24 research outputs found

    Density of Green Mussels (Perna viridis) and Its Impact on Growth and Lead Accumulation in Polyculture Systems in Tropical Waters

    No full text
    Aims: Green mussels (Perna viridis) are filter-feeding organisms known for accumulating heavy metals, including lead (Pb), in their tissues, making them valuable bioindicators of water quality. Study Design: This study aimed to assess the impact of different stocking densities on the growth and lead accumulation in Perna viridis. Place and Duration of study: This study was conducted at a traditional pond in Ujungpangkah Subdistrict, Gresik, East Java, over a period of 21 days, from June 27 to July 18, 2024. Methodology: A Completely Randomized Design (CRD) was employed with three treatment groups: Treatment A (10 mussels/m²), Treatment B (20 mussels/m²), and Treatment C (30 mussels/m²). The parameters measured included the absolute flesh width, daily growth rate, and lead content in the mussels. Result: Statistical analysis using Analysis of Variance (ANOVA) revealed no significant differences in the daily growth rate among the treatments (p > 0.05), suggesting that stocking density did not significantly influence growth. However, significant differences in the absolute flesh width were observed, with Treatment C showing the largest absolute flesh width at higher density. Additionally, lead accumulation increased with stocking density, with mussels in Treatment C accumulating the highest levels of lead (1.14 mg/L). This suggests that, while the growth rate was unaffected by density, the absolute flesh width are influenced by stocking density. The bioaccumulation of lead in mussels was also interpreted descriptively, considering the mussels\u27 need for a suitable environment to mitigate environmental stressors. The findings underline the importance of considering both the growth and environmental health of the mussels, especially in relation to density management to prevent heavy metal accumulation

    Identifikasi Senyawa Fitokimia Secara Kualitatif dari Ekstrak Etanol Daun Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz & Pav.)

    Get PDF
    Daun sirih merah (Piper Crocatum Ruiz & Pav.) salah satu tanaman yang memiliki potensi sebagai tanaman herbal karena banyak mengandung senyawa fitokimia. Senyawa fitokimia dalam tanaman memiliki peran dalam obat dan kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeidentifikasi senyawa fitokimia yang ada pada ekstrak daun sirih merah. Bahan utama yang digunakan adalah daun sirih merah kering yang sudah dihaluskan menjadi serbuk (simplisia). Daun sirih merah dikeringkan dengan menggunakan oven selama 12 jam dengan suhu 65 oC. Metode yang digunakan dalam penelitian analisis kualitatif untuk mendeteksi keberadaan senyawa fitokimia dalam daun sirih merah. Teknik ekstraksi yang digunakan adalah maserasi dengan menggunakan pelarut etanol yang memiliki konsentrasi 50%, 70% dan 90%. Hasil penelitian menunjukkan adanya senyawa fitokimia pada ekstrak daun sirih merah setelah dianalisis menggunakan teknik kualitatif. Senyawa fitokimia yang terdapat pada ekstrak daun sirih merah meliputi tanin, flavonoid, polifenol, saponin, alkoloid dan metabolit sekunder terpenoid (triterpenoid). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa senyawa fitokimia dapat diketahui dengan melakukan screening awal menggunakan reagen tertentu sesuai dengan jenis senyawa yang diidentifikasi. Disarankan untuk penelitian lebih lanjut tentang analisis kuantitatif pada senyawa tersebut

    LEDA (Eucalyptus Deglupta Blume) Increment on Various Dimensions of Growth

    Get PDF
    Setting stands to produce the optimal growth of Leda (Eucalyptus deglupta Blume) is necessary to achieve maximum and sustenable results. The study aims to determine the growth and accretion of growth (increment) of Leda (Eucalyptus deglupta Blume) stands. The research was conducted in the area of Industrial Forest Plantation Inhutani Company Gowa-Maros, South Sulawesi, on Leda stands aged 1 year, 2 years, 3 years, 5 years, and 7 years. The research was conducted using survey methods and purposive sampling techniques that chose age-class stands at the research site. The data was gathered through the 15 sample plots, each measuring 0.04 ha (20 x 20 m), by striving in a particular way so that the sample plot represents the growth conditions of the stand. The growth analysis of the Leda stands used Richard’s Model equation, which was then extrapolated to obtain the increment values of CAI and MAI at the dimensions of height, diameter, and area of the based area. The results showed that the growth of the 7-year-old Leda reached a height of 17.20 m, with a Mean Annual Increment (MAI) of 2.46 m and a Current Annual Increment (CAI) of 2.00 m. The diameter of the 7-year-old Leda’s trunk reached a diameter of 14.60 cm, with a Mean Annual Increment (MAI) of 2.09 cm and a Current Annual Increment (CAI) of 2.30 cm. The basal Area (BA) of 7-year-old Leda reached 15.6 cm2. The mean accretion of the based area (MAI) was 2.23 cm2, and the annual accretion of the based area (CAI) was 2.40 cm2. The diameter of the 10-year-old Leda’s trunk reached tree level with a trunk diameter of 21.1 cm

    PENDAMPINGAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT Gracilaria verrucosa PADA SISWA MADRASAH ALIYAH (MA) LAMONGAN

    Get PDF
    Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dengan tujuan memberikan pendampingan dan edukasi kepada siswa-siswi Madrasah Aliyah (MA) di Lamongan mengenai budidaya rumput laut Gracilaria verrucosa. Melalui kegiatan ini, tim pelaksana berupaya menumbuhkan pengetahuan sekaligus keterampilan praktis siswa dalam bidang akuakultur, khususnya terkait pengelolaan dan pengembangan komoditas unggulan perikanan pesisir. Pelaksanaan kegiatan diawali dengan sosialisasi dan penyuluhan, yang berfokus pada pemahaman mengenai potensi ekonomi dan manfaat ekologis dari budidaya rumput laut. Selanjutnya, dilakukan pelatihan teknis budidaya yang mencakup tahapan persiapan lahan, pemilihan bibit unggul, teknik penanaman, pemeliharaan, hingga proses panen. Setelah mendapatkan bekal teori, siswa diberikan kesempatan untuk melakukan praktik langsung di lapangan, sehingga mereka dapat mengalami dan memahami proses budidaya secara nyata. Tahap akhir kegiatan adalah monitoring dan evaluasi, yang bertujuan menilai efektivitas pelatihan serta kesiapan siswa dalam mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh secara mandiri di lingkungan masing-masing. Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan tidak hanya memperoleh wawasan aplikatif di bidang perikanan budidaya, tetapi juga memiliki kesadaran akan potensi ekonomi daerah pesisir. Selain itu, kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat kewirausahaan di kalangan siswa, sehingga mereka mampu berkontribusi terhadap pemberdayaan ekonomi berbasis sumber daya lokal secara berkelanjutan

    PENDAMPINGAN PENERAPAN TEKNOLOGI BIOREMEDIASI UNTUK BUDIDAYA IKAN DI SMA KABUPATEN GRESIK

    Get PDF
    Kegiatan Pengabdian dengan tema penerapan teknologi bioremediasi untuk budidaya ikan bertujuan untuk memberikan penyuluhan dan pelatihan kepada siswa SMA tentang teknik budidaya ikan lele menggunakan kolam bundar dengan teknologi bioremediasi. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara tim pelaksana yang terdiri dari dosen dan mahasiswa Program studi budidaya perikanan Universitas Muhammadiyah Gresik dengan pengetahuan dan keahlian dalam berbagai aspek budidaya ikan lele. Kegiatan ini mencakup berbagai aspek, termasuk: Penyuluhan tentang prinsip - prinsip dasar budidaya ikan lele; Demonstrasi praktis dalam pembuatan dan pengelolaan kolam bundar; Penyampaian teknologi bioremediasi sebagai teknik yang ramah lingkungan dalam budidaya ikan. Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah peningkatan pengetahuan dan keterampilan siswa SMA dalam budidaya ikan lele menggunakan teknologi bioremediasi. Dengan pengetahuan yang diperoleh, diharapkan dapat meningkatkan pemahaman budidaya ikan lele yang ramah lingkungan, serta mendukung jiwa kewirausahaan di usia muda. Melalui penyuluhan dan pelatihan ini, tim pengabdian berkomitmen untuk mendukung perkembangan budidaya ikan lele yang berkelanjutan serta memberikan kontribusi positif

    Quantitative and Qualitative Analysis of Protein Content in Moringa Leaves (Moringa oleifera L.)

    Get PDF
    Protein is one of the macronutrients that have an important role in the formation of biomolecules. Protein can be found in various plants, one of which is Moringa leaves. Moringa leaves (Moringa oleifera L.) are proven to be effective in treating various diseases, including diabetes, hepatitis, heart disease, and high cholesterol. The purpose of this study was to see if there was protein content in Moringa leaves (Moringa oleifera L.) and how much protein content in Moringa leaves. The parameters used are qualitative tests and quantitative tests, qualitative tests are carried out using the biuret method to determine the presence or absence of protein content in Moringa leaves, while quantitative tests are carried out using spectrophotometric methods to determine protein levels contained in Moringa leaves. From the research results, it is known that Moringa (Moringa oleifera L.) leaves contain protein with a protein content of 2,783; 2,657; 2,547 mg/50g

    Pengolahan Udang Vanname PDTO Di PT Misaja Mitra, Pati-Jawa Tengah

    Get PDF
    Udang vanname merupakan salah satu komoditas perikanan yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia. Salah satu olahan udang vanname yang digemari adalah udang beku PDTO (Peeled Deveined Tail On). PT. Misaja Mitra Pati, Jawa Tengah merupakan salah satu perusahaan yang mengolah udang beku PDTO. Tujuan dilakukan kegiatan ini adalah untuk mengetahui alur proses pengolahan udang beku PDTO, mutu bahan baku dan mutu produk, penerapan metode IQF (Individually Quick Frozen) selama proses pengolahan. Kegiatan ini menggunakan metode survey, dengan mengikuti secara langsung seluruh alur proses mulai dari penerimaan bahan baku sampai distribusi. Metode analisa data yang digunakan adalah metode deskriptif. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan bahwa alur proses pengolahan udang vanname beku di PT. Misaja Mitra, Pati telah memenuhi standar perusahaan, dan telah menerapkan rantai dingin dengan baik sehingga suhu udang bahan baku 5°C. Metode IQF menggunakan hemburan udara dingin sehingga dapat mempersingkat waktu pembekuan, kadar air benar –benar habis dan kapasitas produksi besar

    Proses pembekuan udang bentuk peeled deveined untuk produk Individual Quick Freezing (IQF) di PT. Misaja Mitra Pati Jawa Tengah

    Get PDF
    Komoditas hasil perikanan merupakan salah satu komoditas penting sebagai sub sektor yang memiliki peran dalam peningkatan ekonomi pada negara Indonesia. Udang merupakan salah satu komoditas hasil perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Salah satu jenis udang yang banyak dibudidayakan di Indonesia dan memiliki kualitas expor tinggi adalah udang vannamei (Litopenaeus vannamei). Komoditas udang merupakan nilai ekspor terbesar di Indonesia, dengan nilai ekspor USD 1 miliar atau 40,1% dari total nilai ekspor). Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memperoleh pengetahuan dan aplikatif secara langsung proses produksi udang beku bentuk peeled and deveined (PD) untuk produk individual quick freezing (IQF). Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah observasi pasrtisipan. Data yang diperoleh kemudian dilakukan pengolahan dengan tabulasi, dan deskriptif data. Hasil studi menunjukan terdapat beberapa tahapan dalam pengolahan udang beku IQF yaitu penerimaan bahan baku, pemotongan kepala deheading, pencucian I, sortasi ukuran grading, pengupasan PD dan pembersihan usus, pencucian II, pengecekan ulang corect material, perendaman soaking dan chiling, pembekuan IQF, penimbangan I, penggelasan / glazzing, penimbangan II, pengemasan inner plastic polyetilen dan sealer, pendeteksian logam metal detector, rotgen X-Ray, pengemasan master carton, penyimpanan beku cold storage, dan ekspor atau pendistribusian. Dari hasil studi didapatkan kesimpulan bahwa penerapan proses produksi yang ada di PT Misaja Mitra sudah sesuai dengan regulasi yang diwajibkan oleh pemerintah untuk mencapai komoditas yang aman untuk dikonsumsi. Semua operasional produksi dapat dikendalikan sesuai dengan standar yang diwajibkan

    PENGARUH FREKUENSI PENCUCIAN BERAS TERHADAP KADAR VITAMIN B1, SERAT KASAR, DAN TOTAL GULA PADA NASI

    Get PDF
    Beras merupakan kalori utama yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Dalam 100 g beras mengandung 6 – 14 g protein, 0,5 – 1,08 g total lemak, 0,07 – 0,58 mg vitamin B1, 0,4 g serat kasar dan 0,05 g total gula. Umumnya beras diolah menjadi nasi melalui proses pencucian dan pemasakan. Pemasakan suhu tinggi dapat mempengaruhi komponen kimia yang tidak tahan panas, sedangkan pencucian juga mempengaruhi komponen kimia larut air. Oleh karena itu, pencucian penting untuk dioptimasi dan ditentukan frekuensi pencuciannya karena pencucian berlebihan dapat mempengaruhi senyawa kimia beras hasil cucian dan pada nasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh frekuensi pencucian beras yang optimum terhadap kadar vitamin B1, serat kasar, dan total gula pada nasi. Penelitian ini terdapat 2 perlakuan yaitu pencucian 2x dan pencucian 4x.  Pencucian 2x memiliki kadar vitamin B1 0,8%, serat kasar 0,41% dan total gula 2,78%. Sedangkan pada pencucian 4x memiliki kadar vitamin B1 0,6%, serat kasar 0,39% dan total gula 2,90%. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa frekuensi pencucian beras dapat mempengaruhi komponen kimia pada nasi. Direkomendasikan pencucian yang baik adalah 2x sebab tidak banyak menurunkan zat gizi pada beras. Sebaiknya tidak melakukan pencucian beras secara berlebih hingga airnya jernih karena dapat menurunkan gizi pada nasi

    Quality of Agar Gracilaria verrucosa Sea Weed with Different Density in Polyculture System

    Get PDF
    The polyculture system was used to increase the productivity of extensive brackish water ponds to produce optimal agar with varying densities of three commodities: milkfish, Vannamei shrimp, and Gracilaria verrucosa. This study aims to obtain the optimal density of the three commodities in extensive brackishwater ponds with polyculture systems to produce the best agar quality for G. verrucosa. The research was conducted in the expanse of the Polyculture System Extensive brackishwater Pond in Lamongan Regency. The study used a Completely Randomized Design (CRD) with 3 density treatments (milkfish m-2 : Vannamei shrimp m-2 : G. verrucosa g m-2), and 3 replicates: A (10 : 10 : 250), B (20 : 20 : 500), and C (30 : 30 : 1000). Statistical analysis uses one way ANOVA (Analysis of Variance), while Tukey's HSD (Honestly Significant Difference) and Path Analysis use Pearson Correlation. The results showed that the best density obtained in treatment A was significantly different from treatments B and C in producing Specific Growth Rate, Absolute Weight, Absolute Length, Carbon Content, and quality of agar rendementing the best of seaweed G. verrucosa. From the path analysis, CNP nutrients and the growth of G. verrucosa seaweed have a strong and very strong influence to improve the quality of agar rendementing G. verrucosa seaweed
    corecore