurun seiring dengan meningkatnya nomor kertas amplas. Kecenderungan yang sama ditemukan pada cat larut air dan cat larut minyak pada kedua permukaan kayu jati rakyat dan jati perhutani

    Pengaruh Viskositas Cat Terhadap Keterbasahan dan Daya Lekat Bahan Finishing Pada Kayu Jati Rakyat dan Jati Perhutani

    No full text
    Kayu jati (Tectona grandis Linn. F.) mempunyai sifat pengerjaan yang baik sehingga cocok untuk berbagai keperluan. Penelitian ini bertujuan menganalisa pengaruh viskositas cat terhadap keterbasahan dan daya lekat cat. Contoh uji menggunakan papan radial dan tangensial jati rakyat dan jati perhutani pada kondisi kering udara. Permukaan contoh uji diamplas dengan kertas amplas nomor 360. Perbedaan viskositas didapatkan dengan pengenceran cat menggunakan larutan pengencer 0%, 10%, 20%, dan 30%. Viskositas larutan cat dengan pengenceran 0%, 10%, 20%, dan 30% masing masing sebesar 3.8; 1.5; 0.45; dan <0.3 poise untuk cat larut air dan <0.3 poise untuk semua cat larut minyak. Nilai keterbasahan diukur berdasarkan sudut kontak antara cat dan permukaan kayu menggunakan metode sessile drop. Nilai keterbasahan dianalisis dan dibandingkan menggunakan S/G model. Kemudian contoh uji dicat dengan dua jenis cat (cat larut air dan cat larut minyak). Pengujian daya lekat menggunakan uji gores yang mengacu pada standar ASTM D 3359. Hasil penelitian pada model S/G menunjukkan nilai K meningkat seiring penurunan viskositas cat. Hal ini menunjukkan bahwa keterbasahan meningkat dengan menurunnya viskositas cat. Nilai keterbasahan yang terbentuk pada permukaan radial dan tangensial tidak menunjukkan adanya perbedaan yang menyolok. Cat larut minyak menghasilkan keterbasahan lebih baik dibandingkan cat larut air. Hasil uji gores menunjukkan daya lekat lapisan cat meningkat seiring penurunan viskositas cat

    “Eksibisi” ekstrak daun sirih dan biji buah srikaya sebagai obat anti rayap tanah pada kayu sengon

    No full text
    Sengon merupakan salah satu jenis tanaman yang tumbuh cepat di daerah tropis. Saat ini, kayu sengon tidak banyak di cari karena mudahnya kayu sengon dimakan oleh rayap. Makanan utama rayap adalah selulosa pada kayu dan kayu yang ditumbuhi jamur merupakan kayu yang disenangi oleh rayap. Oleh karena itu, diperlukan suatu cara untuk memperkuat daya tahan kayu sengon.Salah satu cara meningkatkan daya tahan kayu sengon adalah pengawetan mengggunakan zat alami seperti zat asetogenin. Salah satu tumbuhan yang memiliki zat asetogenin adalah tumbuhan srikaya, tepatnya di dalam biji buah. Zat asetogenin tersebut tidak disenangi rayap karena dapat membunuh rayap itu sendiri. Kayu yang disukai rayap adalah kayu yang di tumbuhi oleh jamur dan zat yang dapat mencegah tumbuhnya jamur dimiliki oleh daun sirih karena mengandung kavikol dan kavibetol yang mempunyai daya antibakteri lima kali lipat dari fenol biasa sehingga jamur tidak mudah tumbuh pada kayu sengon. Tujuan khusus penelitian ini adalah membuat kayu sengon memiliki daya tahan tinggi terhadap hama rayap sehingga dapat meningkatkan kualitas kayu dan diharapkan nilai ekonomis kayu tersebut dapat meningkat. Target dari penelitian ini adalah memperoleh suatu ekstrak yang dapat digunakan untuk obat anti rayap pada kayu sengon. Sehingga pada akhirnya, zat ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas khususnya produsen kayu lapis. Metode yang dipakai adalah metode acak lengkap yaitu memberi 4 perlakuan berbeda pada kayu, yaitu kayu tanpa zat ekstaktif, dengan zat ekstraktif, dan dengan salah satu bahan zat ekstraktif. Ekstrak ini dibuat dengan cara memblender biji srikaya dan mengoven daun sirih, masing-masing rendam dengan etanol 96% selama dua hari dan saring kembali hingga ekstrak menjadi bening, kemudian ekstrak di berikan pada kayu yang akan di uji coba pada rayap, amati selama 1 bulan. Penelitian ini memakan waktu empat bulan.DIKT

    Karakteristik Chip dan Kekasaran Permukaan Kayu Ramin Hasil Pengerjaan dengan Up-Milling dan Down-Milling Router Bits

    No full text
    Proses pengerjaan kayu yang tepat akan meningkatkan kualitas olahan kayu yang dihasilkan. Proses pemotongan harus disertai dengan pemilihan pisau yang tepat. Dampak dari pemotongan adalah perubahan kekasaran permukaan kayu. Kekasaran permukaan sangat berpengaruh terhadap pengolahan kayu lebih lanjut terutama proses finishing. Tujuan penelitian ini adalah melihat pengaruh dari sudut helix terhadap kekasaran permukaan kayu dan karakteristik chip hasil pengerjaan dengan up-milling dan down-milling router bits. Kayu dipotong menggunakan mesin CNC, pisau dengan berbagai sudut helix (0o, 15 o, 30o, 45o dan 60o) dan proses pengerjaan up-milling dan down-milling. Hasil penelitian menunjukkan semakin besar sudut helix, nilai kekasaran permukaan dan tingkat kebisingan semakin menurun. Proses pengerjaan down-milling menghasilkan nilai kekasaran dan tingkat kebisingan yang lebih rendah dari up-milling. Proses pemotongan dengan menggunakan pisau dengan sudut helix 60o dan proses pengerjaan down-milling menunjukkan Nilai Ra dan kebisingan terkecil. Hasil pengamatan aliran chip memperlihatkan bahwa semakin besar sudut helix, kecepatan aliran chip semakin menurun dan area persebaran chip semakin kecil. Proses pengerjaan up-milling menghasilkan area penyebaran chip yag lebih luas daripada down-milling. Proses up-milling menghasilkan chip berbentuk granule lebih banyak, sedangkan proses down-milling menghasilkan chip yang berbentuk spiral
    corecore