1,720,965 research outputs found

    Pengaruh Lingkungan Aktivitas Produksi Aspal Hotmix terhadap Syndrome Infeksi Saluran Pernapasan Akut (Ispa) pada Pekerja dan Penduduk di Kawasan Pelabuhan Balohan Sabang Tahun 2011

    No full text
    ABSTRACT Acute respiratory disease is the most important health problem in Indonesia with the proportion of death rate of 3.8%. From the preliminary survey conducted to the hot mix asphalt workers and the residence at Sabang harbor area, it was found out that many of them were affected by respiratory infection. In 2010 the ISPA incidents at Balohan Sabang harbor were 2424 cases. The aim of the research was to analyze the influence of the activity of the hot mix asphalt factory on the workers affected by Acute Respiratory syndrome: temperature, moisture, dust content, PPE (Personal Protection Equipment), and on the residents: temperature, moisture, dust content, and the distance between their residences and the factories at Balohan Sabang era. The research used a survey method with cross sectional design. It was conducted from January, 2010 until January, 2012. The population was all workers at the hot mix asphalt factory and the residents at Balohan Sabang harbor. 30 Workers and 74 residents were used as the samples. The data were analyzed by using logistic regression test at α = 0.05. The results of the research showed that temperature, moisture, dust content, PPE, and the distance between the residences and the factory, and the residents influenced incident the Acute Respiratory syndrome. The most dominant variable was the dust concentration on the Acute Respiratory syndrome. It is recommended that the management of the factory should socialize Occouptional of health and apply the law on Occouptional of health and safety. The government should control Occouptional of health and safety tightly in factory, conduct health counseling and the prevention from dust content to the residents. It is also recommended that the residents should independently improve their health standard. Keywords: Environment, Acute Respiratory SyndromeABSTRAK Penyakit ISPA masih merupakan masalah kesehatan yang penting di Indonesia dengan proporsi kematian 3,8%. Dari survei pendahuluan yang dilakukan pada pekerja aspal hotmix dan penduduk di kawasan pelabuhan Sabang banyak yang mengalami keluhan gangguan pernapasan. Pada tahun 2010 kasus ISPA di kawasan pelabuhan balohan sabang sebesar 2424 kasus. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh lingkungan aktivitas produksi aspal hotmix terhadap syndrome ISPA pada pekerja yaitu: suhu, kelembaban, kadar debu, APD dan pada penduduk yaitu: suhu, kelembaban, kadar debu, jarak rumah dengan industri di kawasan Balohan Sabang. menggunakan metode survei dengan desain Cross Sectional. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2011 – Januari 2012. Populasi dalam penelitian ini adalah pekerja industri aspal hotmix dan penduduk di kawasan pelabuhan Balohan Sabang. Sampel terpilih adalah pekerja sebanyak 30 orang dan penduduk sebanyak 74 orang. Analisis data dengan menggunakan regresi logitik pada α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh suhu, kelembaban, kadar debu, APD, jarak rumah dengan industri pada pekerja dan penduduk terhadap syndrome ISPA. Variabel paling dominan adalah konsentrasi debu terhadap syndrome ISPA. Diharapkan bagi perusahaan agar diupayakan sosialisasi tentang kesehatan kerja dan menerapkan UU tentang keselamatan kerja. Bagi pemerintah diharapkan melakukan pengawasan melekat tentang kesehatan dan keselamatan kerja di perusahaan, melakukan penyuluhan kesehatan dan pencegahan paparan debu terhadap lingkungan pemukiman. Bagi masyarakat agar berupaya secara mandiri meningkatkan derajat kesehatan. Kata Kunci: Lingkungan, Syndrome ISPA107 HalamanTesis Magiste

    Pengaruh Iklan Rokok di Televisi terhadap Perilaku Merokok Siswa SMP di SMP Swasta Dharma Bakti Medan Tahun 2011

    No full text
    There were 3 million teenagers who smoke in Indonesia in 1997, 20% of them were junior high school students, and the active smokers of junior high school students were increasing around 30% in 2000 (Irdan,2008). At SMP Swasta Dharma Bakti Medan was found around 5-10% students smoked outside the school. The result is aimed to analyze the influence of cigarette advertisement on television on the Students’ Smoking Behavior at SMP Swasta Dharma Bakti Medan . The type of this research was analytic survey. The population of the research were the entire students at SMP Swasta Dharma Bakti, around 200 people. The amount of the sample 100 people were taken by Simple Random Sampling. The data were collected by questioner, interview and documentation . The data analysis used the multiple linear regression The result of the research showed that the cigarette advertisement influence on the students’ smoking behavior at SMP Swasta Dharma Bakti Medan. It is needed an active role of medical advisor teams to promote the influence of the cigarette to the health in period in the school to prevent the increasing of the smoking behavior of the junior high school students.Sebanyak 3 juta remaja yang merokok di Indonesia tahun 1997, 20% di antaranya anak SMP dan tahun 2000 anak SMP perokok aktif meningkat sekitar 30% (Irdan, 2008). Di SMP Dharma Bakti Medan ditemukan sekitar 5-10% siswa yang merokok di luar lingkungan sekolah. Penelitian bertujuan untuk menganalisis Pengaruh Iklan Rokok di Televisi terhadap Perilaku Merokok Siswa SMP di SMP Swasta Dharma Bakti Medan. Jenis penelitian survey analitik dengan populasi penelitian adalah seluruh siswa SMP Dharma Bakti sebanyak 200 orang. Jumlah sampel sebanyak 100 orang diambil secara acak sederhana (Simple Random Sampling). Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklan rokok berpengaruh terhadap perilaku merokok siswa SMP di SMP Swasta Dharma Bakti Medan. Perlu peran aktif penyuluh kesehatan mempromosikan tentang dampak rokok terhadap kesehatan secara berkala di sekolah-sekolah untuk mencegah meningkatnya perilaku merokok siswa SMP.87 HalamanTesis Magiste

    Gambaran Simtom Ansietas dan Depresi pada Pasien Penyakit Paru Ostruktif Kronik (PPOK) di SMF Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi RSUP H. ADAM MALIK MEDAN dan BP4 MEDAN

    No full text
    Latar belakang: Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) adalah penyakit paru yang berat dengan pengobatan yang lama dengan berbagai dampak pasien pada kondisi fisik secara umum, fungsi, dan kualitas hidupnya. Hubungan antara gangguan PPOK dan kejiwaan, khususnya dalam kecemasan, panik, dan depresi, telah diketahui selama bertahun-tahun. Data Badan Kesehatan Dunia, menunjukkan tahun 1990 PPOK menempati urutan ke-6 sebagai penyebab utama kematian di dunia dan akan menempati urutan ke-3 setelah penyakit kardiovaskuler dan kanker. Berdasarkan penelitian Dowson dan kawan-kawan didapatkan bahwa 50% ansietas dan 28% Depresi dari 72 sampel dari pasien PPOK. Metode: penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan cross sectional study, teknik pengambilan sampel dengan menggunakan teknik non probability sampling jenis consecutive sampling. Tempat penelitian: Poliklinik di Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi RSUP.H. Adam Malik Medan dan BP4 Medan Waktu penelitian: Januari 2012 sampai April 2012. Setiap pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi diikutsertakan dalam penelitian kemudian dilakukan pemeriksaan spirometri untuk mengetahui tingkat keparahan PPOKnya. Penilaian simtom ansietas dan depresi dilakukan dengan menggunakan kuesioner Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS). Hasil: Berdasarkan karakteristik demografik simtom ansietas dan depresi yang terbanyak adalah laki-laki sebanyak 77 orang (79,4%), umur 55-64 tahun sebanyak 35 orang (36,1%), bekerja sebanyak 58 orang (59,7%), pendidikan SMA 49 orang (50,5), yang kawin 87 orang (89,7%), suku batak sebanyak 45 orang (46,4), dan bertempat tinggal di medan sebanyak 73 orang (75,3). Dari hasil penelitian berdasarkan tingkat keparahan memperlihatkan bahwa pada pasien PPOK paling banyak dijumpai simtom ansietas dan simtom depresi. Pada tingkat keparahan sedang terbanyak dijumpai simtom ansietas yaitu 12 orang (37,5%). Dan pada tingkat keparahan berat dijumpai simtom depresif yaitu 12 orang (52,2%), Kesimpulan: Dari hasil penelitian berdasarkan tingkat keparahan sedang terbanyak dijumpai simtom ansietas dan pada tingkat keparahan berat memperlihatkan bahwa pada pasien PPOK paling banyak dijumpai simtom simtom depresi. Kata kunci: PPOK, Simtom ansietas dan depresi, Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS).66 HalamanTesis Magiste

    Profil Kadar Carcinoembryogenic Antigen (CEA) dalam Darah pada Penderita Karsinoma Paru Bukan Sel Kecil (KPKBSK) di RSUP Haji Adam Malik Medan

    No full text
    Objektif : Untuk memperoleh karakteristik kadar CEA serum pada penderita kanker paru bukan sel kecil di Rumah Sakil H. Adam Malik Medan. Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif tentang karakteristik kadar Carcinoembriogenic Antigen (CEA) pada penderita kanker paru karsinoma paru bukan sel kecil dengan pendekatan retrospektif dengan data diambil dari data sekunder (rekam medis). Hasil: Dari 767 orang penderita kanker paru yang dirawat di RA3 RSUP H.Adam Malik Medan periode Januari 2010 - Mei 2011, yang memenuhi kriteria inklusi yaitu data penderita kanker yang telah didiagnosis secara definitif (sitologi/histopatologi). Pada penderita kanker paru sekitar 85.62% laki-laki, 38.32% berusia 51 - 60 tahun dan 90.41% perokok. Riwayat pekerjaan yang paling banyak adalah petani sekitar 37.12%, Suku / Ras terbanyak adalah Batak 49.1%. Keluhan utama terbanyak sesak napas 43.71%, Jenis sitologi / histopatologi terbanyak ditemukan adenokarsinoma didapati sebanyak 56.8% dan 54.8 % ditemukan pada stadium IIIB. Kadar CEA lebih dari 3 ng/ml meningkat sekitar 63.4% pada penderita KPKBSK. Terdapat perbedaan bermakna antara peningkatan kadar CEA serum dengan jenis sitologi / histopatologi pada penderita kanker paru karsinoma paru bukan sel kecil h : 0.048), chi square test. Kesimpulan : Dari hasil penelitian ini terdapat perbedaan bermakna antara peningkatan kadar CEA serum dengan jenis sitologi / histopatologi pada penderita kanker paru karsinoma paru bukan sel kecil.84 HalamanTesis Magiste

    Model Perilaku Adherensi (Adherence) Pengobatan dan Kaitannya Dengan Kualitas Hidup Pasien Asma di Kota Medan

    No full text
    Asthma is an airway chronic disease that is due to inflammatory process. It is considered as a worldwide serious health problem. Asthma problems are often linked to treatment management factors which include non-maximal behaviours of the patients and doctors. Bauman (2005) produced a concept of adherence to treatment as an accurate breakthrough for asthma management. Adherence is defined as the patient adhering behaviour towards the doctor’s advices accompanied with a such understanding of the disease aspects related to the disease management/treatment, so that the patients adhere their doctor's advice consistently. The adherence concept emphasizes on a strong commitment between physicians and patients to achieve maximum behaviour towards the treatment. Good adherence of patients with asthma will improve the lung function and their quality of life. This is in accordance to the goal of asthma management itself, a controlled asthma. The purpose of this study was to construct a model of adherence to treatment of patients with asthma and its association with the quality of life. In addition, this study also aimed to set a valid and reliable adherence and the quality of life measurement tool that might be applied to patients with asthma, particularly those who live in Medan. The study utilized qualitative and quantitative approach as the methodology. The qualitative approach was conducted to develop research instruments in which the patient, specialists, general practitioners, and pharmacologists as the source of information. The quantitative research employed a cross sectional approach. The samples were 200 adult patients with asthma who receive standard asthma medications, patients with stable condition and do not suffer from severe asthma or other comorbidities such as heart disease, hypertension, diabetes mellitus, liver and kidney disease. The study performed a consecutive sampling as the technique which was obtained from physicians’ data (general/lung specialist). Data were analyzed by performing univariate, bivariate and multivariate analysis, through SEM analysis (Structural Equation Modelling). As the result, the study produced a measurement model of asthma patients adherence to the treatment among those who live in Medan. The study found that the asthma patients who live in Medan have a good psychometric values (valid, reliable and fit to model): adherence I (beliefs, knowledge, and attitudes), adherence II (doctor-patient communication, actions, family support), and the quality of life (activity, emotional, physical, and environmental,). It is concluded that there is an association between adherence and quality of life among patients with asthma in Medan.Asma adalah penyakit kronis saluran napas yang didasari oleh proses inflamasi dan merupakan masalah kesehatan yang serius di seluruh dunia. Permasalahan penyakit asma sering dikaitkan faktor penatalaksanaan dimana perilaku pengobatan dari pasien asma dan dokternya belum maksimal. Bauman (2005) mengeluarkan konsep adherensi (adherence) pengobatan sebagai terobosan yang tepat dalam penatalaksanaan asma. Adherensi adalah perilaku kepatuhan pasien terhadap anjuran dokternya, yang disertai pemahaman tentang seluk beluk penyakitnya berkaitan dengan penatalaksanaan penyakitnya, sehingga ia mengikuti anjuran dokter secara konsisten. Pada konsep adherensi ini ditekankan komitmen yang tinggi di antara dokter dan pasien dalam mencapai perilaku pengobatan yang maksimal. Adherensi pengobatan yang baik pada pasien asma akan meningkatkan fungsi paru dan kualitas hidup pasien asma, sesuai dengan tujuan penatalaksanaan asma, yaitu asma yang terkontrol. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan model adherensi pengobatan pasien asma dan kaitannya dengan kualitas hidup. Selain itu penelitian ini juga untuk mendapatkan alat ukur adherensi dan kualitas hidup yang valid dan reliabel pada pasien asma khususnya di kota Medan. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Penelitian kualitatif dilakukan untuk mengembangkan instrumen penelitian dengan sumber informasi dari pasien, dokter ahli, dokter umum, dan ahli farmakologi. Penelitian kuantitatif dilakukan dengan pendekatan crossecsional. Sampel adalah 200 pasien asma dewasa yang menggunakan obat asma standar, pasien asma stabil dan tidak menderita asma berat atau penyakit penyerta lainnya seperti penyakit jantung, hipertensi, diabetes melitus, hati dan ginjal. Teknik sampling adalah consecutive sampling data dokter praktek (umum/spesialis paru). Data dianalisis dengan menggunakan analisis univariat, bivariat dan multivariat yaitu analisis SEM (Structural Equation Modelling). Hasil penelitian pada penelitian ini adalah terbentuknya model pengukuran adherensi pengobatan pasien asma di kota Medan yang memiliki nilai psikometrik yang baik (valid, reliabel dan pemodelan fit), yaitu adherensi I (kepercayaan, pengetahuan, dan sikap), adherensi II (komunikasi dokter pasien, tindakan, dan dukungan keluarga), kualitas hidup (aktivitas, emosi, kesehatan, dan lingkungan). Ada hubungan adherensi dengan kualitas hidup pasien asma di Kota Medan.238 HalamanDisertasi Dokto

    Pemeriksaan Fungsi Paru dan Kajian Peran Dinas Kebersihan dalam Upaya Pencegahan Gangguan Kesehatan pada Pekerja Wanita Penyapu Jalan di Kota Medan 2002

    No full text
    The road cleaners in Medan City were exposed to air pollutant causing the pulmonary disorders. The objective of this research was to examine the pulmonary function and assessment of hygiene board role in prevention of health disorders. Cross sectional study was conducted to 38 workers who worked, more than four years, aged more than 20 years and never changed the work. Seven workers suffered (18%) with obstructive disorders, 9 workers (24%) with restrictive disorders and 10 workers (26%) with combination symptoms. No preventive action was taken by the municipal hygiene board such as the providing of personal protective equipments, training and education, and also periodical health inspection. A preventive model of health protection to the workers was recommended in order to increase the health status mainly the pulmonary health.Pekerja penyapu jalan di Kota Medan yang terpapar dengan pencemar udara akan mengakibatkan terganggunya fungsi paru. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan pemeriksaan fungsi paru dan kajian peran Dinas Kebersihan dalam upaya pencegahan gangguan kesehatan pada pekerja wanita penyapu jalan. Penelitian ini merupakan rancangan crosssectional terhadap 38 orang yang bekerja > 4 tahun, berusia diatas 20 tahun dan tidak .pernah berpindah kerja. Ditemukan 7 orang (18%) yang mengalami jenis gangguan obstruktif, 9 orang (24%) mengalami gangguan restriktif dan 10 orang (26%) yang mengalami jenis gangguan campuran. Belum terlihat adanya upaya pencegahan gangguan kesehatan dari Dinas Kebersihan, seperti disediakannya alat pelindung diri, pelatihan dan pendidikan, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala. Telah disarankan suatu konsep Model Intervensi yang diharapkan dapat meningkatkan derajat kesehatan pekerja tersebut terutama kesehatan paru-paru.105 HalamanTesis Magiste

    Konversi BTA pada Penderita TB Paru Kategori I yang Mendapat Terapi Intensif dengan Diabetes Mellitus Terkontrol dan Diabetes Mellitus Tidak Terkontrol

    No full text
    L ung TB is the biggest health problem in Indonesia. Indonesia reaches third level in a number of lung TB case China and India in estimate rate 583.000 new case/year with mortality rate about 140.000 patients. Some problem can happen to lung TB treatment. One of the diseases is DM as one of adheres disease the people above 15 years and when based on prevalence 1,5% so the minimal number of DM patient in Indonesia in 2000 is estimated 4 million and in 2010 about 5 million patients. M o rbidity of infection is the most frequent happen to DM patient as a consequence of susceptibility to infection. The aim of study is to conversion of acid fast bacilli (BTA) to determine patient of lung TB with controlled and uncontrolled DM. The method of this research is experimental study. The patients sputum is taken with cough way then examined 3 times (SPS) using Ziehl Neelsen staining in the beginning of research and 8th week (intensive phase). The patient which has diagnosed in lung TB, then examined Blood sugar degree (KGD) fasting KGD and post prandial KGD if the patient has indicated of clinical DM. Value of post prandial KGD >=200 mg/dl diagnose of patient with DM.To disnguish the patient with controlled and uncontrolled DM by taking the average of KGD fasting and bed time KGD. DM controlled if the result of fasting KGD 5,0-7,2 mmol/l (90-130 mg/dl) and the average Bed Time KGD 6.1-8.3 mmol/l (110-150 mg/dl). This result is consisten reach the level Hba 1C , 7 mg%. T he result is from 46 samples which fulfill the research criteria, 35 patient s(76,1%) lung TB with controlled DM and 11 patients (23,9%) lung TB with uncontrolled DM. There is difference meaning of conversion acid fast bacilli in beginning and 8th week of acid fast bacilli (the last) in lung TB with controlled and uncontrolled DM (pT u b e rkulosis (TB) paru merupakan masalah kesehatan yang besar di Indonesia. Indonesia mencapai urutan ketiga dalam jumlah kasus TB paru sesudah Cina dan India dengan perkiraan 583.000 kasus baru/tahun dengan angka kematian sekitar 140.000 penderita. B e berapa masalah dapat terjadi pada pengobatan TB paru. Salah satu dari penyakit adalah DM sebagai salah satu penyakit penyerta. Pada peduduk di atas 15 tahun dan apabila didasarkan pravalensi 1,5 % maka jumlah minimal penderita DM di Indonesia pada tahun 2000 diperkirakan 4 juta dan pada tahun 2010 sebanyak 5 juta penderita. Morbiditas infeksi paling sering dialami oleh penderita DM akibat kerentanan terhadap infeksi. Tujuan dari penelitian ini untuk menentukan konversi BTA pada penderita TB paru dengan DM terkontrol dan DM tidak terkontrol. Penelitian ini bersifat studi eksperimental. Bahan sputum penderita diambil dengan cara dibatukkan kemudian diperiksa 3 kali (SPS) dengan pewarnaan Ziehl Neelsen yaitu pada awal penelitian dan minggu ke 8 (terapi fase intensif). P e n derita yang telah didiagnosa dengan TB paru , kemudian dilakukan pemeriksaan KGD puasa dan KGD post prandial bila penderita dijumpai gejala klinis DM. Nilai KGD post prandial >= 200 mg/dl penderita diagnosa dengan DM. Untuk membedakan penderita DM terkontrol dan tidak terkontrol diambil ratarata pemeriksaan KGD puasa dan KGD bed time. DM terkontrol bila hasil KGD puasa 5,0-7,2 mmol/l (90-130 mg/dl), dan rata-rata KGD Bed Time 6,1-8,3 mmol/l (110-150 mg/dl) hasil ini secara konsisten mencapai tingkat HbA 1C < 7 mg %. D ari hasil penelitian ini didapat sebanyak 46 orang yang memenuhi kriteria penelitian, 35 orang (76,1%) TB paru dengan DM terkontrol dan 11 orang (23,9%) TB paru dengan DM tidak terkontrol. Terdapat perbedaan bermakna antara kelompok TB paru dengan DM terkontroldan TB paru dengan DM tidak terkontrol dalam hal terjadinya konversii dari pemeriksaan BTA awal dengan pemeriksaan BTA minggu ke 8 (terakhir) l (p <0,05) e64 HalamanTesis Magiste

    Pemeriksaan Fungsi Paru dan Kajian Peran Dinas Kebersihan dalam Upaya Pencegahan Gangguan Kesehatan pada Pekerja Wanita Penyapu Jalan di Kota Medan 2002

    No full text
    The road cleaners in Medan City were exposed to air pollutant causing the pulmonary disorders. The objective of this research was to examine the pulmonary function and assessment of hygiene board role in prevention of health disorders. Cross sectional study was conducted to 38 workers who worked, more than four years, aged more than 20 years and never changed the work. Seven workers suffered (18%) with obstructive disorders, 9 workers (24%) with restrictive disorders and 10 workers (26%) with combination symptoms. No preventive action was taken by the municipal hygiene board such as the providing of personal protective equipments, training and education, and also periodical health inspection. A preventive model of health protection to the workers was recommended in order to increase the health status mainly the pulmonary health.Pekerja penyapu jalan di Kota Medan yang terpapar dengan pencemar udara akan mengakibatkan terganggunya fungsi paru. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan pemeriksaan fungsi paru dan kajian peran Dinas Kebersihan dalam upaya pencegahan gangguan kesehatan pada pekerja wanita penyapu jalan. Penelitian ini merupakan rancangan crosssectional terhadap 38 orang yang bekerja > 4 tahun, berusia diatas 20 tahun dan tidak .pernah berpindah kerja. Ditemukan 7 orang (18%) yang mengalami jenis gangguan obstruktif, 9 orang (24%) mengalami gangguan restriktif dan 10 orang (26%) yang mengalami jenis gangguan campuran. Belum terlihat adanya upaya pencegahan gangguan kesehatan dari Dinas Kebersihan, seperti disediakannya alat pelindung diri, pelatihan dan pendidikan, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala. Telah disarankan suatu konsep Model Intervensi yang diharapkan dapat meningkatkan derajat kesehatan pekerja tersebut terutama kesehatan paru-paru.105 HalamanTesis Magiste

    Korelasi Antara Massa Eosinofilik dengan Partikel Coklat Gelap dengan Mycobacterium Tuberculosis pada Sitologi Biopsi Aspirasi

    No full text
    Latar belakang Pemeriksaan sputum BTA dan foto ronsen selama ini digunakan untuk mengidentifikasi penderita TB paru. Untuk TB diluar paru, perlu dilakukan sitologi biopsi aspirasi jarum halus, walaupun kadang-kadang dijumpai gambaran yang tidak khas berupa massa eosinofilik dengan partikel coklat gelap yang diduga sebagai TB. Penelitian ini akan membuktikan bahwa massa eosinofilik dengan partikel coklat, akurat dipakai sebagai kriteria baru untuk diagnostik sitologi TB. Metode Melalui teknik biopsi aspirasi jarum halus, diwarnai dengan Giemsa, bila dijumpai massa eosinofilik dengan partikel coklat gelap, dan dikonfirmasi dengan pemeriksaan PCR. Sebagai pembanding adalah radang lainnya yang bukan TB juga dikonfirmasi dengan PCR. Dicari hubungan antara massa amorf eosinofilik yang mengandung partikel coklat gelap dengan M.tuberculosis untuk menilai akurasi dilakukan uji diagnostik menilai sensitifitas dan spesifisitas massa eosinofilik dengan partikel coklat gelap dengan baku emas pemeriksaan PCR. Hasil Didapatkan hubungan yang signifikan (p<0,01) antara massa amorf eosinofilik yang mengandung partikel coklat gelap dengan M.tuberculosis. Diagnostik sitologi TB melalui gambaran massa amorf eosinofilik yang mengandung partikel coklat gelap memberikan akurasi 97,94%dengan sensitifitas 98,95% dan spesifisitas 96,97% bila dikonfirmasi dengan pemeriksaan PCR menggunakan DNA M. tuberculosis. Kesimpulan Massa eosinofilik yang mengandung partikel coklat gelap akurat dipakai sebagai kriteria baru diagnostik sitologi TB dengan sensitifitas dan spesifisitas yang tingi bila dikonfirmasi dengan pemeriksaan PCR.Background Examination of AFB sputum and X-ray photos has been used to identify pulmonary TB sufferers. For extrapulmonary tuberculosis, fine needle aspiration biopsy cytology is needed, although sometimes there is a picture that is not typical of an eosinophilic mass with dark brown particles suspected of being TB. This study will prove that eosinophilic mass with brown particles is accurately used as a new criterion for TB cytology diagnostics. Method Through fine needle aspiration biopsy technique, it was stained with Giemsa, when there was an eosinophilic mass with dark brown particles, and confirmed by PCR examination. As a comparison, other inflammation that is not TB is also confirmed by PCR. Search for a relationship between eosinophilic amorphous mass containing dark brown particles and M. tuberculosis. To assess the accuracy, a diagnostic test assessed the sensitivity and specificity of eosinophilic mass with dark brown particles with gold standard PCR examination. Results A significant correlation (p <0,01) was found between eosinophilic amorphous mass containing dark brown particles and M. tuberculosis. Diagnosis of TB cytology via eosinophilic amorphous mass containing dark brown particles gave an accuracy of 97,94% with a sensitivity of 98,95% and specificity of 96,97% when confirmed by PCR examination using M. tuberculosis DNA. Conclusion Eosinophilic mass containing accurate dark brown particles is used as a new diagnostic criteria for TB cytology with high sensitivity and specificity when confirmed by PCR examination.Disertasi Dokto
    corecore