1,720,960 research outputs found

    Peningkatan Kesejahteraan Nelayan Melalui Usaha Pengolahan Ikan Asin

    No full text
    Penduduk di Desa Banjaranyar Kecamatan Paciran Kebupaten mayoritas bekerja di sektor nelayan karena wilayah mereka yang berbatasan langsung dengan laut utara samudra Hindia, ikan-ikan yang di dapat oleh para nelayan adalah mempunyai jenis yang banyak dan bermacammacam, mulai ikan yang besar seperti hiu, tuna, dan lain-lain. Mereka juga mendapatkan ikan-ikan kecil seperti tetet, gembong, baes, jui dan lain sebagainya, ikan-ikan kecil yang tidak mempunyai harga jual tinggi di kelola oleh sabagian warga yang mempunyai inisiatif untuk di jadikan ikan asin yang mempunyai harga jual yang lumayan tinggi kalau sudah di olah menjadi ikan asin. Dengan berdirinya usaha pengolahan ikan asin secara tidak langsung membantu menurunkan angka penganguran yang ada di Desa Banjaranyar terutama istri para nelayan, karena dengan adanya tempat pengolahan ikan asin tersebut dapat membantu keuangan kelurga untuk mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari. Ketika musim paceklik para keluarga nelayan biasanya mensiasati dengan hutang ataupun mengadaikan barang di tempat pengadaian, namun dengan istri mereka bekerja di tempat pengolahan ikan asin para keluarga nelayan pada saat musim paceklik tidak ada yang hutang lagi, keluarga nelayan dapat mencukupi kebutuhan keluarga dari pengahasilan istri yang bekerja di tempat pengolahan ikan asin

    Community Development In Productive Village Through Entrepreneurship Of Rosary

    No full text
    The problem of unemployment and poverty is still a major problem faced by Indonesia. Unemployment and poverty is a multidimensional issue, not only just a mere economic problem but also social issues, culture and politics. In an effort to overcome the problem of poverty and unemployment that occurred in Indonesia, the government, in this case KEMENAKERTRAN (Ministry of Manpower) of the Republic of Indonesia has launched the program of developing 132 productive villages in all 33 provinces in Indonesia, with the objective of creating job opportunities and employment in rural areas, as well as developing the villages through the products that have been produced. In the course of development of the 132 productive rural, Tutul Village, Balung District, Jember Regency, is one of the villages that has been successfully launched and formalized as a productive village in the national level by KEMENAKERTRAN on January 19, 2013. Tutul Village is an example of a productive village where there are efforts to develop community from the people to manage and develop the potential of the local economy which is owned by Village Tutul. The potential of the entrepreneurship possessed is in the form of rosary and accessories handicraft that are managed by most people of Tutul. With the independence, creativity, expertise and joint efforts of the communities to manage the potential that exists in Tutul Village, it finally affects the increase of its productivity and social welfar

    UPAYA BERTAHAN HIDUP LANSIA PENGAMBIL SAMPAH DALAM MEMENUHI

    Full text link
    Waster pickers have already been widely met in Karangrejo Village, Banyuwangi Regency, but most of them are elderlies who should not do such heavy work. Waste picker elderlies can be found at 02.00 until 05.00 a.m.. The income they get per day is uncertain. This research applied a qualitative approach, and the research type is descriptive research. The research location was in Karangrejo Village, Banyuwangi Regency. Data were collected by non-participant observation method. Data analysis applied data collection, data transcription, coding, data categorization, temporary conclusion, triangulation, final conclusion drawing. For data validity, triangulation of source was used. The results showed that the effort made by elderlies to meet the family needs was that they did their main job as watse waste pickers. In addition, they also made efforts to meet the needs of his family by (1) diversifying the job into two, namely as scavengers and other jobs, for example, as bird repellents in the fields and helping neighbors; (2) optimizing product/value added, that is, the elderlies sold the garbage to special places; (3) building social network i.e. the elderlies built trust in order that they could borrow money from neighbors and relatives

    UPAYA DINAS PARIWISATA KEBUDAYAAN PEMUDA DAN OLAH RAGA DALAM PENGEMBANGAN DESA

    Full text link
    Indonesia merupakan negara yang kaya akan daerah pariwisata. Namun sayangnya pengelolaan pariwisata tersebut masih kurang optimal. Para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, cenderung hanya mengetahui daerah - daerah pariwisata terkenal saja di Indonesia, seperti Bali, Malang, Batu, Yogya, yang terkenal sebagai tempat bersejarah. Padahal masih banyak daerah lain yang memiliki daya tarik wisata namun belum mendapatkan perhatian yang mendalam dan serius dari pemerintah daerahnya. Dalam pembangunan perekonomian dan kebudayaan. Pariwisata merupakan salah satu sektor penting dalam pembangunan nasional. Peranan pariwisata di Indonesia sangat penting, karena pembangunan dalam sektor pariwisata serta pendayagunaan sumber potensi kepariwisataan menjadi kegiatan ekonomi yang dapat diandalkan untuk memperbesar penerimaan Negara, memperluas lapangan pekerjaan dan kesempatan berusaha bagi masyarakat setempat, mendorong pembangunan daerah serta memperkenalkan alam, nilai budaya dan bangsa. Dalam arti luas pariwisata merupakan pemersatu bangsa menuju perdamaian dunia, karena wisatawan yang datang untuk mengunjungi wisata tersebut, terdiri dari wisatawan mancanegara dan wisatawan lokal, dimana wisatawan tersebut saling berbagi pengetahuan tentang wisata yang pernah dikunjunginya. Secara geografis Kabupaten Situbondo terletak di ujung Timur Pulau Jawa Bagian Utara antara 113°30’-114°42’ Bujur Timur dan antara 7°35’7°44’ Lintang Selatan dengan temperatur tahunan 24,7°C–27,9°C. Daerah fisiknya memanjang dari Barat ke Timur sepanjang Pantai Selat Madura ± 150 Km dengan lebar rata-rata ± 11 Km. Batas Wilayah Kabupaten Situbondo sebelah Barat Kabupaten Probolinggo, sebelah Utara Selat Madura, sebelah Timur Selat Bali, sebelah Selatan Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Banyuwangi. Kabupaten Situbondo memiliki wilayah seluas 2 1.638,50 Km² dan secara administrasi terbagi menjadi 17 Kecamatan, 132 Desa, 4 Kelurahan, 660 Dusun/ Lingkungan. Peran Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olah Raga dalam pengembangan Wisata di Desa Wisata Kebangsaan antara lain yaitu: 1. Melakukan pemberdayaan masyarakat Desa Wonorejo seperti: Pengelolaan home stay, Produksi kerajinan khas, pemandu wisata, dan bagaimana cara menyambut wisatawan yang berkunjung; 2. Pelatihan tentang bagaimana cara mengemas suatu Desa Wisata; 3. Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olah Raga juga memberikan saran kepada pihak setempat untuk tetap menjaga nilai-nilai kearifan lokal; serta 4. Menyarankan untuk melakukan promosi melalui website; Selain itu pihak pengelola Desa Wisata Kebangsaan bekerja sama dengan agen travel dan pengelola destinasi wisata lain untuk memperkenalkan desa Wisata Kebangsaan kepada masyaraka

    Upaya Perajin Besek Ikan dalam Meningkatkan Kondisi Sosial Ekonomi Keluarga (Studi Deskriptif di Desa Pakem Kecamatan Pakem Kabupaten Bondowoso)

    No full text
    Masyarakat yang sadar akan pentingnya kebutuhan hidup akan berusaha untuk terhindar dari kemiskinan supaya mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Seperti yang dilakukan oleh penduduk yang menjadi objek dalam penelitian ini. Daerah yang menjadi objek penelitian ialah Desa Pakem Kecamatan Pakem Kabupaten Bondowoso. Sebagian besar penduduk Desa Pakem bergantung pada potensi lokal yang mereka miliki yaitu bambu. Mereka mengolah bambu menjadi barang kerajinan yang bernilai jual yaitu besek ikan. Sebagian besar masyarakat Pakem adalah berprofesi sebagai Perajin besek ikan. Kebutuhan menjadi alasan bagi manusia untuk mencari penghasilan yang mampu menghasilkan uang demi meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Setiap manusia pada dasarnya memiliki kebutuhan tersendiri dalam kehidupan sehari- hari. Besek ikan menjadi usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga perajin besek ikan, namun penghasilan besek ikan tidak selalau memiliki keuntungan yang sama setiap waktunya. Hal ini menyesuaikan dengan hasil panen ikan ataupun cuaca yakni musim penghujan yang menjadi faktor penghambat. Dengan begitu mereka harus memiliki upaya agar terus bisa memenuhi kebutuhan keluarganya. Berbagai upaya dilakukan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih banyak sehingga kebutuhan sehari-hari dapat terpenuhi. Tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk menjelaskan dan mendeskripsikan upaya perajin besek ikan dalam meningkatkan kondisi sosial ekonomi keluarga di Desa Pakem Kecamatan Pakem kabupaten Bondowoso. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif. Tehnik penentuan informan menggunakan teknik snowball. Metode pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Setelah data terkumpul kemudian dianalisis, dalam menguji keabsahan data penelitian ini menggunakan tehnik triangulasi sumber. Untuk meningkatkan kondisi sosial ekonomi keluarganya perajin besek ikan melakukan berbagai upaya dengan usahanya. Dari hasil temuan lapangan bahwa perajin besek ikan di Desa Pakem memiliki berbagi upaya yang mereka lakukan untuk meningkatkan kondisi sosial ekonomi keluarga. Seperti diantaranya adalah dengan memperbaiki kualitas besek ikan yaitu dengan memperhatikan kualitas bahan yang digunakan, jenis bambu dan usia bambu, memperbanyak jumlah produksi dan variasi karya dilakukan dengan mengintensifkan waktu kerja, meminjam bahan pada tetangga saat kekurangan bahan atau modal dan memperbanyak model sesuai kebutuhan pasar, serta memperluas pemasaran yakni dengan memanfaatkan jaringan sosial atau tehnologi yang ada. Jadi dengan adanya upaya tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga dan meningkatkan kesejahteraan perajin besek ikan. i

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Full text link
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods
    corecore