1,721,015 research outputs found
Morfometrik ukuran tubuh Kuda Pacu Indonesia dengan kecepatan lari melalui citra digital
Penelitian ini memberikan informasi mengenai perbandingan metode penarikan garis dan metode titik pixels pada beberapa ukuran tubuh 30 ekor kuda dengan membandingkan selisih yang dihasilkan, dengan menggunakan analisis deskriptif. Mengidentifikasi perbedaan ukuran tubuh kuda berdasarkan jenis kelamin 18 ekor jantan dan 12 ekor betina, serta mengidentifikasi korelasi ukuran tubuh Kuda Pacu Indonesia (KPI) yang berpengaruh terhadap kecepatan lari 10 ekor kuda. Korelasi ukuran tubuh KPI dengan kecepatan lari menggunakan analisis regresi stepwise. Ukuran tubuh kuda yang dianalisis regresi stepwise adalah panjang Os radius-ulna, panjang Os tibia-fibula, dan lebar dada. Ketiga variabel tersebut mampu menerangkan keragaman dari kecepatan lari sebesar 92.33%, sedangkan 7.67% diterangkan oleh faktor diluar itu. Perbandingan ukuran Os radius-ulna dan Os tibia-fibula untuk mendapatkan kecepatan lari yang terbaik adalah 7:9
Identifikasi Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kemiskinan di Jawa Tengah Menggunakan Analisis Regresi Spasial.
Kemiskinan merupakan salah satu permasalahan mendasar yang menjadi
perhatian bagi pemerintah setiap negara, termasuk di Indonesia. Salah satu cara
penanggulangan kemiskinan adalah dengan mengetahui faktor-faktor penjelas
yang memengaruhi kemiskinan. Selain faktor-faktor penjelas, kemiskinan dapat
juga dipengaruhi oleh faktor kedekatan antar wilayah sehingga dalam penentuan
faktor kemiskinan tidak bisa mengabaikan faktor kedekatan wilayah. Analisis
regresi spasial merupakan salah satu analisis pemodelan regresi yang
mengakomodir pengaruh spasial antar wilayah. Penelitian ini mengambil studi
kasus di Jawa Tengah dimana termasuk lima besar provinsi dengan tingkat
kemiskinan tertinggi di Indonesia. Antar wilayah ditenggarai mempunyai
kedekatan spasial berdasarkan tingkat kemiskinan. Model regresi yang digunakan
adalah model lag spasial (Spatial Autoregressive Model/SAR) dengan nilai AIC
sebesar 191.13 yang lebih kecil dari nilai AIC model klasik sebesar 197.39.
Besarnya persentase kemiskinan di suatu kabupaten/kota di Jawa Tengah
dipengaruhi oleh besarnya persentase kemiskinan kabupaten/kota yang
mengelilinginya. Faktor-faktor yang signifikan terhadap persentase kemiskinan di
Jawa Tengah pada taraf nyata α=0.05 adalah tingkat pengangguran terbuka (X1),
persentase penduduk bekerja di sektor informal (X3), rata-rata lama sekolah (X5),
dan Angka Harapan Hidup (X7)
Klasifikasi Ekstrak Sambiloto (Andrographis paniculata) Menggunakan Sidik Jari Kromatografi Cair Kinerja Tinggi dan Kemometrik.
Sambiloto (Andrographis paniculata) merupakan tanaman obat yang
banyak dipakai oleh masyarakat di Indonesia. Efek terapeutik pada sambiloto
dipengaruhi oleh senyawa kimia di dalamnya. Konsentrasi pelarut ekstraksi
berpengaruh pada banyaknya senyawa kimia yang terekstraksi. Metode kendali
mutu diperlukan untuk menjamin konsistensi metabolit sekunder pada sambiloto
sebagai bahan baku obat. Sidik jari kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT)
sebagai metode kendali mutu digunakan pada penelitian ini. Sidik jari dalam
bentuk kromatogram dari ekstrak sambiloto dengan perbedaan konsentrasi pelarut
memiliki pola yang mirip, hanya berbeda pada nilai luas puncak dan intensitas.
Setiap ekstrak diklasifikasikan menggunakan sidik jari KCKT dan kemometrika
tipe PCA (principle component analysis). Berdasarkan klasifikasi tersebut, setiap
ekstrak terkelompok dalam kelasnya masing-masing. Kadar andrografolida
sebagai komponen utama dalam sambiloto ditentukan sebagai informasi tambahan.
Kadar andrografolida tertinggi terdapat pada ekstrak etanol 50% dan terendah
pada ekstrak air
Preferensi Mahasiswa IPB terhadap Mata Kuliah Metode Statistika Menggunakan Analisis Konjoin (Studi Kasus pada Mahasiswa IPB Program Strata Satu yang Mengambil Mata Kuliah Metode Statistika Menggunakan Analisis Konjoin)
Metode Statistika merupakan salah satu mata kuliah interdept IPB, oleh karena itu, perlu diadakan evaluasi untuk mengetahui preferensi atau keinginan mahasiswa terhadap mata kuliah tersebut. Analisis konjoin merupakan analisis yang dapat digunakan untuk mengetahui preferensi atau keinginan mahasiswa mengenai metode pengajaran untuk Metode Statistika. Kombinasi metode pengajaran disusun menggunakan fraksional faktorial dimana level dari faktor ditentukan berdasarkan survei pendahuluan. Teknik sampling yang digunakan adalah penarikan contoh acak bertahap terhadap mahasiswa yang pernah mengambil mata kuliah Metode Statistika pada tahun akademik 2009/2010. Berdasarkan Nilai relatif penting (NRP) pada hasil analisis konjoin, atribut modul, jumlah mahasiswa dan jam kuliah menempati tiga urutan teratas. Sedangkan, nilai kegunaan taraf (NKT) menunjukkan mahasiswa cenderung lebih menyukai materi sesuai mayor, modul yang terstruktur, dosen yang komunikatif, mahasiswa sebagai pengajar responsi, jumlah mahasiswa <50 satu kelasnya dan jam kuliah antara jam 07.00-12.00
Segmentasi Mahasiswa S1 IPB terhadap Sistem Peminjaman Sepeda dengan Menggabungkan Karakteristik dan Preferensi Responden.
IPB merupakan salah satu kampus yang berupaya untuk mewujudkan program Green Campus. Salah satu elemen dalam Green Campus adalah Green Transportation. Dalam mewujudkan Green Transportation ini, IPB mempunyai beberapa program yang diantaranya adalah program Green Bike. Terdapat peraturan-peraturan dalam menjalankan program Green Bike yang berhubungan dengan sistem peminjaman. Berkaitan dengan sistem peminjaman tersebut, maka diperlukan kajian terhadap segmentasi mahasiswa S1 IPB terhadap sistem peminjaman sepeda. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data preferensi sistem peminjaman sepeda mahasiswa S1 IPB dan karakteristik responden. Segmentasi terhadap karakteristik responden dilakukan dengan metode two step cluster (penggerombolan dua tahap). Jarak yang digunakan dalam two step cluster adalah jarak log-likelihood dan penentuan banyaknya gerombol dengan BIC. Jumlah gerombol yang dihasilkan yaitu sebanyak 3 gerombol dan kualitas penggerombolan tergolong fair atau cukup baik (koefisien Silhouette = 0.3). Sementara segmentasi pada preferensi responden terhadap sistem peminjaman sepeda dilakukan dengan metode penggerombolan k-means (k-rataan). Jarak yang digunakan dalam k-means adalah jarak euclid dan banyaknya gerombol optimal yang terbentuk sebanyak 2 gerombol (berdasarkan nilai Pseudo-F). Berdasarkan segmentasi terhadap preferensi sistem peminjaman sepeda dan karakteristik responden terbentuk 6 gerombol
Penerapan Adaboost dan SMOTE untuk Penyelesaian Ketidakseimbangan Kelas pada Kasus Kredit Macet Bank XYZ.
Ketidakseimbangan kelas merupakan suatu kondisi terjadinya ketimpangan
proporsi antara satu kelas dengan kelas lainnya. Ketidakseimbangan kelas akan
mempengaruhi prediksi pada model. Jika ketimpangan yang terjadi sangatlah
ekstrem, prediksi model akan lebih mengarah pada kelas mayor, sedangkan kelas
minor akan menghasilkan ketepatan prediksi yang rendah. Data yang digunakan
merupakan data penggunaan jasa kredit Bank XYZ dengan proporsi yang tidak
seimbang. Hanya sebanyak 4% nasabah yang berada pada kategori kredit macet.
Pengklasifikasian dengan metode regresi logistik biner menghasilkan ketepatan
prediksi yang rendah pada kelas minor (sensitivitas) yaitu 0.02%. Ketidaktepatan
prediksi akan berdampak pada kebijakan Bank sehingga hal tersebut perlu
ditangani. Adaboost dan Synthetic Minority Oversampling Technique (SMOTE)
digunakan dalam menangani permasalahan buruknya klasifikasi kelas minor pada
kelas tidak seimbang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja klasifikasi
dengan menggunakan metode SMOTE menghasilkan ketepatan prediksi pada
kelas minor yang lebih besar dibandingkan metode Adaboost. Kenaikan nilai
sensitivitas yang dihasilkan pada metode SMOTE mencapai 61.73%. Nilai akurasi
yang dihasilkan untuk memprediksi amatan secara keseluruhan sebesar 76.45%
dan ketepatan prediksi pada kelas mayor (spesifisitas) sebesar 77.05%
Korelasi Spektrum Inframerah dan Aktivitas Antioksidan dari Daun Tempuyung (Sonchus arvensis) menggunakan Kemometrik
Daun tempuyung (Sonchus arvensis) diketahui memiliki banyak khasiat, salah satunya sebagai antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah menetapkan gugus fungsi yang diduga aktif berperan dalam aktivitas antioksidan dan menentukan korelasinya. Sampel daun diekstraksi dengan pelarut air, etanol 10%, etanol 30%, etanol 50%, etanol 70%, dan etanol pa. Aktivitas antioksidan diuji dengan metode 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH) dan ditentukan gugus fungsi komponen ekstraknya menggunakan spektrofotometer inframerah Fourier. Aktivitas antioksidan dan kadar fenolik total tertinggi didapatkan pada ekstrak etanol 70%. Ekstrak dapat dikelompokkan berdasarkan ragam pelarut pengekstraksi menggunakan principal component analysis (PCA) dengan total PC 93%. Data serapan gugus fungsi dikorelasikan dengan aktivitas antioksidan menggunakan partial least square (PLS). Hasil analisis PLS menunjukkan bahwa gugus fungsi –OH dan C-O diduga merupakan gugus yang berkontribusi paling tinggi pada aktivitas antioksidan ekstrak daun tempuyung
Analisis Spasial untuk Sebaran Suara dan Perolehan Kursi Partai Politik pada Pemilu Legislatif 2009 di Wilayah DKI Jakarta dan Jawa Barat
In terms of election, voters behavior within a certain area varies widely and produces various responses of party preferences. This thing indicates that there is an influence of spatial on voters’ preferences besides other variables and factors innate in every individual. What is interesting is that in legislative contest, changes in districts as a spatial factor that can result in different vote accumulations that can impact different seat gain. Therefore there is a deterministic technical aspect to be emphasized which are the technical mechanism and regulations of district creation. This research used Local Indicator Spatial Association (LISA), statistical method based on Local Moran Index, to prove the influence of those two factors on the result of party votes and seats in the Election of 2009
Penerapan Model Regresi Spasial Terhadap Kasus Pernikahan Dini di Provinsi Jawa Barat tahun 2016
Pada tahun 2016, pernikahan dini atau pernikahan di bawah umur masih
tergolong tinggi di Indonesia. Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu provinsi
dengan kasus pernikahan di bawah umur yang tinggi di Indonesia. Peta tematik
pada data ini menunjukkan bahwa lokasi yang berdekatan mempunyai nilai yg
mirip dan nilai indeks Moran yang bernilai signifikan. Sehingga model statistik
yang sesuai untuk kasus ini adalah model spasial. Tujuan dari penelitian ini adalah
menerapkan analisis regresi spasial untuk menentukan prediktor yang
mempengaruhi persentase kasus pernikahan di bawah umur di Provinsi Jawa
Barat pada tahun 2016. Data yang digunakan adalah persentase wanita yang
memiliki usia pernikahan pertama di bawah 16 tahun dengan lima prediktor yang
diperkirakan dapat mempengaruhi jumlah kasus tersebut. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa model spasial durbin (SDM) merupakan model terbaik,
dengan prediktor yang signifikan adalah persentase wanita yang pernah hamil di
usia remaja dan persentase penduduk yang bekerja di sektor pertanian. Prediktor
yang mempunyai efek depedensi spasial yang signifikan adalah persentase
penduduk miskin dan persentase penduduk dengan tingkat pendidikan tertinggi
sekolah dasar
Regresi Panel Terboboti Geografis pada Indeks Pembangunan Gender Jawa Tengah Tahun 2011-2015.
Data panel merupakan gabungan dari data cross section dan time series.
Data cross section ialah data yang dikumpulkan dari satu atau beberapa objek
pada suatu waktu tertentu. Sedangkan data time series adalah data yang
dikumpulkan dari satu atau beberapa objek yang diamati pada beberapa waktu
tertentu. Analisis data panel dapat didekati dengan tiga pendekatan yakni model
panel dengan pengaruh umum (CEM), model panel dengan pengaruh tetap (FEM),
dan model panel dengan pengaruh acak (REM). Data panel juga terkadang
mengandung efek spasial yaitu salah satunya keragaman spasial. Pendugaan
parameter model data panel yang mengandung keragaman spasial dapat dilakukan
dengan menggunakan suatu metode analisis yang disebut Regresi Panel Terboboti
Geografis (RPTG).
Salah satu langkah dalam analisis RPTG adalah melakukan pembobotan
menggunakan fungsi kernel. Fungsi pembobot kernel yang sering digunakan
dalam penelitian antara lain kernel kuadrat ganda, gauss, eksponensial, dan
tricube. Pembobotan membutuhkan lebar jendela yaitu suatu radius yang
ditunjukkan oleh suatu lingkaran yang menggambarkan jumlah atau proporsi
amatan yang masih dianggap berpengaruh dalam pemodelan RPTG suatu lokasi
tertentu. Jenis lebar jendela dibedakan menjadi lebar jendela tetap dan lebar
jendela adaptif. Lebar jendela tetap memiliki besar radius sama untuk setiap
amatan, sedangkan lebar jendela adaptif memiliki besar radius yang berbeda untuk
setiap amatan. Lebar jendela optimum diperoleh melalui validasi silang (Cross
Validation/CV) dengan proses iterasi.
Indeks Pembangunan Gender (IPG) adalah suatu ukuran yang menentukan
tingkat keberhasilan pembangunan dengan permasalahan gender. IPG sama
dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) namun dibedakan menurut jenis
kelamin. IPG merupakan rasio antara IPM perempuan dengan IPM laki-laki. Jika
IPG kurang dari 100 maka terdapat kesenjangan antara pembangunan perempuan
dan laki-laki. Komponen yang menyusun IPG antara lain faktor umur panjang dan
hidup sehat, pengetahuan, dan standar hidup layak. Masalah ketimpangan gender
di Indonesia saat ini masih terjadi dalam pelaksanaan pembangunan manusia.
Kesenjangan tersebut terlihat pada beberapa aspek salah satunya aspek
kesempatan kerja dan ekonomi. Jawa Tengah merupakan provinsi terbesar di
Pulau Jawa dengan IPG yang cenderung meningkat selama 2011 sampai 2015.
Meskipun IPG Jawa Tengah cukup tinggi, tapi lebih rendah jika dibandingkan
dengan beberapa provinsi lain di Jawa yaitu DKI Jakarta dan DI Yogyakarta.
Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan IPG pada perempuan di Jawa Tengah
tahun 2011 hingga 2015 menggunakan metode RPTG. Data yang digunakan
dalam penelitian bersumber dari BPS (Badan Pusat Statistik). Peubah-peubah
penjelasnya antara lain angka harapan hidup, presentase penduduk yang
mengalami keluhan kesehatan, angka partisipasi sekolah SD/sederajat, angka
partisipasi sekolah SMP/sederajat, angka partisipasi sekolah SMA/sederajat,
pengeluaran perkapita, dan tingkat partisipasi angkatan kerja. Pemilihan peubah
penjelas berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Peubah-peubah
penjelas yang digunakan sesuai dengan komponen IPG.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa analisis RPTG dapat
memprediksi keragaman data IPG perempuan di Provinsi Jawa Tengah tahun
2011 hingga 2015 dengan pseudo R2 84.92%. Nilai IPG selama tahun 2011
hingga 2015 tidak jauh berbeda. Artinya bahwa faktor waktu tidak berpengaruh
nyata. Namun faktor spasial yang berpengaruh nyata pada IPG. Berdasarkan
peubah yang nyata, kabupaten/kota di Jawa Tengah dapat dikelompokkan menjadi
11 kelompok. Sebagai contoh Kabupaten Demak, Kudus, Pati, dan Kota
Semarang membentuk satu kelompok berdasarkan peubah penjelas yang nyata
pada IPG. Keempat kabupaten/kota tersebut dilalui oleh jalur Pantai Utara Jawa
(Pantura) sehingga struktur sosial ekonominya sama. Selain itu Kabupaten
Semarang dan Kota Salatiga dengan peubah penjelas nyata adalah APS
SMA/sederajat dan pengeluaran per kapita. Dua kabupaten/kota tersebut
merupakan sentra industri tekstil dan pengolahan makanan minuman sehingga
struktur ekonomi dan tenaga kerjanya sama. Namun ada juga kabupaten/kota yang
tidak membentuk kelompok dengan yang lain karena letaknya yang bersebelahan
dengan provinsi lain. Penelitian ini menyimpulkan peubah penjelas yang nyata di
seluruh kabupaten/kota di Jawa Tengah adalah pengeluaran per kapita. Hal ini
menunjukkan faktor yang berpengaruh besar pada IPG adalah faktor ekonomi.
Hasil tersebut dapat digunakan pemerintah daerah untuk meningkatkan IPG.
Peubah angka harapan hidup, persentase penduduk yang mengalami keluhan
kesehatan, dan APS SD/sederajat mendominasi pada kelompok-kelompok,
sedangkan TPAK sama sekali tidak berpengaruh terhadap IPG pada seluruh
kabupaten/kota di Jawa Tengah
- …
