112 research outputs found

    Kandungan Logam Berat Pb dan Ni serta Resuspensi Batubara di Perairan Sekitar Muara Sungai Cimandiri Teluk Palabuhanratu

    No full text
    Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dibangun di wilayah perairan sekitar muara Sungai Cimandiri yang terletak di Teluk Palabuhanratu, Jawa Barat sejak tahun 2008 dan aktif beroperasi sejak tahun 2014. Keberadaan PLTU ini menyebabkan terjadinya ceceran batubara ke kolom perairan laut akibat proses bongkar muat bahan bakar. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kandungan logam berat timbal (Pb) dan Nikel (Ni) pada fase air terlarut, padatan tersuspensi, dan sedimen di perairan sekitar muara Sungai Cimandiri, serta menguji potensi kandungan logam berat Pb dan Ni yang larut dari batubara ke kolom air melalui percobaan resuspensi sebagai simulasi ceceran batubara dari aktivitas bongkar muat bahan bakar PLTU. Pengambilan sampel dilakukan di wilayah bongkar muat batubara, antrian kapal tongkang, dan perairan Sungai Cimandiri. Resuspensi batubara dilakukan dengan pelarutan 10 gram batubara pada 300 ml air laut dengan kecepatan 10 cm/s, 20 cm/s, dan 50 cm/s. Pendeteksian logam menggunakan Flame Atomic Absorbtion Spectrofotometer (FAAS). Hasil penelitian terukur kandungan Ni dan Pb pada fase terlarut dengan kisaran 1.07 - 2.89 μg/l dan 2.73 - 3.00 μg/l, fase tersuspensi 1.06 - 3.16 mg/kg dan 0.95 - 1.50 mg/kg, fase sedimen 26.70 - 30.35 mg/kg dan 24.40 -35.55 mg/kg. Percobaan resuspensi batubara terukur kandungan Ni yang larut 4.29 μg/l, 5.70 μg/l, dan 5.83 μg/l serta Pb yang larut 7.45 μg/l, 7.20 μg/l, dan 2.66 μg/l. Perairan sekitar muara Sungai Cimandiri Teluk Palabuhanratu memiliki konsentrasi logam Ni dan Pb yang relatif normal, namun hasil uji resuspensi batubara menunjukan bahwa batubara berpotensi meningkatkan konsentrasi Ni dan Pb di lingkungan perairan

    Karakteristik Alifatik dan Polisiklik Aromatik Hidrokarbon di Sedimen Muara Sungai Somber, Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur.

    No full text
    Sungai Somber adalah salah satu sungai yang bermuara ke Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur. Aktifitas perkapalan dan pelabuhan yang terjadi di sekitar sungai berpotensi menghasilkan buangan limbah yang mengandung hidrokarbon. Keberadaan hidrokarbon di lingkungan perairan dapat menjadi kontaminan yang dapat menurunkan kualitas perairan. Dalam hal ini diperlukan informasi mengenai karakteristik hidrokarbon di muara Sungai Somber, khususnya pada sedimen. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik alifatik dan polisiklik aromatik hidrokarbon (PAH) di sedimen Muara Sungai Somber, Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur. Analisis laboratorium hidrokarbon alifatik dan PAH dilaksanakan pada bulan Juli hingga November 2011 di Pusat Laboratorium Terpadu (PLT) UIN Syarif Hidayatullah, Tangerang. Cuplik sedimen yang digunakan berasal dari Muara Sungai Somber. Analisis hidrokarbon pada cuplik sedimen diawali dengan ekstraksi dengan pelarut campuran methanol (MeOH) dan diklorometana (DCM). Ekstrak selanjutnya difraksinasi dengan pelarut n-heksana (hidrokarbon alifatik) dan pelarut campuran DCM : n-heksana (PAH). Hidrokarbon (alifatik dan PAH) dideteksi dan diidentifikasi spektra massanya dengan kromatografi gas – spektrometri massa (GC-MS). Perhitungan numerik yang dilakukan adalah perhitungan nilai carbon preference index (CPI) dan teresterial to aquatic ratio (TARHC). Nilai CPI digunakan untuk melihat ada atau tidaknya dominasi karbon ganjil atau genap pada kisaran nomor karbon tertentu, sedangkan nilai TARHC digunakan untuk menentukan apakah masukan hidrokarbon lebih dipengaruhi oleh autohtonus atau alohtonus. Senyawa hidrokarbon yang ditemukan memiliki kisaran nomor karbon C13-33 pada bagian hulu dan muara. Berdasarkan kisaran nomor karbon diperoleh nilai CPI (CPI15-21dan CPI21-31) pada bagian hulu adalah 1.00 dan 1.17, sedangkan pada muara adalah 1.22 dan 1.14. Nilai CPI (C15-21) pada bagian hulu yang berada pada kisaran 0.96-1.01 yaitu 1.00 mengindikasikan adanya kontribusi dari sumber petrogenik (petroleum). Hasil analisis cuplik sedimen tidak hanya menunjukkan adanya senyawa n-alkana pada sedimen, tetapi juga terdapat senyawa hopana dan isoprenoid (Pristana dan Phytana) serta UCM (Unresolved Complex Mixturehidrokarbon terdegradasi). Nilai TARHC yang diperoleh pada hulu dan muara berturut-turut adalah 1.63 dan 4.40 yang menunjukkan bahwa masukan hidrokarbon dari teresterial (alohtonus) lebih besar dibandingkan masukan dari perairan (autohtonus). Komposisi sumber hidrokarbon menunjukkan campuran biogenik dan petrogenik berdasarkan nilai CPI 1.00-1.22 yang lebih dominan dipengaruhi oleh masukan alohtonus. Keberadaan senyawa hopana dan UCM mengindikasikan hidrokarbon berasal dari sumber petrogenik. Polisiklik aromatik hidrokarbon pada sedimen baik di bagian hulu maupun muara belum terdeteksi

    Partisi Logam Berat Cu dan Zn dalam Sedimen di Perairan Teluk Banten.

    No full text
    Teluk Banten telah terpengaruh oleh aktivitas industri dan berpotensi membuang limbah yang terkontaminasi logam berat melalui mulut sungai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi Cu dan Zn dalam sedimen dan untuk mengetahui hubungan logam berat, baik bahan organik, maupun ukuran butiran sedimen. Sedimen diambil di lima stasiun pengamatan pada bulan Desember 2015. Analisis laboratorium dilakukan pada bulan Desember 2016 sampai Februari 2017. Kandungan logam berat dianalisis dengan menggunakan Atomic Absorption Spectrometer (AAS). Konsentrasi logam berat dalam sedimen bervariasi 1,9-10,6 mg / kg untuk Cu dan 9,2-36,9 mg / kg untuk Zn. Uji ANOVA dan analisis cluster menunjukkan tidak ada korelasi antara konsentrasi logam berat dan ukuran butiran sedimen yang diamati. Demikian pula, tidak ada korelasi antara organik dengan pasir dan lumpur. Korelasi antara Cu dan bahan organik secara tepat menunjukkan hubungan negatif dan tidak menunjukkan adanya hubungan untuk Zn

    Konsentrasi Logam Berat Timbal (Pb) dan Tembaga (Cu) pada Sedimen dan Air di Perairan Pelabuhan Klidang Lor, Batang, Jawa Tengah

    No full text
    Lead (Pb) and copper (Cu) are toxic and persistance pollutants. The information on these heavy metals water quality in the Port Klidang Lor is still limited, whereas the activities of fishing port have been growing fast. The objective of this study was to determine distribution the concentration of lead (Pb) and copper (Cu) in sediments and water in the Klidang Lor coast of, Batang, Central Java. Sediment and water samples were taken from 11 stations in April 2014. The analysis of heavy metals was performed using Atomic Absorption Spectrometry (AAS) with following APHA procedure (ed 22 , 2012, 3111 – B). Dissolved Pb and Cu concentrations varried in the water column between 0.003-0.006 mg/L and 0.007-0.008 mg/L lower than the these of threshold limit by ministry of environment. The concentration of Pb in sediment ranged between 12.73- 21.07 mg/kg and the concentration of Cu in sediment ranged from 7.73-27.21 mg/kg lower than the these of threshold limit by Dutch Quality Standard For Metals in Sediments. Source of the heavy metal concentration in these waters were possibly to be derrived from an oil spill of the vessel, the activity of shipyards, settlement activity in surrounding port. Variations of heavy metal concentration are also affected by the size of particles in the sediment and organic content

    Partisi Geokimiawi Logam Berat Ni dan Pb dalam Sedimen di Perairan Teluk Bintuni

    No full text
    Teluk Bintuni merupakan teluk yang dikelilingi oleh hutan mangrove di bagian Utara, Timur, dan Selatan, serta memiliki kegiatan pertambangan gas bumi yang diduga menghasilkan limbah yang mengandung logam berat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan potensi sumber logam berat dalam sedimen dengan metode penentuan konsentrasi partisi geokimiawi dan tingkat pencemaran. Sampel sedimen diambil pada tanggal 9 hingga 12 Maret 2019 pada lima stasiun. Penelitian ini menggunakan metode BCR SEP yang membagi logam berat menjadi fraksi terlarut asam, teroksidasi, tereduksi, dan residual. Konsentrasi setiap fraksi dianalisis dengan Spektofotometri Serapan Atom (AAS). Faktor kontaminan (Cf) dan indeks geoakumulasi (Igeo) digunakan untuk penentuan tingkat pencemaran logam di sedimen. Konsentrasi total logam Ni berkisar antara 12.48 – 19.43 mg/kg, sedangkan konsentrasi total logam berat Pb berkisar antara 5.07 – 9.98 mg/kg. Konsentrasi fraksi terlarut asam, tereduksi, teroksidasi, dan residual logam Ni berturut-turut berkisar antara ttd - 2.12 mg/kg, ttd - 0.69 mg/kg, 1.41 – 6.77 mg/kg, dan 10.45-13.45 mg/kg. Konsentrasi logam Pb fraksi terlarut asam dan tereduksi logam berada dibawah limit alat, sedangkan konsentrasi fraksi teroksidasi dan residual berturut-turut berkisar ttd- 1.34 mg/kg dan 4.18-9.98 mg/kg. Nilai Cf dan Igeo untuk kedua logam di bawah nilai 1. Hal ini menunjukkan bahwa Ni dan Pb di Teluk Bintun dapat dikategorikan belum terkontaminasi dan umumnya berasal dari sumber alami

    Kandungan Tembaga (Cu) pada Air Laut, Sedimen dan Kerang Kapak (Pinna sp) di Wilayah Jelengah, Sumbawa Barat

    No full text
    Logam Cu di lingkungan perairan laut dangkal bervariasi akibat dari berbagai proses seperti pengenceran, adsorpsi oleh partikel, terakumulasi dalam biota dan mengendap di sedimen. Dalam lingkungan perairan ada tiga media yang dapat dipakai sebagai indikator pencemaran logam berat, yaitu air, sedimen dan organisme hidup. Penelitian ini bertujuan menentukan kadar Cu di air, sedimen, dan kerang kapak (Pinna sp) yang hidup di wilayah perairan Jelengah, Sumbawa Barat. Penelitian dilakukan pada bulan Januari-April 2012 yang terdiri dari kegiatan lapang dan analisis logam berat di laboratorium. Kegiatan lapang mencakup pengukuran kualitas air, pengambilan sampel air dan sedimen untuk analisis Cu dilakukan pada 9 stasiun yang menyebar pada arah barat, utara dan selatan dari timur perairan Jelengah serta pengambilan sampel kerang kapak. Sampel air, sedimen dan kerang tersebut di ekstrak kemudian dianalisis menggunakan Atomic Absorption Spectrometry (AAS) untuk mengukur konsentrasi Cu di air, sedimen dan biota, sedangkan fraksi sedimen menggunakan metode pengayakan dan metode pipet untuk mengukur komposisi fraksi lanau dan liat. Konsentrasi logam Cu terlarut berkisar antara ttd–0,011 mg/l, konsetrasi Cu pada sedimen berkisar antara 1,39-5,13 mg/kg dan pada Pinna sp berkisar antara 0,69- 6,66 mg/kg. Presentase fraksi sedimen di semua lokasi stasiun penelitian didominasi oleh fraksi pasir dan fraksi pasir sangat kasar. Komponen fraksi batu atau kerikil memiliki kisaran nilai 4,68-33,17%, fraksi pasir sangat kasar 20,06- 64,01%, fraksi pasir kasar 16,23-44,23%, fraksi pasir medium 1,8-14,84%, fraksi pasir halus 0,59-16,87%, fraksi lanau 0,02-0,11%, dan fraksi liat 0,03-0,1%. Nilai kualitas perairan Jelengah yaitu suhu perairan: 27,1-29,8°C, salinitas: 31,5-32,0 ‰, pH: 7,31-8,17, kekeruhan: 0,19-1,95 NTU. Penelitian ini menunjukkan bahwa konsentrasi logam berat Cu pada air di beberapa stasiun terindikasi lebih tinggi jika dibandingkan dengan baku mutu, sedangkan konsentrasi Cu pada sedimen dan Pinna sp berada di bawah nilai baku mutu

    Karakteristik Senyawa Polychlorinated Biphenyls (PCBs) pada Air dan Sedimen Muara Sungai Ciliwung, DKI Jakarta

    No full text
    Polychlorinated biphenyls (PCBs) is a compound that toxic, bio accumulative, persistent, and widely used in industrial activities. Ciliwung downstream in DKI Jakarta is near the industrial and residence area, so that potentially contaminated by PCBs waste. This research aims to identify the characteristic and concentration of PCBs compound in water and sediment at Ciliwung Downstream. The water samples were collected from Condet, pintu air Manggarai, Gunung Sahari, and Muara Angke, also sediment sample was collected from Muara Angke. The samples were extracted by n-hexane solution, then were analyzed by Gas Chromatography-Mass Spectrophotometry (GC-MS). The result showed that total PCBs concentration in water from Ciliwung downstream is between limit of detection (<BD) to 459.858 ppb, and 372.442 ppb in sediment. The water samples from Condet and pintu air Manggarai are dominated by high chlorination of PCBs, whereas the water sample from Gunung Sahari and sediment from Muara Angke are dominated by low chlorination of PCBs

    Proses Hidrolisis Asam Senyawa Polisakarida Rumput Laut Caulerpa racemosa, Sargassum crassifolium, dan Gracilaria salicornia

    No full text
    Rumput laut merupakan ganggang fotosintetik multiseluler yang memiliki potensi besar untuk dibudidayakan di wilayah pesisir Indonesia yang luas. Kandungan karbohidrat yang tinggi pada rumput laut menjadikan rumput laut berpotensi selain berfungsi sebagai bahan pangan juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku bioetanol. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh informasi nilai kandungan gula pereduksi dan efisiensi hidrolisis rumput laut sebagai bahan baku bioetanol. Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan komposisi kimia, kandungan gula pereduksi dan efisiensi hidrolisis Caulerpa racemosa, Sargassum crassifolium dan Gracilaria salicornia. Penelitian ini dilakukan dari bulan Januari sampai Mei 2012. Sampel rumput laut diambil di bagian selatan perairan Pulau Pari, Kepulauan Seribu, Jakarta Utara sedangkan analisis uji proksimat dan proses hidrolisis rumput laut dilakukan di Laboratorium Bioetanol, Surfactant and Bioenergi Reaserch Center (SBRC), Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LPPM) IPB. Analisis uji proksimat dilakukan menggunakan metode yang mengacu pada AOAC (1995) dengan parameter yang dianalisis adalah kadar air, kadar abu, kadar protein, kadar lemak, kadar karbohidrat dan kadar serat kasar. Proses hidrolisis dilakukan mengunakan konsentrasi padatan sebesar 15% (b/v) pada suhu 120 ˚C dan tekanan sebesar 1 atm selama 45 menit dengan parameter yang dianalisis adalah gula pereduksi dan efisiensi hidrolisis

    Variabilitas Intensitas Cahaya Terhadap Kelimpahan Dinoflagellate Di Pulau Samalona, Makassar.

    No full text
    Dinoflagellate merupakan salah satu produsen primer yang berperan penting dalam rantai makanan. Dinoflagellate autrotroph mengandung klorofil yang digunakan untuk melakukan fotosintesis. Proses fotosintesis dinoflagellate memerlukan sumber energi (cahaya matahari) dan klorofil sebagai katalisator yang mengubah bahan anorganik menjadi organik. Kelimpahan dinoflagellate dipengaruhi oleh intensitas cahaya dan ketersediaan nutrient di perairan. Penelitian ini bertujuan menjelaskan pola kecenderungan kelimpahan dinoflagellate dan klorofil serta hubungan lama penyinaran/waktu sampling terhadap kelimpahan dinoflagellate dan klorofil di Perairan Pulau Samalona. Penelitian ini menemukan 7 jenis dinoflagellate, yaitu Ceratium spp., Noctiluca sp., Protoperidinium spp., Prorocentrum spp., Gymnodinium sp, Gonyaulax sp., dan Dinophysis sp. Kelimpahan total dinoflagellate berfluktuasi pada setiap waktu sampling dan peningkatan kelimpahan terjadi antara pukul 10.00 – 12.00 dan 14.00 – 16.00. Kandungan klorofil di perairan lebih didominasi kandungan klorofil a. Nilai intensitas cahaya secara vertikal berfluktuasi pada setiap kedalaman. Perubahan intensitas semakin beragam seiring dengan semakin teriknya matahari. Kandungan nutrien tidak menunjukkan perubahan signifikan pada setiap waktu sampling. Berdasarkan hasil regresi linear sederhana, intensitas cahaya memengaruhi kelimpahan dinoflagellate, namun pengaruh kandungan nutrien sangat kecil terhadap kelimpahan dinoflagellate. Sedangkan berdasarkan Uji Anova Single Factor, waktu sampling tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kelimpahan dari jenis dinoflagellate, hanya didapatkan dari jenis Prorocentrum sp yang memiliki pengaruh terhadap waktu sampling. Kelimpahan dinoflagellate bervariasi sejak pagi hingga sore hari. Kelimpahan total dinoflagellate, intensitas cahaya dan klorofil a mengalami peningkatan pada dua waktu sampling yaitu pukul 10.00 – 12.00 dan 14.00 – 16.00. Pola kelimpahan dinoflagellate dipengaruhi oleh intensitas cahaya dan kandungan klorofil a di Perairan Pulau Samalona

    Biodegradasi Tumpahan Minyak Bumi Menggunakan Bakteri Laut Dalam dengan Penambahan Surfaktan

    No full text
    Tumpahan minyak bumi di lingkungan laut akan berdampak buruk bagi biota yang ada di dalamnya. Mitigasi tumpahan minyak yang aman, efisien, relatif murah dan mudah penerapannya adalah degradasi tumpahan minyak secara biologi dengan menggunakan mikroorganisme atau dikenal bioremediasi. Namun, tegangan permukaan minyak bumi dapat menghambat proses bioremediasi. Surfaktan memiliki kemampuan untuk meningkatkan bioavalibilitas minyak bumi sehingga memudahkan bakteri kontak dengan karbon sebagai sumber makanannya. Tujuan dari penelitian ini adalah menguji pengaruh penambahan surfaktan dietanolamida (DEA) guna meningkatkan kemampuan bakteri laut dalam untuk mendegradasi limbah minyak bumi pada media air terformasi. Uji biodegradasi minyak dilakukan pada media air terformasi sebanyak 8 liter, kemudian dilakukan pengamatan kemampuan surfaktan DEA dalam menurunkan tegangan permukaan, kandungan minyak, pH dan nutrien pada hari 0, 1, 3, 6 dan 10. Bakteri yang digunakan adalah konsorsium bakteri yang terdiri atas Enterobacter sp., Pseudomonas sp., dan Raoultella sp. Analisis GC-MS dilakukan untuk mendeteksi perubahan komponen kimia pada minyak bumi. Fraksi alifatik yang terdeteksi adalah senyawa n-alkana C17 – C31 dan C20 – C31 berturut-turut sebelum dan setelah biodegradasi. Minyak terdegradasi hingga 65.52% dengan konstanta laju degradasi (k) -0.1054 pada media dengan penambahan surfaktan DEA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa surfaktan DEA mampu meningkatkan kemampuan konsorsium bakteri dalam mendegradasi minyak bumi
    corecore