1,721,016 research outputs found

    Aktivitas Antioksidan dan Tabir Surya Ekstrak Kulit Kayu Akway (Drymis sp.)

    No full text
    Akway merupakan salah satu tanaman obat yang berpotensi dalam bidang kesehatan. Beberapa penelitian menunjukan bahwa kandungan kimia kulit akway berpotensi sebagai antioksidan dan tabir surya. Namun belum ada penelitian lebih lanjut mengenai sifat antioksidan dan tabir surya ekstrak kulit akway yang diekstraksi menggunakan pelarut etanol. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sifat antioksidan, tabir surya dan fitokimia ekstrak kulit akway menggunakan pelarut etanol. Aktivitas antioksidan diuji menggunakan metode DPPH, pengujian tabir surya dilakukan secara in vitro menggunakan spektrofotometri dengan 3 konsentrasi larutan uji, serta analisis fitokimia secara kualitatif dan kuantitatif dengan GCMS. Hasil uji menunjukan bahwa ekstrak akway dengan pelarut E100 memiliki sifat antioksidan sangat kuat dengan nilai IC50 sebesar 9.68, sedangkan ekstrak E75 konsentrasi 500 ppm memiliki aktivitas tabir surya dengan nilai SPF tertinggi sebesar 16.95. Analisis fitokimia kualitatif menunjukan bahwa semua sampel uji mengandung senyawa fenol, flavonoid, tanin, saponin, dan triterpenoid. Kandungan fenol total tertinggi didapatkan oleh ekstrak E50 sebesar 11.91%. Hasil uji GCMS menunjukan senyawa-senyawa yang mendominasi pada ekstrak E100 yaitu 2-asetil-6-(t-butil)-4-metilfenol, driminol, (1S,3R,6R) Isopropenil-1,6-dimetil bicycle [4.3.0] nonan-8-, poligodial dan metoksieugenol. Sedangkan pada E75 yaitu 2-asetil-6-(t-butil)-4-metilfenol, driminol, metoksieugenol, Benzo[e]isobenzofuran-1,4-dione, 1,3,4,5,5a,6,7,8,9, 9a-dekahidro-6,6,9a-trimetil, dan 2,3-Dicyano-5-metil-7-fenil-1,4,6H-diazepine

    Sifat Antirayap Zat Ekstraktif Daun Mindi (Melia azedarach Linn.) terhadap Rayap Tanah Coptotermes curvignathus Holmgren

    No full text
    Chinaberry, M. azedarach, is one of the species of Meliaceae family recognized having insecticide properties. The objective of this research was to determine extractive substances percentage of chinaberry, and to test the antitermite activities against subterranean termites C. curvignathus Holmgren, as well as to analyze chemical substances extract quantitatively through Pyr-GC-MS. The extraction of chinaberry leaves used multilevel fractionation method where in there are four types of fractions obtained, namely n-hexane, ethyl ether, ethyl acetate, and the residue. Each fraction was made at concentration of 2%, 4%, 6%, 8%, and 10% for the termites test. The result showed the percentage of chinaberry leaves extractives was 10.53%. Ethyl ether fraction had the highest termite activity at all concentrations based on mortality and weight loss. At concentration of 8% and 10%, ethyl ether fraction resulted in mortality of up to 100% with a weight loss of 0.63% and 5.37%. Based on the analysis of GC-MS pyrolysis, leaves extract which was soluble in ethyl ether contained five compounds with the highest concentration, namely cinnamic acid, benzoic acid, benzenepropanoic acid, palmitic acid, and phyto

    Sifat Anti Rayap Zat Ekstraktif Kayu Manglid terhadap Serangan Rayap Tanah

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar zat ekstraktif kayu manglid, menganalisis sifat anti rayap zat ekstraktif kayu manglid terhadap rayap tanah, dan mengidentifikasi senyawa kimia teraktif pada zat ekstraktif kayu manglid. Serbuk kayu manglid diekstraksi menggunakan pelarut aseton. Ekstrak aseton selanjutnya dilakukan fraksinasi bertingkat dengan menggunakan fraksi nheksan, etil eter, dan etil asetat. Setiap fraksi dibuat konsentrasi 2, 4, 6, 8, dan 10% untuk pengujian sifat anti rayap, serta identifikasi senyawa kimia zat ekstraktif menggunakan GC-MS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar zat ekstraktif kayu manglid yang diperoleh sebesar 2.74%. Berdasarkan persentase mortalitas dan kehilangan berat, fraksi n-heksan memiliki aktivitas anti rayap tertinggi. Senyawa kimia dominan yang terdapat pada fraksi n-heksan berdasarkan analisis GC-MS yaitu β-Cyclodihydrocostunolide, bis (2-ethylhexyl) phthalate, eicosane, (+)-roemerine, tricosane, dan tetracosane

    Karakteristik Biomassa dan Arang Empat Jenis Bambu sebagai Bahan Energi.

    No full text
    Bambu memiliki potensi yang sangat besar sebagai sumber energi alternatif yang dapat diperbaharui. Salah satu metode konversi energi untuk meningkatkan nilai kalor biomassa adalah dengan proses pirolisis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat proksimat dan mengkonversi bambu menjadi produk arang melalui pirolisis pada suhu 350 °C selama satu jam. Penelitian ini menggunakan empat jenis bambu yang berasal dari D.I Yogyakarta yaitu bambu ampel (Bambusa vulgaris var. vulgaris), bambu apus (Gigantochloa apus), bambu ori (B. arundinacea), dan bambu kuning (B. vulgaris var. striata). Pengujian nilai proksimat dan nilai kalor mengacu pada ASTM dan SNI. Rendemen arang, nilai kalor bambu dan arang empat jenis bambu berkisar 23.02-23.71%, 3869-3935 kkal/kg dan 6092-6543 kkal/kg. Bambu kuning dan bambu ori memiliki nilai kalor lebih tinggi dibandingkan dengan bambu lainnya

    Sifat anti-rayap zat ekstraktif kayu pelawan (Tristaniopsis merguensis) terhadap rayap tanah (Coptotermes curvignathus Holmgren).

    No full text
    Kayu pelawan (Tristaniopsis merguensis) merupakan salah satu tanaman yang termasuk genus Tristaniopsis yang diketahui memiliki kandungan senyawa bioaktivitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan zat ekstraktif dalam kayu pelawan dan menguji sifat bioaktivitasnya terhadap rayap tanah Coptotermes curvignathus. Ekstrak aseton yang diperoleh kemudian difraksinasi secara bertingkat dengan pelarut n-heksan, etil eter, etil asetat. Setiap hasil fraksinasi lalu diuji sifat anti-rayap dengan menggunakan kertas selulosa Whatman no. 42 dengan konsentrasi 2%, 4%, 6%, 8%, dan 10%. Analisis kimia dilakukan terhadap fraksi yang paling aktif. Identifikasi senyawa kimia aktif dilakukan dengan alat GC-MS. Hasil penelitian menunjukan bahwa kadar ekstrak aseton kayu pelawan adalah 1,79%. Dari proses fraksinasi menghasilkan fraksi nheksana 0,20 %, fraksi etil eter 0,45 %, etil asetat 0,25 %, dan residu 0,89 %. Fraksi n-heksan dengan konsentrasi 10% memiliki persentase mortalitas rayap tertinggi sebesar 84,93 % dan persentase kehilangan berat kertas selulosa terendah sebesar 25,08 %. Senyawa dominan yang terkandung dalam fraksi n-heksan meliputi asam stearat, Octadecadienoic acid, methyl ester (CAS), Asam Oleat, 1,2-Benzenedicarboxylic acid, bis(2-ethylhexyl) ester (CAS), methyl ester (CAS), Androst-5-en-17-one, Estran-3-one, 17-(acetyloxy), dan 1,5-Dimethyl-hexyl

    Peningkatan Rendemen Gula Pereduksi dari Kayu Jabon (Anthocephalus cadamba Miq.) dengan Perlakuan Air Kapur (Ca(OH)2)

    No full text
    Biomassa kayu merupakan sumber gula paling melimpah yang dapat dikonversi menjadi bioetanol. Komponen utama dinding sel kayu terdiri dari selulosa, hemiselulosa dan lignin. Secara biologis hanya komponen selulosa dan hemiselulosa yang dapat dihidrolisis menjadi gula dan difermentasi menjadi etanol. Struktur selulosa terdiri dari bagian yang besifat amorf dan kristalin. Dalam hidrolisis enzimatis, keberadaan lignin dan sifat kristalinitas selulosa selama ini diyakini sebagai faktor penghambat proses kinerja enzim dalam mengkonversi selulosa menjadi gula, sehingga diperlukan perlakuan pendahuluan (praperlakuan) agar dapat meningkatkan kinerja enzim. Penelitian mengenai praperlakuan bahan berlignoselulosa dalam pembuatan bioetanol telah banyak dilakukan, salah satunya adalah menggunakan kalsium hidroksida (Ca(OH)2) atau sering disebut dengan istilah kapur. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan rendemen gula pereduksi (RGP) pada proses hidrolisis enzimatis kayu jabon dengan praperlakuan kapur, serta mempelajari perubahan karakteristik morfologi dan kristalinitas kayu jabon setelah melalui perlakuan tersebut. Serbuk kayu (tanpa kulit) ukuran 40-60 mesh dibuat dan dipersiapkan dari log kayu jabon umur 7 tahun asal Garut, Jawab Barat. Analisis komponen kimia kayu jabon (kadar ekstraktif alkohol-benzena 1:2, holoselulosa, -selulosa, hemiselulosa dan lignin klason) dilakukan terhadap sampel sebelum dan setelah perlakuan masing-masing mengacu pada standar TAPPI T204 om-88, TAPPI T9m-54, Browning (1967), dan TAPPI T222 om-88. Perlakuan dilakukan dengan menimbang 9 g serbuk jabon yang sudah diketahui kadar airnya, dimasukkan dalam digester, ditambahkan kapur dengan konsentrasi (KK) 0.1, 0.3 dan 0.5 g Ca(OH)2/g serbuk kering, dan 90 mL air. Larutan kapur dan serbuk kayu diaduk sampai merata kemudian dipanaskan dalam penangas minyak dengan variasi suhu 100, 125 dan 150 C selama 2, 4 dan 6 jam. Sebagai pembanding, dilakukan juga pemasakan hanya dengan air panas “liquid hot water” (LHW) dengan variasi suhu dan waktu yang sama dengan perlakuan kapur. Substrat hasil perlakuan dibilas menggunakan air destilasi (aquades) sampai pH-nya netral. Sebagian substrat yang sudah netral dikeringkan dalam oven 60 °C selama 3 hari untuk mengukur kadar air (KA) dan kehilangan berat (WL)-nya, sedangkan sebagian lainnya tetap disimpan dalam lemari pembeku untuk proses hidrolisis enzimatis dan pengujian lainnya. Hidrolisis enzimatis dilakukan dengan mengacu metode National Renewable Energy Laboratory (NREL) menggunakan enzim selulase komersial dengan aktifitas enzim 200 FPU/g. Variasi konsentrasi enzim (KE) yang digunakan adalah 10, 20 dan 40 FPU/g substrat. Hidrolisis dilakukan dalam shaking incubator dengan kecepatan 150 rpm, suhu 50 °C selama 48 jam. Posisi vial diletakkan horisontal untuk memperluas kontak substrat dengan enzim. Pengukuran RGP dilakukan dengan alat spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 500 nm berdasarkan metode Nelson-Samogyi. Analisis morfologi substrat sebelum dan setelah perlakuan dilakukan menggunakan Scanning Electron Microscopy (SEM) FE- SEM INSPECT F50 pada voltase 20 kV dan working distance (WD) 15.3 mm. Analisis X-Ray Difraction (XRD) menggunakan XRD-700 MaximaX series (Shimadzu) pada kisaran sudut 2Ɵ 10-40o dengan kecepatan 2o/menit dilakukan untuk mengetahui kristalinitas kayu jabon sebelum dan setelah perlakuan. Data hasil penelitian dianalisis dengan bantuan Minitab 16 Statistical Software menggunakan model rancangan acak lengkap (RAL) faktorial yang meliputi faktor KK, suhu dan waktu pemaskan. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa kayu jabon pada penelitian ini memiliki kandungan -selulosa 43.92 %, hemiselulosa 29.96 %, lignin 25.20 % dan ekstraktif 2.57 % (b/b). Perlakuan kapur mampu meningkatkan RGP kayu jabon sampai 9.7 kali lebih tinggi daripada RPG kayu jabon tanpa perlakuan. Penambahan KK (0.1-0.5 g Ca(OH)2/g biomassa kering) dan peningkatan suhu (100-150 C) memberikan pengaruh signifikan terhadap RGP jabon. RGP tertinggi (118 mg setara glukosa/g sebuk kering) diperoleh dari kombinasi perlakuan KK 0.5 g Ca(OH)2/g biomassa kering pada suhu 150 C selama 4 jam, dengan KE 40 FPU/g substrat. Hasil ini setara dengan 14.4 % dari perhitungan teori jumlah maksimal gula pereduksi yang dapat dikonversi dari kayu jabon. Variasi KE memberikan pengaruh signifikan terhadap RGP pada perlakuan kapur, tetapi sebaliknya tidak berpengaruh signifikan terhadap RGP dengan perlakuan LHW. RGP tertinggi masing-masing KE diperoleh dari kombinasi perlakuan KL 0.5 g Ca(OH)2/g biomassa kering pada suhu 150 C selama 4 jam. Pada kondisi tersebut, penambahan KE dari 10 ke 20 FPU/g substrat mampu meningkatkan RGP jabon sebanyak 57.4 %. Sedangkan dari KE 20 ke 40 FPU/g substrat terjadi peningkatan RGP sebanyak 43.9 %. Hal ini berarti peningkatan KE 10-20FPU/g substrat lebih efektif pengaruhnya untuk meningkatkan RGP dibandingkan dengan peningkatan KE 20-40 FPU/g substrat. Lebih dari sepertiga komponen lignin dan hemiselulosa jabon (45.83 dan 65.52 %) dapat terdegradasasi dengan praperlakuan kapur. Pada perlakuan suhu dan waktu yang sama, penambahan kapur (0.5 g Ca(OH)2/g biomassa kering) dapat mendegradasi lignin 6 kali lebih banyak dibandingkan dengan perlakuan LHW. Penambahan kapur dan peningkatan suhu mampu meningkatkan kehilangan hemiselulosa. Meskipun derajat kristalinitasnya meningkat, perlakuan kapur menyebabkan permukaan dinding sel kayu jabon makin terbuka dan semakin poros sebagai akibat dari terdegradasinya komponen lignin dan hemiselulosa, sehingga hal ini menyebabkan RGP jabon meningkat

    Sifat Proksimat Kayu Eukaliptus dan Akasia sebagai Bahan Energi Biomassa

    No full text
    Kayu merupakan salah satu bahan baku energi biomassa karena memiliki karakteristik yang sesuai untuk dikembangkan sebagai energi terbarukan. Penelitian ini bertujuan menguji kadar proksimat dari 16 jenis kayu sebagai bahan baku energi biomassa. Bahan penelitian terdiri atas 9 sampel kayu akasia (Acacia sp.) dan 7 sampel kayu eukaliptus (Eucalyptus sp.). Metode pengujian mengacu pada standar ASTM dan SNI. Nilai kalor 16 jenis kayu berkisar 3928-4231 kkal/kg. Karbon terikat dan nilai kalor masing-masing dipengaruhi positif oleh kadar lignin dan negatif oleh nisbah siringil/guaiasil. Kayu Acacia hybrid memiliki nilai kalor tertinggi dibandingkan dengan jenis kayu lainnya

    Aktivitas antidiabetes fraksi hasil fraksinasi ekstrak etanol daun kina ledger (Cinchona ledgeriana Moens).

    No full text
    Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu masalah kesehatan yang besar. DM adalah suatu penyakit yang tubuh penderitanya tidak dapat secara otomatis mengendalikan tingkat gula glukosa dalam darahnya. Tanaman kina mengandung senyawa alkaloid yang terbentuk secara alami. Kelompok senyawa fenolik dan alkaloid diketahui berpotensi sebagai antidiabetes. Tujuan dari penelitian ini untuk menetapkan rendemen dan aktivitas daun kina sebagai agen antidiabetes secara in vitro serta menentukan fraksi teraktif. Tujuan lain untuk mengetahui komponen kimia yang ada di dalam fraksi teraktifnya. Fraksinasi menggunakan metode solvent-solvent extraction, pengujian antidiabetes melalui uji penghambatan enzim α-glukosidase secara in vitro dan analisis komponen kimia menggunakan gas chromatography mass spectrometry (GC-MS). Rendemen fraksi n-heksana, fraksi etil asetat, dan residu sebesar 0.20%, 1.96%, dan 10.10%. Fraksi etil asetat dan residu tergolong aktif antidiabetes (IC50 etil asetat= 15.80 μg/mL, residu= 35.13 μg/mL) dan fraksi n-heksana tidak aktif (IC50>100 μg/mL). Analisis komponen kimia menunjukkan fraksi etil asetat mengandung senyawa dominan levoglukosan

    Aktivitas Antimalaria Ekstrak Kayu Bidara Laut (Strychnos ligustrina Blume)

    No full text
    Kayu bidara laut (Strychnos ligustrina Blume) telah lama dimanfaatkan sebagai salah satu obat antiimalaria oleh masyarakat Indonesia. Tujuan dari penelitian ini telah menentukan ekstrak dan aktivitas antimalaria ekstrak kayu bidara laut serta identifikasi terhadap ekstrak teraktif. Ekstrak kayu bidara laut diperoleh menggunakan pelarut n-heksana, etil asetat, dan etanol secara berurutan. Ekstrak kemudian diuji pada parasit Plasmodium falciparum secara in vitro. Komponen kimia dari ekstrak teraktif kemudian dianalisa menggunakan analisis kualitatif fitokimia dan gas kromatografi spektroskopi massa (GCMS). Hasil penelitian menunjukan rendeman n-heksana, etil asetat dan etanol secara berturut 0.62%, 0.66%, dan 4.23%. Ekstrak yang menunjukan aktivitas malaria untuk menghambat pertumbuhan parasit P. falciparum yaitu ekstrak etanol dengan nilai IC50 3.09 ug/mL. Ekstrak etanol terdeteksi terdiri atas golongan alkaloid, flavonoid, fenol hidroquinon dan tanin. Pada ekstrak etanol terdeteksi 28 senyawa dimana salah satunya adalah strychnine yang diketahui memiliki aktivitas antimalari

    Toksisitas Minyak Atsiri Kayu Surian (Toona Sinensis Roemor) Terhadap Larva Udang Artemia Salina Leach

    No full text
    Indonesia which known as a high biological diversity is a potential country to develop medicinal plants species and explore the active compounds contained in it. Surianwood (Toona sinensis Roemor) is one of the species which potentially developed because it has been proved for containing active compounds that are toxic to certain types of cancer and has antioxidant and antibacterial effect, but it haven’t managed to isolate the active compounds. This research uses the column chromatography method with increased polarity to separate the essential oil into its fractions, then tested to A. salina shrimp larvae. The fractionation generates 9 fractions with fraction 1 is most active fraction which LC50 6.79 μg/mL. This fraction dominated by spathulenol (14.93%), neoallocimene (10.17%), α-curcumene (6.54%), β-elemene (3.40%) and ledene (3.39%)
    corecore