1,720,988 research outputs found
Prevalens karies dan gingivitis di kalangan atlet istimewa olimpiade Indonesia di sebelas provinsi di Indonesia
Jawa Barat 83.8%. DKI Jakarta 80.2%, dan Jawa Timur 83.5%) berbanding dengan atlet yang tinggal di luar pulau Jawa. Secara umumnya prevalens inflamasi gusi pada atlet kurang upaya intelektual adalah 29.47%. Atlet dari wilayah DKI Jakarta menunjukkan prevalen inflamasi gusi tertinggi iaitu 51.04% berbanding dengan atlet daripada wilayah Nusa Tenggara Barat dengan 14.84%. Berdasarkan hasil tersebut, prevalen karies dan gingivitis adalah tinggi. Atlet yang tinggal di pulau Jawa mengalami kerosakan gigi yang tidak dirawat dan inflamasi gusi yang lebih tinggi berbanding dengan atlet yang tinggal di luar pulau Jawa
Potret Buram Pelayanan Kesehatan Lanjut Usia di Indonesia
Jumlah dan proporsi kelompok lanjut usia (lansia) di seluruh dunia, terus meningkat, dan cenderung menjadi masalah kesehatan dan sosial sehingga mendapat perhatian dan dukungan yang serius. Resolusi PBB no 46/ 1991, 16 Desember 1991 menghimbau agar seluruh negara di dunia memberikan hak yang layak kepada kelompok lansia. Di Indonesia, populasi lansia pada tahun 2000 (17,2 juta) meningkat 3 kali lebih besar dari pada tahun 1970 (5,3 juta). Pada tahun 2020, jumlah dan proporsi kelompok lansia di Indonesia diprediksi akan mencapai 28 juta jiwa dan 9,5%. Aspek legal telah menempatkan lansia Indonesia pada tempat yang respek dan terhormat, tetapi, kenyataan memperlihatkan sebaliknya, lansia berada pada posisi yang lemah, tersisihkan dan tak berdaya. Tujuan pelayanan kesehatan lansia adalah mengantarkan mereka melintasi usia lanjut dalam keadaan sehat, berbahagia, produktif dan mandiri. Tanpa aksi nyata yang terencana, serius dan sinambung, lansia justru semakin terpuruk dan berkembang menjadi masalah kesehatan dan sosial yang serius. Jumlah lansia telantar dan berisiko tinggi terlantar adalah 3.274.100 dan 5.102.800 orang. Lansia yang menjadi gelandangan dan pengemis adalah 9.259 orang, dan yang mengalami tindak kekerasan 10.511 orang. Pengakuan hak lansia ternyata masih sebatas undang-undang belum diimplementasikan pada aksi nyata yang terencana, terukur dan sinambung.Kata kunci: Lansia, hak undang-undang, status kesehatanAbstractGlobally, the number and proportion of aging increase sharply and continuously. The importance of aging as public health problem has attracted serious attention and support by United Nation as shown by its resolution No 46/ 1991, 16 December 1991, that recommends the countries all over the world to provide appropriate rights for aging people. In Indonesia, the number of aging people in 1970 (5,3 milions) increases 3 times higher in 2000 (17, 2 millions). In 2020, the number and proportion of aging population in Indonesia are predicted to be about 28 millions and 9,5%, respectively. The Indonesian legal aspect has placed aging people in respectful and honored position. But, the reality shows the opposite side where the aging people are eliminated and being in a dependent position. The legal aspect must able to deliver Indonesian aging community pass through the old age in a healthy, happy, productive and independent condition. But, without planned, serious, and continuous real actions, the aging people condition will become worst and worst. The increasing number and proportion of aging people, if not followed by quality improvement of health services tend to be serious social and public health problem. The numbers of already neglected and high risk of neglected aging people in Indonesia are about 3.274.100 and 5.102.800 persons, respectively. The aging people who are homeless and begging on street is 9.259 persons, and those suffered from abuse is 10.511 persons. In Indonesia, the aging people’s rights is only shown on regulation but it has not implemented yet.Keywords: Aging people, rights, health status
URL Dokumen “Generalized Structural Equation Modelling: Keputusan Pemeriksaan HIV AIDS pada Waria (Analisis Data Survei Terpadu Biologis dan Perilaku Tahun 2013)”
Waria sering mendapatkan diskriminasi. Perilaku waria yang berisiko perlu tindakan pendeteksian dini sehingga tidak menjadi sumber penularan. Penelitian bertujuan untuk melihat model perilaku waria dalam memutuskan pemeriksaan HIV/AIDS di Palembang, Pontianak, Samarinda, dan Makasar tahun 2013. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional, menggunakan data STBP tahun 2013. Hasil analisis GSEM memperlihatkan faktor predisposing mempengaruhi keputusan pemeriksaan HIV/AIDS pada waria (koef. path=0,61). Peran petugas berpengaruh terhadap pengetahuan waria (koef. path=1,1) dan mempunyai pengaruh yang besar dalam pengambilan keputusan pemeriksaan HIV/AIDS pada waria (koef. path=3,5). Oleh sebab itu, penyuluhan melalui petugas kesehatan atau petugas lapangan sangat penting dalam pengambilan keputusan pemeriksaan HIV/AIDS
Hubungan Status Ekonomi dengan Jumlah Anak Lahir Hidup pada Wanita Kelompok Usia Kurang dari 45 Tahun dan Kelompok Usia 45-49 Tahun Kawin (Analisis Data SDKI 2017)
Permasalahan kependudukan masih sangat kompleks. Salah satu hal nyata yang dihadapi adalah pertumbuhan penduduk yang relatif masih tinggi. Salah satu bagian dari pertumbuhan penduduk tidak terlepas dari jumlah anak lahir hidup. Salah satu faktor yang diduga berhubungan dengan jumlah anak lahir hidup adalah status ekonomi. Penelitian ini dilakukan untuk melihat besar hubungan antara status ekonomi dengan jumlah anak lahir hidup pada wanita usia kurang dari 45 tahun berstatus kawin yang masa reproduksinya masih berjalan dan usia 45-49 tahun berstatus kawin yang sudah masuk ke akhir masa reproduksi. Penelitian ini dilakukan menggunakan desain studi potong lintang menggunakan data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017. Penelitian ini menemukan bahwa pada kedua kelompok umur diketahui bahwa terdapat hubungan signifikan antara status ekonomi dengan jumlah anak lahir hidup. Ditemukan pula bahwa odds lebih besar ditemukan pada status ekonomi sangat miskin, miskin, menengah, dan kaya dibanding dengan wanita yang status ekonominya sangat kaya. Selanjutnya ditemukan bahwa pada wanita usia kurang dari 45 tahun, didapati hasil bahwa variabel pendidikan, status pekerjaan, usia pertama menikah, penggunaan kontrasepsi, dan preferensi jumlah anak menjadi perancu antara status ekonomi dengan jumlah anak lahir hidup. Sedangkan pada wanita usia 45-49 tahun, variabel wilayah tempat tinggal, statuspekerjaan usia pertama menikah, penggunaan kontrasepsi, dan preferensi jumlah anak menjadi perancu antara status ekonomi dengan jumlah anak lahir hidup
Determinan Komplikasi Kronik Diabetes Melitus pada Lanjut Usia
Indonesia menghadapi jumlah penduduk lanjut usia (lansia) yang semakin meningkat dan diikuti oleh peningkatan frekuensi penyakit tidak menular kronis atau multimorbiditas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan faktor yang berhubungan komplikasi kronis pada lansia penderita diabetes melitus. Penelitian ini menggunakan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2007 dengan desain cross sectional representatif Indonesia dan metode cluster 2 tahap untuk pengambilan sampel. Sampel adalah 1.565 lansia penderita diabetes melitus. Metode analisis yang digunakan meliputi analisis deskriptif dan multivariat. Hasil analisis menunjukkan bahwa prevalensi komplikasi kronis pada lansia adalah sekitar 73,1%, dengan hipertensi sebagai komplikasi terbanyak. Berdasarkan analisis multivariat diketahui pula bahwa faktor-faktor yang berhubungan dengan komplikasi diabetes adalah usia, jenis kelamin, obesitas, merokok, dan aktivitas fisik dan faktor utama yang berhubungan adalah merokok (OR = 2,48). Hasil penelitian menyarankan program untuk mencegah kesakitan dan komplikasi diabetes pada lansia perlu ditingkatkan. Saat ini program Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yaitu CERDIK meliputi cek kesehatan secara berkala, enyahkan asap rokok, rajin berolahraga, diet sehat kalori seimbang, istirahat yang cukup dan kendalikan stres perlu diperluas. Indonesia faces a growing number of elderly people is increasing, with increasing elderly, not infectious diseases increase chronic or multimorbidity, there by the study has aims to explore the prevalence of Chronic Complications on elderly with diabetes mellitus and related factors. The research used data from National Basic Health Research 2007. National Basic Health Research is a cross-sectional design survey, two stage cluster method for sampling. The result is shown that the prevalence of chronic complication on the elderly with diabetes mellitus is 73.1%. Hypertension disease is the most of chronic complication that has been frequent appeared on elderly with diabetes mellitus. Based on multivariate analysis revealed to diabetes mellitus complication related with age, gender, obesity, smoking, and physical activity. The study purposes to emphasize of prevention and promotion program such as CERDIK program from Ministry of Health, Republic of Indonesia. The CERDIK program has many intervention programs, for example, reducing smoking, delegating regularly exercise, balancing healthy-diet calorie, resting and taking control of stress
Hubungan Status Ekonomi dengan Jumlah Anak Lahir Hidup Pada Wanita Kelompok Usia Kurang dari 45 Tahun dan Kelompok Usia 45-49 Tahun Kawin (Analisis Data SDKI 2017)
Permasalahan kependudukan masih sangat kompleks. Salah satu hal nyata yang dihadapi adalah pertumbuhan penduduk yang relatif masih tinggi. Salah satu bagian dari pertumbuhan penduduk tidak terlepas dari jumlah anak lahir hidup. Salah satu faktor yang diduga berhubungan dengan jumlah anak lahir hidup adalah status ekonomi. Penelitian ini dilakukan untuk melihat besar hubungan antara status ekonomi dengan jumlah anak lahir hidup pada wanita usia kurang dari 45 tahun berstatus kawin yang masa reproduksinya masih berjalan dan usia 45-49 tahun berstatus kawin yang sudah masuk ke akhir masa reproduksi. Penelitian ini dilakukan menggunakan desain studi potong lintang menggunakan data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017 yang melibatkan 21341 sampel dari wanita usia kurang dari 45 tahun yang berstatus kawin dan 3312 sampel wanita kelompok usia 45-49 tahun yang berstatus kawin. Penelitian ini menemukan bahwa pada kedua kelompok umur diketahui bahwa terdapat hubungan signifikan antara status ekonomi dengan jumlah anak lahir hidup. Ditemukan pula bahwa odds lebih besar ditemukan pada status ekonomi sangat miskin, miskin, menengah, dan kaya dibanding dengan wanita yang status ekonominya sangat kaya. Selanjutnya ditemukan bahwa pada wanita usia kurang dari 45 tahun, didapati hasil bahwa variabel pendidikan, status pekerjaan, usia pertama menikah, penggunaan kontrasepsi, dan preferensi jumlah anak menjadi perancu antara status ekonomi dengan jumlah anak lahir hidup. Sedangkan pada wanita usia 45-49 tahun, variabel wilayah tempat tinggal, statuspekerjaan usia pertama menikah, penggunaan kontrasepsi, dan preferensi jumlah anak menjadi perancu antara status ekonomi dengan jumlah anak lahir hidup
Analisis Kelengkapan Pengisian Resume Medis Rawat Inap di RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran
The completeness of medical records is very important to affect the process of services provided by health workers and impact on the quality of services of a hospital. Preliminary study results conducted at RSDC Wisma Atlet Kemayoran, filling out medical resume form 5 out of 10 files no signature name of medical resume form. Also found, 3 out of 10 files have no outgoing diagnostic information. The purpose of this study is to identify the completeness of the patient's identity, review of important reports, authenticity review and review of the correct completeness of the medical resume form at RSDC Wisma Atlet Kemayoran. This research is qualitative research. The study subject consisted of 2 doctors who filled out a medical resume. The object of the study was a sample of inpatient medical records from June 7-21, 2021 based on slovin formula as many as 98 files. The results of the study on the completeness of filling a medical resume seen from 4 aspects have not been high enough. Incomplete filling of medical resume forms is influenced by several factors, namely man, methode, material, and machine factors
Hubungan Pemberdayaan Wanita dengan Penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) pada Wanita Usia Subur (15-49 tahun) yang telah Menikah di Indonesia: Analisis Data SDKI 2017
Penggunaan kontrasepsi, khususnya MKJP, merupakan salah satu indikator terlaksananya program Keluarga Berencana. Namun berdasarkan hasil SDKI 2017, hanya terdapat 13,4% wanita yang menggunakan metode kontrasepsi jangka panjang. Berdasarkan beberapa penelitian sebelumnya, diketahui bahwa peran wanita penting terhadap penggunaan MKJP, dilihat melalui pemberdayaan wanita. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemberdayaan wanita dengan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) pada wanita usia subur (15-49 tahun) yang telah menikah di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional dan menggunakan data SDKI tahun 2017. Variabel dependen penelitian ini adalah penggunaan MKJP dengan variabel independen utama adalah pemberdayaan wanita. Analisis bivariat dan stratifikasi digunakan untuk melihat hubungan antara variabel dependen dan independen dan mengetahui variabel perancu antara hubungan tersebut. Wanita yang berdaya memiliki risiko 1.15 kali lebih tinggi untuk menggunakan MKJP daripada wanita yang tidak berdaya. Diketahui bahwa variabel pendidikan wanita dan indeks kekayaan rumah tangga merupakan variabel perancu pada hubungan antara pemberdayaan wanita dengan penggunaan MKJP. Penggunaan MKJP yang masih rendah merupakan salah satu tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia. Adanya hubungan antara pemberdayaan wanita dengan penggunaan MKJP dapat menjadi salah satu pertimbangan bagi instansi pemerintahan untuk mengembangkan kesehatan dengan berfokus pada peran wanita
Hubungan Pemberdayaan Wanita dengan Penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) pada Wanita Usia Subur (15-49 tahun) yang telah Menikah di Indonesia: Analisis Data SDKI 2017
Penggunaan kontrasepsi, khususnya MKJP, merupakan salah satu indikator terlaksananya program Keluarga Berencana. Namun berdasarkan hasil SDKI 2017, hanya terdapat 13,4% wanita yang menggunakan metode kontrasepsi jangka panjang. Berdasarkan beberapa penelitian sebelumnya, diketahui bahwa peran wanita penting terhadap penggunaan MKJP, dilihat melalui pemberdayaan wanita. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemberdayaan wanita dengan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) pada wanita usia subur (15-49 tahun) yang telah menikah di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional dan menggunakan data SDKI tahun 2017. Variabel dependen penelitian ini adalah penggunaan MKJP dengan variabel independen utama adalah pemberdayaan wanita. Analisis bivariat dan stratifikasi digunakan untuk melihat hubungan antara variabel dependen dan independen dan mengetahui variabel perancu antara hubungan tersebut. Wanita yang berdaya memiliki risiko 1.15 kali lebih tinggi untuk menggunakan MKJP daripada wanita yang tidak berdaya. Diketahui bahwa variabel pendidikan wanita dan indeks kekayaan rumah tangga merupakan variabel perancu pada hubungan antara pemberdayaan wanita dengan penggunaan MKJP. Penggunaan MKJP yang masih rendah merupakan salah satu tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia. Adanya hubungan antara pemberdayaan wanita dengan penggunaan MKJP dapat menjadi salah satu pertimbangan bagi instansi pemerintahan untuk mengembangkan kesehatan dengan berfokus pada peran wanita
Efektivitas Edukasi Oleh Kader Sebaya Pada Peningkatan Pengetahuan Anemia Remaja Putri
Anemia pada remaja putri masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia dengan prevalensi mencapai 32%. Intervensi edukasi konvensional belum optimal meningkatkan pengetahuan dan perilaku pencegahan anemia. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas edukasi oleh kader sebaya terhadap peningkatan pengetahuan tentang anemia pada remaja putri. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review dengan protokol PRISMA terhadap 19 artikel dari lima database elektronik (PubMed, Scopus, CINAHL, Google Scholar, dan Garuda) dengan rentang publikasi 2013-2023. Hasil tinjauan menunjukkan edukasi sebaya efektif meningkatkan pengetahuan anemia pada remaja putri secara signifikan (p<0,05) dengan peningkatan skor pengetahuan 3,56 poin lebih tinggi dibandingkan metode konvensional. Keberhasilan edukasi sebaya dipengaruhi oleh karakteristik kader, metode dan media edukasi, durasi program, serta faktor sosio-ekonomi. Terdapat korelasi positif antara pengetahuan dengan sikap (β=0,484) dan praktik pencegahan anemia (β=0,579). Untuk keberlanjutan program, diperlukan pendekatan kolaboratif yang melibatkan pendidikan sebaya dan dukungan profesional kesehatan
- …
