1,721,002 research outputs found

    Pengelolaan Hama dan Penyakit Padi secara PHT dan Konvensional di Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten.

    No full text
    Pengelolaan hama terpadu (PHT) telah diperkenalkan dan disosialisasikan ke petani Indonesia melalui sekolah lapang PHT sejak awal 90-an. Penelitian ini untuk mengetahui pengelolaan hama penyakit antara petani PHT dan petani konvensional. Penelitian dilakukan di Kecamatan Trucuk, kabupaten Klaten dari Februari sampai Maret 2016. Dua puluh petani PHT dan 20 petani konvensional yang diwawancara. Tidak ada perbedaan yang signifikan pada penggunaan varietas dan jarak tanam antara petani PHT dengan petani konvensional. Petani PHT lebih banyak menggunakan pupuk organik dan lebih sedikit menggunakan pupuk anorganik dibanding petani konvensional. Petani PHT menggunakan pendekatan mekanik untuk mengontrol sedangkan petani konvensional menggunakan mekanik dan kimia. Petani PHT tidak memakai insektisida dan fungisida sintetis dalam pengelolaan hama, sedangkan petani konvensional menggunakan pestisida sintetis. Serangan hama pada lahan petani PHT lebih rendah dibandingkan petani konvensional

    Observation of dieback disease of clove in Semarang and Tegal regencies, Central Java

    No full text
    Cengkih (Syzygium aromaticum L. Merr. & Perry) merupakan tanaman rempah asli Indonesia yang memegang peranan penting dalam pembangunan perkebunan untuk peningkatan devisa negara. Di Indonesia, bunga cengkih kering digunakan terutama untuk bahan baku campuran rokok kretek dan sebagian kecil untuk keperluan industri makanan, minuman, kosmetik dan farmasi. Serangan hama dan penyakit menyebabkan terhambatnya pertumbuhan tanaman cengkih bahkan kematian pada tanaman. Hal ini dapat menurunkan kualitas dan kuantitas produktivitas cengkih. Salah satu penyakit yang menyerang tanaman cengkih dan paling merusak tanaman cengkih yaitu penyakit mati pucuk yang disebabkan oleh Bakteri Pembuluh Kayu Cengkih (BPKC). Penelitian ini dilakukan untuk mengamati kondisi serangan penyakit mati pucuk di lapangan dan mengetahui pengaruh praktek-praktek budidaya serta kemungkinan penyebab penyakit mati pucuk. Pengamatan dilakukan di dua kabupaten yaitu Kabupaten Semarang dan Tegal, Provinsi Jawa Tengah. Pengamatan dilakukan pada pertanaman cengkih yang berada di daerah perbukitan dan daerah sekitar pemukiman, kemudian dihitung kejadian dan keparahan gejala penyakit mati pucuk, serta mengamati keberadaan penggerek dan kanker batang. Sampel gejala penyakit mati pucuk diambil dan diamati di laboratorium untuk melihat keberadaan bakterinya. Kejadian serangan penyakit mati pucuk di Kabupaten Tegal lebih tinggi dibandingkan Kabupaten Semarang sedangkan keparahan serangan penyakit mati pucuk di Kabupaten Semarang lebih tinggi dibanding Kabupaten Tegal. Penyakit BPKC tidak hanya disebabkan oleh bakteri saja tetapi ada peran OPT lain yaitu penggerek dan kanker batangCloves (Syzygium aromaticum L. Merr. & Perry) is an Indonesia origin spices, has important role in the development of plantations to increase state revenues. In Indonesia, dried cloves used primarily as raw material mixture of cigarettes and a small portion for the purposes of the food industry, cosmetic and pharmaceutical. Pests and diseases causes inhibition of cloves growth and death. It can decrease the quality and quantity of cloves productivity. One of the diseases which can infect cloves is called dieback caused by Wooden Vessels Bacteria Cloves (in indonesian is BPKC). The purpose of this study were to observe the dieback disease condition in the field, and determine the influence of cultivation practices on the diseases. Observations were ca rried out in districts of Semarang and districts of Tegal in Central Java Province. Observations were made on the plantation in hilly areas and residential areas, and then were be calculated the incidence and severity of dieback symptoms. The existence of stem canker and stem borer symptoms were also observed which might be accompanied to dieback disease. Symptoms of dieback samples were detection of bacteria in the laboratory. Dieback incidence in district of Tegal is higher than the district of Semarang while dieback severity in district of Semarang is higher than the district of Tegal. Bosed on field observation and laboratory detection, the dieback symptoms on clove in those areas were not only caused by bacteria, but stem canker and stem borer were also have a role on the development of the symptom

    Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) Penting pada buah kakao di Kabupaten Nagekeo Propinsi Nusa Tenggara Timur

    No full text
    Kakao (Theobroma cacao L.) adalah salah satu komoditas strategis dalam mendukung perekonomian di Nagekeo. Masalah perkebunan kakao di Nagekeo adalah sebagian besar tanaman kakao sudah tua dan kurang produktif. Kurangnya pemeliharaan intensif yang menyebabkan sebagian besar tanaman kakao petani telah terserang hama dan penyakit seperti busuk buah, Helopeltis sp dan penggerek buah kakao. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hama dan penyakit penting serta intensitas serangan pada buah kakao, mengetahui tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan petani dalam mengelola hama dan penyakit tanaman kakao serta mengetahui program pemerintah dalam upaya pengembangan dan perlindungan tanaman kakao di Kabupaten Nagekeo. Metode penelitian menggunakan purporsive sampling data, observasi dan studi literatur. Parameter yang diamati mencakup tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan petani kakao Nagekeo dengan mengisi kuesioner. Pengamatan langsung dilakukan terhadap jenis hama dan penyakit serta intensitas serangan pada buah kakao. Hama dan penyakit penting buah kakao yang ditemukan di Kabupaten Nagekeo adalah penggerek buah kakao, kepik pengisap kakao Helopeltis sp dan busuk buah kakao. Intensitas serangan hama penggerek buah kakao tertinggi di Kecamatan Boawae sebesar 6.11% yang tidak berbeda dengan Kecamatan Keo Tengah sebesar 4.76% sedangkan Kecamatan Mauponggo intensitasnya hanya mencapai 2.35%. Persentase buah kakao terserang hama Helopeltis sp yang terjadi di Kecamatan Boawae yaitu 23.95% yang tidak berbeda dengan Kecamatan Keo Tengah yaitu 20.95% dan Kecamatan Mauponggo sebesar 20.10%. Persentase tanaman terserang penyakit busuk buah Phytophthora palmivora paling tinggi terjadi di Kecamatan Keo Tengah yaitu 5.11% yang tidak berbeda dengan Kecamatan Boawae sebesar 1.28%. Petani kakao di Kecamatan Mauponggo memiliki pengetahuan baik jika dibandingkan dengan dua kecamatan lain karena pengetahuan yang diterima oleh petani di ketiga kecamatan tersebut beragam namun sikap dan tindakan sama dalam pengelolaan OPT. Hal ini diduga karena kegiatan budidaya masih mengikuti kebiasaan bertani orang tua terdahulu Pengelolaan tanaman kakao oleh petani dilakukan tidak sesuai dengan standar budidaya kakao. Mayoritas petani mengelola tanaman hanya berdasarkan kebiasaan petani setempat. Kegiatan penyuluhan, pendampingan pasca konseling, dan penyebaran informasi tentang perkembangan teknologi mengenai IPM harus dilanjutkan. Implementasi kebijakan program pengelolaan hama di Kabupaten Nagekeo belum efektif, terutama dalam hal penggunaan benih bersertifikat, pengendalian hama dan penggunaan pestisida di tingkat petani

    Pengaruh Plant Growth Promoting Rhizobacteria terhadap Biologi dan Statistik Demografi Aphis glycines Matsumura (Hemiptera: Aphididae) pada Tanaman Kedelai

    No full text
    On various plants, Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) application known can suppress the development of plant pest population. This research aimed at PGPR effects against biology and statistic demographic of Aphis glycines Matsumura (Hemiptera: Aphididae) on soybean plant. This research conducted in the Department of Plant Protection, Faculty of Agriculture, Bogor Agricultural University. PGPR application, which consists of Bacillus polymyxa and Pseudomonas fluorescens can extend second instar nymphs stadia and life cycle of A. glycines. PGPR application also can effect to statistic demographic of Aphis glycines. The gross reproduction rate, net reproduction rate, and intrinsic growth rate of A. glicines on PGPR application plant is lower than non PGPR application plant. Moreover, PGPR application plant can extend long generation and doubling time of A. glycines. The use of PGPR can inhibits the development of A. glycines population on soybean plant

    Statistik Demografi Bemisia tabaci Gennadius (Hemiptera: Aleyrodidae) pada Tanaman Kedelai Varietas Edamame dan Wilis.

    No full text
    B. tabaci is polyphagous insect and has approximately 600 host plants. B. tabaci is an important pest on soybean. These researches were to study the biology and statistic demographic of B. tabaci on two soybean varieties, Edamame and Wilis. These researches were conducted at Wish Laboratory Bogor Indonesia, from January to April 2015. It is shown there are differences of the biology and statistic demographic of B. tabaci reared on Edamame and Wilis. Egg incubation period, fourth instar and pupae stadia, and life cycle of B. tabaci reared on Edamame are shorter than that reared on Wilis. The fecundity of B. tabaci reared on Edamame are lower than that reared on Wilis. The gross reproduction rate (GRR), net reproduction rate (Ro), intrinsic growth rate (r) and doubling time of B. tabaci on Edamame respectively are 28.365 ± 0.530, 9.925 ± 0.182, 0.095 ± 0.001 and 7.330 ± 0.069. The gross reproduction rate (GRR), net reproduction rate (Ro), intrinsic growth rate (r) and doubling time of B. tabaci on Wilis respectively are 46.509 ± 0.725, 16.428 ± 0.252, 0.102 ± 0.001 and 6.808 ± 0.042. The population growth of B. tabaci reared on Edamame are slower than that reared on Wilis.B. tabaci is polyphagous insect and has approximately 600 host plants. B. tabaci is an important pest on soybean. These researches were to study the biology and statistic demographic of B. tabaci on two soybean varieties, Edamame and Wilis. These researches were conducted at Wish Laboratory Bogor Indonesia, from January to April 2015. It is shown there are differences of the biology and statistic demographic of B. tabaci reared on Edamame and Wilis. Egg incubation period, fourth instar and pupae stadia, and life cycle of B. tabaci reared on Edamame are shorter than that reared on Wilis. The fecundity of B. tabaci reared on Edamame are lower than that reared on Wilis. The gross reproduction rate (GRR), net reproduction rate (Ro), intrinsic growth rate (r) and doubling time of B. tabaci on Edamame respectively are 28.365 ± 0.530, 9.925 ± 0.182, 0.095 ± 0.001 and 7.330 ± 0.069. The gross reproduction rate (GRR), net reproduction rate (Ro), intrinsic growth rate (r) and doubling time of B. tabaci on Wilis respectively are 46.509 ± 0.725, 16.428 ± 0.252, 0.102 ± 0.001 and 6.808 ± 0.042. The population growth of B. tabaci reared on Edamame are slower than that reared on Wilis

    Distribusi Telur Spodoptera spp. (Lepidoptera: Noctuidae) pada Lahan Bawang Merah.

    No full text
    Spodoptera spp. merupakan serangga nokturnal dan menjadi salah satu hama penting di lahan bawang merah. Aktifitas serangga nokturnal dipengaruhi oleh sinar bulan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sinar bulan terhadap pola distribusi telur. Penelitian dilaksanakan pada 3 lahan bawang merah di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, pada bulan Februari hingga April 2016. Penelitian ini dilaksanakan dengan tiga kali ulangan pengamatan selama bulan baru, setengah dan penuh. Sinar bulan berpengaruh terhadap jumlah kelompok telur, pola distribusi dan jumlah telur per kelompok telur Spodoptera spp.. Jumlah kelompok telur rata-rata yang diletakkan saat bulan baru, setengah dan penuh adalah 0.19 ± 0.0818, 0.18 ± 0.0808 dan 0.77 ± 0.3790. Pola distribusi kelompok telur yang diletakkan saat bulan penuh lebih mengelompok daripada saat kondisi sinar bulan lainnya. Indeks morisita saat bulan baru, setengah dan penuh adalah sebesar 0.19 ± 0.0818, 0.18 ± 0.0808 dan 0.77 ± 0.3790. Rata-rata jumlah telur per kelompok telur saat bulan baru, setengah dan penuh adalah 28.60 ± 16.1422, 35.85 ± 17.5267 dan 48.35 ± 25.4853

    Peran dan Sinergi POPT-PHP dalam Keberhasilan Penerapan PHT di Desa Besur, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan.

    No full text
    Implementasi PHT (Pengendalian Hama Terpadu) di lapangan telah menyimpang dari undang-undang karena kurangnya pendidikan bagi petani. POPTPHP berpotensi menjadi aktor penggerak penerapan PHT dengan melakukan inisiatif di luar tugas pokok dan bersinergi dengan para pemangku kepentingan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengamati penerapan PHT, mengamati peran dan inisiatif POPT-PHP dalam mewujudkan implementasi PHT, dan mengidentifikasi dan menganalisis tokoh kunci dalam keberhasilan penerapan PHT. Penelitian dilakukan di Desa Besur, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan dengan metode praktik kerja POPT-PHP, analisis pemangku kepentingan, dan wawancara terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa POPT-PHP mengambil inisiatif dalam bentuk menyediakan hubungan dengan desa dalam mengembangkan pertanian, mendorong pasokan makanan sehat, membawa program pertanian yang sesuai dengan IPM, dan memprakarsai PPAH. POPT-PHP memiliki peran penting dalam penyuluhan pertanian. Pemerintah Desa dan POPTPHP menjadi tokoh kunci dalam keberhasilan penerapan PHT di Desa Besur. Stakeholder dalam keberhasilan implementasi PHT memiliki pengaruh sesuai dengan porsi masing-masing sehingga mereka dapat mencapai tujuan bersama

    Pengaruh Cendawan Endofit terhadap Kelangsungan Hidup Penggerek Batang Padi Kuning Scirpophaga incertulas (Lepidoptera: Pyralidae) dan Pertumbuhan Tanaman Padi

    No full text
    Yellow stem borer Scirpophaga incertulas (Lepidoptera: Pyralidae) is one of main problems in rice cultivation. This study was conducted to examine the effect of endophytic inoculation on the survival of yellow stem borer larvae and rice growth. The treatments that tested among other Nigrospora sp.1, Acremonium sp. and Nigrospora sp.1 + Acremonium sp.. Seeds were dipped in water, inoculated with endophytic fungi, seedled and planted in pot. Plants were sprayed with endophytic fungi suspension every one week before larvae infested. Larvae infestation has done five times on the plants of one, two, three, four, and five week after planted. Plants were infested with ten first instar stage of larvae in every ten rice stems. Monitoring was done on the survival and body length of larvae. Endophytic fungi treatments increased rice resistance against yellow stem borer larvae. The treatment of Nigrospora sp.1 + Acremonium sp. reduced significantly the body length of survived larvae in young plants. The treatments of Acremonium sp. had significant effect to increase number of tillers. Tolerance and antibiosis contribute to the resistance mechanism. In addition, endophytic treatments increased germination, seedling growth, and rice growth.Penggerek batang padi kuning Scirpophaga incertulas (Lepidoptera: Pyralidae) merupakan salah satu masalah utama dalam budidaya padi. Tujuan penelitian ini adalah menguji pengaruh inokulasi cendawan endofit terhadap perkembangan larva penggerek batang padi kuning dan pertumbuhan tanaman padi. Perlakuan yang diuji antara lain Nigrospora sp.1, Acremonium sp. dan Nigrospora sp.1 + Acremonium sp.. Benih direndam dalam air, diinokulasi dengan cendawan endofit, disemai dan ditanam dalam pot. Tanaman disemprot dengan suspensi cendawan endofit pada satu minggu sebelum infestasi larva. Infestasi larva dilakukan sebanyak lima kali pada tanaman padi umur 1 MST, 2 MST, 3 MST, 4 MST, dan 5 MST. Tanaman diinfestasi oleh 10 ekor larva instar 1 per 10 batang padi. Pengamatan dilakukan terhadap kelangsungan hidup dan panjang tubuh larva pada satu minggu setelah infestasi. Cendawan endofit meningkatkan ketahanan padi terhadap serangan penggerek batang padi kuning. Perlakuan Nigrospora sp.1 + Acremonium sp. menekan panjang tubuh larva secara nyata pada tanaman muda. Perlakuan Acremonium sp. meningkatkan jumlah anakan. Toleransi dan antibiosis berpengaruh terhadap mekanisme resistensi. Selain itu, perlakuan cendawan endofit meningkatkan perkecambahan, pertumbuhan bibit, dan pertumbuhan tanaman padi

    Serangga yang Berasosiasi dengan Sengon Falcataria moluccana (Miq.) Barneby & J.W.Grimes di Bogor

    No full text
    Falcataria moluccana (Miq.) Barneby & J.W.Grimes termasuk Famili Fabaceae yang lebih dikenal dengan nama lokal sengon merupakan salah satu fastgrowing tree yang banyak dibudidayakan. Sengon berasal dari Pulau Maluku, Pulau Papua, Pulau Solomon dan Kepulauan Bismarck. Tanaman ini dilaporkan persebarannya hingga di beberapa pulau kecil di kawasan Samudra Pasifik seperti di Kepulauan Hawaii. Sengon banyak dibudidayakan masyarakat di kawasan Asia Tenggara khususnya di Indonesia (Pulau Jawa dan Sumatra), akan tetapi sengon juga dilaporkan menjadi invasive species di Kepulauan Hawaii yang banyak menimbulkan kerugian. Salah satu upaya untuk menekan pertumbuhan dan persebaran sengon dengan menggunakan agen hayati. Berbagai penelitian dasar untuk mengetahui keanekaragaman serangga pada sengon dilakukan untuk menyediakan data serangga apa saja yang berasosiasi dengan sengon. Sejauh ini data serangga pada sengon masih terbatas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui serangga yang berasosiasi dengan sengon di Bogor serta untuk mengetahui serangga yang dapat mengakibatkan kerusakan pada sengon. Penelitian ini terdiri dari survei lapangan dan percobaan kebun. Survei serangga dilaksanakan di 6 lokasi tanaman sengon di Bogor pada berbagai ketinggian tempat yang berbeda. Survei dilakukan pada sengon yang berumur 1 – 4 tahun. Setiap lokasi sampel pohon yang digunakan sebanyak 100 pohon sengon. Pengambilan sampel serangga menggunakan beating sheet dan throw weight. Percobaan kebun dilaksanakan di lahan tanam Departemen Proteksi Tanaman (PTN) Institut Pertanian Bogor (IPB) yang berada di Desa Carangpulang, Darmaga, Bogor dengan menggunakan tanaman yang berumur 4 bulan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah faktorial dalam RAK dengan 2 faktor perlakuan (sumber benih sengon dan perlakuan insektisida) serta 4 blok yang digunakan sebagai ulangan. Setiap baris perlakuan terdiri dari 10 tanaman. Perlakuan Imidakloprid 5% dilakukan 4 minggu sekali sebanyak 7.5 ml per tanaman. Pengamatan serangga dilakukan 2 minggu sekali saat tanaman berumur 4 sampai 8 bulan (14 – 32 minggu setelah tanam (MST)). Parameter yang diamati meliputi jenis spesies, kelimpahan individu, fase serangga serta bagian tanaman yang diserang. Identifikasi serangga dilakukan di Laboratorium Biosistematika IPB dengan menggunakan kunci identifikasi dikotomi maupun multi akses. Pembuatan grafik menggunakan Microsoft Office Exel 2016, analisis statistik menggunakan aplikasi SAS 9.4. Penyajian data menggunakan aplikasi R-Statistics 3.3.2. dan Past Version 2.17c. Serangga yang ditemukan berasosiasi dengan sengon di Bogor sebanyak 99 spesies dari 37 famili dan 6 ordo. Serangga yang dominan dan dapat menimbulakn kerusakan pada sengon di Bogor adalah Eurema blanda (Lepidoptera: Pieridae), E. hecabe (Lepidoptera: Pieridae), Pteroma plagiophleps (Lepidoptera: Psychidae), Hyposidra talaca (Lepidoptera: Geometridae), Traminda mundissima (Lepidoptera: Geometridae), Adoxophyes sp. (Lepidoptera: Tortricidae), Hulodes caranea (Lepidoptera: Noctuidae) dan Polyura hebe (Lepidoptera: Nymphalidae) sebagai kelompok pemakan daun. Selanjutnya Xystrocera festiva (Coleoptera: Cerambycidae) dan Zeuzera coffeae (Lepidoptera: Cossidae) adalah serangga yang menyebabkan kerusakan pada batang dan ranting. Ketinggian lokasi sengon berpengaruh terhadap komposisi spesies serangga. Lokasi sengon pada ketinggian <500 mdpl memiliki keanekaragaman spesies serangga yang lebih tinggi dibandingkan dengan ketinggian >600 mdpl. Pada persemaian sengon dari Jawa dan Hawaii yang berada di lahan tanam Desa Carangpulang, Darmaga, Bogor ditemukan sebanyak 67 spesies serangga dari 30 famili dan 4 ordo. Serangga yang paling dominan dan menimbulkan kerusakan pada persemaian sengon dari Jawa dan Hawaii umur 14-32 MST di Bogor adalah larva E. blanda. Persemaian sengon yang berasal dari Jawa memiliki keanekaragaman jenis dan kelimpahan individu serangga yang lebih tinggi dibandingkan dengan persemaian sengon yang berasal dari Hawaii

    Inventarisasi Hama dan Penyakit Tanaman Pisang di PT. Nusantara Segar Abadi.

    No full text
    Tanaman pisang merupakan salah satu tanaman hortikultura yang buahnya banyak digemari dan dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Pada tahun 2015, PT. Nusantara Segar Abadi yang bernaung di bawah Gunung Sewu Group (GSG) dengan Corporate Brand Great Giant Foods (GGF) mulai melakukan pengembangan komoditas buah-buahan terutama pisang. Penanaman pisang dalam jumlah banyak dengan pola monokultur seperti di kebun PT. Nusantara Segar Abadi menyebabkan timbulnya hama dan penyakit pada tanaman pisang. Penelitian ini bertujuan mengamati dan mengidentifikasi hama dan penyakit tanaman pisang di perkebunan pisang PT. Nusantara Segar Abadi, serta melakukan penghitungan keparahan, kejadian penyakit, dan intensitas serangan hama. Penelitian dilaksankan dari bulan Juli sampai Agustus 2019 pada 18 blok di PT. Nusantara Segar Abadi Blitar, Jawa Timur. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode survei, yaitu pengamatan langsung di lapangan dan identifikasi Organisme Penggangu Tanaman (OPT). Pengamatan langsung dilakukan dengan cara mengambil sampel tanaman yang terserang OPT secara acak pada setiap tanaman pisang. Tahap identifikasi dilakukan di Laboratorium Klinik tanaman dan Laboratorium Nematologi Tumbuhan, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Hama yang ditemukan menyerang tanaman pisang selama pengamatan, yaitu: Erionota thrax (L.) (Lepidoptera: Hesperiidae), Aulachopora indica (Coleoptera: Chrysomelidae) dan Cosmopolites sordidus (Germ.) (Coleoptera: Curculionidae). Penyakit yang ditemukan di kebun PT. Nusantara Segar Abadi adalah bercak cordana yang disebabkan Cordana musae, bercak sigatoka yang disebabkan oleh Mycosphaerella musicola, kerdil yang disebabkan oleh Banana bunchy top virus (BBTV), layu bakteri yang disebabkan oleh Blood disease bacterium, dan layu Fusarium yang disebabkan oleh patogen Fusarium oxysporum f.sp. cubense. Fitonematoda yang ditemukan pada pertanaman berasal dari genus Meloidogyne spp. Kejadian dan keparahan penyakit bercak cordana tertinggi pada blok 12, yaitu sebesar 45% dan 81%. Kejadian dan keparahan bercak Sigatoka tertinggi pada blok 1, yaitu sebesar 40% dan 64%. Kejadian penyakit Fusarium tertinggi terjadi pada blok 7 (25%). Kejadian dan keparahan penyakit layu bakteri tertinggi pada blok 9, yaitu sebesar 25% dan 14%. Kejadian dan keparahan penyakit BBTV tertinggi pada blok 1, yaitu sebesar 30% dan 10%
    corecore