156 research outputs found
Analisis Risiko Faktor-Faktor Produktivitas Udang Windu (Penaeus monodon) pada Petambak Tradisional di Desa Pusakajaya Utara Kabupaten Karawang
Perikanan merupakan salah satu sektor agribisnis yang memberikan kontribusi yang cukup besar bagi perekonomian Indonesia. Cukup banyak komoditi perikanan yang dapat memberikan nilai tambah (added value) bagi masyarakat sekitar, salah satunya adalah udang windu yang merupakan satu dari tiga komoditi revitalisasi perikanan yang terus dikembangkan. Kabupaten Karawang merupakan salah satu daerah di Jawa Barat yang memiliki potensi perikanan yang cukup besar untuk dikembangkan. Indonesia menduduki peringkat keempat sebagai negara pengekspor udang terbesar di dunia setelah beberapa negara seperti China, Thailand dan Vietnam. Tujuan penelitian ini, antara lain : (1) identifikasi sumber-sumber risiko, (2) Menganalisis faktorfaktor dalam kegiatan budidaya udang windu dilihat dari tingkat produktivitasnya dan dikaitkan dengan fungsi produktivitas rata-rata dan variance secara signifikan pada komoditas udang windu. Penelitian dilakukan di Desa Pusakajaya Utara, Kabupaten Karawang yang dilaksanakan pada Bulan Mei hingga Juli 2011. Jumlah sampel yang diambil yaitu sebanyak 30 responden yang dilakukan dengan cara judgment sampling yaitu sampel diambil berdasarkan referensi dari wakil desa yang mengetahui secara lebih jelas mengenai data petambak udang windu yang ada di Desa Pusakajaya Utara. Selanjutnya data yang diambil adalah data panel (cross section dan time series) dengan dua siklus penebaran udang windu di tahun 2010. Model yang digunakan adalah Garch (1,1). Pengolahan data dilakukan dengan Minitab versi 14, Eviews seri 6, Microsoft Excel 2010. Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan menunjukkan ada lima variabel yang mempengaruhi produktivitas udang windu. Kelima variabel tersebut, antara lain : benur, pupuk urea, obat-obatan, saponin dan tenaga kerja. Dalam fungsi produktivitas rata-rata, variabel yang dapat mengurangi produktivitas dalam usaha budidaya udang windu adalah variabel pupuk urea. Sedangkan variabel yang dapat meningkatkan produktivitas udang windu, antara lain variabel benur, obat-obatan, saponin dan tenaga kerja. Untuk variabel pupuk urea dan obat-obatan tidak berpengaruh signifikan terhadap produktivitas udang windu. Sedangkan untuk fungsi varians ditunjukkan oleh variabel obat-obatan yang dapat menimbulkan risiko yang ada serta variabel-variabel, seperti benur, pupuk urea, saponin dan tenaga kerja dapat mengurangi risiko yang ada. Data yang ada di lapangan menunjukkan bahwa tidak terdapat multikolinearitas (VIF < 10), artinya kondisi dimana terdapat hubungan linier diantara variabel independent. Hasil olahan data juga menunjukkan bahwa data yang ada menunjukkan homoskedastisitas, yaitu data yang ada tidak berpola dan berdasarkan pengujian Durbin Watson menunjukkan bahwa hasil yang di dapat melebih 1 atau mendekati 2 yang berarti data menyebar normal. R2 yang di dapat juga cukup bagus, yaitu 64,22 persen yang berarti 64,22 persen dari keragaman atau variasi produksi dapat dijelaskan secara bersama-sama oleh model, sedangkan sisanya sebesar 35,78 persen dapat dijelaskan oleh komponen error. Nilai R2 dari model tersebut sudah mampu menjelaskan pengaruh penggunaan input-input yang dibutuhkan pada budidaya udang windu terhadap produksi dan pengaruh risiko produksi musim sebelumnya terhadap risiko produksi musim tertentu. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa fungsi produktivitas rata-rata, variabel pupuk urea (X2) dapat menurunkan produktivitas udang windu jika pupuk urea diberikan dalam jumlah yang banyak dan variabel lainnya, seperti benur (X1), obat-obatan (X3), saponin (X4) dan tenaga kerja (X5) dapat meningkatkan produktivitas udang windu jika jumlah input variabel-variabel tersebut ditambahkan. Untuk fungsi varians produktivitas menunjukkan bahwa variabel obat-obatan (X3) dapat menimbulkan risiko dalam usaha budidaya udang windu sedangkan sisanya, yaitu variabel benur (X1), pupuk urea (X2), saponin (X4) dan tenaga kerja (X5) dapat mengurangi risiko yang akan terjadi dalam usaha ini. Saran yang sebaiknya dilakukan oleh petambak udang windu, antara lain dengan memperhatikan dengan baik dosis pemberian pupuk urea ke dalam tambak karena jika pemberian pupuk urea tidak sesuai (terlalu sedikit atau terlalu banyak) akan menyebabkan kondisi lingkungan tambak tidak seimbang. Pemberian pupuk urea yang optimal berkisar antara 75-150 kg per ha dan harus tetap melihat kondisi tambak yang ada. Sedangkan dosis obat-obatan yang seharusnya diberikan sekitar 20 kg per ha dengan tetap memperhatikan kondisi lingkungan tambak. Obat-obatan dapat meningkatkan daya tahan tubuh udang selama budidaya berlangsung dan jika pemberian ini terlalu banyak akan menimbulkan risiko karena daya tahan tubuh udang semakin menurun
Kinerja Kemitraan dan Pendapatan Petani Belimbing Dewa pada Gapoktan Maju Bersama Kecamatan Cimanggis Kota Depok
Kota Depok merupakan penghasil belimbing dengan jumlah produksi sebesar 46 persen dari total produksi di Jawa Barat. Namun, produksi tersebut tidak diikuti adanya jaminan pasar dengan cara kerjasama kemitraan. Terbukti hanya Gapoktan Maju Bersama yang telah menjalin kemitraan dengan PT. Lotte Mart Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kinerja kemitraan antara Gapoktan Maju Bersama dengan PT. Lotte Mart Indonesia, menganalisis pendapatan petani mitra dan menjelaskan hubungan antara kinerja kemitraan dan pendapatan petani. Metode yang digunakan adalah skala likert, spiderweb, analisis pendapatan usahatani, serta korelasi rank spearman. Hasil dari penelitian ini yaitu kinerja kemitraan telah baik dilihat dari kesamaan persepsi terutama pada variabel harga ketua Gapoktan, petani dan manajer Lotte memiliki persepsi yang sama. Selain itu, pendapatan petani mitra sebesar Rp 226 158 865.33 dan nilai R/C rasio sebesar 1.95 yang menunjukkan bahwa usahatani belimbing dewa telah menguntungkan, sedangkan hubungan kinerja kemitraan dengan pendapatan petani tidak saling berhubungan signifikan dengan nilai rs sebesar -0.023
Strategi Pengembangan Usaha Abon Ikan di KUB Hurip Mandiri Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi
Potensi sektor perikanan Indonesia cukup besar. Menurut Departemen Kelautan dan Perikanan, produksi perikanan dalam periode 2000-2006 mengalami peningkatan rata-rata per tahun sebesar 6,36 persen, yakni dari 5,1 juta ton pada tahun 2000 menjadi 7,4 juta ton pada tahun 2006, yang terdiri dari perikanan budidaya 2,6 juta ton dan perikanan tangkap 4,8 juta ton. Produksi perikanan yang besar tersebut ternyata didominasi oleh produksi ikan. Ikan memiliki kelemahan yaitu tidak dapat bertahan lama. Komoditas ini cepat mengalami kerusakan sehingga memerlukan pengolahan lebih lanjut. Salah satu usaha pengolahan ikan adalah usaha abon ikan Kelompok Usaha Bersama (KUB) Hurip Mandiri
Analisis Kepuasan Pelanggan terhadap Pembelian Nenas di Pasar Tradisional dan Modern Kota Bogor
Nenas merupakan salah satu buah unggulan di Indonesia. Perbedaan jenis nenas dan tempat pembelian memengaruhi membeli nenas sehingga keputusan pembelian juga berbeda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji dan mengidentifikasi kepuasan pelanggan terhadap pembelian nenas di Kota Bogor. Alat analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, Expectation Performance Analysis (EPA) dan Customer Satisfaction Index (CSI). Penelitian ini menggunakan 60 responden. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini Customer Satisfaction Index (CSI) didapatkan bahwa responden secara keseluruhan puas terhadap pembelian nenas di Pasar Tradisional sebesar 76.77 persen, untuk menggunakan Customer Satisfaction Index (CSI) didapatkan bahwa responden secara keseluruhan puas terhadap pembelian nenas di Pasar Modern sebesar 76.68 persen
Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Risiko Produksi Ayam Broiler (Studi Kasus Peternak Plasma Ayam Broiler Pada CV Dramaga Unggas Farm Kabupaten Bogor)
Ayam broiler merupakan jenis unggas yang memiliki pertumbuhan yang sangat cepat dibandingkan dengan pertumbuhan jenis unggas lainnya. Ayam broiler dapat dipanen kisaran 28-32 hari. Ayam broiler memiliki peluang yang sangat luas untuk dikembangkan. Hal tersebut dapat dilihat dari perkembangan populasi ternak ayam broiler yang ada di Indonesia setiap tahunnya mengalami peningkatan. Peningkatan populasi tersebut didukung dengan semakin meningkatnya pertumbuhan penduduk Indonesia setiap tahun serta adanya kandungan gizi yang terkandung pada daging ayam broiler cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi yang diperlukan oleh tubuh. Ayam broiler memiliki penyebaran dari Sabang hingga Marauke, namun jumlah yang paling besar berada di pulau Jawa. Jawa Barat merupakan penyumbang terbanyak dalam memproduksi ayam broiler. Peternakan ayam broiler pada umumnya tidak melakukan usaha secara mandiri, karena peternak yang ada di Indonesia kebanyakan masih bersifat tradisional sehingga masih membutuhkan bantuan pihak lain. Kerja sama ini salah satu untuk mengurangi kerugian yang ditanggung oleh peternak ayam tersebut. Salah satunya adalah Peternakan ayam broiler yang ada di Kabupaten Bogor, Kecamatan Dramaga tidak berdiri sendiri, melainkan melakukan kerjasama dengan perusahaan inti yang menyediakan semua faktor-faktor produksi. Peternak hanya mempersiapkan kandang , alat pemanas, sekam, serta peralatan lainnya seperti tempat pakan dan minum. Hal tersebut membuat beban peternak semakin berkurang, karena tidak lagi memikirkan faktor-faktor produksi serta pemasaran produknya, walaupun peternak melakukan kerjasama dengan perusahaan inti, peternak tidak terlepas dari risiko produksi. Indikasi adanya risiko produksi adalah produktivitas masih berfluktuasi pada setiap peternak, selain itu juga adanya tingkat kematian yang bervariasi. Permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah : 1). Faktor-faktor produksi apa saja yang mempengaruhi Produksi Rata-rata dan variance produksi ayam broiler pada peternak plasma DUF ? dan 2). Bagaimana pengaruh faktor-faktor produksi terhadap produksi rata-rata dan variance produksi peternak ayam broiler pada peternak plasma DUF ?. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah untuk : 1). Menganalisis faktor-faktor produksi yang mempengaruhi produktivitas dan variance produksi ayam broiler yang dihasilkan para peternak plasma DUF dan 2). Menganalisis pengaruh faktor-faktor produksi ayam broiler yang digunakan terhadap risiko produksi ayam broiler yang dihasilkan peternak plasama DUF di Kecamatan Dramaga. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer didapat dari hasil wawancara dan observasi kepada peternak ayam broiler serta penyuluh di perusahaan inti. Data sekunder berasal dari internet, buku, penelitian terdahulu dan perpustakaan. Data yang digunakan iv adalah data panel yaitu gabungan antara data time series dan cross section. Analisis dilakukan dengan dua metode yaitu analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif digunakan untuk penanganan risiko dan sumber risiko produksi, sedangkan kuantitatif digunakan untuk melihat faktor-faktor produksi yang mempengaruhi produktivitas dan pengaruhnya terhadap variance produksi. Pengolahan data digunakan dengan program minitab 14 dan eviews 6. Peternak yang digunakan sebagai responden sebanyak 30 responden yang representative dan satu responden terdiri dari dua periode. Skala usaha satu peternak dengan peternak lainnya juga beraneka ragam, mulai dari 1.500-9.000 ekor ayam. Berdasarkan permasalahan pada penelitian ini, maka diperlukan faktor-faktor produksi sebagai parameter. Faktor-faktor produksi yang digunakan dalam pengolahan data adalah jumlah DOC, pakan, Protect Enro, Neocamp, Doxerin Plus, vaksin, pemanas serta tenaga kerja. Faktor-faktor produksi tersebut digunakan berdasarkan pertimbangan pada kondisi lapangan yaitu semua peternak menggunakan jenis variabel produksi tersebut. Berdasarkan hasil pendugaan parameter menunjukkan bahwa secara umum semua variabel memiliki pengaruh signifikan terdapat produktivitas dan variance produksi. Untuk melihat pengaruh dari semua input terhadap produktivitas dan variance produksi digunakan dari nilai F. Nilai F hitung harus lebih besar dibandingkan dengan nilai F tabel, jika nilai F-hitung > F-tabel maka tolak H0. Penolakan H0 tersebut menunjukkan bahwa secara umum semua variabel produksi secara bersama-sama memiliki pengaruh terhadap perubahan produktivitas dan variacen produksi. Selain dapat dilihat nilai F, penolakan H0 dapat dilihat dari nila P-value. Nilai P-value harus lebih kecil dengan taraf nyata yang digunakan. Taraf nyata yang digunakan sebagai acuan batas kewajaran adalah 20 persen. Hasil pendugaan parameter dapat disimpulkan secara bersama semua variabel yang digunakan berpengaruh signifikan. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai F-hitung > F-tabel yaitu F-hitung sebesar 241 sedangkan F-tabel sebesar 2,18, atau dapat dilihat dari nilai P-value sebesar 0,000 lebih kecil daripada taraf nyata lima persen. Untuk melihat pengaruh dari masing-masing variabel terhadap produksi rata-rata dan variance produksi dapat dilihat dari uji t. Kriteria variabel berpengaruh terhadap produksi dan variance produksi dapat dilihat pada nilai P-value lebih kecil dari taraf nyata yang digunakan sebagai acuan yaitu 20 persen. Berdasarkan uji t dapat dijelaskan bahwa variabel-variabel yang berpengaruh signifikan terhadap produktivitas dibawah taraf nyara satu persen adalah jumlah DOC, pakan, pemanas serta tenaga kerja. Variabel yang signifikan pada taraf nyata dibawah dua persen adalah Doxerin Plus, dan yang tidak berpengaruh signifikan adalah Protect Enro, Neocamp dan vaksin. Variabel tersebut berada pada taraf nyata dibawah 93, 39 dan 43 persen. Untuk hasil pendugaan parameter variance produksi, faktor-faktor produksi yang berpengaruh signifikan terhadap variance produksi hanya tenaga kerja dengan taraf nyata dibawah enam persen. Sedangkan variabel yang lainnya seperti jumlah DOC, pakan, Protect Enro, Neocamp, Doxerin Plus, vaksin serta pemanas tidak berpengaruh nyata terhadap variance produksi. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai P-value diatas 61 persen. Namun, jika dilihat dari tanda koefisien variabelnya ada yang bertanda positif dan bertanda negatif. Jika koefisien variabel bertanda positif maka variabel tersebut termasuk variabel yang menimbulkan v variance produksi. Dengan demikian variabel tersebut digunakan lebih banyak maka variance yang dihasilkan akan semakin tinggi. Sedangkan jika koefisien variabel bertanda negatif maka variabel tersebut termasuk faktor produksi yang dapat mengurangi variance produksi. Hal ini berarti jika variabel tersebut semakin banyak digunakan maka variance yang dihasilkan akan semakin menurun. Faktor-faktor produksi yang termasuk menimbulkan variance produksi adalah jumlah DOC, Protect Enro dan tenaga kerja. Sedangkan faktor produksi yang dapat mengurangi risiko adalah pakan, Doxerin Plus, Neocamp, vaksin serta pemanas. Sumber risiko produksi yang dialami oleh para peternak ayam broiler yang ada di Kabupaten Dramaga adalah sumber daya manusia atau pegawai dan cuaca/iklim yang tidak menentu. Untuk mengurangi risiko produksi tersebut dilakukan penanganan risiko dengan cara pencegahan risiko yaitu dengan memperbaiki kualitas sumber daya manusianya dengan cara memberikan penyuluhan serta dengan membuat atau memperbaiki fasilitas agar cuaca yang tidak menentu dapat diatasi dengan fasilitas yang memadai
Daya Saing Komoditas Kakao Indonesia Dalam Perdagangan Internasional
Indonesia perlu fokus pada produk kakao yang memiliki daya saing
tertinggi agar mampu terus bersaing dengan negara-negara kompetitor utama
dalam perdagangan internasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
daya saing biji kakao Indonesia dengan beberapa produk turunannya. Data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Penelitian dimulai dengan
menganalisis struktur pasar kakao dalam perdagangan internasional, hasilnya
menunjukkan bahwa struktur pasar biji kakao, lemak kakao, pasta kakao dan
bubuk kakao tergolong ke dalam oligopoli. Metode RCA (Revealed Comparative
Advantage) menunjukkan bahwa Indonesia memiliki keunggulan komparatif
untuk biji kakao, pasta kakao dan lemak kakao (RCA>1). Metode ISP (Indeks
Spesialisasi Perdagangan) menunjukkan bahwa Indonesia memiliki
kecenderungan sebagai negara net exporter untuk biji kakao, pasta kakao dan
lemak kakao. Metode EPD (Export Products Dynamic) menunjukkan bahwa
Indonesia memiliki keunggulan kompetitif yang tinggi untuk biji kakao, pasta
kakao, lemak kakao dan bubuk kakao. Menurut analisis EPD, Indonesia memiliki
keunggulan kompetitif yang tinggi untuk keseluruhan produk kakao yang diteliti
dalam penelitian ini
Analisis Pengaruh Benih Mapan terhadap Produktivitas dan Pendapatan Petani Padi di Metro, Lampung.
Kota Metro merupakan salah satu daerah di provinsi Lampung yang memiliki
produktivitas padi tertinggi di provinsi Lampung yaitu sebesar 55.69 kuintal/hektar.
Salah satu yang mendukung tingginya produktivitas tersebut adalah penggunaan
benih padi mapan oleh para petani padi Kota Metro. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis pengaruh penerapan benih mapan terhadap produktivitas dan
menganalisis pendapatan petani padi yang menggunakan dan tidak menggunakan
benih mapan. Analisis produktivitas dilakukan dengan menggunakan fungsi
produksi Cobb-Douglas untuk mengetahui hubungan input dan output secara
langsung, sedangkan analisis pendapatan usahatani dilakukan perbandingan
pendapatan yang dihasilkan dari penerimaan atau penjualan output yang dikurangi
biaya total yang dikeluarkan petani dalam usahatani padinya. Hasil dari penelitian
ini yaitu penggunaan benih mapan terbukti secara nyata memengaruhi produktivitas
petani padi Kota Metro dengan nilai p-value sebesar 0.007 pada selang kepercayaan
95 persen. Selain itu, pendapatan petani padi yang menggunakan benih mapan juga
lebih besar dibandingkan petani yang tidak menggunakan benih mapan yaitu
sebesar Rp11 721 172 serta nilai R/C sebesar 2.383 yang menunjukan bahwa
usahatani padi dengan benih mapan lebih menguntungkan
Pengaruh Ekuitas Merek Terhadap Kepuasan dan Loyalitas Konsumen pada Jenis Merek Susu Cair Dalam Kemasan
Tujuan penelitian ini adalah menguji dampak ekuitas merek terhadap
kepuasan dan loyalitas pada konsumen susu cair dalam kemasan merek Ultra
Milk, Frisian Flag, dan Indomilk. Dalam hal ini, ketiga merek tersebut berada
dalam persaingan yang ketat untuk menjadi penguasa market share dalam
industri. Penelitian ini menggunakan data primer yang dikumpulkan melalui
pengisian kuesioner menggunakan skala Likert 1-5. Total responden yang menjadi
sampel dalam penilitian ini berjumlah 300 orang; masing-masing 100 orang
responden untuk setiap merek yang diteliti. Analisis data pada penelitian ini
menggunakan Structural Equation Modelling (SEM) dan diolah dengan bantuan
Software SmartPLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesadaran merek,
persepsi kualitas, dan asosiasi merek memiliki pengaruh positif secara signifikan
terhadap kepuasan konsumen merek Ultra Milk, Frisian Flag, dan Indomilk.
Kepuasan konsumen memiliki pengaruh positif secara signifikan terhadap
loyalitas konsumen pada ketiga merek susu cair dalam kemasan
Analisis Pendapatan Usahatani dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Susu Sapi Perah Peternak Desa Cibeureum Kabupaten Bogor
Salah satu sektor agribisnis yang memberikan andil positif bagi perekonomian Indonesia adalah sektor peternakan. Sumbangan subsektor peternakan dalam Produk Domestik Bruto sebesar Rp. 82.835,4 milyar atau 1,6 persen pada tahun 2008 dan masih akan menyumbang 1,6 persen pada tahun 2009. Hal tersebut membuktikan bahwa sektor peternakan merupakan salah satu sektor yang memiliki peranan penting di dalam pembangunan nasional. Selain itu sektor peternakan merupakan sektor yang terus mengalami peningkatan dengan ditandai oleh nilai ekspor sektor peternakan yang mencapai total nilai ekspor komoditi peternakan sebesar US 132,84 juta yang terdiri dari Komoditi Ternak mencapai US 90,44 juta. Kabupaten Bogor merupakan wilayah penghasil susu segar kelima terbesar setelah Bandung, Garut, Kuningan, dan Sumedang. Kabupaten Bogor memiliki potensi usahaternak sapi perah penghasil susu segar yang cukup baik, hal ini dapat terlihat dari tingkat populasi yang terus berkembang. Rata–rata perkembangan populasi sapi perah di Kabupaten Bogor mengalami pertumbuhan sebesar 2,94 persen untuk setiap tahunnya. Salah satu penghasil susu segar yang berasal dari sapi perah di Kabupaten Bogor adalah daerah yang berada di wilayah Kecamatan Cisarua. Selain terkenal dengan daerah wisata alamnya, Cisarua merupakan sentra peternakan sapi perah terbesar di seluruh Kabupaten Bogor. Dilihat dari sisi populasi, Cisarua merupakan wilayah terbesar kedua setelah Cijeruk dengan total populasi 1.461 ekor, kemudian jumlah peternak yang mencapai 205 peternak yang tergabung ke dalam lima kelompok peternak. Namun jumlah terbesar peternak berada di wilayah Desa Cibeureum yang memiliki 90 peternak. Angka produksi susu peternak di desa ini hanya mampu berproduksi di kisaran 14 liter/ekor/hari, masih jauh dari angka ideal yang ditetapkan berdasarkan hasil penelitian Balai Penelitian Ternak (BPT) Ciawi – Bogor tahun 2004 sebesar 17 liter/ekor/hari. Faktor-faktor input produksi yang diperkirakan memiliki dampak cukup signifikan bagi hasil produksi susu segar cukup banyak, diantaranya pakan konsentrat, hijauan, tenaga kerja, obat – obatan, ketersediaan air. Pemilihan wilayah Penelitian Desa Cibeureum didasari karena daerah tersebut merupakan sentra industri penghasil susu terbesar di Kabupaten Bogor. Penelitian dilaksanakan selama dua bulan, terhitung dari bulan Mei-Juni 2011. Proses pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode non-propability sampling yaitu teknik justified sampling (sampel yang ditentukan), penentuan responden dilakukan oleh pihak koperasi Giri Tani selaku wadah organisasi yang menangani para peternak secara legal (hukum). Sedangkan jumlah data responden yang ditentukan sebesar 36 responden peternak, yang terdiri dari dua kelompok ternak, yaitu KTTSP Baru Sireum sebanyak 13 peternak dan KTTSP Bina Warga sebanyak 23 peternak. Pengolahan dan analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan dengan pendekatan deskriptif untuk mengetahui gambaran umum tentang responden (peternak), gambaran umum tentang pelaksanaan budidaya sapi perah yang akan menghasilkan susu dan gambaran tentang wilayah penelitian. Analisis kuantitatif dilakukan dengan menggunakan analisis pendapatan Usahatani dan R/C rasio serta menggunakan fungsi Cobb Douglas untuk menganalisis faktor – faktor yang mempengaruhi produksi peternak. Berdasarkan hasil analisis total penerimaan peternak responden di Desa Cibeureum mencapai angka Rp 244.296.000, jumlah angka hasil analisis ini tidak terlepas dari bervariasinya jumlah liter susu yang dihasilkan, yang berasal dari populasi besar sapi yang terdistribusi kepada para peternak, dengan rata–rata penerimaan per peternak sebesar Rp 6.786.000. Hasil analisis untuk pendapatan atas biaya tunai menunjukkan nilai rata–rata pendapatan atas biaya tunai pada peternak responden sebesar Rp 3.710.769 pada bulan Juni Tahun 2011. Sedangkan nilai rata–rata pendapatan atas biaya total pada peternak responden sebesar Rp 3.885.683 pada bulan Juni Tahun 2011. Kemudian dari perhitungan analisis R/C rasio didapatkan hasil nilai rata–rata R/C rasio tunai adalah 2,26 yang memiliki arti bahwa setiap pengeluaran tunai sebesar Rp 1, akan menghasilkan penerimaan sebesar 2,26. Dengan tingkat rasio sebesar 2,26 maka usahaternak sapi laktasi ini dapat dikategorikan usaha yang menguntungkan. Sedangkan nilai rata–rata R/C total adalah 2,11, dan angka tersebut memiliki arti bahwa setiap satu rupiah biaya total yang dikeluarkan peternak akan memperoleh penerimaan sebesar 2,11, sama halnya dengan tingkat rata–rata R/C rasio tunai yang menguntungkan, maka nilai R/C rasio atas total pun dikategorikan menguntungkan karena nilai R/C rasio lebih dari satu dikategorikan menguntungkan. Nilai R/C rasio per ekor adalah 2,09 kemudian dari perhitungan R/C rasio per ekor atas total didapatkan hasil 2,09 dan R/C rasio per ekor atas tunai 2,21. Pendapatan per ekor atas biaya tunai sebesar Rp 1.132.099, dan pendapatan per ekor atas biaya total sebesar Rp 1.185.462. Hasil pendugaan model dengan menggunakan model fungsi Cobb-Douglas yang dilakukan menunjukkan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 53,6 persen dengan nilai determinasi terkorelasi sebesar 45,8 persen. Nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 53,6 persen tersebut menunjukkan bahwa dari variasi produksi dapat dijelaskan secara bersamaan oleh faktor konsentrat, faktor hijauan, faktor obat, faktor air dan faktor tenaga kerja. Nilai 46,4 persen lainnya dapat dijelaskan oleh faktor–faktor lain yang berada di luar model, faktor–faktor yang berada di luar model tersebut yang diduga memiliki pengaruh terhadap produksi susu sapi perah yaitu vaselin, iklim dan cuaca, penyakit, lingkungan peternakan dan tatalaksana ternak. nilai konsentrat dari koefisien regresi sebesar 0,6008 merupakan nilai koefisien regresi terbesar dibanding yang lain, dan memiliki arti bahwa faktor input produksi konsentrat bersifat responsif dan memiliki agresifitas peningkatan produksi susu paling besar dibanding faktor produksi yang lain, sehingga apabila faktor ini dinaikkan maka akan sangat berpegaruh besar terhadap keseluruhan total produksi susu peternak responden. Sehingga apabila terdapat prioritas faktor input yang harus lebih dulu dinaikkan input produksinya, maka faktor konsentrat berada di urutan pertama prioritas, karena akan mendongkrak produksi susu secara masif. Faktor produksi hijauan memiliki nilai koefisien regresi sebesar 0,5757, Nilai koefisien regresi ini mengandung arti bahwa setiap penambahan obat sebesar satu persen maka produksi susu akan meningkat sebesar 0,25105 persen dan nilai koefisien regresi tersebut memiliki arti bahwa apabila terjadi penambahan input obat (obat dan vitamin) akan meningkatkan produksi susu sebesar 0,25105. Sedangkan nilai Faktor produksi tenaga kerja memiliki nilai koefisien regresi negatif sebesar -0,24692 namun berpengaruh nyata terhadap taraf nyata lima persen dengan nilai Thitung sebesar -3,57, artinya adalah -Thitung < -Ttabel maka H0 ditolak. Sehingga nilai koefisien regresi negatif tersebut memiliki arti bahwa jumlah input tenaga kerja sudah berlebihan (over capacity) dan apabila terjadi penambahan input produksi tenaga kerja sebesar satu persen akan sangat berpengaruh signifikan terhadap penurunan produksi susu sebesar 0,24692 dengan menganggap faktor produksi lain tetap (cateris paribus). Faktor input produksi air tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap produksi, yaitu sebesar -0,0054 dan nilai koefisien regresi ini mencerminkan arti bahwa setiap penambahan atau pengurangan jumlah input air sebesar satu persen tidak akan berpengaruh terhadap produksi susu
Pengaruh Bauran Pemasaran terhadap Kepuasan dan Loyalitas Konsumen Kopi Cap Keluarga di Kota Kotamobagu Sulawesi Utara.
Salah satu produk kopi yang terkenal di Kota Kotamobagu adalah Kopi Cap Keluarga yang diproduksi oleh UD. Sakura. Penelitian ini dilakukan untuk untuk menganalisis kinerja kepuasan konsumen dan loyalitas konsumen serta menganalisis pengaruh bauran pemasaran terhadap tingkat kepuasan dan loyalitas konsumen Kopi Cap Keluarga. Analisis CSI dan CLI digunakan untuk menganalisis kinerja kepuasan dan loyalitas konsumen. Kemudian, analisis SEM-PLS digunakan untuk menganalisis hubungan bauran pemasaran terhadap tingkat kepuasan dan loyalitas konsumen. Berdasarkan hasil penelitian, tiingkat kepuasan konsumen Kopi Cap Keluarga dikategorikan “sangat puas”, dengan nilai sebesar 84.88 persen. Sedangkan, tingkat loyalitas konsumen dikategorikan “loyal”, dengan nilai sebesar 78.88 persen. Hasil penelitian ini juga menunjukan bahwa variabel bauran pemasaran yang menunjukan hubungan positif dan signifikan terhadap kepuasan dan loyalitas adalah bauran harga. Sedangkan, variabel bauran pemasaran seperti produk, tempat, dan promosi tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap kepuasan dan loyalitas. Terakhir, kepuasan konsumen Kopi Cap Keluarga memberikan hubungan yang positif dan signifikan terhadap loyalitas konsumen
- …
