21 research outputs found
Temu putih : tanaman obat anti kanker
Kepopuleran temu putih ada pula yang menyebutnya kunyit putih dikalangan masyarakat pengguna obat tradisional tak lepas dari khasiatnya sebagai obat antikanker. Namun, ada kesimpangsiuran berkaitan dengan penanamannya.Masyarakat pun kebingunan untuk menentukan jenis temu putih yang berkhasiat antikanker. Ketiga spesies temua-temuan yang biasa disebut temu putih, yaitu curcuma zedoaria, C, mangga, dan kaempferia rotnda memang berkhasiat sebagai peredam pertumbuhan sel kanker.viii, 64 hal. : Ilus. ; 21 c
Agar Jahe Berproduksi Tinggi
Buku ini menyajikan pengetahuan mengenai budidaya jahe yang meliputi peluang bisnis, pemilihan lokasi budidaya, seleksi bibit, cara pembibitan yang benar, pembuatan bendengan, penanaman dan pemeliharaan tanaman, waktu dan cara panen jahe muda dan jahe tua serta perlakuan pascapanen dan analisis usaha tani.64 Ha
Pembibitan Tanaman Obat
Buku seri agribisnis ini membahas tentang pembibitan tanaman obat. Pembahasannya meliputi beberapa faktor penentu keberhasilan pembibitan, teknik pembibitan secara vegetatif dan generatif, pemasaran bibit, pengemasan bibit dan analisis usaha. Selain itu juga dijelaskan tentang teknik dan usaha pembibitan tanaman obat komersial seperti adas, mahkota dewa, jahe, belimbing, bidara upas, cabe jawa, jinten, kapulaga, mengkudu, sembung, sirih, kencur, ketepeng cina, kumis kucing dan lain-lain.104 HA
Temu Putih Tanaman Obat Anti Kanker
Buku ini membahas tentang tanaman obat temu putih. Pembahasannya meliputi khasiat sebagai obat kanker, prospek dan pengembangan temu putih, syarat tumbuh tanaman, pengadaan bibibt dan pembibitan, persiapan lahan, persiapan tanam, penanaman dan pemeliharaan, perlakuan panen dan pascapanen, pemanfaatan temu putih untuk pengobatan serta analisis usaha tani temu putih. Selain itu juga dilengkapi penjelasan perbedaan Curcuma Zedoaria, C.mangga dan Kaempferia rotunda.64 ha
Morphological Characteristics of Cinnamon (
The cinnamon tree (Cinnamomum burmanni) is a valuable spice resource with significant economic importance and Sumatra is one of the major cinnamon-producing centers in Indonesia. This study aimed to examine the morphological characteristics of the cinnamon tree population in the Agam Regency, West Sumatra using a purposive sampling method. Data was collected through field surveys and direct observations of the cinnamon tree population using a cinnamon descriptor. Morphological aspects such as qualitative and quantitative traits were analyzed. The study found significant differences in these features among cinnamon trees, which varied in height from 10 to 17 meters and stem diameters from 19.43 to 25.48 cm. The bark has a thickness of 0.24 to 0.66 cm. Leaves also showed variations in shape, size, and color across individuals. Branch structures exhibited no differences in branching levels and leaf distribution. The cinnamon tree population in Agam Regency exhibits morphological diversity and promising cinnamon production, which is essential for conservation and breeding efforts to enhance productivity and sustain local ecosystems
Budi Daya Tanaman Obat Komersial
Buku ini membahas beberapa hal mengenai budidaya tanaman obat meliputi persiapan lahan, persiapan bibit, penanaman, pemeliharaan tanaman, panen dan pascapanen serta contoh pengolahan dan pembuatan simplisia. Tanaman obat yang dibahas disini diantaranya adas, bangle, cabai jawa, cincau hitam, jahe, daun dewa, kayu manis, ketumbar, kencur, kunyit, kunyit putih, lada, lidah buaya, pala, sambiloto, sirih, som jawa, temputung, temuireng, temulawak, kumis kucing, kencur, ketumbar, kemukus, kayu manis, kapulaga lokal dan kapulaga sabrang. Selain itu juga dijelaskan sedikit mengenai prospek pengembangan budi daya tanaman obat.136 ha
PENGARUH PUPUK N DAN POPULASI TANAMAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI JAHE PADA LINGKUNGAN TUMBUH YANG BERBEDA
Kondisi lingkungan tumbuh, baik iklim maupun kesuburan lahan, serta teknik budidaya sangat berpengaruh terhadap pertum-buhan dan produktivitas tanaman jahe. Tujuan penelitian untuk mempelajari respon jahe putih besar (Zingiber officinale Rosc.) terhadap pemupukan N dan populasi tanaman pada lingkungan tumbuh yang berbeda. Penelitian dilaksanakan di dusun Cipanas, dengan ke-tinggian 500 m di atas permukaan laut (dpl) dan di dusun Cipicung (800 m dpl) Desa Werasari, Kecamatan Bantarujeg, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Penelitian dimulai Agustus 2004 sampai dengan Juli 2005, menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 3 ulangan. Perlakuan terdiri dari enam kombinasi taraf pemupukan N dan populasi tanaman masing masing N1P1 (400 kg Urea/ha - 41.667 tanaman/ha), N1P2 (400 kg Urea/ha - 55.556 tanaman/ha), N2P1 (500 kg Urea/ha - 41.667 tanaman/ha), N2P2 (500 kg Urea/ha-55.556 tanaman/ha), N3P1 (600 kg Urea/ha - 41.667 tanaman/ha), dan N3P2 (600 kg Urea/ha - 55.556 tanaman/ha). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan agroklimat dan kesuburan menghasilkan bobot segar, jumlah anakan dan tinggi tanaman berbeda. Tinggi tanaman, jumlah anakan dan bobot segar di Cipanas adalah 74,69 cm, 16,48 anakan dan 55,89 t/ha, sedangkan di Cipicung masing-masing 42,26 cm, 5,31 anakan dan 7,69 t/ha. Kecukupan hara N pada lahan percobaan khususnya di Cipanas menyebabkan respon tanaman jahe terhadap pemupukan N yang diberikan tidak nyata. Perlakuan populasi yang lebih tinggi sampai 55,556 tanaman/ha mampu meningkatkan produksi jahe sekitar 35 (dari 47,79 t/ha menjadi 64,83 t/ha).
Budidaya tanaman obat komersial
Pengetahuan tentang tanaman obat telah diajarkan secara turun temurun. Semakin meningkatnya permintaan masyarakat terhadap obat alami menjadikan tanman obat menjanjikan untuk dikembangkan. Penelitan dan pengembangan manfaat tanaman obat meyakinkan masyarakat untuk beralih dari pengobatan kimia menjadi herbal. Buku ini membahas tentang prospek pengembangan tanaman obat, dasar-dasar budidaya, budidaya aneka tanaman obat seperti adas, bangle, brotowali, cabai, cincau, daun dewa, jahe, kapulaga, kayu manis, kemukus, ketumbar, kencur, kumis kucing, kunyit, lada dan lainnya serta penjelasan tentang kegiatan pasca panen tanaman obat.viii, 136 hlm.; ill.: 21 cm
Karakterisasi Beberapa Aksesi Serai Wangi (Cymbopogon nardus L.) Asal Cianjur
Serai wangi (Cymbopogon nardus L.) merupakan tanaman aromatik yang kaya akan kandungan senyawa kimia penting terutama sitronela. Minyak atsiri dari tanaman serai wangi sering digunakan sebagai bahan baku utama berbagai industri. Perakitan varietas-varietas unggul serai wangi masih sangat diperlukan dalam rangka upaya peningkatan produksi serai wangi nasional. Pemanfaatan aksesi-aksesi dari sentra produksi serai wangi seperti Cianjur diharapkan dapat mendukung program pemuliaan serai wangi secara efektif dan efisien. Informasi genetik dari aksesi-aksesi lokal dapat diketahui melalui kegiatan karakterisasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakter morfologi kualitatif dan kuantitatif beberapa aksesi serai wangi hasil eksplorasi dari daerah Cianjur, Jawa Barat. Materi genetik yang digunakan pada penelitian ini adalah 10 aksesi Cianjur (SC1, SC2, SC3, SC4, SC5, SC6, SC7, SC8, SC9, dan SC10). Karakter yang diamati berupa karakter kuantitatif dan kualitatif. Dari hasil analisis menunjukkan bahwa aksesi SC1 merupakan aksesi terbaik dari Cianjur yang memiliki keunggulan pada semua karakter kuantitatif yang diamati terutama karakter panjang daun, tinggi batang, diameter batang, dan aroma daun yang tajam. Sekitar 75% karakter kuantitatif serai wangi Cianjur menunjukkan hasil korelasi antar karakter yang positif. Aksesi-aksesi dari Cianjur memiliki ciri-ciri yang sama yaitu batang berwarna VG 84B, pangkal daun berbentuk cekung, dan permukaan daun berwarna GGN 138C. Aksesi SC1 dan SC5 memiliki hubungan kekerabatan yang jauh dan berpotensi dikembangkan sebagai tetua persilangan
