1,721,004 research outputs found
Potensi Cendawan Filoplan sebagai Agens Biokontrol Penyakit Bercak Ungu Bawang Daun
Bawang daun merupakan komoditas hortikultura yang penting di Indonesia.
Faktor yang mempengaruhi produksi bawang daun salah satunya adalah penyakit
tanaman. Penyakit bercak ungu merupakan penyakit penting yang menyerang
bawang daun. Pengendalian yang sudah dilakukan masih kurang efektif dan tidak
ramah lingkungan. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa cendawan
filoplan dapat menjadi agens biokontrol untuk mengendalikan penyakit bercak
ungu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keragaman cendawan filoplan
pada pertanaman bawang daun secara monokultur dan tumpang sari, serta
mengetahui potensi cendawan filoplan sebagai agens biokontrol untuk mengendalikan
penyakit bercak ungu. Kejadian penyakit dilapangan dihitung berdasarkan
jumlah tanaman yang sakit dibagi dengan jumlah tanaman diamati.
Pengambilan sampel untuk isolasi cendawan filoplan dan cendawan patogen
dilakukan pada dua lahan monokultur dan dua lahan tumpang sari. Metode yang
dilakukan yaitu isolasi cendawan filoplan, uji patogenisitas, isolasi dan uji postulat
Koch A. porri, dan uji antagonis secara in vitro terhadap A. porri. Analisis
keragaman cendawan filoplan dilakukan menggunakan indeks keragaman
Shannon-Wienner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian penyakit bercak
ungu di pertanaman monokultur lebih tinggi dibandingkan dengan tumpang sari dan
keragaman cendawan filoplan pada tanaman tumpang sari lebih tinggi
dibandingkan dengan tanaman monokultur. Cendawan filoplan yang berpotensi
sebagai agens antagonis yaitu P1S3L1K (Trichoderma sp. 1), P1S1L21PT
(Trichoderma sp. 2), CHP4 (Leptosphaerulina sp.), POS4L1HT (Curvularia sp.),
CHP2, P0S3L21P (Mortierella sp.), KPK1 (Cryptococcus sp.), P0S2L21
(Nigrospora sp.), dan P0S5L21P (Gongronella sp.). Hasil uji antagonis
menunjukkan bahwa isolat Trichoderma sp. 1 dan Trichoderma sp. 2 memiliki
persentase tingkat hambatan relatif tertinggi dibandingkan isolat lainny
Cendawan Terbawa Benih Padi IPB-3S serta Potensi Pengendaliannya dengan Perlakuan Fisik dan Biologi.
IPB-3S merupakan padi varietas baru di Indonesia, yang dikembangkan oleh Institut Pertanian Bogor. Varietas ini unggul dalam peningkatan produksi dibandingkan dengan varietas lain. Mikroorganisme yang berasosiasi dengan benih dapat mempengaruhi mutu benih yang berakibat pada produktivitas tanaman padi. Perlakuan benih dengan hot water treatment dan PGPR merupakan salah satu cara untuk mengendalikan cendawan terbawa benih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berbagai cendawan yang dapat terbawa benih padi varietas IPB-3S, melakukan uji patogenesitas dari cendawan tersebut, serta mengetahui potensi pengendaliannya dengan perlakuan benih padi baik secara fisik maupun biologi. Penelitian dibagi ke dalam lima percobaan yaitu uji kesehatan benih dengan pengamatan biji kering, uji kesehatan benih dengan blotter test, uji patogenisitas, perlakuan benih dengan metode hot water treatment, serta perlakuan benih dengan PGPR. Hasil percobaan menunjukkan bahwa terdapat tujuh genus cendawan yang ditemukan pada benih padi varietas IPB-3S yaitu Aspergillus, Penicillium, Rhizopus, Rhizoctonia, Curvularia, Fusarium, dan Colletotrichum. Uji patogenisitas menunjukkan bahwa ketujuh genus cendawan tersebut merupakan patogen. Perlakuan benih dengan hot water treatment pada suhu 54°C dan PGPR dapat mengurangi infeksi cendawan dan meningkatkan perkecambahan pada benih padi varietas IPB-3S
Inventarisasi Penyakit pada Tanaman Anggrek di Kebun Raya Bogor.
Anggrek merupakan salah satu tanaman hias yang telah banyak dikenal.
Tanaman anggrek merupakan kelompok tanaman yang memiliki keragaman yang
terbanyak, yaitu mencapai lebih dari 25 000 jenis. Banyak anggrek alam yang
telah dikonservasi di Kebun Raya Bogor. Penyebaran penyakit dapat merusak
nilai estetika dan bahkan mematikan tanaman, terutama koleksi anggrek yang
langka. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis penyakit yang
ditemukan pada koleksi anggrek di Kebun Raya Bogor. Cendawan patogen
diisolasi dari bagian tanaman bergejala, seperti daun dan akar kemudian diuji
patogenesitasnya pada daun anggrek dengan metode detached leaves. Virus
dideteksi dengan inokulasi mekanis pada daun Gomphrena globosa. Penyakit
anggrek yang ditemukan adalah antraknosa daun (Colletotrichum sp.), bercak
Curvularia (Curvularia sp.), hawar kelabu (Pestalotia sp.), bercak daun
Botryodiplodia (Botryodiplodia sp.), hawar daun Fusarium (Fusarium sp.), layu
Fusarium (Fusarium sp.), and mosaik daun (CymMV). Kejadian penyakit
dihitung pada tiga jenis penyakit utama, yaitu antraknosa daun, bercak Curvularia,
bercak daun Botryodiplodia, dan mosaik daun. Antraknosa daun merupakan
penyakit dengan insidensi penyakit tertinggi pada koleksi anggrek di Kebun Raya
Bogor
Hama dan Penyakit Tanaman Nanas (Ananas comosus L. Merr.) di Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor.
Nanas (Ananas comosus L. Merr.) merupakan salah satu komoditas buah
ekspor utama di Indonesia. Dalam enam tahun terakhir (2011-2015), produksi
nanas di Sumatera Utara mengalami kenaikan tetapi produksi nanas di Jawa Barat
mengalami penurunan. Kecamatan Tamansari merupakan salah satu daerah
penghasil nanas di Kabupaten Bogor. Hama dan penyakit menjadi faktor
pembatas dalam produktivitas nanas dan belum banyak penelitian mengenai hama
dan penyakit di Kecamatan Tamansari. Penelitian ini bertujuan memperoleh
informasi mengenai hama dan penyakit tanaman nanas, praktik budidaya tanaman
nanas, serta pengelolaan dan pengendalian hama dan penyakit tanaman nanas di
Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. Penelitian dilakukan mulai dari
Februari hingga Maret 2017 di tiga desa di Kecamatan Tamansari yaitu
Tamansari, Sukuluyu dan Sukaresmi. Pengamatan hama dan penyakit
dilaksanakan di 30 lahan dengan 9 tanaman contoh yang ditentukan dengan pola
sistematis. Proses identifikasi dilakukan mulai dari April hingga Mei 2017. Tahap
identifikasi dilakukan di Laboratorium Biosistematika Serangga, Laboratorium
Mikologi Tumbuhan dan Laboratorium Nematoda Tumbuhan, Departemen
Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Metode penelitian
adalah survei lahan, pengambilan sampel tanaman contoh, perhitungan kejadian
serangan hama, kejadian dan keparahan penyakit, identifikasi hama dan penyakit,
wawancara petani dan analisis data. Varietas nanas yang diamati adalah Queen.
Hama yang ditemukan adalah kutu putih (Dysmicoccus brevipes) (Hemiptera:
Pseudococcidae), uret Lepidiota stigma (Coleoptera: Scarabaeidae), tikus Rattus
spp. (Rodentia: Muridae), dan babi hutan (Sus scrofa) (Artiodactyla: Suidae).
Sedangkan penyakit yang ditemukan adalah penyakit layu nanas MWP (mealybug
wilt of pineapple), bercak kelabu (Pestalotia sp.), nematoda peluka akar
(Pratylenchus spp.), dan liken. Hama dan penyakit utama pada tanaman nanas di
Kecamatan Tamansari adalah kutu putih (Dysmicoccus brevipes) dan penyakit
layu nanas MWP (mealybug wilt of pineapple)
Identifikasi Organisme Pengganggu Tanaman Gandum (Triticum aestivum L.) di Kuningan dan Bogor, Provinsi Jawa Barat
The development of wheat crops in Indonesia has been struggling to fulfill domestic needs which increase over time. Information about plant pest organisms which attack introduced (SO9) and IPB bred strain (Kasifbey) wheat is one of the main constraints to maintain production capacity of the wheat crops. Therefore, this research needs to be performed. The aim of this research is to find out information about the plant pest organisms on the SO9 and Kasifbey wheat. Observations on the crops have been conducted at the two places cultivation: in Leuwimalang village, Cisarua Subdistrict, Bogor District (705 m above sea surface) and in Cilimus village, Cilimus Subdistrict, Kuningan District (418 m above sea surface) West Java Province. Symptoms of the plant pest organisms which appear on the crops were observed. Subsequently, the extent and intensity of the pest attacks on the crops were quantified. Finally, the samples of the diseased crops and insects were identified at the laboratory using determination key identification. The insects which found on the wheat crops are some species of the Lepidoptera caterpillars and several species of aphids (Hemiptera: Aphididae), species of Oxya sp. (Orthoptera: Acrididae), Nezara viridula (Hemiptera: Pentatomidae), Leptocorisa oratorius (Hemiptera: Alydidae), white grub larvae (Coleoptera: Scarabaeidae), and stem borer. Pathogens which are found on the wheat crops: Fusarium sp., Helminthosporium sp., Phoma sp., Curvularia sp., and Alternaria sp.. The dominant pest in each location are different. The Oxya sp. is a dominant pest in Kuningan and attacks 100% of the sample area of the SO9 and Kasifbey wheat crops. On the other hand, Mythymna unipuncta is a dominant pest in Cisarua with more than 50% attacked area. Diseases of the wheat crops at both location are mostly caused by the Helminthosporium sp. with 100% diseases incidence. The Kasifbey is more frequently attacked by insects and pathogens than the SO9
Pemanfaatan cendawan endofit dalam pengendalian busuk umbi (Fusarium oxysporum) pada bawang merah (Allium cepa var. aggregatum)
Yellow disease caused by Fusarium oxysporum is an important disease on shallot which may cause 50% yield loss. The ability to spread rapidly and to survive longer in a suitable soil condition are two main factors causing its difficult to control. Many report on potential of endophytic fungi as biological control agents has been published. The aim of this research was to study the ability of endophytic fungi to suppress the development of yellow disease. The pathogenicity test of endophytic fungi isolates to shallot seeds was carried out in the laboratory and grouped them into pathogenic (growth percentage of 0%-95%), potential pathogenic (95%-99%), and nonpathogenic (100%) isolates. The effectiveness of chosen isolates (PUP1 (70%), HAP2, AAP1, MAT7 (97%) and HAP1, AAP2, AAT, PAP4, PAT3 (100%)) was evaluated in greenhouse by dipping the germinated seeds in a suspension of each isolate and inoculating the testing plant with pathogenic F. oxysporum when it was 14 days old. The effectiveness test in greenhouse showed that all treatments of endophytic fungi had an ability to suppress the development of yellow disease, significantly different to control. The percentage of highest disease incidence was shown by MAT7 isolate (38.75%) with lowest efficacy rate (34.04%) whilst the lowest disease incidence showed by PAP4 (22.50%) and PUP1 (21.25%) isolates with the highest efficacy rate (61.70% and 63.83% respectively)
Keanekaragaman Cendawan Terbawa Biji Kedelai Impor.
Kedelai yang diimpor wajib dikenakan tindakan pemeriksaan karantina yaitu
pemeriksaan administratif maupun kesehatan. Percepatan dwelling time di
pelabuhan menuntut percepatan pelayanan pemeriksaan karantina. Saat ini
pengambilan contoh kedelai untuk pemeriksaan karantina dilakukan di dekat pintu
kemas. Penelitian ini bertujuan mempelajari keanekaragaman cendawan terbawa
biji kedelai di beberapa lokasi dalam peti kemas sebagai dasar pengambilan contoh.
Pengambilan contoh kedelai dilakukan pada 3 lokasi di dalam 1 peti kemas
yaitu bagian depan, tengah dan belakang menggunakan stick sampler. Stick sampler
memiliki 3 lubang dan tiap lubang mampu menampung lebih dari 400 biji kedelai.
Masing-masing 400 biji dikoleksi dari setiap lubang stick sampler untuk keperluan
pemeriksaan cendawan. Contoh kedelai untuk mengetahui pengaruh lama simpan
diperoleh petugas dari consignment berikutnya. Masing-masing 400 biji untuk
pemeriksaan cendawan dengan lama simpan 0, 4, 8, 12 dan 16 hari pada suhu
ruangan. Pemeriksaan dilakukan dengan metode blotter test. Cendawan yang
ditemukan kemudian diidentifikasi. Variabel yang dianalisis setelah cendawan
diidentifikasi adalah jumlah spesies cendawan, keanekaragaman spesies cendawan,
tingkat infeksi cendawan, tingkat infeksi cendawan dominan, tingkat infeksi
cendawan lapangan dan kemiripan komunitas cendawan. Sedangkan pengaruh lama
simpan contoh terhadap keberadaan cendawan terbawa biji dianalisis menggunakan
tingkat infeksi cendawan.
Pemeriksaan langsung terhadap biji kedelai sebelum blotter test ditemukan
cendawan Peronospora manshurica penyebab downy mildew. Menurut Permentan
Nomor 51 tahun 2015, cendawan tersebut termasuk organisme pengganggu
tumbuhan karantina A2.
Hasil pemeriksaan cendawan terbawa biji di 3 lokasi pengambilan yaitu
bagian depan, tengah dan belakang di dalam peti kemas diketahui bahwa jumlah
spesies cendawan terbawa biji berbeda berturut-turut 23, 22 dan 21, sedangkan
jumlah spesies cendawan lapangan berturut-turut 13, 10 dan 10. Spesies cendawan
Acremonium sp., Fusarium semitectum, Fusarium. sp.2, Fusarium sp.3, Nigrospora
sp. dan Verticillium sp. hanya ditemukan di lokasi depan dalam peti kemas. Spesies
cendawan yang hanya ada di lokasi tengah dalam peti kemas adalah
Gliocephalotrichum sp. dan Neurospora sp. sedangkan spesies cendawan
Cylindrocarpon sp. hanya ditemukan di lokasi bagian belakang dalam peti kemas.
Indeks keanekaragaman Shannon spesies cendawan terbawa biji di 3 lokasi
berturut-turut 2.04, 1.29 dan 1.54. Spesies cendawan lapangan yang umum
ditemukan di 3 lokasi yaitu: Alternaria alternata, Cladosporium sp.1, Fusarium
equiseti dan Fusarium semitectum. Lebih jauh spesies cendawan dominan di 3
lokasi yaitu: Penicillium sp, Aspergillus flavus, Aspergillus sp.2 dan Rhizopus sp.
Tingkat infeksi tertinggi cendawan lapangan ditemukan pada bagian depan,
sedangkan cendawan penyimpanan ditemukan pada bagian belakang dalam peti
kemas. Index of similarity Sorensen (IS) cendawan antara bagian depan dengan
tengah dan bagian depan dengan belakang di dalam peti kemas rendah (IS < 0.75),
namun antara bagian tengah dengan bagian belakang di dalam peti kemas tinggi (IS
mendekati 0.75). Index of similarity (IS) cendawan antar lubang stick sampler di
bagian depan dalam peti kemas rendah (IS < 0.75).
Keanekaragaman cendawan terbawa biji terdapat di 3 lokasi dalam peti kemas,
namun keanekaragaman tertinggi di lokasi bagian depan. Pengambilan contoh
kedelai untuk mendeteksi dan identifikasi cendawan terbawa biji dapat dilakukan
pada bagian depan dalam peti kemas yang berasal dari lubang stick sampler 1 dan
2. Lokasi tersebut berjarak sampai 1 m dari pintu peti kemas. Pengambilan contoh
selected/targeted, merupakan metode yang valid apabila bertujuan meningkatkan
kesempatan mendapatkan cendawan sebagai organisme pengganggu tumbuhan
karantina.
Hasil pemeriksaan cendawan terbawa biji dengan lama simpan kedelai
sampai 16 hari pada suhu ruangan ditemukan sebanyak 36 spesies cendawan.
Sebagian besar cendawan yang ditemukan merupakan cendawan lapangan.
Cendawan yang dominan ditemukan sampai 16 hari simpan yaitu: Cladosporium
sp.1, Phomopsis sp., Ulocladium sp1., Alternaria alternata dan Rhizopus sp.
Tingkat infeksi cendawan lapangan secara umum menurun dengan penyimpanan
Pengamatan Penyakit pada Rafflesia patma Blume dan Inangnya (Tetrastigma sp.) di Kebun Raya Bogor
Indonesia merupakan negara yang memiliki keragaman Rafflesia terbesar di dunia. Bunga Rafflesia merupakan tumbuhan holoparasit dan tumbuhan Tetrastigma adalah inang dari Rafflesia. Rafflesia patma Blume merupakan spesies yang berukuran sedang. R. patma yang berasosiasi dengan Tetrastigma sp. di KRB adalah kibalera dan talikoja. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati dan mengidentifikasi penyakit pada R. patma dan inangnya (Tetrastiga sp.) di KRB. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang jenis penyakit yang menginfeksi R. patma dan inangnya, sehingga dapat dijadikan sebagai acuan dasar dalam manajement jangka panjang untuk koleksi ex situ. Metode yang digunakan di antaranya pengambilan tanaman sampel, pengamatan dan penghitungan kejadian penyakit, isolasi cendawan dari jaringan tumbuhan yang bergejala, ekstraksi nematoda dari akar tumbuhan inang, identifikasi cendawan dan nematoda, dan uji patogenisitas. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Cylindrocladium sp. dan Cilyndrocarpon sp. merupakan cendawan yang ditemukan pada kuncup R. patma. Cendawan Pestalotia sp., Botryodiplodia sp., dan nematoda Helicotylenchus sp. ditemukan menginfeksi tumbuhan inang Tetrastigma sp. Hasil uji patogenesitas menunjukkan bahwa Pestalotia sp. bersifat patogen terhadap daun tumbuhan Tetrastigma sp
Identifikasi Forma Specialis Fusarium oxysporum Asal Bibit Kelapa Sawit dan Seleksi Agens Biokontrol
Penyakit layu fusarium pada tanaman kelapa sawit yang disebabkan oleh
F. oysporum f.sp. elaeidis (Foe) merupakan salah satu penyakit penting pada
kelapa sawit di berbagai negara produsen kelapa sawit. Di Indonesia, Foe
termasuk Organisme Pengganggu Tanaman Karantina Golongan A1 (OPT KA1)
atau belum pernah dilaporkan ada di Indonesia. Hasil penelitian terbaru
menunjukkan Fusarium spp. berasosiasi dengan berbagai gejala pada kelapa
sawit, salah satunya F. oxysporum. Meskipun belum ada laporan yang relevan
tentang kehilangan hasil kelapa sawit yang disebabkan oleh penyakit fusarium,
eksplorasi agens biokontrol sebagai upaya mencari pengendalian berbasis
biokontrol untuk mengantisipasi adanya introduksi patogen tersebut. Penelitian ini
bertujuan mengetahui forma specialis F. oxysporum asal bibit kelapa sawit
berdasarkan karakter morfologi dan teknik molekuler, serta memperoleh
cendawan agens biokontrol yang efektif dalam mengendalikan F. oxysporum pada
bibit kelapa sawit in vitro dan in planta.
Identifikasi morfologi tiga isolat cendawan F. oxysporum dilakukan pada
media PDA dan BLA, identifikasi karakter molekuler dengan teknik PCR dan
sikuensing menggunakan primer EF 1 5' -A TGGGT AAGGA(A/G)
GACAAGAC-3’ dan EF 2 reverse 5'GGA(G/A)GTACCAGT(G/C)ATCATGTT-
3'. Pengujian cendawan rizosfer calon agens biokontrol dilakukan dengan uji
patogenisitas pada tiga benih uji (kacang tanah, mentimun dan cabai). Cendawan
yang dinyatakan berpotensi sebagai agens biokontrol selanjutnya diuji
kemampuan antagonisme untuk mengetahui potensi dan mekanisme
biokontrolnya. Isolat cendawan rizosfer yang berpotensi sebagai agens biokontrol
dan empat isolat agens biokontrol koleksi Lab. Mikologi, IPB diidentifikasi
berdasarkan karakter morfologi pada media PDA dan WA. Uji antagonisme agens
biokontrol dilakukan dengan uji kultur ganda dan pembentukan senyawa volatil
in vitro. Pengujian keefektifan tujuh agens biokontrol terhadap tiga isolat
F. oxysporum patogenik pada kelapa sawit dilakukan di rumah kaca kebun
percobaan Cikabayan, IPB.
Berdasarkan karakter morfologi ketiga isolat cendawan patogen
diidentifikasi sebagai F. oxysporum. Hasil analisis kekerabatan melalui konstruksi
pohon filogenetik menunjukkan F. oxysporum isolat Cikabayan B memiliki
kedekatan dengan F. oxysporum f.sp. elaeidis NRLL 22543 asal Suriname.
Sementara F. oxysporum isolat Cikabayan A dan isolat Papua tidak berkerabat
dekat dengan F. oxysporum f.sp. elaeidis NRLL 22543 asal Suriname, akan tetapi
tetap menjadi satu clade monofilotik dengan F. oxysporum f.sp. elaeidis NRLL
22543 asal Suriname. Ketiga isolat F. oxysporum asal bibit kelapa sawit juga
memiliki homologi yang tinggi dengan F. oxysporum f.sp. elaeidis NRLL 22543
asal Suriname kecuali isolat Papua. Analisis pairwise distance dengan
F. oxysporum f.sp. elaeidis NRLL 22543 asal Suriname menunjukkan bahwa
F. oxysporum isolat Cikabayan B, Cikabayan A, dan Papua memiliki jarak genetik
2
yang bervariasi, berturut-turut adalah 0.004, 0.006, dan 0.042. Inokulasi buatan
ketiga isolat F. oxysporum pada bibit kelapa sawit in planta menunjukkan bahwa
ketiga isolat tersebut bersifat patogenik terhadap bibit kelapa sawit. Hasil uji
patogenisitas beberapa cendawan rizosfer di peroleh tiga isolat cendawan rizosfer
yang berpotensi sebagai agens biokontrol dan empat isolat agens biokontrol
koleksi Laboratorium Mikologi Tumbuhan. Berdasarkan hasil identifikasi
morfologi tujuh isolat agens biokontrol, empat isolat termasuk dalam genus
Trichoderma, yaitu T. harzianum isolat Gadingrejo 1, T. harzianum isolat
Gadingrejo 2, dan T. harzianum isolat Jambi; T. virens isolat Jambi; dan
T. inhamatum isolat Jambi, sedangkan dua isolat lainya adalah Gliocladium
fimbriatum isolat KLMT 1 dan G. fimbriatum isolat KLMT 2. Hasil uji
antagonisme menujukkan tujuh isolat agens biokontrol dapat menghambat
pertumbuhan tiga isolat F. oxysporumin vitro. Persentase penghambatan tertinggi
pada uji kultur ganda terjadi pada ketiga isolat F. oxysporum yang diberi
perlakuan G. fimbriatum isolat KLMT 1 dan isolat KLMT 2. Hasil uji
pembentukan senyawa volatil menunjukkan rerata persentase penghambatan
relatif agens biokontrol lebih rendah dibandingkan dengan persentase
penghambatan pada uji kultur ganda. Persentase penghambatan paling tinggi pada
ketiga isolat F. oxysporum terjadi pada isolat T. harzianum isolat Gadingrejo 2.
Pengujian keefektifan agens biokontrol terhadap F. oxysporum pada kelapa
sawit in planta menunjukkan bahwa, agens biokontrol dapat menghambat
nekrotik akar. Penghambatan nekrotik akar paling tinggi terjadi pada
F. oxysporum isolat Papua. Perlakuan agens biokontrol T. virens isolat Jambi
secara konsisten memiliki persentase penghambatan tinggi pada ketiga isolat
F. oxysporum. Selain efektif menghambat nekrotik akar, agens biokontrol juga
efektif menghambat perkembangan nekrotik ke bonggol bibit kelapa sawit.
Aplikasi agens biokontrol belum terlihat berpengaruh terhadap pertumbuhan
tanaman seperti tinggi tanaman, panjang akar, jumlah daun, serta bobot basah dan
bobot kering tanaman pada akhir pengamatan (empat bulan setelah perlakuan).
Populasi agens biokontrol pada media tanam menunjukkan perubahan yang
bervariasi. Pada bulan pertama pengamatan pada umumnya populasi agens
biokontrol meningkat, meskipun pada beberapa isolat peningkatan populasi
tersebut sangat sedikit. Sebagian isolat menunjukkan peningkatan populasi pada
akhir pengamatan, tetapi sebagian menunjukkan penurunan.
Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah memberikan informasi
baru tentang cendawan F. oxysporum pada rizosfer kelapa sawit di kebun
percobaan Institut Pertanian Bogor di daerah Cikabayan dan
F. oxysporum isolat Papua koleksi Laboratorium Mikologi; hasil identifikasi
F. oxysprum berdasarkan karakter morfologi dan molekuler dapat dijadikan dasar
bagi tindakan karantina terhadap bahan perbanyakan tanaman kelapa sawit impor;
serta memberikan informasi baru tentang adanya cendawan agens biokontrol yang
dapat mengendalikan F. oxysporum baik in vitro maupun in planta di rumah kaca
Dampak Penggunaan Fungisida Sintetik terhadap Kelimpahan Cendawan Endofit dan Perkembangan Penyakit Tanaman Padi
Aplikasi fungisida umum digunakan dalam pengendalian penyakit-penyakit
padi. Penggunaan fungisida dianggap memiliki pengaruh negatif terhadap
organisme non-target termasuk cendawan endofit. Cendawan endofit pada padi
telah berhasil diisolasi dan di antaranya mampu meningkatkan pertumbuhan serta
ketahanan tanaman inang dari cekaman biotik dan abiotik. Keberadaan cendawan
endofit di dalam jaringan tanaman tidak terlepas dari pengaruh keadaan lingkungan
sekitarnya, salah satunya adalah pengaruh penggunaan fungisida sintetik. Namun,
pengetahuan tentang dampak fungisida terhadap cendawan endofit belum banyak
diketahui. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mendapatkan informasi mengenai
keanekaragaman dan kelimpahan cendawan endofit tanaman padi akibat
penggunaan fungisida sintetik; dan (2) mengetahui hubungan antara perubahan
keanekaragaman dan kelimpahan cendawan endofit dengan perkembangan
penyakit pada tanaman padi karena penggunaan fungisida.
Penelitian dilakukan dari bulan Juni 2018 hingga Maret 2019 di Balai Besar
Peramalan Organisme Pengganggu Tanaman Jatisari Karawang dan di
Laboratorium Mikologi Tumbuhan Departemen Proteksi Tanaman IPB. Tahapan
penelitian dimulai dari persiapan lahan, penanaman padi, isolasi cendawan endofit,
dan aplikasi fungisida. Percobaan di lapangan terdiri atas dua taraf faktor yaitu
fungisida kontak (mankozeb), fungisida sistemik (difenokonazol), dan kontrol
sebagai pembanding. Isolasi cendawan endofit dan aplikasi fungisida dilakukan
setiap minggu, dimulai saat tanaman berumur 3 hingga 10 minggu setelah tanam
(mst). Variabel yang diamati dan dihitung adalah total segmen daun dan batang padi
yang dikolonisasi cendawan endofit, jenis dan jumlah spesies cendawan endofit,
serta frekuensi kolonisasi cendawan endofit. Selanjutnya dihitung indeks
keanekaragaman Shanon-Wiener, indeks kemerataan, dan indeks kesamaan
Sorensen cendawan endofit dari setiap perlakuan. Lima isolat cendawan endofit
dengan frekuensi kolonisasi tertinggi diuji antagonis terhadap penyebab penyakit
busuk pelepah (Sarocladium oryzae) dan juga diuji patogenisitas terhadap benih
padi. Tingkat keparahan dan kejadian penyakit tanaman padi juga diamati dalam
uji coba lapangan. Hubungan antara cedawan endofit dan keparahan dan kejadian
penyakit tanaman padi dianalisis dengan korelasi Pearson.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan kolonisasi cendawan
endofit dengan pertambahan umur tanaman padi. Terdapat 37 morfospesies
cendawan endofit yang berhasil diisolasi dari daun dan batang tanaman padi.
Berdasarkan analisis indeks keanekaragaman Shanon-Wiener dan indeks
kemerataan, cendawan endofit pada batang lebih beragam daripada daun padi.
Berdasarkan analisis indeks kesamaan Sorensen, cendawan endofit antara berbagai
perlakuan memiliki kesamaan spesies yang tinggi. Genus dominan cendawan
endofit yang mengolonisasi daun dan batang padi yaitu Acremonium, Curvularia,
Fusarium, Helminthosporium, Nigrospora, Penicillium, dan Mucor.
Pengaruh fungisida terhadap cendawan endofit daun dan batang padi tidak
menunjukkan perbedaan yang nyata. Namun, pada batang, frekuensi kolonisasi
cendawan endofit menurun selama fase pertumbuhan muda tanaman dengan
perlakuan mankozeb dan difenokonazol. Frekuensi kolonisasi genus Nigrospora
dan Fusarium juga menurun pada batang dengan perlakuan difenokonazol selama
fase pertumbuhan muda tanaman.
Mankozeb dan difenokonazol berpengaruh secara nyata mengurangi
keparahan penyakit bercak cokelat sempit (Cercospora oryzae) pada 9 dan 10 mst,
tetapi tidak memengaruhi keparahan penyakit hawar daun bakteri (Xanthomonas
oryzae pv oryzae). Sementara itu, mankozeb dan difenokonazol meningkatkan
kejadian penyakit busuk pelepah pada 8 mst. Berdasarkan analisis korelasi Pearson,
hubungan antara indeks keanekaragaman cendawan endofit (H’) dengan tingkat
keparahan dan kejadian penyakit tidak konsisten di setiap minggu. Dengan
perlakuan difenokonazol, indeks keanekaragaman (H’) cendawan endofit pada
batang konsisten berkorelasi positif terhadap keparahan penyakit bercak cokelat
sempit setiap minggu. Analisis korelasi Pearson antara frekuensi kolonisasi genus
dominan cendawan endofit dengan keparahan penyakit bercak cokelat sempit juga
tidak konsisten setiap minggu. Beberapa genus cendawan endofit secara nyata
berkorelasi negatif atau bahkan positif terhadap keparahan dan kejadian penyakit
padi pada minggu tertentu.
Berdasarkan hasil uji antagonis diperoleh bahwa isolat cendawan endofit
yang terpilih memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan penyebab penyakit
busuk pelepah (S. oryzae) dengan tingkat penghambatan berkisar antara 30% - 80%.
Mekanisme penghambatan tersebut berupa kompetisi. Berdasarkan uji
patogenesitas, Curvularia sp., Nigrospora sp., dan Penicillium 7 bersifat non
patogen terhadap benih padi.
Hasil penelitian ini dapat menjadi acuan mengenai dampak pengendalian
penyakit tanaman dengan menggunakan fungisida terhadap keanekaragaman dan
kelimpahan cendawan endofit pada tanaman padi dan kaitannya dengan
perkembangan penyakit padi
- …
