58 research outputs found

    ANALISIS SISTEM BUDIDAYA UNTUK MENDUKUNG KEBIJAKAN KEBERLANJUTAN PRODUKSI UDANG

    Get PDF
    Volume ekspor udang Indonesia masih tergolong fluktuatif, namun komoditas udang tetap menjadi salah satu komoditas andalan ekspor perikanan Indonesia yang meliputi 40% hasil ekspor perikanan. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menggambarkan status keberlanjutan sistem budidaya udang dan merumuskan opsi rekomendasi kebijakannya. Analisis secara deskriptif dan analisis ordinasi Rap-SISDITA yang berbasis metode dimensional scalling digunakan untuk mengevaluasi keberlanjutan beberapa sistem budidaya udang vaname yang berkembang di masyarakat. Hasil analisis menunjukkan bahwa: 1). Dalam mendukung Inpres Nomor 7 tahun 2016 tentang percepatan industrialisasi perikanan, maka sub sektor budidaya perlu mengimplementasikan hasil penelitian untuk mendukung keberlanjutan produksi udang vaname. Dimensi yang perlu diperhatikan adalah kebijakan pemerintah, teknologi budidaya, dan nilai ekonomi; 2). Membentuk program budidaya udang vaname berkelanjutan dan ramah lingkungan. Hal itu bisa dicapai melalui regulasi dengan penerapan model teknologi budidaya udang vaname yang ideal, berbasis lingkungan yang sehat, teknologi tepat guna, dan berorientasi pasar. Kebijakan pemerintah perlu berfokus pada pemberdayaan petambak pada berbagai sistem budidaya dengan dimensi pendukungnya yang tepat. Regulasi ini dapat ditetapkan oleh pihak Pemerintah beserta Pemerintah Daerah; 3). Pemanfaatan sentra budidaya udang vaname secara terintegrasi melalui diseminasi teknologi yang menjangkau daerah-daerah yang berpotensi untuk budidaya udang vaname dan melalui multimedia yang lebih luas; 4). Pemerintah Pusat menugaskan lembaga penelitian, perguruan tinggi, penyuluh perikanan, produsen benih, pengusaha pakan, dan kelompok pembudidaya untuk mengambil langkah persiapan hingga pelaksanaan program.  Indonesian shrimp export volume is fluctuating, yet the shrimp commodities remains main commodity of Indonesian export which covers 40% of export proceeds fishery. This research aims to to describe the sustainability status of shrimp aquaculture system and to formulate management options. A descriptive analysis and Rap-SISDITA ordination analysis based on dimensional scaling method were used to evaluate the sustainability of vaname shrimp farming systems. The results show that: 1). In support of Presidential Instruction No. 7 in 2016 on the acceleration of the industrialization of fisheries, aquaculture sub-sector, research urgently needed to support the sustainability of vaname shrimp production. A public policy should focus on aquaculture technology, and economic value; 2). A program of shrimp farming should be built in a sustainable and ecofriendly. This can be achieved through applying regulation with ideal technology for vaname shrimp farming, based on a healthy environment, appropriate technology, and market-oriented. A public policy should focus on empowering farmers on various farming systems with the exact dimensions. This regulation can be determined by the Central Government and Local Government; 3). Optimizing the vaname shrimp farming centers are integrated through the dissemination of technologies that reach potential areas for vaname shrimp cultivation through effective communication media; 4). A Central Government should asked research institutes, universities, fisheries extension institutions, seed producers, feed businesses, and farmer groups to arrange doable action plan to implement the program

    SISTEM PEMULIAAN BERBASIS PEMBUDIDAYA (COOPERATIF BREEDING SYSTEM ): STRATEGI PEMULIAAN IKAN TEPAT GUNA

    Get PDF
    Pemuliaan berbasis pembudidaya memerlukan integrasi program dan pelaksanaan yang sinergis antar semua stakeholder. Pemikiran, pencurahan waktu, dan upaya bersama antar sesama pembudidaya (user), pemulia (breeder), dan pemerintah dalam konteks pemuliaan berbasis pembudidaya dapat mengatasinya. Program yang seksama, manajemen yang konsisten, dan pemahaman lingkungan yang cermat akan memberikan hasil yang menguntungkan. Dengan ikan unggul, pakan yang memadai, dan lingkungan optimal, pembudidaya bisa memperoleh keuntungan maksimal. Dewasa ini kenyataan menunjukkan bahwa penggunaan benih varietas unggul bermutu oleh kalangan pembudidaya skala besar dan kecil, ternyata pada umumnya masih rendah untuk semua jenis ikan. Perkecualian terdapat antara lain pada usaha perikanan swasta yang bergerak pada ikan salmon dan nila. Benih varietas unggul bermutu untuk banyak komoditi, bahkan masih mengimpor, dan menghabiskan devisa cukup besar. Selain menghabiskan devisa, impor jenis hanya akan menguntungkan bagi negara pengekspor jenis tersebut. Rendahnya tingkat penggunaan benih varietas unggul dan bermutu untuk segala macam komoditi pertanian termasuk perikanan sesungguhnya membuka peluang bagi industri perbenihan dalam negeri, baik yang masih dalam taraf penangkar, maupun industri benih yang sudah mampu membuat varietas unggul baru sendiri. Selama ini hampir semua varietas unggul baru dari berbagai komoditi, dihasilkan oleh kelembagaan penelitian pemerintah dan perguruan tinggi

    Pembenihan Udang Galah.

    No full text
    Dewasa ini udang galah semakin naik pamornya hal ini terlihat dengan adanya kecenderungan meningkatnya harga udang galah di pasaran internasional. Di negara Jepang dan beberapa negara Eropa Amerika udang galah banyak disukai oleh masyarakat.110 hlm; 15 x 21 C

    Konservasi Ikan Endemik Rono, Xenopoecilus Oophorus, Kottelat 1990 Di Danau Poso, Sulawesi Tengah

    No full text
    Pulau Sulawesi secara geografis berada di tengah kepulauan Nusantara dan merupakan jantung kawasan Wallacea. Persis di tengah-tengah pulau ini ditemu-kan sebuah danau yakni Danau Poso. Danau Poso merupakan salah satu dari dua danau purba Asia Tenggara. Danau ini merupakan danau oligotrofik yang kaya biota bersifat endemik, termasuk jenis-jenis ikan. Persebaran ikan Xenopoecilus spp.terbatas di dunia, tiga spesies anggota genus ini semuanya ditemukan di da-nau yang berada di Sulawesi Tengah. Dua spesies di antaranya hanya ditemukan di Danau Poso yaitu, Xenopoecilus poptae, Xenopoecilus oophorus. Xenopoecilus oophorus yang dikenal dengan nama lokal ikan rono, meru-pakan salah satu spesies yang populasinya masih banyak dijumpai di Danau Poso saat ini. IUCN mencatat ikan ini dalam Red List of Threatened Species, dengan status konservasi terancam punah. Ikan rono ditangkap nelayan menggunakan alat tangkap bagan perahu tradisional yang selektivitasnya sangat rendah sehingga mengancam keberadaan spesies ikan ini di Danau Poso. Untuk memperkecil ancaman kepunahan spesies ikan rono diperlukan se-buah konsep konservasi spesies. Upaya konservasi dengan strategi yang tepat diharapkan menjaga keberadaan sumber daya ikan ini akan tetap berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam aspek biologi reproduksi ikan rono dan keterkaitannya dengan lingkungan perairan di Danau Poso, serta untuk menyusun suatu strategi konservasi ikan ini. Kajian tersebut meliputi: 1) dimorfisme seksual; 2) hubungan panjang bobot dan faktor kondisi; 3) kematangan gonad; 4) lama pengeraman telur oleh induk betina; dan 5) habitat. Penelitian dilakukan di Danau Poso Sulawesi Tengah. Secara keseluruhan alokasi waktu kegiatan dilakukan 16 bulan yaitu penelitian pendahuluan mulai Oktober 2011 – Februari 2012. Penelitian utama dimulai bulan Agustus 2012 – Juli 2013. Pengumpulan data laboratorium dilakukan di Laboratorium Biologi Makro/Biologi Mikro Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan FPIK, Labo-ratorium Histopatologi FKH IPB, dan Laboratorium Biologi FMIPA Universitas Tadulako Sulawesi Tengah. Ikan rono memiliki dimorfisme seksual yaitu ikan betina memiliki ukuran sirip perut yang lebih panjang daripada ikan jantan. Sirip perut ikan rono betina lebih panjang yang berfungsi sebagai tempat untuk mengerami sekumpulan telurnya sampai menetas. Ikan ini memiliki ovarium tunggal berbentuk kantung oval. Ukuran ovarium terbesar memiliki panjang sekitar 5 mm dan lebar 3 mm dengan posisi lateral di bawah rongga perut. Ovarium ikan rono memiliki oosit dengan semua fase perkembangan, digolongkan ke dalam tipe ovarium yang perkembangan oositnya tak sinkron. Panjang ikan jantan maupun ikan betina berkisar antara 41 sampai 86 mm, bobot berkisar antara 0,46 sampai 6,14 g. Diketahui persamaan hubungan panjang bobot ikan jantan dan betina berturut-turut W = 6 x 10-6L3,074dan W = 8x 10-6L3,011. Pola pertumbuhan ikan rono jantan maupun betina bersifat isometrik. Nilai rata- rata faktor kondisi ikan jantan dan betina berturut-turut 0,936 ±0,127 dan 0,973 ±0,103. Ikan rono memiliki waktu reproduksi yang panjang terjadi selama musim hujan. Pada periode reproduksi didapati empat puncak waktu pemijahan yakni bulan November, Januari, Februari dan April. Fekunditas total ikan rono berkisar 33 -135 butir per individu. Gugus fekunditas tertinggi ikan rono 36 butir per individu. Berdasarkan analisis sebaran ukuran diameter oosit diketahui tipe pemi-jahan ikan rono adalah pemijah berulang. Hubungan gugus fekunditas dengan bobot tubuh tanpa gonad berkorelasi kuat (r = 0,78) menunjukkan bobot tubuh tanpa gonad dapat digunakan sebagai penduga gugus fekunditasnya. Masa penge-raman telur oleh induk betina diperkirakan berlangsung selama empat sampai lima hari. Larva yang dihasilkan tidak mengalami fase planktonik. Ikan rono merupakan ikan permukaan berukuran kecil, ditemukan hidup di perairan terbuka pada kedalaman lima sampai tujuh meter. Kondisi perairan ini memiliki perairan dangkal yang sempit dengan substrat berbatuan masif, dengan lereng dasar yang curam diikuti kedalaman yang meningkat drastis (pinggiran tubir). Strategi konservasi ikan endemik rono dilakukan dengan cara, melakukan perlindungan badan air danau dari introduksi spesies ikan asing, pengendalian se-dimentasi perairan, dan pengaturan alat tangkap serta musim penangkapan ikan ini di Danau Poso

    KORELASI PADAT TEBAR DAN DEBIT AIR DALAM TEKNIK PENDEDERAN BENIH UDANG GALAH (Macrobrachium rosenbergii) SECARA INTENSIF

    No full text
    Riset ini dilaksanakan untuk mengetahui korelasi antara padat tebar dan debit air dalam teknik pendederan udang galah. Riset dilakukan dengan menggunakan bak ukuran 4 m x 2 m x 0,75 m yang mempunyai sistem air mengalir. Perlakuan yang diaplikasikan adalah padat tebar dalam tiga tingkatan yaitu 250, 500, dan 750 ekor/m2 yang dikombinasikan dengan tiga tingkat debit air yaitu 0,010; 0,020; dan 0,030 liter/detik/m2. Setiap perlakuan dilakukan dengan 3 ulangan. Udang galah dalam penelitian ini adalah PL-44 dengan ukuran 0,04 g. Pendederan udang galah dilaksanakan selama 40 hari. Hasil riset menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara variabel padat tebar dan debit air. Variabel debit air memberikan kontribusi sebesar 57% dan variabel padat tebar mempunyai kontribusi 18% dalam mendukung sintasan benih udang galah. Hasil terbaik dicapai oleh perlakuan padat tebar 500 ekor/m2 dan debit air 0,030 liter/detik/m2 dengan laju pertumbuhan harian udang mencapai rata-rata 2,84% dan sintasan sebesar 89,6% selama 40 hari masa pemeliharaan.The research aim was to evaluate the correlation between fry density and water flow rate in the nursery of giant prawn. The experiment was conducted in concrete tanks. The treatment consisted of three levels, 250, 500, and 750 fry/m2 and combination of three levels of water flow, i.e. 0.010, 0.020, and 0.030 litre/second/m2. Three replications were used in each treatments. The prawn fry were PL-14 with 0.04 g of average weight. The research was conducted for 40 days of post-larvae rearing. Result of this experiment showed that there was interaction between density and water flow. The data analysis indicated that there were 57% contribution of water flow and 18% of fry density to survival rate of giant prawn. The best result was showed by the density of 500 fry/m2 and water flow of 0.030 litre/second/m2. The specimen have specific growth rate of 2.84% and survival rate of 89.6% for 40 days of rearing
    corecore