1,721,005 research outputs found
Blast Resistance Test On 51 Rice Strains Against Blast Disease (Pyricularia oryzae) race 173.
As many as 51 strains rice hybrid from breeding program in Department of Agronomy and Horticulture, IPB had been already blast resistance tested by using injection method. The test rice plant with twice screening that first screening with three replicates and second screening as two replicates. First screening was begin with spore production of Pyricularia oryzae in oatmeal agar media washed once with sterile distilled water after 10 days incubation and harvested after n-UV radiation for 4 - 5 days to induce sporulation. Inoculations with Pyricularia oryzae were performed 20 days after sowing (have 4-5 leaves) by injection with spore suspension 105-106 spore/ml. The second screening must be done for tested 18 strain rice result from first screening with level resistance more than 90%. Seven strain resulted from first screening and second screening resistance level 100% are as follows: IPB107-F-5-1, IPB107-F-7-3, IPB113-F-2-2, IPB117-F-7-2, IPB140-F-2-1, IPB149-F-4, and IPB149-F-8. Identification of Pi-ta gene was carried out by Polymerase chain reaction (PCR) using two primer sets which amplified exon 1 and exon 2 region of the Pi-ta resistance gene. The result obtained in this identification shown that major blast resistance genes Pi-ta were detected in all of the strain from second screening, even the susceptible control plants (Kencana Bali). This results were different with the previous result shown Kencana Bali does not have Pi-ta resistance gene. This finding indicates that Pi-ta resistance gene has been lost from Kencana Bali due to deletion at the end terminal of exon2. Keyword : Strain rice, blast disease (Pyricularia oryzae), Pi-ta genePadi hasil persilangan program pemuliaan padi Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB sebanyak 51 galur telah berhasil diuji dengan menggunakan metode injeksi. Pengujian tanaman dilakukan dengan dua kali penapisan, penapisan I sebanyak tiga ulangan dan penapisan II sebanyak dua ulangan. Penapisan I dimulai dengan memproduksi spora Pyricularia oryzae di media oatmeal agar kemudian dicuci dengan akuades steril setelah diinkubasi selama 10 hari. Penyinaran n-UV dilakukan untuk menginduksi spora sehingga spora dapat dipanen. Suspensi spora dengan konsentrasi 105 – 106 spora/ml diinjeksi pada daun tanaman padi yang berumur 20 hari (± 4-5 daun). Penapisan II dilakukan untuk menguji 18 galur padi hasil penapisan I dengan tingkat ketahanan >90%. Sebanyak 7 galur diperoleh dari hasil penapisan I dan penapisan II dengan tingkat ketahanan 100% yaitu IPB107-F-5-1, IPB107-F-7-3, IPB113-F-2-2, IPB117-F-7-2, IPB140-F-2-1, IPB149-F-4, dan IPB149-F-8. Identifikasi gen ketahanan Pi-ta dilakukan dengan Polymerase chain reaction (PCR) menggunakan 2 pasang primer yaitu primer ekson1 yang mengamplifikasi daerah ekson 1 dan primer ekson2 yang mengamplifikasi daerah ekson 2 pada gen ketahanan Pi-ta. Hasil identifikasi didapatkan bahwa semua galur yang tahan mempunyai gen Pi-ta, termasuk kontrol peka (Kencana Bali). Hasil yang diperoleh berbeda dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa Kencana Bali tidak memiliki gen ketahanan Pi-ta. Hal tersebut diduga bahwa varietas Kencana Bali mengalami delesi pada bagian belakang ekson2. Kata kunci : galur padi, penyakit blas (Pyricularia oryzae), gen Pi-t
Identifikasi Secara Molekular Kandidat Mutan Gα dari Kedelai Kultivar Slamet Berdasarkan mRNA
Heterotrimeric G proteins composed of α, β, and γ subunits, are bound to the inside surface of the cell membrane. Gα proteins will be activated by extracellular stimuli (biotic or abiotic stress). It is presumably Gα proteins playing an important role in aluminum (Al)-stress tolerance. Soybean cv. Slamet was considered as a tolerant plant to Al and has a single copy of Gα gene. Gamma irradiation to soybean cv. Slamet seeds caused a random chromosomal mutation of second generation plants (designated as M2). The Gα mutant candidates were selected based on stomatal closure in the daylight and dwarf. Gα mutant candidates M4, number 338 and 103 have severe root cell tissues damage compared to non mutant ones. Plant number 338/3S1.174/12/14 (M4) and 103/3S3.103/8/5/1/4 (M5) have a Gα gene mutation at the U3-L4 sequences (exon 5 – exon 11). Whereas, plant number 344/3S1.196/14/1/8 (M4) is assumed as Gα gene mutant. All of those plants were replanted until sixth generation. The candidates of Gα mutant selected have more than fifty percent of closed stomata and dwarf. Four number of M5 plants and three number of M6 plants were selected for Gα mutant identification based on mRNA analysis. The fifth generation plant number 344/3S1.196/14/1/8/7 were decreased its Gα gene expression at L5-L4 sequences (exon 7 – exon 11). The M6 generation plant number 344/3S1.196/14/1/8/7/5 have mutation in Gα gene at L1-L3 sequences (exon 2 – exon 6). A major contributing factor to decreased expression levels of Gα gene may be due to mutation of Gα gene promotor. Three other of M5 plants were assumed as Gα mutant. M6 plant number 103/3S3.103/8/5/1/4/8 has mutation at L3-L2 sequences (exon 6 – exon 15) and number 103/3S3.103/8/5/1/4/9 has mutation at U3-L4 sequences (exon 5 – exon 11). The decreasing of gene expression caused by mutation in those plants was indicated by the less pronounced DNA bands on agarose gel than that of non mutant plants
Kontribusi Bahan Organik dan Anorganik pada Pemantapan Pertumbuhan Jarak Pagar (Jatropha curcas) di Lahan Bekas Tambang Timah.
Kegiatan penambangan timah dilakukan dengan melakukan pembukaan lahan yang menyingkirkan seluruh vegetasi di atas lahan tambang, dalam proses pemisahan konsentrat timah dari pasir melalui pencucian akan menghasilkan tumpukan tailing yang menyebabkan kerusakan lahan karena persentase pasir yang mencapai lebih dari 90%, pH masam peningkatan Al-dd, penurunan nilai KTK dan kadar C-organik tanah, serta rendahnya kandungan P-tersedia dan basabasa tanah yang lain. Di sisi lain, pengembangan biofuel dalam rangka memperoleh bahan baker alternatif terus dilakukan di berbagai negara. Melalui Peraturan Presiden No.1 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, menetapkan jarak pagar (Jatropha curcas L.) sebagai salah satu sumber bahan bakar nabati (BBN). Pengusahaan tanaman jarak pagar sebagai sumber bahan bakar tidak akan mengganggu penyediaan kebutuhan minyak makan nasional, kebutuhan industri oleokimia dan ekspor crude palm oil (CPO), serta meningkatkan keamanan lingkungan melalui pengurangan produksi polutan dari penggunaan bahan bakar fosil
Analisis Integrasi Dan Stabilitas Gen Peroksidase (Perl) Pada Tanaman Tembakau (Nicotiana Tabacum) Kultivar SR1 Transgenik
Peroksidase merupakan salah satu enzim yang bekerja dalam sistem
pertahanan diri tumbuhan. Gen peroksidase dari kedelai kultivar Lumut (PerL)
yang dipautkan dengan gen hpt telah diintroduksikan ke tanaman tembakau
(Nicotiana tabacum) kultivar SR1 sehingga menghasilkan tanaman transgenik.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi gen PerL dan pewarisan gen
hpt pada tanaman tembakau (N.tabacum) kultivar SR1 transgenik putatif. Analisis
integrasi menggunakan PCR (Polymerase Chain Reaction) dilakukan untuk
mengkonfirmasi keberhasilan integrasi gen PerL di dalam genom tanaman
transgenik. Analisis integrasi PerL menggunakan primer 35S-F dan Atprx-R
menunjukkan bahwa 6 tanaman transgenik putatif generasi pertama (T0)
mengandung gen PerL di bawah kendali promotor 35S CaMV. Analisis segregasi
transgen dengan Khi-kuadrat menunjukkan bahwa gen hpt yang dipautkan dengan
gen PerL diwariskan ke N. tabacum transgenik generasi kedua (T1) namun tidak
mengikuti pola segregasi Mendel untuk satu atau dua gen bebas. Hal ini
mengindikasikan terjadinya lebih dari dua kopi gen yang terintegrasi di dalam
genom tanaman
Introduksi Gen Dengan Perantara Agrobacterium Tumefaciens Dan Performa Rumput Laut Kappaphycus Alvarezii Transgenik Mmcu/Zn-Sod
Rumput laut Kappaphycus alvarezii merupakan salah satu komoditas budidaya laut andalan Indonesia. Masalah serius yang masih sering dihadapi dalam budidaya Kappaphycus alvarezii adalah penurunan hasil panen yang disebabkan oleh penyakit ice-ice (bercak putih). Penyakit ini diawali dengan cekaman sebagai respons terhadap perubahan lingkungan ekstrim yang berlangsung dalam waktu cukup lama. Tujuan penelitian ini adalah (1) mendapatkan metode introduksi gen yang optimal pada Kappaphycus alvarezii, dan (2) menghasilkan K. alvarezii tahan terhadap salinitas rendah dan tinggi dengan mengintroduksi gen penyandi MmCu/Zn-SOD.
Penelitian dilakukan dalam tiga tahap. Penelitian tahap pertama dilakukan untuk mendapatkan konsentrasi Agrobacterium tumefaciens OD600, lama waktu inokulasi, dan lama kokultivasi untuk menghasilkan eksplan K. alvarezii transgenik yang membawa gen penyandi MmCu/Zn-SOD. Hasil penelitian tahap pertama menunjukkan bahwa eksplan transgenik ditemukan pada metode transformasi menggunakan OD600 sebesar 0,4 dan 0,5 dengan durasi inokulasi 30 dan 60 menit dan periode kokultivasi 3 dan 4 hari. Efisiensi regenerasi terbesar (46,67%) ditemukan pada perlakuan OD600 sebesar 0,5 dengan durasi inokulasi 30 menit dan lama waktu kokultivasi 4 hari. Namun demikian, efisiensi transformasi dan tunas putatif tertinggi diperoleh pada durasi inokulasi 60 menit, lama waktu kokultivasi 3 hari, dan OD600 sebesar 0,5. Metode tersebut menghasilkan efisiensi transformasi dan efisiensi tunas putatif masing-masing 100%. Analisis PCR menunjukkan adanya pita DNA produk amplifikasi pada eksplan transgenik yang membuktikan bahwa gen penyandi MmCu/Zn-SOD berhasil diintroduksi ke eksplan K. alvarezii. Pada kontrol non-transgenik, tidak ada produk amplifikasi PCR dan memiliki efisiensi regenerasi sebesar 33,33%. Jumlah eksplan transgenik yang diperoleh relatif sedikit, yakni sembilan (9) eksplan.
Pada penelitian tahap kedua, perbaikan metode introduksi gen dilakukan untuk meningkatkan efektifitas transgenesis dengan menggunakan media ko-kultivasi, media pemulihan dan lama waktu pemulihan berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode terbaik adalah menggunakan media kokultivasi dan pemulihan cair dengan lama pemulihan 10 hari. Pada perlakuan tersebut diperoleh persentase transformasi yang tinggi (90%), efisiensi regenerasi 90%, 100% efisiensi tunas putatif, dan 100% tunas transgenik. Total jumlah eksplan transgenik yang diperoleh adalah 75,0% (30 dari 40 eksplan putatif), sedangkan eksplan non-transgenik rumput laut tidak menunjukkan produk amplifikasi.
Penelitian tahap ketiga dilakukan untuk menguji kemampuan adaptasi eksplan transgenik yang membawa gen penyandi MmCu/Zn-SOD terhadap cekaman salinitas rendah (15 g/L) dan tinggi (45 g/L) selama 14 hari uji tantang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksplan transgenik toleran terhadap salinitas rendah, dan salinitas tinggi dengan 100% hidup, sedangkan eksplan non-transgenik semuanya mati.
Sebagai kesimpulan adalah optimalisasi metode introduksi gen telah diperoleh untuk K. alvarezii, dan introduksi gen penyandi MmCu/Zn-SOD dapat meningkatkan daya adaptasi K. alvarezii terhadap cekaman salinitas. Pada penelitian selanjutnya, perlu dilakukan analisis ekspresi dan pola integrasi gen penyandi MmCu/Zn-SOD yang dapat menjelaskan perbedaan kemampuan adaptasi antar eksplan K. alvarezii transgenik. Selain itu, mekanisme kerja MmCu/Zn-SOD pada K. alvarezii transgenik juga menarik untuk diteliti
Seleksi Cendawan Potensial Penghasil Enzim Endoglukanase (Karboksimetil Selulase) dan Isolasi Gen Penyandinya
Selulosa merupakan sumber daya terbarukan yang paling berlimpah di alam. Secara enzimatik, selulosa dapat dihidrolisis oleh kerja sinergis tiga tipe enzim selulase, yaitu endoglukanase, eksoglukanase/selobiohidrolase dan glukosidase. Kelompok cendawan berfilamen, terutama Aspergillus dan Trichoderma diketahui merupakan organisme penghasil selulase yang efisien Penelitian ini bertujuan untuk melakukan skrining terhadap enzim endoglukanase atau karboksimetil selulase (CMCase) dari beberapa isolat Aspergillus niger dan Trichoderma koleksi Bagian Mikologi Departemen Biologi F.MIPA Institut Pertanian Bogor dan Pusat Penelitian Sumber Daya Hayati dan Bioteknologi Institut Pertanian Bogor serta mengisolasi dan mengkarakterisasi gen penyandi endoglukanase dari isolat cendawan potensial terpilih. Seleksi endoglukanase dilakukan dengan skrining pada media agar CMC menggunakan pewarnaan congo red dan pengujian aktivitas enzim menggunakan metode DNS (asam dinitrosalisilat). T. reesei digunakan sebagai isolat standar dari aktivitas enzim endoglukanase. Isolat potensial terpilih selanjutnya digunakan untuk isolasi gen penyandi endoglukanase. Daerah coding sequence (CDS) diisolasi menggunakan RT-PCR dengan primer spesifik EAF (5’-CTCTAACGCCCAACA TGAAG-‘3) dan EAR (5’-TCTAGAACCCTAGTTGACACTGG-‘3) dari RNA total. Produk amplifikasi yang diharapkan ialah sebesar 743 bp. Gen eglA yang diperoleh selanjutnya diklon ke dalam plasmid pGEMT-Easy dan diintroduksikan ke dalam E. coli DH5α. Hasil klon kemudian di urutkan nukleotidanya dengan ABI Prism 310 automated DNA sequencer dan dikarakterisasi menggunakan beberapa software yang tersedia secara onlineSelulosa merupakan sumber daya terbarukan yang paling berlimpah di alam. Secara enzimatik, selulosa dapat dihidrolisis oleh kerja sinergis tiga tipe enzim selulase, yaitu endoglukanase, eksoglukanase/selobiohidrolase dan glukosidase. Kelompok cendawan berfilamen, terutama Aspergillus dan Trichoderma diketahui merupakan organisme penghasil selulase yang efisien Penelitian ini bertujuan untuk melakukan skrining terhadap enzim endoglukanase atau karboksimetil selulase (CMCase) dari beberapa isolat Aspergillus niger dan Trichoderma koleksi Bagian Mikologi Departemen Biologi F.MIPA Institut Pertanian Bogor dan Pusat Penelitian Sumber Daya Hayati dan Bioteknologi Institut Pertanian Bogor serta mengisolasi dan mengkarakterisasi gen penyandi endoglukanase dari isolat cendawan potensial terpilih. Seleksi endoglukanase dilakukan dengan skrining pada media agar CMC menggunakan pewarnaan congo red dan pengujian aktivitas enzim menggunakan metode DNS (asam dinitrosalisilat). T. reesei digunakan sebagai isolat standar dari aktivitas enzim endoglukanase. Isolat potensial terpilih selanjutnya digunakan untuk isolasi gen penyandi endoglukanase. Daerah coding sequence (CDS) diisolasi menggunakan RT-PCR dengan primer spesifik EAF (5’-CTCTAACGCCCAACA TGAAG-‘3) dan EAR (5’-TCTAGAACCCTAGTTGACACTGG-‘3) dari RNA total. Produk amplifikasi yang diharapkan ialah sebesar 743 bp. Gen eglA yang diperoleh selanjutnya diklon ke dalam plasmid pGEMT-Easy dan diintroduksikan ke dalam E. coli DH5α. Hasil klon kemudian di urutkan nukleotidanya dengan ABI Prism 310 automated DNA sequencer dan dikarakterisasi menggunakan beberapa software yang tersedia secara onlin
Perakitan Kentang (Solanum Tuberosum L.) Kultivar Nooksack Transgenik Yang Mengandung Gen Hd3a
Kentang merupakan salah satu bahan pangan utama dunia setelah padi,
gandum dan jagung. Berdasarkan data BPS, dari tahun 2013 ke 2014 rata-rata
produksi kentang di Indonesia meningkat, namun konsumsi kentang per kapita
penduduk di Indonesia menurun. Menurunnya konsumsi kentang ini disebabkan
ketersediaan kentang belum mencukupi kebutuhan penduduk di Indonesia. Untuk
memenuhi kebutuhan kentang yang meningkat terus, Indonesia mengimpor
kentang dari luar negeri. Indonesia saat ini mengimpor semua kentang olahan
french fries beku. Nooksack merupakan salah satu kultivar kentang yang cocok
untuk produksi kentang olahan french fries beku. Nooksack memiliki kekurangan
yaitu produksi umbi yang rendah dan masa dormansi yang panjang. Rendahnya
produksi umbi kultivar Nooksack dapat diatasi dengan teknik rekayasa genetika
dengan menggunakan gen Hd3a.
Gen Hd3a menyandi protein Hd3a yang menginduksi pembungaan pada
padi, jarak pagar, Nicotiana benthamiana, Saussurea involucrate dan kentang.
Pada kentang kultivar Andigena, selain menginduksi pembungaan, Hd3a juga
menginduksi pembentukan umbi. Penelitian ini bertujuan untuk merakit tanaman
kentang (Solanum tuberosum L.) kultivar Nooksack transgenik yang mengandung
Hd3a yang diisolasi dari padi di bawah kendali promoter 35S CaMV.
Transformasi genetik kentang dilakukan melalui metode kokultivasi dengan
menggunakan A. tumefaciens LBA 4404. Transformasi terhadap 115 eksplan yang
berupa ruas tanpa mata tunas menghasilkan efisiensi transformasi sebesar 21.25%
dan hasil efisiensi regenerasi sebesar 10% serta 8 tunas transgenik putatif.
Analisis terhadap 6 tunas transgenik putatif dilakukan dengan menggunakan PCR
dengan primer 35S F dan Hd-R. Analisis PCR menunjukkan bahwa keenam
tanaman tersebut merupakan kentang transgenik yang mengandung gen Hd3a di
bawah kendali promoter 35S CaMV. Tanaman transgenik tersebut telah berhasil
diaklimatisasi di rumah kaca dan menghasilkan umbi G0
Analisis Pewarisan Gen Mamt2 Penyandi Metallothionein Tipe 2 dan Gen Hpt Penyandi Higromisin Fosfotransferase pada Tanaman Padi (Oryza Sativa L.) Kultivar Kasalath Transgenik
Ekspresi gen MaMt2 penyandi metallothionein tipe 2 diinduksi oleh cekaman
aluminium pada Melastoma malabathricum. Gen MaMt2 di bawah kendali
promoter ubiquitin dan terminator Nos yang dipautkan dengan gen hpt penyandi
higromisin fosfotransferase telah berhasil diintroduksikan ke dalam genom
tanaman padi (Oryza sativa L.) kultivar Kasalath dan menghasilkan tanaman padi
transgenik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pewarisan gen MaMt2 dan
gen hpt pada tanaman padi kultivar Kasalath transgenik. Analisis resistensi
terhadap higromisin pada generasi T1 menunjukkan bahwa gen hpt penyandi sifat
resistensi terhadap higromisin diwariskan dari generasi T0 ke generasi T1 dengan
pola pewarisan yang tidak mengikuti Hukum Mendel untuk satu dan dua gen.
Analisis molekuler dengan PCR menggunakan tiga pasang primer menunjukkan
bahwa lima tanaman generasi T1 yang yang resisten terhadap higromisin adalah
transgenik yang mengandung gen MaMt2 di bawah kendali promoter ubiquitin
dan terminator Nos. Pola segregasi resistensi terhadap higromisin pada generasi
T1 mengindikasikan bahwa gen hpt dan MaMt2 yang terintegrasi di dalam genom
tanaman padi transgenik kemungkinan berjumlah lebih dari dua kopi gen
Rekayasa Genetik Tembakau (Nicotiana Tabacum L. Cv. Sr1) Dan Jarak Pagar (Jatropha Curcas L.) Dengan Gen Inhibitor Of Meristem Activity (Ima)
Tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) merupakan salah satu tanaman
yang pada awalnya merupakan tanaman yang digunakan sebagai tanaman pagar.
Tanaman ini berpotensi sebagai penghasil bahan baku energi terbarukan.
Keuntungan jarak pagar sebagai sumber bahan biodiesel antara lain, 1) minyak
jarak pagar tidak termasuk dalam kategori minyak makan (non edible oil)
sehingga pemanfaatan jarak pagar sebagai bahan baku biodiesel tidak akan
mengganggu penyediaan kebutuhan minyak makan nasional, 2) tanaman jarak
pagar ini dapat beradaptasi dengan lahan pada kondisi kering (curah hujan <500
mm per tahun), 3) dapat tumbuh pada lahan dengan kesuburan rendah (lahan
marjinal dan lahan kritis, 4) biji jarak pagar mengandung minyak dengan
rendemen 30–40%. Rendahnya produktivitas tanaman jarak pagar menjadi
perhatian utama dalam pemulian tanaman. Rasio bunga betina yang sangat
sedikit dibandingkan dengan bunga jantan merupakan salah satu factor pembatas
produktivitas.
Salah satu strategi untuk meningkatkan kualitas produktivitas jarak pagar
yaitu dengan teknologi rekayasa genetika. Metode transformasi merupakan
metode yang diaplikasikan untuk mengintroduksikan gen IMA ke tanaman
tersebut. Gen Inhibitor of Meristem Activity (IMA). Gen IMA telah diisolasi dari
tanaman tomat (Solanum lycopersicum L.) dan telah berhasil dilakukan ekspresi
berlebih pada tanaman tomat. Gen IMA berperanan dalam pertumbuhan dan
perkembangan pada meristem pucuk, mampu menginduksi pembungaan dan
perkembangan ovul. Tujuan penelitian ini adalah dapat mengetahui peranan gen
IMA pada pertumbuhan tanaman melalui konstruksi gen dalam vektor ekspresi,
analisis gen pada tanaman model tembakau dan tanaman target jarak pagar.
Pada penelitian pertama dilakukan konstruksi gen IMA ke dalam vektor
ekspresi A. tumefaciens LBA4404. Metode yang digunakan untuk konstruksi
adalah metode gateway. Metode ini diawali dengan desain primer spesifik
gateway. Konstruksi gen IMA dirancang dengan dua arah yaitu sens dan antisens.
Diperoleh koloni A. tumefaciens LBA4404 yang membawa plasmid pGWB402-
IMA sens dan antisens. Koloni tersebut dapat digunakan untuk transformasi pada
tanaman.
Pada penelitian kedua dilakukan introduksi gen IMA ke dalam tanaman
tembakau. Gen yang ditransformasi dalam bentuk orientasi sens dan antisens.
Tembakau dengan gen IMA sens memberikan ciri morfologi yang lebih kecil
dibandingkan dengan tanaman non transgenik. Sedangkan gen IMA antisens
memperlihatkan ukuran morfologi tanaman yang lebih besar dari tanaman non
transgenik. Berdasarkan hasil PCR tanaman transgenik sens dan antisens
menunjukkan hasil yang positif membawa gen IMA. Analisis segregasi pada biji
tanaman T0 dan T1 berdasarkan sifat ketahanan terhadap antibiotik pada masingmasing
tanaman. Hasilnya diperoleh data 3:1 berdasarkan hasil analisis chisquare.
Ini mengindikasikan bahwa gen IMA diwariskan pada turunan kedua.
Pada penelitian ketiga dilakukan introduksi gen IMA sens dan antisens ke
tanaman jarak pagar. Tujuannya adalah mengintroduksi gen IMA sens dan
antisens ke tanaman Jarak Pagar. Transformasi berhasil dilakukan pada tanaman
jarak pagar dengan gen IMA sens berdasarkan hasil analisis PCR. Tetapi dalam
kultur in vitro menghadapi kendala pada proses pengakaran dan aklimatisasi.
Diharapkan pada penelitian selanjutnya dapat ditemukan metode yang baik untuk
pengakaran dan aklimatisasi
Analysis of somatic embryogenesis of oil palm (Elaeis guineensis Jacq.) using temporary immersion system.
Micropropagation of oil palm through somatic emrbyogenesis is still not efficient because low percentage of somatic embryo formation and germinating somatic embryo. The objectives of these research are to obtain the best of (i) liquid medium used in shaker technique, (ii) medium and immersion time in Temporary Immersion System (TIS), (iii) to identify the marker of embryogenic callus with Scanning Electron Microscope (SEM) and (iv) to identify genetic changing in vitro (off-type) from 14 months of somatic embryo with Simple Sequence Repeats (SSR). The planting materials were embryogenic callus of embryoid-lines S15.355 and S82.132. Two types of medium consisted of MSK and MSD were tested in shaker technique, with the addition of several vitamines and combination of 0; 0.3; 0.6; 0.9 mg/L 2,4-D with 0; 4.0; 8.0 mg/L NAA. Medium MSD0 and MSD2 were used in TIS with every 1, 3, and 6 hours of immersion time and immersed in 3 minutes. Analysis marker for embryogenic and non embryogenic callus conducted by SEM and molecular marker by 20 microsatellite primers. The results showed that medium MSD2 is the best for increasing the proliferation of embryogenic callus and enlarging the somatic embryo of oil palm. Besides, types of genotypes gave different proliferation rate in diferrent medium composition and immersion time. The immersion time of 1, 3, and 6 hour showed no significant difference in increasing rate of embryogenic callus fresh weight for embryoid-line S15.355 and S82.132, respectively. Embryogenic callus analysed by SEM showed that embryogenic callus had smoother and lighter surfaces compared with non embryogenic callus. The result of SSR analysis showed that only 10 primers gave polimorphic bands and the others gave monomorphic. There was no genetic changing in vitro (off-type) from 14 months of samples
- …
