1,720,967 research outputs found

    Optimisasi Ekstraksi Daun Dandang Gendis Menggunakan Parameter Waktu, Nisbah Sampel-pelarut, dan Jenis Pelarut

    No full text
    This study was started with soxhlet extraction of the dried leaves of dandang gendis with n-hexane and then maceration of the residue. Optimization on the maceration process was carried out by varying the maceration time, ratio of sample-solvent, and solvent to obtain the lowest LC50 value. The dried leaves sample used here has 9.75% moisture content. The extraction yields obtained were varying from 13 to 18% and the brine shrimp lethality test showed that the LC50 values of the extracts were 275 to 650 mg/L. The response surface method was used to see the treatment effect to the response (e.g. LC50). The method was calculated using Minitab 15 and SAS 9.1 softwares. From these calculations, the optimum condition for the leaves of dandang gendis extraction was achieved by using 20% ethanol as solvent, 1:3 samples to solvent ratio, and 6 hours of maceration. The LC50 value of the optimum extracting condition was 240.66 mg/L. The phytochemical assay results showed that the most active the leaves of dandang gendis extract contained saponins, flavonoids, and alkaloids

    Sitotoksisitas Fraksi Teraktif Kemedangan Pohon Penghasil Gaharu Jenis Aquilaria microcarpa pada Sel Kanker Payudara MCF-7.

    No full text
    Gaharu mengandung senyawa metabolit sekunder dan secara tradisional dimanfaatkan sebagai obat antikanker. Penelitian ini bertujuan menentukan sitotoksisitas fraksi kemendangan pohon penghasil gaharu jenis Aquilaria microcarpa. Sampel dimaserasi menggunakan pelarut etil asetat untuk mengambil senyawa semipolar. Ekstrak difraksionasi menggunakan kromatografi kolom menghasilkan 15 fraksi. Penapisan menggunakan uji letalitas larva udang menunjukkan fraksi 6, 11, 12, dan 13 bersifat toksik. Sitotoksisitas ekstrak kasar etil asetat, 2 fraksi dengan LC50 terendah, yaitu fraksi 11 dan 13, serta doksorubisin sebagai kontrol positif diujikan pada sel lestari MCF-7. Dihasilkan nilai IC50 berturut-turut 0.81, 1.07, 3.44, dan 0.49 μg/mL. Berdasarkan hasil ini, kedua fraksi yang diuji memiliki aktivitas sitotoksik dan berpotensi antikanker. Kedua fraksi masih berupa campuran senyawa, maka diperlukan fraksionasi lebih lanjut untuk mendapatkan senyawa murni yang lebih aktif sebagai antikanker daripada doksorubisin

    Optimisasi Waktu Perendaman Kemedangan Gaharu Hasil Inokulasi pada Rendemen dan Komponen Kimia Minyak Gaharu

    No full text
    Agarwood oil is often used in medicine, perfume, and cosmetic industries. This study aims to determine the optimum soaking time of agarwood kemedangan of inoculated agarwood trees to isolate the essential oils and to analyse the chemical components by using gas chromatograph-mass spectrometer (GC-MS). The agarwood optimum soaking time was 21 days, giving 0.22−0.92% of yield. Compounds identification by using GC-MS indicated the presence of sesquiterpenes in all agarwood oil. Amounts of sesquiterpenes in natural and inoculated trees did not vary, containing 9−15 compounds. Agarwood oil contain 3−6 marker compounds. Inoculated trees producing agarwood oil have similar quality, but less yield than natural agarwood

    Isolasi dan Uji Antimikrob Metabolit Sekunder Ekstrak Kultur Jamur Endofit AFKR-5 dari Tumbuhan Akar Kuning (Arcangelisia flava (L) Merr)

    No full text
    Endophytic fungi associated with medicinal plant were known to produce bioactive secondary metabolites similar to its host plant. This study aimed to obtain bioactive secondary metabolites as antimicrobial from endophytic fungi AFKR-5 associated with akar kuning plant from Bogor Botanical Garden. Methanol fraction of ethyl acetate extract from AFKR-5 culture in potato dextrose broth medium was capable to produce the bioactive secondary metabolites F3.4 (10.375 mg/L) with retention factor of 0.30. Antimicrobial activity test using Kirby-Bauer disc diffusion method showed that F3.4 was a broad antimicrobial spectrum on 3 pathogenic microbes, namely Gram-positive bacteria Staphylococcus aureus, Gram-negative bacteria Escherichia coli, and Candida albicans mold. The determination of minimum inhibitory concentration (MIC) and the minimum fungicidal concentration (MFC) were carried out with liquid microdilution method. F3.4 was the most potential with MIC value of 16 μg/mL against C. albicans, twice as stronger than the commercial antifungal Nystatin which was only fungistatic with MIC value of 32 μg/mL. F3.4 was fungicidal with MFC value of 32 μg/mL against C. albicans, so that it is potential to be developed as antimicrobial, especially antifungal

    Sitotoksisitas Fraksi Teraktif Biji Mahoni Berdaun Lebar (Swietenia macrophylla) terhadap Sel Kanker MCF-7

    No full text
    Tanaman mahoni (Swietenia macrophylla) memiliki aktivitas antikanker, terutama pada bagian biji. Penelitian ini bertujuan mendapatkan fraksi paling toksik terhadap larva Artemia salina pada biji mahoni, menentukan sitotoksisitasnya terhadap sel kanker payudara MCF-7, dan mengidentifikasi senyawa dugaan menggunakan liquid chromatography-mass spectrometry. Sampel dikeringudarakan dan digiling, kemudian diekstraksi dan menghasilkan ekstrak etil asetat yang mengandung golongan senyawa triterpenoid yang berperan sebagai antikanker. Ekstrak etil asetat selanjutnya difraksionasi menggunakan kromatografi cair vakum yang menghasilkan 10 fraksi. Fraksi ke-7 paling toksik terhadap A. salina dengan LC50 43.94 μg/mL. Fraksionasi kembali pada fraksi 7 menghasilkan 3 fraksi teraktif, yaitu fraksi 7a, 7b dan 7i dengan nilai LC50 berturut-turut sebesar 23.55, 34.14, dan 19.93 μg/mL. Hasil ini menunjukkan bahwa fraksi teraktif berpotensi sebagai antikanker. Fraksi 7b dengan rendemen 5.93% menunjukkan sitotoksisitas terhadap sel MCF-7 dengan persen inhibisi sebesar 76.49% pada konsentrasi 50 μg/mL. Profil kromatogram fraksi 7b diduga menunjukkan adanya golongan senyawa limonoid yang diduga berperan dalam antikanker

    Uji Toksisitas Ekstrak Etil Asetat Teraktif Daun Dandang Gendis (Clinacanthus nutans) Menggunakan Uji Letalitas Larva Udang

    No full text
    Dandang gendis (Clinacanthus nutans) is a medical herb commonly used as a traditional medicine as antimalarial and antidiabetic. This study was started with maceration of the dried leaves of dandang gendis with ethanol,and then partitioned using n-hexane. The ethanol extract free of nonpolar compounds was then partitioned with ethyl acetate. The ethanol crude extract, n-hexane fraction, and ethyl acetate fraction were tested by using brine shrimp lethality test to determine the toxicity of each extract. The ethyl acetate fraction showed the highest activity with 50% lethal concentration (LC50) of 32 mg/L. Re-extraction of ethanol extract free of nonpolar compounds by using ethyl acetate in 90 minutes by three times extraction with material:solvent ratio of 1:2 resulted LC50 value of 29.02 mg/L. Phytochemical assay results showed that the ethyl acetate extract of dandang gendis leaves contained saponins, alkaloids, steroids, and flavonoids. Re-extraction of ethyl acetate extract contained higher flavonoids than ethyl acetate extract from the first extraction

    Toksisitas Fraksi Teraktif Kemedangan Aquilaria malaccensis dari Kapuas Hasil Inokulasi 2 Tahun dengan Fusarium solani.

    No full text
    Aquilaria malaccensis adalah tanaman obat yang dipercaya dapat menghambat pertumbuhan sel kanker. Penelitian ini bertujuan mendapatkan fraksi teraktif yang berpotensi sebagai antikanker. Kemedangan gaharu A. malaccensis dari Kapuas umur 6 tahun yang diinokulasi selama 2 tahun menggunakan fungi Fusarium solani diharapkan memiliki fraksi yang mengandung senyawa bioaktif. Tahapan pada penelitian ini ialah ekstraksi, fraksionasi, dan uji toksisitas terhadap larva udang. Sampel diekstraksi menggunakan pelarut etil asetat yang menghasilkan rendemen 3.16%. Ekstrak etil asetat selanjutnya difraksionasi menggunakan kromatografi cair vakum menghasilkan 8 fraksi dengan fraksi 3, 4, 5, dan 6 memiliki nilai LC50 berturut turut sebesar 14.32, 29.09, 59.79, dan 23.88 μg/mL. Fraksionasi lanjutan menggunakan kromatogafi kolom pada campuran fraksi 4 dan 5 berdasarkan pola pita kromatogram dan nilai LC50. Fraksionasi menghasilkan 7 fraksi dengan 2 fraksi teraktif, yaitu fraksi 45b dan fraksi 45c dengan nilai LC50 berturut-turut 6.89 dan 5.69 μg/mL. Fraksi teraktif dengan nilai LC50 yang diperoleh berpotensi sebagai antikanker

    Sitotoksisitas Fraksi Teraktif Kemedangan Aquilaria malaccensis Hasil Inokulasi dari Pulau Lingga terhadap Sel Kanker MCF-7.

    No full text
    Kemedangan Aquilaria malaccensis hasil inokulasi dengan Fusarium solani dari Pulau Lingga diduga memiliki aktivitas antikanker. Penelitian dilakukan dengan tahapan ekstraksi dengan etil asetat, fraksionasi, uji toksisitas terhadap larva Artemia salina, uji sitotoksisitas terhadap sel kanker payudara MCF-7, dan identifikasi profil kromatogram. Ekstrak etil asetat mengandung total fenol dan flavonoid berturut-turut 21.87 mg GAE/g dan 89.99 mg QE/g. Ekstrak etil asetat bersifat toksik dan berpotensi mengandung senyawa bioaktif dengan LC50 391.79 μg/mL. Fraksionasi menggunakan kromatografi cair vakum menghasilkan 5 fraksi. Fraksi 2 memiliki persen inhibisi paling tinggi terhadap sel kanker MCF-7 dengan nilai 93.16% dan nilai LC50 30.26 μg/mL . Fraksionasi kembali Fraksi 2 dengan kromatografi kolom menghasilkan 4 fraksi. Fraksi 2d menunjukkan sifat menunjukkan sitotoksisitas terhadap sel MCF-7 dengan IC50 0.72 μg/mL dan menghasilkan toksisitas dengan LC50 17.17 μg/mL. Profil kromatogram cairspekrum massa menunjukkan fraksi 2d memiliki banyak senyawa dengan kelimpahan tertinggi pada waktu retensi 2.2 menit dan m/z 219.12 yang diduga senyawa tersebut memiliki rumus molekul C15H22O

    Sitotoksisitas Fraksi Teraktif Kemedangan Aquilaria malaccensis Hasil Inokulasi dari Pulau Bintan terhadap Sel Kanker MCF-7.

    No full text
    Kemedangan Aquilaria malaccensis yang berasal dari Pulau Bintan, telah diinokulasi menggunakan Fusarium solani selama dua tahun diduga mengandung senyawa yang memiliki aktivitas antikanker. Pada penelitian ini sampel diekstraksi dengan etil asetat, diuji fitokimia, difraksionasi, diuji toksisitas terhadap larva udang, diuji sitotoksisitas terhadap sel kanker MCF-7, dan diidentifikasi profil kromatogramnya. Ekstrak etil asetat bersifat toksik dengan nilai LC50 250.44 μg/mL. Fraksionasi dilakukan sebanyak dua tahap, yaitu menggunakan kromatografi cair vakum dan kromatografi kolom. Fraksionasi dengan kromatografi cair vakum menghasilkan 7 fraksi; fraksi 5 merupakan fraksi yang paling toksik dengan nilai LC50 7.79 μg/mL. Fraksi teraktif yang dihasilkan dari fraksionasi tingkat II memiliki toksisitas yang cukup baik dengan nilai LC50 4.88 μg/mL dan menunjukkan sitotoksisitas terhadap sel kanker dengan nilai IC50 12.60 μg/mL. Hasil analisis kromatografi cair-spektrofotometri massa menunjukkan fraksi 5b mengandung senyawa yang diduga sebagai 6,7-dimetoksi-2-(2- feniletil)kromon dan 2-[2-(4´-metoksifenil)etil]kromon

    Sitotoksisitas Fraksi Aktif Biji Mahoni (Swietenia mahagoni) pada Sel Kanker Payudara T47D

    No full text
    Ethyl asetate fraction was reported to be toxic to Artemia salina and has a potency as medicine. The purpose of this study was to examine cytotoxicity of active fraction from Swietenia mahagoni seed toward breast cancer T47D. Ethyl acetate fraction was fractionated used clasic cromatography coloum with silica gel as the stationary phase and chloroform-ethyl acetate as the mobile phase gradiently and yielded 8 fraction. Fraction 2 with 50 lethal concentration 74.30 ppm could inhibit the growth of T47D cell with 50 inhibition concentration of 49.12 ppm. Based on phytocemical assay, fraction 2 consisted of alkaloid and steroid/triterpenoid
    corecore