1,721,036 research outputs found
MODERASI BERAGAMA DALAM PERSPEKTIF SYAIFUL ARIF DAN URGENSINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM KONTEMPORER (Telaah Buku Islam, Pancasila dan Deradikalisasi)
ABSTRAK
Indonesia sebagai suatu negara telah menjadikan Pancasila sebagai dasar
negara. Disamping Pancasila sebagai dasar negara, terdapat ajaran Agama yang
sejalan dengan Pancasila. Agama yang mengajarkan kedamaian dan menegakkan
keadilan yaitu Agama yang Moderat. Akhir-akhir ini kemoderatan agama yang
membawa panji kedamayan sering dirusak dengan maraknya peristiwa radikal
yang mengatas namakan agama dan ingin merubah Pancasila dengan syariat
Islam. Lebih menyedihkan lagi, realitas di beberapa sekolah masih belum
menanamkan nilai-nilai moderasi dalam proses pembelajarannya sehingga
pemahaman mereka terhadap agama masih terpengaruh kearah radikal. Situasi ini,
membuktikan bahwa Pendidikan Moderasi Beragama masih belum diterapkan
secara maksimal. Berdasarkan permasalahan tersebut maka, penulis tuangkan
dalam suatu judul Moderasi Beragama Dalam Perspektif Syaiful Arif dan
Urgensinya Terhadap Pendidikan Islam Kontemporer (Telaah Buku Islam,
Pancasila, dan Deradikalisasi). Rumusan masalah penelitian ini: Pertama,
Bagaimana pemikiran Syaiful Arif tentang moderasi beragama? Kedua,
Bagaimana urgensinya pemikiran Syaiful Arif tentang moderasi beragama
Terhadap Pendidikan Islam Kontemporer? Tujuan penelitian untuk mengetahui
Moderasi agama dengan pendekatan Pancasila dalam pandangan Syaiful Arif dan
urgensinya terhadap pendidikan Islam kontemporer. Jenis penelitiaan, penelitian
kepustakaan. Metode penelitian ini, metode pengumpulan data. Selanjutnya
analisis data dengan pendekatan deskriptif dan analisis isi. Hasil pembahasan dan
analisis data dari peneliti ini yaitu, Moderasi beragama menurut Syaiful Arif
dalam menghadapi paham radikalisme dilakukan melalui pemaparan teori
toleransi kembar (twin toleration), yaitu memaparkan hubungan dimana agama
menoleransi negara sekaligus mendukungnya dan begitu juga sebaliknya. Bentuk
toleransi Agama terhadap Negara yaitu tidak menjadikan negara sebagai negara
agama, sehingga agama tidak secara langsung mengatur kenegaraan, tetapi
memasukan nilai keagamaan kedalam dasar negara. Bentuk toleransi negara
kepada agama, negara menghormati agama sebagai nilai yang memiliki ruang
tersendiri, yang berada di wilayah transendental manusia dan sosio-kultural. Dan
pembentukan otonomi negara dari agama, yang dibarengi dengan kebijakan
memfasilitasi kehidupan beragama dikalangan umat, dengan pembentukan
Kementrian Agama, pemberian bantuan kegiatan dan pendidikan agama, hingga
pembentukan Forum Kerukunan Umat Beragama. Dan dari segi Aqidah, Sari’ah,
Akhlaq dan Ibadah Pancasila tidak bertentangan dengan agama. Moderasi
beragama berdasrkan Pemikiran Syaiful Arif menimbulkan urgensinya terhadap
Pendidikan Islam Kontemporer untuk menanamkan moderasi agama dalam
Pendidikan Agama Islam, pertama, konsep pemerintah dalam menentukan
kebijakan bahwa moderasi beragama sebagai tujuan pendidikan agama Islam,
kedua, penyampaiyan nilai moderasi beragama yang terkandung didalam hidden
curriculum dan formulasi moderasi beragama didalam kurikulum itu sendiri,
ketiga, Pendidik profesional yang moderat.
Kata kunci : Moderasi Beragama, Syaiful Arif, Pendidikan Agama Isla
Pemikiran Humanisme KH. Abdurrahman Wahid Dan Relevansinya Dengan Pendidikan Islam: Studi Atas Karya Syaiful Arif Humanisme Gus Dur
ABSTRAK
Saputra,Depri Fija . 2022. Pemikiran Humanisme KH. Abdurrahman Wahid dan Relevansinya dengan Pendidikan Islam Studi Atas Karya Syaiful Arif Humanisme Gus Dur. Skripsi. Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Institut Agama Islam Negeri Ponorogo. Pembimbing: Dr. Mambaul Ngadhimah.M.Ag.
Kata Kunci: Humanisme, KH. Abdurrahman Wahid, Pendidikan Islam.
Humanisme merupakan paham yang mempunyai tujuan menumbuhkan rasa perikemanusiaan dan bercita-cita untuk menciptakan pergaulan hidup manusia yang lebih baik. Namun pada saat ini banyak berbagai konflik kemanusiaan yang dilatar belakangi berbagai perbedaan seperti agama, suku, dan budaya, yang menyebabkan ketidakadilan dan keharmonisan antar sesama umat manusia. Salah satu tokoh yang lekat dengan pemikiran humanisme di Indonesia adalah KH. Abdurrahman Wahid. Humanisme menjadi salah satu wacana yang menjadi perhatian bagi pemikiran Beliau. Bagaimanakah pemikiran humanisme KH.Abdurrahman Wahid dalam studi karya Syaiful Arif Humanisme Gus Dur, sesuatu hal yang menarik untuk diteliti.
Adapun rumusan masalah dalam penelitian adalah: (1) Bagaimana Pemikiran Humanisme KH. Abdurrahman dalam Studi Atas Karya Syaiful Arif Humanisme Gus Dur?, (2) Bagaimana Relevansi Pemikiran Humanisme KH. Abdurrahman Wahid dengan Pendidikan Islam?.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kajian pustaka (Library Research) yaitu dengan menelaah dan membaca bahan-bahan pustaka seperti buku-buku atau dokumen-dokumen, dengan teknik pengumpulan data yang meliputi dokumentasi dan studi pustaka. Sedangkan teknik analisis datanya menggunakan teknik analisis isi (content analysis) yaitu melakukan himpunan dan analisis terhadap dokumen-dokumen yang resmi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pertama, Maksud dari humanisme Gus Dur adalah pemuliaan Gus Dur atas martabat manusia yang tinggi, khususnya dihadapan Tuhan, dan oleh karena itu manusia harus dimuliakan. Terdapat beberapa pemikiran humanisme Gus Dur yaitu, kemanusiaan, Ketauhidan, Etika sosial, Modernisasi, Keadilan. Kedua, relevansinya dengan pendidikan Islam yaitu, (1) Salah satu bukti berhasilnya sebuah proses pendidikan adalah kemanusiaan, yakni manusia yang senantiasa mengagungkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusian. (2) Keyakinan tauhid dan ketaatan kepada syariat merupakan buah keberhasilan dari proses pendidikan Islam yang akan mewujudkan kecintaan kepada sesama manusia. (3) Etika sosial berguna dalam dunia pendidikan Islam saat ini khususnya kepada anak yang perlu pendidikan etika sosial sejak dini terutama akhlak sosial. (4) Kebebasan berpikir dan tidak kolot terhadap semua pengetahuan termasuk pemikiran dari Barat, diharapkan mampu menjadi sebuah referensi pada setiap proses pengetahuan Islam yang akan membawa pada kemajuan. (5) keadilan dan persaudaraan setiap muslim satu dengan muslim lainnya adalah laksana satu bangunan yang tidak dapat diruntuhkan
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
