1,721,047 research outputs found

    Analisis Densitas Energi Konsumsi dan Status Gizi serta Pengaruhnya terhadap Daya Ingat Sesaat

    No full text
    The aim of this study was to analyze the correlation between dietary energy density, nutritional status and influence towards Bogor elementary students’s short term memory. Design of this study is cross sectional study with purpossive sampling 111 elementary school students in Bogor. Children’s allowance, parents educational background and income, nutritional knowledge, food consumption, physical activity and short term memory were analyzed by chi square and logistic regression. The results showed that most of student consumed high energy density with average of dietary energy density was 2,13 kkal/g for girls and 1,98 kkal/g for boys. Children’s allowance and mother’s educational were variabels that had significant correlation with dietary energy density. Most of them had normal nutritional status but 27% of them were overweight and obese. Nutritional knowledge and breakfast habit were variabels that had significant correlation with nutritional status. Only nutritional knowledge and nutritional status that has significant influence towards their short term memor

    Analisis Kesesuaian Kebijakan Upaya Percepatan Pencegahan Stunting Kabupaten Cianjur dengan Kebijakan Nasional

    No full text
    Berdasarkan hasil PSG 2017, Kabupaten Cianjur memiliki persentase stunting yang tinggi yaitu 35.7%. Pentingnya komitmen politik dan kebijakan yang mendukung pengentasan stunting mendasari dilakukannya penelitian ini. Tujuan umum dari penelitian ini adalah menganalisis kesesuaian kebijakan pemerintah nasional dan kabupaten dalam upaya pencegahan dan penanggulangan stunting di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui konten analisis kandungan informasi pada dokumen-dokumen kebijakan nasional dan daerah yang berhubungan dengan upaya pencegahan dan penanggulangan stunting. Analisis kuantitatif dilakukan untuk mengetahui hubungan cakupan program dengan prevalensi stunting di Kabupaten Cianjur. Penelitian dilakukan di Kabupaten Cianjur pada bulan September-Desember 2018. Kebijakan Kabupaten Cianjur sudah sesuai dengan kebijakan nasional, namun perlu adanya perbaikan pada beberapa hal antara lain: 1) penetapan isu strategis, arah kebijakan, strategi dalam perencanaan pembangunan; 2) penetapan sasaran program; dan 3) pelaksanaan beberapa intervensi gizi sensitif dan spesifik yang belum terlaksana

    Analisis Kualitas Makan Siswa Sekolah Dasar di Bogor serta Hubungannya dengan Status Gizi

    No full text
    Children’s diet quality becomes attention because of the poor quality diet in childhood is brought to adulthood and increasing the risk factor of chronic disease. The study aim to analyze children’s diet quality and its association to their nutritional status. The study design was cross sectional. Sample size was 111 by using purposive sampling. The collected data were individual characteristic, family characteristic, nutrition education, food habit, food consumption, and diet quality. Diet quality was measured by using Healthy Eating Index (HEI) with the approachment to Indonesian dietary guidelines. Data was analyzed by using chisquare and correlation Spearman. The mean of HEI score was 46 ± 7.0 and indicating need improvement diet quality. There was no significant association between individual and family characteristic with children diet quality (p>0.05). Higher HEI score were associated with lower energy intake, higher protein, carbohydrate, calcium, vitamin A, and vitamin C intakes (p0.05)

    Sindrom Pramenstruasi Pekerja Wanita Pada Berbagai Aktivitas Fisik, Pola Konsumsi Dan Status Gizi

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk untuk menganalisis Sindrom pramenstruasi (PMS) pekerja wanita pada berbagai aktivitas fisik, pola konsumsi dan status gizi. Desain yang digunakan adalah cross sectional dengan jumlah subjek sebanyak 45 orang wanita. Tempat dan subjek penelitian dipilih secara purposive di Loan Factory Credit Card Sentra Mandiri, Jakarta. Hasil uji beda Kruskal Wallis menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata (p>0.05) antara status PMS dengan karakteristik subjek, karakteristik menstruasi, status gizi, tingkat kecukupan energi, protein, lemak, vitamin A, kalsium, zat besi, tingkat stres, aktivitas fisik, frekuensi konsumsi olahan kacang-kacangan, sayuran dan buah sumber isoflavon, susu, dan gula. Namun terdapat perbedaan yang nyata (p<0.05) antara status PMS dengan tingkat kecukupan vitamin C dan berbeda nyata (p<0.1) antara status PMS dengan frekuensi konsumsi fast food. Uji regresi logistik menunjukkan bahwa tingkat kecukupan lemak (OR = 0.053), IMT (OR= 0.021), pengetahuan gizi dan menstruasi (OR =0.003) sebagai faktor protektif terhadap PMS

    Pengaruh Pendidikan Gizi Terhadap Perubahan Pengetahuan Gizi dan Prilaku Konsumsi Pada Siswa Sekolah Dasar

    No full text
    The objectives of this study were to analyze the effect of nutritional education to nutritional knowledge and consumption behavior in elementary school students. This study used experimental study. Examples in this study were 128 children from four elementary schools. Processing and analyzing data used Microsoft Excell 2010 and the Scientical Program for Social Science (SPSS) version 16.0 for windows. Paired T-test results showed were not significant difference between energy intake before and after intervention (p=0.228; p>0.05). Similarly, for protein (p=0.720; p>0.05), calcium (p=0.080; p>0.05), iron (p=0.080; p>0.05), vitamin A (p=0.424; p>0.05), vitamin B (p=0.342; p>0.05), and vitamin C (p=0.248; p>0.05) showed no significant difference. Nutrients significantly different after the intervention is phosphor (p=0.039; p<0.05). There is an increase in consumption after the intervention, but the nutritional education cannot change the behavioural yet

    Pengaruh Pendidikan Gizi melalui Media Cakram Gizi Seimbang terhadap Pengetahuan dan Sikap Gizi Ibu serta Konsumsi Pangan Balita

    No full text
    Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh pendidikan gizi melalui media cakram gizi seimbang terhadap pengetahuan dan sikap gizi ibu serta konsumsi pangan balita di Wilayah Kerja Puskesmas Pemenang. Penelitian ini menggunakan desain quasi experimental study dengan pre-post test yang dilaksanakan pada bulan Juli 2018 di Desa Pemenang Barat, Kabupaten Lombok Utara. Subyek yang digunakan berjumlah 30 orang ibu balita. Penelitian ini terdiri dari 4 tahap, terdiri dari baseline/pre test, intervensi, post test 1 dan post test 2. Intervensi yang diberikan adalah pendidikan gizi dengan metode ceramah dan tanya jawab. Materi yang diberikan yaitu pedoman gizi seimbang menggunakan alat bantu berupa media cakram gizi seimbang. Subyek diberikan kuesioner berisi 19 pertanyaan tentang pengetahuan gizi dan 10 pernyataan tentang sikap gizi saat pre test, post test 1 dan post test 2. Survei konsumsi pangan balita dilakukan sebelum intervensi dan seminggu setelah intervensi dengan menggunakan kuesioner food recall 2x24 jam. Nilai rata-rata pengetahuan gizi pre test subyek adalah 82 ± 14 meningkat pada post test 1 dan post test 2 yaitu menjadi 95 ± 6 dan 96 ± 6. Hasil uji Wilcoxon berdasarkan nilai pengetahuan gizi saat pre test-post test 1 dan pre test-post test 2 masing-masing menunjukkan ada perbedaan yang signifikan (p=0.000; p0.05) antara nilai post test 1 dan post test 2 untuk pengetahuan gizi. Sikap gizi subyek berdasarkan hasil uji Wilcoxon masing-masing menunjukkan ada perbedaan yang signifikan (p=0.000; p0.05). Rata-rata tingkat kecukupan energi balita saat sebelum intervensi adalah 82.5 ± 16.8 %, meningkat menjadi 92.4± 19.2% setelah intervensi. Peningkatan yang sama pada tingkat kecukupan protein dengan rata-rata tingkat kecukupan protein balita saat sebelum intervensi adalah 83.6 ± 22.9%, meningkat menjadi 95.8± 19.0% setelah intervensi. Tingkat kecukupan energi dan protein balita menunjukkan adanya perbedaan nyata (p=0.000; p<0.05) sebelum intervensi dan setelah intervensi. Secara umum, pengetahuan dan sikap gizi ibu serta konsumsi pangan balita setelah mengikuti pendidikan gizi melalui media cakram gizi seimbang menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya

    Analisis Kualitas Konsumsi, Status Gizi, dan Tingkat Kebugaran serta Hubungannya dengan Morbiditas Siswa di Pesantren

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas konsumsi, status gizi, dan tingkat kebugaran serta hubungannya dengan morbiditas siswa di pesantren. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional study dengan contoh sebanyak 55 subjek berusia 12-14 tahun. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan signifikan negatif (p0.05) dengan morbiditas contoh. Hasil uji regresi linier menunjukkan bahwa status gizi dipengaruhi oleh tingkat kecukupan protein dan tingkat kecukupan lemak. Tingkat kebugaran dipengaruhi secara simultan oleh tingkat kecukupan energi, status gizi dan aktivitas fisik

    Densitas Energi Konsumsi, Aktivitas Fisik, Status Gizi, dan Persen Lemak Tubuh pada Anak Sekolah Dasar di Perdesaan dan Perkotaan Bogor.

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan densitas energi konsumsi dan aktivitas fisik dengan status gizi dan persen lemak tubuh pada anak sekolah dasar di daerah perdesaan dan perkotaan Bogor. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional study. Penelitian ini dilakukan di SDN Babakan Dramaga 4 dan SD Bina Insani Bogor. Pemilihan lokasi penelitian ini ditentukan secara purposive. Subjek merupakan siswa kelas 5 yang berusia 10-12 tahun yang memenuhi beberapa kriteria inklusi berjumlah 83 orang, yaitu 39 orang dari SDN Babakan Dramaga 4 dan 44 orang dari SD Bina Insani. Hasil uji hubungan menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan positif antara besar uang saku, tingkat kecukupan energi, tingkat kecukupan protein, tingkat kecukupan lemak, dengan status gizi subjek. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan ibu, aktivitas fisik, dan densitas energi konsumsi, dengan status gizi subjek. Terdapat hubungan yang signifikan positif antara status gizi, tingkat kecukupan energi, tingkat kecukupan protein, dan tingkat kecukupan lemak, dengan persen lemak tubuh. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara densitas energi konsumsi dan aktivitas fisik dengan persen lemak tubuh

    Formulasi Bubur Susu Instan dengan Penambahan Tepung Kelor (Moringa oleifera) sebagai Makanan Tambahan bagi Kelompok Rentan Gizi

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk melakukan formulasi bubur susu instan dengan penambahan tepung kelor sebagai makanan tambahan bagi kelompok rentan gizi. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Berdasarkan hasil uji organoleptik pada bubur susu instan tepung kelor didapatkan formula terpilih yaitu F4 dengan penambahan tepung daun kelor 15 g. Formula terpilih memiliki nilai densitas kamba sebesar 0.4884 dan membutuhkan 0.8 ml air/g bubur untuk melarutkan dengan waktu rehidrasi selama 36.5 detik. Hasil analisis kandungan gizi pada produk terpilih didapatkan dalam 100 g bubur susu instan mengandung energi 387 kkal, kadar protein 12.07 (% bk), kadar lemak 9.15 (% bk), karbohidrat 64.08 (% bk), zat besi 38.2 mg/100 g dan kalsium 417.15 mg/100 g. Berdasarkan hasil analisis kandungan gizi, bubur susu dapat di klaim sebagai bubur tinggi protein (7-23 bulan), sumber protein (2-5 tahun dan umum), tinggi zat besi (7-23 bulan dan 2-5 tahun) dan tinggi kalsium sesuai dengan persentase terhadap Acuan Label Gizi (ALG) dalam 100 g bahan makanan (dalam bentuk padat)

    Pengembangan Indeks Ketahanan Pangan dan Gizi Tingkat Kabupaten dan Evaluasi Kondisi Pencapaian Ketahanan Pangan dan Gizi di Kabupaten Bandung Barat

    No full text
    Pengukuran ketahanan pangan dan gizi telah ada pada tingkat global yaitu Global Food Security Index (GFSI) dan pada tingkat nasional adalah Food Security and Vulnerability Atlas of Indonesia (FSVA). FSVA indikatornya masih terfragmentasi oleh sub sistem, lebih ditujukan untuk mengidentifikasi wilayah yang rentan tahan pangan untuk dijadikan prioritas pembangunan. Diperlukan metode pengukuran ketahanan pangan dan gizi yang sesuai karakteristik wilayah pada tingkat kabupaten melalui pengembangan indeks yang mengacu pada GFSI yang disesuaikan ketersediaan data di tingkat kabupaten sehingga dapat dijadikan alat atau tolak ukur untuk wilayah kabupaten lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengidentifikasi calon indikator untuk mengembangkan sistem skoring evaluasi ketahanan pangan dan gizi secara menyeluruh di tingkat kabupaten, 2) Mengevaluasi tergambarkannya situasi ketahanan pangan dan gizi menggunakan indikator yang dikembangkan, 3) Menyusun serta terumuskannya strategi untuk perencanaan ketahanan pangan dan gizi di Kabupaten Bandung Barat Desain penelitian ini adalah cross sectional study, pengambilan data dilakukan di Kabupaten Bandung Barat Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive (sengaja) dengan pertimbangan bahwa Kabupaten Bandung Barat merupakan kabupaten baru dari pemisahan Kabupaten Bandung yang belum evaluasi ketahanan pangan dan gizi. Penelitian dilakukan selama 5 bulan. Pengumpulan data primer dan sekunder dilakukan pada bulan Maret-Agustus Tahun 2017. Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Jenis data primer yang akan dikumpulkan yaitu faktor-faktor internal dan eksternal yang berpengaruh terhadap ketahanan pangan di Kabupaten Bandung Barat yang diperoleh dari hasil indepth interviews (wawancara mendalam) dengan pejabat pada instansi terkait dan yang tergabung dalam Dewan Ketahanan Pangan Kabupaten Bandung Barat yaitu:1) Bagian Perekonomian dan pembangunan pada Sekretariat Daerah, 2) Bagian Perekonomian pada Bapeda 3) Kantor Ketahanan Pangan, 4) Dinas Perindustrian dan Perdagangan, 5) Dinas Kesehatan, 6) Dinas Bina Marga, Sumber Daya Air dan Pengairan, 7) Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan, 8) Dinas Peternakan dan Perikanan 9) Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pembangunan Daerah, 10) Badan Penanggulangan Bencana Daerah, 11) Dinas Perhubungan. Jenis data sekunder yang akan dikumpulkan adalah data yang dipublikasikan oleh instansi atau lembaga terkait pada rentang waktu tahun 2011 hingga tahun 2015 antara lain mencakup Neraca Bahan Makanan, laporan situasi pangan Kabupaten Bandung Barat sebagai sumber data produksi dan ketersediaan pangan, laporan analisis situasi pola konsumsi pangan dan harga pangan, Laporan profil Dinas Kesehatan sebagai sumber data program gizi sensitif dan spesifik, Data demografi Kabupaten Bandung Barat, Data Geografi Kabupaten Bandung Barat serta studi pustaka pada berbagai literatur. Analisis situasi ketahanan pangan dan gizi dilakukan dengan mengembangkan indeks ketahanan pangan dan gizi di wilayah Kabupaten Bandung Barat yang disusun melalui identifikasi indikator bersumber dari FAO, WHO, UNICEF, KS-RANPG dan RPJMD. Indikator diseleksi berdasarkan konsep ketahanan pangan dan gizi serta diklasifikasi berdasarkan tiga pilar yaitu ketersediaan pangan, keterjangkauan pangan dan pemanfaatan pangan. Seleksi selanjutnya berdasarkan indikator yang memiliki kemiripan/serupa (redundant), ketersediaan data dan spesifitas di tingkat kabupaten. Langkah selanjutnya adalah memperoleh strategi peningkatan ketahanan pangan dan gizi di wilayah Kabupaten Bandung Barat melalui komatriks IFE dan EFE, matriks SWOT dan matriks AHP. Hasil seleksi terhadap 78 calon indikator diperoleh sebanyak 14 indikator terpilih yang memenuhi persyaratan. Dari indikator yang memenuhi persyaratan digunakan untuk sistem skoring dalam pengembangan indeks ketahanan pangan dan gizi pada tingkat kabupaten berdasarkan pilar ketersediaan, keterjangkauan dan pemanfaatan pangan. Skoring menggunakan indeks komposit dari rentang waktu tahun 2011-2015 dapat diketahui situasi ketahanan pangan dan gizi Kabupaten Bandung Barat berada pada kondisi tidak tahan pangan dengan nilai berturut-turut adalah 49.7, 49.6, 53.9, 46.1, 56.0. Alternatif strategi yang digunakan untuk penguatan ketahanan pangan dan gizi di Kabupaten Bandung Barat berdasarkan analisis SWOT, melalui peningkatan revitalisasi pertanian, peternakan dan perikanan, peningkatan komitmen, peran dan kemitraan antar stakeholder, peningkatan kinerja lembaga ketahanan pangan dan gizi serta peningkatan kapasitas sumberdaya manusia, peningkatan koordinasi, advokasi dan sosialisasi ketahanan pangan dan gizi. Prioritas utama strategi yang perlu diambil melalui analisis AHP (Analytical Hierarchy Proces) adalah peningkatan kinerja kelembagaan dan kapasitas sumberdaya manusia (skor 0.324) yang diharapkan dapat meningkatkan pilar pemanfaatan pangan
    corecore