1,721,259 research outputs found
KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER MENURUT THOMAS LICKONA DAN KI HAJAR DEWANTARA
Abstrak
Hikmasari, Nur Dyan. 2021.Konsep Pendidikian Karakter Menurut Thomas Lickona dan Ki Hajar Dewantara. Skripsi. Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Pembimbing: (I) Happy Susanto (2) Rohmadi
Kata Kunci : Pendidikan karakter, Pengembangan Pendidikan Islam
Pendidikan karakter memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial. Internalisasi pendidikan karakter dimulai dari lingkup domestik, yakni keluarga. Menurut Thomas Lickona keluarga merupakan tempat lahirnya sebuah pembelajaran, dan hal ini akan berimpact pada pola relasi sosialnya diluar lingkungan keluarga, juga di sekolah. Sehingga seorang siswa atau peserta didik akan lebih siap ketika belajar di sekolah. Ki Hadjar Dewantara mengemukakan bahwasannya pendidikan itu merupakan buah dari infiltrasi kebudayaan yang ada dan kebudayaan itu sendiri terbentuk dari setiap tingkah laku yang dilakukan secara masif sampai kemudian menjadi sebuah budaya. Hampir sama dengan apa yang di sampaikan Thomas Lickona, Ki Hadjar Dewantara juga berpandangan bahwasannya urgensi keluarga sebagai pusat pendidikan, bukan saja untuk untuk pendidikan individual saja, melainkan juga untuk pendidikan social, termasuk pendidikan yang berorientasi pada kecerdasan budi pekerti atau karakter, dan juga sebagai modalitas kelak ketika hidup ditengah masyarakat.
Dari pemaparan yang penulis sampaikan diatas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana konsep pendidikan karakter menurut Thomas Lickona dan Ki Hadjar Dewantara. Yang nantinya diharapkan dapat menguraikan secara lebih detail terkait konsep pendidikan karakter menurut Thomas Lickona dan Ki Hadjar Dewantara.
Penilitian ini bersifat Library Research sehingga seluruh data yang disajikan didapat dari menelusuri sumber primer yakni buku Thomas Lickona Educating for Character terjemahan dan buku Pendidikan Karakter Ki Hadjar Dewantara, serta berbagai sumber-sumber pendukung lainnya. Dengan penelusuran secara deskriptif, analitik, dan komparatif ini diharapkan mampu menelaah konsep pendidikan karakter menurut Thomas Lickona dan Ki Hadjar Dewantara.
Hasil penelitian ini sebagai berikut Konsep pendidikan karakter Thomas Lickona dan Ki Hajar Dewantara adalah bagaimana seluruh elemen sosial memiliki peranan kuat pada proses pembentukan karakter seseorang baik itu pada kelompok umur, kelompok profesi dan sebagainya, serta dalam pengembangan karakter dan nilai yang merupakan sebuah target atau capaian dalam proses pendidikan di sekolah
Konsep Pendidikan Karakter Perspektif Thomas Lickona dan Ki Hajar Dewantara
The purpose of the study was to determine the concept of character education according to Thomas Lickona and Ki Hadjar Dewantara. Which later is expected to be able to describe in more detail the concept of character education according to Thomas Lickona and Ki Hadjar Dewantara. This research is library research, so all the data presented is obtained from tracing primary sources, namely the translated book of Thomas Lickona Educating for Character and Ki Hadjar Dewantara's Character Education book, as well as various other supporting sources. With this descriptive, analytical, and comparative search, it is hoped that it will be able to examine the concept of character education according to Thomas Lickona and Ki Hadjar Dewantara. The results of this study found that the concept of character education of Thomas Lickona and Ki Hajar Dewantara is how all social elements have a strong role in the process of forming one's character, both in the age group, professional group and so on, as well as in developing character and values which are a target or achievement. in the educational process at school
Perbandingan Pendidikan Karakter Menurut Zakiyah Daradjat Dengan Thomas Lickona (Studi Komparasi)
Pendidikan Ialah Serangkaian Kegiatan Komunikasi Atau Bimbingan Terhadap Pribadi Seseorang Yang Diajarkan Oleh Orang Tua Ataupun Guru. Karakter Adalah Sesuatu Yang Sangat Penting Dan Vital Bagi Tercapainya Tujuan Hidup, Karakter Merupakan Dorongan Pilihan Untuk Menentukan Yang Terbaik Dalam Hidup. Pendidikan Karakter Adalah Proses Pemberian Tuntunan Kepada Peserta Didik Untuk Menjadi Manusia Seutuhnya Yang Berkarakter Dalam Dimensi Hati, Pikir, Raga, Serta Rasa Dan Karsa. Fokus Penelitian Dalam Skripsi Ini Adalah (1) Bagaimana Pendidikan Karakter Menurut Zakiyah Daradjat, (2) Bagaimana Pendidikan Karakter Menurut Thomas Lickona, (3) Apa Persamaan Dan Perbedaan Pendidikan Karakter Menurut Zakiyah Daradjat Dan Thomas Lickona. Adapun Tujuan Peneliatan Ini Yakni (1) Untuk Mengetahui Pendidikan Karakter Menurut Zakiyah Daradjat (2) Untuk Mengetahui Pendidikan Karakter Menurut Thomas Lickona (3) Untuk Mengetahui Perbandingan Antara Zakiyah Daradjat Dan Thomas Lickona. Penelitian Ini Menggunakan Jenis Penelitian Kualitatif, Pengumpulan Data Menggunakan (Studi Kepustakaan) Library Research, Dengan Mencari, Mengumpulkan, Membaca, Menyusun, Serta Menganalisis Buku-Buku Yang Sesuai Dengan Judul Skripsi “Perbandingan Pendidikan Karakter Menurut Zakiyah Daradjat Dengan Thomas Lickona”. Dengan Demikian, Pembahasan Dalam Skripsi Ini Dilakukan Berdasarkan Telaah Pustaka Serta Beberapa Tulisan Yang Terdapat Relevansi Dengan Objek Kajian Yang Diteliti. Berdasarkan Hasil Penelitian Skripsi Ini Adalah: 1) Perbandingan Pendidikan Karakter Menurut Zakiyah Daradjat Dengan Thomas Lickona Berkaitan Dengan Beberapa Faktor Sebagai Berikut: Pengertian Pendidikan, Pengertian Karaker, Pengertian Pendidikan Karakter. 2) Adapun Persamaan Dari Definisi Pendidikan Karakter Menurut Zakiyah Daradjat Dan Thomas Lickona, Ialah Merupakan Suatu Tabiat Yang Melekat Pada Diri Manusia Yang Mana Pembinaan Itu Harus Melalui Jalur Kehidupan Sosial Dan Kebiasaan Sehari-Hari. Perbedaan Penerapan Pendidikan Karakter Menurut Zakiyah Daradjat Ialah Dimulai Dari Keluarga Sebagai Pondasi Pertama Dalam Penanaman Nilai Akhlak, Sekolah Sebagai Kelanjutan Pendidikan Karakter Dalam Bersosial. Sedangkan Menurut Thomas Lickona Ialah Usaha Secara Sengaja Dari Seluruh Dimensi Sosial Untuk Untuk Membantu Pembentukan Karakter Secara Optimal
KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER MENURUT THOMAS LICKONA DAN YUSUF QARDHAWI
Masalah karakter merupakan masalah yang paling urgen dalam kehidupan
manusia oleh karena itu akhir-akhir ini, semakin banyak orang menyadari betapa
pentingnya pendidikan karakter di tengah-tengah kebobrokan dan kebangkrutan
moral bangsa, maraknya tindak kekerasan, dan perilaku keseharian yang tanpa
kepedulian sesama. Sehingga pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis
religius menjadi relevan untuk diterapkan. Sampai sekarang, pendidikan karakter
sudah kian marak dikaji, didiskusikan dan dikenalkan kepada seluruh civitas
akademis, khususnya di perguruan tinggi.Meski demikian, langkah-langkah yang
telah ditempuh tersebut masih banyak kekurangan dan belum mampu menjadikan
tujuan pendidikan nasional yang mendambakan insan akademisi yang berkarakter
benar-benar terwujud.Perlu adanya konsep pendidikan karakter yang bisa menjadi
pegangan dalam mewujudkan karakter bangsa yang baik.
Dari alasan diatas, peneliti tertarik untuk menganalisis konsep pendidikan
karakter menurut tokoh barat, yaitu Thomas Lickona dan tokoh timur, Yusuf
Qardhawi. Thomas Lickona merupakan salah satu tokoh pendidikan karakter di
Barat.Terminologi pendidikan karakter mulai dikenalkan sejak tahun 1900-an.
Thomas Lickona dianggap sebagai pengusungnya, terutama ketika ia menulis
buku yang berjudul The Return of Character Education dan kemudian disusul
bukunya, Educating for Character: How Our School Can Teach Respect and
Responsibility.Melalui buku-buku itu, ia menyadarkan dunia Barat akan
pentingnya pendidikan karakter.Yusuf Qardhawi, merupakan ulama yang
berpengaruh besar dalam dunia pendidikan Islam. Dalam kitabnya “Madkhal
Lima’rifatil Islam” memuat lima karakteristik umum umat Islam. Lima
karakteristik tersebut sebagai nilai-nilai yang mendasari pendidikan karakter,
yaitu: Rabaniyyah, Insaniyyah, Syumul, Al-Wasathiyyah, Perpaduan antara
Keteguhan Prinsip dan Fleksibilitas.
Penelitian ini berupaya untuk mengetahui konsep pendidikan karakter
Thomas Lickona dan Yusuf Qardhawi, kemudian mengkomparasikan dari segi
konten, strategi, dan metode yang digunakan dalam pendidikan karakter.
Metode penelitian ini menggunakan jenis penelitianLibrary Research
(kajian pustaka), yaitu penelitian yang sumber datanya diperoleh melalui studi
pustaka atau literatur-literatur yang terkait. Penelitian ini bersifat Deskriptif
Komparatif Analitik, yaitu menjelaskan, memaparkan, dan menganalisis serta
membandingkan pemikiran secara sistematis.Sehingga mudah untuk dipahami dan
disimpulkan Setelah dipaparkan kemudian dianalisis terkait dengan persamaan
dan perbedaan pemikirannya dalam pendidikan karakter.
Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter
Thomas Lickona dan Yusuf Qardhawi memiliki beberapa kesamaan, menurut
Lickona pendidikan karaktersesuai dengan unsur pokok yang harus dicapai, yaitu:
mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (desiring the good),
dan melakukan kebaikan (doing the good). Sedangkan Yusuf Qardhawi
vi
menyebutkan karakteristik umum Islam adalah Rabbaniyah, Insaniyyah, Syumul,
Wasathiyyah, dan Perpaduan antara keteguhan prinsip dan fleksibelitas. Dari
kedua pemikiran tersebut terdapat persamaan yaitu: pengetahuan moral (moral
knowing)= Syumul, perasaan moral (moral feeling)= Rabbaniyah, dan tindakan
moral (moral action)= Insaniyah, Wasathiyah dan Perpaduan antara keteguhan
prinsip dan fleksibelitas. Strategi yang ditawarkan oleh Thomas Lickona dan
Yusuf Qardhawi memiliki sasaran yang sama, yaitu anak didik itu sendiri. guru
sebagai pengasuh (pemberi kasih sayang, contoh, dan mentor) = lemah lembut
dan kasih sayang, menciptakan komunitas yang bermoral di kelas= persaudaraan
dan cinta kasih, menciptakan lingkungan kelas yang demokratis: bentuk
pertemuan kelas=saling memberi nasihat dan berpetuah, pembelajaran kooperatif=
saling mendukung dan menolong dan saling kerjasama dan memberikan
solidaritas.Metode Thomas Lickona dan Yusuf Qardhawi sama-sama bertujuan
untuk mengembangkan pendidikan karakter. Metode dari kedua tokoh tersebut
memiliki persamaan, yaitu: metode bercerita (story telling) dengan metode
thariqut tarbiyah wa al-takwin (metode pendidikan dan pembentukan), metode
diskusi, metode simulasi (bermain peran atau “role-playing”), dan metode
pembelajaran kooperatif juga memiliki kesamaan dengan metode thariqul al-i’lam
wa al-tawjih wa al-tasqif (metode memberikan pengetahuan, pengarahan, dan
mencerdaskan kehidupan umat). Hal ini membuktikan bahwa pemikiran Thomas
Lickona dan Yusuf Qardhawi memiliki kesamaan dalam pendidikan karakter baik
dari segi metode, strategi maupun konten
STUDI KOMPARASI PENDIDIKAN KARAKTER MENURUT AL-GHAZALI DAN THOMAS LICKONA
Latar belakang penelitian ini yaitu melihat adanya kemerosotan moral yang terjadi saat ini menyebabkan berbagai musibah dalam berbagai sendi kehidupan baik dalam segi politik, sosial, hukum, maupun keagamaan. Oleh karena itu, penanaman pendidikan karakter pada generasi penerus bangsa sangat dibutuhkan dalam menghadapi krisis moral yang terjadi. Peneliti tertarik untuk mengkaji pemikiran Al-Ghazali dan Thomas Lickona tentang pendidikan karakter. Dengan mengetahui pemikiran tokoh dalam dunia Islam dan Barat tentang pendidikan karakter dapat memperkaya pengetahuan sehingga dapat mengambil hikmah dan menemukan solusi dari berbagai permasalahan yang terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep pendidikan karakter menurut Al-Ghazali dan Thomas Lickona serta perbandingan dari pemikiran kedua tokoh.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research), yaitu jenis penelitian yang sumber data diperoleh dari literatur-literatur terkait. Pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan filosofis. Subjek penelitian berupa teks dari berbagai literatur yang dikategorikan dalam sumber primer dan sekunder. Pengumpulan data menggunakan dokumentasi untuk mengumpulkan data-data yang diperlukan. Teknik analisis data dengan menggunakan metode analisis isi (content analysis).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan karakter menurut Al-Ghazali dan Thomas Lickona memiliki persamaan dan perbedaan. Perbedaan pemikiran kedua tokoh dilatar belakangi oleh perbedaan agama, politik, sosial, dan budaya dari kehidupan masing-masing. Pendidikan karakter menurut Al-Ghazali merupakan suatu kemantapan dalam hati sehingga menghasilkan perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa direnungkan dan di sengaja. Jika kebiasaan baik akan terbentuk akhlakul karimah, sebaliknya jika kebiasaan buruk akan terbentuk akhlak tercela. Sedangkan menurut Thomas Lickona pendidikan karakter meliputi pengetahuan moral, perasaan moral, dan perilaku moral. Al-Ghazali menjadikan Al-Qur‟an dan As-Sunnah sebagai pijakan dalam mengemukakan pemikirannya, sedangkan Thomas Lickona didasarkan pada pengalaman dan riset-riset yang telah dilakukan. Adapun persamaan dari pemikiran kedua tokoh yaitu keduanya sama-sama mengemukakan bahwa pentingnya membentuk generasi penerus bangsa yang berkarakter. Perbedaan pandangan yang dikemukakan oleh Al-Ghazali dan Thomas Lickona bukanlah suatu hal yang perlu diperdebatkan dan menjadi jurang pemisah, akan tetapi dapat menambah keilmuan dan memperkaya pandangan tentang pemikiran tokoh baik dari dunia Barat maupun Timur yang berkaitan dengan pendidikan karakter
Pendidikan Karakter Prespektif Thomas Lickona
Nur Khamidah : 201486010011, Pendidikan Karakter Prespektif Thomas Lickona. Skripsi, Jurusan Program Pendindikan Agama Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Yudharta Pasuruan. Dosen Pembimbing : Dr.M.Anang Sholikhudin,S.PdI, M. PdI Kata Kunci : Konsep, Implementasi Pendidikan Karakter Dalam era globalisasi dalam proses yang saling berhubungan antara individu, bangsa, negara,serta bermacam-macam organisasi kemasyarakatan, terutama pada suatu instansi atau lembaga. Ditemukan permasalahan yang muncul dalam konteks kehidupan berbangsa dan be egara di Indonesia dan sangat membahayakan dalam membangun bangsa yang kuat, antaralain seperti : disorientasi dan belum dihayati nilai-nilai pancasila sebagai filosofi dan ideologi bangsa; Keterbatasan perangkat kebijakan terpadu dalam mewujudkan nilai-nilai esensi pancasila; Bergese ya nilai-nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan be egara ; Memuda ya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa; Ancaman disentegrasi bangsa; Melemahnya kemandirian bangsa. Untuk mengatasi masalah ini, Thomas Lickona, membuat konsep dan implementasi pendidikan karakter pada anak. Dimana anak akan dibentuk menjadi pribadi yang mempunyai perilaku yang baik, jujur, bertanggungjawab, dan mempunyai sikap saling menghormati. Dalam penelitian ini, menemukan keberhasilan dalam implementasi pendidikan karakter di sekolah yang diawali oleh kesadaran semua pihak, karena lebih efektif dalam implementasi pendidikan karakter dan mudah diterima oleh semua kalangan yang iut bekerjasama dalam membentuk pribadi anak yang berbudi pekerti, cerdas serta memiliki tanggungjawab yang besar
KONSEPSI PENDIDIKAN KARAKTER MENURUT AL-ZARNUJI DAN THOMAS LICKONA
AbstractCharacter education is now indeed a major issue in education. In addition to being part of the process of forming the morals of children of the nation, character education is expected to be able to be the main foundation in increasing the degree and dignity of the Indonesian nation.By using a qualitative descriptive method with the type of research Library Research (literature review), The data source was obtained from several scientific works of al-Zarnuji and Thomas Lickona as primary data and supported by other secondary data.By definition Lickona thoroughly examines character education that leads to conclusions Character education is not just having an interactive dimension, in a sense, strengthening the intellectual morals of students so that they become strong individuals who stand the test, but must also be synergistic both personally and socially. While al-Zarnuji relies more on the concept of moral education taught in Islam.There are differences in principles, objectives and methods of application. The purpose of character education for Thomas Lickona is more oriented to social good, while al-Zarnuji leads to social and spiritual dimensions. Keywords:Â Â Character Education, al-Zarnuji, Thomas Lickona
Eksistensi Remaja dan Pendidikan Karakter Perspektif Al-Qur'an Surat Yusuf Ayat 58-62 & Thomas Lickona
ABSTRAK
Sundari, Tia. 2021. “Eksistensi Remaja dan Pendidikan Karakter Perspektif Al-Qur’an Surat Yusuf Ayat 58-62 & Thomas Lickona”. Skripsi. Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri Ponorogo. Pembimbing: Mukhlison Effendi, M.Ag.
Kata Kunci: Eksistensi Remaja, Pendidikan Karakter, surat Yusuf, dan Thomas Lickona,.
Beragam kerusakan dan kerugian akibat perlakuan remaja yang menyimpang. Penyimpangan yang dilakukan oleh remaja baik perorangan ataupun kelompok diantaranya adalah perkelahian, sikap seperti tanpa aturan, hilangnya rasa hormat serta tanggung jawab, penyalah gunaan narkotika, pergaulan bebas dan lain sebagainya. Tidak hanya orang tua saja yang khawatir terkait hal tersebut, namun pemerintah dan masyarakat luas merasa resah akan peristiwa yang sedang terjadi. Dalam hal tersebut, penulis beranggapan bahwa kerusakan yang terjadi bermula dari kurangnya pemahaman akan eksistensi. Eksistensi sendiri merupakan keberadaan suatu senyawa. Oleh sebab itu, penulis ingin melakukan kajian dengan judul eksistensi remaja dan pendidikan karakter perspektif al-Qur’an surat Yusuf ayat 58-62 & Thomas Lickona
Kajian ini bertujuan untuk (1) mengetahui lebih dalam terkait eksistensi remaja dan pendidikan karakter menurut al-Qur’an surat Yusuf ayat 58-62, (2) mengetahui eksistensi remaja dan pendidikan karakter menurut Thomas Lickona, (3) mengetahui perbedaan ataupun persamaan dari perspektif al-qur’an surat Yusuf ayat 58-62 dengan Thomas Lickona.
Metode yang digunakan dalam melakukan kajian ini adalah kajian kepustakaan. Hasil penelitian didapatkan dari mengumpulkan data yang berkenaan dengan eksistensi remaja, tafsir surat Yusuf ayat 58-62, serta pemikiran Thomas Lickona tentang pendidikan kararakter. Eksistensi remaja adalah semua bentuk perilaku ataupun tindakan yang dilakukan oleh remaja agar keberadaannya diakui atau dilihat bahkan dinilai oleh orang lain. Pendidikan karakter merupakan suatu hal pokok yang dijadikan dasar seorang individu agar dapat menjalankan hidup yang baik dan dapat menyikapi masalah kehidupan dengan cara yang baik. Pendidikan karakter menjadikan seorang individu dapat bertahan dengan beragam keadaan dan menghadapi tekanan dengan baik sehingga mampu menciptakan kualitas diri yang baik.
Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh penulis, terdapat beberapa karakter yang disebutkan oleh Thomas Lickona dalam surat Yusuf ayat 58-62. Karakter tersebut diantaranya adalah, pemaaf, sabar, tanggung jawab, dermawan, serta adil dan seimbang. Maka seorang remaja hendaknya menerapkan karakter tersebut dalam keseharian di lingkungan keluarga, sekolah, serta masyarakat. Dengan menerapkan karakter tersebut, maka kerusakan serta kerugian akibat penyimpangan yang dilakukan oleh kelompok remaja akan berkurang bahkan tidak terjadi lagi. Maka, orang tua dan guru perlu mengajarkan serta mengarahkan agar remaja dapat menyadari eksistensinya dengan baik
STUDI RELEVANSI PENDIDIKAN AKHLAK DENGAN PENDIDIKAN KARAKTER MENURUT THOMAS LICKONA
Penelitian ini berangkat dari permasalahan moral yang menggelisahkan seluruh negeri. Merebaknya pengguna narkoba, penyalahgunaan wewenang, korupsi, manipulasi, perampokan, pembunuhan, pelecehan seksual, pelanggaran Hak Asasi Manusia, dan penganiayaan terjadi setiap hari. Naasnya hal tersebut terjadi di dunia pendidikan yang mana memperlihatkan belum tercapainya tujuan pendidikan kita. Munculnya pendidikan karakter sebagai salah satu solusi dari permasalahan tersebut menarik peniliti untuk mengkaji relevansinya dengan pendidikan akhlak yang termuat dalam pendidikan agama Islam. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari tahu bagaimana relevansi pendidikan akhlak dengan pendidikan karakter menurut Thomas Lickona.
Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka atau library research melalui metode deskritif analitik melalui analisis isi atau content analysis. Sumber data diperoleh berdasarkan data-data yang dihimpun dari berbagai literatur seperti, buku, jurnal, maupun surat kabar. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis isi struktural.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa relevansi antara pendidikan akhlak dengan pendidikan karakter menurut Thomas Lickona meliputi beberapa hal diantaranya dari segi tujuan, esensi kebajikan, faktor-faktor yang mempengaruhi, dan metode pendidikan. Pendidikan akhlak selaras dengan pendidikan karakter dalam mengatur hubungannya dengan sesama manusia. Pendidikan akhlak dan pendidikan karakter menurut Thomas Lickona menjadi tidak selaras sebab pendidikan karakternya tidak mengkaitkan proses dan dan faktor-fakto dalam hubungannya dengan Sang Maha Kuasa
- …
