1,720,992 research outputs found

    Analisis Kelayakan Finansial Pengembangan Perkebunan Karet dengan Penerapan Low Frequency Tapping Systems di PT Perkebunan Nusantara III (Persero)

    No full text
    The declining of natural rubber prices and the scarcity of tappers were the main problems faced by rubber plantation companies in the last decade. The outbreak of Pestalotiopsis leaf fall makes it difficult to achieve productivity improvements. Cost efficiency efforts are a strategy that must be implemented to maintain the current performance of the rubber plantation companies. Low frequency tapping (LFT) systems are one of the steps taken by PT Perkebunan Nusantara III (Persero) as a barometer for national plantation companies to respond to this situation. The aim of this research is to analyze the performance of the application of the LFT system at PTPN III (Persero), to analyze the financial feasibility of developing a rubber plantation with the application of the tapping system, and to compare its performance with conventional tapping systems. Tanah Raja and Gunung Para were the locations chosen purposively in this study because they were considered as demonstration unit for PTPN III (Persero). The analysis was carried out through a quantitative descriptive method with a partial budget analysis approach in the form of Net Income (NI) Analysis, Revenue and Cost Ratio (R/C ratio) and financial feasibility analysis with four project investment criteria in the form of Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Benefit and Cost Ratio (B/ C ratio) and Payback Period (PBP). The results showed that the application of the LFT system was able to maintain the rubber plantation business in a profitable condition. The LFT system was chosen as the best alternative is a LFT system d4 with a ratio of R/C ratio between d3 and d4 was 1.39 and 1.20, respectively. NPV value of IDR 69,14 billion; B/C ratio of 1.61; IRR of 14.23%; and PBP for 12.48 years shows that the development of rubber plantations with the application of the LFT system is feasible. When compared to rubber plantations with the application of a conventional tapping system which has an NPV value of IDR 224,03 billion; B/C ratio of 1.93; IRR of 19,56%; and PBP for 11.12 years, the application of the LFT system d4 is no more attractive. However, in conditions of scarcity of skilled tappers, the financial performance of the conventional tapping system (d3) has decreased significantly where the value of NPV; B/C ratio; IRR; and PBP respectively to Rp 89.64 billion; 1.69; 14.90%; and 12.79 years, which means that it was only slightly above the financial performance of the LFT tapping system (d4). The implementation of the LFT system is more appropriate for plantation locations that face problems with limitations or scarcity of tappers.106 HalamanTesis Magiste

    Kajian Aktivitas Fisiologis Tanaman Karet (Hevea brasiliensis Muell Arg.) Klon Metabolisme Tinggi dan Rendah pada Kejadian Kering Alur Sadap

    No full text
    Kering alur sadap (KAS) merupakan kejadian kulit tanaman karet yang tidak menghasilkan atau mengalirkan lateks. Gejala KAS ditunjukkan dengan adanya spot-spot aliran lateks dari bagian kulit sebelah luar pada saaat kulit disadap, gumpalan lateks dibeberapa titik pada alur dan pada stadium lanjut, jaringan kulit mulai berubah warnanya dari coklat terang menjadi kemerahan. KAS disebabkan oleh ganguan fisiologis pada tanaman akibat adanya over eksploitasi yaang menyebabkan gangguan metabolisme pada tanaman karet. KAS memberikan kontribusi 15% - 20% hilangnya produksi karet dan diperkirakan kerugian yang diakibatkan KAS di perkebunan karet di Indonesia lebih dari 1,7 trilyun/tahun. Tekhnik penanggulangan KAS yang masih diterapkan adalah dengan hanya mengistirahatkan penyadapan pada pohon yang terserang. Ternyata cara ini tidak memberikan manfaat yang nyata, bahkan tanaman yang telah diistirahatkan tetap tidak menghasilkan lateks. Penelitian tahap pertama dilakukan dengan identifikasi fisiologis tanaman karet (Hevea brassiliensis Muell Arg) yang mengalami kejadian KAS pada klon PB 260 dan IRR 42 sehingga dapat ditentukan parameter fisiologis yang berkorelasi kuat dengan tingkatan KAS. Dilakukan pengamatan dilapangan untuk mengambil sampel tanaman karet yang digolongkan ke 4 tingkatan yaitu S = Sehat, KI = (>25%-50%), KII = (>50%-75%). Kemudian diamati parameter fisiologis seperti Tiol, Posfat anorganik (Pi), Sukrosa, TSC dan aktivitas peroksidase dan SOD secara khusus di setiap klon dan jenis jaringan (kulit kayu atau lateks). Hasil penelitian menemukan pola fisiologis IRR 42 berbeda dengan PB 260 untuk peningkatan tahap KAS. Kandungan anorganik fosfat dalam lateks dan kulit kayu menurun pada pohon yang terkena KAS. Penurunan aktivitas Pi dan peroksidase dapat digunakan untuk mengidentifikasi insiden KAS pada tanaman karet. Penelitian tahap kedua bertujuan mengetahui pengaruh pemberian hormon NAA, askorbat acid & nutrisi untuk pemulihan kering alur sadap pada tanaman karet. Penelitian ini dilakukan dengan dibagi menjadi 2 bagian penelitian dan menggunakan rancangan petak terpisah dengan dua faktor perlakuan yaitu petak utama klon tanaman karet (PB 260 dan IRR 42), anak petak pemberian NAA (0 ppm, 10 ppm, 20 ppm, 30 ppm) pada bagian kedua dengan asam askorbat (0 ppm, 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm) pada penelitian bagian 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian NAA mempengaruhi sangat nyata kandungan Pi (10 ppm) dan Pemberian 50 ppm asam askorbat memperpendek laju aktivitas enzim askorbat peroksidase sehingga mampu mempercepat dalam pengikatan radikal bebas. Penelitian tahap ketiga dilakukan uji lapangan larutan antidepresan yang didapatkan dari mengkombinasikan larutan nutrisi MS dan NAA (10 ppm) dengan asam askorbat (50 ppm) dengan pemberian etherel 2,5% terhadap kesembuhan KAS di Kebun Komersil. Penelitian menggunakan RAK faktorial dengan faktor perlakuan yaitu : Klon (RRIM 921 dan PB 260), kondisi tanaman (sehat dan KAS), dan penggunaan formula (tanpa dan pakai). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada lateks interaksi antara klon, kondisi tanaman dan formula, memberikan pengaruh nyata dapat meningkatkan kandungan Pi. Parameter fisiologi berubah sesuai dengan klon, keadaan tanaman dan faktor lingkungan. Formula antidepresan berpengaruh nyata terhadap sukrosa dan Pi pada lateks. Umumnya hampir semua parameter kulit mengalami kenaikan nilai akibat pemakaian formula. Sehingga diduga dapat menjadi alternatif dalam mempercepat pemulihan KAS.Tapping Panel Dryness(TPD) is a condition in which rubble plant bark is unable to produce or flow latex. The symptoms of TPD are indicated by spots in the latex flowing from outer skin when it is tapped, wad of latex in some spots along the flow in advanced stage, changes in color of barks from brown to reddish. TPD is caused by physiological disorders resulted from exploitation leading to metabolism problems in rubber plant. It contributes 15% - 20% of latex production loss and is estimated to financially harm more than IDR 1.7 billion/year to the rubber plantation in Indonesia. The prevention technique that is still applied is merely to put the tapping of TPDaffected trees into rest. This way apparently does not have any significant benefit, the rested plants still cannot produce latex. The first stage of this study was to make physiological identification of TPDaffected rubber plants (Hevea brassiliensis Muell Arg) in clones PB 260 and IRR 42 so that it became possible to determine physiological parameters that was significantly correlated with level of TPD. Field observations were conducted to collect samples of rubber plants categorized into level 4 i.e. S = healthy, KI = (>25%-50%), KII = (>50%- 75%). The physiological parameters were then observed such as Tiol, Inorganic phosphate (Pi), Sucrose, TSC and peroxide activities and particularly SOD in every clone and kind of bark (bark atau latex). The results discovered that the physiological patterns in IRR 42 were different from those of in PB 260 to increase TPD stages. The inorganic phosphate contained in latex and bark was found to be declined in TPD-affected trees. The declining Pi and peroxide activities were effective to identify the incidence of TPD in rubber plants. The second stage of this study was aimed at discovering the effects of administration of NAA hormone, ascorbic acid & nutrition to recover TPD in rubber plants. The second stage of this study had 2 steps and employed split plot design with two factors of treatment namely on the main plot of rubber plant clone (PB 260 and IRR 42), subplot with administration of NAA (0 ppm, 10 ppm, 20 ppm, 30 ppm) and administration of ascorbic acid (0 ppm, 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm) in the second step of the second stage of this study. The results demonstrated that administration of NAA had highly significant effects on Pi content (10 ppm) and administration of 50 ppm of ascorbic acid shortened the enzyme activity rate of ascorbic peroxide so that it was able to accelerate the binding of free radicals. The third stage of this study was to conduct field examination of anti-depressant obtained from the combination of solution of MS nutrition and NAA (10 ppm) with ascorbic acid (50 ppm) and administration of 2.5% of etherel to cure TPD at Commercial Plantation. This study used RAK factorial with treatment factors on: clone (RRIM 921 dan PB 260), tree condition (healthy and TPD-affected), and formula use (without and with). The results demonstrated that the latex interactions among clones, tree condition and formula use had significant effects on the increase in Pi content. The physiological parameters changed in accordance with the clones, tree condition and environmental factor. Anti-depressant formula had significant effects on sucrose and Pi contents in latex. Generally, nearly all bark parameters had increasing scores due to the formula use. Thus, it was expected to become an alternative to accelerate the recovery from TPD.180 HalamanDisertasi Dokto

    PERAN SELULER ETILEN EKSOGENUS TERHADAP PENINGKATAN PRODUKSI LATEKS PADA TANAMAN KARET (Hevea brasiliensis L)

    Full text link
    Perlakuan etilen dalam rangka meningkatkan produktifitas tanaman karet telah dilakukan secara luas di perkebunan karet sejak dekade 1970-an. Dari beberapa hasil penelitian telah terungkap bahwa etilen di dalam jaringan kulit Hevea mengatur dua jalur utama peningkatan produksi lateks yaitu: a) peningkatan sintesis karet, dan b) memperpanjang lama aliran lateks. Pada tahap awal etilen menginduksi perubahan pH di dalam sitosol menjadi lebih alkali. Perubahan pH ini memicu aktivitas beberapa enzim yang berperan di dalam jalur mevalonat, dan meningkatkan ketersediaan senyawa-senyawa adenilat dan sukrosa di dalam lateks, sebagai faktor penting di dalam biosintesis karet. Etilen eksogen menginduksi ekspresi gen aquaporin di dalam jaringan kulit sehingga suplai air di sekitar bidang penyadapan meningkat, dan etilen juga dapat mempertahankan stabilitas lateks selama aliran lateks. Faktor ketersediaan air dalam jaringan dan stabilitas lateks yang tinggi berpengaruh positif terhadap lama aliran lateks tanaman karet

    APAKAH INDUSTRI KARET ALAM DI INDONESIA DAPAT BERKELANJUTAN?: SEBUAH ULASAN

    Full text link
    Agribisnis karet nasional tengah mengalami tekanan berat dalam satu dekade ini disebabkan melemahnya harga karet. Beberapa tahun tekahir kondisi perkebunan karet mendapat tambahan beban dengan outbreak serangan penyakit gugur daun yang dapat menurunkan produktivitas karet. Kondisi tersebut memacu pesimisme pelaku bisnis karet dari petani karet, perkebunan karet dan prosesor yang direspon dalam bentuk konversi perkebunan karet ke komoditas lainnya. Review ini mengulas berbagai perkembangan industri hilir karet alam global dan nasional dan kondisi hulu perekbunan karet. Perkembangan hilir karet alam terus meningkat yang ditunjukan terus membaiknya bisnis produk-produk berbahan baku karet alam seperti ban, alas kaki, ban vulkanisir, alat-alat medis dan lain sebagainya. Selain itu perkebunan karet juga yang berperan dalam menyerap karbon sangat potensial masuk pasar karbon yang bursanya sudah dibuka. Berbagai kebijakan perlu buat dan diimplentasikan untuk menguatkan pendanaan peremajaan perkebunan karet, serapan teknologi karet domestik dan menarik investor industri hilir karet. Sinkronisasi peta jalan di hulu dan hilir karet mendesak untuk menjaga keberlanjutan suplai dan permintaan. Semakin tinggi serapan domestik akan menberikan dampak membaik penyerapan tenaga kerja lokal dan bergairahnya kembali perkebunan karet

    Analisis Histologi dan Fisiologi Latisifer Pada Tanaman Karet (Hevea brasiliensis)

    No full text
    Rubber tree (Hevea brasiliensis) is the source of natural rubber which contributed a great deal in terms of the increase in Indonesia foreign exchange. Based on this contribution, many effort have been done to increasing the quality of production in agricultural or biological aspects. Study of histology and physiology analisys in rubber tree (Hevea brasiliensis) has been conducted. The plant growth regulator JA, NAA and their combination applied in two kinds of Hevea clones, there are PB 260 and IRR 42 to induce the histological and physiological pharameters which important to increase rubber production. The histological pharameters are the thickness of bark, amount of laticifers and diameter of laticifers and the physiological parameters are inorganic phosphate level, sucrose level and the total of rubber product in one tapping. The result showed the type of the clones have a significant response in bark thickness and the rubber production/tapping/lateral buds and the plant growth regulators affects of all histogycal and physiological pharameters although the differences were not significantTanaman karet (Hevea brasiliensis) merupakan sumber penghasil karet alam yang ikut berkontribusi dalam peningkatan devisa negara. Berdasarkan peran ini, berbagai proses peningkatan kualitas produksi dilakukan baik dalam skala pertanian maupun dalam skala biologi. Penelitian tentang analisis histologi dan fisiologi latisifer pada tanaman karet (Hevea brasiliensis) telah dilakukan di Balai Penelitian Sungei Putih dengan menggunakan rancangan Nested Split Plot. Zat pengatur tumbuh JA, NAA dan kombinasinya telah diaplikasikan kepada klon PB 260 dan IRR 42 untuk peningkatan parameter histologi dan fisiologi yang dianggap penting dalam hal peningkatan produksi karet. Parameter histologi meliputi tebal kulit, jumlah latisifer dan diameter latisifer. Sedangkan parameter fisiologi meliputi kadar fosfat anorganik, kadar sukrosa dan produksi karet/sadap/tunas lateral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis klon berpengaruh nyata terhadap tebal kulit dan produksi karet/sadap/tunas lateral setalah diberi perlakuan zat pengatur tumbuh JA, NAA dan kombinasinya. Sedangkan zat pengatur tumbuh berpengaruh terhadap keseluruhan parameter histologi dan fisiologi meskipun tidak memberikan pengaruh yang nyata71 halamanSkripsi Sarjan

    analysis of the Competitiveness of Indonesian Natural Rubber Exports in the International Market

    No full text
    Indonesia is one of the largest rubber-exporting countries in the world, to understand the competitive position of Indonesian natural rubber, regular monitoring of the development of this commodity compared to competing countries in the international market is necessary. This information is crucial to determine the extent of the influence of Indonesian natural rubber exporters in dominating the global market, which directly determines the direction and structure of the market through market share achievements. This research aims to analyze the competitiveness of Indonesian natural rubber exports in the international market and to analyze the factors that influence the competitiveness of Indonesian natural rubber exports in the international market. The analytical model used in this research is Revealed Comparative Advantage (RCA) to measure a country's comparative advantage in international trade, and Export Competitiveness Index (ECI) to measure a country's ability to compete in the global export market, particularly regarding market share and the export performance of specific commodities. Export Product Dynamic (EPD) to measure the dynamics of export growth of a product and the market position of the product, and panel data regression model to analyze the factors affecting competitiveness. The data used is secondary data in the form of cross-sectional data from 3 countries: Indonesia, Thailand, and Vietnam, as well as time series data from 2000 to 2023. The results show that Indonesian natural rubber has comparative and competitive advantages, meaning that Indonesian natural rubber is highly competitive in the international market. Based on the research results of the panel data regression analysis, the factors affecting the competitiveness of Indonesian rubber exports in the international market are volume and gross domestic product (GDP).122 PagesTesis Magiste

    Peran Zat Pengatur Tumbuh, Oleokimia dan PEG dalam Meningkatkan Produksi dan Mempercepat Pemulihan Kulit Tanaman Karet Klon PB 260

    No full text
    The study aims to : 1) find optimal combination of NAA+ and Oleochemical to accelerate bark recovery of clone PB 260, 2) find an alternative stimulant made from PEG that can increase Production at once speed up recovery bark clone of PB260. This research was conducted in experimental farm of Sungai Putih Research Institute and PTP Archipelago III Sungai Putih garden, Rubber Research Center, Deli Serdang Regency, Province of North Sumatera. The altitude is 25 m above sea level with Ultisol soil type. This research was conducted in 2 stages. The first is using Factorial Randomized block design with 2 factors and 3 repetitions. The treatment factor of NAA+ cytokinin (N) concentration had 4 treatment levels: N0 = no growth regulator (control), N1 = 50 ppm + 50 ppm (kinetin), N2 = 100 ppm + 50 ppm (kinetin), N3 = 150 ppm + 50 ppm (kinetin). Factor of Oleochemical (O) type have 4 treatment levels: O0 = no Oleochemistry (control), O1 = palmitic acid, O2 = Oleic acid, O3 = Stearic acid. The results showed that NAA+ significantly affect the number of latex vessels, but had no significant effect on production of g/p/s, TSC, bark thickness, latex flow, blockage index, inorganic phosphate, sucrose content and Thiol level. Oleochemistry type had significantly affect on production of g/p/s, bark thickness, number of latex vessels, and production, but no significant effect on TSC, latex flow, blockage index, inorganic phosphate, sucrose and Thiol levels. Interaction of NAA+ and Oleochemical significantly affect sucrose and number of latex vessels, but did not significantly affect the production of g/p/s, TSC, bark thickness, latex flow, blockage index, inorganic phosphate, thiol levels. The second study was using Randomized Block Design with 2 treatments factor. The concentration of etephon stimulant has 4 treatment levels: S0 = no stimulant (control), S1 = formulation NAA 100 ppm + 50 kinetin and palmitic acid, S2 = formulation etephon 1.5% + NAA 100 ppm + 50 kinetin and palmitic acid, S3 = etephon 2.5% + formulation NAA 100 ppm + 50 kinetin and palmitic acid. PEG concentration has 2 treatment levels: P0 = No PEG and P1 = PEG 10%. The results showed that stimulant significantly affect the production of g/p/s, TSC, bark thickness, number of latex vessels and blockage index, but has no significant effect on inorganic phosphate content, sucrose content, Thiol, SOD and Peroxidase levels. PEG application has significant effect on production of g/p/s, TSC, bark thickness, number of latex vessels, blockage index, inorganic phosphate content and SOD, but has no significant effect on sucrose, Thiol and Peroxidase levels. The combination of stimulant and PEG significantly affect the production of g/p/s, TSC, bark thickness, blockage index, inorganic phosphate content, but has no significant effect on the number of latex vessels, sucrose, Thiol and SOD and Peroxidase.Penelitian bertujuan untuk 1) Mendapatkan konsentrasi kombinasi NAA+ dan Oleokimia yang optimal untuk mempercepat pemulihan kulit pada klon PB 260. 2) Mendapatkan formulasi stimulan alternatif berbahan PEG yang dapat meningkatkan produksi sekaligus mempercepat pemulihan kulit pulihan klon PB 260. Penelitian ini dilaksanakan di kebun percobaan Balai Penelitian Sungai Putih dan kebun PTP Nusantara III Kebun Sungei Putih, Pusat Penelitian Karet Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Ketinggian tempat 25 m di atas permukaan laut dengan jenis tanah Ultisol. Penelitian ini berlangsung dalam 2 tahapan. Penelitian tahap pertama dilakukan dengan menggunakan metode RAK Faktorial dengan 2 faktor dengan 3 kali ulangan. Faktor perlakuan yakni konsentrasi NAA+ sitokinin (N) memiliki 4 taraf perlakuan : N0 = tanpa zat pengatur tumbuh (kontrol), N1 = 50 ppm + 50 ppm (kinetin), N2 = 100 ppm + 50 ppm (kinetin), N3 = 150 ppm + 50 ppm (kinetin) dan jenis Oleokimia (O) memiliki 4 taraf perlakuan : O0 = tanpa Oleokimia (kontrol), O1 = Asam palmitat, O2 = Asam Oleat, O3 = Asam Stearat. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa Pemberian konsentrasi NAA+ berpengaruh nyata terhadap jumlah pembuluh lateks, tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap produksi g/p/s, TSC, tebal kulit, lama aliran lateks, indeks penyumbatan, fosfat anorganik, kadar sukrosa dan kadar Thiol. Jenis Oleokimia berpengaruh nyata terhadap produksi g/p/s, tebal kulit, jumlah pembuluh lateks, dan produksi, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap TSC, lama aliran lateks, indeks penyumbatan, fosfat anorganik, kadar sukrosa dan kadar Thiol. Interaksi konsentrasi NAA+ dan jenis Oleokimia berpengaruh nyata terhadap sukrosa dan jumlah pembuluh lateks, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap produksi g/p/s, TSC, tebal kulit, lama aliran lateks, indeks penyumbatan, fosfat anorganik, kadar thiol. Untuk penelitian tahap kedua dengan menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok dengan faktor perlakuan konsentrasi stimulan etefon memiliki 4 taraf perlakuan : S0 = tanpa stimulan (kontrol), S1 = formulasi NAA 100 ppm + 50 kinetin dan asam palmitat, S2 = Etefon 1,5% + Formulasi NAA 100 ppm + 50 kinetin dan asam palmitat, S3 = Etefon 2,5% + Formulasi NAA 100 ppm + 50 kinetin dan asam palmitat dan konsentrasi PEG memiliki 2 taraf perlakuan : P0 = Tanpa PEG, P1 = PEG 10 %. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa stimulan berpengaruh nyata terhadap produksi g/p/s, TSC, tebal kulit, jumlah pembuluh lateks dan indeks penyumbatan, tidak berpengaruh nyata terhadap kadar fosfat anorganik, kadar sukrosa, kadar Thiol, SOD dan Peroksidase. Aplikasi PEG juga dapat mendorong peningkatan produksi g/p/s, TSC, tebal kulit, jumlah pembuluh lateks, indeks penyumbatan, kadar fosfat anorganik dan SOD, tidak berpengaruh nyata terhadap kadar sukrosa, kadar Thiol dan Peroksidase. Kombinasi pemberian stimulan dan PEG berpengaruh nyata terhadap produksi g/p/s, TSC, tebal kulit, indeks penyumbatan, kadar fosfat anorganik, tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah pembuluh lateks, kadar sukrosa, kadar Thiol dan enzim SOD dan Peroksidase.153 HalamanDisertasi Dokto

    Kajian Rasio Kation Kalsium, Magnesium dan Kalium dalam Kaitannya dengan Produksi Tanaman Karet (Hevea Brasiliensis Muell. Arg)

    No full text
    The low productivity of Indonesian rubber estate is mainly due to the application of rubber technology and plantation management which have not fully complied with the recommendations. One of the ways to achieve maximum productivity is the use of stimulants by maintaining the level of soil fertility. To overcome this problem, an assessment of soil fertility in rubber is absolutely necessary because it is directly related to plant growth and production. In addition to nutrients N and P, other important macro nutrients for plant growth are elements of Ca, Mg and K. The research purposes of this study was to increase the production of latex (Hevea brasiliensis Muell. Arg) by examining the use of calcium, magnesium and potassium fertilizers based on their status and the ratio of Ca, Mg and K as a source of soil nutrients in rubber plantations. The research was carried out in three stages of research, starting with an observation (survey) of the content of Ca, Mg and K status in the three rubber productivity plantations which were categorized as high, medium and low. Followed by the second research, namely experimental research using a Factorial Randomized Block Design (RBD) at the location of the highest rubber production. The third study observed the basic cations of calcium (Ca), magnesium (Mg) and potassium (K) in their role in various latex metabolism in rubber plants using a descriptive method with samples from plants from the second stage of research. or production after 4 months of treatment application by dividing low, medium and high criteria based on production criteria. The study was started by determining the status and ratio of base cations Ca, K and Mg which affected latex production at high production status in the Sarang Giting Estates, medium in Bandar Betsi Estates and low in Dusun Hulu Estates, with sequent production of 1,853.2 , 1,357.7 and 935.4 Kg/Ha/year based on the average latex production in 2016 and 2017. The research at this stage was conducted to measure the nutrient status of Ca, Mg and K in rubber plantations with different productivity levels. Nutrient status was determined at a depth of 0-30 cm and 30-60 cm for each of 10 points. The second stage of the research was carried out in high-yielding plantations to obtain changes in nutrient status in various treatments of agricultural lime/calcium fertilizer (CaCO3), kiserite/magnesium fertilizer (MgSO4.H2O) and KCl/potassium fertilizer as well as determining the optimal dose based on alkaline cation balance. The third phase of the study observed basic cations calcium (Ca), magnesium (Mg) and potassium (K) in relation to various latex metabolism variables, namely sucrose content, inorganic phosphate, thiol and total solids content (TSC) in latex and production. The results of the first stage of observation obtained that the content of Calsium exchangeable (Ca-exc) at a depth of 0-30 cm and 30-60 cm in the high, medium, low production categories sequent were 0.41, 0.18, 0.55 and 0.14 respectively. , 0.24, 0.79 me/100 g. Magnesium exchangeable (Mg-exc) at a depth of 0-30 cm and 30-60 cm in the high, medium and low production categories sequent were 0.32, 0.15, 0.17 and 0.23, 0.35, 0.24 me/100 g. Potassium exchangeable (K-exc) at a depth of 0-30 cm and 30-60 cm in the high, medium, low production categories sequent were 0.40, 0.18,0.38 and 0.53, 0.30 and 0.44 me/100 g. The ratio of Ca : Mg : K cations at a depth of 0-30 cm and 30-60 cm at different production locations, namely Sarang Giting Estates sequent were 3: 2: 3 and 2: 3: 8, Bandar Betsi Estates were 1: 1: 1 : 1 and 2 : 3 : 3 and the Dusun Hulu Estates were 3 : 1 : 2 and 7 : 2 : 4. The results of the second study obtained that the optimal doses of calcium, magnesium and potassium fertilizers in the treatment combination C1M2K1 were 1,500 g lime, 3,000 g kiserite and 500 g KCl/Ha/Year which could obtain the highest latex production of 215 g/p/s. Soil nutrient status after application of combination treatment C1M2K1 obtained nutrient content of calcium, magnesium and potassium in relation to latex production (Hevea brasiliensis Muell. Arg) soil nutrient values obtained were 0.74 me/100 g (low), 0.42 me /100 g (medium) and 0.77 me/100 g (rather high). Leaf nutrient status obtained were 0.95% (medium), 0.20% (low) and 2.15% (very high). The nutrient status of latex was 0.014 %, 0.15 % and 0.45%. Nutrient ratio of Ca : Mg : K exchangeable soil obtained is 2 : 1 : 2, leaf nutrient ratio is 5 : 1 : 11 and latex nutrient ratio is 1 : 11 : 32 The results of the third stage of observation of metabolic analysis obtained low sucrose content ranging from 2.23 to 4.19 mM or an average of 3.04 mM, inorganic P (Pi) was characterized by increasing content from very low to low with values ranging from 12.02 to 20, 81 mM or an average of 16.18 mM which can be interpreted as the use of Pi in high metabolic activity which will accelerate the conversion of sucrose into latex. The thiol content is very low, which is below 0.250 mM due to active metabolism in cells so that it can suppress oxidative stress and also shows moderate intensive exploitation, characterized by very high total solids (TSC) levels in the range of 49.01% to 65.32% or an average of 58.05% and high production in the range of 84.55 g/p/s to 171.78 g/p/s or an average of 132.12 g/p/s. The conclusion from the series of observations and research is that the production status in the survey at three plantation sites shows that production is influenced by the exchangeable soil potassium nutrient status (K-dd). Fertilization at low to moderate soil nutrient status in the second study increased soil, leaf and latex nutrient content and production by fertilizer application 1,500 g lime, 3,000 g kiserite and 500 g KCl /Ha/Year (C1M2K1). The nutrient ratio of Ca : Mg : K of the soil sequent was 2 : 1 : 2, the nutrient ratio of the leaves was 5 : 1 : 11 and the nutrient ratio of latex was 1 : 11 : 32. Meanwhile, latex metabolism parameters were not significantly affected by this fertilization. The ratio of 2: 1: 2 on the soil and 5 : 1: 11 on the leaves can be used as an indicator of productivity on land and the condition of rubber plants.Rendahnya produktivitas perkebunan karet Indonesia terutama disebabkan oleh penerapan teknologi perkaretan dan pengelolaan kebun yang belum sepenuhnya sesuai rekomendasi. Produktivitas yang maksimal salah satunya dapat dicapai dengan menjaga tingkat kesuburan tanah. Untuk mengatasi masalah tersebut maka penilaian kesuburan suatu tanah dilahan karet mutlak diperlukan karena berhubungan langsung dengan pertumbuhan tanaman dan produksi. Di samping unsur hara N dan P, unsur hara makro penting lainnya bagi pertumbuhan tanaman adalah unsur Ca, Mg dan K. Tujuan dari penelitian ini adalah meningkatkan produksi lateks (Hevea brasiliensis Muell. Arg) dengan mengkaji penggunaan pupuk kalsium, magnesium dan kalium berdasarkan status dan rasio Ca, Mg dan K sebagai sumber hara tanah pada lahan perkebunan karet. Penelitian dilakuan tiga tahap penelitian yang diawali dengan pengamatan (survei) kandungan status Ca, Mg dan K pada ketiga kebun produktivitas karetnya dikatagorikan tinggi, sedang dan rendah. Dilanjutkan dengan penelitian yang kedua yakni penelitian eksperimen yang menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial pada lokasi produksi karet yang tertinggi. Penelitian ketiga mengamati kation-kation basa kalsium (Ca), magnesium (Mg) dan kalium (K) dalam peranannya pada berbagai metabolisme lateks pada tanaman karet dengan menggunakan metode deskriptif dengan sample dari tanaman hasil penelitian tahap ke 2 atau produksi setelah 4 bulan aplikasi perlakuan dengan membagi kriteria rendah, sedang dan tinggi berdasarkan kriteria produksi. Penelitian diawali dengan menentukan status dan rasio kation-kation basa Ca, K dan Mg yang berpengaruh terhadap produksi lateks pada status produksi tinggi dikebun Kebun Sarang Giting, sedang di Kebun Bandar Betsi dan rendah di Kebun Dusun Hulu, dengan produksi berturut-turut 1.853,2, 1.357,7 dan 935,4 Kg/Ha/tahun berdasarkan produksi lateks rata-rata tahun 2016 dan 2017. Penelitian pada tahap ini dilakukan untuk mengukur status hara Ca, Mg dan K di kebun karet yang memiliki tingkat produktivitasnya yang berbeda. Status hara ditentukan pada kedalaman 0-30 cm dan 30-60 cm masing-masing kebun sebanyak 10 titik. Penelitian tahap kedua dilakukan pada lokasi kebun dengan produksi tinggi untuk mendapatkan perubahan status hara pada berbagai perlakuan kapur pertanian/pupuk kalsium (CaCO3), kiserit/pupuk magnesium (MgSO4.H2O) dan pupuk KCl/pupuk kalium serta penetapan dosis optimal berdasarkan keseimbangan kation basa. Penelitian tahap ke tiga mengamati kation-kation basa kalsium (Ca), magnesium (Mg) dan kalium (K) dalam hubungannya pada berbagai peubah metabolisme lateks yaitu kandungan sukrosa, fosfat anorganik, tiol dan kandungan padatan total (TSC) dalam lateks dan produksi. Hasil pengamatan tahap pertama diperoleh kandungan Ca dapat dipertukarkan (Ca-dd) pada kedalaman 0-30 cm dan 30-60 cm pada katagori produksi tinggi, sedang, rendah berturut-turut sebesar 0,41, 0,18, 0,55 dan sebesar 0,14, 0,24, 0,79 me/100 g. Magnesium-dd pada kedalaman 0-30 cm dan 30-60 cm pada katagori produksi tinggi, sedang dan rendah berturut-turut sebesar 0,32, 0,15, 0,17 dan sebesar 0,23, 0,35, 0,24 me/100 g. Kalium-dd pada kedalaman 0-30 cm dan 30-60 cm pada katagori produksi tinggi, sedang, rendah berturut-turut sebesar 0,40, 0,18,0,38 dan sebesar 0,53, 0,30 dan 0,44 me/100 g. Rasio kation Ca : Mg : K pada kedalaman 0-30 cm dan 30-60 cm pada lokasi produksi yang berbeda yakni Kebun Sarang Giting berturut-turut 3 : 2 : 3 dan 2 : 3 : 8, Kebun Bandar Betsi adalah 1 : 1 : 1 dan 2 : 3 : 3 serta Kebun Dusun Hulu adalah 3 : 1 : 2 dan 7 : 2 : 4. Hasil penelitian tahap ke dua diperoleh dosis pupuk kalsium, magnesium dan kalium optimal pada kombinasi perlakuan C1M2K1 berturut-turut adalah 1.500 g kaptan, 3.000 g kiserit dan 500 g KCl /Ha/Tahun yang dapat memperoleh hasil produksi lateks tertinggi sebesar 215 g/p/s. Status hara tanah setelah diaplikasi kombinasi perlakuan C1M2K1diperoleh kandungan hara kalsium, magnesium dan kalium dalam kaitannya dengan produksi lateks (Hevea brasiliensis Muell. Arg) diperoleh nilai hara tanah berturut-turut adalah 0,74 me/100 g (rendah), 0,42 me/100 g (sedang) dan 0,77 me/100 g (agak tinggi). Status hara daun diperoleh nilai berturut-turut adalah 0,95 % (sedang), 0,20 % (rendah) dan 2,15 % (sangat tinggi). Status hara lateks adalah 0,014 %, 0,15 % dan 0,45 %. Rasio hara Ca : Mg : K tanah dapat dipertukarkan diperoleh adalah 2 : 1 : 2, rasio hara daun adalah 5 : 1 :11 dan rasio hara lateks adalah 1 : 11 : 32 Hasil pengamatan tahap ketiga analisis metabolisme diperoleh kandungan sukrosa rendah berkisar 2,23 – 4,19 mM atau rata-rata 3,04 mM, P anorganik (Pi) ditandai dengan meningkatnya kandungan dari sangat rendah hingga rendah dengan nilai berkisar 12,02 - 20,81 mM atau rata-rata 16,18 mM yang dapat diartikan digunakannya Pi dalam tingginya aktivitas metabolisme yang akan mempercepat konversi sukrosa menjadi lateks. Kandungan tiol sangat rendah yaitu di bawah 0,250 mM akibat aktifnya metabolisme dalam sel sehingga mampu menekan stress oksidatif dan juga menunjukkan sedang intensifnya eksploitasi, ditandai dengan kadar padatan total (TSC) sangat tinggi yakni kisaran 49,01 % hingga 65,32 % atau rata-rata 58,05 % dan produksi yang tinggi dikisaran 84,55 g/p/s hingga 171,78 g/p/s atau rata-rata 132,12 g/p/s. Kesimpulan pada rangkaian pengamatan dan penelitian diperoleh status produksi pada survey di tiga lokasi kebun bahwa produksi dipengaruhi oleh status hara kalium tanah yang dapat dipertukarkan (K-dd). Pemupukan pada status hara tanah rendah hingga sedang pada penelitian kedua meningkatkan kandungan hara tanah, daun dan lateks serta produksi dengan pemberian 1.500 g kaptan, 3.000 g kiserit dan 500 g KCl /Ha/Tahun (C1M2K1). Rasio hara Ca : Mg : K tanah adalah 2 : 1 : 2, rasio hara daun adalah 5 : 1 :11 dan rasio hara lateks adalah 1 : 11 : 32. Sementara parameter metabolisme lateks tidak secara signifikan dipengaruhi oleh pemupukan ini. Rasio 2: 1 : 2 pada tanah dan 5 : 1 : 11 pada daun dapat dijadikan indikator produktivitas pada lahan dan kondisi tananman karet.221 HalamanDisertasi Dokto

    PERKEMBANGAN DAN UPAYA PENGENDALIAN KERING ALUR SADAP (KAS) PADA TANAMAN KARET (Hevea brasiliensis)

    Full text link
    Salah satu penyebab menurunnya produksi karet (Hevea brasiliensis) adalah gangguan Kering Alur Sadap (KAS). Hampir semua negara penghasil karet mengalami gangguan KAS. KAS telah ditemukan di perkebunan karet sejak tahun 1920. Penyebab kejadian ini adalah over exploitation yang memicu peningkatan senyawa radikal yang menyebabkan koagulasi lateks di dalam pembuluh lateks dan pembentukan sel tilasoid. Luka kayu juga menjadi penyebab terjadinya KAS pada panel bawah. KAS dapat ditemukan baik di kulit perawan (BO-1 dan BO-2) maupun kulit pulihan (BI-1 dan BI-2) bahkan di panel HO. Potensi terjadinya KAS meningkat seiring pertambahan umur tanaman. Intensitas KAS diklasifikasikan tinggi bila mencapai 7,3 % untuk klon slow starter, dan 9,2 % untuk klon quick starter dengan potensi kehilangan produksi berturut-turut mencapai 114,74 kg/ha/t dan 183,05 kg/ha/th. Tanaman terserang KAS memiliki kandungan unsur hara makro dan mikro yang lebih rendah baik di dalam lateks maupun kulit dibandingkan dengan tanaman sehat. Pengendalian preventif dapat dilakukan dengan kultur teknis seperti pemeliharaan optimal, penerapan sistem eksploitasi sesuai tipologi klon, dan monitoring gejala awal KAS secara rutin melalui diagnosa lateks. Pengendalian secara kuratif dapat dilakukan dengan teknik bark scraping, aplikasi formula NoBB, atau antico F-96

    PERAN PAKLOBUTRAZOL TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN DAN FISIOLOGI LATEKS BEBERAPA KLON KARET

    Full text link
    Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pertumbuhan tanaman, anatomi dan karakter fisiologi lateks beberapa klon karet pada penyadapan awal dengan penggunaan zat pengatur tumbuh paklobutrazol. Paklobutrazol merupakan zat penghambat pertumbuhan yaitu suatu senyawa organik yang mampu menghambat pemanjangan batang dan dapat meningkatkan diameter batang, sehingga memperpendek tanaman belum menghasilkan. Penelitian dilaksanakan di Kebun Karang Inong PT Perkebunan Nusantara I, Aceh Timur dan PT Perkebunan Nusantara III. Penelitian disusun berdasarkan Rancangan Tersarang (Nested Design) dua faktor, yaitu faktor klon karet dengan lima taraf yaitu K1= PB 260, K2= PB 330 dan K3= PB 340, K4= IRR 107 dan K5= IRR  5 dan faktor paklobutrazol dengan tiga taraf yaitu P0 = Kontrol (tanpa paklobutrazol), P1 = 500 ppm paklobutrazol melalui tanah dan P2 = 500 ppm aplikasi paklobutrazol melalui daun. Aplikasi paklobutrazol melalui tanah diberikan hanya dua kali yaitu pada saat pelaksanaan penelitian dan enam bulan setelah perlakuan (BSP), sedangkan aplikasi paklobutrazol melalui penyemprotan permukaan daun diberikan sebanyak 10 kali mulai dari pelaksanaan penelitian dengan interval satu bulan sekali. Pengamatan dilakukan pada awal penelitian (umur 28 bulan) dan dilanjutkan pada umur 46 bulan di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing klon dan aplikasi paklobutrazol  menunjukkan pengaruh yang berbeda terhadap parameter pertumbuhan tanaman, produksi lateks dan karakter fisiologi lateks. Aplikasi paklobutrazol melalui tanah nyata menekan pertambahan tinggi tanaman, tetapi  dapat meningkatkan diameter batang, tebal kulit dan diameter pembuluh lateks. Interaksi antara perlakuan klon dan paklobutrazol  terhadap parameter produksi tertinggi (22,81 g/p/s), untuk parameter KKK (36,47%) yang dijumpai pada klon PB 340 tanpa paklobutrazol (K3P0), fosfat anorganik (4,92 mM) dan Thiol (0,38 mM) tertinggi terdapat pada perlakuan K4P1 dan indek penyumbatan terendah terdapat pada K3P2 (18,71%). Hasil penelitian ini menjadi salah satu solusi untuk memperpendek tinggi tanaman belum menghasilkan (TBM), karena dapat menghambat pertambahan tinggi dan mempercepat pertambahan lilit batang tanaman
    corecore