121 research outputs found
Evaluasi dan PengembanganSistem Manajemen Rantai Pasok Ban ng Segar di· Kota Bekasi Jawa Barat.
Sektor kelautan dan, perikanan yang seeara umum terdiri dari perikanan'
tangkap dan, perikanan 'budidaya merupakan sektor• potensial bagi sumbet
pertumbuhan ekonomi dari ~umber pengJridupan masyarak~t Indonesia. Industri'
perikanan telah memberikan pendap~tan inelalui penyerapan tenaga kerja pada
Unit Pengolahan Ikan (UP!) bernilai tainb8h. Produk Oomestik Bruto (POB)
, sektor perikanan memegang, peranan strategis dalam memberikan kontribusi 'pada
, POB Nasional. Kontribtisi ekonomi sektor perikanan ini akan dapat :teruS
ditingkatkan apabila sejumlah tantangan pengembangan sektor kelautan ,dan
perikan~ dapat diatasi, sal satu tantangan tersebut adalah tidak terpenuhinya
utilitas unit pengolahan ikan yang ,rata-rata pada taboo 20llhanya 56,09 '%.,
Angka tersebut. mengindikasikan bahwa pasokan atau ketersediaan bahan' baku
, unit pengolahan ik~ masih minim, atau unit pengobihan tidak memperoleh bahan
baku yang eukup untuk menjamin 'keberlangstingan proses pengolahari. baik dari,
sektor perikanan tangkap maupun budidaya.' Salah satu unit ,pengolahan ikan yang
belum optimal utilitasnya adalahpengolahan ikan bandeng.
Ikan Bandeng (Chanos-chanos) merupakan salah satu komoditas yang'dapat
diperoleh dari sektor perikanan budidaya. ,Provinsi' Jawa Barat menempa#,
peringkat ke 3 (tiga) di Indonesia'daIam hal, penghasil bandeng setelah provinsi
Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Salah satu ,daerah ,produsen tersebut adalah
Kabupaten Karawang yang ~erdiri dari 30 keeamatan danbandeng sebagai ikan
,tambak diprodUksi di 9 (sembilan) keeamatan. ,
Potensi, Kabupaten' Karawang sebagai ,penghasil b~deng temyata tidak
menJamin ketersediaan bahail baku bagi 12 (dua belas) Industri Keeil'Menengah
(IKM) pengolah bandeng Kota Bekasi ~eeara berkefanjutan: Baban baku 12' IKM
pengolah bandeng tersebut berasal dari Kabupaten Karawang melalui suatu rantai
pasok bandeng segar. Berdasarkait hal tesebut, perlu dilakukan evaluasi dan
pengembangan sistem manajemen rantai pas ok bandeng segar di Kota Bekasi.
Kajian ierdahulu 'mengenai rantai ,pas ok perikanan diantaranya'dilaksanakan
oleh Rahmawaty, Rahayu dan Kusumaningrum (2014) dengan kajian berjudul
"Evaluasi dan, Pengembangan Strategi Keamanan Produk Perikanan untuk Ekspor
ke Atperika' Serikat" yang menganalisis kasus penolakan produk perikanan '
,Indonesia oleh Amerika, Serikat. Analisis data dilakukan' melalui gap analysis
dengan membandingkan regulasi dan standar keamanan produk perikanan
Indonesia dengan regulasi dan standar keamanan produk perikanan Food and
Drugs Administration (FDA). Ashri Prastiko Wibowo melakukan kajian berjudul
"Analisis Raritai Nilai (Value Chain) Koniunitas,lkan Bandeng di Keeamatan
Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah yang menganalisis rantai nilai komoditas
ikan bandeng. Metode analisis yang, digunakan 4alam kajian ini adalah analisis
Rantai Nilai (Vqlue Chains Analysis). Sejauh ini,belum ditemukan kajian tep.~g
Evaluasi dan Pengenibangan Sistem Manajemen Rantai Pasok Bandeng Segar di
Kota Bekasi. Melalui ~ajian, ini akan dihaSilk~ strategi. rantai pasok y~g
k~mprehensif dan berkesin~bungan yang mengakomodir seluruh . kepentingan
anggota rantai pasok sehingga dapat meningkatk~ pendapatan rant¢. pasok.
Tujuait dari kajian a4alah :. (1) Mengevaluasi •sistem manajem~n rantai ..
p~ok bandeng segar di KotaBekasi, Jawa Barat; (2). Menyusun strategi prioritas
pengembangan sistem manajeinen rantai pas ok bandeng segar di Kota Bekasi,
JawaBarat. '. . ...
Pengambilan data .dilakukan. '. dengan . teknik purpos,ive dan snowball.
sampli;'g. Target populasi adalah seluruhanggota rantal' pasok •bandeng segar.
Pengambilan . contoh dimulai dari lKM• pengolah, pengecer dan pengepul di•
Bekasi Timur, sampai ke' pembudidaya bandeng di Desa Ciparag~ Jaya,
Kecamatan Tempuran, Kabupaten Karawang. Instrumeil yang. digunakan adalah
kuesioner yang berisi pertanyaan tentang seluruh. aIctifitas anggota rantai pasok
bandeng segar. Data yang' dikumpulkail pada kajian ini .adalah data primer'
dikumpulkan langsung dari sumber infoimasi mel8.Iw wawancara dan pengi~ian
kuesioner dan data sekunder dari studi. pustaka. 'Metoda kajian' menggunakan
analisis deskriptif, evaluasi dengan ~~mbandingkan aktivitBs ariggota rantai• pasok
dengan standar yang ada, analisis faktor internal dan eksternal, anali.sis matriks
. internal ,ekstemal (IE), analisis Strenghts, Weaknesses,. Opportunities and
Threaths (SWOT} dan Analytic Hierarchy Process (AHP). ' '
, . HasH 'observasi lapang menunjukkan anggo~ rantai pasok bandeng. segar
di Kota Bekasi terdiri dari 12 IKM pengolah, satu pengecer, satu pengepuldan
lima pell:lbudidaya.Hasil evaluasi menunjukkan terdapat gap antara aktivitas
maSing-masing anggota rantai pasok dengan' Standar Nasional Indonesia (SNI) ,
yaitu (1) penerapan GMP dan SSOP oleh-rKM pengolah, (2) cara pengangkutan
d~ penyimpanan ikan segar oleh pengepul dan.pengecer, (3) cara budidaya ikan
yang baik oleh• pembudidaya, dan (4) manajemen rantai pasok oleh seluruh
anggota rantai pasok. .
Analisis Strenghts Weaknesses Oppotunities Threatfzs (WOT)
menghasilkari ~trategi pengembangan manajemen rantai pasok bandeng segar
dengan• melaksanakan Strategi SO (Strengnts' and Opportunities) 'yai,tu
peningkatan ket~rsediaaIi ikan di pusat produksi dan peningkatan koordinasi dan
koml:lllikasi dengan seluruh anggota r~tai pas ok. Strategi we (Weaknesses and
Oppotunities) yaitu 'pendidikan dan pelatihan SDM serta pembinaan kemitraan
perolehan modal. Strategi ST (Strenghts and Threaths) . yaitu pembentukan
organisasi anggota rantai pasok dan penambahan suplier bahan bahan baku dan
promosi. Strategi WT (Weaknesses ,and Threaths) , yaitu 'penggunaan teknologi
produksi yang lebih efisien dan efektif oleh IKM pengolah dan pembudidaya .
,bandeng serta perbaikan mutu dan inovasi produk. .
Analisis d~ngan nietoda Analytic Hierarchy Process (AHP). menghasilkan
inutan prioritas alternatif strategi yaitu (1) pembentukan jaringan perolehan bahan
baku dan jaringan pemasar~ oleh IKM pengolah, bobot 0.326; (2) peningkatan
mutu SDM oleh pemerintah, bobot 0.249;• (3) pembentukan kelembagaan oleh
pembudidaya, bobot 0.230, dan (4) menjalin kemitraan perol~han biaya usaha
oleh pengepul, bobot 0.195
Pengembangan dessert berbasis isolat protein basah ikan lele (Clarias sp.) dengan pewarna alami
Sumbangan protein ikan terhadap angka kecukupan gizi masyarakat Indonesia baru mencapai 12%, lebih rendah dari Malaysia yang mencapai 18%. Oleh sebab itu, perlu dilakukan upaya peningkatan konsumsi ikan melalui program penganekaragaman pangan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani khususnya yang bersumber dari ikan. Penambahan surimi lele diharapkan meningkatkan kandungan protein hewani cendol (dessert) yang merupakan salah satu makanan tradisional, tanpa mengubah penerimaannya secara signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan formula cendol berbasis isolat protein basah (surimi) ikan lele dan melakukan karakterisasi fisik, kimia serta menganalisis pengaruh penyimpanan pada suhu 6oC terhadap kemunduran mutu produk. Penelitian terdiri dari dua tahap yaitu penelitian pendahuluan dan penelitian utama. Penelitian pendahuluan bertujuan untuk melihat tingkat kesukaan panelis terhadap produk cendol berbasis surimi ikan lele. Hasil uji hedonik produk kemudian dilakukan pengambilan keputusan menggunakan metode Bayes. Konsentrasi surimi yang digunakan pada penelitian pendahuluan bervariasi 0%, 10%, 20%, 30%, 40%, 50% dan 60%. Hasil terbaik pada penelitian pendahuluan dikembangkan sebagai perlakuan pada penelitian lanjutan (utama). Penelitian utama bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi surimi ikan terhadap karakteristik fisik, mikrobiologi dan kimia. Rancangan percobaan pada penelitian utama digunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan dua kali ulangan untuk mengetahui pengaruh perlakuan konsentrasi surimi terhadap parameter subjektif dan objektif. Hasil uji hedonik produk yang dilanjutkan dengan uji Bayes menunjukkan bahwa penambahan surimi 30% pada cendol menghasilkan nilai terbaik yang dapat diterima panelis. Cendol tersebut dibuat dari 30% surimi ikan lele, 11,6% rumput laut halus, 5,8% air daun suji, 29% santan, dan 23,3% tepung tapioka. Cendol surimi 30% mempunyai penampakan utuh, warna hijau menarik, tekstur lembut agak kaku dan padat, rasa yang netral (tidak ada rasa ikan), bau khas santan dan daun suji. Hasil uji proksimat kadar protein cendol surimi 30% sebesar 4,74% dan cendol komersial sebesar 1,24%. Selama 8 hari penyimpanan pada suhu ±6oC terjadi kemunduran mutu produk. Hal ini dapat dilihat dari menurunnya daya penerimaan panelis secara organoleptik, peningkatan nilai TBA dan TPC. Selama penyimpanan cendol surimi 25%, 30% dan 35% memiliki tingkat kemunduran mutu yang lebih lambat dibandingkan dengan cendol komersial. Pada hari ke-8 nilai organoleptik cendol surimi 30% untuk parameter penampakan (6), bau (6), rasa (5,2) dan tekstur (6,3), nilai TBA cendol surimi sebesar 0,1515 mg malonaldehid/kg bahan. Nilai TPC cendol komersial pada hari ke-8 (2,1x108 koloni/g) lebih tinggi dibandingkan nilai TPC cendol surimi 30% (2,5x103 koloni/g). Cendol komersial mempunyai umur simpan relatif lebih singkat dibandingkan dengan cendol berbasis surimi yaitu 4 hari, sedangkan cendol berbasis surimi ikan lele masih memiliki kondisi yang baik untuk dikonsumsi hingga penyimpanan pada hari ke-8
Ekstraksi, Karakterisasi dan Formulasi Kolagen Gelembung Renang Ikan Patin (Pangasius sp.) sebagai Sediaan Tablet Suplemen Kesehatan Kulit.
Gelembung renang merupakan byproduct hasil perairan yang berpotensi
sebagai sumber alternatif kolagen untuk industri makanan, kosmetik, biomedis
dan farmasi. Kolagen gelembung renang ikan patin diharapkan dapat mengatasi
kekhawatiran produsen dan konsumen dengan merebaknya beberapa penyakit
yang bersumber dari bahan baku sapi serta masalah ketidakhalalan penggunaan
babi oleh pemeluk agama tertentu. Metode produksi kolagen umumnya
menggunakan metode asam. Penggunaan metode asam dan kombinasinya dengan
enzim penting untuk dilakukan guna meningkatkan rendemen dan kualitas.
Penelitian ini bertujuan menentukan karakteristik gelembung renang ikan patin,
mengevaluasi pengaruh konsentrasi NaOH dalam pelarutan protein nonkolagen
dan pengaruh konsentrasi enzim papain terhadap karakteristik kolagen yang
dihasilkan dan menentukan formulasi sediaan tablet kolagen.
Penelitian dilakukan dalam empat tahapan yaitu preparasi dan karakterisasi
gelembung renang ikan patin (Pangasius sp.), penghilangan protein nonkolagen
menggunakan NaOH 0.05; 0.1 dan 0.15 M selama 12 jam pada suhu 4°C,
ekstraksi kolagen menggunakan enzim papain konsentrasi 0; 5 000; 10 000;
15 000 dan 20 000 U/mg selama 24 dan 48 jam pada suhu 4ºC dan
memformulasikan sediaan tablet kolagen.
Proporsi gelembung renang ikan patin yakni 1.42±0.68% dari total bobot
ikan. Gelembung renang ikan patin mengandung protein 84.66±0.47% (bk) dan
memiliki asam amino yang didominasi oleh asam amino penciri kolagen yakni
glisina (55.94 mg/g), prolina (30.48 mg/g) dan alanina (23.4 mg/g). Pretreatment
menggunakan NaOH 0.05 M selama 6 jam merupakan perlakuan yang efektif
dalam menghilangkan protein nonkolagen gelembung renang ikan patin. Ekstraksi
menggunakan enzim papain 5 000 U/mg selama 48 jam merupakan perlakuan
terpilih berdasarkan pengujian kelarutan kolagen dan derajat pengembangan.
Kolagen larut enzim papain (PaSC) terpilih memiliki rendemen sebesar
27±0.08% (bk) dengan kandungan protein 88.13±0.07 dan mengandung tiga asam
amino tertinggi yaitu glisina (276.98 mg/g), prolina (119.61 mg/g) dan alanina
(90.02 mg/g). Kolagen memiliki derajat putih 90.99±0.79% dengan pH 4.05, serta
bebas dari (Pb, Hg, As dan Cd). Suhu transisi gelasi (Tg) dan suhu puncak
pelelehan (Tmax) masing-masing 88°C dan 151°C. Spektra FTIR kolagen
menunjukkan eksistensi gugus amida A, amida B, amida I, amida II, amida III dan
triple helix. Struktur permukaan kolagen memiliki serat-serat putih. Angka
lempeng total pada formula sediaan tablet kolagen negatif dari cemaran mikroba,
memiliki nilai aw yang rendah dan memenuhi standar DEPKES R1 1991 dengan
nilai keseragaman bobot 500.13±0.11 g, keseragaman ukuran dengan diameter
1.02 cm dan tebal 0.52 cm, kekerasan 6.32 ± 1.3 mg, kerapuhan 0.83% dan
waktu hancur 7 menit 6 detik
Kajian Efektivitas Implementasi Program Demonstration Farm Tambak Udang Di Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang
Usaha budi daya udang yang pada awal perkembangannya mengalami peningkatan sangat pesat, dalam beberapa tahun terakhir ini mengalami berbagai permasalahan, baik yang bersifat teknis maupun yang bersifat non teknis sehingga menyebabkan beberapa tambak tidak berfungsi (idle). Permasalahan yang bersifat teknis mencakup aspek tata ruang, sarana dan prasarana, penyakit, lingkungan, penerapan teknologi, sedangkan permasalahan nonteknis mencakup sumber daya manusia, kelembagaan kelompok, permodalan, tuntutan pasar akan produk berkualitas yang aman untuk dikonsumsi dan keamanan berusaha. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) merumuskan program kegiatan revitalisasi yang difokuskan pada rehabilitasi saluran tambak, penyusunan detail engeneering desain (DED) saluran tambak dan demonstration farm (Demfarm) budi daya tambak udang dan Bandeng. Program yang digulirkan pertama kali oleh KKP pada Tahun 2012 menetapkan enam kabupaten sebagai percontohan dengan luas tambak mencapai 1000 Ha, meliputi: Kabupaten Serang, Tangerang, Karawang, Subang, Indramayu dan Cirebon. Kajian efektivitas implementasi program Demfarm difokuskan di Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang, sebagai salah satu Kecamatan implementasi Demfarm tambak udang. Data diambil pada bulan Oktober - Desember 2014 dengan responden 30 orang yang tergabung dalam 3 kelompok (Mina Mandiri, Mina Samudera dan Putra Mekar) sebagai sasaran Demfarm tambak udang, serta lima pakar yang berpengalaman pada budi daya tambak udang. Metode penelitian menggunakan analisis kualitatif, kuantitatif, analisis SWOT (Strenghts, Weaknesses, Opportunities, dan Threats), dan AHP (Analytical Hierarcy Process). Hasil kajian implementasi Demfarm di Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang cukup efektif sebagai area tambak udang yang ideal. Penerapan teknologi dalam sistem Demfarm mampu meningkatkan produktivitas tambak 7-10 ton/ha sedangkan sebelum demfarm hanya 0,017 ton/ha dan sampai sekarang teknologi Demfarm tetap dilakukan para petambak di Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang. Terbentuknya pola kemitraan antara Pokdakan dengan Koperasi Unit Desa Mina Karya Bukti Sejati selain sebagai sarana simpan pinjam juga berperan menjaga stabilitas harga pasar. Bentuk kemitraan Pokdakan dengan PT. Central Proteinaprima sebagai produsen pakan adalah memberikan pendampingan teknis kepada para petambak di Kecamatan Blanakan Subang dengan Feed Conversion Ratio (FCR) yang sesuai. Pengembangan usaha tambak udang di Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang mempunyai nilai strategik internal IFE 0,148 dengan komponen kekuatan: (1) pekerja berpengalaman 0,188; (2) benur berlimpah 0,245; (3) kesesuaian potensi lahan 0,407; (4) pengelolaan tambak secara berkelompok 0,264; (5) mudah mencari pembeli 0,415; dan (6) nilai ekonomis tinggi 0,314. Komponen kelemahan: (1) peralatan produksi sederhana 0,115; (2) posisi tawar petambak lemah 0,245; (3) kekurangan modal untuk pengembangan usaha 0,367; (4) kurangnya sarana dan prasarana 0,339; (5) penjualan dilakukan pada tengkulak 0,209; dan (6) sulit mendapatkan bibit bermutu 0,411. Nilai strategik eksternal EFE 0,459 dengan komponen peluang adalah: (1) kebijakan pemerintah 0,299; (2) potensi lahan tambak yang besar 0,343; (3) bantuan sarana tambak 0,328; (4) tenaga pendamping teknis dan kelembagaan 0,402; (5) penggunaan teknologi mulsa 0,315; dan (6) potensi pasar besar 0,402. Sedangkan komponen ancaman yaitu: (1) cuaca 0,311; (2) harga tidak stabil 0,270; (3) serangan virus 0,402; (4) tengkulak (0.198); 5) alih fungsi lahan tambak (0.248); dan 6) impor udang 0,198. Strategi untuk dikembangkan hasil IFE dan EFE yaitu: (1) optimasi produksi udang secara berkelanjutan; (2) peningkatan teknologi budidaya udang secara intensif; (3) pengaturan pola produksi; (4) pengendalian hama penyakit melalui budidaya intensif; (5) penyusunan kerjasama pemasaran; (6) penguatan kelambagaan petambak melalui pendampingan; (7) akses permodalan melalui lembaga perbankan; (8) memperkuat kelembagaan pasar melalui pemberdayaan kelompok; (9) fasilitasi permodalan, infrastruktur dan sarana prasarana budi daya; (10) penerapan Cara Berbudidaya Ikan yang Baik (CBIB) udang secara berkesinambungan; dan (11) penguatan pola kemitraan dengan lembaga lain. Pengembangan produktivitas tambak udang di Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang dipengaruhi oleh faktor-faktor: (1) teknologi dengan nilai 0,341; (2) sumber daya manusia 0,258; (3) modal 0,181; (4) sumber daya alam 0,129; dan (5) infrastruktur 0,091. Usaha tambak udang di Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang melalui program Demfarm menunjukan Break Event Point (BEP) produksi terendah 5.000 kg dan tertinggi 10.000 kg selanjutnya BEP harga terendah Rp.41.000 - dan tertinggi Rp.65.000. Pengembangan usaha tambak melalui Demfarm layak dikembangkan dengan nilai Benefit Cost Ratio (B/C ratio) > 1, Net Present Value (NPV) yang dihasilkan > 0, dan IRR > 20%. Kata kunci: Demfarm, efektifitas, petambak, produktivitas, udan
Akselerasi Produksi Nano Glukosamin dari Kitosan Cangkang Udang Dengan Hidrolisis Asam dan Ultrasonikasi
Produksi glukosamin hidroklorida dengan kitosan sebagai bahan baku dapat bermanfaat untuk menjaga kesehatan manusia. Senyawa ini dibutuhkan untuk biosintesis berbagai senyawa termasuk glikolipid, glikoprotein, dan proteoglikan, yang semuanya terlibat dalam struktur dan fungsi sendi, akan tetapi produksi glukosamin dalam tubuh akan berkurang seiring bertambahnya usia manusia. Produksi glukosamin pada umumnya menggunakan metode hidrolisis asam dan bila dibantu ultrasonikasi dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas glukosamin. Konsumsi glukosamin hidroklorida secara oral dapat meningkatkan efek samping terhadap tubuh manusia sehingga pengembangan nanopartikel pada glukosamin hidroklorida akan memaksimalkan efek bahan aktif ini terhadap osteoartritis melalui sediaan topikal. Penelitian ini bertujuan mengembangkan metode produksi menggunakan bantuan ultrasonikasi yang dapat menghasilkan glukosamin berkualitas tinggi dan jumlah yang besar serta memperbaiki teknologi nanopartikel dalam produksi glukosamin hidroklorida.
Penelitian dilakukan dalam tiga tahap yaitu karakterisasi kitosan komersial, hidrolisis kitosan dengan asam dan gelombang ultrasonik dan pembuatan nanopartikel glukosamin. Tahap pertama dilakukan dengan tujuan mengetahui karakteristik dari kitosan komersial sebagai bahan baku. Tahap kedua bertujuan mengetahui pengaruh suhu, waktu, dan penggunaan alat ultrasonikasi terhadap produksi glukosamin. Tahap ketiga dilakukan untuk melihat karakteristik ukuran partikel nano glukosamin.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik bahan baku kitosan telah sesuai dengan standar yaitu berwarna putih kekuningan, tidak berbau, berukuran 80 mesh, kadar air 8.5%, kadar abu 0.5%, kadar protein 0.5%, viskositas 50 cps, dan derajat deasetilasi 87.5%. Ultrasonikasi memberikan perbedaan nyata untuk hasil glukosamin hidroklorida dengan rendemen glukosamin tertinggi pada perlakuan dengan ultrasonikasi yaitu 68.30%. Perlakuan menggunakan suhu panas 80oC dan waktu ultrasonikasi 40 menit menghasilkan glukosamin hidroklorida terbaik. Hasil pengujian glukosamin tersebut yaitu 83.65% rendemen, dengan 98% kelarutan, pH 4, Loss on Drying (LoD) 0.83%, dan Loss on Ignition (LoI) 0.23%. Pola penyerapan spektrum Fourier Transform Infra Red (FTIR) menunjukkan kepatuhan 99.82% dengan standar, membuktikan bahwa hidrolisis glukosamin berhasil. Hasil pengujian Scanning Electron Microscopy (SEM) menunjukkan ukuran partikel glukosamin berturut-turut sebelum dan setelah digiling yaitu 83.56 dan 61.16 nm
Squalene Hati Hiu Botol yang Diperkaya Antioksidan Ekstrak Buah Bakau sebagai Sediaan Kosmetika Krim Wajah
Squalene dari hati hiu botol potensial diaplikasikan pada krim kosmetika
perawatan kulit tetapi di dalamnya terkandung asam lemak tidak jenuh yang sensitif
terhadap oksidasi sebagai penyebab utama kemunduran mutu sediaan kosmetika.
Kandungan antioksidan yang tinggi pada buah bakau Rhizophora mucronata
diharapkan dapat memberikan sinergisme antar berbagai komponen sebagai sediaan
krim perawatan kulit. Tujuan penelitian ini adalah mengkarakterisasi minyak hati hiu
botol (squalene) yang diperkaya antioksidan dari ekstrak buah bakau R. mucronata
sebagai bahan dasar penentuan formula serta tingkat stabilitas sediaan kosmetika
krim wajah. Hasil uji kesukaan sediaan kosmetika krim wajah terpilih dengan
formula penambahan 7,5%w/w minyak hati hiu (squalene 84,36%) yang diperkaya
antioksidan ekstrak buah bakau R. mucronata 6,6902 mg/mL berkisar antara normal
hingga agak suka dengan tingkat stabilitas yang masih sesuai dengan standar selama
penyimpanan 5 minggu dengan karakteristik warna dan bau yang tidak mengalami
perubahan, pH 7,62; viskositas 18000 cP, stabilitas emulsi baik dan stabil,
penyusutan berat 4,32%; dan total mikroba log 1,30 cfu/mL
Pangan Fungsional Mi Ikan Berbasis Konsentrat Protein Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), Spirulina Platensis Dan Sumber Karbohidrat Lokal
Konsentrat protein ikan dan Spirulina platensis sangat potensial sebagai bahan pengayaan protein untuk produk-produk yang populer berbasis karbohidrat misalnya mi sagu. Sagu dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan mi non terigu, namun kandungan gizi pada mi sagu masih rendah, sementara di satu sisi pemanfaatan konsentrat protein ikan dan Spirulina platensis belum maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk menciptakan produk pangan olahan yang praktis, cepat saji dan bergizi tinggi dengan memanfaatkan sagu sebagai bahan utama serta pengayaan gizi dengan konsentrat protein ikan nila dan Spirulina platensis. Hasil analisis sensori menunjukkan bahwa formula mi dengan penambahan konsentrat protein ikan nila 3% dan Spirulina platensis 2% menghasilkan mi dengan tingkat penerimaan terbaik. Karakteristik mi sagu formula terbaik adalah, kadar air 8,38%, kadar abu 2,48%, kadar protein 4,23%, kadar lemak 0,65%, kadar karbohidrat 92,69%, total serat pangan 2,25%, IC50 antioksidan 329,82 ppm, aktivitas air 0,38, cooking time 4,75 menit, cooking loss 30,81%, kekerasan 968,60 gf, kelengketan -24,34 gf dan kekenyalan 0,66 gf
Kapasitas Antioksidatif Ekstrak Hyaluronan Mata Tuna Hasil Fragmentasi Gelombang Mikro
Antioksidan alami hasil perairan dapat diperoleh dari hasil samping mata
tuna, terutama karena keberadaan hyaluronan yang diduga berfungsi sebagai
pelindung asam lemak tidak jenuh yang banyak terdapat pada mata ikan. Aktivitas
antioksidan hyaluronan terbukti dapat ditingkatkan secara signifikan melalui
fragmentasi, salah satu metode yang paling efektif yaitu dengan iradiasi
gelombang mikro. Tujuan penelitian ini adalah untuk 1) mengesktraksi
hyaluronan dari mata tuna dan mengidentifikasi aktivitas antioksidan serta 2)
menentukan pengaruh lama iradiasi gelombang mikro terhadap peningkatan
kapasitas antioksidatifnya. Fragmentasi dilakukan dengan iradiasi gelombang
mikro pada frekuensi 2,45 GHz dan daya 400 W selama 0 jam, 1,5 jam, 3 jam dan
6 jam. Kapasitas antioksidatif hyaluronan dan hyaluronan terfragmentasi
ditentukan dengan menganalisis nilai total aktivitas antioksidan (TAA), DPPH
radical scavenging activity (DRSA) dan kuat daya reduksi (KR). Hyaluronan
mata tuna memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai TAA, DRSA dan KDR
berturut-turut 39,06 ± 0,93%, 78,09 ± 0,95% dan 14,63 ± 0,08 Fe2+ μM/g sampel
kering. Aktivitas antioksidan hyaluronan mata tuna meningkat signifikan setelah
diiradiasi gelombang mikro dan memiliki aktivitas tertinggi setelah proses iradiasi
selama 6 jam dengan nilai TAA, DRSA dan KR berturut-turut 98,23 ± 0,10%,
97,69 ± 0,35%, 36,42 ± 0,71 Fe2+μM/g sampel kering
Analisis Dampak Pariwisata Bahari terhadap Kesejahteraan Masyarakat Sekitar Kawasan Pulau Pari, Kepulauan Seribu
Mayoritas masyarakat Pulau Pari memiliki mata pencaharian sebagai nelayan dan petani rumput laut. Penurunan pendapatan mayoritas masyarakat memerlukan solusi dalam bentuk alternatif mata pencaharian dengan mengoptimalkan potensi Sumber Daya Alam (SDA) di Pulau Pari berupa pariwisata bahari. Pariwisata bahari menjadi alternatif mata pencaharian utama maupun sampingan di Pulau Pari melalui Usaha Kecil Menengah (UKM). Tujuan penelitian adalah (1) mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang dapat memengaruhi tingkat pendapatan masyarakat Pulau Pari, baik rumahtangga yang memanfaatkan potensi pariwisata (MP) maupun yang tidak memanfaatkan potensi pariwisata (TMP); (2) mengkaji tingkat kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan Pulau Pari, Kepulauan Seribu; (3) mengkaji alternatif strategi kebijakan pemanfaatan potensi pariwisata bahari melalui UKM sebagai upaya peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat di Pulau Pari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi (1) analisis deskriptif; (2) analisis uji beda pendapatan; (3) analisis faktor-faktor yang memengaruhi pendapatan masyarakat; (4) analisis tingkat kesejahteraan masyarakat; (5) analisis beda uji nyata kesejahteraan; (6) analisis Internal Factor Evaluation (IFE) dan External Factor Evaluation (EFE); (7) analisis Strengths, Weaknesses, Opportunities dan Threats (SWOT) dan (8) Analisis Quantitative Strategic Planning Matrix. Responden penelitian adalah kepala keluarga dan anggota keluarga yang diperoleh dengan teknik purposive sampling. Jumlah contoh yang diambil adalah 40 rumahtangga yang aktif dalam kegiatan pariwisata dan 40 rumahtangga yang tidak aktif dalam kegiatan pariwisata atau total 80 responden. Responden penyusunan alternatif strategi kebijakan pemanfaatan UKM untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat di Pulau Pari menggunakan teknik purposive sampling. Responden yang dipilih dalam penelitian ini berasal dari unsur pemerintah, tokoh masyarakat, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan UKM.
Hasil kajian meliputi (1) Faktor-faktor yang diidentifikasi berpengaruh nyata terhadap pendapatan masyarakat Pulau Pari adalah pendidikan, jumlah anggota keluarga, tingkat pengeluaran dan jarak serta terdapat perbedaan nyata pendapatan antara rumahtangga MP yang lebih tinggi dibandingkan rumahtangga TMP; (2) Berdasarkan 21 indikator keluarga sejahtera yang dikeluarkan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), rumahtangga MP cenderung lebih sejahtera dibandingkan dengan responden TMP, pada kategori Keluarga Sejahtera III (KS3) plus rumahtangga MP 75% lebih banyak dibandingkan rumahtangga TMP, serta terdapat perbedaan nyata kesejahteraan antara rumahtangga MP dan rumahtangga TMP; (3) Kekuatan utama dalam perumusan alternatif strategi kebijakan pemanfaatan potensi pariwisata bahari melalui UKM dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat adalah tingginya kesadaran masyarakat menjadikan sektor pariwisata bahari sebagai
iii
sumber mata pencaharian alternatif. Kelemahan utama adalah rendahnya tingkat pendidikan masyarakat dalam pengelolaan pariwisata bahari. Dukungan regulasi pemerintah terhadap pengembangan pariwisata bahari menjadi peluang yang paling mungkin diraih oleh Pulau Pari, sedangkan masih tingginya tingkat kerawanan kawasan merupakan ancaman terkuat. Alternatif strategi kebijakan prioritas pemanfaatan potensi pariwisata bahari melalui UKM dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Pulau Pari dilakukan melalui pengembangan tata ruang, amenities, aksesibilitas dan stabilitas keamanan wisata bahari Pulau Pari
Formulasi Dan Pendugaan Umur Simpan Biskuit Berbasis Sagu, Konsentrasi Protein Ikan Nila Serta Spirulina Sp
Ikan dan mikroalga khususnya Spirulina dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan konsumsi protein di masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan konsumsi gizi protein adalah melakukan diversifikasi dan formulasi produk. Biskuit merupakan salah satu makanan ringan atau snack yang disukai masyarakat. Formulasi bahan kaya protein dapat meningkatkan gizi produk dan asupan gizi protein konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan formula terpilih biskuit sagu dengan penambahan KPI dan Spirulina serta membandingkan komposisi kimia, aktivitas antioksidan, kerenyahan, aktivitas air dan pendugaan umur simpannya. Biskuit terpilih berdasarkan karakteristik sensori adalah P9 (KPI 20 g dan Spirulina 9 g). Karakteristik kimia-fisik biskuit P9 diantaranya kadar air 1,13%, kadar abu 2,66%, kadar lemak 15,21%, kadar protein 15,87% dan kadar karbohidrat 65,14%, IC50>1000ppm, kerenyahan 241,3 gf, aktivitas air 0,40. Biskuit yang disimpan menggunakan kemasan retort pouch pada suhu 25 mempunyai umur simpan 162 hari. Total energi yang disumbangkan pada 36 g takaran saji 165,92 kkal
- …
