3 research outputs found
Drama Tari Gagar Mayang ISI Surakarta (Limaran)
Sulit untuk memaksakan cinta. Cinta tidak semata-mata hadir begitu saja. Cinta hanya menimbulkan rasa sakit dan amarah. Amarah yang tak dapat dibendung hanya akan menimbulkan sengsara. Harapan akan cinta yang tulus kini telah sirna. Merupakan sajian drama tari dari ujian koreografi semester 6 pada Jurusan Tari ISI Surakarta.
Terdiri dari DEWI LIMARAN: Adian Isnatika Inabela, RAJA MALING KENTIRI: Aran Ditio Fathoni, JOKO LINTANG: Fajar Tri Asmoko, PASUKAN KIDANG: Eka Putri Ananda, Brigitha Marselia, Siti Khasanah, Tia Tri Utami, Rosita Anggun, Handika May C. P., Tri Saraswati, Anestri Sulanjari, PEMBURU: Oktavian Kusuma D.,Erica Nityananda Sonya, Fadilla Febry Erawati, Dina Rosita, Lenni Wulandari, Wilujeng Dyah Ayu Arimbi, Wakhidatul Nur Utami, Dini Putri Nur M., Paras Tri Utami, Elsa Kurnia Murti, PENANGGUNG JAWAB MUSIK: Asep Susanto, GENDER & KENDANG: Asep Susanto, DEMUNG & GAMBANG: Rano Prasetyo, SAXOPHONE & SARON: Nanang Sulistyo, VOKAL: Ardi Gunawan, Yenny Arama, KEMPUL: Renzia Fitra, BONANG: Yudha, SARON: Angger Widiasmara, BIOLA: Julio
BENTUK SAJIAN TARI TOPENG NGGAINAH KARYA UMI ARDIYAHDI BLORA
Tari Topeng Nggainah merupakan tari kreasi baru yang berjenis tari kelompok dengan penari perempuan dan laki-laki atas dasar ide garap tari yang terinspirasi pada tokoh Nggainah dalam tari Barongan Blora. Umi Ardiyah mengembangkan bentuk sajian tari Topeng Nggainah, dengan ditambahkan tokoh Mbok Nggainah, Dewi Sekartaji dan Singo Barong serta diberikan alur dramatik Dewi Sekartaji yang menyamar menjadi tokoh Nggainah guna melindungi diri dari kejaran Singo Barong.
Penelitian ini menggunakan landasan teori tentang bentuk yang diungkapkan oleh Soedarsono dan teori proses penciptaan tari yang diungkapkan oleh Slamet MD. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, merupakan metode penelitian yang menekankan pada telaah mendalam suatu fenomena yang terjadi dengan melakukan wawancara, dokumentasi, pengamatan langsung, pengamatan tidak langsung dan studi pustaka.
Hasil penelitian ini dapat diperoleh gambaran yang berkaitan dengan bentuk sajian tari Topeng Nggainah yang sampai saat ini masih hidup dan berkembang di kalangan masyarakat Blora. Perkembangan tari Topeng Nggainah ini terjadi karena terdapat 2 (dua) faktor pendukung di dalamnya. Pertama faktor internal yang meliputi bentuk kesenian rakyat yang dimiliki masyarakat Blora, tari Barongan yang sudah merakyat di Kabupaten Blora, seniman pelaku, dan masyarakat Blora. Kedua faktor eksternal yang meliputi letak geografis Blora di antara Jawa Tengah dan Jawa Timur, pengaruh budaya interlokal terhadap budaya lokal Blora dan kegiatan pariwisata di luar Blora yang berpengaruh dalam hal ekonomi. Hal inilah yang membuat tari Topeng Nggainah masih dilestarikan hingga kini, selain itu tari Topeng Nggainah juga digunakan sebagai materi pembelajaran extra kurikuler baik di Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) maupun untuk umum
Making vision into power : Britain's acquisition of the world's first radar-based integrated air defence system 1935 - 1941
This thesis represents the first application of a current conceptual model of defence acquisition to analyse the historical process, the 1935 - 1941 British acquisition of an integrated air defence system pivoted upon the innovative technology of radar. For successful acquisition of a military capability, the model posits that balanced attention must be focused acoss eight 'lines of developmen' - not only equipment, but also doctrine and concepts, logistics, structures, personnel, organisation, training and information with an overarching requirement for interoperability. This thesis contrasts what turned out to be a successful acquisition, of radar to achive air interception capability by day in the Battle of Britain, with less successful acquisition, or radar to achieve the same capability at night, where an effective system arrived too late to ward off the Blitz. The results establish the validity of the model and its attendant lines of development concepts, and furnish new insights into acquisition processes and military history. Acquisition lessons are derived for the capability-based involvement of industry, for the experience and personality necessary for key managers at different 'life stages' of an acquisition and for the avoidance of over-rapid 'dysfunctional diffusion' of innovative technologies. Historical insights for the Battle of Britain include the sub-optimal performance, for trivial reasons, of key South Coast radars, and the critical importance of the human elements of the radar-based air defence system. For the Blitz, airborne radar hardware has previously been identified as a key problem, whereas research here exposes the greater need for accurate ground control radar, the sound selection and training of pilots and operators in new tactics, and provision of equipment maintainers and test gear. New evidence illustrates that pursuit of an alternative to radar significantly delayed the optimal solution, and throws fresh light both on personalities and on development process management
