1,720,968 research outputs found
BERLAYAR DENGAN PERAHU BHANGKA PADA MASYARAKAT BINONGKO DI KELURAHAN POPALIA KABUPATEN WAKATOBI
This article describes the shipping line of Binongko society in doing inter-island trading within the territory of Indonesia by bhangka boat. Shipping and trading for the Binongko society is a series that can not be endorsed, because they are both mariners and traders alike. Sailing by bhangka boat uses traditional knowledge and technology to sail. The pattern of trade routes and goods traded between islands is always the same as each shipping period, so that the pattern of relationship between the voyager and the community of the destination area is harmonious interrelationship because they are mutually beneficial. The items that have been patterned are from Binongko carrying machetes and the like to Maluku, from Maluku bringing copra to Java, and from Java bringing the basic necessities back to Binongko. While in the second round of the sailor brought a machete and the like to Flores, then from Flores to Bima adjust to the production of farmers or other crops, and from Bima bring salt to Bau-bau. Then from Bau-Bau back to Binongko carries the daily necessities.Artikel ini mendeskripsikan tentang jalur pelayaran masyarakat Binongko dalam melakukan perdagangan antar pulau dalam wilayah Indonesia menggunakan perahu bhangka. Pelayaran dan perdagangan bagi masyarakat Binongko adalah satu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan, karena mereka adalah pelaut dan sekaligus sebagai pedagang. Pelayaran dengan perahu bhangka menggunakan pengetahuan dan teknologi tradisional untuk berlayar. Pola jalur perdagangan dan barang yang diperdagangkan antar pulau selalu sama setiap periode pelayaran, sehingga pola hubungan antara pelayar dengan masyarakat daerah tujuan terjalin hubungan timbal balik yang harmonis karena mereka saling menguntungkan. Barang-barang yang diperadgangkan sudah terpola yakni dari Binongko membawa parang dan sejenisnya ke Maluku, dari Maluku membawa kopra ke Jawa, dan dari Jawa membawa kebutuhan pokok kembali ke Binongko. Sedangkan pada putaran kedua pelayar membawa parang dan sejenis ke Flores, kemudian dari Flores ke Bima menyesuaikan dengan produksi hasil panen petani atau barang-barang lain, dan dari Bima membawa garam ke Bau-Bau. Kemudian dari Bau-Bau kembali ke Binongko membawa barang-barang kebutuhan sehari-hari
STRATEGI MEMBANGUN KAMPUNG WISATA BERBASIS BUDAYA LOKAL DI DESA WATORUMBE KECAMATAN MAWASANGKA TENGAH KABUPATEN BUTON TENGAH
The purpose of this research is to describe the strategy of tourism village building in Watorumbe Village, Central Mawasangka District, Central of Buton Regency based on local culture. To answer that purpose, data collection is done through observation and interview, and the data obtained is analyzed descriptively qualitative. The adaptation theory of John W. Bennet, an adaptation as a human survival strategy. The research method used by choosing the location of research, selection of informants, data collection techniques, and data analysis techniques. So guiding the author to find answers to research problems. The results showed that in the development of tourism village, there are certain strategies that must be done to make the village of Watorumbe as a tourist village. The strategies are (1) having a togetherness in the social structure of watorumbe, (2) preserving traditional cultural values, (3) disseminating the culture of Watorumbe society to society, (4) development of facilities and infrastructure, and (5) art-culture studio community.Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan strategi pembangunan kampung wisata di Desa Watorumbe Kecamatan Mawasangka Tengah Kabupaten Buton Tengah yang berbasis budaya lokal.Untuk menjawab tujuan tersebut dilakukan pengumpulan data dengan cara melalui pengamatan (observasi) dan wawancara (interview), dan data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif.Teori adaptasi John W. Bennet, yaitu adaptasi sebagai strategi bertahan hidup manusia. Adapun metode penelitian yang digunakan, yaitu dengan pemilihan lokasi penelitian, pemilihan informan, tehnik pengumpulan data dan tehnik analisis data. Sehingga membimbing penulis menemukan jawaban permasalahan penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam pembangunan kampung wisatatentunya ada strategi-strategi tertentu yang harus dilakukan untuk menjadikan Desa Watorumbe sebagai desa wisata. Adapun strategi tersebut adalah (1) membangun kebersamaan dalam tatanan masyarakat watorumbe; (2) melestarikan nilai-nilai budaya tradisional; (3) mensosialisasikan budaya masyarakat Watorumbe pada masyarakat luas; (4) pembangunan sarana dan prasarana; dan (5) menghidupkan serta membentuk komunitas sanggar seni-budaya
PEMBUAT IKAN TINAPO: Studi pada 7 Keluarga di Kelurahan Molawe Kecamatan Molawe Kabupaten Konawe Utara
The purpose of this study is to determine and to find out the defensive pressure of the families startegies who make the Tinapo fish in Molawe Village, District of Molawe, North Konawe Regency. The informants in this study are 7 families making Tinapo fish, which consists of 4 families of Tinapo fish\u27s producers who have special ponds and 3 families of fish producers who do not have special grills. Data collection of this study is field work directly at the study site using observation techniques and depth interviews. Data analysis is using descriptive qualitative method. The results of the study show that: (1) the pressures faced by the families of the Tinapo fish producers in Molawe Village, District of Molawe, Konawe Utara Regency include the pressure of the natural environment such as raw materials which are not always available like fresh fish, firewood and receding sea water. The pressures are originating by the socio-cultural environment such as the difficulty of obtaining other jobs and the complexity of making Tinapo fish through a long process; (2) the defensive strategy of the family of Tinapo fish producers can be seen from the division of labor in the family of Tinapo fish producers in Molawe Village, District of Molawe, North Konawe regency. It is men who work externally by providing tools and materials such as preparing fish, firewood, fish piercing and grilling fish, while women are more inclined to domestic work such as cleaning fish, piercing fish and marketing the results of making Tinapo fish to the contractor or to the nearest market.
Keywords: tinapo fish, family, strategy, pressure, defensive
Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui tekanan defensif keluarga pembuat ikan tinapo dan untuk mengetahui strategi defensif keluarga pembuat ikan tinapo di Kelurahan Molawe Kecamatan Molawe Kabupaten Konawe Utara. Informan dalam penelitian ini adalah 7 keluarga pembuatan ikan tinapo, dimana terdiri dari 4 keluarga pembuat ikan tinapo yang memiliki pondapoa khusus dan 3 keluarga pembuat ikan tinapo yang tidak memiliki pondapoa khusus. Pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik lapangan (field work yakni peneliti melakukan pengumpulan data secara langsung di lokasi penelitian yang menggunakan teknik pengamatan (observation) dan wawancara mendalam (indept interview). Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara mendalam dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) tekanan-tekanan yang dihadapi oleh keluarga pembuat ikan tinapo di Kelurahan Molawe, Kecamatan Molawe, Kabupaten Konawe Utara meliputi tekanan lingkungan alam seperti bahan baku yang tidak selalu tersedia seperti ikan segar, kayu bakar, serta surutnya air laut, dan tekanan yang berasal dari lingkungan sosial budaya seperti sulitnya mendapatkan pekerjaan lain dan rumitnya membuat ikan tinapo melalui proses yang panjang. (2) strategi defensif keluarga pembuat ikan tinapo dapat dilihat dari pembagian kerja dalam keluarga pembuat ikan tinapo di Kelurahan Molawe, Kecamatan Molawe, Kabupaten Konawe Utara adalah laki-laki bekerja secara eksternal yakni menyediakan alat dan bahan seperti mempersiapkan ikan, kayu bakar, penusuk ikan dan memanggang ikan, sedangkan wanita lebih cenderung pada pekerjaan domestik seperti membersihkan ikan, menusuk ikan dan memasarkan hasil pembuatan ikan tinapo tersebut ke pemborong maupun ke pasar terdekat.
Kata kunci : ikan tinapo, keluarga, strategi, tekanan, defensi
PERUBAHAN KEPEMIMPINAN PARABELA PADA MASYARAKAT SIOMPU KECAMATAN SIOMPU KABUPATEN BUTON SELATAN
This study aims to examine and describe the parabela leadership system and its changes in the Siompu community, Siompu District, South Buton Regency. This study uses the Kinship Theory of Thomas Hylland Eriksen. It uses ethnographic methods through qualitative data. The results of this study indicate that the parabela leadership system is a leader in the Siompu community that has authority and authority to protect and protect the community in general. The Parabela leadership system has reached its heyday in the era of the Buton Sultanate. However, over time with the development of the state leadership system, the system of leadership began to lose its role. The only role currently held by Parabela is as the highest leader in indigenous organizations. The parabela leadership system which is currently the top leader in indigenous organizations needs to be considered both in terms of change and in terms of the development of its leadership system. This is because indigenous organizations are a social organization that is expected to be able to bring cultural values to life. By that, all elements of the Siompu community, both upper class and lower class and related parties must contribute and support the change and development of the parabela leadership system.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mendeskripsikan sistem kepemimpinanan parabela dan perubahannya pada masyarakat Siompu, Kecamatan Siompu, Kabupaten Buton Selatan. Teori yang digunakan adalah Teori Kekerabatan dari Thomas Hylland Eriksen dengan menggunakan metode etnografi melalui data kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sistem kepemimpinan parabela merupakan pemimpin pada masyarakat Siompu yang memiliki kewibawaan dan kewenangan untuk melindungi dan mengayomi masyarakat secara umum. Sistem kepemimpinan parabela pernah mencapai masa kejayaannya pada era kekuasan Kesultanan Buton. Namun, seiring berjalannya waktu dengan berkembangnya sistem kepemimpinan kenegaraan menyebabkan sistem kepemimpinan parabelamulai kehilangan peranannya. Satu-satunya peranan yang hingga saat ini masih diemban oleh parabela adalah sebagai pucuk pimpinan tertinggi dalam organisasi adat. Sistem kepemimpinan parabela yang saat ini sebagai pucuk pimpinan tertinggi dalam organisasi adat perlu diperhatikan baik dalam segi perubahan maupun dalam segi perkembangan sistem kepemimpinanya. Hal ini disebabkan karena organisasi adat merupakan sebuah organisasi sosial yang diharapkan mampu mengenmabngkan nilai-nilai budaya agar tetap lestari. Olehnya itu, semua elemen masyarakat Siompu baik kalangan atas maupun kalangan bawah dan pihak-pihak terkait harus memberikan sumbangsih dan dukungan terhadap perubahan dan perkembangan sistem kepemimpinan parabela
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP SANDO MONGGOKI’I (Dukun Peramal Benda yang Hilang) DI KELURAHAN KULAHI KECAMATAN WAWOTOBI KABUPATEN KONAWE
This study aims to determine and to describe the public perception of the sando mongiki\u27i in finding missing objects using Goodenough\u27s theory of cognition. The method used in this study is the field research method. Data collection uses observation techniques and interviews. While the selection of informants was determined by purposive sampling. The results shows that some of the Tolaki people in Kulahi village perceived sando monggiki\u27i as a solution in finding lost items, and were considered capable of safeguarding possessions by using amulets, or water that had contained spells. This is motivated by a number of things, including a) the weak role of the legal apparatus in monitoring criminal acts; b) the lack of public understanding of religious values and norms; and c) the habits of the people who have become part of their culture.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan persepsi masyarakat terhadap sando mongiki;I dalam menemukan benda yang hilang dengan menggunakan teori kognisi dari Goodenough. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian lapangan. Pengumpulan data yang dilakukan menggunakan teknik pengamatan (observation) dan wawancara (interview). Sedangkan pemilihan informan ditetapkan dengan purposive sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian dari orang Tolaki yang ada di Kelurahan Kulahi mempresepsikan bahwa sando monggiki’i sebagai solusi dalam menemukan barang yang hilang, dan dianggap mampu untuk menjaga harta benda yang dimiliki dengan mengunakan azimat, ataupun air yang telah berisikan mantra. Hal ini dilatarbelakangi oleh beberapa hal, antara lain: a) lemahnya peran aparat hukum dalam mengawasi tindakan criminal; b) kurangnya pemahaman masyarakat terhadap nilai dan norma keagamaan; serta c) kebiasaan masyarakat yang telah sudah menjadi bagian budaya mereka
KAFE TENDA DAN SEKSUALITAS TERSELUBUNG: Studi terhadap Beberapa Kafe Tenda di Sepanjang Kendari Beach Kota Kendari
This study aims to find out and to describe the prostitution transactions and the relationship between cafe owners, pimps and commercial sex workers at tent cafes in Kendari Beach, Kendari City. Data collection is done by direct observation techniques and in-depth interviews. The data is analyzed by descriptive qualitative. The results show that the prostitution transactions in tent cafes in Kendari Beach. It is caused by the lack of modal and low income in selling culinary. One way to get a higher modal is to make their cafe as a place for prostitution transactions. Prostitution transactions involve cafe owners, pimps and prostitutes.
Keywords: tent cafes, prostitutions, lifestilesPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan terjadinya transaksi prostitusi terselubung dan hubungan antara pemilik kafe, mucikari dan PSK pada kafe tenda di Kendari Beach Kota Kendari. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik pengamatan langsung dan wawancara mendalam. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriftif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadinya transaksi prostitusi terselubung di kafe tenda di Kendari Beachdisebabkan oleh kurangnya omset (pendapatan) yang didapatkan oleh pemilik kafe jika hanya berjualan kuliner sangat kecil. Salah satu cara yang dilakukan untuk mendapatkan omset yang lebih tinggi adalah dengan menjadikan kafe mereka sebagai tempat transaksi prostitusi terselubung. Transaksi prostitusi tersebut melibatkan pemilik kafe, mucikari dan PSK.
Kata kunci: kafe tenda, prostitusi terselubung, pola hubunga
PERSEPSI MASYARAKAT TANGKENO TERHADAP DESA WISATA: Studi di Desa Wisata Tangkeno Kecamatan Kabaena Tengah Kabupaten Bombana
The purpose of this study is to find out the perceptions of local people about the existence of tourist destinations and the impact that people have on the existence of tourist villages. The theory used is the theory of phenomenology Eddmund Husserl. This research is qualitative descriptive research and data collection is done through observation (observation) and interviews. The results of the study show that the existence of the Tangkeno tourist village raises various perceptions and from various community groups. Such a phenomenon can be seen in the perceptions of the government, traditional leaders, community leaders, religious leaders, youth leaders, and students. Some positive impacts experienced by local communities, among others: improving the economy of the community and the region, improving the values ​​of local culture, gaining new knowledge and experience. Nevertheless, negative impacts also arise such as creating new cultures and employment competition.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui persepsi masyarakat lokal terhadap adanya destinasi wisata dan dampak yang dialami masyarakat terhadap adanya desa wisata. Teori yang digunakan adalah teori fenomenologi Eddmund Husserl. Penelitian ini merupakan riset deskriptif kualitatif dan pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan (observasi) dan wawancara (interview). Hasil penelitian menunjukan bahwa keberadaan desa wisata Tangkeno menimbulkan persepsi yang bermacam-macam dan dari berbagai kelompok masyarakat. Fenomena semacam ini tampak dalam persepsi dari pemerintah, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, dan mahasiswa. Beberapa dampak positif yang dialami masyarakat setempat, antara lain: meningkatkan ekonomi masyarakat dan daerah, meningkatkan nilai-nilai budaya lokal, mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru. Kendati demikian, timbul pula dampak negatifnya seperti menimbulkan budaya baru dan persaingan lapangan kerja
KONFLIK ANTAR KELUARGA PADA ORANG TOLAKI DI DESA LALONGGOWUNA KECAMATAN TONGAUNA KABUPATEN KONAWE
In Kolese Village, District of Pasikolaga, Muna Regency, there is a traditional treatment of Bhisa kantisele. It cures diseases that cannot be cured by medical treatment. This study aims to determine the causes and characteristics of diseases as well as to know the treatment process of tisele by Bhisa kantisele in Kolese Village, Pasikolaga District, Muna Regency. Data collection is done by direct observation techniques and in-depth interviews. The data were analyzed descriptively qualitatively. Data analysis is intended to simplify the data so that it is more readable and understood. The results of this study show that, there are several characteristics of tisele that can be treated by kantisele bhisa which include pale, lack of appetite, insomnia, sudden shock, not sneezing the body feels cold during the day and feels constant fear and trembling body. There are several treatment processes for tisele which are carried out by Bhisa Kantisele, which detects patient\u27s disease, reads prayers (bhatata) on certain body parts, namely the soles of the feet, knees, center, neck, right ear, left ear, and crown, and recite prayers (bhatata) in a glass of water. The equipment uses corn cob media, water and prayers (bhatata). Bhisa kantisele in the community in Kolese Village is very trusted and has been proven to cure tisele. The villagers consider the tisele disease that they suffer can only be cured by bhisa kantisele and cannot be cured by medical treatment.Di Desa Kolese Kecamatana Pasikolaga Kabupaten Muna, ada sebuah pengobatan tradsional yang disebut masyarakat Bhisa kantisele yang menyembuhkan penyakit yang tidak dapat disembuhkan oleh pengobatan medis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab dan ciri-ciri penyakit tiseleserta mengetahui proses pengobatan penyakit tisele oleh Bhisa kantisele di Desa Kolese, Kecamatan Pasikolaga Kabupaten Muna. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik pengamatan langsung dan wawancara mendalam. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriftif kualitatif. Analisis data yang dimaksudkan untuk menyederhanakan data yang diperoleh agar lebih muda dibaca dan dipahami. Hasil penenlitian ini menunjukan bahwa, terdapat beberapa ciri-ciri penyakit tisele yang dapat diobati oleh bhisa kantisele yaitu diantaranya pucat, kurang nafsu makan, susah tidur, kaget secara tiba-tiba, tidak bersin tubuh terasa dingin pada siang hari serta merasa ketakutan yang terus menerus dan tubuh gemetar. Terdapat beberapa proses pengobatan penyakit tisele yang dilakukan oleh bhisa kantisele yaitudengan mendeteksi penyakit pasien, membacakan doa-doa (bhatata) pada bagian-bagian tubuh tertentu yaitu telapak kaki, lutut, pusat, leher, telinga kanan, telinga kiri, dan ubun-ubun, serta membacakan doa-doa (bhatata) dalam segelas air. Peralatan tersebut menggunakan media tongkol jagung, air serta doa-doa (bhatata). Bhisa kantisele pada masyarakat di Desa Kolese sangat dipercaya dan sudah terbukti bisa menyembuhkan penyakit tisele. Masyarakat Desa Kolese menganggap bahwa penyakit tisele yang mereka derita hanya dapat disembuhkan oleh bhisa kantisele dan tidak dapat disembuhkan oleh pengobatan medis
EKSISTENSI PEDAGANG EKONOMI KREATIF WARUNG MOBIL: Studi Tentang Antropologi Ekonomi di Kecamatan Baruga Kota Kendari
This study aims to find out and describe the existence of the creative economy of a food truck and the reproduction of the culture of a food truck business at a merchant shop in BarugaSubdistrict, Kendari City. The theory used is the theory of cultural reproduction and this research is ethnographic research, therefore data collection is carried out by observation techniques involved and in-depth interviews. The data obtained were analyzed descriptively qualitatively. Data analysis is intended to simplify the data obtained so that it is easier to read and understand. The results showed that the existence of a car shop in BarugaSubdistrict was divided into four parts, namely food traders, beverage traders (cold drink), vegetable traders, and fruit traders. In trading using cars, the traders and government individual relations are very closely related, where some government officials take advantage of the existence of this car stall business to make a profit. and the reproduction of the culture of a food truck business can occur because of seeing from the origin area, learning from friends, and seeing sellers who first use food truck.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan mengenai eksistensi ekonomi kreatif warung mobil dan reproduksi budaya usaha warung mobil pada pedagang warung mobil di Kecamatan Baruga Kota Kendari. Teori yang digunakan yaitu teori reproduksi budaya dan penelitian ini merupakan penelitian etnografi, oleh karena itu pengumpulan data dilakukan dengan teknik pengamatan terlibat (participation observation) dan wawancara mendalam (indepth interview). Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif. Analisis data dimaksud untuk menyederhanakan data yang diperoleh agar lebih mudah dibaca dan dipahami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksistensi warung mobil yang ada di Kecamatan Baruga terbagi atas empat bagian yaitu pedagang makanan, pedagang minuman (es), pedagang sayur-sayuran, dan pedagang buah-buahan. Dalam berdagang menggunakan mobil hubungan invidual pedagang dan pemerintah sangat erat kaitannya, dimana ada beberapa aparat pemerintahan yang memanfaatkan eksistensi usaha warung mobil ini untuk mendapatkan keuntungan. dan reproduksi budaya usaha warung mobil bisa terjadi karena melihat dari daerah asal, belajar dari teman, dan melihat penjual yang lebih dulu menggunakan warung mobil
POLANGU KOMATA: BANTAL PERMATA DALAM ADAT PERKAWINAN WALI (SARANO WALI) DI KELURAHAN WALI KECAMATAN BINONGKO KABUPATEN WAKATOBI
Polangu komata: bantal permata dalam adat perkawinan Wali (Sarano Wali) di Kelurahan Wali bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan makna simbol dari polangu komata (bantal permata) dalam adat perkawinan Wali (Sarano Wali) dan untuk mengetahui dinamika polangu komata dulu dan sekarang. Untuk menganalisis data dalam penelitian ini menggunakan teori simbol menurut Victor Turner. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode penelitian etnografi. Data diperoleh melalui pengamatan terlibat (participation observation) dan wawancara mendalam (indeepth interview). Hasil penelitian menunjukan bahwa makna simbol dari polangu komata dilihat dari lingkaran arah panah (benang emasnya), dimana lingkaran arah panah itu sendiri menyimbolkan manusia, kalau seperti polangu komata dari golongan bangsawan, lingkaran arah panahnya masuk di dalam (makna dari dalam itu menggambarkan dia “perempuan†dari dalam kerajaan yang harus dilindungi). Polangu komata untuk golongan siolimbona lingkaran arah panahnya keluar dari garis lingkaran, itu menyimbolkan dia perempuan dari luar kerajaanâ€. Sedangkan polangu komata ake (bentuknya persegi panjang), menyimbolkan perempuan benar-benar dari keturunan bangsawan. Adapun dinamika bantal permata yaitu, bantal permata paluala inunca dan ake yang warnah benang emasnya remang-remang (pudar), jenis bantal permata ini diperuntukan bagi golongan bangsawan yang sudah tidak terlalu kentara/diragukan status kebangsawannya. Namun sekarang masyarakat sudah tidak mempermasalahkannya lagi, bahkan untuk golongan bangsawan yang tidak diragukan dan golongan bangsawan yang masih diragukan sama-sama menggunakan bantal permata yang warnah benang emasnya terang
- …
