1,721,008 research outputs found

    Upaya Pelestarian Permainan Tradisional melalui Wadah Sanggar Seni di Desa Pearung Kecamatan Paranginan Kabupaten Humbang Hasundutan

    No full text
    This thesis is a case study entitled "Upaya Pelestarian Permainan Tradisional Melalui Wadah Sanggar Seni di Desa Pearung Kecamatan Paranginan Kabupaten Humbang Hasundutan”. This thesis aims to see how efforts to preserve traditional games were carried out by the Pearung art studio and other parties in Pearung village. Where traditional games are cultural heritage that are passed down from generation to generation. The author has also seen the development of traditional games among children and the community and the effectiveness of art galleries in developing traditional games in Pearung Village. This study uses qualitative methods using observation techniques, in-depth interviews and documentation. The research findings show that efforts to preserve traditional games carried out by the Pearung art studio are by making traditional games one of the activities in the studio with the intention that these games will continue to exist which children can later apply in their daily lives. Efforts from other parties, namely the village government and one of the educational institutions in the village are to hold traditional sports competitions on national holidays such as Independence Day, Teacher's Day, and other holidays. The difference between the traditional games at the Pearung art studio and the others is that there are game modifications combined with traditional music. Traditional games as part of the arts are studied in art anthropology. Art arises and is the most important part of human life experience in seeking, enjoying and admiring beauty. Because of the importance of the value of beauty, humans will try to do various things to achieve that beauty which is reflected in the modification of traditional games accompanied by music when played. These modifications provide inner satisfaction for humans so that they reach the point of the beauty of art.137 HalamanSkripsi Sarjan

    Arsitektur Rumah Mbelin Raja Urung Senembah Deli dan Potensinya Menjadi Cagar Budaya

    No full text
    The dearth of writings about the Mbelin House of Raja Urung Senembah Deli and sighting the importance of the role of the Urung Senembah Kingdom in the past in the formation of the Patumbak area today is the background for the author to raise this topic as a final project. In addition, the Law for the Advancement of Culture No. 5 of 2017 is a momentum so that the existence of the Mbelin Raja Urung Senembah Deli House will be increasingly recognized as a cultural heritage if traced again. In order to support this, this study aims to find out how the architecture and function of this traditional house in the past and present and explore the potential of the Mbelin Raja Urung Senembah Deli House to be validated as a cultural heritage. The method used in this study is a qualitative method with data collection techniques through observation, in-depth interviews and literature study. Throughout the research, it was found that from the past until now this house was still functioned as the residence of King Urung Senembah Deli and his family. The Mbelin house of Raja Urung Senembah Deli was once used as a refugee for the nobles of the Karo kingdoms in Tanah Karo during the East Sumatra Social Revolution and became the home of the Naqsabandiyah Suluk Order in 1940-1970. Renovations carried out in 1958 brought this house to an architectural style called the jengki architectural style which again became a trend in the 1950s. It is characterized by a saddle-shaped roof, ornaments in the house tend to be made of wood and rattan, the presence of porticoes and the presence of vents provided on the roof. After being analyzed, from the aspect of important values including history, knowledge, education, religion and culture, this house deserves to be validated as a cultural heritage. This thesis can be used as a reference by the Department of Education and Culture of Deli Serdang Regency in assessing the potential and feasibility of this house to be validated as a cultural heritage. Through this thesis, it is also recommended to the government, especially the Education and Culture Office, to immediately restore the Mbelin Raja Urung Senembah Deli House because in some parts there has been serious damage and helped develop this house into one of the cultural heritage tourism objects in Deli Serdang Regency.215 HalamanSkripsi Sarjan

    Arsitektur Rumah Mbelin Raja Urung Senembah Deli dan Potensinya Menjadi Cagar Budaya

    No full text
    The dearth of writings about the Mbelin House of Raja Urung Senembah Deli and sighting the importance of the role of the Urung Senembah Kingdom in the past in the formation of the Patumbak area today is the background for the author to raise this topic as a final project. In addition, the Law for the Advancement of Culture No. 5 of 2017 is a momentum so that the existence of the Mbelin Raja Urung Senembah Deli House will be increasingly recognized as a cultural heritage if traced again. In order to support this, this study aims to find out how the architecture and function of this traditional house in the past and present and explore the potential of the Mbelin Raja Urung Senembah Deli House to be validated as a cultural heritage. The method used in this study is a qualitative method with data collection techniques through observation, in-depth interviews and literature study. Throughout the research, it was found that from the past until now this house was still functioned as the residence of King Urung Senembah Deli and his family. The Mbelin house of Raja Urung Senembah Deli was once used as a refugee for the nobles of the Karo kingdoms in Tanah Karo during the East Sumatra Social Revolution and became the home of the Naqsabandiyah Suluk Order in 1940-1970. Renovations carried out in 1958 brought this house to an architectural style called the jengki architectural style which again became a trend in the 1950s. It is characterized by a saddle-shaped roof, ornaments in the house tend to be made of wood and rattan, the presence of porticoes and the presence of vents provided on the roof. After being analyzed, from the aspect of important values including history, knowledge, education, religion and culture, this house deserves to be validated as a cultural heritage. This thesis can be used as a reference by the Department of Education and Culture of Deli Serdang Regency in assessing the potential and feasibility of this house to be validated as a cultural heritage. Through this thesis, it is also recommended to the government, especially the Education and Culture Office, to immediately restore the Mbelin Raja Urung Senembah Deli House because in some parts there has been serious damage and helped develop this house into one of the cultural heritage tourism objects in Deli Serdang Regency.215 HalamanSkripsi Sarjan

    Berbagai Aturan dalam Transaksi di Pajak Buah Berastagi

    No full text
    ABSTRAK Leonard Ginting, 2015. Judul skripsi “Berbagai Aturan dalam Transaksi di Pajak Buah Berastagi”. Skripsi ini terdiri dari 5 Bab, 94 Halaman, Abstrak, 5 Tabel, 18 Foto Penelitian, Glosarium, Daftar Pustaka, Sumber Lain dan Lampiran : Interview Guide, Daftar Informan, dan Surat Penelitian. Pasar tidak hanya terlihat sebagai tempat pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, tetapi juga menawarkan benda-benda lainnya disamping kebutuhan pokok tersebut. Pajak Buah Berastagi sebagai salah satu daerah dan tujuan objek wisata di Kabupaten Karo menghadirkan kegiatan jual-beli berbagai hasil tanaman dari petani setempat. Transaksi jual-beli dan tawar-menawar adalah hal yang sering dijumpai disana, mengingat banyak wisatawan lokal maupun mancanegara yang berkunjung kesana, terutama pada saat akhir pekan atau libur panjang. Kata “pajak” merupakan istilah khas bagi masyarakat di Sumatera Utara untuk menyebutkan pasar. Metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif digunakan untuk mendapatkan deskripsi atau gambaran kegiatan transaksi jual-beli sebagai bidang sosial semi-otonom yang melahirkan self regulation (pengaturan sendiri) yang diperankan oleh aktor-aktor yang terlibat di Pajak Buah Berastagi, dan bagaimana strong legal pluralism berjalan disana, yaitu keadaan yang menunjukkan suatu kenyataan bahwa sistem hukum yang paling kuat atau dominan adalah norma norma yang muncul dari kepentingan-kepentingan pribadi maupun kelompok yang berhadapan dengan kondisi sosial masyarakat yang terus berubah. Pemasokan sayur-mayur dan buah-buahan disana tidak dilakukan secara asal-asalan, tetapi dilakukan melalui mekanisme pasar yang teratur. Dimulai dari proses pemanenan yang dilakukan oleh petani sampai barang yang akan dijual ke Pajak. Pada umumnya para pedagang sayur dan buah-buahan yang ada di Pajak Buah Berastagi membeli barang dagangannya ke Pajak Sayur Mayur Roga Berastagi atau sering disebut Pajak Roga Berastagi. Pajak tersebut adalah kawasan serupa dengan Pajak Buah Berastagi namun Pajak ini lebih berorientasi kepada penjual sayur dan buah-buahan yang membeli dalam jumlah banyak yang nantinya akan dijual kembali kepada konsumen. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat terlihat bahwa berbagai aturan hukum dalam transaksi sebagai bidang sosial semi-otonom yang diperankan oleh aktor-aktor yang terlibat di Pajak Buah Berastagi menggunakan dua aturan hukum dalam transaksi penjualan disana. Penelitian yang masuk kedalam kajian bidang sosial semi otonom ini juga mengungkapkan adanya pluralisme hukum di Pajak Buah Berastagi dan Pajak Roga Berastagi, yang dilakukan oleh aktor-aktor yang terlibat disana, baik Pemerintah daerah, tuan tanah, petugas kebersihan, maupun pemuda setempat yang menjaga keamanan di sekitar sana, yang akan menjadikan kegiatan transaksi di Pajak Buah Berastagi masih tetap dapat bertahan/eksis hingga saat ini. Kata-kata Kunci : Aturan, Transaksi, Pajak Buah Berastagi.110 HalamanSkripsi Sarjan

    Kinerja Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dalam Penyerapan Aspirasi Masyarakat Kecamatan Sitiotio dalam Perspektif Antropologi Politik

    No full text
    Dewan Perwakilan Rakyat Daerah merupakan wakil seluruh masyarakat yang tinggal disuatu daerah berdasarkan letak administratif dan geografis. DPRD dalam menjalankan tugasnya merupakan mitra pemerintah dalam mewujudkan program dan pembangunan yang sesuai dengan keinginan dan harapan masyarakat dengan memperhatikan kondisi dan situasi di lapangan. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah merupakan lembaga kekuasaan legislatif yang terdapat di daerah Kabupaten, Provinsi dan juga Pusat. Tujuan penelitian ini adalah Mendeskripsikan dan juga menganalisis kinerja anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Samosir dalam penyerapan Aspirasi Masyarakat Kecamatan Sitiotio. Bentuk dan cara analisis yang dimaksud adalah dengan mengetahui program apa yang sudah di realisasikan kepada masyarakat Kecamatan Sitio-Tio yang di lakukan oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Samosir. Selain menganalisis realisasi program yang sudah dilaksanakan oleh anggota DPRD bersama dengan Pemerintah Kabupaten Samosir, penelitian ini juga bertujuan untuk program yang belum dilaksanakan dan program yang masih dalam proses pengerjaan. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa kinerja Dewan Perwakilan Rakyat Daerah untuk menyerap aspirasi masyarakat dilakukan melalui reses dan musrembang di Kecamatan Sitiotio. Selain melalui Musrembang dan Reses, anggota DPRD menyerap aspirasi masyarakat dengan cara mengahadiri acara gereja, acara adat dan acara lain yang bekaitan dengan masyarakat banyak. Program yang sudah direalisasikan adalah pembangunan jalan rabat beton sepanjang 6 km, pembuatan bronjong di sungai Desa Buntu Mauli, pembangunan dingding sungai di Desa Sabulan, pembukaan Jalan Desa Parsaoran-Desa Janji Maria. Program yang masih dalam pengerjaan adalah pelebaran dan perbaikan jalan lintas Kecamatan Sitiotio. Program yang belum direalisasikan adalah pembangunan jembatan, peningkatan produktivitas ikan air tawar. Sedangkan program pemerintah diluar aspirasi rakyat adalah pembangunan kolam darat.Skripsi Sarjan

    Transportasi Darat di Kota Pematang Siantar (Studi Etnografi Transportasi Umum Roda Tiga Becak Motor Birmingham Small Arm’s)

    No full text
    ABSTRAK Maulana Shiddiq Gultom, 2016. Judul Skripsi : Transportasi Darat di Kota Pematang Siantar (Studi Etnografi Transportasi Umum Roda Tiga Becak Motor Birmingham Small Arm’s ). Skripsi ini terdiri dari 5 (lima) Bab, 109 halaman, 4 gambar,10 foto, 9 tabel. Penelitian ini mengkaji tentang Becak motor Birmingham Small Arms (BSA) sebagai alat transportasi umum di Kota Pematang Siantar. Penelitian ini berlokasi di Kota Pematang Siantar Provinsi Sumatera Utara. Metode yang digunakan yaitu observasi selama dua bulan dan wawancara dengan para penarik becak, ketua BOM’S, serta dinas-dinas terkait. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana becak motor BSA dikatakan sebagai alat transportasi yang unik diantara tranportasi umum lainnya dan menjadi kendaraan ciri khas bagi Kota Pematang Siantar. Sepeda motor BSA dahulunya digunakan sebagai kendaraan perang, namun kini berubah menjadi transportasi umum roda tiga. Pada tahun 1978 populasi becak motor BSA mencapai ribuan unit dan menjadikannya sebagai transportasi umum yang paling diminati masyarakat Pematang Siantar. Seiring perkembangan zaman keberadaan becak BSA perlahan mulai berkurang setiap tahunnya. Dalam mengantisipasi berkurangnya becak motor BSA, dibentuklah organisasi BOM’S yang bertujuan untuk mempertahankan keberadaan becak motor BSA di kota Pematang Siantar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan berkurangnya becak motor BSA. Munculnya angkutan umum roda empat menjadi penyebab mengapa becak motor BSA perlahan-lahan mulai kehilangan penumpang. Hal ini berdampak pada perekonomian dari masyarakat yang berprofesi sebagai abang becak.Saat ini becak motor BSA direncanakan sebagai salah satu benda cagar budaya dan kendaraan pariwisata di kota Pematang Siantar. Perencanaan ini merupakan langkah BOM’S untuk mempertahankan keberadaan becak motor BSA sebagai kendaraan ciri khas kota Pematang Siantar. Kata kunci :Transportasi umum, Becak motor BSA, Perencanaan121 HalamanSkripsi Sarjan

    Bangunan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Sumut Medan Peninggalan Kolonial Belanda (Studi Arsitektur Tradisional & Etno Desain)

    No full text
    Trisha Agnes Naibaho, 160905033, “Bangunan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Sumut Medan Peninggalan Kolonial Belanda (Studi Arsitektur Tradisional & Etno Desain)”. Skripsi Program Sarjana Departemen Antropologi Sosial Universitas Sumatera Utara. Penelitian ini membahas tentang arsitektur dan etno desain Gereja Kristen Indonesia (GKI) tersebut. Adapun tujuan penelitian adalah untuk mengetahui dan melihat apa saja yang terbentuk dari arsitektur gereja yang merupakan peninggalan kolonial Belanda tersebut sebagai bangunan yang sakral dengan etno desainnya yang tetap selalu berusaha dipertahankan hingga saat ini. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan arsitektur tradisional dan etno disain, menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data yang dilakukan yaitu dengan melakukan observasi di dalam gereja, wawancara dan studi dokumentasi yaitu teknik pengumpulan data dengan menggunakan catatan-catatan atau dokumentasi yang ada di lokasi penelitian yaitu gereja. Hasil penelitian terhadap bangunan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Sumut Medan dapat diperoleh suatu gambaran bahwa secara struktur dan etno desainnya pada gereja ini sangat unik karena menunjukkan bangunan tersebut ada unsur arsitektur kolonial Belanda, berfungsi sebagai tempat ibadah, bertemu dan berinteraksi pada umat kristiani. Gereja tersebut juga memiliki jemaat yang terdiri dari berbagai suku/ multietnis.124 HalamanSkripsi Sarjan

    Fan Culture as a Social Network: an Ethnographic Study of Solidarity Behind the Consumptive Activities of the JKT48 Medan Fandom Community

    No full text
    Popular culture is often seen as weakening critical awareness in society by offering uniform entertainment consumed en masse and passively. However, beneath this perception, popular culture actually gives rise to a new form of active and meaningful participation fan culture or fandom. Within fandom, fans are not merely consumers; they also act as social agents who build communities, create meaning, and foster strong relationships and solidarity. Fandom becomes a space that demonstrates how popular culture can shape significant social bonds. This study explores fan culture within the JKT48 Medan Fans Club community, which not only reflects consumerist fanaticism toward idols but also serves as a platform for the formation of social networks and collective identity. The aim of this research is to analyze how social networks strengthen solidarity among community members, both on a personal and collective level. This research employs a descriptive-qualitative method, using data collection techniques such as participant observation, in-depth interviews, and documentation to obtain field data that reflect the actual conditions of fan culture within the JKT48 Medan Fans Club community. The results of the study show that fandom practices such as watching events together, seitansai, gatherings with contribution systems, sousenkyo fundraising, and merchandise trading are not merely acts of consumption. Instead, they reinforce a sense of togetherness, collective commitment, and serve as a medium for the distribution of meaning and social networking. This community functions as a vibrant social space where popular culture is transformed into a source of solidarity and shared identity among youth.103 PagesSkripsi Sarjan

    Perubahan Fungsi Boru dalam Struktur Kekerabatan Batak Toba pada Acara Pesta Adat

    No full text
    Setiap suku bangsa pasti memiliki ciri khas budaya masing-masing yang biasa disebut dengan budaya lokal, begitu juga dengan suku Batak Toba memiliki budaya lokal yaitu berupa tradisi Marhobas. Sesuai dengan adat budaya Dalihan Na Tolu kegiatan marhobas ini dilakukan oleh pihak yang menjabat sebagai boru dalam pelaksanaan pesta adat Batak. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan pengaruh globalisasi, tradisi ini sudah jarang dilakukan sehingga menyebabkan perubahan pada fungsi boru dalam pesta adat yang kini diambil alih oleh catering atau jasa penyedia makanan. Penelitian ini menggunakan metode etnografi dengan pendekatan kualitatif. Adapun teknik yang digunakan dalam penghimpunan data yaitu dengan melakukan wawancara dan juga melakukan observasi. Adapun yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah raja parhata, natua-tua ni huta, kepala desa, dan warga yang telah lama berdomisili di desa Simanungkalit dan mengetahui banyak tentang kegiatan marhobas yang ada di desa tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masuknya pengaruh globalisasi dan budaya global ditengah masyarakat desa Simanungkalit menyebabkan perubahan pada budaya lokal masyarakat. Faktor yang menyebabkan perubahan budaya lokal tersebut antara lain kemajuan teknologi informasi, adanya kontak dengan budaya luar, hadirnya jasa catering di desa, faktor keefisienan waktu dan juga pergaulan didalam masyarakat. Beberapa dampak dari perubahan itu menipisnya rasa solidaritas diantara masyarakat, berkembangnya sifat individual dan berkurangnya konstribusi boru dalam pesta. Pada akhirnya didalam pelaksanaan pesta adat batak terjadilah pertemuan antara hal yang bersifat lokal dan yang global yang saling mempengaruhi. Keadaan ini mengakibatkan terjadinya percampuran budaya tapi dalam hal ini yang berlawanan itu dapat saling direlasikan dan diproseskan pada pelaksanaan pesta tersebut. Sehingga tidak terjadi suatu benturan didalam masyarakat, mereka bisa menerima dan menyesuaikan budaya mereka dengan budaya universal tersebut.126 HalamanSkripsi SarjanaTesis Magiste

    Pasar Kamu (Studi Deskriptif Pasar Kuliner Tradisional di Desa Denai Lama Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang)

    No full text
    The background in this research is that in traditional markets we can see how the activities are very distinctive and unique which are motivated by the socio-cultural character of the community. One of the traditional markets that has unique characteristics is Pasar Kamu, a traditional culinary market located in Denai Lama Village, Pantai Labu District, Deli Serdang Regency, which is currently successfully visited by many people from various regions. The purpose of this study was to find out the forms of community participation in Denai Lama Village in developing the Kamu Market and to find out the impact of Kamu Market on the socio-economic conditions of the people in Denai Lama Village. This research was conducted using descriptive qualitative methods and data collection techniques by conducting field observations, building rapport, and conducting in-depth interviews to obtain more accurate data. The results showed that the unique characteristics found in Pasar Kamu are an exchange system that uses tempu, selling market snacks that are rarely found and agricultural products, then there are activities of artists who perform so that this uniqueness becomes an attraction for tourists to visit Pasar Kamu so that Your market needs to be developed. In developing your Market, the form of participation provided by the community is the outpouring of thoughts or ideas, the outlay of funds (material) and the outlay of energy. So that the development of Pasar Kamu has an impact on the socio-economic conditions of society such as improving the economy, increasing education and improving infrastructure and social relations of the community. The discussion in this research is that traditional markets are not only seen as an economic space but as a social space where the market is also a place for intimate personal and group relationships to take place, so that every actor who plays a role in developing Pasar Kamu has relationships that form a network. social. The community involved in developing your Market is a system that has elements that are interdependent and have their respective functions that are interconnected so that they aim to achieve social welfare.142 HalamanSkripsi Sarjan
    corecore