670 research outputs found

    Peran Kalsium dalam Mengatasi Cemaran Getah Kuning pada Buah Manggis (Garcinia mangostana L.)

    No full text
    Peran Kalsium dalam Mengatasi Cemaran Getah Kuning pada Buah Manggis (Garcinia mangostana L.). Dibimbing oleh Roedhy Poerwanto, Darda Efendi dan Ade Wachjar. Cemaran getah kuning menjadi salah satu masalah utama dalam produksi buah manggis. Cemaran getah kuning pada buah manggis akan mempengaruhi tampilan dan rasa buah manggis. Cemaran getah kuning terjadi saat getah ini keluar dari salurannya yang pecah dan mengotori aril (daging buah) atau kulit buah manggis. Pecahnya saluran getah terjadi karena sel-sel epitel penyusun saluran getah kuning mendapat tekanan. Dinding sel yang lemah dan mudah pecah diduga akibat dinding sel-sel epital saluran getah kuning kekurangan kalsium. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari: (1) sumber dan dosis kalsium, (2) boron, (3) waktu aplikasi kalsium berdasarkan stadia pertumbuhan dan perkembangan buah, (4) aplikasi LRB, terhadap penurunan cemaran getah kuning pada buah manggis, (5) mendapatkan teknik optimasi serapan dan tranlokasi kalsium ke jaringan buah terbaik terhadap penurunan cemaran getah kuning pada buah manggis, serta (6) mendapatkan Model hubungan jaringan xylem pada pedisel dan tingkat pertumbuhan akar muda tanaman manggis. Penelitian dilakukan di kebun manggis Kelompok Tani Manggis Karya Mekar, di Kampung Cengal, Desa Karacak, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Lokasi penelitian terletak pada ketinggian 390-398 m di atas permukaan laut (dpl). Penelitian berlangsung selama 36 bulan sejak persiapan hingga pangambilan data, yaitu dimulai pada bulan Maret 2011 hingga April 2014. Pengukuran fisik buah dilaksanakan di Laboratorium Pasca Panen IPB. Foto morfologi jaringan batang, tangkai buah dan kulit buah di Laboratorium Mikroteknik, IPB. Analisis kalsium kulit buah dilakukan di Laboratorium Tanah, Balai Penelitian Tanah, Bogor. Penelitian ini terdiri atas tiga percobaan yang terpisah, yaitu (1) Aplikasi Kalsium dan Boron untuk Mengatasi Cemaran Getah Kuning pada Buah Manggis (Garcinia mangostana), (2) Aplikasi Kalsium Berdasarkan Stadia Pertumbuhan Buah untuk Mengatasi Cemaran Getah Kuning pada Buah Manggis (Garcinia mangostana), dan (3) Aplikasi Kalsium dan Teknologi lubang resapan biopori untuk Mengatasi Cemaran Getah Kuning pada Buah Manggis (Garcinia mangostana). Masing-masing percobaan dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), dengan tiga ulangan. Aplikasi kalsium dan boron terbukti mampu menurunkan persentase buah tercemar dan skor cemaran getah kuning pada aril dan kulit buah, baik pada tahun pertama maupun pada tahun kedua percobaan. Boron memiliki fungsi yang sama didalam meningkatkan kekuatan dinding sel seperti halnya kalsium. Oleh karena itu dalam kombinasi aplikasi kalsium + boron, unsur boron akan mendukung fungsi dari kalsium dalam peningkatan kekuatan dinding sel-sel epitel sel saluran getah kuning. Peningkatan kekuatan dinding sel-sel epitel akan mengurangi resiko pecahnya saluran getah kuning dan menurunkan persentase buah tercemar dan skor cemaran getah kuning di buah manggis. iii Pada tahun kedua percobaan, kombinasi kalsium dan boron pada saat antesis + 1 minggu setelah antesis (MSA) menurunkan persentase buah tercemar getah kuning pada aril menjadi 42.33 %, sedangkan kombinasi kalsium dan boron pada saat antesis + 4 MSA masih menunjukkan persentase di atas 45 %. Perlakuan pemberian kalsium pada saat antesis menurunkan persentase buah tercemar pada kulit hingga 50% dibandingkan tanpa aplikasi kalsium (kontrol) yang menghasilkan 100% buah tercemar getah kuning pada kulit. Sedangkan aplikasi kalsium pada saat 1 MSA menurunkan persentase buah tercemar getah kuning pada aril menjadi sebesar 30%, adapun kontrol sebesar 56.7%. Penurunan persentase cemaran berkaitan dengan peningkatan kandungan kalsium total di pericarp buah. Peningkatan kandungan kalsium di pericarp tertinggi didapatkan pada perlakuan aplikasi kalsium pada saat antesis yaitu sebesar 0.75 % bobot kering. Stadia I menjadi waktu kritis kebutuhan kalsium dalam pertumbuhan dan perkembangan buah manggis. Dalam penelitian ini dikembangkan sebuah model terkait dengan serapan kalsium oleh akar dan transloksi kalsium ke buah melalui xylem. Akar-akar muda sebagai jalur serapan kalsium akan mulai terbentuk pada saat antesis sampai dengan 4 MSA. Tingkat pertumbuhan akar muda yang hanya optimal dalam jangka waktu singkat menyebabkan aplikasi kalsium harus dilakukan pada saat yang tepat. Aplikasi kalsium pada saat yang tidak tepat menyebabkan kalsium tidak dapat diserap dan ditranlokasikan ke jaringan buah. Pada tahun pertama, aplikasi teknologi lubang resapan biopori (LRB) tidak menunjukkan penurunan cemaran getah kuning baik pada persentase buah tercemar pada aril dan kulit, maupun skor getah kuning pada aril dan kulit buah, kecuali persentase juring tercemar. Pengaruh LRB baru terlihat pada tahun kedua percobaan. Aplikasi LRB pada tanaman manggis terbukti mampu menurunkan persentase buah tercemar pada aril/pohon, kulit buah/pohon dan juring/buah manggis masing-masing menjadi 38%, 50% dan 27%, dibandingkan pada kontrol yang masih sebesar 47%, 64% dan 28%. Aplikasi LRB selama 3 tahun peningkatan panjang akar yang lebih besar dibandingkan tanaman manggis tanpa aplikasi LRB. Aplikasi LRB meningkatkan panjang akar nampak mencapai 33.44 m/m2 tanah dan panjang akar total mencapai 117.33 m/m3, sedangkan tanpa aplikasi LRB menghasilkan panjang akar tampak hanya sebesar 7.56 m/m2 dan panjang akar total sebesar 61.47 m/m3 Hasil percobaan menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh dari setiap percobaan terhadap seluruh peubah kualitas buah manggis yang diamati diantaranya Bobot Buah Buah Segar, Bobot Kulit Buah Segar, Bobot Biji Segar Total, Bobot Tangkai dan Cupat Segar, Bobot Aril, Kekerasan kulit buah, Diameter transversal, Diameter Longitudinal, Tebal Kulit Buah, Edible portion, Padatan Terlarut Total, dan Asam Tertitrasi Total

    Pengelolaan Pemangkasan Teh (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) di Perkebunan Medini, PT Rumpun Sari Medini, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah

    No full text
    The internship was conducted at Medini Estate, PT Rumpun Sari Medini, Kendal, Central Java from February until June 2011. Activities performed during the internship is a field worker for one month, as assistant foreman for one month, as assistant chief of the estate for two month. The purpose of the internship is improve knowledge, gain work experience and studying the management aspects of pruning tea, both technical and managerial aspects. Pruning is maintenance activities to rejuvenate the tea plant for increase the production of shoots. Pruning activity of tea in Medini Estate, PT Rumpun Sari Medini, Central Java was good enough

    Pengelolaan Pemangkasan Tanaman Kakao (Theobroma cacao L.) di Kebun Kendeng Lembu, PTPN XII (Persero), Banyuwangi, Jawa Timur.

    No full text
    Kegiatan magang di Kebun Kendeng Lembu, PTPN XII (Persero), Banyuwangi, Jawa Timur dilakukan untuk mempelajari budidaya kakao, baik aspek teknis maupun aspek manajerial, mendapat pengalaman bekerja, dan melatih keterampilan teknis dalam pengelolaan perkebunan kakao. Selain itu, kegiatan magang bertujuan mempelajari pengelolaan pemangkasan tanaman kakao mulai dari persiapan, pelaksanaan hingga evaluasi hasil pemangkasan. Pemangkasan yang baik jika cabang yang dipangkas tidak terlalu besar (diameter kurang dari 2,5 cm), tajuk kakao tidak terlalu terbuka, dan pemangkasan dilakukan ketika tanaman kakao tidak sedang berbunga atau memiliki buah berukuran kecil. Peubah yang diamati dalam pengelolaan pemangkasan adalah keberhasilan pemangkas berdasarkan tenaga pemangkas terdiri atas jenis kelamin, usia pemangkas (< 50 tahun dan ≥ 50 tahun), dan alat pangkas terdiri atas gunting dan gergaji pangkas. Hasil analisis dengan uji t-student taraf 5% menunjukkan keberhasilan pemangkasan tidak berbeda nyata baik berdasarkan usia pemangkas, jenis kelamin, maupun alat pangkas

    Pengaruh Berbagai Konsentrasi Geer dan IAA terhadap Pertumbuhan Bibit Kopi Arabika (Coffea arabica L.).

    No full text
    Penggunaan bibit tanaman kopi yang bermutu baik dan varietas unggul dapat meningkatan produktivitas kopi. Teknologi untuk mendapatkan bibit yang bermutu baik antara lain dapat dilakukan dengan pemberian pupuk geer dan IAA selama berada di pembibitan. Penelitian ini bertujuan menentukan konsentrasi optimum pupuk geer dan zat pengatur tumbuh IAA yang dapat meningkatkan pertumbuhan bibit kopi Arabika. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei hingga September 2019 di Kebun Percobaan IPB Cikabayan, Dramaga, Bogor. Penelitian ini menggunakan 240 bibit kopi Arabika cv Ateng Super. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan dua faktor perlakuan. Faktor perlakuan pertama yaitu pupuk geer yang terdiri atas 4 taraf konsentrasi: 0 % (P0), 25 % (P1), 50 % (P2), dan 75 % (P3). Faktor perlakuan yang kedua yaitu ZPT IAA yang terdiri atas 4 taraf konsentrasi, yaitu : 0 ppm (Z0), 200 ppm (Z1), 400 ppm (Z2), dan 600 ppm (Z3). Pupuk geer hanya berpengaruh nyata terhadap jumlah daun pada 4 minggu setelah perlakuan (MSP). Konsentrasi IAA hingga 200 ppm menghasilkan diameter batang, jumlah daun, dan bobot basah tajuk nyata lebih tinggi daripada konsentrasi IAA lainnya. Tanpa pemberian IAA dan konsentrasi 200 ppm meningkatkan diameter batang 18 %, jumlah daun 29.5 %, dan bobot basah tajuk 101 % lebih besar daripada konsentrasi lainnya. Interaksi pupuk geer dan zat pengatur tumbuh IAA tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan bibit tanaman kopi Arabika

    Pengelolaan Pemangkasan Tanaman Kopi Arabika (Coffea arabica L.) di Kebun Kalisat Jampit, PT Perkebunan Nusantara XII (Persero), Bondowoso, Jawa Timur

    No full text
    Kegiatan magang bertujuan menganalisis dan mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi dalam kegiatan pemangkasan kopi. Selain itu, melatih keterampilan kerja dan menambah pengetahuan terkait budidaya kopi. Kegiatan magang telah dilaksanakan di Kebun Kalisat Jampit, PT Perkebunan Nusantara XII, Bondowoso, Jawa Timur pada bulan Januari sampai bulan Mei 2019. Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Salah satu teknik budidaya tanaman kopi yang penting adalah pemangkasan. Pengamatan dilakukan pada aspek pemangkasan yang meliputi tinggi tanaman, komposisi cabang, dan pertumbuhan tunas. Sampel tanaman diambil dari 5 blok kebun dan terdiri atas 3 tanaman per blok. Data sekunder diperoleh dari laporan manajemen perusahaan. Analisis data yang dilakukan secara deskriptif, rata-rata, dan persentase. Pemangkasan tanaman kopi yang dilakukan di Kebun Kalisat Jampit termasuk pemangkasan pemeliharaan/produksi. Komposisi cabang produktif yang merata (±33%) akan berpengaruh terhadap hasil taksasi produksi. Berdasarkan sampel yang diamati, tidak satu blok pun memiliki proporsi cabang B0, B1, dan B2 yang relatif seimbang. Cabang yang dipangkas merupakan cabang yang sudah tua, terserang penyakit, dan produksinya sudah menurun. Cabang yang sudah dipangkas akan menumbuhkan tunas-tunas produktif yang baru. Pelaksanaan pemangkasan di Afdeling Kampung Baru hampir sesuai dengan standar kebun dilihat dari tinggi tanaman kopi yang tidak lebih dari 170 cm

    Pengaruh Dosis Pupuk Majemuk NPK dan Jarak Tanam terhadap Pertumbuhan Tanaman Doyo (Curculigo latifolia Dryand).

    No full text
    Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari sebagian dari teknik budidaya tanaman doyo, yaitu diperolehnya dosis pupuk NPK dan jarak tanam terbaik bagi tanaman doyo. Penelitian pada polybag dilaksanakan di Kebun Percobaan IPB Leuwikopo dan Laboratorium Pascapanen, Dramaga, Bogor, pada bulan Agustus 2017 hingga Maret 2018. Rancangan yang digunakan adalah rancangan petak terbagi, dengan dua faktor perlakuan dan tiga ulangan. Faktor pertama yaitu jarak tanam sebagai petak utama yang terdiri atas dua taraf: 50 cm x 50 cm dan 100 cm x 100 cm. Faktor kedua yaitu dosis pupuk NPK (15-15-15) sebagai anak petak yang terdiri atas empat taraf: tanpa pupuk, pupuk NPK 5 g, pupuk NPK 10 g, dan pupuk NPK 15 g per tanaman. Pemberian dosis pupuk NPK tidak menunjukkan pengaruh yang nyata untuk semua peubah, kecuali peubah bobot basah akar. Pemberian pupuk 15 g per tanaman menghasilkan bobot basah akar terberat. Pengaturan jarak tanam menunjukkan pengaruh nyata pada peubah jumlah anakan. Pengaturan jarak tanam 50 cm x 50 cm menghasilkan lebih banyak dibandingkan jarak tanam 100 cm x 100 cm. Interaksi jarak tanam dan dosis pupuk NPK tidak berpengaruh nyata terhadap semua peubah yang diamati

    Pertumbuhan Tanaman Cengkih (Syzygium Aromaticum (L.) Merr And Perr) Belum Menghasilkan Pada Berbagai Dosis Pupuk Organik Dan Konsentrasi Hydrasil

    No full text
    Penelitian Ini Bertujuan Untuk Memperoleh Dosis Pupuk Organik Dan Konsentrasi Hydrasil Yang Optimum Untuk Pertumbuhan Tanaman Cengkih Belum Menghasilkan Yang Maksimum. Penelitian Ini Merupakan Tahun Kedua Dari Penelitian Sebelumnya. Umur Tanaman Cengkih Yang Diamati Yaitu 4.5 Tahun. Penelitian Dilakukan Di Kebun Percobaan Ipb Cikabayan, Dramaga, Bogor, Mulai Bulan Maret Sampai Bulan Agustus 2015. Rancangan Percobaan Yang Digunakan Adalah Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design) Dengan Dua Faktor Dan Empat Ulangan. Petak Utama Adalah Pemberian Hydrasil Dengan Empat Taraf Konsentrasi Yaitu 0 Ml L-1 (A1), 1.5 Ml L-1 (A2), 2.0 Ml L-1 (A3), Dan 2.5 Ml L-1 (A4), Sebagai Anak Petak Adalah Pupuk Organik Dengan Lima Taraf Dosis Yaitu 0 Kg (P1), 2.5 Kg (P2), 5 Kg (P3), 7.5 Kg (P4), Dan 10 Kg (P5) Per Tanaman. Hasil Penelitian Menunjukkan Konsentrasi Hydrasil Berpengaruh Nyata Terhadap Tinggi Tanaman Pada 16 Dan 20 Minggu Setelah Perlakuan Pertama (Mspp), Dan Diameter Batang Saat 8 Dan 16 Mspp Pada Tanaman Cengkih, Sedangkan Dosis Pupuk Organik Serta Interaksi Antara Dosis Pupuk Organik Dan Konsentrasi Hydrasil Tidak Berpengaruh Nyata Terhadap Peubah Yang Diamati

    Penggunaan Media Tumbuh Dan Jenis Wadah Alternatif Untuk Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq) Di Pembibitan

    No full text
    Penggunaan top soil sebagai media tumbuh di pembibitan perkebunan kelapa sawit perlu dipertimbangkan kembali karena volume top soil yang digunakan sangat besar. Penggunaan media tumbuh lain sebagai alternatif pengganti top soil sebaiknya mudah didapat, harganya murah, menaikkan prestasi kerja tanam serta berpengaruh positif terhadap pertumbuhan bibit, baik morfologi maupun fisiologinya. Penelitian ini bertujuan untuk mencari media tumbuh dan jenis wadah alternatif yang sesuai untuk pertumbuhan bibit kelapa sawit di pembibitan. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan IPB Cikabayan Darmaga, Bogor mulai bulan Oktober 2013 sampai Oktober 2014. Rancangan percobaan yang digunakan pada pembibitan awal adalah rancangan acak lengkap dua faktor dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah media tumbuh yang terdiri atas top soil, sub soil, kascing, arang sekam, pupuk kandang dan kompos. Faktor kedua adalah jenis wadah yang terdiri atas baby polybag, tray, potongan bambu, gelas mineral dan pelepah. Rancangan percobaan yang digunakan pada pembibitan utama adalah rancangan acak lengkap faktor tunggal dengan tiga ulangan. Perlakuan jenis media tumbuh terdiri atas (a) media standar agronomi di pembibitan, (b) top soil, (c) sub soil, (d) kascing, (e) arang sekam, (f) pupuk kandang sapi matang, dan (g) kompos. Hasil penelitian di pembibitan awal menunjukkan bahwa penggunaan berbagai jenis media tumbuh dan wadah berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan morfologi (tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, luas daun) dan fisiologi (bobot basah tajuk, bobot kering tajuk, bobot basah akar dan bobot kering akar, kehijauan daun dan kerapatan stomata) bibit kelapa sawit. Interaksi kedua faktor berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun 1 bulan setelah tanam (BST), diameter batang, kehijauan daun, dan kerapatan stomata 3 BST. Berdasarkan pertumbuhan morfologi, kombinasi perlakuan yang terbaik adalah media tumbuh kompos dengan wadah potongan bambu dan media tumbuh kompos dengan wadah gelas air mineral bekas. Hasil penelitian di pembibitan utama menunjukkan bahwa penggunaan berbagai media tumbuh berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan morfologi (tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, luas daun ketiga) dan fisiologi (bobot basah tajuk, bobot kering tajuk, dan bobot kering akar). Berdasarkan peubah morfologi, media tumbuh kompos menghasilkan pertumbuhan bibit kelapa sawit lebih baik dibandingkan media tumbuh lainnya (media standar agronomi, top soil, sub soil, arang sekam), tetapi tidak berbeda nyata dengan kascing dan pupuk kandang sapi. Media tumbuh kompos mengandung N 1.32%, P 2.26%, K 0.14%, dan kascing mengandung N 1.05%, P 2.68%, K 0.07% serta pupuk kandang sapi mengandung N 1.09%, P 1.48%, K 0.07%. Media tumbuh alternatif pengganti top soil pada pembibitan utama kelapa sawit yang dianjurkan: kompos, kascing dan pupuk kandang sapi

    Optimasi Dosis Pupuk Majemuk NPK dan Kalsium pada Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Pembibitan Utama

    No full text
    Oil palm is the main estate crop that brought Indonesia as the main producer for palm oil in the world. Palm oil both crude palm oil (CPO) and kernel palm oil (KPO) have been broadening utilized by fractionation (edible oil), margarine, cosmetics, oleo-chemical and bio-diesel industries. The productivity of oil palm could be determined by the quality of seedling both genetically and physically. The production of oil palm seedling takes about 12-14 months through pre nursery (3-4 months) and main nursery (9-11 months). Fertilizer management had been necessary for oil palm seedling growth. Therefore, the accuracy fertilizer rate would be the main key to maintain the oil palm seedling growth physically as it would have produced the maximum growth of oil palm seedling. This research was aimed to evaluate rates of NPK compound and calcium fertilizer for the growth of oil palm seedling in main nursery. Other objectives were to know the interaction effect between NPK compound and calcium fertilizer and to produce the high qualified oil palm seedling. The experiment was conducted in IPB Experimental Station, Cikabayan, Darmaga, Bogor from December 2011 to November 2012. The two factor experiment was designed in a randomized block design with three replications. The rates of NPK compound fertilizer (15-15-15) were 0, 115, 230 and 460 g seedling-1. The rates of calcium fertilizer were 0, 5, 10 and 20 g seedling-1. In general, there was no interaction effect between NPK compound and calcium fertilizer on variables observed, except on plant height 3 Months after Application (MAA). NPK compound fertilizer had the significant quadratic effect on plant height, leaf number, stem diameter and chlorophyll content. But, it had the significant linear effect on plant height 5 MAA and stem diameter 3 MAA. The calcium fertilizer had the significant linear effect only on plant height 1 MAA and other variables were not affected by calcium fertilizer. The linear effect showed that the highest rate would still increase the seedling growth. The quadratic effect showed that the seedling growth would decrease by rate higher than the optimum rate. The oil palm seedling height of NPK compound rate 230 g seedling-1 on 8 MAA attained 85.48 % up to oil palm seedling standard for 12 months since pre nursery. Stem diameter and leaf number attained 106.92% and 65.56% respectively. Based on plant height and stem diameter, recommended rate of NPK compound fertilizer 15-15-15 was in the range of 333.00 g seedling-1 for eight months. Recommended rates for each month were 7.00, 7.00, 19.45, 59.25, 66.3, 61.55, 58.97 and 54.16 g NPK seedling-1. The optimum rate of calcium was not obtained from this experiment

    Ross-Ade

    No full text
    Dave Ross (1871-1943) and George Ade (1866-1944) were trustees, distinguished alumni and benefactors of Purdue University. Their friendship began in 1922 and led to their giving land and money for the 1924 construction of Ross-Ade Stadium, now a 70,000 seat athletic landmark on the West Lafayette campus. Their life stories date to 1883 Purdue and involve their separate student experiences and eventual fame. Their lives crossed paths with U.S. First Lady Eleanor Roosevelt, Henry Ford, Amelia Earhart, and Will Rogers among others. Gifts or ideas from Ross or Ade led to creation of the Purdue Research Foundation, Purdue Airport, Ross Hills Park, and Ross Engineering Camp. They helped Purdue Theater, the Harlequin Club and more. Ade, renowned author and playwright, did butt heads with Purdue administrators at times long ago, but remains a revered figure. Ross's ingenious mechanical inventions of gears still steer millions of motorized vehicles, boats, tractors, even golf carts the world over
    corecore