1,720,977 research outputs found

    Gambaran Skala Nyeri Pasca Odontektomi di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara Periode Februari-Maret 2017

    No full text
    Odontektomi merupakan salah satu jenis bedah minor yang paling sering dilakukan di dalam ilmu kedokteran gigi dan dilakukan apabila pencabutan dengan tang tidak memungkinkan, gagal atau apabila gigi impaksi. Pasca dilakukannya odontektomi, pasien akan merasakan nyeri. Nyeri bersifat subjektif, dimana persepsi nyeri antara satu pasien dan pasien lainnya akan berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran skala nyeri pasien pasca odontektomi di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan populasi seluruh pasien odontektomi di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara dari tanggal 6 Februari sampai dengan 6 Maret 2017. Penentuan sampel penelitian menggunakan teknik total sampling dimana seluruh populasi dijadikan sampel sebanyak 61 orang. Penelitian dilakukan dengan cara menanyakan rasa nyeri yang sedang dirasakan pasien pada saat kontrol hari ketujuh pasca odontektomi. Hasil penelitian menunjukkan 48% pasien merasakan nyeri sedang dan 52% pasien tidak merasakan nyeri pada hari ketujuh pasca odontektomi. Dari seluruh pasien yang merasakan nyeri, didapati hasil bahwa pasien wanita lebih banyak mengeluhkan rasa nyeri jika dibandingkan dengan pasien laki-laki. Pasien yang masih merasakan nyeri pada hari ketujuh mengaku bahwa mereka tidak berani membersihkan gigi sampai ke daerah bekas pencabutan sehingga terjadi penumpukan plak dan bakteri. Nyeri yang dirasakan pasien pada hari ketujuh pasca odontektomi diakibatkan oleh proses penyembuhan soket pencabutan yang tidak berjalan dengan semestinya sehingga rasa nyeri pun masih dapat dirasakan oleh pasien.61 HalamanSkripsi Sarjan

    Gambaran Pemberian Instruksi Pasca Ekstraksi oleh Dokter Gigi di Kota Medan

    No full text
    Ekstraksi merupakan suatu tindakan pembedahan yang melibatkan jaringan tulang dan jaringan lunak dari rongga mulut da merupakan indikasi dari sutu masalah yang dilakukan baik pada gigi yang bermasalah maupun gigi yang sehat dengan tujuan tertentu. Tindakan ekstraksi memerlukan sikap kooperatif dari pasien untuk mengikuti instruksi selama dan pasca tindakan dengan tujuna meningkatkan kepuasan dan mengurangi komplikasi. Instruksi pasca bedah yang diberikan kepada pasien dapat secara lisan maupun tulisan yang mudah dipahami dan dipatuhi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran instruksi oleh dokter gigi di praktek dokter gigi di Kota Medan dan mengetahui apakah instruksi yang diberikan sudah sesuai dengan yang harus diketahui oleh pasien. Ini merupakan penelitian deksripktif dengan metode survey. Metode yang digunakan dalam pemilihan sampel adalah secara Simple Random Sampling dimana menggunakan rumus dan pemilihan sampel yang dibutuhkan dipilih secara undian dengan jumlah 100 dokter gigi di Kota Medan. Pengumpulan data dilakukan dengan memberi kuestioner kepada dokter gigi di Kota Medan dan menanyakan langsung berdasarkan pertanyaan yang sudah di susun. Analisis data pada penelitian ini diperoleh dengan dihitung dalam benruk presentase. Penelitian ini menunjukkan hasil 100% pada pentingnya diberikan instruksi pasca ekstraksi oleh dokter gigi, 53% pada menggigit kasa sebagai instruksi yang tepat diberikan kepada pasien setelah dilakukan ekstraksi, 41% pada dry socket dan perdarahan sebagai komplikasi yang terjadi apabila instruksi tidak diberikan atau dijalankan pasien, 52% pada verbal dan nonverbal sebagai jenis instruksi yang diberikan kepada pasien, 52% jawaban ya pada pengkombinasian jenis pemberian instruksi kepada pasien, 57,69% alasan responden menggunakan pengkombinasian jenis instruksi kepada pasien. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar dokter gigi telah mengkombinasikan pemberian instruksi secara verbal dan nonverbal kepada pasien pasca ekstraksi.50 HalamanSkripsi Sarjan

    Gambaran Perilaku Masyarakat terhadap Pengobatan Gigi di Lingkungan 13 Kelurahan Binjai, Kecamatan Medan Denai, Kota Medan

    No full text
    Respon setiap individu di masyarakat dalam menanggapi sakit yang berasal dari gigi berbeda – beda, mulai dari membiarkannya saja, memperoleh pengobatan ke dokter gigi, sampai melakukan pengobatan sendiri. Sudah menjadi fakta umum bahwa pasien gigi sering melakukan pengobatan sendiri dengan obat-obatan yang dijual bebas untuk mengurangi rasa sakit. Namun, banyak pasien tidak menyadari berbagai kontraindikasi dan efek samping dari obat yang umum digunakan ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana gambaran perilaku masyarakat terhadap pengobatan gigi di Lingkungan 13 Kelurahan Binjai, Kecamatan Medan Denai, Kota Medan. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei deskriptif dengan menggunakan kuesioner yang dibagikan kepada 93 orang yang pernah mengalami nyeri gigi, terdiri dari 10 pertanyaan. Hasil penelitian ini mendapati bahwa mayoritas masyarakat Lingkungan 13 Kelurahan Binjai, Kecamatan Medan Denai, Kota Medan melakukan pencarian atau pengobatan sendiri dengan persentase sebesar 69,9%, kemudian mencari bantuan ke balai pengobatan dan tenaga profesional sebanyak 23,6%, dan tidak melakukan pengobatan apapun sebesar 6,4%. Banyak masyarakat yang memilih melakukan pengobatan sendiri karena disarankan oleh keluarga/saudara, biaya pengobatan yang relatif mahal, ataupun karena tidak sempat. Bahkan, sebesar 76,3% responden tidak mengetahui efek samping yang dapat terjadi dari pengobatan yang dilakukan.The response of each individual in society in responding to pain that comes from teeth is different, ranging from letting it go, getting treatment at the dentist, to doing self-medication. It is a common fact that dental patients often self-medicate with over-the-counter medications to reduce pain. However, many patients are not aware of the various contraindications and side effects of this commonly used drug. The purpose of this study was to find out how the community behaviour towards dental treatment in the 13th Binjai Sub-district, Medan Denai District, Medan City. This study was conducted using a descriptive survey method using a questionnaire distributed to 93 people who had experienced tooth pain, consisting of 10 questions. The results of this study found that the majority of the community of 13 Kelurahan Binjai, Medan Denai Subdistrict, Medan City did a search or self-medication with a percentage of 69.9%, then sought help from a medical centre and profesional staff as much as 23.65%, and did not take any treatment 6.45%. Many people choose to do self-treatment because it is recommended by family/relatives, the cost of treatment is relatively expensive, or because they do not have time. In fact, 76,3% of respondents did not know the side effects that could occur from the treatment they were taking.90 HalamanSkripsi Sarjan

    Efektivitas Gel Ekstrak Lidah Buaya (Aloe vera) 90% pada Penyembuhan Luka Soket Pasca Pencabutan Gigi Tikus Putih Galur Wistar (Rattus novergicus) Secara Hematoxilin Eosin (HE)

    No full text
    Tooth extraction is acommon treatment indentistry. In the process of wound healing, the main cells involve dare fibroblast. One of the herbal plants that played an important role in healing process is Aloe vera. The nutrition of Aloe vera helped the cells regeneration process, which can be used as anti-bacteria, anti-fungus, and anti-inflammation. So the main purpose of this study to discover the effectivness of aloe vera 90% extract gel on the closure of post extraction tooth socket wound.. This study is an experimental laboratory study with a post test only control group design research design. The left mandibular incicors of these wistar rats are extracted and then aloe vera 90% extract gel is applied to the wound to determine the closure of the wound either clinically or microscopically. The data is collected by measuring the diameter of the socket wound on the third and seventh day using caliper, and the distance of fibroblasts is measured microscopically. The results of the study were analyzed by the Kruskal-Wallis test on clinical data and ANOVA for microscopic This reasearch shows a significant result with p-value 0.005 (<0.05) on the closure of the socket wound clinically which means the closure of the wound accelerates because of the aloe vera 90% extract gel. The distance of fibroblasts microscopically shows a significant result with p-value 0.00 (<0.05), which means the distance of fibroblasts increases with application of aloe vera 90% extract gel. In conclusion, the aloe vera 90% extract gel accelerates the closure of the socket wound and increases the distance of the fibroblasts microscopically significantly.Penghitungan data dilakukan dengan metode Kruska-Wallis dan one way ANOVA. Penelitian ini menunjukkan hasil yang signifikan dengan p-value sebesar 0,005 (<0,05) pada penutupan luka secara klinis, yang berarti terdapat percepatan penutupan luka soket dengan perlakuan gel ekstrak lidah buaya 90% Hasil yang signifikan didapati pada jarak fibroblas secara mikroskopis dengan p-value sebesar 0,00 (<0,05) pada penutupan luka secara mikroskopis, yang berarti terdapat pertambahan jarak sel fibroblas dengan perlakuan gel ekstrak lidah buaya 90%. Kesimpulan penelitian ini adalah gel ekstrak lidah buaya 90% menunjukkan percepatan penutupan luka yang signifikan baik secara klinis maupun secara mikroskopis.82 HalamanSkripsi Sarjan

    Efektivitas Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera) Sebagai Antimikroba Terhadap Bakteri Streptococcus mutans

    No full text
    Streptococcus mutans merupakan salah satu flora normal yang hidup di rongga mulut, namun dalam jumlah yang berlebih dapat menjadi patogen. Streptococcus mutans dapat menjadi penyebab infeksi gigi karena bakteri ini dapat dengan cepat memetabolisme karbohidrat dan menghasilkan asam. Tanaman berperan sebagai sumber dari senyawa obat yang mempunyai peran dominan dalam memelihara kesehatan manusia sejak zaman dahulu. Salah satu tanaman yang memiliki khasiat antimikroba yaitu tanaman kelor (Moringa oleifera). Tanaman kelor (Moringa oleifera) merupakan salah satu jenis tanaman tropis yang banyak tumbuh di negara tropis seperti Indonesia.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas ekstrak daun kelor (Moringa oleifera) sebagai antimikroba terhadap bakteri Streptococcus mutans secara in vitro. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium dengan desain posttest only control group, dengan 5 konsentrasi yang berbeda yaitu 80%, 40%, 20%, 10%, dan 5%, Povidone iodine sebagai kontrol positif dan DMSO sebagai kontrol negatif, yang diulang sebanyak 4 kali. Uji antibakteri pada penelitian ini menggunakan uji difusi dengan metode Kirby-Bauer. Daya hambat diperoleh berdasarkan pengukuran zona hambat yang terbentuk di sekitar kertas cakram menggunakan jangka sorong. Analisis statistik yang dilakukan menggunakan uji Kruskall-Wallis karena data yang didapat tidak terdistribusi secara normal. Hasil penelitian ini adalah pada konsentrasi tertinggi yaitu 80% menghasilkan zona bening sebesar 15,875 mm, pada konsentrasi 40% menghasilkan zona bening sebesar 11,875 mm, pada konsentrasi 20% menghasilkan zona bening sebesar 10,25 mm, pada konsentrasi 10% menghasilkan zona bening sebesar 9,25 mm, sedangkan pada konsentrasi terendah yaitu 5% menghasilkan zona bening sebesar 7,25 mm. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ekstrak daun kelor efektif terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans.Streptococcus mutans is one of the normal flora that live in the oral cavity, but if it exceeds a certain limit, the bacteria can be pathogenic. Streptococcus mutans can be the cause of dental infections because it can rapidly metabolize carbohydrates and produce acids. Plants serve as a source of medicinal compounds that have a dominant role in maintaining human health since ancient times. One of plants that has antimicrobial efficacy is the moringa leaves (Moringa oleifera). The moringa leaves (Moringa oleifera) is one of tropical plants which many grow in tropical countries such as Indonesia. The purpose of this research is to know the effectiveness of moringa leaves extract (Moringa oleifera) as antimicrobial against Streptococcus mutans bacteria with in vitro. This research is a laboratory experimental research with post test only control group design, with 5 different concentrations of 80%, 40%, 20%, 10%, and 5% Povidone Iodine as positive control and DMSO as negative control, which is repeated 4 times. Antibacterial test on this study uses diffusion test with the Kirby-Bauer method. Inhibition obtained by measuring inhibition zone formed around the paper disc using a vernier caliper. The statistical analyzes were performed using the Kruskall-Wallis test because the data obtained is not distributed normally. The result of this study is at the highest concentration of 80% produces a clear zone of 15,875 mm, at a concentration of 40% produces a clear zone of 11.875 mm, at a concentration of 20% produces a clear zone of 10,25 mm, at a concentration of 10% produces a clear zone of 9,25 mm, while at the lowest concentration of 5% produces a clear zone of 7,25 mm. The conclusion of this study is the extract of moringa leaves is effective against the growth of Streptococcus mutans bacteria.88 HalamanSkripsi Sarjan

    Efektivitas Ekstrak Daun Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban) sebagai Antibakteri terhadap Bakteri Streptococcus Mutans

    No full text
    Kesehatan gigi dan mulut sangat penting dalam kehidupan manusia,jadi untuk menjaganya harus dilakukan tindakan pencegahan dan pengobatan untuk menghindari resiko terjadinya infeksi. Streptococcus mutans merupakan bakteri penyebab karies yang dapat berlanjut menjadi menjadi infeksi odontogenik. Tumbuhan pegagan merupakan tumbuhan yang memiliki bermacam khasiat diantaranya yaitu sebagai antibakteri. Dikarenakan pegagan mengandung berbagai senyawa aktif seperti triterpenoid, saponin, alkaloid dan tanin. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium dengan rancangan penelitian yaitu post test only control group design. Penelitian ini menggunakan metode difusi Kirby bauer dengan sampel bakteri yang digunakan adalah bakteri Streptococcus mutans dan menggunakan ekstrak daun pegagan (Centella asiatica (L.) Urban) dengan beberapa konsentrasi yaitu 5%, 10%, 20%, 40% dan kontrol negatif yaitu DMSO. Pada penelitian ini sampel bakteri dibiakkan pada media nutrient agar kemudian diinkubasikan selama 24 jam dan dihitung zona hambat yang terbentuk menggunakan jangka sorong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada konsentrasi 40%mempunyai rata-rata diameter zona hambat 9,18 mm dengan standard deviasi 0,23. Hasil data penelitian dianalisis dengan menggunakan uji oneway Annova dan uji pos hoc. Dari hasil penelitian menunjukkan perbedaan diameter zona hambat secara signifikan antara 5%, 10%, 20%, 40% dan kontrol negatif (p =0,000<0,05). Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun pegagan (Centella asiatica (L.) Urban) efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans pada konsentrasi 5%, 10%, 20% dan 40% dengan konsentarsi paling efektif adalah 40%.75 HalamanSkripsi Sarjan

    Uji Efektivitas Antiinlamasi Pasta Ekstrak Lidah Buaya (Aloe Vera L) pada Luka Soket Pasca Pencabutan Gigi Tikus Putih Galur Wistar Berdasarkan Jumlah Makrofag

    Full text link
    Wounds that occur due to tooth extraction and surgery will undergo a wound healing process. Wound healing stages are divided into 3 phases, namely inflammation, proliferation and remodeling. Inflammation is a protective mechanism of the body that seeks to neutralize and eradicate harmful agents in the injured area and prepares for tissue repair. Macrophages are the most dominant cells in inflammation with the highest number on the 3rd day and are distributed in most of the connective tissue. Aloe vera (Aloe vera L) is one of the herbal plants that can help the inflammatory process. This study aims to determine the anti-inflammatory effectiveness of aloe vera paste extract (Aloe vera L) with concentrations of 25%, 50%, and 75% on the number of macrophage cells in socket wounds after tooth extraction in Wistar white rats. The samples used were 48 rats that had been acclimatized and then the teeth of Wistar rats were extracted on the left incisor of the lower jaw then aloe vera paste extract (Aloe vera L) was applied with concentrations of 25%, 50% and 75% in the treatment group and basic paste administration. In the control group, tissue samples were taken using Hematoxylin Eosin (HE) examination to see the number of macrophage cells. Data processing was analyzed using the Shapiro Wilk test followed by a one way ANOVA test. The results showed that there was a significant average difference in the number of macrophages produced by each negative control group with basic paste administration and the treatment group with Aloe vera extract (p<0.05). The conclusion of this study is that aloe vera paste extract (Aloe vera L) with concentrations of 25%, 50%, and 75% has an anti-inflammatory effect on decreasing the number of macrophage cells in post-tooth extraction socket wounds. This research is a laboratory experimental study with a post test only control group research design.88 HalamanSkripsi Sarjan

    Uji Efektivitas Ekstrak Jintan Hitam Terhadap Pertumbuhan Staphilokokus Aureus Isolat Pus Infeksi Odontogenik

    No full text
    Odontogenic infection is the most common infection that manifest in oral cavity. One of the most bacteria that we can find in odontogenic infection isolation is staphylococcus aureus. Administration of antibiotics can use to overcome this infection. Unfortunately the mistakes of administration can cause resistance. This mistakes can proved by many research show the resistance of this antibiotics to againts this bacteria. So we need a new antibiotic product that have potential effect as an antibiotic and one of them from natural herbs. Nigella sativa is one of the natural herbs that kindly use as medicine in Middle East for centuries. Nigella sativa has many various benefits like antibacteria, antifungal, antioxidants, and analgesics. Timoquinon, dithimouinon, timol, and tanin has antibacterial power in many research. So the main purpose of this research is to know the effectiveness of antibacterial power in nigella sativa for inhibit staphylococcus aureus growth. This research is the experimental laboratory research. Federer formula is used to count the number of samples that used and the results of sample calculations using this formula is 28 samples. This research starts with nigella sativa extract making that makes in 3 concentration, they are 50%,75%, and 100%. Then followed by growth antimicrobial test with disc diffusion technique. Data collection is done with measuring the inhibition zone with calipers by researcher. This research shows the averages inhibition zone in 50% is 6,08±0,48 cm. Then in 75%, the averages inhibition zone is 6,65±1,07 cm. Then in the highest concentration in this research, the average inhibition zone is 9,47±0,88 cm. Based on statistical test results, showed nigella sativa extracts can inhibit the growth of staphylococcus aureus bacteria isolates odontogenic infection pus.Infeksi odontogenik adalah salah satu infeksi yang paling umum terjadi di rongga mulut. Salah satu bakteri yang dominan yang sering ditemukan dalam isolasi infeksi odontogenik adalah staphilokokus aureus. Pemberian antibiotik dapat digunakan untuk mengatasi infeksi ini. Tetapi karena pemberian antibiotik yang tidak sesuai, sehingga sering menimbulkan resistensi. Hal ini dapat dibuktikan selama beberapa tahun terakhir, banyak dilaporkan adanya resistensi obat terhadap bakteri ini. Sehingga diperlukan produk antibiotika baru yang memiliki potensi sebagai antibiotika salah satunya dari tanaman herbal. Jintan hitam merupakan salah satu bahan alami yang banyak digunakan sebagai obat selama berabad-abad di Timur Tengah. Jintan hitam memiliki berbagai macam khasiat seperti antibakteri, anti jamur, antioksidan dan analgesik. Timokuinon, dithimouinon, timol serta tanin diketahui memiliki daya antibakteri. Sehingga tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas daya antibakteri ekstrak jintan hitam dalam menghambat pertumbuhan bakteri staphilokokus aureus. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium. Cara perhitungan besar sampel dengan menggunakan rumus Federer dan hasil perhitungan besar sampel sebanyak 28 buah. Penelitian dimulai dengan pembuatan ekstrak jintan hitam yang dibuat ke dalam 3 konsenrasi yaitu 50%,75% dan 100%. Kemudian diikuti dengan uji pertumbuhan antimikroba dengan teknik difusi cakram. Pengumpulan data dilakukan dengan pengukuran diameter zona hambat dengan jangka sorong oleh peneliti. Hasil penelitian menunjukkan pada konsentrasi 50%, nilai rata-rata zona hambat yang didapatkan sebesar 6,08±0,48 cm. Kemudian pada konsentrasi 75%, didapatkan hasil nilai rata-rata zona hambat sebesar 6,65±1,07 cm. Lalu, pada konsentrasi tertinggi pada penelitian ini, didapat nilai rata-rata sebesar 9,47±0,88 cm. Berdasarkan hasil uji statistik, menunjukkan ekstrak jintan hitam efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri staphilokokus aureus isolat pus infeksi odontogenik.Skripsi Sarjan

    Perbandingan Waktu Penyembuhan Luka Pasca Odontektomi dengan Menggunakan Benang Silk dan Catgut di Rumah Sakit Umum Daerah Pirngadi Medan

    No full text
    There are many types of surgical sutures that can be used in an odontectomy procedure. Each suture can be distinguished based on tensile strength, absorption properties, bacterial adhesion, type of filament, base material, and others. The two sutures that are often used in Indonesia are silk and catgut. The type of research used was non-laboratory experimental by examining wound healing time on odontectomy patients at Pirngadi Hospital from May to June 2018. Wound healing scores was assessed on the first and seventh days post odotectomy by seeing signs of inflammation. Each sign of inflammation obtained will be given a score of 1 so that the accumulation of scores becomes the researcher's assessment of the suture under study. The number of patients studied was 30 people in which 15 people used silk and 15 people used catgut. Data analysis in this study used the Mann-Whitney test. The results of this study were that there was no significant relationship (p> 0.05) between wound healing time and suture type on the first day after odontectomy. On the seventh day, it was found that there was a significant relationship (p <0.05) between wound healing time and suture type. On the seventh day, silk had a wound healing time score of 1.40 ± 0.507 while catgut had a score of 1.07 ± 0.258. Thus, catgut has a better wound healing time than silk.Ada banyak jenis benang bedah yang dapat dipakai dalam prosedur odontektomi. Setiap benang dapat dibedakan berdasarkan tensile strength, sifat penyerapan, perlekatan bakteri, jenis filamen, bahan dasar, dan lain-lain. Dua benang bedah yang sering digunakan di Indonesia adalah benang silk dan benang catgut. Jenis penelitian ini adalah eksperimental non-laboratorium yaitu dengan meneliti waktu penyembuhan luka pada pasien odontektomi di RSUD Pirngadi dari bulan Mei sampai Juni 2018. Penilaian skor penyembuhan luka dinilai pada hari pertama dan hari ketujuh pasca odotektomi dengan melihat tanda-tanda inflamasi. Setiap tanda inflamasi yang didapatkan akan diberikan skor 1 sehingga akumulasi skor menjadi penilaian peneliti terhadap benang yang diteliti. Jumlah pasien yang diteliti adalah 30 orang dimana 15 orang menggunakan benang silk dan 15 orang menggunakan benang catgut. Analisis data pada penelitian ini menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil dari penelitian ini adalah tidak ada hubungan yang signifikan (p>0,05) antara waktu penyembuhan luka terhadap jenis benang pada hari pertama pasca odontektomi. Pada hari ketujuh, didapatkan bahwa ada hubungan yang signifikan (p<0,05) antara waktu penyembuhan luka terhadap jenis benang. Pada hari ketujuh, benang silk memiliki skor waktu penyembuhan luka 1,40±0,507 sementara benang catgut memiliki skor 1,07±0,258. Dengan demikian, benang catgut memiliki waktu penyembuhan luka yang lebih baik daripada benang silk.Skripsi Sarjan

    Inhibitory Test of Salak Fruit Extract (Salacca sumatrana Becc) Against the Growth of Staphylococcus Aureus Bacteria.

    No full text
    Staphylococcus aureus is a gram positive bacterium, facultative anaerobe, which plays a role in bacterial virulence and is the most common bacteria isolated in odontogenic infections. The use of antibiotics with surgery (surgical therapy) is a treatment in odontogenic infections. There is an increase in resistance to the use of antibiotics, so alternative therapies are needed with minimal side effects from medicinal plants, one of which is salak fruit which has also been consumed to treat diarrhea by people in Indonesia. Antimicrobial active compounds in salak fruit are alkaloids, tannins, and flavonoids. The purpose of the study was to determine the inhibitory power of salak fruit extract against Staphylococcus aureus bacteria in vitro. This type of research is a laboratory experiment with a post test only control group design. The concentration of salak fruit extract tested was 20%, 40%, 60% 80% with positive control (Amoxicillin), and negative control (DMSO) four repetitions. Antibacterial effectiveness test using Kirby-baurer disc diffusion method. The results of data analysis using ANOVA showed a p-value of 0.00 on the inhibitory power, which means that the salak fruit extract can inhibit the growth of Staphylococcus aureus. The average inhibition zone produced was 10.25 mm at a concentration of 20%, 10.67 mm at a concentration of 40%, 10.90 mm at a concentration of 60%, 11.52 mm at a concentration of 60%, 22.10 mm at a concentration of 80 %. The conclusion of this research isthat the extract ofsalak fruit can inhibit the growth of Staphylococcus aureus bacteria.86 PagesSkripsi Sarjan
    corecore