18 research outputs found
Kepadatan Populasi Hama Utama Pada 2 Varietas Tanaman Jagung Di Kecamatan Malangke Kabupaten Luwu Utara
Rendahnya produksi tanaman jagung di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya adalah serangan hama yang menyerang tanaman jagung yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas tanaman jagung, di pertanaman dijumpai beragam jenis hama yang menyerang tanaman jagung dan dilaporkan terdapat 70 jenis hama. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kepadatan populasi hama utama pada 2 varietas tanaman jagung di Kecamatan Malangke Kabupaten Luwu Utara. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Pembuniang dan Desa Cenning Kecamatan Malangke Kabupaten Luwu Utara yang dimulai pada bulan Juli –Oktober 2019, dengan menggunakan 2 jenis varietas tanaman jagung yakni Varietas Sumo dan Varietas Bonanza. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditunjukkan bahwa tanaman jagung Varietas Sumo dijumpai hama Spodoptera litura (3.22 ekor), Ostrinia furnacalis (2.11 ekor) dan Helicoverpa armigera (1.44 ekor) dan pada Varietas Bonanza ditemukan hama Spodoptera litura (2.44 ekor), Ostrinia furnacalis (0.77 ekor) dan Helicoverpa armigera (0.67 ekor), hal ini dikarenakan tersedianya peruntukan makanan secara terus menerus yang menjadi tanaman inang utama dari ketiga hama tersebut
Penerapan sistem intercropping dalam pengelolaan hama tanaman jagung (Zea mays L.)
Maize production in tropical regions is frequently threatened by insect pests, leading to significant yield losses. Environmentally friendly strategies such as intercropping offer potential solutions for pest suppression while enhancing crop productivity. This study aimed to evaluate the effectiveness of different intercropping combinations in improving maize production by reducing pest pressure. The research was conducted using a Randomized Block Design (RBD) with five treatments: monoculture maize, and maize intercropped with groundnut, citronella, Zinnia refugia, and chili, each replicated three times. Observed variables included yield components such as the number of kernel rows per cob, kernels per row, weight of 100 kernels, and yield per unit area. Results showed that maize intercropped with Zinnia refugia produced the highest performance in most yield components, significantly increasing row number per cob, kernels per row, and total yield compared to monoculture. Meanwhile, citronella intercropping resulted in the highest 100-kernel weight. In contrast, intercropping with chili resulted in the lowest yield, possibly due to resource competition or allelopathic effects. The findings suggest that specific intercropping patterns, particularly those involving refugia or repellent plants, can enhance maize productivity and serve as effective pest management strategies. Further research is recommended to validate these findings under diverse agroecological conditions
Population of Natural Enemies in Three Varieties of Rice Plants in Turikale Subdistrict, Maros District
Rice (Oryza sativa L.) is an annual crop that plays an important role in meeting the food sources of the Indonesian population. In addition, rice plants have a diversity of insects as their natural enemy. This study aims to determine the population of natural enemies of 3 rice varieties, namely Inpari 30, Ciliwung, and Mekongga varieties. The research location is the rice fields in Turikale Subdistrict, Maros District. The method used for the study was the survey location of rice fields with each paddy field size of about 20 x 15 m. The results showed that there were 3 types of predators namely Lycosa, Coccinella, and Orthetrum which were found in each variety with varied total numbers at every 2-week observation interval. The highest population of Lycosa was found in the Inpari 30 (6 wap) variety, the highest Coccinella population also was found in the Inpari 30 (10 wap) variety, while the highest Orthetrum population was found in the Mekongga variety (6 wap). The highest proportion of each variety was Lycosidae 50% in the Inpari 30 variety, Lycosidae 51.35% in the Ciliwung variety, and Lycosidae 44.44% in the Mekongga variet
Pemanfaatan pupuk cair limbah sayur dan buah pada kacang tanah (Arachis hypogea L.) di dataran rendah Kota Palopo
This study aims to determine the effect and concentration of liquid fertilizer prepared from fruit and vegetable waste on the growth and yield of peanut plants. This research was carried out in the Experimental Field of the Faculty of Agriculture, University of Cokroaminoto Palopo, Jalan Lamaranginang, Batupasi Village, Wara Utara District, Palopo City. The experimental method used was a randomized block design (RBD) consisting of 5 treatments and 4 replications to comprise 20 experimental units. Each experimental unit consisted of 2 plant units so that there were 40 plant samples. The parameters observed were plant height, flowering age, root length, pod weight and the number of seeds. The results showed that the application of liquid fertilizer prepared from fruit and vegetable waste had a significant effect on the growth and yield of peanut plants. The effective concentration of fruit and vegetable waste liquid fertilizer was P4 (250 mL.L-1 water) that produced the best plant height with an average value of 20.93 cm, the average age of flowering was 33 days, the average root length was 4.49 cm, and the best average pods (22.77 grams), while a concentration of 200 mL.L-1 water (P3) produced the best average number of seeds (340.25 seeds).Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan konsentrasi pupuk cair berbahan dasar limbah buah dan sayur terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kacang tanah. Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo Jalan Lamaranginang, Kelurahan Batupasi, Kecamatan Wara Utara, Kota Palopo. Metode percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 5 perlakuan dan 4 ulangan sehingga terdiri 20 unit percobaan. Masing-masing unit percobaan terdiri atas 2 unit tanaman sehingga terdapat 40 sampel tanaman. Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, umur berbunga, panjang akar, bobot polong dan jumlah biji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pengaplikasian pupuk cair berbahan dasar limbah buah dan sayur memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kacang tanah. Konsentrasi pupuk cair limbah buah dan sayur yang efektif adalah P4 (250 mL.L-1 air), menghasilkan tinggi tanaman terbaik dengan nilai rata-rata 20,93 cm, rata-rata umur berbunga terbaik 33 hari, rata-rata panjang akar terbaik 4,49 cm dan rata-rata bobot polong terbaik dengan nilai 22,77 gram dan konsentrasi 200 mL.L-1 air (P3) menghasilkan rata-rata jumlah biji terbaik dengan nilai 340,25 biji
Pemanfaatan kotoran kambing, arang sekam dan mkm untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman bawang daun (allium fistulosum l.)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan dosis kotoran kambing, arang sekam padi dan
pupuk MKM terhadap pertumbuhan tanaman bawang daun (Allium fistulosum L.). Penelitian ini
dilaksanakan di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian Kampus II Universitas Cokroaminoto Palopo, Jl.
Lamaranginang, Kelurahan Batupasi, Kecamatan Wara Utara, Kota Palopo. Penelitian dilaksanakan
pada bulan Maret sampai Mei 2018. Menggunakan Rancangan Acak Kelompok, dengan 6 perlakuan dan
4 ulangan. P0= Tanpa perlakuan (kontrol), P1= Pemberian kotoran kambing 100 g+arang sekam padi
100 g+pupuk MKM 100 g, P2= Pemberian kotoran kambing 150 g+arang sekam padi 150 g+pupuk MKM
150 g, P3= Pemberian kotoran kambing 200 g+arang sekam padi 200 g+pupuk MKM 200 g, P4=
Pemberian kotoran kambing 250 g+arang sekam padi 250 g+pupuk MKM 250 g, P5= Pemberian kotoran
kambing 300 g+arang sekam padi 300 g+pupuk MKM 300 g. Hasil penelitian menunjukan bahwa kotoran
kambing, arang sekam padi dan pupuk MKM tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah
daun, diameter batang, berat basah dan berat kering.
Kata kunci: bawang daun, kotoran kambing, arang sekam padi, pupuk MK
Efisiensi penularan virus mosaik tanaman nilam (pogostemon cablin. Benth) melalui serangga myzus persicae
ABSTRAK
Infeksi virus pada tanaman nilam umumnya menghasilkan gejala belang sampai mosaik yang diikuti dengan terjadinya perubahan bentuk daun kuning. Virus tersebut umumnya dapat ditularkan secara mekanik, tetapi dipertanaman dapat pula ditularkan secara non-persisten oleh kutu daun Myzus persicae. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efesiensi penularan virus mosaik pada tanaman nilam melalui serangga penular. Peubah yang diamati adalah masa inkubasi dan persentase penularan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa jenis tanaman indikator. Penularan virus melalui serangga penular Myzus persicae menunjukkan bahwa periode makan akuisisi yang panjang tidak meningkatkan efisiensi penularan virus.
Kata kunci : virus mosaik, penularan, myzus persicae
Analisis Pendapatan dan Margin Pemasaran Dalam Saluran Distribusi Beras Kabupaten Sidenreng Rappang
Sidenreng Rappang Regency is one of the providers of rice in South Sulawesi Province and makes it the main commodity. The problems faced by farmers in distributing their crops include farmers who are always in a position that does not benefit from the market mechanism. In addition, the selling price of grain is very low while the costs incurred by farmers have not been able to cover the production costs which of course will have an impact on the welfare of farmers and a decrease in the amount of rice production. The purpose of the study was to determine the model of the implementation of the rice distribution channel and to find out how much the income level and marketing margin of rice in Sidenreng Rappang Regency were. Informants who fit the research needs are 20 respondents who are rice farmers with an area of 1 ha and marketing institutions involved in distributing rice to the hands of final consumers. Some of the marketing agencies involved are 2 collectors, 1 rice miller, 1 wholesaler, and 1 retailer. This study uses a qualitative descriptive analysis method to determine rice's distribution channel while quantitative analysis analyzes the income and marketing margins of rice in Sidenreng Rappang Regency. The results showed that implementing the rice distribution channel system in Sidenreng Rappang Regency started with farmers, collectors, and rice milling companies and then distributed to two business actors, namely large companies and retailers to the last level to consumers. The average income earned by rice farmers per planting season with a land area of 1 ha is Rp. 23,745,000. The marketing margin obtained by each distribution agency is high for wholesalers to consumers of Rp. 7,750/kg, then the margin for retailers to consumers is Rp. 7,400/kg, followed by milling margins to retailers and wholesalers with values of Rp. 3,700/kg and Rp. 3,400/kg.Kabupaten Sidenreng Rappang merupakan salah satu penyedia beras di Provinsi Sulawesi Selatan serta menjadikannya sebagai komoditas utama. Permasalahan yang dihadapi oleh petani dalam mendistribusikan hasil panennya tersebut diantaranya petani selalu berada pada posisi yang tidak diuntungkan oleh mekanisme pasar. Selain itu, harga jual gabah yang sangat rendah sedangkan biaya yang dikeluarkan petani belum bisa menutupi biaya produksinya yang tentunya akan berdampak pada kesejahteraan petani serta penurunan jumlah produksi padi. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui model pelaksanaan saluran distribusi beras dan mengetahui seberapa besar tingkat pendapatan dan margin pemasaran beras Kabupaten Sidenreng Rappang. Informan yang sesuai dengan keperluan penelitian yaitu 20 responden petani padi dengan luas 1 Ha dan lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat mengalirkan beras hingga ke tangan konsumen akhir. Beberapa lembaga pemasaran yang terlibat adalah 2 pedagang pengumpul, 1 penggilingan padi, 1 pedagang besar dan 1 pedagang pengecer. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif untuk mengetahui saluran distribusi beras sedangkan analisis kuantitatif untuk menganalisis pendapatan dan margin pemasaran beras di Kabupaten Sidenreng Rappang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan sistem saluran distribusi beras di Kabupaten Sidenreng Rappang dimulai dari petani, pedagang pengumpul dan perusahaan penggilingan padi kemudian didistribusikan ke dua pelaku usaha yaitu perusahaan besar dan pengecer sampai tingkat terakhir ke konsumen. Adapun pendapatan rata-rata yang diperoleh petani padi per satu kali musim tanam dengan luas areal lahan 1 ha sebesar Rp 23.745.000 dan margin pemasaran yang diperoleh tiap lembaga distribusi yang tinggi terjadi pada pedagang besar ke konsumen sebesar Rp. 7.750/kg, selanjutnya margin pengecer ke konsumen sebesar Rp. 7.400/kg, kemudian diikuti oleh margin penggilingan ke pengecer dan pedagang besar dengan nilai sebesar Rp 3.700/kg dan Rp 3.400/kg
PREDIKSI PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN SAWAH DI WILAYAH HILIR DAS BILA TAHUN 2036
The use of rice fields as non-agricultural land if allowed to continue, it is not impossible that agricultural land will become increasingly narrow, agricultural production will decline in the long term and Indonesia will experience a food deficit, so it is important to predict rice fields so that it becomes a consideration for the government and other related agencies in determining policies regarding land use planning in an area to support land resource management and sustainable regional development planning. This study aims to analyze the driving factors of rice field changes based on Geographic Information Systems (GIS) and to determine the projection of rice field changes using the Ca-Markov 2036 model. This study is based on Geographic Information Systems (GIS), a system designed to capture, store, manipulate, analyze, organize and display all types of geographic data. The process of processing driving factors data starts from the weighting classification process, fuzzy analysis to produce output that is a reference for the CA-Markov process. Ca-Markov Method Using Idrisi Selva. from the results of the study of Land Use Changes in 2024-2036 in the downstream area of the Bila watershed, it shows that the land changes that increased on the land were Rice Fields covering an area of 975,247 ha, Plantations covering an area of 594,523, Settlements covering an area of 1641,144 ha, while the land that experienced a significant decrease in area in land use in the downstream area of the Bila watershed was Forest covering an area of 125,623 ha, Vacant Land covering an area of 103,991 ha, Tegalang Fields covering an area of 1809,481 ha, Shrubs covering an area of 594,523 ha.Penggunaan lahan sawah menjadi lahan non pertanian jika dibiarkan terus menerus maka bukan tidak mungkin lahan pertanian akan semakin sempit, produksi pertanian akan menurun dalam jangka panjang dan Indonesia akan mengalami keadaan defisit pangan, maka penting untuk memprediksikan lahan sawah sehingga menjadi bahan pertimbangan pemerintah dan instansi terkait lainnya dalam menentukam kebijakan mengenai perencanaan penggunaan lahan di suatu daerah guna mendukung manajemen sumber daya lahan dan perencanaan pembangunan daerah yang berkelanjutan. Penilitian ini bertujuan untuk menganalisis drivin faktor perubahan lahan sawah berbasis System Informasi Geografis (GIS) serta mengetahui proyeksi perubahan lahan sawah menggunakan model Ca-Markov 2036. Penelitian ini berbasis Sistem Informasi Geografis (GIS) yaitu sebuah sistem yang didesain untuk menangkap, menyimpan, memanipulasi, menganalisa, mengatur dan menampilkan seluruh jenis data geografis. Proses pengolahan data driving factors dimulai dari proses klasifikasi pembobotan, analisis fuzzy untuk menghasilkan output yang menjadi acuan proses CA-Markov. Metode Ca-Markov Dengan menggunakan Idrisi Selva. dari hasil penilitan Perubahan Penggunaan Lahan pada tahun 2024-2036 diwilayah hilir das bila menunjukkan bahwa perubahan lahan yang meningkat pada lahan tersebut yaitu Sawah seluas 975,247 ha, Perkebunan seluas 594,523 ha, Permukiman seluas 1641,144 ha, adapun lahan yang mengalami penurunan luasan yang cukup signitifikan pada penggunaan lahan di wilayah hilir DAS bila yaitu Hutan seluas 125,623 ha, Tanah Kosong seluas 103,991 ha, Tegalang Ladang seluas 1809,481 ha, Semak Belukar seluas 594,523 ha
IDENTIFIKASI DAN KARAKTERISASI SAWAH TEKNIS DAN NON TEKNIS BERBASIS SIG (SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS) DI SUB-DAS BILA
The relationship between watersheds (DAS) and rice fields, namely watersheds is a shallow water area whose topography is dominated by mountains, mountain ridges that collect and store rainwater before being released to rice fields through the main river. This study aims to identify GIS based technical and non-technical rice fields, and analyze the characteristics of technical and non-technical rice fields from various aspects. This study uses a quantitative descriptive approach method based on geographic information systems (GIS). Interpretation of sentinel 2A image data was then digitized onscreen to produce a map of rice fields. Then to identify technical and non-technical rice fields, onscreen digitization was carried out with the help of interviews with related agencies. Characteristic analysis was carried out by overlaying slope slope maps, elevation and soil types to identify the biophysical characteristics of the land, while economic characteristics and management were carried out by interview method. The total area of rice fields in the Bila Sub-Watershed is 5842.35 ha. Non-technical rice fields have an area of 2777.97 ha and technical 3064.38 ha. Non-Technical Rice Fields which dominate at a flat slope of 0-8% covering an area of 1637.05 ha (28.02%). Likewise, technical rice fields with a flat slope of 0-8% cover an area of 2393.76 ha (40.97%). Non-technical rice fields dominate at an altitude of 0-500 above sea level (with an area of 2643.66 ha (45.25%). Likewise, technical rice fields 0-500 above sea level, with an area of 3061.55 ha (52.4%). Non-technical rice fields have dystropepts soil types 527.73 ha 9.03%, 1.09 (ha) 0.02% Eutropepts, 1280.05 (ha) 21.91% Paleudults, tropaquepts 104.36 (ha) 1.79%,272.99 (ha) 4.67% Tropudalfs, 591.73 (ha) 10.1% Tropudults. Technical with an area of 1078.16 ha 18.48% Paleudults and 1986.22 ha 34% Tropaquepts. Planting is carried out 2 times a year, both technical and non-technical rice fields. For the provision of water to non-technical rice fields, it only relies on rainwater for rice field needs. Meanwhile, technical rice fields rely on water from irrigation networks, pipes and pumping machines as auxiliary tools.Hubungan daerah aliran sungai (DAS) dengan lahan sawah, yakni DAS adalah wilayah perairan dangkal yang topografinya didominasi oleh pegunungan, punggung-punggung gunung yang menampung dan menyimpan air hujan sebelum dilepaskan menuju lahan sawah melalui sungai utama. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sawah teknis dan non teknis berbasis SIG, dan menganalisis karakteristik sawah teknis dan non teknis dari berbagai aspek. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan deskriptif kuantitatif berbasis sistem infomasi geografis (GIS). Interpretasi data citra sentinel 2A, kemudian dilakukan digitasi onscreen untuk menghasilkan peta lahan sawah. Kemudian untuk mengidentifikasi sawah teknis dan non teknis, dilakukan digitasi onscreen dengan bantuan wawancara terhadap instansi terkait. Analisis karakteristik dilakukan dengan overlay peta kemiringan lereng, elevasi dan jenis tanah untuk mengidentifikasi karakteristik biofisik lahan, sedangkan karakteristik ekonomi dan pengelolaan dilakukan dengan metode wawancara. Hasi penelitian Luas total lahan sawah pada Sub-Das Bila 5842,35 ha. lahan sawah non teknis memiliki luas 2777,97 ha dan teknis 3064,38 ha. Sawah Non Teknis yang paling mendominasi pada kemiringan datar 0-8% seluas 1637,05 ha (28,02%). Begitu pun sawah teknis dengan kemiringan datar 0-8% seluas 2393,76 ha (40,97%). Sawah non teknis mendominasi pada ketinggian 0-500 dpl (dengan luas 2643,66 ha (45,25%). Begitu pun sawah teknis 0-500 dpl, dengan luas 3061,55 ha (52,4%). sawah non teknis memiliki jenis Tanah dystropepts 527,73 ha 9,03%, 1,09 (ha) 0,02% Eutropepts, 1280,05 (ha) 21,91% Paleudults, 104,36(ha) 1,79% tropaquepts, 272,99 (ha) 4,67% Tropudalfs, 591,73 (ha) 10,1% Tropudults. Teknis dengan luas 1078,16 ha 18,48% Paleudults dan 1986,22 ha 34% Tropaquepts. Penanaman dilakukan 2 kali dalam setahun baik sawah teknis maupun non teknis. Untuk pemberian air pada lahan sawah non teknis hanya mengandalkan air hujan untuk kebutuhan sawah. Sedangkan sawah teknis mengandalkan air dari jaringan irigasi, pipa dan mesin pompa sebagai alat bantu
EFFECT OF PLANT GROWTH PROMOTING RHIZOBACTERIA (PGPR) AND LIQUID ORGANIC FERTILIZER ON GROWTH OF SPINACH (AMARANTHUS SPP.) AND CHILI (CAPSICUM ANNUUM) ON VEGETATIVE PHASE
Plant Growth Promoting Rhizobateria (PGPR) and liquid organic fertilizer is one of alternative replacement for synthetic fertilizer in improving plant growth. This research were aimed to determine the influence of PGPR and liquid organic fertilizer on growth of spinach and chili on vegetative phase. The reasearch were done in Maros Sulawesi Selatan. Data of number of leaf, leaf area and palnt height were collected. Data were analyzed by using analysis of variance according to Randomized Block Design when three was difference among the treatment, it was continued with Least Significant Difference (p≤0.05) (BNT) signification level. This reseaarch with 4 treatments, P1= PGPR 500cc/10 liters and liquid organic fertilizer 500 cc/10 liters, P2= PGPR 500cc/10 liters, P3= liquid organic fertilizer 500 cc/10 liters and P4= without treatment. Observation at 7 HST, 14 HST and 21 HST. The result showed P1 (PGPR 500cc/10 liters and liquid organic fertilizer 500 cc/10 liters) was the treatment to plant height, number of leaf and leaf area on spinach. On chili P2 (PGPR 500cc/10 liters ) was the best treatment
