3 research outputs found
Kekekalan Interpretasi Makna Horor Dalam Mendesain Arsitektur
Bahasa tidak dapat diandalkan untuk menyampaikan informasi secara sempurna. Diperlukan metode yang paling tepat untuk penyampaian informasi yang kekal, yaitu dalam
rentang waktu yang sangat lama. Indera dan insting manusia menjadi alternatif bahasa karena kemampuan manusia untuk menerima informasi dari lingkungan sekitarnya. Insting bertahan hidup manusia juga muncul pada saat manusia mengamati media horor. Sehingga dengan memanfaatkan media horor dalam perancangan arsitektur, informasi dapat disampaikan secara universal dan kekal. Perancangan bertujuan untuk menentukan parameter yang membangun kondisi horor, identifikasi proses translasi kondisi horor pada arsitektur, dan mendefinisikan wujud arsitektur horor yang dapat diimplementasikan dalam perancangan. membentuk kondisi horor. Hasil penelitian adalah pola arsitektur yang dapat diimplementasikan pada perancangan untuk mereplikasi kondisi horor yang ditemukan pada film horor. Studi kasus implementasi pola horor dilakukan pada desain balai riset yang terletak di kawasan Selat Sempu guna merespon pelanggaran kawasan terlindungi Cagar Alam Pulau Sempu oleh turis.
=====================================================================================================================================
Language cannot be relied on to convey information perfectly. There is a need for an appropriate method to preserve information universally and eternally, in other words an
extremely long time span. Human senses and instincts become an alternative to language because of the ability to receive information from the surrounding environment. Human survival instincts are also at play when humans observe horror media. By utilizing horror media in architectural design, information can be conveyed universally and eternally. The design aims to determine the parameters that make up horror conditions, identify the translation process between horror conditions and architecture elements, and define a form of horror architecture which can be implemented in design. Comparative analysis is conducted on horror films to identify the patterns that make up the horror condition. The result of the research is an architectural pattern that can be implemented in the design to replicate the horror conditions found in horror films. A case study of the implementation of the horror pattern was carried out in the Sempu Strait area to respond to the trespassing phenomenon of tourists in the protected area of the Sempu Island Nature Reserv
ADAPTASI SEKUEN FILM HOROR PADA ARSITEKTUR SEBAGAI UPAYA MEMUNCULKAN KONDISI HOROR
Kondisi horor bersifat universal dan abadi, dapat dialami oleh setiap manusia yang mengamatinya. Fenomena tersebut dapat diamati secara berulang kali dalam waktu yang berbeda-beda, sehingga dapat dilabel sebagai sebuah tipologi. Comparative case-study analysis dilakukan pada media horor untuk mengidentifikasi ciri dan pola yang membangun kondisi horor. Dengan begitu, tipologi horor yang telah teridentifikasi nantinya dapat diterapkan pada desain untuk memunculkan kondisi horor yang serupa dengan yang diamati pada media horor. Film ditentukan sebagai media yang dapat diandalkan sebagai preseden karena kemudahan menganalisis sekuen dan vista yang ditayangkan. Hasil penelitian berupa parameter yang membangun kondisi horor, identifikasi proses translasi kondisi horor pada arsitektur, dan wujud arsitektur horor yang dapat diimplementasikan dalam perancangan
Adaptasi Sekuen Film Horor pada Arsitektur sebagai Upaya Memunculkan Kondisi Horor
Kondisi horor bersifat universal dan abadi, dapat dialami oleh setiap manusia yang mengamatinya. Fenomena tersebut dapat diamati secara berulang kali dalam lintas konteks, memiliki pengejewantahan yang beraneka rupa namun tetap memberikan efek sama yaitu kengerian pada pengamatnya, meskipun dalam kadar berbeda. Hal tersebut menjadikan horor dapat diberikan label kelompok. Comparative case-study analysis dilakukan pada media horor untuk mengidentifikasi ragam ciri dan pola yang membangun kondisi horor. Hal ini lantas dapat memunculkan kualitas horor yang berkelompok, dan sejalan dengan konsep tipologi pada desain. Penggunaan film dalam metode ini dikarenakan kemudahan menganalisis sekuen dan vista yang ditayangkannya. Hasil penelitian ini adalah sejumlah potensial parameter pembangun suasana spasial horor. Konfigurasi parameter-parameter tersebut dapat digunakan untuk mewujudkan konsep arsitektur yang menyampaikan ekspresi horor dan tertangkap sebagai sebuah makna
