114 research outputs found

    Blast Resistance Test On 51 Rice Strains Against Blast Disease (Pyricularia oryzae) race 173.

    No full text
    As many as 51 strains rice hybrid from breeding program in Department of Agronomy and Horticulture, IPB had been already blast resistance tested by using injection method. The test rice plant with twice screening that first screening with three replicates and second screening as two replicates. First screening was begin with spore production of Pyricularia oryzae in oatmeal agar media washed once with sterile distilled water after 10 days incubation and harvested after n-UV radiation for 4 - 5 days to induce sporulation. Inoculations with Pyricularia oryzae were performed 20 days after sowing (have 4-5 leaves) by injection with spore suspension 105-106 spore/ml. The second screening must be done for tested 18 strain rice result from first screening with level resistance more than 90%. Seven strain resulted from first screening and second screening resistance level 100% are as follows: IPB107-F-5-1, IPB107-F-7-3, IPB113-F-2-2, IPB117-F-7-2, IPB140-F-2-1, IPB149-F-4, and IPB149-F-8. Identification of Pi-ta gene was carried out by Polymerase chain reaction (PCR) using two primer sets which amplified exon 1 and exon 2 region of the Pi-ta resistance gene. The result obtained in this identification shown that major blast resistance genes Pi-ta were detected in all of the strain from second screening, even the susceptible control plants (Kencana Bali). This results were different with the previous result shown Kencana Bali does not have Pi-ta resistance gene. This finding indicates that Pi-ta resistance gene has been lost from Kencana Bali due to deletion at the end terminal of exon2. Keyword : Strain rice, blast disease (Pyricularia oryzae), Pi-ta genePadi hasil persilangan program pemuliaan padi Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB sebanyak 51 galur telah berhasil diuji dengan menggunakan metode injeksi. Pengujian tanaman dilakukan dengan dua kali penapisan, penapisan I sebanyak tiga ulangan dan penapisan II sebanyak dua ulangan. Penapisan I dimulai dengan memproduksi spora Pyricularia oryzae di media oatmeal agar kemudian dicuci dengan akuades steril setelah diinkubasi selama 10 hari. Penyinaran n-UV dilakukan untuk menginduksi spora sehingga spora dapat dipanen. Suspensi spora dengan konsentrasi 105 – 106 spora/ml diinjeksi pada daun tanaman padi yang berumur 20 hari (± 4-5 daun). Penapisan II dilakukan untuk menguji 18 galur padi hasil penapisan I dengan tingkat ketahanan >90%. Sebanyak 7 galur diperoleh dari hasil penapisan I dan penapisan II dengan tingkat ketahanan 100% yaitu IPB107-F-5-1, IPB107-F-7-3, IPB113-F-2-2, IPB117-F-7-2, IPB140-F-2-1, IPB149-F-4, dan IPB149-F-8. Identifikasi gen ketahanan Pi-ta dilakukan dengan Polymerase chain reaction (PCR) menggunakan 2 pasang primer yaitu primer ekson1 yang mengamplifikasi daerah ekson 1 dan primer ekson2 yang mengamplifikasi daerah ekson 2 pada gen ketahanan Pi-ta. Hasil identifikasi didapatkan bahwa semua galur yang tahan mempunyai gen Pi-ta, termasuk kontrol peka (Kencana Bali). Hasil yang diperoleh berbeda dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa Kencana Bali tidak memiliki gen ketahanan Pi-ta. Hal tersebut diduga bahwa varietas Kencana Bali mengalami delesi pada bagian belakang ekson2. Kata kunci : galur padi, penyakit blas (Pyricularia oryzae), gen Pi-t

    Identifikasi Secara Molekular Kandidat Mutan Gα dari Kedelai Kultivar Slamet Berdasarkan mRNA

    No full text
    Heterotrimeric G proteins composed of α, β, and γ subunits, are bound to the inside surface of the cell membrane. Gα proteins will be activated by extracellular stimuli (biotic or abiotic stress). It is presumably Gα proteins playing an important role in aluminum (Al)-stress tolerance. Soybean cv. Slamet was considered as a tolerant plant to Al and has a single copy of Gα gene. Gamma irradiation to soybean cv. Slamet seeds caused a random chromosomal mutation of second generation plants (designated as M2). The Gα mutant candidates were selected based on stomatal closure in the daylight and dwarf. Gα mutant candidates M4, number 338 and 103 have severe root cell tissues damage compared to non mutant ones. Plant number 338/3S1.174/12/14 (M4) and 103/3S3.103/8/5/1/4 (M5) have a Gα gene mutation at the U3-L4 sequences (exon 5 – exon 11). Whereas, plant number 344/3S1.196/14/1/8 (M4) is assumed as Gα gene mutant. All of those plants were replanted until sixth generation. The candidates of Gα mutant selected have more than fifty percent of closed stomata and dwarf. Four number of M5 plants and three number of M6 plants were selected for Gα mutant identification based on mRNA analysis. The fifth generation plant number 344/3S1.196/14/1/8/7 were decreased its Gα gene expression at L5-L4 sequences (exon 7 – exon 11). The M6 generation plant number 344/3S1.196/14/1/8/7/5 have mutation in Gα gene at L1-L3 sequences (exon 2 – exon 6). A major contributing factor to decreased expression levels of Gα gene may be due to mutation of Gα gene promotor. Three other of M5 plants were assumed as Gα mutant. M6 plant number 103/3S3.103/8/5/1/4/8 has mutation at L3-L2 sequences (exon 6 – exon 15) and number 103/3S3.103/8/5/1/4/9 has mutation at U3-L4 sequences (exon 5 – exon 11). The decreasing of gene expression caused by mutation in those plants was indicated by the less pronounced DNA bands on agarose gel than that of non mutant plants

    Kontribusi Bahan Organik dan Anorganik pada Pemantapan Pertumbuhan Jarak Pagar (Jatropha curcas) di Lahan Bekas Tambang Timah.

    Get PDF
    Kegiatan penambangan timah dilakukan dengan melakukan pembukaan lahan yang menyingkirkan seluruh vegetasi di atas lahan tambang, dalam proses pemisahan konsentrat timah dari pasir melalui pencucian akan menghasilkan tumpukan tailing yang menyebabkan kerusakan lahan karena persentase pasir yang mencapai lebih dari 90%, pH masam peningkatan Al-dd, penurunan nilai KTK dan kadar C-organik tanah, serta rendahnya kandungan P-tersedia dan basabasa tanah yang lain. Di sisi lain, pengembangan biofuel dalam rangka memperoleh bahan baker alternatif terus dilakukan di berbagai negara. Melalui Peraturan Presiden No.1 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, menetapkan jarak pagar (Jatropha curcas L.) sebagai salah satu sumber bahan bakar nabati (BBN). Pengusahaan tanaman jarak pagar sebagai sumber bahan bakar tidak akan mengganggu penyediaan kebutuhan minyak makan nasional, kebutuhan industri oleokimia dan ekspor crude palm oil (CPO), serta meningkatkan keamanan lingkungan melalui pengurangan produksi polutan dari penggunaan bahan bakar fosil

    Analisis Integrasi Dan Stabilitas Gen Peroksidase (Perl) Pada Tanaman Tembakau (Nicotiana Tabacum) Kultivar SR1 Transgenik

    No full text
    Peroksidase merupakan salah satu enzim yang bekerja dalam sistem pertahanan diri tumbuhan. Gen peroksidase dari kedelai kultivar Lumut (PerL) yang dipautkan dengan gen hpt telah diintroduksikan ke tanaman tembakau (Nicotiana tabacum) kultivar SR1 sehingga menghasilkan tanaman transgenik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi gen PerL dan pewarisan gen hpt pada tanaman tembakau (N.tabacum) kultivar SR1 transgenik putatif. Analisis integrasi menggunakan PCR (Polymerase Chain Reaction) dilakukan untuk mengkonfirmasi keberhasilan integrasi gen PerL di dalam genom tanaman transgenik. Analisis integrasi PerL menggunakan primer 35S-F dan Atprx-R menunjukkan bahwa 6 tanaman transgenik putatif generasi pertama (T0) mengandung gen PerL di bawah kendali promotor 35S CaMV. Analisis segregasi transgen dengan Khi-kuadrat menunjukkan bahwa gen hpt yang dipautkan dengan gen PerL diwariskan ke N. tabacum transgenik generasi kedua (T1) namun tidak mengikuti pola segregasi Mendel untuk satu atau dua gen bebas. Hal ini mengindikasikan terjadinya lebih dari dua kopi gen yang terintegrasi di dalam genom tanaman

    Introduksi Gen Dengan Perantara Agrobacterium Tumefaciens Dan Performa Rumput Laut Kappaphycus Alvarezii Transgenik Mmcu/Zn-Sod

    No full text
    Rumput laut Kappaphycus alvarezii merupakan salah satu komoditas budidaya laut andalan Indonesia. Masalah serius yang masih sering dihadapi dalam budidaya Kappaphycus alvarezii adalah penurunan hasil panen yang disebabkan oleh penyakit ice-ice (bercak putih). Penyakit ini diawali dengan cekaman sebagai respons terhadap perubahan lingkungan ekstrim yang berlangsung dalam waktu cukup lama. Tujuan penelitian ini adalah (1) mendapatkan metode introduksi gen yang optimal pada Kappaphycus alvarezii, dan (2) menghasilkan K. alvarezii tahan terhadap salinitas rendah dan tinggi dengan mengintroduksi gen penyandi MmCu/Zn-SOD. Penelitian dilakukan dalam tiga tahap. Penelitian tahap pertama dilakukan untuk mendapatkan konsentrasi Agrobacterium tumefaciens OD600, lama waktu inokulasi, dan lama kokultivasi untuk menghasilkan eksplan K. alvarezii transgenik yang membawa gen penyandi MmCu/Zn-SOD. Hasil penelitian tahap pertama menunjukkan bahwa eksplan transgenik ditemukan pada metode transformasi menggunakan OD600 sebesar 0,4 dan 0,5 dengan durasi inokulasi 30 dan 60 menit dan periode kokultivasi 3 dan 4 hari. Efisiensi regenerasi terbesar (46,67%) ditemukan pada perlakuan OD600 sebesar 0,5 dengan durasi inokulasi 30 menit dan lama waktu kokultivasi 4 hari. Namun demikian, efisiensi transformasi dan tunas putatif tertinggi diperoleh pada durasi inokulasi 60 menit, lama waktu kokultivasi 3 hari, dan OD600 sebesar 0,5. Metode tersebut menghasilkan efisiensi transformasi dan efisiensi tunas putatif masing-masing 100%. Analisis PCR menunjukkan adanya pita DNA produk amplifikasi pada eksplan transgenik yang membuktikan bahwa gen penyandi MmCu/Zn-SOD berhasil diintroduksi ke eksplan K. alvarezii. Pada kontrol non-transgenik, tidak ada produk amplifikasi PCR dan memiliki efisiensi regenerasi sebesar 33,33%. Jumlah eksplan transgenik yang diperoleh relatif sedikit, yakni sembilan (9) eksplan. Pada penelitian tahap kedua, perbaikan metode introduksi gen dilakukan untuk meningkatkan efektifitas transgenesis dengan menggunakan media ko-kultivasi, media pemulihan dan lama waktu pemulihan berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode terbaik adalah menggunakan media kokultivasi dan pemulihan cair dengan lama pemulihan 10 hari. Pada perlakuan tersebut diperoleh persentase transformasi yang tinggi (90%), efisiensi regenerasi 90%, 100% efisiensi tunas putatif, dan 100% tunas transgenik. Total jumlah eksplan transgenik yang diperoleh adalah 75,0% (30 dari 40 eksplan putatif), sedangkan eksplan non-transgenik rumput laut tidak menunjukkan produk amplifikasi. Penelitian tahap ketiga dilakukan untuk menguji kemampuan adaptasi eksplan transgenik yang membawa gen penyandi MmCu/Zn-SOD terhadap cekaman salinitas rendah (15 g/L) dan tinggi (45 g/L) selama 14 hari uji tantang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksplan transgenik toleran terhadap salinitas rendah, dan salinitas tinggi dengan 100% hidup, sedangkan eksplan non-transgenik semuanya mati. Sebagai kesimpulan adalah optimalisasi metode introduksi gen telah diperoleh untuk K. alvarezii, dan introduksi gen penyandi MmCu/Zn-SOD dapat meningkatkan daya adaptasi K. alvarezii terhadap cekaman salinitas. Pada penelitian selanjutnya, perlu dilakukan analisis ekspresi dan pola integrasi gen penyandi MmCu/Zn-SOD yang dapat menjelaskan perbedaan kemampuan adaptasi antar eksplan K. alvarezii transgenik. Selain itu, mekanisme kerja MmCu/Zn-SOD pada K. alvarezii transgenik juga menarik untuk diteliti

    Seleksi Cendawan Potensial Penghasil Enzim Endoglukanase (Karboksimetil Selulase) dan Isolasi Gen Penyandinya

    Get PDF
    Selulosa merupakan sumber daya terbarukan yang paling berlimpah di alam. Secara enzimatik, selulosa dapat dihidrolisis oleh kerja sinergis tiga tipe enzim selulase, yaitu endoglukanase, eksoglukanase/selobiohidrolase dan glukosidase. Kelompok cendawan berfilamen, terutama Aspergillus dan Trichoderma diketahui merupakan organisme penghasil selulase yang efisien Penelitian ini bertujuan untuk melakukan skrining terhadap enzim endoglukanase atau karboksimetil selulase (CMCase) dari beberapa isolat Aspergillus niger dan Trichoderma koleksi Bagian Mikologi Departemen Biologi F.MIPA Institut Pertanian Bogor dan Pusat Penelitian Sumber Daya Hayati dan Bioteknologi Institut Pertanian Bogor serta mengisolasi dan mengkarakterisasi gen penyandi endoglukanase dari isolat cendawan potensial terpilih. Seleksi endoglukanase dilakukan dengan skrining pada media agar CMC menggunakan pewarnaan congo red dan pengujian aktivitas enzim menggunakan metode DNS (asam dinitrosalisilat). T. reesei digunakan sebagai isolat standar dari aktivitas enzim endoglukanase. Isolat potensial terpilih selanjutnya digunakan untuk isolasi gen penyandi endoglukanase. Daerah coding sequence (CDS) diisolasi menggunakan RT-PCR dengan primer spesifik EAF (5’-CTCTAACGCCCAACA TGAAG-‘3) dan EAR (5’-TCTAGAACCCTAGTTGACACTGG-‘3) dari RNA total. Produk amplifikasi yang diharapkan ialah sebesar 743 bp. Gen eglA yang diperoleh selanjutnya diklon ke dalam plasmid pGEMT-Easy dan diintroduksikan ke dalam E. coli DH5α. Hasil klon kemudian di urutkan nukleotidanya dengan ABI Prism 310 automated DNA sequencer dan dikarakterisasi menggunakan beberapa software yang tersedia secara onlineSelulosa merupakan sumber daya terbarukan yang paling berlimpah di alam. Secara enzimatik, selulosa dapat dihidrolisis oleh kerja sinergis tiga tipe enzim selulase, yaitu endoglukanase, eksoglukanase/selobiohidrolase dan glukosidase. Kelompok cendawan berfilamen, terutama Aspergillus dan Trichoderma diketahui merupakan organisme penghasil selulase yang efisien Penelitian ini bertujuan untuk melakukan skrining terhadap enzim endoglukanase atau karboksimetil selulase (CMCase) dari beberapa isolat Aspergillus niger dan Trichoderma koleksi Bagian Mikologi Departemen Biologi F.MIPA Institut Pertanian Bogor dan Pusat Penelitian Sumber Daya Hayati dan Bioteknologi Institut Pertanian Bogor serta mengisolasi dan mengkarakterisasi gen penyandi endoglukanase dari isolat cendawan potensial terpilih. Seleksi endoglukanase dilakukan dengan skrining pada media agar CMC menggunakan pewarnaan congo red dan pengujian aktivitas enzim menggunakan metode DNS (asam dinitrosalisilat). T. reesei digunakan sebagai isolat standar dari aktivitas enzim endoglukanase. Isolat potensial terpilih selanjutnya digunakan untuk isolasi gen penyandi endoglukanase. Daerah coding sequence (CDS) diisolasi menggunakan RT-PCR dengan primer spesifik EAF (5’-CTCTAACGCCCAACA TGAAG-‘3) dan EAR (5’-TCTAGAACCCTAGTTGACACTGG-‘3) dari RNA total. Produk amplifikasi yang diharapkan ialah sebesar 743 bp. Gen eglA yang diperoleh selanjutnya diklon ke dalam plasmid pGEMT-Easy dan diintroduksikan ke dalam E. coli DH5α. Hasil klon kemudian di urutkan nukleotidanya dengan ABI Prism 310 automated DNA sequencer dan dikarakterisasi menggunakan beberapa software yang tersedia secara onlin

    Perakitan Kentang (Solanum Tuberosum L.) Kultivar Nooksack Transgenik Yang Mengandung Gen Hd3a

    No full text
    Kentang merupakan salah satu bahan pangan utama dunia setelah padi, gandum dan jagung. Berdasarkan data BPS, dari tahun 2013 ke 2014 rata-rata produksi kentang di Indonesia meningkat, namun konsumsi kentang per kapita penduduk di Indonesia menurun. Menurunnya konsumsi kentang ini disebabkan ketersediaan kentang belum mencukupi kebutuhan penduduk di Indonesia. Untuk memenuhi kebutuhan kentang yang meningkat terus, Indonesia mengimpor kentang dari luar negeri. Indonesia saat ini mengimpor semua kentang olahan french fries beku. Nooksack merupakan salah satu kultivar kentang yang cocok untuk produksi kentang olahan french fries beku. Nooksack memiliki kekurangan yaitu produksi umbi yang rendah dan masa dormansi yang panjang. Rendahnya produksi umbi kultivar Nooksack dapat diatasi dengan teknik rekayasa genetika dengan menggunakan gen Hd3a. Gen Hd3a menyandi protein Hd3a yang menginduksi pembungaan pada padi, jarak pagar, Nicotiana benthamiana, Saussurea involucrate dan kentang. Pada kentang kultivar Andigena, selain menginduksi pembungaan, Hd3a juga menginduksi pembentukan umbi. Penelitian ini bertujuan untuk merakit tanaman kentang (Solanum tuberosum L.) kultivar Nooksack transgenik yang mengandung Hd3a yang diisolasi dari padi di bawah kendali promoter 35S CaMV. Transformasi genetik kentang dilakukan melalui metode kokultivasi dengan menggunakan A. tumefaciens LBA 4404. Transformasi terhadap 115 eksplan yang berupa ruas tanpa mata tunas menghasilkan efisiensi transformasi sebesar 21.25% dan hasil efisiensi regenerasi sebesar 10% serta 8 tunas transgenik putatif. Analisis terhadap 6 tunas transgenik putatif dilakukan dengan menggunakan PCR dengan primer 35S F dan Hd-R. Analisis PCR menunjukkan bahwa keenam tanaman tersebut merupakan kentang transgenik yang mengandung gen Hd3a di bawah kendali promoter 35S CaMV. Tanaman transgenik tersebut telah berhasil diaklimatisasi di rumah kaca dan menghasilkan umbi G0

    Analisis Pewarisan Gen Mamt2 Penyandi Metallothionein Tipe 2 dan Gen Hpt Penyandi Higromisin Fosfotransferase pada Tanaman Padi (Oryza Sativa L.) Kultivar Kasalath Transgenik

    No full text
    Ekspresi gen MaMt2 penyandi metallothionein tipe 2 diinduksi oleh cekaman aluminium pada Melastoma malabathricum. Gen MaMt2 di bawah kendali promoter ubiquitin dan terminator Nos yang dipautkan dengan gen hpt penyandi higromisin fosfotransferase telah berhasil diintroduksikan ke dalam genom tanaman padi (Oryza sativa L.) kultivar Kasalath dan menghasilkan tanaman padi transgenik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pewarisan gen MaMt2 dan gen hpt pada tanaman padi kultivar Kasalath transgenik. Analisis resistensi terhadap higromisin pada generasi T1 menunjukkan bahwa gen hpt penyandi sifat resistensi terhadap higromisin diwariskan dari generasi T0 ke generasi T1 dengan pola pewarisan yang tidak mengikuti Hukum Mendel untuk satu dan dua gen. Analisis molekuler dengan PCR menggunakan tiga pasang primer menunjukkan bahwa lima tanaman generasi T1 yang yang resisten terhadap higromisin adalah transgenik yang mengandung gen MaMt2 di bawah kendali promoter ubiquitin dan terminator Nos. Pola segregasi resistensi terhadap higromisin pada generasi T1 mengindikasikan bahwa gen hpt dan MaMt2 yang terintegrasi di dalam genom tanaman padi transgenik kemungkinan berjumlah lebih dari dua kopi gen

    Rekayasa Genetik Tembakau (Nicotiana Tabacum L. Cv. Sr1) Dan Jarak Pagar (Jatropha Curcas L.) Dengan Gen Inhibitor Of Meristem Activity (Ima)

    No full text
    Tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) merupakan salah satu tanaman yang pada awalnya merupakan tanaman yang digunakan sebagai tanaman pagar. Tanaman ini berpotensi sebagai penghasil bahan baku energi terbarukan. Keuntungan jarak pagar sebagai sumber bahan biodiesel antara lain, 1) minyak jarak pagar tidak termasuk dalam kategori minyak makan (non edible oil) sehingga pemanfaatan jarak pagar sebagai bahan baku biodiesel tidak akan mengganggu penyediaan kebutuhan minyak makan nasional, 2) tanaman jarak pagar ini dapat beradaptasi dengan lahan pada kondisi kering (curah hujan <500 mm per tahun), 3) dapat tumbuh pada lahan dengan kesuburan rendah (lahan marjinal dan lahan kritis, 4) biji jarak pagar mengandung minyak dengan rendemen 30–40%. Rendahnya produktivitas tanaman jarak pagar menjadi perhatian utama dalam pemulian tanaman. Rasio bunga betina yang sangat sedikit dibandingkan dengan bunga jantan merupakan salah satu factor pembatas produktivitas. Salah satu strategi untuk meningkatkan kualitas produktivitas jarak pagar yaitu dengan teknologi rekayasa genetika. Metode transformasi merupakan metode yang diaplikasikan untuk mengintroduksikan gen IMA ke tanaman tersebut. Gen Inhibitor of Meristem Activity (IMA). Gen IMA telah diisolasi dari tanaman tomat (Solanum lycopersicum L.) dan telah berhasil dilakukan ekspresi berlebih pada tanaman tomat. Gen IMA berperanan dalam pertumbuhan dan perkembangan pada meristem pucuk, mampu menginduksi pembungaan dan perkembangan ovul. Tujuan penelitian ini adalah dapat mengetahui peranan gen IMA pada pertumbuhan tanaman melalui konstruksi gen dalam vektor ekspresi, analisis gen pada tanaman model tembakau dan tanaman target jarak pagar. Pada penelitian pertama dilakukan konstruksi gen IMA ke dalam vektor ekspresi A. tumefaciens LBA4404. Metode yang digunakan untuk konstruksi adalah metode gateway. Metode ini diawali dengan desain primer spesifik gateway. Konstruksi gen IMA dirancang dengan dua arah yaitu sens dan antisens. Diperoleh koloni A. tumefaciens LBA4404 yang membawa plasmid pGWB402- IMA sens dan antisens. Koloni tersebut dapat digunakan untuk transformasi pada tanaman. Pada penelitian kedua dilakukan introduksi gen IMA ke dalam tanaman tembakau. Gen yang ditransformasi dalam bentuk orientasi sens dan antisens. Tembakau dengan gen IMA sens memberikan ciri morfologi yang lebih kecil dibandingkan dengan tanaman non transgenik. Sedangkan gen IMA antisens memperlihatkan ukuran morfologi tanaman yang lebih besar dari tanaman non transgenik. Berdasarkan hasil PCR tanaman transgenik sens dan antisens menunjukkan hasil yang positif membawa gen IMA. Analisis segregasi pada biji tanaman T0 dan T1 berdasarkan sifat ketahanan terhadap antibiotik pada masingmasing tanaman. Hasilnya diperoleh data 3:1 berdasarkan hasil analisis chisquare. Ini mengindikasikan bahwa gen IMA diwariskan pada turunan kedua. Pada penelitian ketiga dilakukan introduksi gen IMA sens dan antisens ke tanaman jarak pagar. Tujuannya adalah mengintroduksi gen IMA sens dan antisens ke tanaman Jarak Pagar. Transformasi berhasil dilakukan pada tanaman jarak pagar dengan gen IMA sens berdasarkan hasil analisis PCR. Tetapi dalam kultur in vitro menghadapi kendala pada proses pengakaran dan aklimatisasi. Diharapkan pada penelitian selanjutnya dapat ditemukan metode yang baik untuk pengakaran dan aklimatisasi

    Produksi Inokulum Pupuk Hayati Cendawan Aspergillus niger Skala Lapang Menggunakan Limbah Organik Pertanian sebagai Karier

    Get PDF
    Exploiting microorganism become one of alternatives in using biofertilizer. Aspergillus niger represent one of examples of fungi which can be used as an agent of biofertilizer. The aim of this research was to produce a good quality of A. niger biofertilizer inoculum for field application using agricultural organic waste as a carrier. The research activities were carried out in two stages. First stage was screened the 5 agricultural organic wastes, namely corn cob, rice straw, banana stem, organic market waste, and sorghum stem as fungal growth medium. Split corn was used as a control treatment. Spore and propagule numbers were used as parameter measured for screening activities. Observation was conducted in 20, 40 and 60 days after inoculation. Second stage of the research was to analyze the quality of dried inoculum produced from the first stage of experiment that was kept in 0, 1, 2 and 3 months at room temperature. The parameter measured were spore and propagule numbers, root colonization, and growth respon. Rice and maize were used as tested crops. The A. niger grew very well in the all organic wastes tested. Amoung the 5 wastes tested, organic market waste was the best medium followed by sorghum stem, banana stem, corn cob and rice straw. The propagule obtained was higher than the spore number. The heating and the grinding treatments reduced the quality of inoculum. Reduction of spore number was 4,3%/g media and the propagule was 15,0%/g media compared with the control treatment. This indicated that viability of spore was better than miselia. Based on the numbers of spore and propagule productions indicated that inoculum quality obtained from organic market waste was better than the control treatment (split corn). The 3 months storage treatment had no effect on survival of the fungi obtained from organic market waste. Similarly, physical characteristic of carrier media. However, the 3 months storage treatment reduced the capability of the fungi in colonizing and improving plant growth. Similar results were also observed in the inoculum produced from split corn as a control treatment. The effect of organic matter derived from organic market waste was different from that split corn. Organic market waste increased the growth of rice and maize crops, whereas split corn reduce the growth of both crops
    corecore