Teknik Sipil dan Arsitektur
Not a member yet
350 research outputs found
Sort by
EVALUASI HUJAN BERBASIS SATELIT GPM-IMERG DI WILAYAH SUNGAI HALMAHERA UTARA UNTUK PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR
Hydrological data is a crucial component in the planning and management of water resources (SDA) in Indonesia. The availability of data to date remains a critical issue that requires immediate attention. Satellite-based rainfall data has emerged as a promising alternative with better spatial and temporal scale coverage. This satellite data has been applied globally, especially for hydrological disaster prediction in various locations. Satellite rainfall technology continues to evolve with improvements in both quality and quantity over time. This research aims to assess the feasibility of using satellite rainfall data released by NASA, known as the Global Precipitation Measurement - Integrated Multi-satellite Retrievals for GPM (GPM-IMERG), for water resources management. The study location is the North Halmahera River Basin (WS). The feasibility assessment is conducted by comparing satellite rainfall data against field observation data represented by rain gauge stations scattered throughout the study area. The satellite performance assessment uses metric evaluation methods, including Probability of Detection (POD), False Alarm Ratio (FAR), Critical Success Index (CSI), and accuracy (fraction correct). The analysis results indicate that GPM-IMERG data demonstrates good performance in predicting rainfall in the South Halmahera River Basin based on the obtained evaluation metric values. Based on the metric evaluation, GPM-IMERG satellite rainfall data at 11 locations shows good performance in predicting rainfall in the North Halmahera River Basin. This is evident from the Probability of Detection (POD) values ranging from 0.90 to 0.99, the False Alarm Ratio (FAR) between 0.41 and 0.80, as well as the Critical Success Index (CSI) meeting values of 0.20 to 0.58, and cccuracy ranging from 0.33 to 0.66.Data hidrologi merupakan komponen penting dalam perencanaan dan pengelolaan sumber daya air (SDA) di Indonesia. Ketersediaan data hingga saat ini menjadi isu krusial yang harus segera dibenahi. Data curah hujan berbasis satelit muncul sebagai alternatif menjanjikan dengan cakupan skala spasial dan temporal yang lebih baik. Data satelit ini telah diaplikasikan secara global, terutama untuk prediksi bencana hidrologi diberbagai tempat. Teknologi hujan satelit terus berkembang dengan peningkatan dari segi kualitas dan kuantitas seiring berjalannya waktu. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kelayakan penggunaan data hujan satelit yang dikeluarkan oleh NASA dengan nama Global Precipitation Measurement - Integrated Multi-satellite Retrievals for GPM GPM-IMERG untuk pengelolaan SDA. Lokasi studi pada penelitian ini yaitu pada Wilayah Sungai (WS) Halmahera Utara. Penilaian kelayakan yang dilakukan dengan membandingkan data hujan satelit terhadap data observasi lapangan yang diwakili oleh stasiun hujan yang tersebar di wilayah studi. Penilaian kinerja satelit menggunakan metode evaluasi metrik, berupa Probability of Detection (POD), False Alarm Ratio (FAR), Critical Success Index (CSI), dan akurasi (fraction correct). Hasil analisis menunjukkan bahwa data GPM-IMERG menunjukkan kinerja yang baik dalam memprediksi curah hujan di DAS Halmahera Selatan berdasarkan nilai metrik evaluasi yang diperoleh. Berdasarkan evaluasi metrik, data hujan satelit GPM-IMERG pada delapan lokasi menunjukkan performa yang baik dalam memprediksi curah hujan di WS Halmahera Utara. Hal ini terlihat dari nilai POD yang berkisar antara 0,90 – 0,99, FAR antara 0,41 – 0,80, serta nilai CSI memenuhi nilai 0,20 – 0,58 dan akurasi yang berada dalam rentang 0,33 hingga 0,66
STUDI EKSPERIMEN KEKUATAN TEKAN MORTAR DENGAN CAMPURAN KAPUR, BUBUKAN BATA MERAH DAN PASIR
This study aims to evaluate the use of lime as an alternative binder to replace cement in mortar mixtures, with the addition of crushed brick powder to enhance mechanical strength. This approach offers an environmentally friendly solution to the high carbon emissions associated with cement production. The mortar mixture was prepared using a ratio of 1:1:3 (lime : crushed brick powder : sand) with a water-to-binder ratio of 0.5. Tests were conducted to assess the compressive strength and density of the mortar at 7, 14, and 28 days of curing. The results showed that the average compressive strength increased with curing time, reaching 1.49 MPa at 7 days, 1.86 MPa at 14 days, and 2.40 MPa at 28 days. The mortar density ranged from 2,080 to 2,680 kg/m³, with average values of 2,513 kg/m³ (7 days), 2,342 kg/m³ (14 days), and 2,230 kg/m³ (28 days). These findings indicate that the combination of lime and crushed brick powder improves mortar performance and has the potential to be a more sustainable alternative construction material.
Keywords: Mortar, Lime, Crushed brick powder, Compressive strength, DensityPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan kapur sebagai bahan pengikat alternatif pengganti semen dalam campuran mortar, dengan penambahan serbuk bata merah guna meningkatkan kekuatan mekanis. Upaya ini merupakan solusi ramah lingkungan terhadap dampak produksi semen yang tinggi emisi karbon. Campuran mortar disusun dengan perbandingan 1:1:3 (kapur : serbuk bata merah : pasir) dan rasio air terhadap pengikat sebesar 0,5. Pengujian dilakukan terhadap kuat tekan dan kepadatan mortar pada umur 7, 14, dan 28 hari. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kuat tekan rata-rata meningkat seiring bertambahnya umur mortar, yaitu sebesar 1,49 MPa pada 7 hari, 1,86 MPa pada 14 hari, dan 2,40 MPa pada 28 hari. Nilai kepadatan mortar berkisar antara 2.080–2.680 kg/m³, dengan nilai rata-rata masing-masing sebesar 2.513 kg/m³ (7 hari), 2.342 kg/m³ (14 hari), dan 2.230 kg/m³ (28 hari). Temuan ini menunjukkan bahwa kombinasi kapur dan serbuk bata merah dapat meningkatkan performa mortar serta berpotensi menjadi alternatif material konstruksi yang lebih ramah lingkungan
Kata kunci: Mortar, Kapur, Bubukan_bata_merah, Kuat_teka
NORMALISASI LANSKAP KORIDOR SUNGAI MATI CITARUM DENGAN ANALISIS HIDROLOGI (Studi Kasus: Desa Rancamanyar, Kabupaten Bandung)
The Citarum River is the main river in West Java and serves ecological, economic, and hydrological functions. Unfortunately, the river basin, which is located near residential and industrial areas such as households, agriculture, livestock, and textile industries, has been heavily impacted by pollution. The causes of this pollution include factory waste, sedimentation, garbage accumulation, riverbank clearing, and a lack of public awareness. Efforts to manage the river basin have involved straightening the river body to reduce pollutant accumulation, but this has led to the creation of old river bodies known as dead rivers or oxbows. Oxbows face problems such as waterlogging, poor sanitation, unauthorized land acquisition, and social conflicts. A study was conducted to identify hydrological problems in the oxbow landscape, particularly in Rancamanyar, Baleendah, Bandung Regency. The study used a combination of qualitative data obtained through observation and interviews, as well as quantitative data from rainfall, flow rate, and oxbow storage. Analysis of the data was carried out using descriptive methods, formulas, and software. The study found that the flow entering the oxbow and the level of rainfall affect the flood cycle in the area around the Rancamanyar Oxbow. By calculating estimated planned flood discharge, inflow and outflow discharge, and the maximum capacity of the oxbow, the study determined the ideal span shape of the oxbow cross-section, which serves as the basis for normalizing the landscape of Rancamanyar Oxbow.Sungai Citarum merupakan sungai utama di Jawa Barat yang memiliki fungsi ekologis, ekonomis, dan hidrologis. Posisi Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum yang dekat dengan pemukiman penduduk dan berbagai sektor industri (rumah tangga, pertanian, peternakan, dan industri tekstil), berakibat rusaknya ekosistem DAS Citarum. Limbah pabrik, sedimentasi, penumpukan sampah, pembukaan lahan tepi sungai, dan kurangnya kepedulian masyarakat, merupakan beberapa penyebab pencemaran DAS Citarum. Upaya penanggulangan DAS berupa pelurusan badan sungai untuk mengurangi penumpukan polutan, pernah dilakukan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum pada tahun 1994 dan 2011. Dampak dari kegiatan ini adalah munculnya badan sungai lama yang tidak teraliri, dikenal dengan istilah sungai mati atau oxbow. Permasalahan yang timbul pada oxbow di antaranya genangan air, buruknya sanitasi, pengambilalihan lahan tanpa izin, hingga kecenderungan konflik sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi permasalahan hidrologi lanskap oxbow khususnya di Rancamanyar, Baleendah, Kabupaten Bandung. Menggunakan metode campuran, data kualitatif didapatkan dengan teknik observasi dan wawancara, sedangkan data kuantitatif menggunakan data curah hujan, debit aliran, dan data tampungan oxbow. Analisis data dilakukan dengan metode deskriptif dan pengujian dengan menggunakan formula dan perangkat lunak. Hasil dari penelitian ditemukan bahwa sumber aliran yang masuk ke oxbow dan tingkat curah hujan berpengaruh terhadap siklus banjir di area sekitar Oxbow Rancamanyar. Dengan perhitungan perkiraan debit banjir rencana, perhitungan debit inflow dan outflow, dan daya tampung maksimal oxbow, didapatkan bentuk bentang ideal dari penampang oxbow yang digunakan sebagai dasar dalam normalisasi lanskap Oxbow Rancamanyar
MORFOLOGI PERMUKIMAN MULTIETNIK DI KAMPUNG PURWODINATAN SEMARANG: INTEGRASI BUDAYA DALAM RUANG ARSITEKTUR
Purwodinatan Village in Semarang is one of the urban residential areas that exhibits a strong multiethnic character, with Koja, Chinese, and Javanese communities having coexisted for over a century. This study aims to examine the settlement morphology of the village and explore how the cultural values of each ethnic group are integrated into spatial forms and architectural expressions. A qualitative-descriptive approach is employed, using field observations, visual documentation, and spatial mapping to analyze street patterns, plot configurations, residential space organization, and building typologies.
The findings indicate that the morphological structure of Kampung Purwodinatan has developed organically, reflecting a gradual process of cultural adaptation. The narrow streets and branching alleys illustrate a community-based social system, while the houses and architectural elements display acculturation between Middle Eastern, Chinese, and traditional Javanese styles. Cultural integration is evident not only in the physical form of the buildings but also in the use of communal spaces such as mosques, temples, and local food stalls, which serve as social meeting points that reinforce intercommunity cohesion.
This study highlights the importance of understanding multicultural dynamics in the planning of historic urban areas and its relevance in preserving local identity through an inclusive architectural approach.Kampung Purwodinatan di Semarang merupakan salah satu kawasan permukiman urban yang menunjukkan karakter multietnik yang kuat, dengan keberadaan komunitas Koja, Tionghoa, dan Jawa yang telah hidup berdampingan selama lebih dari satu abad. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji morfologi permukiman kampung tersebut dan melihat bagaimana nilai-nilai budaya dari masing-masing kelompok etnik terintegrasi dalam bentuk ruang dan arsitektur. Pendekatan kualitatif-deskriptif digunakan dengan metode observasi lapangan, dokumentasi visual, dan pemetaan spasial untuk menganalisis pola jalan, bentuk kaveling, organisasi ruang hunian, dan tipologi bangunan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur morfologi di Kampung Purwodinatan berkembang secara organik dan mencerminkan proses adaptasi budaya yang berlangsung secara bertahap. Pola jalan sempit dengan cabang-cabang gang kecil menggambarkan sistem sosial berbasis komunitas, sementara bentuk rumah dan elemen arsitektural memperlihatkan akulturasi antara gaya Timur Tengah, Tionghoa, dan tradisional Jawa. Integrasi budaya tidak hanya terlihat dari bentuk fisik bangunan, tetapi juga dari penggunaan ruang komunal seperti masjid, klenteng, dan warung sebagai titik temu sosial yang memperkuat kohesi antarwarga.
Studi ini menegaskan pentingnya pemahaman terhadap dinamika multikultural dalam perencanaan kawasan kota lama, serta relevansinya dalam pelestarian identitas lokal melalui pendekatan arsitektur yang inklusif
ANALISIS KONDISI JALAN BERDASARKAN NILAI IRI (INTERNATIONAL ROUGNESS INDEX) (Studi Kasus: JL IR H Juanda – JL Anoa Kabupaten Tegal)
Jalan merupakan infrastruktur bidang transportasi yang digunakan sebagai prasarana lalu lintas, semakin bagus kondisi jalan pada suatu wilayah maka dapat dikatakan wilayah tersebut mempunyai tingkat kesejahteraan yang tinggi namun kurangnya informasi dan data base kondisi jalan menjadikan beberapa ruas jalan yang rusak tidak dilakukan penanganan lebih lanjut. Tujuan penelitian ini adalah melakukan penilaian kondisi jalan dimana nilai kondisi jalan ini nantinya dijadikan acuan untuk menentukan jenis program evaluasi yang harus dilakukan, apakah itu program peningkatan, pemeliharaan berkala atau pemeliharaan rutin. Manfaat yang akan didapat pada penelitian ini adalah dapat digunakan sebagai bahan acuan bagi pemerintah dan pihak pengelola jalan dalam melakukan penanganan kerusakan jalan dan juga dapat dijadikan sebagai kajian transportasi terkait kerusakan jalan bagi para pembaca. Penulis melakukan analisis kondisi jalan menggunakan mobil hawkeye 2000 milik PKTJ Tegal pada ruas jalan Ir H Juanda sampai ruas jalan Anoa sebesar 2,67 km didapatkan rata rata IRI sebesar 3,21% dengan panjang jalan dalam kategori baik sebesar 1990 pada jalur selatan ke utara dan rata rata IRI sebesar 2,5% dengan Panjang jalan dalam kategori baik sebesar 1890 meter. Rekomendasi penanganan yang tepat berdasarkan nilai IRI adalah dilakukan pemeliharaan secara rutin dan berkala yang sesuai denga umur teknis jalan agar tidak terjadi kerusakan yang parah yang menyebabkan biaya penanganan akan semakin besa
IMPLEMENTASI METODE EARNED VALUE DENGAN LIFE CYCLE COST (LCC) PADA PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG PENDIDIKAN
Proyek konstruksi merupakan serangkaian aktivitas yang biasanya bersifat satu kali dan berjangka pendek. Proyek yang berlangsung sering mengalami keterlambatan, baik dari segi waktu penyelesaian yang melampaui rencana dan biaya pengeluaran pelaksanaan yang lebih tinggi dari yang diproyeksikan dalam Rencana Anggaran Pelaksanaan (RAP), penyimpangan dari rencana harus diukur secara berkelanjutan untuk mengendalikan biaya dan waktu. Pengelolaan proyek yang tidak efektif ditandai dengan penyimpangan besar dalam biaya dan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kinerja Pembangunan Gedung Pendidikan Universitas Warmadewa dalam hal biaya dan waktu. Pada pelaporan minggu ke-25, progres proyek Pembangunan Gedung Pendidikan Universitas Warmadewa seharusnya mencapai 42,601%, namun realisasi dilapangan hanya mencapai 34,467% yang menunjukkan adanya keterlamabatan sebesar 8,134%. Oleh karena itu, metode nilai hasil (earned value method) digunakan untuk mengevaluasi keterlambatan dan memastikan proyek berjalan sesuai jadwal. Selain itu, untuk menentukan nilai ekonomis sebuah bangunan berdasarkan biaya operasional sepanjang umur hidupnya pada penelitian ini dilakukan menggunakan LCC. Dalam penelitian ini, digunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif, menggunakan data yang dibutuhkan termasuk seperti gambar rencana, RAB, time schedule, dan laporan mingguan. Hasil Analisis kinerja nilai SPI sebesar 0,81 yang menunjukkan bahwa pelaksanaan proyek mengalami keterlambatan dari waktu yang direncanakan. Sedangkan nilai CPI adalah 1 yang berarti bahwa pekerjaan sesuai dengan anggaran yang direncanakan. Jika kinerja proyek tetap stabil hingga selesai, perkiraan total biaya EAC akan sama dengan rencana sebesar Rp. 23.948.882.427,62. Estimasi waktu proyek Estimate EAS lebih lama dari rencana awal, yakni 380 hari menjadi 428 hari, hal ini menunjukkan bahwa adanya penambahan waktu pe6laksanaan sebesar 48 hari. Denganmenggunakan pehitungan LCC proyek Pembangunan Gedung Pendidikan Universitas Warmadewa, untuk masa perawatan pekerjaan dinding, lantai, serta plafon didapat total biaya sebesar Rp. 19.403.342,58. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan metode nilai hasil (earned value) dan LCC dapat meningkatkan akurasi prediksi biaya dan waktu pada proyek konstruksi, serta membantu membuat keputusan pengelolaan proyek.Construction projects are a series of activities that are typically one-time and short-term. Ongoing projects often experience delays, both in terms of completion time exceeding the plan and implementation costs being higher than those projected in the Implementation Budget Plan (RAP). Deviations from the plan must be continuously measured to control costs and time. Ineffective project management is marked by significant deviations in costs and time. The purpose of this research is to evaluate the performance of the Warmadewa University Educational Building construction in terms of cost and time using the Earned Value Method, and to identify solutions to address delays. Additionally, to determine the economic value of a building based on its operational costs throughout its lifespan, Life Cycle Cost (LCC) is used in this study. This research employs a descriptive method with a quantitative approach, utilizing necessary data such as plan drawings, RAB, time schedules, and weekly reports. The performance analysis results show an SPI value of 0.81, indicating that the project is delayed from the planned schedule. Meanwhile, the CPI value is 1, meaning that the work is in line with the planned budget. If project performance remains stable until completion, the estimated total cost (EAC) will match the plan at IDR 23,948,882,427.62. The estimated project time (EAS) is longer than the initial plan, from 380 days to 428 days, indicating an extension of 48 days. Using LCC calculations for the Warmadewa University Educational Building project, the total maintenance cost for wall, floor, and ceiling work is IDR 19,403,342.58
PERENCANAAN STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG ASRAMA MAHASISWA SISTEM RANGKA PEMIKUL MOMEN KHUSUS 6 LANTAI DI PABELAN KABUPATEN SUKOHARJO PROVINSI JAWA TENGAH
Many students at the Muhammadiyah University of Surakarta come from outside the city and even abroad and need supporting facilities to support learning at the Muhammadiyah University of Surakarta, so it is necessary to have supporting facilities in the form of temporary housing in the form of student dormitories. This plan aims to analyze the load and determine the dimensions and requirements for the reinforcement used. The planning of the Student Dormitory Building is included in Seismic Design Category D. So it is planned using the Special Moment Resisting Frame System (SRPMK) method based on SNI 2847:2019 utilizing the help of the SAP2000 V.22 program. The roof plate is 100 mm thick with support reinforcement in the x and y directions Ø10–150 mm and field reinforcement in the x and y directions Ø10–200 mm. The floor plate is 120 mm thick with support reinforcement in the x and y directions Ø10–140 mm and field reinforcement in the x and y directions Ø10–180 mm. Beam 1 dimension 250x400mm with top support reinforcement 4D16mm, middle 2Ø13, bottom 3D16mm, shear 3Ø10–80 mm and field reinforcement top 3D16mm, middle 2Ø13, bottom 3D16mm, shear 3Ø10–100 mm. 2-dimensional beam 250x350mm with top support reinforcement 4D16mm, middle 2Ø13, bottom 3D16mm, shear 3Ø10–70mm and field reinforcement top 3D16mm, middle 2Ø13, bottom 3D16mm, shear 3Ø10–100 mm. Column 1 dimensions 500 x500 mm with longitudinal reinforcement 16D16mm and shear reinforcement Ø10–90 mm. Column 2 dimensions 450 x 450 mm with longitudinal reinforcement 16D16mm and shear reinforcement Ø10–90mm. 150mm thick shear wall with 2Ø16–300 mm horizontal and vertical reinforcement. Drilled pile foundation with a depth of 8000 mm, pile diameter 800mm with 16D22 shear reinforcement Ø10–180 mm, and pile cape dimensions Lx and Ly 4000 mm, thickness 800 mm with reinforcement in the x and y directions D13–100 mmBanyaknya mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta yang berasal dari luar kota bahkan luar negeri yang membutuhkan fasilitas pendukung untuk menunjang pembelajaran di Universitas Muhammadiyah Surakarta, maka perlu adanya fasilitas pendukung berupa tempat tinggal sementara berupa asrama mahasiswa. Perencanaan ini bertujuan untuk menganalisis beban dan mengetahui ukuran dimensi serta kebutuhan tulangan yang digunakan. Perencanaan Gedung Asrama Mahasiswa termasuk dalam kategori desain Seismik D, sehingga direncanakan dengan menggunakan metode Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) berdasarkan SNI 2847:2019 dengan menggunakan bantuan program SAP2000 V.22. Pelat atap tebal 100 mm dengan tulangan tumpuan arah x dan y Ø10–150 mm dan tulangan lapangan arah x dan y Ø10–200 mm. Pelat lantai tebal 120 mm dengan tulangan tumpuan arah x dan y Ø10–140 mm dan tulangan lapangan arah x dan y Ø10–180 mm. Balok 1 dimensi 250x400 mm dengan tulangan tumpuan atas 4D16 mm, tengah 2Ø13, bawah 3D16 mm, geser 3Ø10–80 mm dan tulangan lapangan atas 3D16 mm, tengah 2Ø13, bawah 3D1 6mm, geser 3Ø10–100 mm. Balok 2 dimensi 250x350 mm dengan tulangan tumpuan atas 4D16 mm, tengah 2Ø13, bawah 3D16 mm, geser 3Ø10–70 mm dan tulangan lapangan atas 3D16 mm, tengah 2Ø13, bawah 3D16 mm, geser 3Ø10–100 mm. Kolom 1 dimensi 500x500 mm dengan tulangan memanjang 16D16 mm dan tulangan geser Ø10–90 mm. Kolom 2 dimensi 450x450 mm dengan tulangan memanjang 16D16 mm dan tulangan geser Ø10–90 mm. Dinding geser tebal 150 mm dengan tulangan horizontal dan vertikal 2Ø16–300 mm. Pondasi bor pile dengan kedalaman 8000mm diameter tiang 800 mm dengan tulangan 16D22 geser Ø10–180 mm dan pilecape dimensi Lx dan Ly 4000 mm, tebal 800 mm dengan tulangan arah x dan y D13–100 m
THE SUSTAINABLE CONCEPT DESIGN CONCERNING THE IMPLEMENTATION OF LOW IMPACT DEVELOPMENT IN URBAN AREA
The relationship between water quantity and water quality status in the framework of water resources management was complex and likely to be site-specific, thus the cause-effect relationships between pollutant sources (affluents) and water quality condition remain unclear. The primary principle of Low Impact Development (LID) concept design is to detain and/or hold stormwater for as long as possible and to limit stormwater pollution before it enters major waterbodies. LID methods aim to preserve as much water on-site as feasible while also protecting water quality through the use of natural landscape elements. We also highlighted the results of preliminary data to design for the implementation of LID. The water quantity and water quality status relationship in the framework of water resources management was complex and likely to be site-specific, therefore the cause-effect relationships between pollutant sources (affluents) and water quality condition still need to be clearly quantified. The core concept of Low Impact Development (LID) is to detain and/or retain stormwater as long as possible and to reduce the stormwater runoff pollutions before flowing into main waterbodies. LID components seek to keep water onsite as much as possible and protect water quality using landscape natural features. Therefore, the main objective of this paper was to offer the opportunities of applying LID components in urban area. We also summarized the performances of LID components including the improvement of water quality from previous studies
OPTIMASI WAKTU DAN BIAYA PADA PEMBANGUNAN RUMAH SAKIT BRONDONG - LAMONGAN
Delays in project work can be anticipated by accelerating its implementation, but must still pay attention to cost and quality factors. The delay will certainly have an impact on increasing costs, so that additional costs incurred must be optimized so that they can be minimized and still pay attention to quality standards. The implementation of the construction of the Brondong House - Lamongan includes the construction of a two-story building using the Lamongan Regency APBD. Completion of the construction is expected to be completed on time with an implementation time of 150 (one hundred and fifty) calendar days or 3 months. This study aims to analyze the time and cost of the project using the crashing method with the addition of labor, the overlapping method, and a combined method between crashing with the addition of labor and overlapping, with the aim of analyzing the most optimal time and cost using the crashing, overlapping, and overlapping, crashing alternatives. The data needed in this study are in the form of S-curve data and time schedules, weekly project reports, Budget Plans (RAB). Then a discussion is carried out to determine the time and cost due to acceleration with the addition of labor, overlapping, and a combination of overlapping crashing. The acceleration calculation of the three alternatives can be concluded that the optimal time and cost due to acceleration is by using the combined method of crashing, adding labor and overlapping, obtaining a cost reduction of Rp. 291,484,666.67 from the total normal work cost of Rp. 25,313,105,854.21 to Rp. 25,021,621,187.54 or down 1.152% from the total normal work cost with a reduction in work duration of 49 days from the normal duration of 150 days to 101 days.Keterlambatan pengerjaan proyek dapat diantisipasi dengan melakukan percepatan pelaksanaannya, namun tetap harus memperhatikan faktor biaya dan mutu. Keterlambatan tersebut tentunya akan berdampak pada peningkatan biaya, se hingga biaya tambahan yang dikeluarkan harus dioptimalkan agar dapat diminimalisir dan tetap memperhatikan standar mutu. Pelaksanaan pembangunan Rumah Brondong - Lamongan meliputi pembangunan gedung dua lantai dengan menggunakan APBD Kabupaten Lamongan. Penyelesaian pembangunan diharapkan dapat selesai tepat waktu dengan waktu pelaksanaan 150 (seratus lima puluh) hari kalender atau 3 bulan Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis waktu dan biaya proyek dengan menggunakan metode crashing dengan penambahan tenaga kerja, metode overlapping, dan metode gabungan antara crashing dengan penambahan tenaga kerja dan overlapping, dengan tujuan menganalisis waktu dan biaya yang paling optimal dengan menggunakan alternatif crashing, overlapping, dan kombinasi overlapping, crashing. Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini berupa data kurva S dan jadwal waktu, laporan mingguan proyek, Rencana Anggaran Biaya (RAB). Kemudian dilakukan pembahasan untuk menentukan waktu dan biaya akibat percepatan dengan penambahan tenaga kerja, overlapping, dan kombinasi overlapping crashing. Perhitungan percepatan dari ketiga alternatif tersebut dapat disimpulkan bahwa waktu dan biaya akibat percepatan yang optimal adalah dengan menggunakan metode gabungan crashing, penambahan tenaga kerja dan overlapping, diperoleh pengurangan biaya sebesar Rp. 291.484.666,67 dari total biaya pekerjaan normal sebesar Rp. 25.313.105.854,21 menjadi Rp. 25.021.621.187,54 atau turun 1,152% dari total biaya pekerjaan normal dengan pengurangan durasi pekerjaan 49 hari dari durasi normal 150 hari menjadi 101 hari
ANALISIS KECELAKAAN DI JALAN RAYA NGANJUK-MADIUN DENGAN METODE ANGKA EKIVALEN KECELAKAAN DAN UPPER CONTROL LIMIT
The Nganjuk-Madiun highway is a national road that connects the provincial capitals of East Java and Central Java. Therefore, the road is quite potential for traffic flow movements that have a fairly high accident rate. This analysis is used to determine and analyze the causal factors, characteristics, locations of accident-prone areas (blackspots), conditions of accident-prone areas (blackspots), and preventive measures that can be taken. The methods used in this analysis are the AEK (Accident Equivalent Number) method and the Upper Control Limit Method. Primary data is data on the geometric condition of the road, while secondary data is the number, time, location, day, class of victims, and type of vehicle obtained from the Nganjuk Police Traffic Unit in 2019 - 2023. The results of this study indicate that the characteristics of accidents based on the location of the most segments occurred in 2019 in segment 1 as many as 15, based on the time of the incident, namely at 06.01-07.00 WIB as many as 12 incidents, based on the class of victims, namely minor injuries (LR) as many as 93 victims, based on the type of vehicle, namely motorcycles as many as 63. Accident-prone areas on the Nganjuk-Madiun highway, Bagor District for 5 years (2019-2023) are in segment 3 with an AEK value of 314 and a UCL value of 302.68. Efforts that can be made to prevent accidents include installing traffic warning signs, adding road markings, repairing street lights, and adding road noise tape.Jalan Raya Nganjuk-Madiun merupakan jalan nasional yang menghubungkan ibu kota provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah. Oleh karena itu, jalan tersebut cukup potensial untuk pergerakan arus lalu lintas yang memiliki tingkat kecelakaan yang cukup tinggi. Analisis ini digunakan untuk mengetahui dan menganalisis faktor-faktor penyebab, karakteristik, lokasi kawasan rawan kecelakaan (blackspot), kondisi kawasan rawan kecelakaan (blackspot), serta upaya preventif yang dapat dilakukan. Metode yang digunakan dalam analisis ini adalah metode AEK (Accident Equivalent Number) dan Metode Batas Kendali Atas. Data primer merupakan data kondisi geometrik jalan, sedangkan data sekunder berupa jumlah, waktu, lokasi, hari, kelas korban, dan jenis kendaraan yang diperoleh dari Satlantas Polres Nganjuk tahun 2019 – 2023. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik kecelakaan berdasarkan lokasi segmen terbanyak terjadi pada tahun 2019 pada segmen 1 sebanyak 15 kejadian, berdasarkan waktu kejadian yaitu pada pukul 06.01