1,721,129 research outputs found

    Heterosis dan Daya Gabung pada Persilangan HalfDiallel Cabai Besar dan Cabai Keriting (Capsicum annuum L.)

    No full text
    The aim of this research was to study estimation the heterosis and heterobeltiosis of fifteen hybrids, the general combining ability (GCA), and the specific combining ability (SCA) of six chili inbred lines of hybridization between big and curly pepper (Capsicum annuum L.). This research was conducted at Genetic and Plant Breeding Laboratory and IPB Experimental Field, Leuwikopo, Dramaga, Bogor, from September 2012 to March 2013. The experimental design used was randomized complete block design (RCBD) single factor with three replication. Plant materials were six chili inbred lines, fifteen hybrids from hybridization half diallel crosses, and two commercial hybrids. Genotype IPB C159 x IPB C120, IPB C159 x IPB C111, IPB C159 x IPB C5, IPB C120 x IPB C5, IPB C111 x IPBC2, IPB C19 x IPB C5, and IPB C5 x IPB C2 had positive heterosis, heterobeltiosis, and SCA values for some variables observed. All these genotypes had advantages that were better than the comparison of varieties TM 999 and Gada on some characters observe

    Uji Daya Hasil Sepuluh Galur Cabai (Capsicum annuum L.) Bersari Bebas yang Potensial Sebagai Varietas Unggul

    No full text
    The objective of this research is to compare several lines of expecting a open pollinated variety chilli as a result from Breeding Laboratory of Bogor Agricultural University with OP chilli variety which have been already in the marketplace and get a strain that has a superior characteristics than the comparison varieties. This research conducted on July 2010 until January 2011 in Leuwikopo Experimental Farm, Bogor Agricultural University. The experiment was carried out by using a random complete block design with thirdteen treatment and three replicates so completely there are 39 units of the experiment. Strains tested i.e. F6001004-5, F6002003-9, F6002005-4-76, F6002046-2, F6015002-8, F7002001-4, F7009002-1, F7009015-4, F7009019-1, and F7015008-5, next compared to three commercial chili varieties i.e. Trisula, Gelora, and TIT super. v Variables observed covering quantitative and qualitative character. Evaluation of quantitative characters plant observed covering plant height, dicotomous height, stem diameter, wide- canopy, wide leafs, leaf length, flowering age, weight per fruit, the weight of fruit worthy of the market, and the total weight of the fruit. The evaluation of qualitative characters including plant growth habit, stem shape, stem color, leaf shape, leafs color, leaf shape edges, the surface shape of the leaf, corolla color, anther colour, flower position, fruit shape, the color of the young fruit, dark fruit color, and shape of the fruit skin surface. Evaluation character based on variables fruit production plant showed there were F6002046-2, F6001004-5 and F7009015-4. strain are considered worthy developed as a potential superior varieties

    Pengaruh Pemupukan AB Mix terhadap Pertumbuhan Tiga Genotipe Cabai Hias (Capsicum annuum L.) dalam Pot.

    No full text
    Tanaman cabai telah dikembangkan sebagai tanaman hias. Tanaman ini memiliki keragaman yang luas serta bentuk dan warna buah yang menarik. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dan menentukan pupuk yang tepat untuk meningkatkan keragaan cabai hias genotipe Triwarsana, Viola, dan Nazla sebagai tanaman cabai hias dalam pot. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca Kebun Percobaan Cikabayan IPB pada bulan Januari sampai Mei 2018. Percobaan menggunakan rancangan petak terbagi (split plot RKLT). Petak utama adalah pemupukan: P1 (AB mix untuk cabai), P2 (AB mix untuk paprika), P3 (AB mix untuk sayur + buah) dan anak petak adalah genotipe: G1 (Triwarsana), G2 (Viola), G3 (Nazla). Peningkatan pertumbuhan dan keragaan cabai hias genotipe Triwarsana, Viola, dan Nazla dapat dilakukan dengan pemberian pupuk AB mix untuk cabai, AB mix untuk paprika, dan AB mix untuk sayur + buah. Berdasarkan uji kesukaan, tanaman cabai hias genotipe Triwarsana dan Viola memiliki keragaan terbaik pada 10 minggu setelah tanam (MST) dengan pemberian pupuk AB mix untuk cabai. Tanaman cabai hias genotipe Nazla memiliki keragaan terbaik pada 10 (MST) dengan pemberian pupuk AB mix untuk cabai dan AB mix untuk paprika

    Karakteristik Morfologi Dan Molekuler 18 Genotipe Cabai Hias (Capsicum Spp.)

    No full text
    Pengkajian mengenai cabai hias di Indonesia masih terbatas. Karakterisasi berdasarkan morfologi dan penanda molekuler genotipe cabai hias (Capsicum spp.) sebagai penelitian awal untuk program pemuliaan perlu dilakukan. Penelitian menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) yang terdiri atas 18 genotipe cabai hias sebagai perlakuan dengan tiga ulangan. Terdapat tiga jenis karakter yang diamati pada penelitian ini, yakni kuantitatif, kualitatif dan molekuler. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antar 18 genotipe cabai hias berdasarkan karakter morfologi dan molekuler. Analisis molekuler menunjukkan tingkat polimorfisme yang sangat tinggi sebesar 98.18%. Berdasarkan analisis gerombol pada molekuler dengan koefisien kemiripan 54% terbagi menjadi 4 kelompok yaitu (1) kelompok A meliputi IPB H1, IPB H10, IPB H3, Triwarsana 1-5, IPB H4, IPB H2, IPB Ungara, dan IPB H6, (2) kelompok B meliputi IPB H5, Triwarsana 1-3, IPB Seroja, IPB H13, Triwarsana 1-1, IPB H7, IPB H12, dan IPB H9, (3) kelompok C adalah IPB H8, (4) kelompok D adalah IPB H11, sedangkan berdasarkan karakter kualitatif dengan koefisien kemiripan sebesar 54% membentuk 5 kelompok yaitu (1) kelompok A meliputi IPB H1, IPB H3, IPB H8, IPB Ungara, (2) kelompok B meliputi IPB H2 dan IPB H6, (3) kelompok C meliputi IPB H4, Triwarsana 1-5, Triwarsana 1-1, IPB H13, IPB Seroja, Triwarsana 1-3, IPB H10, (4) kelompok D meliputi IPB H5, IPB H12, IPB H7, IPB H9, (5) kelompok E adalah IPB H11

    Pendugaan Parameter Genetik dan Seleksi Karakter Kuantitatif Cabai Rawit (Capsicum annuum L.) Populasi F3.

    No full text
    Konsumsi cabai rawit terus meningkat namun produktivitasnya masih rendah, sehingga diperlukan pemuliaan yang mengarah pada perbaikan daya hasil. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keragaman genetik, korelasi antar karakter, heritabilitas arti luas, dan nilai kemajuan seleksi populasi F3 cabai rawit. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Leuwikopo, IPB, Dramaga, Bogor dan Laboratorium Genetika dan Pemuliaan Tanaman, Departemen Agronomi dan Hortikultura, IPB. Percobaan menggunakan 5 genotipe tetua dan 6 genotipe F3 cabai rawit, dengan genotipe tetua yang diulang sebanyak 3 ulangan dan genotipe F3 tanpa ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter bobot buah per tanaman dan jumlah buah per tanaman memiliki keragaman genetik luas pada semua genotipe. Semua karakter pengamatan berkorelasi positif terhadap daya hasil kecuali umur berbunga dan umur panen. Nilai heritabilitas arti luas dengan kriteria tinggi terdapat pada karakter bobot buah per tanaman, bobot per buah, dan panjang buah. Hasil seleksi indeks yang dilakukan menunjukkan kemajuan seleksi yang besar pada karakter bobot buah per tanaman dan jumlah buah per tanaman

    Evaluasi Daya Hasil Kacang Panjang (Vigna unguiculata (L.) Walp.) Berpolong Hijau dan Ungu di Madiun, Jawa Timur.

    No full text
    Konsumsi kacang panjang di Indonesia tergolong tinggi dan terus meningkat setiap tahun, namun produksi dan luas panennya mengalami penurunan. Varietas unggul diperlukan untuk meningkatkan produktivitas kacang panjang. Evaluasi daya hasil dilakukan pada galur-galur uji kacang panjang untuk mengetahui karakter-karakter unggul. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh informasi daya hasil genotipe kacang panjang berpolong ungu dan hijau. Penelitian dilaksanakan di pada bulan Februari hingga Mei 2018 di Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Rancangan yang digunakan adalah rancangan kelompok lengkap teracak dengan tiga ulangan dan satu faktor yaitu genotipe. Terdapat 11 genotipe yaitu 4 genotipe uji (F7-013014-4U-16-1-1, F7-013014-4U-16-1-2, F7-013014-4U-16-1-3, dan F7-013014-7P-4-1-1) dan 7 genotipe pembanding (KP13, KP14, KP Putih China, KP Ungu China, Borneo, Sabrina dan Parade). Karakter yang diamati meliputi karakter kualitatif dan kuantitatif. Data pengamatan dianalisis menggunakan uji F dan uji lanjut DMRT (Duncan Multiple Range Test) pada taraf α = 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe uji F7-013014-4U-16-1-1, F7-013014-4U-16-1-2, F7-013014-4U-16-1-3, dan F7-013014-7P-4-1-1 memiliki satu atau lebih karakter yang lebih unggul dibanding genotipe pembandingnya. Karakter-karakter unggul tersebut adalah umur berbunga, umur panen, panjang tangkai daun, bobot per polong, panjang polong, diameter polong, kandungan antosianin, karoten, klorofil a, klorofil b dan total klorofil

    Evaluasi Daya Hasil dan Komponen Hasil 10 Genotipe Kacang Panjang (Vigna ungiculata (L.) Walp.) Berpolong Hijau dan Ungu

    No full text
    Kacang panjang merupakan komoditi sayuran yang sering dibudidayakan dan dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi daya hasil dan komponen hasil genotipe-genotipe kacang panjang berpolong hijau dan ungu. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2016 hingga Februari 2017 di Kebun Percobaan Leuwikopo IPB. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Kelompok Lengkap Teracak dengan sepuluh genotipe yang diuji dan tiga ulangan. Faktor perlakuan yaitu genotipe kacang panjang yang terdiri atas 4 galur (F6013014- 4U-16-1-1, F6013014-4U-16-1-2, F6013014-4U-16-1-3, dan F6013014-7P-40-1-1) dan 6 varietas pembanding (KP13, KP14, KP Putih China, KP Ungu China, Borneo, dan Sabrina). Karakter yang diamati meliputi karakter kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan karakter umur berbunga, umur panen, panjang polong, panjang daun, kandungan klorofil a, klorofil total, kandungan karotenoid, dan kandungan antosianin galur-galur yang diuji berbeda dari satu atau lebih varietas pembandingnya. Keempat galur terpilih dalam penelitian ini adalah F6013014-4U- 16-1-1, F6013014-4U-16-1-2, F6013014-4U-16-1-3, dan F6013014-7P-40-1-1

    Uji Daya Hasil Lanjutan Tomat (Solanum lycopersicum L.) Populasi F8

    No full text
    Permasalahan utama pada budidaya tanaman tomat di dataran rendah adalah kurang tersedianya varietas unggul yang berdaya hasil tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji daya hasil genotipe tomat populasi F8. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Leuwikopo IPB, Dramaga, Bogor pada bulan Februari hingga Juni 2015. Percobaan menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT), satu faktor dengan tiga ulangan. Faktor tersebut adalah genotipe yang terdiri atas 13 genotipe tomat dan dua varietas komersial (Intan dan Ratna) sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh genotipe memiliki tipe pertumbuhan determinate. Seluruh genotipe memiliki bentuk daun dan bentuk tandan buah yang sama dengan varietas pembanding Intan dan Ratna. Seluruh genotipe berpengaruh nyata terhadap keseluruhan karakter. Genotipe tomat yang memiliki daya hasil lebih baik dari genotipe lainnya dan varietas pembanding Intan adalah F8 005001-4-1-12-3-87-3 dan F8 005001-4-1-12-3-66-1 (jumlah dan bobot buah per tanaman lebih tinggi). Produktivitas dan bobot per buah yang paling tinggi dimiliki oleh genotipe F8 005001-4-1-12-3-87-3. Seluruh genotipe memiliki panjang buah, tebal daging buah, dan padatan terlarut total yang lebih baik dari varietas pembanding Intan

    Pendugaan Parameter Genetik pada Dua Populasi F3 Buncis (Phaseolus vulgaris L.).

    No full text
    Konsumsi buncis terus meningkat namun total produksinya terus menurun meskipun produktivitasnya naik setiap tahun, maka diperlukan perakitan varietas baru buncis yang berproduktivitas tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dan menduga nilai komponen ragam, heritabilitas dalam arti luas, kemajuan seleksi, kemajuan genetik harapan, korelasi, pengaruh langsung, dan pengaruh tidak langsung dari beberapa karakter terhadap potensi produksi buncis. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan PKHT Tajur dan Laboratorium Pemuliaan Tanaman, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian IPB. Percobaan menggunakan dua populasi F3 buncis. Populasi pertama yang digunakan adalah P1 (BCS-17), P2 (BCS-9), dan F3 (BCS-17 x BCS-9). Populasi kedua yang digunakan adalah P1 (BCS-3), P2 (BCS-7), dan F3 (BCS-3 x BCS-7). Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter bobot per polong memiliki keragaman genetik yang rendah, sedangkan karakter jumlah polong per tanaman dan potensi produksi memiliki keragaman genetik yang tinggi. Nilai heritabilitas arti luas, kemajuan seleksi, dan kemajuan genetik harapan pada semua karakter memiliki kriteria sedang-tinggi. Karakter bobot polong dan jumlah polong per tanaman menunjukkan korelasi yang sangat nyata dan memiliki pengaruh langsung terhadap potensi produksi. Karakter umur berbunga, umur panen, panjang paruh, diameter polong, panjang polong, jumlah biji per polong, dan bobot 100 biji berpengaruh tidak langsung terhadap peningkatan potensi produksi berdasarkan analisis lintas. Karakter kualitatif yang dapat dianggap sebagai acuan dalam peningkatan produksi adalah warna batang hijau, serat polong tipe sedang, warna kotiledon ungu, kerut daun lemah, bentuk paruh kuat, tekstur polong halus, polong lurus, tipe tumbuh merambat, intensitas polong terang, biji putih, dan warna mahkota bunga putih

    Quantitative Traits Inheritance of Crossed Big and Curly Chili.

    No full text
    Chili is divided into types based on the fruit size, such as cayenne, big chili, curly chili and paprika. Varied behavior of Indonesian people in chili cultivating and consuming based on size causes low national chili productivity. First step in plant breeding was base population formation with high genetic variance. The genetic variance could be obtained by exploration, introduction, hybridization and mutation. Information of traits genetic inheritance was studied by hybridization. The research used 20 genotypes cultivated and characterized in two locations, i.e. Rimbo Panjang and Leuwikopo. Different places of cultivation were expected to separate the genetic-by-environment interaction effects from their genetic effects. Genotypes grouping based on the similarity using cluster analysis. High genetic coefficient and broad sense heritability were observed for several traits and proceed to get the selection criteria. Selection criterias used were yield per fruit, length of fruit, number fruit per plant and plant height. Then, genetic parameters, combining ability, heterosis and hybrid performance were observed from full diallel population (6×6). Genetic parameters were estimated by Hayman method while combining ability by Griffin method. Dunnett test was used to show hybrid performance. Genetic variance affected with several traits was additive and non-additive. Gene distribution did not spread evenly in parents, except leaves width, plant height, stem diameter and fruit stalk length. Partial dominance level affected each several traits performance. Number of controlling gene groups of traits were ranged between one to four groups. High broad sense and narrow sense heritability were suggested for several characters. General combing ability (GCA) and specific combining ability (SCA) influenced significantly in some observed traits, except leaves width, stem diameter and fruit stalk length. Genotype C5 was selected parent with best GCA in some observed traits and recommended to be developed subsequently as open-pollinated variety. Those were hybrids that were potential to be further tested, i.e. C2×C19, C5×C2, C5×C19, C19×C2, C19×C5, C2×C120, C5×C111, C5×C120, C19×C111, C19×C120, C111×C5, C120×C5, C159×C5, C2×C159, C120×C19, C111×C120, C159×C120, C111×C159, C120×C159 and C159×C111
    corecore