1,721,052 research outputs found
Pengaruh Penambahan Kitosan Dan Ekstrak Daun Teh Terhadap Perubahan Kimia Dan Mikrobiologis Kapsul Teripang Pasir (Holothuria Scabra) Selama Penyimpanan
Teripang pasir (Holothuria scabra) merupakan salah satu komoditas hasil
perairan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Teripang juga mudah
mengalami kerusakan seperti halnya produk perikanan yang lain. Penelitian ini
bertujuan untuk menentukan pengaruh penambahan kitosan dan ekstrak daun teh
terhadap perubahan kimia dan mikrobiologis kapsul teripang selama penyimpanan.
Formulasi kapsul terdiri atas dua formula yaitu (1) tepung teripang dengan
penambahan kitosan dan (2) tepung teripang dengan penambahan ekstrak teh.
Konsentrasi kitosan dan ekstrak daun teh yang digunakan adalah 1%, 2% dan 3%.
Parameter pengujian yang digunakan antara lain derajat keasaman (pH), aktivitas
air (aw), total mikroba (TPC) dan bau. Hasil analisis menunjukkan bahwa jenis dan
konsentrasi kitosan dan ekstrak daun teh mempengaruhi pH, aw, total mikroba dan
bau kapsul teripang. Konsentrasi terpilih adalah kitosan 1% dan ekstrak daun teh
3%. Nilai pH dan bau mengalami penurunan sedangkan log TPC dan aw mengalami
kenaikan selama penyimpanan
Aktivitas Ekstrak Metanol Teripang Kering sebagai Inhibitor α-Glukosidase dan Agen Trombolitik.
Teripang adalah invertebrata yang memiliki komponen bioaktif yang telah
banyak digunakan dalam mengobati berbagai penyakit seperti penyakit
kardiovaskular, diabetes mellitus dan kanker. Tujuan dari penelitian ini adalah
mendapatkan ekstrak dari 5 jenis teripang dengan 3 pengolahan yang berbeda,
menentukan karakteristik komponen aktif dan menentukan aktivitas trombolitik dan
inhibisi enzim α-glukosidase dari ekstrak teripang kering. Rata-rata nilai rendemen
yang didapatkan sebesar 15%. Uji aktivitas trombolitik ekstrak metanol teripang
kering menunjukkan bahwa semua jenis ekstrak dapat melisiskan bekuan darah
dengan daya trombolisis tertinggi sebesar 20,5% pada teripang Holothuria
vagabunda. Uji aktivitas inhibisi -glukosidase menunjukkan bahwa semua jenis
teripang tidak memiliki aktivitas menghambat -glukosidase. Berdasarkan uji yang
dilakukan pada penelitian ini ekstrak yang diperoleh memiliki potensi sebagai agen
trombolitik, namun tidak memiliki daya inhibisi terhadap enzim -glukosidase
Aktivitas Antioksidan dan Antiglikasi Krim Malam dengan Penambahan Ekstrak Gracilaria sp. dan Kolagen Keong Bakau
Ekstrak Gracilaria sp. memiliki aktivitas antioksidan yang berasal dari
komponen aktif yang dimilikinya. Kolagen dapat mencegah penuaan dini karena
memiliki aktivitas antiglikasi. Penelitian ini bertujuan menentukan formula krim
malam terbaik dengan penambahan ekstrak Gracilaria sp. dan kolagen dari keong
bakau berdasarkan aktivitas antioksidan dan antiglikasi. Krim malam dengan
penambahan ekstrak etanol Gracilaria sp. dan kolagen ditentukan karakteristik
fisik, kimia, sensori, aktivitas antioksidan DPPH (1.1-difenil-2-pikrilhidrazil), dan
antiglikasinya. Ekstrak Gracilaria sp. mengandung senyawa alkaloid, flavonoid,
saponin, fenol hidrokuinon, steroid, dan triterpenoid. Hasil penelitian menunjukkan
krim malam terbaik yaitu pada perlakuan krim dengan penambahan ekstrak
Gracilaria sp. 1%. Krim malam tersebut memiliki viskositas 4 347 cP, daya sebar
7.7 cm, dan nilai pH 5.37. Nilai sensori tekstur, warna, dan aroma krim malam
tersebut yaitu agak disukai oleh panelis. Krim malam tersebut memiliki aktivitas
antioksidan dengan nilai IC50 307.57 ppm. Nilai IC50 aktivitas antiglikasi krim
malam 670.32 ppm
Aktivitas Antimikrob Nanopartikel ekstrak kapang Veronaea sp. KT19
Endophytic microb can produce bioactive compounds as secondary metabolites that have antimicrobial, antimalarial, anticancer and other biological activities. The purpose of this research was to get nanoparticle fungal extracts of Veronaea sp. KT19, determine particle size and antimicrobial activity of the extracts. Cultivation of fungus was done for 6 and 12 days, considering the most bioactive compounds and the highest yield (biomass) produced. The result showed that scattered of nanoparticle fungal extracts from culture media of Veronaea sp. KT19 after 6 days of cultivation is 67.63-741.51 nm. The scattered of nanoparticle fungal extract from mycelium of Veronaea sp. KT19 after 6 days of cultivation is 26.92-107.18 nm based on the scatter particles in numbers with cumulants method
Analisis Kemunduran Mutu Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) secara Kimiawi dan Mikrobiologis
Shrimp is perishable commodity susceptible to damage and quality deterioration. This research aimed to assess the deterioration process by organoleptic, chemical and microbiological characteristics. The organoleptic characteristic was used to determine the degradation phase. Prerigor phase in shrimp was happened for 0-2 days, rigor mortis for 3-11 days, postrigor happened for 12-17 days, and deterioration after 17 days of storage. Chemical characteristics of degradation were determined by pH value, total volatile base (TVB), indole, and activity of polyphenoloxidase enzyme. Microbiological characteristics of degradation were determined by total plate count (TPC) and spoilage bacteria. The value of pH, TVB, and TPC increased in regard with vaname shrimp degradation. Enzymatic activity of PPO occurred intensely during rigor mortis phase. Bacteria found in the shrimp were proposed as Gram negative and Gram positive by Gram staining
Karakterisasi dan Pemurnian Enzim Selulase Kapang Endofit dari Lamun (Enhalus sp.)
Selulase merupakan enzim ekstraseluler yang mampu mendegradasi selulosa menjadi senyawa yang lebih sederhana. Selulase terdiri atas enzim endoglukanase, eksoglukanase, dan β-glukanase. Enzim selulase selama ini dihasilkan oleh kapang yang diisolasi dari organisme dan ekosistem darat, padahal kapang yang diisolasi dari organisme laut juga memiliki potensi untuk menghasilkan selulase namun keberadaannya belum banyak dikaji. Selulase pada penelitian ini dihasilkan oleh kapang endofit yang diisolasi dari lamun (Enhalus sp.). Substrat yang digunakan yaitu limbah agar-agar. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan waktu produksi, mengkarakterisasi dan memurnikan enzim selulase kapang endofit yang diisolasi dari lamun (Enhalus sp.). Penelitian dilakukan dalam tiga tahap yaitu penentuan konsentrasi limbah agar-agar dan waktu inkubasi kapang penghasil selulase, karakterisasi ekstrak kasar enzim selulase, dan pemurnian enzim selulase. Parameter yang diuji yaitu aktivitas endoglukanase, β-glukosidase, dan selulase total. Aktivitas selulase tertinggi yaitu aktivitas endoglukanase dengan penambahan 1,5% limbah agar-agar yang diinkubasi selama sembilan hari. Selulase bekerja optimum pada pH 4 dan suhu 60 oC dengan substrat CMC. Perhitungan kinetika enzim menunjukkan nilai Km enzim endoglukanase sebesar 0,244% dengan Vmaks 0,052 U/mL. Ion logam Hg2+ dengan konsentrasi 5 mM menghambat aktivitas enzim endoglukanase hingga 74%. Pengendapan untuk mendapatkan aktivitas spesifik tertinggi yaitu penambahan aseton dengan kejenuhan 10%. Pemurnian dilakukan menggunakan kromatografi filtrasi gel Sephadex G-100. Hasil penentuan bobot molekul enzim endoglukanase diperoleh empat bobot molekul yaitu 217,96 kDa, 163,15 kDa, 129,41 kDa, dan 76,84 kDa. Kelipatan pemurnian enzim endoglukanase setelah pemurnian meningkat 17,57
Aktivitas Ekstrak Tambelo (Bactronophorus Sp.) Dan Selulolitik Mikroorganisme Simbionnya
Tambelo merupakan moluska yang hidup di dalam kayu mangrove telah
digunakan untuk tujuan pengobatan oleh masyarakat pesisir. Tujuan penelitian ini
adalah menentukan aktivitas biologis yaitu aktivitas antioksidan, inhibitor -
glukosidase, dan antibakteri, serta mendapatkan mikroorganisme simbion yang
diisolasi dari tambelo, dan menentukan aktivitas selulolitik mikroorganisme
simbion.
Tambelo diekstrak menggunakan tiga pelarut yaitu metanol, etil asetat, dan
heksana. Aktivitas antioksidan ekstrak diuji berdasarkan kemampuan ekstrak
dalam mereduksi radikal bebas (DPPH) dengan menggunakan konsentrasi ekstrak
50, 100, 500, 1000, dan 5000 μg/mL. Aktivitas inhibisi -glukosidase ekstrak
dengan konsentrasi ekstrak 25, 50, 100, 500, dan 1000 μg/mL. Aktivitas
antibakteri ekstrak diukur menggunakan metode difusi agar dengan konsentrasi
ekstrak 0.5, 1, dan 2 mg/sumur terhadap bakteri Escherichia coli dan
Staphylococcus aureus. Mikroorganisme yang berasosiasi dengan tambelo
diisolasi dari saluran pencernaannya. Isolat yang diperoleh diuji aktivitas
selulolitik dengan media yang mengandung selulosa.
Rendemen daging dan jeroan tambelo yang dihasilkan sebesar 93.98%.
Kadar air, abu, lemak, dan protein masing-masing sebesar 73.93%, 1.24%, 0.47%,
dan 6.22%. Rendemen ekstrak metanol sebesar 3.12% ± 0.62, etil asetat
0.68% ± 0.07, dan heksana 0.41% ± 0.13. Aktivitas antioksidan tertinggi pada
ekstrak etil asetat dengan nilai IC50 sebesar 1072.19 μg/mL. Aktivitas inhibisi -
glukosidase ekstrak menurun pada konsentrasi yang semakin tinggi. Aktivitas
antibakteri tertinggi diperoleh pada ekstrak etil asetat dengan zona hambat sebesar
10.5 mm terhadap bakteri E. coli pada konsentrasi 2 mg/sumur. Ekstrak terpilih
adalah ekstrak etil asetat yang mengandung flavonoid, tanin, saponin dan steroid.
Ekstrak tersebut tergolong toksik dengan nilai LC50 sebesar 425.908 μg/mL.
Mikroorganisme yang terisolasi terdiri dari 8 kapang dan 9 bakteri. Indeks
selulolitik tertinggi ditunjukkan oleh isolat kapang TJ21 dengan indeks 4.53, serta
isolat bakteri S3B sebesar 2.25
Ekstraksi Karaginan dari Eucheuma cottonii secara Enzimatis Menggunakan Kapang Endofit Laut
Karaginan merupakan hidrokoloid dari rumput laut yang tersusun atas
amonium, kalsium, magnesium, kalium dan natrium sulfat ester dari galaktosa dan
polisakarida 3,6-anhidrogalaktosa. Karaginan digunakan dalam industri karena
memiliki kemampuan sebagai thickening, stabilizing dan gelling agent. Karaginan
dari rumput laut umumnya didapatkan melalui proses ekstraksi menggunakan
larutan kimia senyawa alkali. Proses ekstraksi menggunakan senyawa alkali ini
akan menghasilkan toksik pada lingkungan, sehingga dibutuhkan metode
ekstraksi lain untuk memperoleh karaginan. Metode alternatif yang dapat
digunakan adalah ekstraksi karaginan menggunakan enzim selulase dari kapang
endofit laut. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendapatkan ekstrak karaginan
dari E. cottonii menggunakan enzim selulase kapang endofit EN dan (2)
menentukan pengaruh konsentrasi enzim selulase kapang endofit EN, lama waktu
ekstraksi dan interaksi antara konsentrasi enzim dan lama waktu ekstraksi
terhadap produk karaginan hasil hidrolisis.
Penelitian dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: kultivasi kapang endofit EN,
isolasi enzim selulase dari kapang endofit EN dan ekstraksi karaginan dari
Eucheuma cottonii menggunakan enzim selulase kapang EN. Prosedur analisis
yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis rendemen, uji kadar air, uji
kadar abu, uji kadar abu tidak larut asam, uji kadar sulfat, uji viskositas, uji
kekuatan gel, uji derajat kecerahan, uji kadar selulosa dan uji gugus fungsi
menggunakan FTIR. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
rancangan acak lengkap faktorial dua faktor dengan respon berupa rendemen,
kadar sulfat dan vikositas karaginan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan enzim selulase EN 1%
dan lama ekstraksi 3 jam memberikan hasil rendemen terbaik dengan jumlah
rendemen sebesar 30.96%. Kadar sulfat berkisar antara 16.05 sampai 16.95%,
viskositas tertinggi pada konsentrasi enzim 1% dan lama ekstraksi 2 jam yaitu
29.5 cP, kekuatan gel berkisar antara 14.6 sampai 24.75 gF, kadar abu tidak larut
asam 0.02 sampai 0.21% serta derajat kecerahan 23.04 sampai 33.57%.
Karakteristik karaginan yang dihasilkan telah memenuhi standar karaginan
menurut FAO
Fraksinasi Senyawa Antimikroba Kapang Endofit Dari Tumbuhan Pesisir Sarang Semut (Hydnophytum Formicarum).
Sarang semut merupakan tumbuhan epifit yang hidup menempel pada tumbuhan lain. Sarang semut telah terbukti memiliki aktivitas antikanker, antioksidan, serta memiliki aktivitas penghambatan terhadap beberapa jenis bakteri. Tumbuhan obat yang sudah diketahui khasiatnya diduga memiliki mikroba endofit yang mampu menghasilkan senyawa aktif yang mirip dengan inangnya. Isolasi kapang endofit dari umbi tumbuhan sarang semut (Hydnophytum formicarum) telah dilakukan dan menghasilkan tujuh isolat kapang endofit yang berbeda. Penelitian sebelumnya menunjukkan kapang endofit sarang semut (kode RS3 dan RS6B) memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Tujuan penelitian ini adalah menentukan aktivitas antimikroba ekstrak kapang endofit sarang semut terpilih dan menentukan fraksi yang aktif terhadap mikroba uji. Uji aktivitas antimikroba kapang endofit dari tumbuhan pesisir sarang semut menunjukkan bahwa isolat kapang RS1A memiliki penghambat yang signifikan lebih tinggi dengan rata-rata diameter zona hambat 4,7 mm terhadap bakteri E. coli dan Bacillus subtilis dibandingkan dengan isolat lainnya (p<0,05). Rendemen ekstrak kultur isolat kapang RS1A tertinggi terdapat pada kultur statis hari ke-21 yaitu 0,0381%. Hasil uji aktivitas antimikroba menunjukkan ekstrak isolat RS1A pada kultur statis hari ke-21 memiliki zona hambat yang signifikan lebih tinggi dibandingkan kultur shaker terhadap bakteri E. coli (p<0,05). Uji aktivitas antimikroba ekstrak media kapang RS1A dengan kultur statis hari ke-21 juga menunjukkan ekstrak kapang RS1A memiliki aktivitas penghambatan terhadap B. subtilis, B. subtilis ATCC 19659, S. aureus ATCC 6538, dan Candida maltosa. Ekstrak kasar kapang RS1A mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, fenol hidrokuinon, dan steroid. Fraksinasi senyawa antimikroba kapang RS1A menggunakan tiga jenis eluen. Hasil uji bioautografi dengan eluen B (etil asetat:metanol:n-heksana=3:1:1) menunjukkan fraksi dapat menghambat ketiga jenis mikroba uji. Penghambatan terjadi pada nilai Rf 0,69 terhadap B. subtilis dan E.coli, serta pada nilai Rf 0,53 terhadap B. subtilis dan C. maltosa. Kedua fraksi tersebut diduga merupakan senyawa golongan fenol berdasarkan hasil penyemprotan dengan pereaksi anisaldehida-asam sulfat yang menghasilkan warna kuning. Pemisahan fraksi aktif dengan kromatografi lapis tipis preparatif (KLTP) menunjukkan zona hambat hanya terdapat pada fraksi 2 yaitu 9,5 mm terhadap bakteri B. subtilis
Toksisitas Akut dan Subkronis Ekstrak Air dan Metanol Kerang Lamis (Meretrix meretrix Linnaeus) secara In Vivo pada Tikus Sprague Dawley
Lamis clam (Meretrix meretrix Linnaeus) is one of the sea shells that have been utilized by the community. The shells are traditionally believed by peoples of Cirebon can increase stamina, lower blood pressure and can treat jaundice. Results of several studies demonstrated that these shells have various activities such as antioxidant, antitumor, hypolipidemic, antineoplastic, modulatory immune activity as well as antihyperglycemic and antihyperlipidemia. A wide range of research on the benefits of lamis clams has been done, but the pharmacological effects of the clam extracts have been less explored. Thus, the need to test the toxicity of the clam is very important. Toxicity tests studied in this research covered acute and sub chronic toxicities performed in vivo in rats. Parameters observed in this study were physical observation, presence or absence of rat deaths due to M. meretrix extract as well as the presence or absence of symptoms of liver and kidney damages. It is also useful in the development of research knowledge about the pharmacological effects of M. meretrix and also expected to be able to provide added value for M. meretrix utilization. The purpose of the study was to characterize the mussel (yield, proximate and heavy metals analyzes as well as qualitative tests of bioactive components contained in M. meretrix), to determine the acute and sub chronic toxicities of water and methanol extracts of M. meretrix in vivo on Sprague Dawley rats. The research was carried out in 3 stages. Phase 1 was the characterization of M. meretrix included: yield measurement, proximate analysis (AOAC 2005), analysis of heavy metals Pb, Cd, Hg and Cu (APHA 1989) and analysis of bioactive components (Harborne 1984). Phase 2 was acute toxicity test (OECD Test Guideline 403:2009). The parameters observed at this stage included: growth and feed intake of rats, observations of physical parameters, histopathology of rats liver and kidney as well as observation of the color changes in the organs of rats. Phase 3 was the final stage, namely the sub chronic toxicity test (OECD Test Guideline 413:2009). Parameters observed in this study included: growth and feed intake of rats, physical parameters (weight of kidney and liver) and blood serum chemistry parameters (urea, bilirubin, creatinine, albumin and cholesterol). Meretrix meretrix consisted of 11.09 % meat and 69.85 % shell. Based on the results of the proximate analysis yielded moisture content of 79.99 %, 1.50 % of ash, 0.22 % of fat, 9.42 % of protein and 8.81 % of carbohydrate. Analysis of heavy metals showed lamis clams meat containing Pb 0.0013 ppm, Cd 0.0088 ppm, Hg 0.0045 and Cu 0.0008 ppm. M. meretrix also contained various components of bioactive compounds. Three types of bioactive compounds were detected in the water and methanol extracts of M. meretrix which were alkaloids, steroids and saponins. Acute toxicity test of water and methanol extracts of M. meretrix was done by giving both extracts to rats with doses of 2, 4, 6 and 15 g/kg of body weight. Based on growth and physical observations on the rats for 14 days, the water and methanol extracts of M. meretrix had no acute toxicity effect (studied up to 15 g/kg body weight). Based on histopathological observations on the liver and kidneys, some cells faced necrosis and degeneration, but in general no significant effect was observed in comparison with control group. This result showed that the M. meretrix was not toxic and safe to be consumed. Sub chronic toxicity test of water and methanol extracts of M. meretrix was done by giving both extracts with doses of 0.1 and 1 g/kg bw for 90 days recurring basis. Test results showed that the water and methanol extracts of M. meretrix were not toxic to rats at the doses administered. There was no indication of metabolic disorders in rats after administration of water and methanol extracts at doses of 0.1 and 1 g/kg body weight. These treatments did not affect the growth of rats. No significant effect on liver and kidney weight of rats (p>0.05) was observed. Blood serum test on chemistry parameters of rats showed that water and methanol extracts of M. meretrix had no significant effect on levels of urea, cholesterol, and creatinine (p>0.05). Albumin and bilirubin levels were significantly different with controls (p<0.05), although the five parameters of the blood serum were still in the normal levels of blood serum chemistry for rats
- …
