1,720,999 research outputs found

    Hubungan Jenis Kelamin Dan Ukuran Lesi Terhadap Pembentukan Dental Granuloma Dan Kista Radikular

    No full text
    Penelitian Ini Merupakan Observasional Yang Dilakukan Di Laboratorium Patologi Anatomi Fkg Unej Pada Bulan Juli-Agustus 2006. Semua Sampel Yang Diperoleh Dari Laboratorium Bedah Mulut Rsgm Fkg Unej Berjumlah 19. Kemudian Dilanjutkan Dengan Pembuatan Preparat. Preparat-Preparat Tersebut Di Amati Di Bawah Mikroskop Bias Di Indetifikasi Sebagai Dental Gramuloma Dan Kista Radicular

    PENGARUH PERASAAN BAWANG PUTIHBAWANG PUTIH (Allium saSativum) ) 50% TERHADAP JUMLAH LIMFOSIT DAN MAKROFAG PASCA INSISI FLAP GINGIVA PADA BINATANG MARMUT (Ca via cobaya)

    No full text
    Keradangan dapat terjadi akibat luka atau sayatan, sehingga dapat menyebabkan rusaknya pembuluh darah sehingga menyebabkan rusaknya jaringan. Invasi bakteri maupun mikroorganisme ke jaringan luka perlu dihambat hahkan di hilangkan

    PENGARUH EKSTRAK THYMOQUINONE JINTAN HITAM (Nigella sativa) TERHADAP JUMLAH NEUTROFIL PADA SOKET TIKUS PASCA PENCABUTAN GIGI DISERTAI TRAUMA JARINGAN

    Full text link
    Ekstraksi gigi sering kali mengakibatkan komplikasi pasca pencabutan, salah satunya yaitu trauma jaringan. Penatalaksanaan trauma ekstraksi ini biasanya diberikan obat anti inflamasi non steroid. Namun obat ini mempunyai efek samping, sehingga banyak ahli mencari obat herbal sebagai alternatif pengobatan. Obat herbal yang sudah banyak diteliti yaitu jintan hitam yang mempunyai kandungan aktif thymoquinone. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak thymoquinone jintan hitam terhadap jumlah neutrofil pada soket tikus pasca pencabutan gigi disertai trauma jaringan. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratoris dengan rancangan Posttest Only Control Group Design. Penelitian dilaksanakan di laboratorium Biomedik bagian Fisiologi dan bagian Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember, pada bulan Januari-Februari 2015. Jumlah sampel yaitu 12 ekor tikus, yang kemudian dibagi menjadi 3 kelompok. Kelompok A sebagai kontrol negatif, kelompok B sebagai kontrol positif dan kelompok C sebagai kelompok perlakuan (ekstrak Thymoquinone). Tikus tersebut dilakukan pencabutan kemudian dilakukan pengeboran pada soketuntuk memperluas luka. Kemudian dilakukan pembuatan preparat pada soket tersebut dan dilakukan pewarnaan menggunakan Hematoksilin-Eosin. Neutrofil diamati dan dihitung pada gambaran histopatologi anatomi (HPA) yang diamati menggunakan mikroskop pembesaran 1000x. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil rata-rata jumlah neutrofil pada kelompok A (kontrol negatif) yaitu 32 neutrofil, kelompok B (kontrol positif) yaitu 23 neutrofil, kelompok C (kelompok perlakuan) yaitu 26,5 neutrofil. Hasil perhitungan rata-rata ini menunjukkan bahwa jumlah sel neutrofil pada kelompok B (kontrol positif) dan C (kelompok perlakuan) lebih sedikit daripada kelompok A (kontrol negatif), sedangkan pada kelompok C (kelompok perlakuan) lebih banyak daripada kelompok B (kontrol positif)

    EFEK PEMBERIAN EKSTRAK n-HEKSANA DAUN BINAHONG (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) TERHADAP PENYEMBUHANMIKROSKOPIS LUKA TIKUS DIABETES YANG DIINDUKSI ALOKSAN

    No full text
    Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Gejala DM adalah poliuria, polidipsia, danpenurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, ataukadar gula darah puasa adalah sebesar ≥ 126 mg/dldan kadar gula darah sewaktu ≥200 mg/dl.DM dengan karakteristik hiperglikemia yang tidak segera ditangani dapat menimbulkan resiko terjadinya gangguan vaskular yaitu berupa makroangiopati dan mikroangiopati. Makroangiopati yang terjadi pada kaki dapat menyebabkan timbulnya ulkus dan gangren diabetik. Ulkus diabetik merupakan luka infeksi, ulserasi, dan destruksi jaringan ikat dalam yang berhubungan dengan neuropati dan penyakit vaskuler perifer. Ulkus diabetik terjadi karena respons kekebalan tubuh pada penderita DM yang menurun. Pengetahuan pasien yang rendah mengenai pencegahan dan perawatan ulkus diabetik membuat ulkus bertambah parah dan menjadi gangren yang terinfeksi. Binahong(Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) merupakan salah satu tanamanobat yang secara empiris digunakan sebagai penyembuh luka. Penggunaannya masihsangat sederhana yaitu daun ditumbuk halus dan dioleskan pada bagian luka. Pengamatan secara makroskopik, daun binahong mampu menyembuhkan ulkus diabetik pada tikus yang diinduksi aloksan. Oleh karena itu, untuk lebih memberikan dasar bagi bukti manfaatnya, perlu dilakukan penelitian terhadap penyembuhan ulkus diabetik pada tikus yang diamati secara histopatologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak nheksana daun binahong dalam penyembuhan luka tikus jantan yang diinduksi aloksan dosis 150 mg/ kg bb secaraintraperitonial yang didasarkan pada histopatologi luka tikus. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris, menggunakan 25 ekor tikus yang dikelompokkan menjadi 5 kelompok dan masing-masing kelompok terdiri atas 5 ekor tikus. Kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif diberi salep mupirocin dosis 100 mg dan kelompok dosis ekstrak sebesar 100 mg, 200 mg dan 400 mg. Semua hewan uji diberi perlakuan selama 21 hari dan pada hari ke-21, tikus dikorbankan, kemudian dibedah dan diambil organ kulit untuk dibuat preparat histopatologi. Pengamatan yang dilakukan adalah pengamatan histopatologi luka diabetik dengan menggunakan prosentase skoring penyembuhan luka yang meliputi perubahan sel epitel, sel jaringan ikat, sel radang mononuklear dan kolagen. Data hasil skoring dianalisis dengan menggunakan Kruskall-Wallis dan dilanjutkan uji Mann-whitney dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil analisis Mann-whitneymenunjukkan perbedaan tingkat penyembuhan pada masing-masing kelompok secara statistik pada setiap parameter penyembuhan epitel yaitu terlihat adanya perbedaan bermakna antara kelompok dosis 200 mg dan kontrol positif dan antara kelompok kontrol positif dan kontrol negatif sedangkan pada parameter jaringan ikat juga terlihat adanya perbedaan yang bermakna antara seluruh kelompok perlakuan (dosis 100 mg, dosis 200 mg dan dosis 400 mg) dengan kontrol negatif tetapi tidak bermakna dengan kelompok kontrol positif. Sedangkan proses penyembuhan parameter infiltrasi limfosit terlihat perbedaan yang bermakna (kontrol negatif, dosis 100 mg, dan dosis 200 mgdengan kontrol positif dan tidak ada perbedaan yang bermakna pada kelompok perlakuan dosis 400 mg. Berdasarkan uji Mann-Whitney pada kelompok dosis menunjukkan dosis 100 mg dan 400 mg lebih baik dibandingkan dosis 200 mg. Kelompok dosis 400 mg ekstrak daun binahong memberikan penyembuhan luka yang sama dengan kelompok kontrolpositif dan memberikan penyembuhan yang lebih baik dibandingkan dengan kelompok dosis 100 mg dan 200 mg

    Letak dan jarak kanalis mandibola terhadap apseks gigi molor metiga rahang bawah

    No full text
    Letak dan jarak kanalis mandibola terhadap apeka gigimolar tiga bawah sangan berfariasi tergantung pada posisi gigi molor tiga bawah tgersebut

    Efek Ekstrak Thymoquinone Jintan Hitam Terhadap Proses Pembentukan Tulang Soket Gigi Pasca Ekstraksi pada Tikus yang Diinduksi Diabetes

    No full text
    Diabetes Mellitus (DM) ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah (KGD) atau hiperglikemia,dapat meningkatkan interaksi antara glukosa dengan molekul penyusun sel (protein, lemak). Interaksi ini menghasilkan produk modifikasi advanced glycation end products (AGEs) yang menyebabkan komplikasi pasca ekstraksi pada penderita DM. Terapi pencegahan dengan bahan sintetis memiliki efek samping sehingga terjadi peningkatan minat masyarakat terhadap terapi bahan alam. Jintan hitam (Nigella sativa L.) mengandung thymoquinone (Tq) yang bersifat antidiabetik serta dapat menginduksi aktivitas anabolik sel osteoblas secara in-vitro. Pemberian ekstrak Tq pada kondisi diabetes diduga efektif dalam proses pembentukan tulang soket gigi pasca ekstraksi. Penelitian eksperimental laboratoris pada tikus Wistar jantan ini menggunakan rancangan the post-test only control group. Sampel berjumlah 27 ekor, berat 150-260 gram, nilai KGD acak normal (<135 mg/dL) dan sehat. Induksi diabetes menggunakan streptozotocin (STZ) dosis 50 mg/kg BB tikus yang diinjeksi secara intravena di ekor. Tikus dengan KGD acak ≥ 250 mg/dL dikategorikan positif DM, dan dibagi menjadi kelompok P1 (ekstrak Tq; 80 mg/kg BB tikus), P2 (metformin; 100 mg/kg BB tikus) dan K (akuades). Tiap kelompok dibagi menjadi 3 subkelompok berdasarkan hari pengamatan yaitu hari ke-3, ke-7 dan ke-10 pasca viii ekstraksi (H-3, H-7 dan H-10); tiap subkelompok terdiri dari 3 sampel. Perlakuan diberikan secara intragastrik sejak hari ke-1 positif DM. Hari ke-7 pasca perlakuan, gigi molar kiri rahang bawah diekstraksi dan soket diperluas dengan contrangle lowspeed round bur no.1 (5000 rpm/2 s). Perlakuan dilanjutkan sampai tikus dieuthanasia dengan metode overinhalasi eter sesuai dengan pembagian harinya. Pengukuran KGD tikus dilakukan sebelum dan sesudah induksi DM, sebelum ekstraksi, dan sebelum dieuthanasia. Pemrosesan jaringan dilakukan dengan metode paraffin embedding. Jaringan dipotong secara vertikal dengan ketebalan 5 µm. Pewarnaan menggunakan metode Hematoxylin & Eosin dan Mallory’s Trichrome. Pengamatan dilakukan dengan pembesaran 40x dan 1000x pada 1/3 apikal soket untuk mengamati blood clot (BC), provisional matrix (PM), woven bone (WB)dan lamellar bone (LB). Data ditabulasi dalam bentuk persentase, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan nilai rerata KGD subkelompok P1 H-10 mencapai nilai terendah meskipun masih di atas normal. Hasil pengamatan gambaran HPA menunjukkan proses pembentukan tulang yang baik dan berkelanjutan pada kelompok P1 yang dilihat dari bentukan PM (100%) di H-3, WB (33,3%) di H-7 dan LB (100%) di H-10. Pada kelompok P2 terjadi keterlambatan proses pembentukan tulang yang dilihat dari bentukan BC (33,3%) di H-3 dan H-7, dan LB (33,3%). Pada kelompok K juga terjadi keterlambatan proses pembentukan tulang yang dilihat dari bentukan BC (33,3%) di H-3, WB (66,7%) di H-7 dan WB (33,3%) di H-10. Hasil ini menunjukkan proses pembentukan tulang yang lebih baik pada kelompok P1. Kesimpulan penelitian ini yaitu pemberian ekstrak Tq efektif dalam proses pembentukan tulang soket gigi pasca ekstraksi pada penderita diabetes melalui mekanisme penurunan KGD yang diduga melalui mekanisme regenerasi sel β pankreas serta menekan glukoneogenesis. Penurunan KGD diduga menurunkan produksi AGEs sehingga mencegah apoptosis osteoblas, serta pemberian Tq diduga mampu menginduksi aktivitas anabolik osteoblas

    EFEK EKSTRAK THYMOQUINONE JINTAN HITAM TERHADAP PROSES PEMBENTUKAN TULANG SOKET GIGI PASCA EKSTRAKSI PADA TIKUS YANG DIINDUKSI DIABETES

    Full text link
    Hasil penelitian menunjukkan nilai rerata KGD subkelompok P1 H-10 mencapai nilai terendah meskipun masih di atas normal. Hasil pengamatan gambaran HPA menunjukkan proses pembentukan tulang yang baik dan berkelanjutan pada kelompok P1 yang dilihat dari bentukan PM (100%) di H-3, WB (33,3%) di H-7 dan LB (100%) di H-10. Pada kelompok P2 terjadi keterlambatan proses pembentukan tulang yang dilihat dari bentukan BC (33,3%) di H-3 dan H-7, dan LB (33,3%). Pada kelompok K juga terjadi keterlambatan proses pembentukan tulang yang dilihat dari bentukan BC (33,3%) di H-3, WB (66,7%) di H-7 dan WB (33,3%) di H-10. Hasil ini menunjukkan proses pembentukan tulang yang lebih baik pada kelompok P1. Kesimpulan penelitian ini yaitu pemberian ekstrak thymoquinone jintan hitam efektif terhadap proses pembentukan tulang soket pasca ekstraksi gigi pada tikus yang diinduksi diabetes melalui mekanisme penurunan KGD yang diduga menurunkan produksi AGEs sehingga mengurangi interaksi AGEs-RAGEs, mencegah apoptosis sel osteoblas, serta menginduksi aktivitas anabolik sel osteoblas

    Efektivitas Ekstrak Thymoquinone Jintan Hitam terhadap Pembentukan Pembuluh Darah Baru (ANGIOGENESIS) Soket Gigi Pasca Ekstraksi pada Model Tikus Diabetes

    No full text
    Diabetes Melitus (DM) ditandai dengan peningkatan kadar gula darah (KGD) atau hiperglikemia, dapat meningkatkan interaksi antara glukosa dengan molekul penyusun sel tubuh (protein, lemak). Interaksi ini menghasilkan produk modifikasi advanced glycation end products (AGEs) yang menyebabkan perubahan fungsi sel dan jaringan sehingga terjadi komplikasi pasca ekstraksi pada penderita DM. Terapi pencegahan dengan bahan sintetis memiliki efek samping sehingga terjadi peningkatan minat masyarakat terhadap pengobatan tradisional dan herbal dengan memanfaatkan berbagai macam tanaman. Jintan hitam (Nigella sativa L.) mengandung Thymoquinone yang bersifat anti-diabetik dan dapat mempercepat pembentukan pembuluh darah baru (angiogenesis) secara in-vitro. Pemberian ekstrak Thymoquinone pada kondisi DM diduga efektif dalam proses pembentukan pembuluh darah baru soket gigi pasca ekstraksi. Penelitian eksperimental laboratoris pada tikus Wistar jantan ini menggunakan rancangan the post-test only control group design. Sampel berjumlah 27 ekor, berat 150-250 gram, nilai KGD acak (<135 mg/dL) dan sehat. Model tikus diabetes diperoleh dengan injeksi streptozotocin (STZ) secara intravena pada ekor tikus dengan dosis 50 mg/kg BB tikus. Tikus dengan KGD acak ≥ 250 mg/dL dikategorikan positif DM, dan dibagi menjadi kelompok perlakuan 1 (ekstrak Thymoquinone; 80 mg/kg BB tikus), perlakuan 2 (metformin; 100 mg/kg BB tikus) dan kontrol (aquadest). Tiap kelompok dibagi menjadi 3 subkelompok berdasarkan hari pengamatan yaitu hari ke-3, ke-7 dan ke-10 pasca ekstraksi (H-3, H-7 dan H-10); tiap subkelompok terdiri dari 3 sampel. Larutan perlakuan diberikan secara intragastrik sejak hari ke-1 positif DM. Hari ke-7 pasca perlakuan, gigi molar kiri rahang bawah diekstraksi dan soket diperluas dengan contra angle lowspeed round bur no.1 (5000 rpm/2 s). Perlakuan dilanjutkan sampai tikus dilakukan euthanasia dengan metode inhalasi eter sesuai dengan pembagian harinya. Pengukuran KGD tikus dilakukan sebelum dan sesudah induksi DM, sebelum ekstraksi dan sebelum euthanasia. Pemrosesan jaringan dilakukan dengan metode paraffin embedding. Jaringan dipotong secara vertikal dengan ketebalan 5 μm dan diwarnai dengan metode Hematoxylin & Eosin dan Immunohistokimia (IHC). Pengamatan dilakukan dengan perbesaran 40x dan 1000x pada 1/3 apikal soket gigi bagian mesial dan distal sebanyak 20 lapang pandang. Angiogenesis atau pembentukan pembuluh darah baru diamati melalui ekspresi VEGF (vascular endothelial growth factor). Jumlah ekspresi VEGF dihitung berdasarkan jumlah sitoplasma sel endotel dan monosit yang terwarnai coklat dan telah membentuk lumen. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata KGD kelompok Perlakuan 1 hari ke-10 mencapai nilai terendah meskipun masih diatas normal. Hasil pengamatan gambaran HPA menunjukkan rata-rata jumlah ekspresi VEGF soket gigi pasca ekstraksi terus mengalami peningkatan dari hari ke-3 hingga hari ke-7, namun mengalami penurunan pada hari ke-10. Hal ini terjadi pada semua kelompok yaitu kelompok kontrol, perlakuan 1 dan perlakuan 2. Peningkatan yang cukup drastis terjadi pada kelompok perlakuan 1 hari ke-3 hingga hari ke-7. Kesimpulan penelitian ini adalah pemberian ekstrak Thymoquinone jintan hitam efektif dapat meningkatkan pembentukan pembuluh darah baru (angiogenesis) melalui mekanisme penurunan KGD

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
    corecore