1,721,043 research outputs found
Analisis Determinan Status Dehidrasi Latihan pada Atlet Remaja
During intensive exercise, athlete must able to make right strategy of fluid consumption to replace body water loss to prevent dehydration. Dehydration can compromise physiologic function, increase the risk of exertional injury, blocked the rate of energy production, and negatively influence performance. The main purpose of this study is to analysis of determinant of exercise dehydration status in young athlete. The research has been done at PPLP DKI in August to October 2013 by using cross sectional study design. Based on the percentage of body weight change in exercise, 56,1% of subject catagorized as well dehydrated and 43,9% of subject catagorized as dehydration (minimal dehydration) in exercise. The results of correlation analysis showed that significant relationship between gender, percentage of total body fat, sufficient level of fluid in exercise period, and sweat rate in exercise with exercise dehydration status. The results of multiple linier regression showed that the determinant of exercise dehydration status in young athlete are gender, sufficient level of fluid in exercise period, and sweat rate in exercise
Karakteristik Konsumsi Pangan Hewani di Berbagai Wilayah Menurut Indikator Kesejahteraan
This study are aim to know about development of characteristic animal food consumption base on welfare indicators. An Ecological design was use in this study. The date of this research is Susenas publication 2009, 2010, and 2011. The result show that share of animal food expenditure in various regions is fluctuation. Share of Animal food expenditure in urban areas more higher than rural. The pattern of animal food expenditure is fish, eggs and milk, meat. Fish, eggs and milk proportion are decrease while the meat increases. Protein contribution of animal food in various regions is increases. Then, the population in urban areas has better protein contribution than rural. Protein adequacy level in various regions is increase continuously. The urban population has a better protein adequacy level than rural. The result of regression test known that the economic and demographic factor has a significant impact on animal food expenditure in various region at 5% level with r = 0.807
Analisis Hubungan Pelayanan Kesehatan dengan Status Gizi Batita
Under three years of age is a critical in growth and development. During the period health service is very important to maintain health and nutritional status of children. The objective of the study was to analyze health services utilization to nutritional status of children under three years of age. The crossectional study was applied in this research. Data collected from DI Yogyakarta, Sumatera Selatan and Nusa Tenggara Timur Provinces trought Riskesdas (Basic Health Research) 2007 had been used for study. In this study weight-for-height (WHZ), weight-for-age (WAZ) and height-for-age (HAZ) were used as an indicator of nutritional status of children under three years of age . Health services include weighting, health extension, immunitiation, mother and child health, medicare, complementary feeding, suplementary nutrien and consultation risk of disease. It was found that WHZ indicator correlated significantly to weighting service (χ2=9.328, p=0.025), health extention (χ2=8.290, p=0.040), complementary feeding (χ2=6.470, p=0.009) and medicare service (χ2=7.597, p=0.055) in health service. It showed that weight-for-age (WAZ) correlated significantly with weighting service (χ2=6.698, p=0.082), health extension (χ2=7.182, p=0.066), complementary feeding (χ2=5.563, p=0.051). While height-fo-age (HAZ) correlated significantly with weighting service (χ2=7.046, p=0.030) and supplementary nutrient service (χ2=5.387, p=0.068). Moreover study showed that indicator WHZ was significantly affected by number of family member and health services utilization. Both the WAZ and HAZ indicators were significantly influenced by duration of mother‘s education, infectious diseases as well as health services utilization.Umur di bawah tiga tahun merupakan masa yang sangat penting dan kritis dalam proses pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemanfaatan pelayanan kesehatan dengan status gizi batita. Penelitian ini bersifat crossectional design yang menggunakan data dari Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 merupakan data primer yang telah mengalami verifikasi, editing dan cleaning oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Penelitian ini mengambil lokasi di tiga Provinsi yaitu: Provinsi Sumatera Selatan, DI Yogyakarta dan Nusa Tenggara Timur. Contoh adalah anak berumur di bawah tiga tahun (batita) dan berasal dari kuintil 1 dan 2. Dalam penelitian ini berat badan menurut tinggi badan (BB/TB), berat badan menurut umur (BB/U) dan tinggi badan menurut umur (TB/U) digunakan sebagai indikator status gizi. Pelayanan kesehatan meliputi: penimbangan, penyuluhan, imunisasi, kesehatan ibu dan anak, pengobatan, pemberian makanan tambahan, suplemen gizi dan konsultasi resiko penyakit. Untuk melihat keragaan umum analisis disajikan dalam bentuk tabel univariat, sedangkan untuk melihat hubungan antar variabel digunakan uji statistik chi-square tes dan moment pearson correlation test. Untuk melihat faktor-faktor yang berpengaruh terhadap status gizi dengan menggunakan regresi linier berganda pada data gabungan ketiga provinsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata z-score status gizi batita dengan indikator BB/TB adalah -0.36 ± 2.2 SD, BB/U -0.88 ± 2.8 SD dan TB/U -0.78 ± 1.76 SD. Secara keseluruhan di ketiga wilayah penelitian angka prevalensi wasting, underweight dan stunting berturut-turut adalah sebesar 20.4%, 41.2% dan 22.7%. Prevalensi wasting, underweight dan stunting pada batita terbanyak terjadi pada keluarga dengan ibu berpendidikan hanya tamat SD, dan berumur antara 26-40 tahun dengan jumlah anggota 5-7 orang. Lama pendidikan ibu berkorelasi positif dengan status gizi batita indikator BB/TB, BB/U dan TB/U. Jumlah anggota keluarga berkorelasi negatif dengan status gizi batita indikator BB/TB. Status gizi batita memiliki hubungan negatif dengan penyakit infeksi, BB/TB (r=-0.061, p=0.011), BB/U (r=-0.061, p=0.011) dan TB/U (r=-0.105, p=0.000)
Studi Ketahanan Pangan Rumah Tangga Suku Bajo di Kepulauan Wakatobi Sulawesi Tenggara
Ketahanan pangan dan kelaparan masih menjadi isu dan masalah global. Ketersediaan pangan pada tingkat global, nasional dan wilayah ternyata belum tentu menjamin akses pangan pada tingkat rumah tangga dan pencapaian status gizi yang baik bagi individu. Karakteristik sosial ekonomi rumah tangga dan lingkungan terkait dengan kondisi ketahanan pangan. Komunitas masyarakat nelayan dan masyarakat adat diduga memiliki tantangan ketahanan pangan yang spesifik. Suku Bajo merupakan salah ikon etnis maritim yang paling terkenal di wilayah pulau-pulau kecil perairan Sulawesi yang memiliki kehidupan khas yaitu masih bertahan di laut sebagai sumber hidup dan penghidupan. Komunitas terbesar suku Bajo di Indonesia yang sudah mulai menetap dapat ditemukan di Wakatobi. Menurut Wianti (2011) komunitas Bajo di Wakatobi menghadapi tantangan ekologis akibat pembatasan terhadap ruang nafkah oleh taman nasional dan pelarangan untuk menangkap ikan di perairan Australia yang tentu saja dapat mengancam ketahanan pangan rumah tangga. Oleh karena itu kajian terhadap ketahanan pangan pada masyarakat adat seperti pada Suku Bajo di Wakatobi menjadi menarik dilakukan.
Tujuan penelitian ini adalah: (1) mengidentifikasi karakterstik sosial ekonomi rumah tangga suku Bajo di Kepulauan Wakatobi Sulawesi Tenggara; (2) menganalisis ketahanan pangan rumah tangga suku Bajo di Kepulauan Wakatobi Sulawesi Tenggara dilihat dari pilar aksesibilitas; (3) menganalisis status konsumsi energi dan protein rumah tangga suku Bajo di Kepulauan Wakatobi Sulawesi Tenggara; (4) mengidentifikasi consumption coping strategy rumah tangga suku Bajo di Kepulauan Wakatobi Sulawesi Tenggara; (5) menganalisis status gizi balita suku Bajo di Kepulauan Wakatobi Sulawesi Tenggara. Penelitian ini merupakan obeservasional analitik dengan menggunakan desain cross sectional yang dilakukan di Kampung Bajo Mola Raya yang terdiri atas 5 desa (Mola Utara, Mola Selatan, Mola Bahari, Mola Samaturu, dan Mola Nelayan Bakti) pada bulan Desember 2017 – Januari 2018. Jumlah contoh yang dikumpulkan sebanyak 98 rumah tangga diambil secara acak sederhana. Hasil penelitian menunjukan sebagian besar rumah tangga Suku Bajo di Kabupaten Wakatobi memiliki jumlah anggota rumah tangga lebih dari 4 orang yakni dengan persentase 63.2%. Usia kepala rumah tangga dan ibu rumah tangga hampir seluruhnya tergolong usia produktif dengan proporsi terbesar pada kelompok dewasa madya (31-50 tahun) yakni kepala rumah tangga sebesar 78.8% dan ibu rumah tangga sebesar 66.7%. Tingkat pendidikan rumah tangga masih tergolong rendah yakni persentase kepala rumah tangga yang tidak sekolah dan hanya tamat SD adalah 71.5%, sedangkan pada ibu rumah tangga adalah 75.5%. Jenis pekerjaan utama digeluti sebagian besar kepala rumah tangga adalah nelayan dengan persentase 75.5%. Proporsi rumah tangga dengan pendapatan per kapita di bawah garis kemiskinan Kabupaten Wakatobi (Rp 239 819) adalah 26.5%. Sebanyak 49% rumah tangga memiliki pangsa pengeluaran pangan yang tergolong tinggi (>60% total pengeluaran).
Proporsi rumah tangga Suku Bajo di Kepulauan Wakatobi yang masih tergolong rawan pangan adalah 68.4%. Analisis bivariat menunjukan karakteristik sosial ekonomi rumah tangga yang berhubungan signifikan dengan status ketahanan pangan rumah tangga adalah jumlah anggota rumah tangga, tingkat pendidikan kepala rumah tangga, jenis pekerjaan kepala rumah tangga, pendapatan per kapita, dan pangsa pengeluaran pangan (p4 orang berisiko 2.97 kali mengalami rawan pangan dibandingkan rumah tangga dengan jumlah anggota ≤4 orang (OR=2.97; CI95%: 1.05–8.35). Pangsa pengeluaran pangan yang tinggi (>60% total pengeluaran) berisiko 5.86 kali mengalami rawan pangan dibandingkan rumah tangga dengan pangsa pengeluaran yang rendah (OR=5.86; CI95%:1.9–7.95). Rumah tangga dengan pekerjaan kepala rumah tangga sebagai nelayan berisiko 7.34 kali mengalami rawan pangan dibandingkan dengan pekerjaan bukan nelayan (OR=7.34; CI95%: 2.35–22.98).
Coping strategy yang dilakukan untuk dapat tetap mengakses bahan pangan adalah dengan menggunakan uang tabungan, para isteri mencari pekerjaan sampingan untuk membantu keuangan keluarga, atau meminjam uang (berutang) pada koperasi. Cara bertahan yang lain adalah dengan makan di rumah tetangga/keluarga, mengurangi frekuensi dan jenis bahan makanan, serta memprioritaskan konsumsi anak-anak dibandingkan orang dewasa. Selain itu pandangan hidup filosofis sipalele sipaginagina dapat mendukung ketahanan pangan Suku Bajo. Proporsi rumah tangga dengan tingkat konsumsi energi <70%AKE dan protein <80% AKP adalah masing-masing 39.8% dan 21.4%. Proporsi rumah tangga dengan tingkat kecukupan protein lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat kecukupan energi. Terdapat hubungan yang signifikan antara status ketahanan pangan dengan tingkat kecukupan energi dan protein (p<0.05). Proporsi status gizi balita yang mengalami stunting (kerdil), underweight (kekurangan gizi), dan wasting (kurus) adalah masing-masing 48.8%, 32.6%, dan 9.3%. Analisis bivariat menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara pendidikan ibu dengan status stunting pada balita (p<0.05). Tingkat kecukupan energi dan protein serta status ketahanan pangan tidak menunjukan hubungan signifikan dengan status masalah gizi balita karena status gizi diduga dipengaruhi oleh faktor lain seperti status kesehatan yang butuh penelitian lebih lanjut
Validasi Kandungan Iodium Dalam Urin Dan Penilaian Asupan Pada Anak Sekolah
Metode yang menyatakan indeks ketersediaan iodium dalam populasi dan
yang digunakan secara universal dalam penelitian epidemiologi gondok dan
gangguan kekurangan iodium yaitu urinary iodine concentration (UIC)
menggunakan urin 24 jam. Pengukuran iodium menggunakan urinary iodine
concentration (UIC) dengan sampel urin 24 jam tepat digunakan sebagai ukuran
langsung dari status gizi iodium dan membantu untuk validasi perkiraan dari
asupan iodium tetapi penggunaan metode ini tidak praktis dalam penelitian besar
dan survei epidemiologi karena cukup sulit untuk mendapatkan koleksi urin 24
jam secara lengkap dan akurat serta adanya ketidaknyamanan subjek.
WHO/UNICEF/ICCIDD merekomendasikan penggunaan sampel urin on spot
dengan menggunakan acid digestion dengan larutan ammonium persulfate untuk
pengukuran kadar urinary iodine concentration (UIC).
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis asupan iodium pada anak
sekolah dan menganalisis penggunaan sampel urin on spot dan 24 jam untuk
mengidentifikasi urinary iodine concentration (UIC) pada anak sekolah. Tujuan
khusus dari dari penelitian ini adalah (1) Mengidentifikasi urinary iodine
concentration (UIC) berdasarkan sampel urin on spot anak sekolah, (2)
Mengidentifikasi urinary iodine concentration (UIC) berdasarkan sampel urin 24
jam anak sekolah, (3) Validasi penggunaan sampel urin on spot urinary iodine
concentration (UIC) anak sekolah. (4) Mengidentifikasi asupan dan hubungan
asupan iodium dengan urinary iodine concentration (UIC) anak sekolah.
Desain penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Penelitian
dilaksanakan pada bulan Maret 2016 dengan subjek penelitian adalah anak yang
berusia 9–12 tahun yang berada di Kabupaten Bogor yang dipilih secara purposive
sampling. Pengambilan sampel urin dilakukan oleh subjek, sebelum pengambilan
sampel urin subjek diberi penjelasan tentang tata cara pengambilan yang benar.
Tiga sampel urin on spot yang dikumpulkan dari masing masing subjek yaitu
salah satu urin yang dikumpulkan antara waktu berikut : 1) sampel urin antara
sarapan sampai makan siang, 2) sampel urin dari makan siang hingga makan
malam; 3) sampel urin dari makan malam hingga waktu tidur. Pada hari yang
sama dengan pengumpulan sampel urin on spot dilakukan pengumpulan sampel
urin 24 jam. Sampel urin on spot dan sampel urin 24 jam yang lengkap di analisis
di laboratorium GAKY Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Data
konsumsi pangan diperoleh melalui recall 24 jam, asupan iodium di analisis
menggunakan Australian Food, Supplement and Nutrient Database 2011-2013
(AUSNUT). Rata rata jumlah asupan iodium dibandingkan dengan EAR iodium
anak usia 10–12 tahun. Analisis statistik yang digunakan adalah analisis univariat,
analisis bivariat menggunakan korelasi Pearson. Data UIC on spot dan UIC 24
jam dianalisis lebih lanjut dalam analisis validasi.
Median UIC dari urin 24 jam 178.0 μg/L dan nilai median UIC on spot
pagi, UIC on spot sore, dan UIC on spot malam, masing masing sebesar 157.0
μg/L, 162.0 μg/L dan 167.5 μg/L . Sebagian besar memiliki status iodium cukup
yang dinilai dari semua parameter iodium. Terdapat hubungan antara UIC on spot
pagi (r= 0.338), UIC on spot sore (r= 0.456), dan UIC on spot malam (r= 0.303)
dengan UIC 24 jam. UIC on spot sore memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang
lebih baik (66.7% dan 75.6%) daripada UIC on spot pagi (33.3% dan 78.1%) dan
UIC on spot malam (33.3% dan 82.9%). UIC sampel urin dari makan siang
hingga makan malam lebih tepat mencerminkan 24 jam untuk mengkategorikan
status iodium populasi berdasarkan dari sensitivitas dan spesifisitas. Sebesar
66.7% dapat mengidentifikasi subjek yang defisiensi iodium memang benar
defisiensi iodium dan 75.6% dapat mengidentifikasi subjek yang cukup iodium
juga dikatakan cukup iodium. Rata-rata asupan iodium dari pangan yang
dikonsumsi subjek adalah 83.3 ± 31.9 mg/hari. Rata-rata asupan iodium
memenuhi 83.3% kebutuhan (EAR iodium) subjek, sebagian besar subjek 72.7%
memiliki asupan iodium yang kurang. Asupan iodium secara statistik tidak
berkorelasi dengan UIC dari urin on spot dan urin 24 jam
Analisis Determinan Positive Deviance pada Ibu Hamil dengan Status Sosial Ekonomi Rendah terhadap Berat dan Panjang Bayi Lahir di Desa Gunung Geulis Kabupaten Bogor
Peningkatan kualitas sumber daya manusia secara berkelanjutan merupakan tujuan dari pembangunan nasional. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan pemenuhan kebutuhan dasar manusia dalam proses tumbuh kembang yang dimulai sejak kehamilan. Kehamilan yang tidak sehat dapat menyebabkan kematian bayi, kematian ibu melahirkan, kelahiran bayi dengan berat lahir rendah (BBLR), kelahiran bayi cacat fisik dan mental (Abu-Saad dan Fraser 2010; Imdad dan Bhutta 2012). Kesehatan anak tidak hanya didasarkan pada ada tidaknya tanda penyakit, tetapi juga pertumbuhan fisik. Kesesuaian ukuran fisik terhadap umur dapat dilihat sejak anak dilahirkan (Branca dan Ferrari 2002). Berat dan panjang lahir merupakan ukuran fisik yang menentukan status gizi dan pertumbuhan anak di masa mendatang. Menurut World Health Organization (WHO), angka kejadian BBLR di dunia sebesar 15% selama periode tahun 2000-2009 dan cukup besar di Asia Tenggara yaitu 24%. Menurut Laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), persentase BBLR (<2500 g) tahun 2013 dan 2010 sebesar 10.2% dan 11.1%, persentase berat lahir kurang (BBLK: 2500-2999 g) tahun 2010 sebesar 30%, sedangkan persentase bayi lahir pendek tahun 2013 sebesar 20.2% (Kemenkes 2010; Kemenkes 2013). Hal tersebut menunjukkan bahwa perlu perhatian serius terhadap perbaikan kesehatan sejak dini. Masyarakat dengan status sosial ekonomi rendah, umumnya menghadapi masalah kesehatan pada saat kehamilan. Akan tetapi dalam hal tertentu, terdapat sekelompok dari masyarakat tersebut yang dapat melahirkan bayi dalam keadaan sehat dan normal, yang diukur dari berat dan panjang lahir. Hal tersebut merupakan bentuk positive deviance (penyimpangan positif). Desa Gunung Geulis Kecamatan Sukaraja Kabupaten Bogor, merupakan salah satu wilayah dengan infrastruktur perdesaan yang belum optimal dan kondisi sosial ekonomi penduduk desa tersebut pada umumnya tergolong rendah ditunjukkan dengan rata-rata pendapatan perkapita keluarga dibawah garis kemiskinan dan tingkat pendidikan yang hanya mencapai sekolah dasar (Renstra Kecamatan Sukaraja Tahun 2013 – 2018). Akan tetapi persentase angka kematian ibu hamil dan ibu bersalin sebesar 0%, bayi BBLR sebesar 1.92% dan bayi lahir pendek sebesar 0% (Dinkes Kabupaten Bogor 2015). Penelitian ini bertujuan menganalisis deteminan positive deviance pada ibu hamil dengan status sosial ekonomi rendah terhadap berat dan panjang bayi lahir di Desa Gunung Geulis Kecamatan Sukaraja Kabupaten Bogor. Tujuan khusus dari penelitian ini adalah: 1) Mendeskripsikan status gizi, kebiasaan makan, akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan, riwayat kesehatan dan kondisi psikologis ibu saat hamil; 2) Mendeskripsikan berat dan panjang bayi lahir; 3) Menganalisis hubungan status gizi, kebiasaan makan, akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan, riwayat kesehatan dan kondisi psikologis ibu saat hamil dengan berat dan panjang bayi lahir; 4) Menganalisis faktor yang berpengaruh terhadap berat dan panjang bayi lahir.
Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dan dilaksanakan pada bulan Oktober 2016 hingga Februari 2017 di wilayah Desa Gunung Geulis Kecamatan Sukaraja Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Contoh dalam penelitian ini berjumlah 38 ibu hamil yang dipilih secara purposive. Kriteria inklusi yang ditetapkan adalah semua ibu hamil yang terdaftar di posyandu wilayah Desa Gunung Geulis dan mengikuti program 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) oleh Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sadaqah (LAZIS) PLN, ibu tersebut melahirkan bayi pada bulan Oktober 2016 hingga Februari 2017, tidak melahirkan bayi kembar, tidak melahirkan prematur dan bersedia untuk diwawancara. Data dikumpulkan dengan cara wawancara menggunakan kuesioner dan pengukuran antropometri. Analisis statistik yang digunakan adalah analisis univariat, analisis bivariat menggunakan uji korelasi Spearman, dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik. Contoh dalam penelitian ini sebagian besar (86.8%) berusia 20-35 tahun. Hampir sepertiga (31.6%) ibu yang memiliki tinggi badan pendek, 26.3% dengan risiko KEK dan 34.2% dengan pertambahan berat badan kurang dari rekomendasi. Rata-rata asupan energi harian ibu hamil sebesar 1720.6 kkal dan sebagian besar (71.1%) termasuk dalam kategori asupan energi kurang. Rata-rata asupan protein harian ibu hamil sebesar 53.6 g dan sebagian besar (86.8%) termasuk dalam kategori asupan protein kurang. Jarak tempat pemeriksaan kesehatan yang jauh dan waktu tempuh yang lama menyebabkan sebanyak 42.1% ibu sulit mengakses tempat pemeriksaan kesehatan, namun sebagian besar (89.5%) melakukan pemeriksaan kehamilannya pada trimester pertama. Sebagian besar (94.8%) ibu menyatakan tidak memiliki riwayat penyakit selama kehamilan meski 60.5% diantaranya tinggal di lingkungan dengan kondisi sanitasi yang kurang baik. Ibu dengan dukungan keluarga yang kurang saat hamil sebanyak 39.5%, dan separuh (52.6%) ibu mengalami keadaan psikososial yang rendah saat kehamilan, dimana 44.7% terjadi pada ibu yang baru mengalami kehamilan pertama. Sebanyak 68.4% bayi lahir dengan berat ≥3000 g, dan sebagian besar (94.7%) memiliki panjang lahir normal. Terdapat hubungan signifikan antara Lingkar Lengan Atas (LiLA) ibu dengan berat lahir (r=0.476; p=0.002) dan panjang lahir (r=0.394; p=0.014). Asupan energi juga berhubungan signifikan dengan berat lahir (r=0.434; p=0.007), begitupun frekuensi kunjungan ANC dengan berat lahir (r=0.320; p=0.050). Berdasarkan hasil uji regresi logistik, frekuensi kunjungan ANC dan kondisi psikososial ibu merupakan faktor yang mempengaruhi berat bayi lahir di wilayah penelitian. Ibu hamil yang melakukan kunjungan ANC ≥4 kali serta ibu dengan kondisi psikososial yang baik selama kehamilan diperkirakan dapat mencegah melahirkan bayi BBLK masing-masing sebesar 98.6% dan 98.3%. Perilaku positive deviance ibu yang melahirkan bayi dengan berat lahir normal adalah frekuensi kunjungan ANC dan kondisi psikososial ibu. Dengan adanya dukungan yang baik dari suami ataupun anggota keluarga lainnya akan mempengaruhi kondisi psikososial ibu, sehingga ibu akan lebih baik dalam menjaga kesehatannya dan dapat berpengaruh positif terhadap proses tumbuh kembang janin
Keberlanjutan dampak penyuluhan gizi terhadap perilaku gizi ibu dan kualitas pelayanan posyandu
Integrated Service Center Post (Posyandu) is spearheading the early detection and the first services in prevention of malnutrition in Indonesia. In terms of quality, there are barriers that often occur in the implementation of activities posyandu is weak “Communication, Information, and Nutrition Education” programs which is one of the cornerstone in nutrition programs at posyandu. Besides the quality of cadres that still low because of the training received still lessalso the educational levels are low, so that cadres can not given education to mothers posyandu users. Thus, the specific objective of this study were to:(1) Identified the characteristics of mother and children under five years in posyandu; (2) analyzed impact‟s sustainability of nutrition education to knowledge, attitudes, and practices of mothers toddler in posyandu; (3) analyzed correlations of health history and nutritional status children‟s under five; (4) analyzed correlations of knowledge, participation of cadres, and service quality in posyandu; (5) analyzed the impact‟s sustainability of nutrition education to service quality of posyandu; (6) analyzed the sustainability of nutrition education program in posyandu. The design in this study was quasi-experimental. This study is part of the researchs in collaboration with Nestle Foundation (NF) entitled “A Multi- Approach Intervention to Empower Posyandu Nutrition Program to Combat Malnutrition Problem in Rural Areas” (Khomsan et al. 2012). Location of the study is Sukajadi and Sukaluyu village, Tamansari District, Bogor Regency, West Java was conducted in January 2012 until September 2013. The villages were allocated simples randomly as control and intervention group. Nutrition education given to mother‟s toddler and cadre of posyandu was 6 times with frequency 2 times in one month. Data collection consisted of baseline (before intervention), endline (after intervention), and follow-up (four months after endline). Data was analyzed descriptively using Microsoft Excell 2007 and inferentialy using Analysis of Variance (ANOVA) by SPSS 16 softwarer. The results showed that nutritional education impacts to knowledge, attitudes, and practices of mother‟s toddler was significant (p<0,05). Trend change scores tend to declined at follow-up. However, these showed better than baseline. Therefore, it can be said that nutrition educatioan was sustainable. The results showed that most of the mothers toddler in intervention group (93,3%) expressed a desire to stay abreast/ bring the child to the age of five-yearold child to posyandu at the time of the endline. The ANOVA results indicated a difference in the planned visit to the posyandu to five-year-old childs at baseline and endline in the intervention group (p<0.05). This means education of participation posyandu in the form of motivational visit to posyandu was able to increased the knowledge about the importance posyandu. So, desire of mother toddler to keep abreast posyandu was increased. Based on health status, toddlers in the control group and the intervention had a history of disease respiratory infection was higher than the fever, diarrhea, skin diseases, and other (smallpox and convulsions). Nutrition and health educations given to cadres and mothers toddlers whose were indirectly able to change the trend of the respiratory infection incidences. The results showed that a decline in 1-month history of respiratory infection in the intervention group to 77,4% (1,6±0,9 times/1st last month) on the endline data and 74,2% (1,0±0,8 times/1st last month) follow-up data. Spearman correlation test (baseline, endline, and follow-up data) showed a significant correlation between the history of disease and nutritional status of children under five (Weight/Age, Height/Age, and Weight/Height indicators) (p<0,05). Based on the five dimensions of service quality is known that nutrition education given to cadres have a positive impact on the service quality of posyandu. However, there had indicators which are still less (<60%) and did not show / significant improvement were the support of village officials. The result of Duncan's test showed that nutrition education significantly affect the quality of service posyandu (p<0,05). Although the percentage‟s mother toddlers of satisfaction levels to services quality tends to declined after education and monitoring, but the results were still in a range that is better than before get the nutrition education (baseline). This means that, given the cadre education and procurement of facilities in posyandu can improve service quality of posyandu and sustainable
Formulasi Cookies Berbahan Mocaf dan Bekatul dengan Penambahan Minyak Sawit Merah Sebagai Pangan Fungsional Bagi Lansia
Lansia merupakan kelompok usia yang membutuhkan asupan antioksidan
optimal untuk memperlambat proses penuaan dan menangkal radikal bebas dalam
tubuh. Ubi kayu, bekatul dan minyak sawit merah merupakan bahan pangan lokal
yang berpotensi sebagai pangan fungsional yang menyehatkan tubuh, namun belum
dimanfaatkan secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formulasi
cookies berbahan mocaf dan bekatul dengan penambahan minyak sawit merah
sebagai pangan fungsional bagi lansia. Desain penelitian menggunakan Rancangan
Acak Lengkap (RAL) dua faktor dengan empat formula kombinasi mocaf dan
bekatul. Formula tersebut antara lain F0 (100% mocaf), F1 (subtitusi bekatul 10%),
F2 (subtitusi bekatul 20%) dan F3 (subtitusi bekatul 30%). Berdasarkan hasil uji
organoleptik, didapatkan formula terpilih adalah F2 dengan substitusi bekatul
sebanyak 20%. Hasil uji daya terima yang dilakukan pada 25 orang lansia
menunjukan sebesar 76% menyukai cookies tersebut. Hasil analisis kandungan gizi
pada produk terpilih didapatkan dalam 100 g cookies mocaf dan bekatul
mengandung kadar air sebesar 3 (%bb), kadar abu 2.37 (%bb), kadar protein 9.92
(%bb), kadar lemak 28.70 (%bb), karbohidrat 56.01 (%bb), serat kasar 5.63 (%bb),
aktivitas antioksidan 61.60 AEAC/100 g dan total karoten 12.5 mg/Kg. Takaran
saji cookies adalah 4 keping dengan berat 48 g, dapat berkontribusi terhadap asupan
selingan dalam sehari yaitu 10-25% AKG. Kontribusi terhadap AKG lansia untuk
energi sebesar 11-18%, protein 7-9%, lemak 21-34%, karbohidrat 8-12% dan serat
8-14%. Produk cookies ini dapat di klaim sebagai produk pangan sumber vitamin
A dan serat.. Berdasarkan analisis harga, cookies per kemasan yang berisi 12 keping
cookies dapat dijual dengan kisaran harga Rp. 7.079≈7.100
Studi Karakteristik Pertumbuhan Remaja Berdasarkan Ekosistem Wilayah di Provinsi Jawa Barat
The study aimed to analyze the characteristic of adolescents growth using the Height/Age and BMI /Age based on ecosystem area in the Province of West Java. Design of the research is the cross sectional study use the secondary data from riskesdas 2007. The number of samples was 1674 adolescents. The growth characteristics of adolescents in the district of Garut according to Height/Age correlated with the work of the head of the family (p= 0,001 and r= -0,145), and BMI/Age correlated with the consumption of protein per capita (p= 0,028 and r= - 0,093). District of Bandung’s adolescents had the growth characteristics of Height/Age correlated with education families (p= 0,040 and r= 0,081), the work of the head of the family (p= 0,003 and r= -0,118 ), energy consumption per capita (p= 0,031 and r= -0,085 ), and protein consumption per capita (p= 0,002 and r= -0,124) and to BMI/Age Correlated with education families (p= 0,017 and r= 0,095 ). Growth characteristics of adolescents district of Cirebon for Height/Age correlated factor was an energy consumption per capita (p= 0,044 and r= -0,086), while BMI/Age correlated with education families (p= 0,016 and r= 0,102)
Study Of Policy Formulation For Food And Nutritional Planning Based On Desirable Dietary Pattern In Banjar City, West Java Province
The general objective of this research was to formulate policy for food and nutritional planning based on Desirable Dietary Pattern in Banjar City. The particular objectives of the research were to 1) Analyze the situation of food consumption in household level in Banjar City using Desirable Dietary Pattern, 2) Formulate consumption necessity and food supplying directing to the ideal in Banjar City, 3) Determine causing factor (causal model) of food and nutritional problem in Banjar City, 4) Formulate the policy recommendation for food and nutritional planning based on Desirable Dietary Pattern in Banjar City. The research conducted in Banjar City, West Java Province, was a prospective research to reflect the future. Sample was chosen by purposive sampling. Sample for nutritional status and consumption data was 700 households which 176 households in poor category and 524 households in non poor category. The result shows that poverty problem, low income and low education are some of the factors that cause low quantity and quality of energy consumption in household level in Banjar City. It is difficult for poor family to access the food because of food insecurity. Formulating the right policy for food and nutritional planning will support food security in Banjar City.Penelitian ini secara umum bertujuan untuk merumuskan kebijakan perencanaan pangan dan gizi berdasarkan Pola Pangan Harapan di Kota Banjar. Tujuan khusus dari penelitian ini adalah 1) Menganalisis situasi konsumsi pangan tingkat rumah tangga Kota Banjar dengan pendekatan Pola Pangan Harapan (PPH) 2) Menentukan faktor penyebab (causal model) masalah pangan dan gizi Kota Banjar 3) Merumuskan kebutuhan konsumsi dan penyediaan pangan menuju ideal di Kota Banjar 4) Merumuskan rekomendasi kebijakan perencanaan pangan dan gizi berdasarkan Pola Pangan Harapan (PPH) di Kota Banjar. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat prospektif untuk memproyeksikan kondisi yang akan datang. Penelitian ini dilakukan di Kota Banjar, Provinsi Jawa Barat. Pemilihan sampel dilakukan secara purposive. Jenis data yang dikumpulkan adalah data sekunder yang meliputi: 1) Status gizi dan konsumsi pangan rumah tangga Kota Banjar; 2) Jumlah penduduk dan laju pertumbuhan penduduk, komposisi penduduk menurut umur, dan jenis kelamin; 3) Jumlah produksi pangan; 4) Kesehatan penduduk dan status gizi; 5) Keadaan geografis. Data yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari Dinas Kesehatan, Dinas pertanian, Ketahanan Pangan, Perkebunan, dan Kehutanan Kota Banjar, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Badan Pusat Satistik Kota Banjar. Data status gizi dan konsumsi pangan yang dikumpulkan diolah dengan menggunakan program microsoft excell dan software “Aplikasi Komputer Analisis kebutuhan Konsumsi Pangan Wilayah Kabupaten/Kota dan Provinsi” yang dikembangkan oleh Heryatno, Baliwati, Martianto, & Herawati (2005). Hasil analisis menunjukkan Tingkat Konsumsi Energi penduduk Kota Banjar yaitu sebesar 62.2 persen (1 210 kkal/kapita/hari) dari AKE Kota Banjar 1 944 kkal/kapita/hari. Apabila dibedakan berdasarkan status ekonomi yaitu rumah tangga miskin dan tidak miskin, maka dapat diketahui bahwa Tingkat Konsumsi Energi penduduk rumah tangga tidak miskin Kota Banjar masih kurang jika dibandingkan dengan AKE yang dianjurkan yaitu 64.4 persen (1 252 kkal/kapita/hari) dari AKE Kota Banjar. Tingkat Konsumsi Energi untuk penduduk rumah tangga miskin juga masih di bawah AKE yang dianjurkan yaitu 60.2 persen (1 170 kkal/kapita/hari) dari AKE Kota Banjar
- …
