1,720,975 research outputs found
PELATIHAN MEDIA MASSA SEBAGAI KONTROL SOSIAL DALAM KETERAMPILAN BERBAHASA DI KANTOR PWI (PERSATUAN WARTAWAN INDONESIA)
Media massa memiliki kewajiban untuk memberikan pencerdasan terhadap masyarakat, termasuk dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Namun, dalam praktiknya, tidak semua media massa mengindahkan hal tersebut. Terkadang, karena keterbatasan pengetahuan wartawan ataupun redaktur dalam membuat berita, gaya tulisan yang dibuat tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tujuan dari pelatihan ini adalah memberikan bekal para wartawan bahwa keterampilan berbahasa terkait erat dengan hasil pemberitaan media massa terutama pada perannya sebagai kontrol sosial dalam masyarakat lingkunagn Karawang. Program pengabdian masyarakat ini diharapkan dapat berguna dan bermanfaat bagi wartawan, Persma Unsika dan mahasiswa Unsika dalam hal (1) Wartawan dapat berkomunikasi dengan kaidah berbahasa yang baik sebagaimana tertuang dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah. (2) Wartawan memiliki kemahiran dalam menyajikan berita dengan bahasa yang baik dan berkualitas. (3) Dapat memilah kata disetiap sajian berita di media massa yang tidak menimbulkan makna ambigu. Dalam proses pelatihan berupa diskusi panel dan analisa produk ditemukan banyak tulisan dalam media massa yang belum menerapkan kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan konteks berbahasa. Hal ini terjadi karena keterbatasan wartawan dalam penguasaan keterampilan berbahasa Indonesia, selain itu juga media massa yang ada dalam naungan PWI tidak memiliki redaktur bahasa (editor). Solusi terhadap permasalahan di atas adalah mulai menempatkan redaktur bahasa (editor) yang akan memperbaiki kesalahan berbahasa dalam penulisan berita sebelum dicetak dan bibaca oleh masyarakat. Adapun alternatif lain selain menempatkan redaktur bahasa (editor) yaitu mengundang ahli bahasa secara periodik untuk merevieu produk media massa berupa koran, majalah ataupun tabloid
KORELASI KELENGKAPAN FASILITAS PERPUSTAKAAN TERHADAP MINAT SISWA BERKUNJUNG (Studi Kasus di Perpustakaan SMK Negeri 2 Palembang)
Penelitian ini membahas tentang korelasi kelengkapan fasilitas perpustakaan
Terhadap Minat Siswa Berkunjung (Studi Kasus di Perpustakaan SMK Negeri 2
Palembang)”. Adapun yang menjadi permasalahan penelitian ini adalah: 1).
Bagaimana kelengkapan fasilitas di Perpustakaan SMK Negeri 2 Palembang, 2).
Bagaimana korelasi kelengkapan fasilitas perpustakaan terhadap minat siswa
berkunjung di Perpustakaan SMK Negeri 2 Palembang. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui korelasi kelengkapan fasilitas terhadap minat siswa berkunjung
ke perpustakaan. Penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif. Dengan
menggunakan sumber data primer dan sumber data sekunder. Metode
pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi,
wawancara, angket (kuisioner), dan studi dokumen. populasi dalam penelitian ini
yaitu anggota perpustakaan, Sampel yang diambil menggunakan random
sampling dan dihitung dengan menggunakan rumus slovin. Kemudian metode
analisis yang digunakan dengan teknik korelasi product moment. Dari hasil
korelasi ditemukan bahwa besaran koefisien korelasi antara variabel X
(kelengkapan fasilitas perpustakaan) dan variabel Y ( minat siswa berkunjung)
sebesar 0,643. Karena r hitung tabel> r tabel pada taraf signifikan 5% (0,297) dan
taraf signifikan 1% (0,384), maka korelasi dikatakan signifikan. Dari hasil
hipotesis tersebut, maka hipotesis Ha diterima, yang berarti adanya korelasi positif
atau signifikan antara kelengkapan fasilitas perpustakaan dengan minat siswa
berkunjung ke perpustakaan SMK Negeri 2 Palembang. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa berdasarkan dari hasil analisis yaitu 0,643 menunjukkan
hasil tinggi. Serta menyatakan bahwa adanya hubungan antara kelengkapan
fasilitas perpustakaan terhadap minat siswa berkunjung.
Kata Kunci : Kelengkapan Fasilitas, Perpustakaan, Dan Minat Siswa
Berkunjung
Intertekstual Puisi “Bukan Beta Bijak Berperi“Karya Rustam Effendi Dan Puisi “Sajak” Karya Sanusi Pane Serta Pemanfaatannya Dalam Materi Pembelajaran Puisi
Karya sastra ditulis atau dicipta berdasarkan konvensi sastra yang ada. Terbukti adanya hubungan kesejarahan antara karya-karya yang sezaman, karya-karya yang mendahului, dan karya yang hadir kemudian. Dengan meninjau hubungan intertekstual dapat ditentukan norma-norma dan konvensi-konvensi sebuah periode sastra. Kajian berikut mengkaji struktur puisi “Bukan Beta Bijak Berperi” karya Rustam Effendi dan puisi “Sajak” karya Sanusi Pane dengan pendekatan intertekstual karya sastra tersebut. Hasil analisis struktur kedua puisi tampak bentuk penyimpangan dari sisi penyair dan pembaca. Puisi Bukan Beta Bijak Berperi menggambarkan pengharapan kebebasan dari seorang penyair, sedangkan puisi Sajak menggambarkan pembaca hanya sekedar membaca tanpa adanya keinginan meresepsi dan mengkaji secara mendalam karya sastra yang dihasilkan pengarang. Hasil kejian kedua puisi tersebut dalam dijadikan bahan ajar teks dalam pembelajaran puisi. Berdasarkan pemaknaan demikian, dapat disimpulkan bahwa kedua puisi tersebut memiliki makna menyimpang. Kajian Interteks puisi Bukan Beta Bijak Berperi masih terikat dengan konvensi penggunaan baris dalam bait yang terdiri dari empat baris, menggunakan sajak aa aa dan ab ab. Hal ini terjadi karena puisi tersebut termasuk dalam periode yang berbeda. Puisi Bukan Beta Bijak Berperi hadir lebih awal sebagai hipogram dibandingkan puisi Sajak. Puisi Sajak tidak lagi patuh pada konvensi sajak aa aa maupun ab ab tetapi aa bb cb dan ab ab. Dilihat dari sisi baris yang digunakan juga tampak, bait pertama terdiri dari enam baris dan bait kedua terdiri dari empat baris
KEPRIBADIAN TOKOH UTAMA DALAM NOVEL ELENA KARYA ELLYA NINGSIH
This study aims to (1) determine the personality type according to Gerard Heymans' theory on the main character in the Elena novel by Ellya Ningsih (2) the factors underlying the personality of the main character in the Elena novel by Ellya Ningsih. The data source of this research is Elena novel by Ellya Ningsih, first printed in July 2018 and published by Kata Depan and distributed by Huta Media. This study examines the picture of the personality of the main character using Gerard Heymans personality theory. The method used is descriptive qualitative approach to the psychology of literature. This study describes the data about the main character in Elena's novel. Data obtained by reading and recording techniques. Data were analyzed using interactive analysis techniques. The results showed that the personality type of the main character that dominates is flegmiticity, which is a person who has calm, patient, is not easily discouraged, brave, independent, prejudiced and intelligent. The factors that influence the personality of the main character in Elena novel are innate, environmental and family
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
