161 research outputs found

    Penggunaan Beberapa Media pada Pengembangan Metode Uji Daya Berkecambah Benih Bengkuang (Pachyrhizus erosus (L.) Urban).

    No full text
    Penelitian bertujuan untuk menentukan jenis media perkecambahan yang tepat untuk uji daya berkecambah serta menentukan waktu pengamatan uji daya berkecambah. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Mei sampai dengan Juni 2018 di Laboratorium Penyimpanan dan Pengujian Mutu Benih, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak faktor tunggal dan 3 ulangan dengan taraf media perkecambahan yang terdiri dari pasir, arang sekam dan zeolit. Hasil penelitian menunjukan bahwa media pasir dan zeolit memberikan hasil yang sama berdasarkan tolok ukur daya berkecambah, kecepatan tumbuh, bobot kering keambah normal dan tinggi kecambah. Media pasir memberikan nilai indeks vigor yang paling tinggi yaitu sebesar 71.33% dan ditetapkan sebagai media terbaik untuk uji daya kecambah benih bengkuang. Pengamatan pertama dan kedua pada uji daya berkecambah benih bengkuang ditetapkan pada hari ke-8 dan 16

    Uji Tetrazolium untuk Deteksi Vigor Benih Okra (Abelmoschus esculentus)

    No full text
    Benih merupakan salah satu faktor utama dalam kegiatan budidaya tanaman. Mutu benih digambarkan oleh aktivitas metabolismenya. Uji tetrazolium merupakan gambaran aktivitas respirasi yang mencerminkan aktivitas enzim dehidrogenase yang diindikasikan oleh tingkat warna merah pada benih. Tujuan penelitian ini ialah mempelajari uji tetrazolium untuk deteksi vigor benih okra dengan pengelompokan pola pola pewarnaan. Uji tetrazolium dilakukan dengan merendam benih dalam aquades selama 20 jam, dilanjutkan dengan pengupasan testa sebelum kemudian dilakukan perendaman dalam larutan tetrazolium 1% selama 3 jam. Percobaan disusun menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan faktor tunggal yaitu tingkat viabilitas benih dengan daya berkecambah 82,67%, 60%, dan 54,67%. Pengujian tetrazolium pada benih okra menghasilkan 13 pola pewarnaan yang dikelompokkan menjadi 4 kelompok, yaitu 1 pola kriteria normal kuat (NK), 4 pola kriteria normal lemah (NL), 2 pola kriteria abnormal (Ab), dan 6 pola kriteria mati (M). Pola pewarnaan merah cerah pada seluruh bagian poros embrio dan kotiledon mengindikasikan bahwa benih akan tumbuh menjadi kecambah normal kuat. Pola pewarnaan kelompok normal memiliki hubungan yang erat dan nyata dengan kecepatan tumbuh (KCT) sebagai uji vigor dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,77

    Pengarah Ukuran Umbi dan Aplikasi PAclobutrazol Terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Sedap Malam (Pholianthes tuberose L.).

    No full text
    Tanaman sedap malam (Pholianthes tuberose L.) merupakan kelompok tanaman hias yang potensial untuk dikembangkan oleh petani Indonesia. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh ukuran umbi bibit dan aplikasi paclobutrazol terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman sedap malam. Penelitian dilakukan di kebun percobaan IPB Leuwikopo dari bulan Maret sampai September 2016. Penelitian menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak dengan dua faktor dengan tiga kali ulangan. Faktor pertama adalah ukuran umbi, yang terdiri dari dua taraf perlakuan, yaitu umbi bibit berukuran besar dengan diameter umbi 2,6-3 cm dan umbi bibit sedang dengan diameter umbi 1,5-2,5 cm. Faktor kedua adalah aplikasi paclobutrazol, yang terdiri dari dua taraf perlakuan yaitu aplikasi paclobutrazol dengan konsentrasi 100 ppm dan tanpa aplikasi paclobutrazol. Hasil percobaan menunjukkan bahwa ukuran umbi berpengaruh pada jumlah tanaman per rumpun. Umbi bibit berukuran besar dengan diameter 2,6-3 cm, mampu meningkatkan jumlah tanaman per rumpun sebanyak 2-3 tanaman. Aplikasi paclobutrazol 100 ppm dapat menekan pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah daun per rumpun, panjang rangkaian bunga dan jumlah kuntum bunga. Tanaman sedap malam yang diaplikasian paclobutrazol 100 ppm menghasilkan tanaman yang lebih pendek, dengan selisih mencapai 12 cm dibandingkan tanaman tanpa aplikasi paclobutrazol. Jumlah daun tanaman per rumpun yang diaplikasikan paclobutrazol 100 ppm juga lebih sedikit, dengan selisih mencapai 18 helai daun. Panjang rangkaian bunga tanaman yang diaplikasikan paclobutrazol 100 ppm lebih pendek 9,47 cm dibandingkan tanaman tanpa aplikasi paclobutrazol. Rata-tata jumlah kuntum bunga yang diaplikasikan paclobutrazol 100 ppm juga lebih sedikit, yaitu 35,8 kuntum, sedangkan tanaman sedap malam tanpa aplikasi paclobutrazol mampu menghasilkan kuntum sebanyak 41,9 kuntum bunga dalam satu rangkaian bunga

    Aplikasi Giberelin dan Benzil Amino Purin dalam Produksi Subang Gladiol (Gladiolus hybridus).

    No full text
    Gladiol merupakan tanaman hias yang dibudidayakan di dataran tinggi. Bunga gladiol memiliki keistimewaan dari bentuk bunga yang indah dan memiliki kesegaran bunga 3 – 4 hari, dan mempunyai nilai jual ekonomis yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi zat pengatur tumbuh GA3 dan BAP dalam berbagai konsentrasi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman dan produksi subang gladiol. Rancangan yang digunakan adalah rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) dengan satu faktor yaitu penggunaan zat pengatur tumbuh dengan sembilan taraf perlakuan. Sembilan taraf perlakuan adalah tanpa rendam, rendam dengan air, rendam zat pengatur tumbuh dengan GA3 25 ppm, GA3 50 ppm, BAP 25 ppm, BAP 50 ppm, GA3+BAP 25:25 ppm, GA3+BAP 25:50 ppm, dan GA3+BAP 50:25 ppm. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan GA3 dan BAP memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman pada 7 – 10 MST. Perlakuan yang memberikan pengaruh nyata pada tinggi tanaman adalah perlakuan kombinasi GA3+BAP dengan konsentrasi perbandingan 25:25. Hasil analisis uji korelasi menunjukkan bobot subang yang tinggi memiliki anak subang yang banyak. Hal ini ditunjukan oleh nilai koefisien korelasi sebesar 0,92. Diameter subang juga berkorelasi nyata dengan jumlah anak subang yaitu 0,87

    Simulasi Transportasi untuk Pendugaan Viabilitas Benih Kedelai (Glycine max (L.) Merr.).

    No full text
    Benih yang sedang mengalami transportasi mengalami prinsip penyimpanan layaknya benih yang berada di gudang penyimpanan, namun faktor lingkungan pada saat benih ditransportasikan lebih cepat berubah, yakni suhu dan kelembaban nisbi udara (RH). Kandungan protein yang tinggi dalam benih kedelai menyebabkan benih sangat peka terhadap kerusakan fisik akibat guncangan selama transportasi yang dapat menyebabkan kemunduran benih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama guncangan pada beberapa taraf suhu dan RH terhadap viabilitas benih kedelai (Glycine max (L.) Merr.) dengan menggunakan mesin simulasi transportasi dan membandingkan hasil penelitian simulasi transportasi dengan transportasi benih sesungguhnya. Penelitian terdiri dari penelitian simulasi transportasi dan penelitian transportasi sesungguhnya. Setiap penelitian terdiri atas dua percobaan dengan menggunakan benih kedelai Varietas Wilis dan Grobogan. Penelitian Simulasi Transportasi menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) Faktorial, dengan faktor pertama adalah lama guncangan yang terdiri dari 4 taraf, yaitu 0 jam, 3 jam, 6 jam, dan 9 jam. Sedangkan faktor kedua adalah kombinasi suhu/RH yang terdiri atas 3 taraf, yaitu suhu (25- 29)0C/RH (80-90) %, suhu (30 – 35)0C/RH (65-75) %, dan suhu (36-40) 0C/RH (50-60) %. Penelitian transportasi sesungguhnya dilakukan dengan mengemas benih menggunakan plastik kedap udara masing-masing 1 kg untuk setiap Varietas kemudian ditransportasikan dengan mobil box sejauh 1500 km selama 7 hari. Faktor lama guncangan memberikan pengaruh sangat nyata terhadap tolok ukur uji Daya Hantar Listrik dan memberikan pengaruh yang nyata terhadap tolok ukur Daya Berkecambah, Indeks Vigor, dan Kecepatan Tumbuh pada Varietas Wilis. Pada Varietas Grobogan, faktor lama guncangan hanya memberikan pengaruh nyata terhadap tolok ukur uji Daya Hantar Listrik, Keserempakan 3 Tumbuh dan kadar air. Faktor kondisi suhu/RH hanya memberikan pengaruh nyata terhadap kadar air. Semakin lama perlakuan lama guncangan akan menyebabkan penurunan viabilitas benih Varietas Wilis dan Grobogan yang semakin besar. Lama guncangan 3 jam menurunkan secara nyata nilai Daya Berkecambah benih Varietas Wilis sebesar 13.3%. Lama guncangan 9 jam menaikkan secara nyata nilai DHL pada Varietas Wilis sebesar 11% dan pada Varietas Grobogan sebesar 14.6%. Pada Varietas Wilis, lama guncangan 6 jam menurunkan Indeks Vigor secara nyata sebesar 20%, sedangkan lama guncangan 9 jam menurunkan secara nyata nilai KCT sebesar 11%. Pada Varietas Grobogan lama guncangan 9 jam menurunkan secara nyata nilai KCT sebesar 16% dan KST sebesar 18%. Kadar Air Varietas Grobogan mengalami penurunan secara nyata pada lama guncangan 6 jam sebesar 6%. Faktor kondisi suhu (36 -40)0C/RH (50-60) % menurunkan nilai kadar air secara nyata sebesar 6 % pada Varietas Grobogan. Nilai kadar air yang tidak berbeda nyata pada Varietas Wilis diduga akibat ukuran benih Wilis yang lebih kecil. Selain itu, nilai kadar air pada benih Varietas Wilis yang tidak berbeda nyata juga disebabkan oleh kemasan plastik yang digunakan untuk mengemas benih saat diguncang. Hasil penelitian simulasi transportasi dengan transportasi sesungguhnya menunjukkan bahwa transportasi sesungguhnya dapat digambarkan melalui simulasi transportasi dengan lama guncangan dan suhu/RH tertentu. Berdasarkan hasil pada Varietas Wilis dan Grobogan, perlakuan lama guncangan 9 jam dan kondisi suhu (36 -40)0C/RH (50-60) % dapat digunakan untuk mensimulasikan transportasi benih kedelai sejauh 1500 km

    Pola Pewarnaan Uji Tetrazolium untuk Kriteria Vigor Benih Mentimun (Cucumis sativus L.).

    No full text
    Benih merupakan salah satu faktor utama dalam kegiatan budidaya tanaman. Benih bermutu dan bersertifikat diperoleh dari hasil pengujian mutu benih. Pengujian tetrazolium pada benih mentimun menghasilkan 14 pola pewarnaan yang dikelompokkan menjadi 4 kelompok, yaitu 1 pola kriteria normal kuat (NK), 2 pola kriteria normal lemah (NL), 5 pola kriteria abnormal (Ab), dan 6 pola kriteria mati (M). Pola pewarnaan merah cerah pada seluruh bagian poros embrio dan kotiledon mengindikasikan bahwa benih akan tumbuh menjadi kecambah normal kuat. Tolok ukur indeks vigor (IV) dengan pola pewarnaan NK memiliki nilai koefisien korelasi tertinggi, yaitu r = 0,88 dengan P-Value = 0,000 yang menunjukkan adanya hubungan yang erat dan positif antara IV dengan NK. Kecepatan tumbuh (KCT) merupakan salah satu tolok ukur dari parameter vigor kekuatan tumbuh (VKT) yang lebih peka dibandingkan daya berkecambah (DB) yang mampu membedakan tingkat viabilitas benih antar lot. Nilai r antara pola pewarnaan kriteria NK untuk tolok ukur IV (0,88), daya berkecambah (0,68), dan berat kering kecambah normal (0,62) dengan nilai P-Value 0,01 ≥ P ≤ 0,05 menunjukkan adanya hubungan yang erat dengan pengujian tetrazolium pola pewarnaan NK. Hal ini menunjukkan bahwa pola pewarnaan kriteria NK dapat digunakan untuk memprediksi vigor benih

    Pengembangan Metode Uji Kadar Air Benih Pala (Myristica spp.)

    No full text
    Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan metode penetapan kadar air benih yang tepat untuk benih pala. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih dan Laboratorium Kering Leuwikopo, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor pada bulan Desember 2013 hingga April 2014. Penelitian terdiri atas 2 percobaan yaitu pengujian benih dengan metode oven suhu rendah konstan 105 °C dan metode oven suhu tinggi konstan 130 °C. Percobaan ini menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan model rancangan faktorial 1 faktor yaitu lama pengeringan benih didalam oven. Percobaan dilakukan secara duplo dengan 6 perlakuan dan 3 ulangan sehingga terdapat 36 satuan percobaan untuk setiap pengujian tingkat kadar air benih pala. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengujian kadar air benih pala dapat dilakukan dengan metode suhu rendah konstan 105 ºC dengan lama pengeringan 17 jam sampai 19 jam atau metode suhu tinggi konstan 130 ºC dengan lama pengeringan 4 jam sampai 6 jam

    Pengaruh aplikasi isolat Methylobacterium spp terhadap pertumbuhan dan daya hasil tanaman cabai (Capsicum annuum L.)

    Get PDF
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh aplikasi isolat Methylobacterium spp terhadap pertumbuhan dan daya hasil tanaman cabai (Capsicum annuum L.). Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian Bogor dan Rumah Kaca Unit Kebun Percobaan Cikabayan Institut Pertanian Bogor. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai Desember 2010. Penelitian dilaksanakan berdasarkan model Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dua faktor. Faktor pertama yaitu frekuensi aplikasi isolat Methylobacterium spp yang terdiri dari 3 taraf, yaitu: (1) rendam air dan tanpa penyemprotan isolat Methylobacterium spp, (2) perendaman benih dengan isolat Methylobacterium spp dan penyemprotan setiap dua bulan sekali sampai berumur 4 bulan, (3) perendaman benih dengan isolat Methylobacterium spp dan penyemprotan setiap satu bulan sampai tanaman berumur 4 bulan. Faktor kedua adalah dosis pemupukan yang terdiri dari 3 taraf, yaitu: (1) tanpa pemupukan, (2) pemupukan 7.5 g Urea, 13 g SP-18, dan 6 g KCl per 5 kg media, (3) pemupukan 15 g Urea, 27 g SP-18, dan 12 g KCl per 5 kg media. Isolat yang digunakan adalah Methylobacterium spp strain TD-J7 yang diisolasi dari daun jagung dan TD-TPB3 yang diisolasi dari terong bulat

    Efektivitas Cendawan Mikoriza Arbuskula pada Coating Benih Selama Penyimpanan dan Serapan Hara P Tanaman Jagung Manis

    No full text
    The aim of this study was to find out 1) the effect of adhesive on corn seed quality and arbuscular mycorrhizal fungus (AMF) viability during storage, and 2) the effect of AMF coating method and fertilization P on uptake nutrient P, growth and production of sweet corn plants. This study is devided into two experiments: 1) The effect of adhesive on corn seed quality and AMF viability during storage and 2) The effect of AMF coating on the availability of P, growth, and production of corn plants. The first experiment used Split Plot Design with randomized complete. The first factor is storage period (0, 4, 8, 12, 16 weeks) as the main plot and the second factor is adhesive formulation (without coating, sodium alginate + AMF, gum arabic + AMF, and tapioca + AMF) as subplot. The seconds experiment was done using randomized complete block design with two factors. The first factor is the adhesive formulation (without AMF coating, sodium alginate + AMF, gum arabic + AMF, and tapioca + AMF) and the second factor is the dose of P2O5 fertilizer (no fertilizer, 60 kg ha-1 P2O5, and 120 kg ha-1 P2O5). The results showed that seed coating with sodium alginate, gum arabic, and tapioca gave the same effect on the seed germination. The seed germination decreased significantly at 12 weeks after the storage. In the germination speed, the effect of gum arabic and tapioca same with control, whereas germination speed of sodium alginate was lower. The best adhesive to maintaining the germination of AMF was sodium alginate. The germination of AMF can be maintained up to 16 weeks by 70%. Treatment seed coating with tapioca showed that highest Pavailable in the planting medium, P-content in the seed, and AMF infection in the roots after corn is harvested

    Pendugaan Daya Simpan Galur-Galur Kedelai (Glycine max (L.) Merr.) Hasil Iradiasi Sinar Gamma dengan Metode Pengusangan Cepat

    No full text
    The objective of the research was to estimate the varians on seed storability of soybean lines selected from population of gamma ray irradiation varietes Argomulyo, with two chek varietes, namely Argomulyo as wild variety and Tanggamus as drought acid tolerant variety. The research was conducted at the Laboratory of Plant Breeding and Laboratory of Seed Science and Technology, Departement of Agronomy and Horticulture , Bogor Agriculture University from March-August 2012. The research used Nested Plot Design, with 22 soybean lines and two control varietes nested within five perioed of accelerated ageing in 0, 20, 40, 60, and 80 minutes. The result showed that there was variations for character observed due to genetic factors. Character of viability and vigour observed had heritability higher than 50% except moisture content. There was significant and positive correlations among electrical resistance and character related to seed vigour except moisture content. If the seed germination was high, electrical resistance would be high. Electrical resistance had negative correlation with electrical conductivity. It means that electrical resistance could be applied as selection character for improvement seed vigour. M100-29A-42-10, M50-45-9-12, M100-96-53-7, M100-29A-42-15, M100-96-53-6, M200-20-52-11, M200-93-49-13 had good storability
    corecore