1,721,001 research outputs found

    Variasi Spasial Komunitas Lamun dan Keberhasilan Transplantasi Lamun di Pulau Pramuka dan Kelapa Dua, Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta

    No full text
    Padang lamun merupakan ekosistem penyangga yang penting bagi kehidupan di wilayah pesisir dan laut. Padang lamun dapat ditemukan di sebagian besar perairan dalam kawasan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu seperti di Pulau Pramuka dan Pulau Kelapa Dua. Pada pulau-pulau yang menjadi resort wisata dan pemukiman, kerusakkan ekosistem lamun dalam skala besar mudah terjadi, seperti pada kedua pulau tersebut yang peruntukkannya menjadi kawasan pemukiman yang padat penduduk. Dengan banyaknya kerusakan ekosistem lamun yang terjadi di Pulau Pramuka dan Pulau Kelapa Dua, maka diperlukan upaya-upaya manusia untuk memulihkan kondisi seperti semula. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan transplantasi lamun. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui variasi struktur komunitas lamun alami, tingkat keberhasilan transplantasi sumberdaya lamun transplantasi serta laju pertumbuhan daun lamun transplantasi di Pulau Pramuka dan Pulau Kelapa Dua

    Tingkat Trofik Ikan Hasil Tangkapan Berdasarkan Alat Tangkap yang Digunakan oleh Nelayan di Teluk Jakarta

    No full text
    Sumberdaya perikanan tangkap di Perairan Teluk Jakarta perlu dikelola dengan cara yang lebih bertanggungjawab, karena perairan yang bersifat semi tertutup cenderung dieksploitasi secara berlebihan. Alat-alat penangkapan ikan yang beroperasi di Perairan Teluk Jakarta adalah bagan tancap, bagan kapal, sero, jaring insang, payang, dogol dan pancing rawai. Metodologi menggunakan metode studi kasus, analisis data menggunakan analisis deskriptif untuk analisis keragaan perikanan tangkap, analisis hubungan panjang-berat, dan analisis indikator untuk dampak penangkapan ikan terhadap tingkat trofik hasil tangkapan. Hasil tangkapan dominan dari berbagai unit penangkapan ikan yang beroperasi di Teluk Jakarta adalah ikan teri galer, belanak, tembang, kembung, pepetek, kuniran, kurisi, kuro dan sembilang. Hasil analisis menunjukkan bahwa komposisi hasil tangkapan didominasi oleh ikan dari golongan tingkat trofik 3, yaitu jenisjenis ikan omnivora yang cenderung pemakan zooplankton. Hal ini menunjukkan alat tangkap yang beroperasi di Teluk Jakarta paling banyak menangkap ikan pada golongan tingkat trofik 3, sehingga perubahan struktur tingkat trofik menjadi tidak seimbang

    Pemanfaatan dan strategi pengembangan perikanan demersal di Sibolga Provinsi Sumatera Utara

    No full text
    Demersal fish spend most of their life cycle in deeper sea column down to sea bottom. There were two main fishing gears that employed for demersal fishing in Sibolga namely trap and handline. The objectives of this study are to estimate utilization level of demersal fish resource, to identify the demersal fish size caught by traps and hand lines, to determine growth pattern of fish caught by traps and hand lines and to determine strategy for sustainable management of demersal fisheries in the study area. This study was conducted in Sibolga from December 2011 to May 2012 using survey method. Data were analyzed by means of surplus production model, length-weight relationships, and SWOT (Strengths, Weakness, Opportunities and Threats) to formulate strategies for sustainable demersal fisheries management in Sibolga. There were four dominant and most valuable economic demersal spesies caught in Sibolga: red snapper (Lutjanus malabaricus), white snapper (Lates calcarifer), sunu grouper (Plectropormus leopardus), and trevally (Caranx sexfasciatus). The result showed that catch level of red snapper had reached the optimum sustainable yield. Meanwhile the catch level of white snappers, grouper and trevally were still below their optimum sustainable yield. Traps and hand lines were considerably sustainable fishing gears due to the majority of catches have reached their length at first maturity. SWOT analysis was formulated for demersal fisheries development strategies in Sibolga. The analysis showed that the development should be focused on export markets, minimizing IUU fishing, laboratory quality assurance and enhancing cooperation among stakeholders

    Dampak Penangkapan Ikan terhadap Keseimbangan Trofik Level pada Habitat Lamun di Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta

    No full text
    Fishing impacts of small-scale gears operating on seagrass habitat at Seribu Islands, DKI Jakarta Province, was quantified based on a widely accepted ecosystem measure and the ecology structure and the trophic level (TL) indicators. Trophic level of captured fish was evaluated during period October 2011 to April 2012. Fish samples were taken by means of experimental fishing using a set gillnet. In order to evaluate feeding habit a stomach content analysis that consist of quantity, volumetric and frequency of occurrence methods was conducted. The feeding habit data was analyzed by means of Relative Importance and Preponderance Indexes. Trophic level was analyzed base on three cases which found. Result showed that dominant of captured fish came from Holocentridae, that was redcoat (Sargocentron rubrum) and Belonidae that was spottail needlefish (Tylosurus strongylura) with each proportion 26 % of samples. The further dominant of captured fish fish was striped monocle bream (Scolopsis lineata) with proportion 14,5 % of samples. Size of the mean length of dominant captured fish were spottail needlefish (65,9 ± 21,7 cm), striped monocle bream (17,4 ± 1,4 cm) and redcoat (16,5 ± 1,6 cm). Size of the mean weight of dominant captured fish were spottail needlefish (584 ± 245 gr), redcoat (87 ± 30 gr) and striped monocle bream (77 ± 19 gr). Fish in the study area was dominated by herbivorous and demersal feeders. Many fishes that were captured on TL2 had potential to cause unbalanced trophic level in that fishing ground

    Dampak Penangkapan Ikan Baronang (Siganidae) terhadap Ikan Target dan Keseimbangan Rantai Makanan di Perairan Kepulauan Seribu

    No full text
    Sumberdaya ikan baronang di perairan Kepulauan Seribu memiliki nilai ekonomis yang tinggi, mendorong peningkatan intensitas penangkapan, sehingga berdampak terhadap keberlanjutan ikan target dan fungsi ekosistem (keseimbangan rantai makanan). Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari aspek teknis penangkapan ikan baronang, jenis-jenis ikan baronang target dan mengevaluasi dampak kegiatan penangkapan ikan baronang terhadap ikan target dan keseimbangan rantai makanan. Data diperoleh dengan metode survei dengan parameter dianalisis: morfometrik, ukuran panjang ikan yang layak tangkap, dan dampak penangkapan terhadap keseimbangan rantai makanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat tangkap ikan baronang oleh nelayan di Kepulauan Seribu adalah jaring tegur, bubu dan senapan tembak. Terdapat enam jenis ikan baronang yang tertangkap di lokasi studi yaitu ikan baronang lingkis (Siganus canaliculatus), ikan baronang garis (Siganus javus), ikan baronang totol (Siganus guttatus), ikan baronang kalung (Siganus virgatus), ikan baronang tompel (Siganuns punctatus), dan ikan baronang batik (Siganus vermiculatus). Tiga jenis ikan baronang yang dominan tertangkap, ukuran, serta porsi layak tangkapnya yaitu: ikan baronang totol dengan panjang total berkisar 18 – 32 cm, dengan porsi 100% layak tangkap; ikan baronang lingkis, panjang total berkisar 12 – 22 cm, 96,8% layak tangkap; dan ikan baronang kalung panjang total 14 – 20 cm, 98% layak tangkap. Hasil tangkapan ketiga jenis alat tangkap tersebut didominasi oleh ikan kelompok jenis omnivora cenderung pemakan tumbuhan (TL2) dan omnivora cenderung hewan (TL3), sementara itu ikan kelompok jenis TL4 dan TL5 relatif lebih sedikit. Dalam jangka panjang hal ini berpotensi mengancam keberlanjutan ekosistem terkait sumberdaya ikan di lokasi studi

    Konektivitas Komunitas Makrozoobentos antara Habitat Mangrove, Lamun dan Terumbu Karang di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta.

    No full text
    Pada Pulau Pramuka terdapat tiga habitat utama di wilayah pesisir yaitu habitat mangrove, lamun dan terumbu karang. Ketiga habitat tersebut merupakan suatu ekosistem yang saling berinteraksi satu sama lain dan membentuk suatu konektivitas ekologi untuk mendukung biota didalamnya. Proses interaksi yang terjadi melibatkan komponen biotik dan abiotik dan salah satu komponen biotik adalah makrozoobentos. Oleh karena itu diadakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui konektivitas komunitas makrozoobentos antara ketiga habitat tersebut di Pulau Pramuka secara temporal. Manfaat dari penelitian ini diharapkan menjadi masukan dalam pengelolaan habitat mangrove, lamun dan terumbu karang dengan memanfaatkan informasi ilmiah mengenai status makrozoobentos sebagai salah satu indikator kualitas lingkungan perairan pesisir. Penelitian dilakukan pada bulan September 2010 mewakili musim kemarau dan bulan Januari 2011 mewakili musim hujan di sebelah timur Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Lokasi dibagi menjadi tiga transek garis dengan posisi tegak lurus pantai. Setiap transek ditentukan 8 titik pengamatan, yaitu pada transek garis A (350 m), B (250 m), dan C (0 m), sehingga terdapat 24 stasiun pengamatan yang dikelompokkan berdasarkan habitat dari garis pantai sebanyak tiga ulangan pada setiap stasiun. Pengambilan contoh makrozoobentos menggunakan corer dengan luas unit pengambilan contoh sebesar 0,0081 m2. Penyaringan contoh makrozoobentos dilakukan dengan saringan halus (pore size 0,5 mm2). Analisis struktur komunitas makrozoobentos dibantu dengan perangkat lunak PRIMER ver. 5.2 dan Ms. Excel 2007. Makrozoobentos yang ditemukan di Pulau Pramuka pada bulan September 2010 dan Januari 2011 terdiri dari 5 filum, 7 kelas, 65 genus, dan 70 spesies. Persentase jumlah spesies terbesar berasal dari kelas Polychaeta, dengan spesies yang mendominasi di habitat mangrove, lamun dan terumbu karang adalah Notomastus latericeus. Habitat terumbu karang memiliki biomassa, indeks keanekaragaman, dan indeks keseragaman yang lebih tinggi dibandingkan habitat lainnya, namun untuk kepadatan makrozoobentos tertinggi ditemukan pada habitat mangrove, sementara jumlah spesies makrozoobentos tertinggi terdapat pada habitat lamun. Jumlah spesies, kepadatan dan biomassa makrozoobentos pada bulan September 2010 lebih besar daripada bulan Januari 2011. Hal ini diduga disebabkan oleh kondisi curah hujan yang berbeda pada kedua bulan tersebut. Berdasarkan analisis korelasi Pearson, hubungan positif dan kuat pada bulan September 2010 terjadi antara kerapatan jenis mangrove dengan jumlah spesies dan kepadatan makrozoobentos, persentase penutupan lamun dengan biomassa dan indeks keseragaman makrozoobentos, serta persentase penutupan karang dengan jumlah spesies dan indeks keanekaragaman. Pada bulan Januari 2011 hanya terjadi hubungan positif dan kuat antara persentase penutupan karang dengan jumlah spesies, kepadatan dan indeks keseragaman makrozoobentos

    PENGUJIAN INDIKATOR EKOLOGIS PERIKANAN BERKELANJUTAN: STRUKTUR KOMUNITAS HASIL TANGKAPAN IKAN DI KABUPATEN KOTABARU, KALIMANTAN SELATAN

    Full text link
    To achieve sustainable fisheries management needs appropriate and validated indicators. The purpose of this study is to evaluate the ecological indicator of sustainable fisheries base on fishery statistic data. The analyses of diversity, similarity, and clusters were conducted on landing data of fisheries statistic for ten years of 1995-2005 in Kotabaru District. Result of this study indicated the variations of diversity parameters of catch in this area. Characteristic taxa of the catch in Kotabaru were family Penaeidae (shrimp), Scombridae (mackerel), Clupeidae, and Carangidae. The group of demersal fish was mostly exploited during the year 1995-2005 comparing other species. Finally, this study confirms such ecological indicator of sustainable fisheries could be developed base on landing statistic data, however a multi-indicator should be used in order to asses the state and trend of fisheries comprehensively in certain location

    Kajian Bioekonomi Perikanan Rawai Tuna di PPN Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat

    No full text
    High demand and production of tuna fish in PPN Palabuhanratu has caused exploitation of tuna increased and potentially affect the biological condition and sustainability of fishing business. This study aimed to know biological condition, utilization status, and optimum management of tuna fish resources. Diversity index of shannon-wiener (H’), length at first maturity, length-weight relationships, and bioeconomy model was used in this study for data analyses. Result of this study show that the H’ value was 1.60-2.42. Based on the length at first maturity parameter, 3.84 - 41.02 % for bigeye tuna, 0.72% for yellowfin tuna, and 65.63% for swordfish was lower than unallowable catch size. The length-weight relationships of bigeye and yellowfin tuna were indicated negative allometric growth model, whereas swordfish positive allometry. Actual effort of tuna fishery in PPN Palabuhanratu was not indicated a biological overfishing condition, however it indicated an economical overfishing condition. Bioeconomy optimalization was achieved at fishing effort of 597 trips, production of 2481.14 tons, and economic rent of Rp 67.704.000.000,-

    Komposisi Hasil Tangkapan Utama dan Sampingan Benih Sidat dengan Alat Tangkap Seser di Muara Sungai Cimandiri

    No full text
    Sidat merupakan sumberdaya perairan yang bernilai ekonomis. Dalam kegiatan budidaya sidat, benih masih mengandalkan hasil tangkapan dari alam. Hingga saat ini, penelitian yang tersedia difokuskan terhadap hasil tangkapan utama sedangkan informasi bycatch diperlukan untuk memberikan saran terkait pengelolaan hasil tangkapan sampingan dalam meningkatkan nilai ekonomi dan mengurangi tingkat kematian bycatch yang dibuang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan unit penangkapan benih sidat (glass eel) pada pengoperasian alat tangkap seser, mengetahui komposisi hasil tangkapan utama dan sampingan sidat di Muara Sungai Cimandiri dan mengestimasi pendapatan nelayan yang menangkap benih sidat. Metode yang digunakan adalah simple random sampling untuk mengumpulkan data hasil tangkapan utama dan sampingan, dan metode accidental sampling untuk mewawancara nelayan dan pengumpul benih sidat. Analisis yang digunakan adalah analisis hasil tangkapan dan analisis pendapatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa unit penangkapan ikan pada pengoperasian alat tangkap seser terdiri dari nelayan dan alat tangkap. Nelayan penangkapan benih sidat di Muara Sungai Cimandiri adalah nelayan pekerja sambilan. Catch per unit effort alat tangkap seser tertinggi terjadi pada bulan Februari 2019 yaitu 3,07 gr/jam, dan yang terendah pada bulan Maret 2019 sebesar 2,57 gr/jam. Terdapat 8 jenis biota tangkapan yang terdiri dari 1 jenis hasil tangkapan utama yaitu glass eel (Anguilla bicolor) dan 7 jenis hasil tangkapan sampingan: pepetek (Leoignathus equulus), gulamah (Johnuis amblycephalus), teri nasi (Stolephorus commersonii), belanak (Mugil cephalus), bondolan (Gazza minuta), udang rebon (Mysis relicta), dan kuro (Polydactylus plebius). Pendapatan rata-rata nelayan benih sidat per hari sebanyak Rp 12.286,- sedangkan pendapatan rata-rata pengumpul per hari sebanyak Rp 190.133,-

    Konektivitas Juvenil Ikan Antara Habitat Mangrove Dan Lamun Di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Jakarta

    No full text
    Pulau Pramuka merupakan bagian dari kawasan pesisir di Kepulauan Seribu yang terdiri atas tiga habitat utama yaitu mangrove, lamun dan terumbu karang yang saling terkoneksi satu sama lain. Secara spasial konektivitas ekologis yang paling dekat adalah antara habitat mangrove dan lamun dimana terdapat zona transisi yang merupakan zona campuran antara keduanya. Salah satu bentuk interaksi dari konektivitas tersebut adalah migrasi fauna terutama ikan stadia juvenil. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji struktur komunitas juvenil ikan yang meliputi komposisi jenis, kelimpahan dan biomassa antara habitat mangrove dan lamun; mengkaji distribusi kumpulan juvenil ikan antara habitat mangrove dan lamun; mengkaji tingkat kesamaan (similaritas) diantara habitat yang berdekatan. Penelitian dilakukan pada bulan April - Juni 2015 dengan interval sampling setiap sebulan sekali di sebelah timur Pulau Pramuka. Penentuan lokasi pengamatan berdasarkan keterwakilan interaksi spasial dari habitat mangrove dan lamun yang terbagi dalam tiga zona pengamatan yaitu zona mangrove, transisi dan lamun. Penentuan area pengamatan menggunakan tiga transek garis tegak lurus dalam luas total area ± 2,16 ha. Sampling ikan dilakukan menggunakan jaring insang (gill net) mesh size 1 cm. Analisis data yang dilakukan diantaranya analisis struktur komunitas ikan, distribusi dan similaritas habitat yang dibantu perangkat lunak PRIMER versi 5.2 dan program SPSS. Hasil sampling ikan selama penelitian didapatkan 24 spesies ikan dengan total kelimpahan 3.222 individu per 2,16 ha yang terdiri dari 15 famili yaitu Siganidae (4 spesies), Apogonidae (3 spesies), Gerreidae, Terapontidae, Gobiidae dan Labridae (2 spesies), Mugilidae, Nemipteridae, Hemiramphidae, Sphyraenidae, Moncanthidae, Atherinidae, Pomacentridae, Lutjanidae dan Lethrinidae (1 spesies). Berdasarkan struktur komunitas, perbedaan antar zona pengamatan yang berdekatan tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap jumlah jenis, kelimpahan dan biomassa ikan. Berdasarkan distribusi ikan menurut habitat, spesies ikan di zona transisi dan lamun relatif sama yang didominasi oleh Gerres oblongus, Fibramia lateralis dan Siganus canaliculatus, sedangkan di zona mangrove relatif berbeda yang didominasi oleh Gerres oblongus dan Siganus guttatus. Berdasarkan similaritas, zona transisi dan lamun dikelompokkan secara bersama dalam satu kelompok dan tidak berbeda nyata antara keduanya, sedangkan zona mangrove terpisah dari kelompok tersebut dan terdapat perbedaan sangat nyata dengan kedua zona tersebut
    corecore