124 research outputs found
Context management and situation reasoning for ubiquitous applications in mobile peer-to-peer environments
Recent advances in mobile computing, networking and sensing technologies have enabled mobile devices to become a major development platform for various applications, such as disaster prevention, environmental monitoring and intelligent transportation systems. These devices can be programmed to individually sense and capture context information and develop situation awareness. Mobile devices typically have limited capacity in terms of processing and sensing capabilities. Thus, to gain a better understanding of their surrounding situations, co-located mobile devices can jointly establish a mobile peer-to-peer (MP2P) environment and share captured context information. However, available context information may be uncertain, ambiguous, obsolete or even irrelevant. These issues can influence the reliability of the produced context information used for situation reasoning and/or adaptation criteria. This dissertation proposes, develops and validates a novel distributed middleware framework for context management and situation reasoning for ubiquitous applications in MP2P environments. The first contribution of this dissertation is our theoretical model termed CoMoS (Context Mobile Spaces), which is an approach to represent context and situations for ubiquitous applications in MP2P environments. Our second contribution is the formulation, development and validation of a theoretical approach to estimate the reliability of context information captured in MP2P environments. A data fusion technique based on Dempster-Shafer theory is integrated into the proposed context and situation model as the basis for situation reasoning using the captured context information. Our third contribution is the design, implementation and validation of DiFraCSi2 (Distributed Framework for Context Management and Situation Reasoning for Ubiquitous Applications in MP2P environments) middleware. This middleware implements the proposed concepts, models and algorithms of CoMoS. To minimise processing overheads, an event-based strategy to control the related processes is also developed and validated. We evaluate the contributions of the proposed theoretical model and framework through extensive experimental studies. The high accuracy of the situation recognition rate when using the DiFraCSi2 middleware in different situation scenarios highlights the significance of this research project’s contribution in providing situation-reasoning services. Performance of the proposed middleware functionality is also reported and analysed. The experimental results highlight the feasibility, significance and usability of DiFraCSi2 middleware in managing context and reasoning services. Thus, the research work presented in this dissertation takes a step forward in enabling reliable context management and situation reasoning for ubiquitous applications in MP2P environments. The results of this research project have been published in five peer-reviewed international conference papers, one technical report and one journal article submitted for review
Perancangan Dan Pembuatan Perangkat Lunak Untuk Segmentasi Citra Dengan Transformasi Watershed
Proses pengelompokan data sering dilakukan dalam analisis data. Dengan
mengelompokkan data berdasarkan kriteria keseragaman tertentu, maka analisis
data akan dapat dilakukan dengan relatif lebih mudah. Demikian pula untuk data
citra.
Segmentasi citra adalah proses pembagian citra kedalam bagian-bagian
ataupun kelompok-kelompok yang disebut obyek berdasarkan suatu kriteria
keseragaman tertentu. Segrnentasi adalah salah satu komponen terpenting dalam
analisis citra secara otomatis, karena obyek-obyek yang terdapat dalam citra akan
digunakan sebagai acuan untuk pengolahan data yang lebih lanjut seperti deskripsi
dan interprestasi citra ataupun pengenalan pola.
Transformasi watershed memandang citra sebagai sebuah relief topografi
dimana intensitas setiap pixel merepresentasikan ketinggian topografinya. Dalam
sebuah permukaan topografi, apabila air hujan jatuh diatasnya, sesuai dengan
hukum gravitasi maka air tersebut akan mengalir melewati jalur yang lebih rendah
sampai ia mencapai ketinggian yang paling rendah atau minima dimana ia tidak
dapat mengalir kemana-mana lagi.
Himpunan titik-titik pada permukaan topografi citra dimana aliran air
yang melewatinya menuju ke minima tertentu yang sama, menjadi sebuah
catchment bas in ( cekungan yang terisi air) yang berasosiasi dengan minima
tersebut dan membentuk sebuah region citra.
Watershed terbentuk dilokasi dimana air dari kedua catchment basin yang
berdekatan bertemu dan merupakan batas dari dua buah catchment basin tersebut.
Keseluruhan watershed yang terbentuk menghasilkan seluruh kontur tertutup
yang ada pada citra dan merepresentasikan obyek-obyek dalam citra yang telah
tersegrnentasi
PENGEMBANGAN PENCEGAHAN SERANGAN DISTRIBUTED DENIAL OF SERVICE (DDOS) PADA SUMBER DAYA JARINGAN DENGAN INTEGRASI NETWORK BEHAVIOR ANALYSIS DAN CLIENT PUZZLE
Denial of Service (DoS) merupakan permasalahan keamanan jaringan yang sampai saat ini terus berkembang secara dinamis. Semakin tinggi kemampuan komputasi suatu komputer penyerang, serangan DoS yang dapat dihasilkan juga semakin membahayakan. Serangan ini dapat mengakibatkan ketidakmampuan server untuk melayani service request yang sah. Karena itu serangan DoS sangat merugikan dan perlu diberikan pencegahan yang efektif. Ancaman berikutnya yang juga sangat membahayakan adalah Distributed Denial of Service (DDoS), dimana serangan ini memanfaatkan sejumlah besar komputer untuk menjalankan serangan DoS kepada server, web service, atau sumber daya jaringan lain. Mengingat resiko besar yang diakibatkan serangan DDoS ini, banyak peneliti yang terdorong untuk merancang mekanisme penga-manan sumber daya jaringan.
Pada penelitian ini, penulis mengkhususkan pokok permasalahan pada pengamanan web service. Penulis mengemuka-kan sebuah mekanisme untuk mengamankan web service dengan cara melakukan filtrasi dan validasi permintaan yang diterima untuk mengakses sumber daya jaringan. Filtrasi dan validasi ini dilakukan dengan gabungan metode Network Behavior Analysis (NBA) dan Client Puzzle (CP). Metode NBA menjadi lapisan pertahanan pertama untuk mendeteksi apakah sedang terjadi serangan DDoS dengan mengukur tingkat kepadatan jaringan/Network density. Dari metode NBA, didapatkan IP Address yang perlu divalidasi dengan metode CP sebagai lapisan pertahanan kedua. Apabila suatu service request sudah berhasil melewati proses filtrasi dan validasi ini, maka service request ini baru akan dilayani.
Dari hasil percobaan, terbukti metode ini dapat mendeteksi serangan DDoS sekaligus menjamin bahwa service request yang sah mendapat pelayanan yang seharusnya sehingga server dapat melayani service request dengan baik
EKSPLORASI DAN IMPLEMENTASI UNIFIED APPROACH DALAM PERANCANGAN SISTEM INFORMASI : STUDI KASUS SISTEM RESERVASI HOTEL
Perancangan perangkat lunak merupakan tahapan yang penting di dalam rekayasa perangkat lunak. Pemilihan perangkat perancangan yang dapat membantu memodelkan perangkat lunak menentukan kemudahan spesifikasi, implementasi, visualisasi, pengujian, dan dokumentasi perangkat lunak. UML, Unified Modelling Language sebagai Bahasa Pemodelan Terpadu mempunyai perangkat untuk memodelkan perangkat lunak memvisualisasikan use case, statis, dan perilaku perangkat lunak di dalam sistem. Penggunaan UML di dalam perancangan sistem informasi berbeda dengan penggunaan UML di dalam perangkat Lunak Waktu Nyata (Realtime). Pendekatan Unified adalah salah satu panduan yang digunakan untuk perancangan perangkat lunak dengan menggunakan UML. Kata kunci: UML, pendekatan unified, reservasi hotel
EFISIENSI TRACKING MULTI TARGET DENGAN MODEL INTERAKSI PUBLISH-SUBSCRIBE ADAPTIF PADA LINGKUNGAN BERGERAK
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi mempengaruhi cara orang berinteraksi dengan obyek yang terkait dengan dirinya. Salah satu proses interaksi yang dibutuhkan dalam lingkungan bergerak adalah proses tracking. Secara umum, proses tracking adalah proses mengamati orang atau benda yang bergerak secara kontinyu dimana obyek-obyek yang diamati terus dimonitor baik posisi maupun aktifitasnya. Proses tracking yang ideal dapat mengirimkan perubahan lokasi secara terus-menerus dalam kondisi yang berubah-ubah. Namun demikian sistem tracking seperti ini umumnya kurang efisien karena dapat menghabiskan resource baik daya maupun kebutuhan bandwidth jaringan sehingga membutuhkan proses yang lebih efisien. Sistem tracking tradisional kurang efisien untuk dikembangkan menjadi infrastruktur tracking multi target pada perangkat bergerak dimana baik pengamat ataupun obyek yang diamati lebih dari satu. Dibutuhkan mekanisme komunikasi yang loosely coupled. Publish-subscribe memiliki kelebihan decoupling yang dapat dikomposisikan menjadi tiga dimensi: waktu, ruang dan sinkronisasi. Interaksi seperti ini, menjadikan sistem publish-subscribe ideal dalam komunikasi skala besar yang dinamis. Efisiensi lain dapat dilakukan dengan melakukan tracking secara adaptif dan bersifat context awareness
A CHANGE DETECTION AND RESOURCE-AWARE DATA SENSING APPROACHES FOR IMPROVING THE REPORTING PROTOCOL MECHANISM FOR MOBILE USER
Update mechanism is an important process that relays information to the end-user by sending the data from the client to the server. There are several kinds of update mechanism that are used, one of them is reporting protocol. Reporting protocol sends the data from the client to the server continuously in a certain time interval. Reporting protocol occasionally sends the same information repeatedly to the end-user and sometimes the data aren’t needed by the end-user. This is an issue, because it can cause a large amount of bandwidth usage. In this research, we have developed an improvement of the reporting protocol mechanism for mobile user using change detection and resource-aware data sensing to minimize the bandwidth and resource usage. The improvement of reporting protocol that is implemented reduces frequency of data transfer with the prediction of the changes in user activity and position. The prediction is used as a trigger when the data is about to be sent. The results have shown that the adaptive reporting protocol could improve the performance of the overall reporting protocol. This is shown by the improvement of the bandwidth efficiency up to 36-97%, memory efficiency at 1.5-6% and battery efficiency at 7-13%
Peningkatan Network Lifetime Pada Wireless Sensor Network Menggunakan Clustered Shortest Geopath Routing (C-SGP) Protocol
Abstrak
Jaringan sensor nirkabel atau wireless sensor network adalah sebuah jaringan yang terdiri dari banyak sensor node, yang berfungsi untuk memindai fenomena tertentu di sekitarnya. Masing-masing sensor node pada umumnya memiliki sumber daya energi berupa baterai, yang memiliki kapasitas terbatas, sehingga diperlukan sebuah teknik untuk meningkatkan network lifetime pada wireless sensor network. Pada penelitian ini, protokol routing Shortest Geopath (SGP) dikembangkan menjadi sebuah protokol routing berbasis cluster, dengan membagi jaringan menjadi beberapa cluster yang masing-masing memiliki cluster head. Pembentukan cluster dilakukan dengan menggunakan informasi geografis area jaringan untuk membentuk cluster berupa segi enam (hexagon). Penentuan cluster head dilakukan dengan mencari node yang memiliki posisi geografis paling dekat dengan titik tengah area cluster. Pengiriman data dilakukan dengan sistem adaptif, dimana data dengan prioritas rendah dikirim setelah mencapai jumlah data tertentu, dan dikirim setelah melalui proses rata-rata sehingga hanya menghasilkan satu data untuk dikirim. Data dengan prioritas tinggi, dikirim langsung menuju sink. Hasil simulasi menunjukkan peningkatan network lifetime hingga 25,68% jika dibandingkan dengan protokol routing Shortest Geopath yang tidak melalui proses clustering.
Kata kunci: Network Lifetime, clustering, Shortest Geopath Routing, Wireless Sensor Network
Abstract
Wireless sensor network is a type of network consisting many sensor nodes. Each sensor node has a limited battery capcity, which most of the time, cannot be recharged. Thus, researches on extending network lifetime of wireless sensor networks are indispensable. This research proposed a cluster-based routing protocol, which adds clustering phase to the Shortest Geopath Routing (SGP) protocol. Cluster formation is done by forming imaginary hexagons using geographical informations about the network. Node which is nearest to the center point of the hexagon is appointed to be cluster head. Data transmissions are controlled by an adaptive mechanism. Low priority datas are only sent after the responsible node already obtained a specified number of datas. The datas, then, are being averaged and wrapped into a single data to be sent to the sink. Very high priority datas are, however, directly sent to the sink without passing the averaging process. It reduces the number of transmissions, which eventually help extending the network lifetime together with the clustering mechanism. Simulation results showed that the proposed protocol increases network lifetime up to 25.68% compared to the original un-clustered Shortest Geopath Routing protocol.
Keywords: Network Lifetime, clustering, Shortest Geopath Routing, Wireless Sensor Networ
PENGUJIAN PERANGKAT LUNAK DENGAN MENGGUNAKAN MODEL BEHAVIOUR UML
Pengujian perangkat lunak merupakan tahap keempat pada pengembangan perangkat lunak. Pengujian perangkat lunak dilakukan untuk mencari kesalahan perangkat lunak yang dikembangkan. Tahap analisis, desain dan implementasi perangkat lunak tidak menjamin bahwa perangkat lunak bebas kesalahan (fault free). Untuk mengurangi atau menghilangkan kesalahan pada perangkat lunak diperlukan suatu tahap pengujian untuk menemukan kesalahan-kesalahan yang ada pada perangkat lunak. UML, Unified Modelling Language sebagai Bahasa Pemodelan Terpadu mempunyai perangkat untuk memodelkan perangkat lunak memvisualisasikan use case, statis, dan perilaku perangkat lunak di dalam sistem. Pengujian perangkat lunak dengan menggunakan model behaviour UML dapat mengetahui kualitas perangkat lunak dalam sistem yang sedang dibangun.Kata Kunci: UML, pengujian, Behaviou
PEMILIHAN DAN MIGRASI VM MENGGUNAKAN MCDM UNTUK PENINGKATAN KINERJA LAYANAN PADA CLOUD COMPUTING
Komputasi awan atau cloud computing merupakan lingkungan yang heterogen dan terdistribusi, tersusun atas gugusan jaringan server dengan berbagai kapasitas sumber daya komputasi yang berbeda-beda guna menopang model layanan yang ada di atasnya. Virtual machine (VM) dijadikan sebagai representasi dari ketersediaan sumber daya komputasi dinamis yang dapat dialokasikan dan direalokasikan sesuai dengan permintaan. Mekanisme live migration VM di antara server fisik yang terdapat di dalam data center cloud digunakan untuk mencapai konsolidasi dan memaksimalkan utilisasi VM. Pada prosedur konsoidasi vm, pemilihan dan penempatan VM sering kali menggunakan kriteria tunggal dan statis. Dalam penelitian ini diusulkan pemilihan dan penempatan VM menggunakan multi-criteria decision making (MCDM) pada prosedur konsolidasi VM dinamis di lingkungan cloud data center guna meningkatkan layanan cloud computing. Pendekatan praktis digunakan dalam mengembangkan lingkungan cloud computing berbasis OpenStack Cloud dengan mengintegrasikan VM selection dan VM Placement pada prosedur konsolidasi VM menggunakan OpenStack-Neat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pemilihan dan penempatan VM melalui live migration mampu menggantikan kerugian yang disebabkan oleh down-times sebesar 11,994 detik dari waktu responnya. Peningkatan response times terjadi sebesar 6 ms ketika terjadi proses live migration VM dari host asal ke host tujuan. Response times rata-rata setiap vm yang tersebar pada compute node setelah terjadi proses live migration sebesar 67 ms yang menunjukkan keseimbangan beban pada sistem cloud computing
Metode Deteksi Terputusnya Koneksi Tcp Pada Receiving Host Berdasarkan Packet Inter-Arrival Timeout
Abstract. Novel Method to Detect Failed TCP Connection on Receiving Host Based on Packet Inter-arrival Timeout. TCP use retransmission timeout (RTO) as a standard mechanism to detect connection failure. Nevertheless, RTO can only be used by the sending host, and not by the receiving host. Until today there is no standardized mechanism for the receiving host to detect connection failure. Meanwhile a study on internet traffic shows that majority of internet traffic is unidirectional. This means the receiving host in majority of internet traffic does not have a standardized method to detect connection failure. This paper propose a novel method to detect failed TCP connection based on history of packet inter-arrival time. Simulation using NS2 shows the effectiveness of the proposed method.Keywords: Failed TCP connection detection, receiving host, packet inter-arrival timeoutAbstrak. TCP menggunakan retransmission timeout (RTO) sebagai mekanisme standar untuk mendeteksi terputusnya koneksi. Namun RTO hanya dapat dimanfaatkan pihak pengirim data (sending host), sedangkan pihak penerima data (receiving host) tidak memiliki mekanisme untuk mendeteksi terputusnya koneksi. Sementara itu sebuah studi menunjukkan bahwa sebagian besar traffic internet bersifat satu arah. Ini berarti pihak penerima data pada sebagian besar traffic internet tidak memiliki metode yang terstandarisasi untuk mendeteksi terputusnya koneksi. Penelitian ini mengajukan sebuah metode baru bagi receiving host untuk mendeteksi terputusnya koneksi TCP berdasarkan jeda waktu antar paket data (packet inter-arrival timeout) yang diterima. Simulasi menggunakan NS2 menunjukkan efektivitas metode yang diajukan.Kata Kunci: Deteksi terputusnya koneksi TCP, receiving host, packet inter-arrival timeoutÂ
- …
