1,721,002 research outputs found
Identifikasi Emeria spp. pada Kerbau dan Sapi di Ciapus Bogor
Ternak ruminansia khususnya kerbau dan sapi merupakan suatu komoditi
penting untuk mencukupi kebutuhan protein hewani masyarakat. Oleh karena itu
dibutuhkan ternak yang baik dan sehat. Salah satu penyakit yang sering muncul
pada ternak adalah koksidiosis. Koksidiosis dapat disebabkan oleh Eimeria spp.
dan akan menghasilkan gejala klinis yang berbeda pada setiap Eimeria spp. yang
menginfeksi. Tujuan dari penelitian adalah mengetahui jenis Eimeria spp. yang
menginfeksi kerbau dan sapi terutama di daerah Ciapus Bogor. Sampel yang
digunakan adalah 21 tinja kerbau albino dan 8 tinja sapi Friesian Holstein (FH).
Pengambilan sampel menggunakan metode perektal. Sampel kemudian diperiksa
dengan metode McMaster dan diidentifikasi secara morfologi. Hasil ookista yang
didapatkan berupa jumlah, ukuran, dan bentuk. Jumlah ookista dihitung dengan
perhitungan OTGT (Ookista tiap gram tinja), sedangkan hasil ukuran dan bentuk
ookista dibandingkan dengan literatur untuk mengetahui Eimeria spp. yang
diperoleh. Hasil menunjukan bahwa sampel yang terdapat ookista hanya pada
pedet kerbau dan diketahui hasil rata-rata OTGT adalah 450. Ukuran ookista
yang diperoleh adalah 45×30 μm merupakan Eimeria wyomingensis dengan
bentuk ovoid, memiliki mikropil lebar, dan lapisan dinding yang tebal. Ukuran
ookista 60×37.5 merupakan Eimeria bukidnonensis yang memiliki bentuk oval
atau seperti buah pir, memiliki mikropil, dan dinding yang lebar dengan bentuk
lurik radial. Berdasarkan hasil yang didapatkan, dapat disimpulkan bahwa derajat
infeksi yang dihasilkan adalah rendah dan Eimeria spp. tersebut masuk ke dalam
kategori tidak patogen
Gambaran Diferensiasi Leukosit Darah Ular Genus Python sebagai Exotic Pet.
Pengetahuan status kesehatan ular sangat diperlukan karena banyaknya
minat masyarakat memelihara ular sebagai hewan peliharaan. Penelitian ini
bertujuan untuk menghitung, menganalisis, serta mengetahui diferensiasi leukosit
darah ular meliputi heterofil, limfosit, monosit, azurofil, basofil, dan eosinofil.
Sampel darah yang diambil berasal dari lima ular, yang terdiri atas 3 spesies yaitu
P. reticulatus, P. molurus, dan P. regius. Sampel darah diteteskan dan di ulas
pada gelas objek lalu direndam dengan larutan metanol dan diwarnai dengan
giemsa selama 30 menit, lalu diamati dimikroskop. Data dianalisis dengan varian
satu arah (One-Way ANOVA) dan uji lanjut Duncan Multiple Range Test. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa diferensiasi leukosit dari ketiga jenis ular tidak
ditemukan perbedaan yang nyata. Jumlah limfosit merupakan yang terbanyak
didalam sirkulasi darah. Morfologi bentuk dan ukuran berbagai leukosit pada
ketiga spesies telihat mirip dan tidak jauh berbeda. Jumlah monosit dan basofil
yang tinggi pada spesies P. regius dikaitkan dengan kasus kecacingan sehingga
mengalami kenaikan cukup tinggi namun masih dalam kisaran normal
Hubungan Tipe dan Manajemen Perkandangan dengan Infeksi Kecacingan pada Orangutan (Pongo sp.) di Taman Margasatwa Ragunan Jakarta
Orangutan (Pongo sp.) is well known as native nonhuman primate from Indonesia, which has endangered status. Conservation effort through zoo was expected has a good maintenance management. The aim of this study was to analyze the correlation between type and cages management to helminths infection of orangutan at Ragunan Zoo, Jakarta. Total count faeces sample collected were 78 from 17 orangutans at 7 cage locations. Faeces collection were examined using qualitative and quantitative method. Prevalention of helminths infection were Ascarid 100%, Strongyloides 88.2%, Strongyloid 76.47% and Trichurid 5.88%. The result from method used were found that the highest infection Strongyloides 46.15% with average number 1320 epg. Dominance of Strongyloides infection was found on Pongo pygmaeus adult females (15-35 y.o) in location of A, B, and G which has the level of show orangutans no routine. Parameters such as exhibition cage with range small area (0-100 m2), cage with bright lighting and separate base cage design also has significant correlation (p<0.05) with helminths infection
Infeksi Cacing Gastrointestinal pada Kuda Delman di Kebun Binatang Ragunan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis, derajat infeksi, dan
prevalensi kecacingan saluran pencernaan pada kuda delman di Kebun Binatang
Ragunan. Sampel feses dikoleksi dari 10 ekor kuda delman setiap minggu sebanyak
delapan kali di Kebun Binatang Ragunan. Pemeriksaan sampel feses menggunakan
metode McMaster, pengapungan, dan filtrasi bertingkat untuk mengetahui
keberadaan telur cacing saluran pencernaan. Pemeriksaan larva infektif (L3)
dilakukan pada sampel yang positif terhadap kelompok Strongyle. Hasil penelitian
menunjukkan 10 kuda (100%) terinfeksi cacing saluran pencernaan. Jenis-jenis
cacing yang menginfeksi kuda delman di Kebun Binatang Ragunan yaitu Strongyle
(100%) dan Parascaris equorum (20%). Kuda mengalami infeksi tunggal oleh
Strongyle (100%) and infeksi campuran oleh Strongyle dan Parascaris equorum
(20%). Derajat infeksi kecacingan termasuk dalam kategori ringan. Tingkat
prevalensi Strongyle sebesar 100% pada semua rentang umur, sedangkan
Parascaris equorum hanya menyerang dua kuda muda yang berusia empat tahun
dengan prevalensi sebesar 20%. Hasil identifikasi larva infektif Strongyle
menunjukkan adanya larva Strongylus vulgaris dan Strongylus equinus
Bakteri dan Cacing Parasitik pada Hati dan Saluran Pencernaan Ikan Belut (Monopterus albus
This study aims to identified the bacterial and parasitic worms in the liver and gastrointestinal tract of eels. The identification of isolated bacteria was done by using Gram staining, triple sugar iron agar, citrate, indole and fermentation of sugar. Parasitic worms stained with KOH clove oil for semi-permanent coloring and Semichon's Acetocarmine for permanent staining. Pseudomonas maltophilia, Proteus mirabilis, Pseudomonas aeroginosa, Salmonella sp, and Vibrio cholerae was found in the liver, and Pseudomonas aeroginosa, Salmonella sp., Chromobacterium sp., Enterobacter aerogenes and Vibrio cholerae from the gastrointestinal tract. The results showed that there are two types of parasitic worms in the digestive tract, ie Procamallanus sp., And Acanthocephala sp .
Bakteri dan cacing parasitik pada insang dan saluran pencernaan ikan patin (Pangasius sp.)
The present study was conducted to isolte, culture and identificatify of bacteria and parasitic worm from gills and digestive tract of catfish. A group of 10 of catfish were used, each gills and digestive tract was collected. The parasitic worms were colored with Semichon’s Acetocarmine for permanent staining. Differentiations and characterizations of variants isolate were based on biochemical reactions and Gram staining technique. Parasitic worms that can be identified from gills were Dactylogyrus sp. and Pseudodactylogyrus sp. The laboratory result shows that the gills and digestive tract of catfish were predominantly contaminated with Aeromonas sp. and Staphylococcus epidermidis, followed by Streptococcus sp., Edwardsiella tarda, Escherichia coli, Basillus sp. dan Vibrio cholerae
Penapisan Fitokimia Dan Kajian In Vitro Ekstrak Daun Kemuning (Murraya Paniculata L. Jack) Terhadap Trichostrongylidae
Nematoda saluran pencernaan terus menghambat produksi ternak ruminansia kecil karena resistensi obat cacing dan kurangnya produk yang efektif untuk pengendalian nematoda saluran pencernaan dalam tingkat produksi organik. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa herbal daun kemuning (Murraya paniculata L. Jack) memiliki kemampuan sebagai kandidat obat cacing pada ternak kambing PE laktasi dalam mengurangi telur tiap gram tinja (TTGT) dari Strongylida sebesar 43.67% dibandingkan dengan pemberian Oxfendazole 0.0005% secara oral sebagai kontrol. Untuk mengkonfirmasi hal tersebut, penelitian ini bertujuan menentukan dosis efektif dari daun kemuning dengan dua metode ekstraksi (infusa dan maserasi) dalam mereduksi Trichostrongylidae dan mengidentifikasi senyawa bioaktif yang terkandung dalam daun kemuning secara in vitro.
Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 11 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan tersebut terdiri dari kontrol, Oxfendazole (0.0005% dan 0.005%), ekstrak infusa daun kemuning dan ekstrak maserasi dengan level 1%, 3%, 5% dan 7% (b/v). Materi uji in vitro meliputi telur cacing dalam feses kambing PE laktasi, larva infektif dan cacing dewasa Trichostrongylidae. Tipe larva yang diamati adalah Trichostrongylus sp., Haemonchus sp., dan Cooperia sp. yang merupakan bagian famili Trichostrongylidae. Peubah yang diamati pada ekstrak adalah rendemen dan fitokimia secara kualitatif dan kuantitatif (flavonoid quarcetin, saponin, dan tanin). Peubah yang diamati pada uji in vitro adalah rataan jumlah kematian, persentase mortalitas, lethal time (LT50), dan lethal concentration terhadap perkembangan larva, larva infektif dan cacing dewasa Trichostrongylidae.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan sangat nyata (P<0.01) meningkatkan mortalitas dan mempercepat waktu kematian (lethal time) Trichostrongylidae. Semakin tinggi konsentrasi perlakuan maka efektifitasnya semakin tinggi. Ekstrak infusa memiliki rendemen 6.48% yang mengandung flavonoid quarcetin, saponin, tanin secara berturut-turut 0.53%, 2.38%, dan 1.35%. Ekstrak maserasi memiliki rendemen 2.87% yang mengandung flavonoid quarcetin, saponin, tanin secara berturut-turut secara berturut-turut 3.39%, 2.46%, dan 0.65%. Ekstrak infusa 7% memiliki rendemen dan kandungan tannin yang lebih tinggi dan lebih efektif dibanding ekstrak maserasi 7% dan Oxfendazole 0.005% terhadap perkembangan larva, larva infektif dan cacing dewasa Trichostrongylidae (masing-masing 93.14%, 94.39% dan 90%). Ekstrak maserasi 7% memiliki efektifitas terhadap perkembangan larva, larva infektif dan cacing dewasa Trichostrongylidae berturut-turut 72%, 84.34%, dan 86.64%. Konsentrasi ekstrak infusa dibutuhkan untuk menimbulkan mortalitas 50% pada perkembangan larva, larva infektif dan cacing dewasa masing-masing 1.78%, 3.10%, dan 4.12% sedangkan pada ekstrak maserasi masing-masing 6.77%, 3.77%, dan 5.65%. Konsentrasi 7% diprediksi dapat mereduksi 100% ttgt selama 6-7 hari secara in vivo. Simpulan dari penelitian ini bahwa secara in vitro 7%
ekstrak infusa daun kemuning dapat dikembangkan sebagai kandidat terbaik herbal obat cacing dalam mengendalikan infeksi Trichostrongylidae
Protozoa Dan Cacing Parasitik Pada Ikan Sidat (Anguilla Spp.) Asal Danau Lindu Sulawesi Tengah
Danau Lindu terletak di kawasan Taman Nasional Lore Lindu, berjarak sekitar 77 km arah utara dari Palu, Ibukota Sulawesi Tengah. Dataran Lindu berada pada ketinggian 950 m dpl. Jenis ikan yang terdapat di danau Lindu yaitu ikan gabus, belut yang merupakan penghuni asli danau Lindu, sedangkan ikan tawes, ikan mas, ikan gurame dan ikan mujair merupakan ikan hasil introduksi sejak tahun 1950-an. Populasi ikan sidat umunya terdapat di sungai-sungai Sulawesi Tengah, Danau Poso dan muara sungai Teluk Palu, sedangkan populasi ikan sidat asal Danau Lindu belum banyak informasi dibandingkan ikan sidat asal Danau Poso. Ikan sidat memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan karena banyak diminati Jepang, Hongkong, Jerman, dan Italia. Harga jual ikan sidat sangat berpengaruh terhadap kualitas dan kesehatan ikan seperti infeksi endoparasit. Protozoa dan cacing parasitik dapat menimbulkan kerugian ekonomis dan dapat mengakibatkan kematian. Infeksi parasit menyebabkan penurunan tingkat fekunditas dan mempengaruhi perkembangan benih ikan. Selain itu, beberapa jenis cacing parasitik ikan juga dapat menginfeksi manusia (zoonosis). Salah satu jenis cacing parasitik ikan yang bersifat zoonosis adalah Anisakis simplex. Pengambilan sampel penelitian ikan sidat di Danau Lindu Kecamatan Lindu Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah dan pemeriksaan ikan sidat di Laboratorium Helminthologi dan Protozoologi, Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor. Metode yang dilakukan meliputi koleksi sampel ikan sidat, pemeriksaan sampel ikan, pengamatan, pengukuran dan identifikasi parasit. Prosedur yang harus dilakukan sebelum pemeriksaan parasit adalah mematikan ikan sampel dengan menusukkan jarum tepat pada bagian medulla oblongata. Kemudian dicatat panjang dan bobot setiap sampel ikan. Pemeriksaan lendir kulit, permukaan kulit, insang, sirip, dan usus. Pemeriksaan protozoa menggunakan perwarnaan Giemza, cacing trematoda dan cestoda menggunakan pewarnaan Semichon Acetocarmine (pewarnaan permanen) dan cacing nematoda menggunakan pewarnaan minyak cengkeh dan KOH (pewarnaan semi permanen). Morfologi dan morfometri pada parasit menggunakan mikroskop stereo dan binokuler. Pengukuran panjang dan lebar badan parasit menggunakan mikroskop mikrometer untuk membantu identifikasi jenis cacing dan protozoa. Sebanyak 43 ekor ikan sidat yang diperiksa dengan ukuran panjang 30-50 cm dan berat 30.10-273.50 gram dengan rata-rata 98.98 gram. Ikan yang terinfeksi protozoa dan cacing parasitik sebanyak 34 ekor dengan persentase 79% dari total ikan. Protozoa parasitik yang menginfeksi ikan sidat yaitu Myxidium sp., Myxobolus sp., Henneguya sp., Ceratomyxa sp., Chilodonella sp., Balantidium sp., Glugea sp. dan cacing parasitik yang menginfeksi ikan sidat yaitu Anisakis simplex, Anguillicola sp., and Digenea Protozoa parasitik yang menginfeksi ikan sidat yaitu Myxidium sp., Myxobolus sp., Henneguya sp., Ceratomyxa sp., Chilodonella sp., Balantidium sp., Glugea sp. dan cacing parasitik yang menginfeksi ikan sidat yaitu Anisakis simplex, Anguillicola sp., dan Digenea. Prevalensi protozoa parasitik tertinggi yaitu Myxidium sp. sebesar 77%, diikuti Henneguya sp. 58%, dan prevalensi cacing parasitik tertinggi yaitu Anisakis simplex 44%, dan Digenea 23%. Indeks dominansi mendeskripsikan tentang jumlah keseluruhan protozoa dan cacing parasitik yang terdapat pada ikan sidat asal Danau Lindu. Nilai dominansi tertinggi yaitu Myxidium sp. sebesar 0,23 diantara protozoa yang menginfeksi ikan sidat dan cacing Anisakis simplex memiliki nilai dominansi tertinggi sebesar 0.00046 diantara cacing parasitik lain. Nilai dominansi protozoa dan cacing parasitik pada ikan sidat berkisar antara 0.0000020–0.23, indeks tersebut mendekati 0 (nol). Indeks dominansi Simpson menunjukkan bahwa tingkat dominansi protozoa dan cacing parasitik tidak ada yang mendominasi di antara parasit lainnya pada ikan sidat. Pemeriksaan protozoa dan cacing parasitik terbagi atas lendir kulit, kulit, sirip, insang dan usus. Uji chi-square (χ2= hit 444.98 > χ2 tab 9.49) menunjukkan perbedaan habitat protozoa dan cacing parasitik pada organ-organ tubuh sidat. Insang dan usus merupakan organ yang disukai protozoa dan cacing parasitik dengan melihat jumlah individu tiap protozoa dan cacing parasitik yang banyak dibandingkan dengan lendir kulit, kulit, dan sirip
Struktur Komunitas Cacing Parasitik pada Ikan Kembung (Rastrelliger brachysoma dan R. kanagurta) di Perairan Teluk Banten dan Pelabuhan Ratu
Ikan kembung (Rastrelliger Spp.) merupakan salah satu ikan pelagis kecil yang sangat disukai oleh masyarakat Indonesia. Parasitisme memiliki peran penting dalam biologi perikanan. Parasitisme merupakan kejadian yang biasa terjadi dalam lingkungan perairan laut dan memungkinkan semua ikan laut terinfeksi cacing parasitik. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik struktur komunitas cacing parasitik pada ikan R. brachysoma dan R. kanagurta di perairanTeluk Banten dan Pelabuhan Ratu dan juga mempelajari interaksi tiga komponen utama penyebab penyakit yaitu ikan sebagai inang, lingkungan perairan dan cacing parasitik. Hasil penelitian menunjukan bahwa cacing parasitik yang terdapat pada ikan kembung adalah Lechitocladium angustiovum (Digenea: Hemiuridae), Lecitochirium sp. (Digenea: Hemiuridae), Prodistomum orientalis (Digenea: Lepocreadiidae) dan Anisakis typica (Nematodes: Anisakidae), dengan nilai prevalensi 90,12%. Cacing L. Angustiovum sangat dominan. Species Anisakis yang ditemukan bukan termasuk spesies zoonotic. Lambung dan usus merupakan mikrohabitat bagi cacing parasitik. Secara statistik, jumlah parasit yang terdapat pada ikan R. kanagurta dan R. Brachysoma tidak berbeda karena keduanya masih memiliki kekerabatan yang dekat. Jumlah cacing parasitik pada daerah Teluk Banten dan Pelabuhan Ratu tidak berbeda, karena masih perada dalam kawasan perairan tropis dan secara genetik ikan kembung pada kedua daerah masih merupakan satu stok populasi. Faktor yang mempengaruhi jumlah infeksi cacing parasitik pada saluran pencernaan Rastrelliger spp. adalah panjang, GSI, pH dan suhu perairan
Pengaruh Pemberian Albendazole terhadap Parasit pada Ikan Discus (Symphysodon discus).
Ikan Discus merupakan salah satu ikan hias air tawar yang termasuk sulit
untuk dipelihara, karena ikan Discus sangat rentan terserang penyakit dan
sedikitnya pengetahuan dalam mengatasi penyakit tersebut. Penelitian ini
bertujuan untuk melihat perkembangan parasit secara kualitatif pada feses ikan
Discus (Symphysodon discus) dan efek yang diberikan Albendazole terhadap
parasit tersebut. Pengamatan gejala klinis sampel ikan terlihat anoreksia, kaheksia,
warna menghitam, dan feses ikan yang berwarna putih. Sampel yang digunakan
pada penelitian ini adalah feses ikan Discus. Hasil pengamatan mikroskopis pada
feses ikan menunjukkan terdapat protozoa parasitik Tetrahymena sp. dan cacing
non parasitik dari famili Naididae. Tetrahymena sp. diduga berasal dari air yang
digunakan dalam pemeliharaan ikan. Kotoran pada dasar akuarium yang masih
menyisakan bahan organik seperti feses ikan dan sisa pakan, juga dapat
menyebabkan pencemaran lingkungan akuarium. Pemberian Albendazole pada
ikan Discus dengan dosis 2 gr/kg pakan menunjukkan kecenderungan
berkurangnya Tetrahymena sp. satu hari setelah pemberian Albendazole
- …
