58 research outputs found
Hubungan Antara Motivasi Kerja dan Semangat Kerja Dosen FPTK IKIP Malang
Hubungan Antara Motivasi Kerja dan Semangat Kerja Dosen FPTK IKIP Malan
INDIKATOR PRODUKTIVITAS KERJA GURU SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN
Productiviy of the teacher viewed at the learning plan, carry out learning activities, conduct assessment of learning process, test and final exam, conduct an analysis of daily test results, develop and execute improvement and enrichment programs, mentor to other teachers in the learning process; making tools lessons/ teaching aids, following the development and popularization activities of the curriculum, make notes about the progress of students learning outcomes. The productivity of teachers is also seen from the research, writing articles, scientific forums, and training.
Guru dituntut untuk selalu produktif dalam proses pembelajarannya. Produktivitas guru dilihat dari perencanaan pembelajaran, melaksanakan kegiatan pembelajaran, melaksanakan kegiatan penilaian proses belajar, ulangan dan ujian akhir, melaksanakan analisis hasil ulangan harian, menyusun dan melaksanakan program perbaikan dan pengayaan, membimbing kepada guru lain dalam proses pembelajaran; membuat alat pelajaran/alat peraga, mengikuti kegiatan pengembangan dan pemasyarakatan kurikulum, membuat catatan tentang kemajuan hasil belajar anak didik. Produktivitas kerja guru juga dilihat dari penelitian yang dilakukan, menulis artikel, dan keikutsertaan dalam forum ilmiah, serta pelatihan
STUDI PRODUKTIVITAS KERJA GURU PADA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI DI MALANG RAYA
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan produktivitas kerja guru SMKN di Malang Raya. Metode penelitian menggunakan rancangan penelitian deskriptif, dengan jumlah sampel 264 guru. Data dikumpulkan dengan skala Likert dengan teknik proposional random sampling. Hasil penelitian menemukan produktivitas kerja guru berada pada kategori sedang. Secara rinci ditemukan: (1) penyusunan rencana pembelajaran, frekuensi membimbing siswa, frekuensi membuat media pembelajaran, frekuensi menggunakan media pembelajaran, tingkat pencapaian kelulusan, keikutsertaan dalam forum ilmiah, dalam kategori tinggi, (2) pelaksanaan pembelajaran dalam kategori sangat tinggi, (3) pembimbingan PPL dan teman sejawat serta tingkat pencapaian kenaikan dalam kategori sedang; (4) frekuensi melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) dan penulisan artikel dan buku ajar dalam kategori kurang
MANAJEMEN STRATEGIK PENDIDIKAN KEJURUAN DALAM MENGHADAPI PERSAINGAN MUTU
The Strategic Management of The Vocational Education to Cope with Quality Competition. The vocational education needs to apply a strategic management in order to achieve educational goals. There are two stages in the strategic management, the strategy formulation and the strategy implementation. The strategy formulation includes planning, setting vision and mission of the organization, contructing the organizational profile, and assessing the organizational environment. The implementation of the strategy consists of formulating operational strategies, moving along the strategy, motivating and empowering the available sources to realize and institutionalize the strategic plan, evaluating the strategy and controling the strategy in order to encourage the smoothness implementation of the activities. The application of the strategic management in vocational education is performed by formulating the strategy and its implementation and combining the school-based management.
Pendidikan kejuruan perlu menerapkan manajemen strategik agar tujuan pendidikan dapat tercapai. Ada dua tahapan dalam manajemen strategi, yaitu formulasi strategi dan implementasi strategi. Formulasi strategi mencakup perencanaan, penetapan visi dan misi organisasi, pembuatan profil organisasi, dan asesmen. Sedang implementasi strategi terdiri dari merumuskan strategi operasional; menggerakkan strategi; memotivasi; dan memberdayakan sumber-sumber yang tersedia untuk merealisasikan rencana strategi; dan melembagakan strategi; melakukan evaluasi strategi; melakukan dan pengawasan strategi dalam rangka mendorong kelancaran pelaksanaan kegiatan. Aplikasi manajemen strategik dalam pendidikan kejuruan dilakukan melalui penyusunan formulasi strategi dan implementasi strategi, dengan mengkombinasikan manajemen berbasis sekolah
PENGARUH PERSEPSI TENTANG SERTIFIKASI GURU, STRATEGI PENYELESAIAN KONFLIK, DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA GURU SMKN
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh persepsi tentang sertifikasi guru, strategi penyelesaian konflik, motivasi kerja, terhadap produktivitas kerja. Populasi penelitian adalah guru-guru SMKN Malang Raya sedangkan sampel (278 guru) diambil secara acak. Data dianalisis dengan analisis deskriptif dan korelasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) persepsi tentang sertifikasi guru, strategi penyelesaian konflik, motivasi kerja dalam kategori tinggi, dan produktivitas kerja guru dalam kategori sedang; (2) ada hubungan antara (a) persepsi tentang sertifikasi guru, strategi penyelesaian konflik dengan motivasi kerja, (b) strategi penyelesaian konflik, motivasi kerja dengan produktivitas, (3) tidak ada hubungan antara persepsi tentang sertifikasi guru dengan produktivitas kerja.
Kata Kunci: sertifikasi guru, strategi penyelesaian konflik, motivasi kerja, produktivitas kerja
THE INFLUENCE OF PERCEPTION ON TEACHER CERTIFICATION, CONFLICT RESOLUTION STRATEGIES, AND WORK MOTIVATION ON WORK PRODUCTIVITY OF SMKN TEACHERS IN MALANG
Abstract: This study was aimed to investigate the influence of perception on teacher certification, conflict resolution strategies, and work motivation on work productivity. The population was SMK teachers in Malang and the sample (278 teachers) was taken randomly. The data were analyzed using descriptive and correlational analyses. The findings showed: (1) perception about teacher certification, conflict resolution strategies, work motivation belonged to the high category while the work productivity belonged to the fair category, (2) there are relationships between (a) perception about teacher certification, conflict resolution strategies and work motivation, (b) conflict resolution strategies, work motivation and work productivity, (3) there is no relationship between perception about teacher certification and work productivity.
Keywords: teacher certification, conflict resolution strategies, work motivation, and work productivit
MEMBANGUN KERJASAMA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN DAN INDUSTRI UNTUK KETERSESUAIAN KOMPETISI LULUSAN
Peningkatan keterserapan lulusan pendidikan kejuruan tergantung dari kompetensi yang dimiliki lulusan pendidikan kejuruan dengan kebutuhan keterampilan yang diperlukan oleh industri. Untuk meningkatkan kompetensi (keterampilan) lulusan SMK, diperlukan adanya kerjasama dengan industri. Kerjasama dapat dilakukan melalui: (1) Kerjasama dalam pengembangan kurikulum, (2) kerjasama dalam pengembangan sumber daya manusia, (3) kerjasama dalam pengembangan sarana prasarana, dan (4) implementasi pengembangan kerjasama melalui pendidikan sistem ganda. Dalam perekrutan pegawai, industri mengutamakan ranah afektif (utamanya), ranak psikomotor (keterampilan), dan ranah kognitif
OPTIMALISASI MOTIVASI KERJA DALAM RANGKA PENINGKATAN KINERJA GURU PENDIDIKAN KEJURUAN
Motivasi adalah salah satu faktor dalam meningkatkan kinerja guru pendidikan kejuruan. Motivasi diartikan sebagai dorongan yang bersifat internal atau eksternal yang diinginkan seseorang untuk membangkitkan antusiasme, dan melakukan suatu perbuatan guna memenuhi kebutuhannya serta ke arah yang menguntungkan organisasi. Motivasi pegawai dapat dikembangkan melalui: (1) pendekatan tradisional; (2) pendekatan hubungan manusia; (3) pendekatan sumber daya manusia; dan (4) pendekatan kontemporer. Dari keempat pendekatan tersebut pendekatan kontemporer, khususnya pendekatan teori dua faktor mempunyai keluasan dalam memotivasi pegawai, yaitu bahwa motivasi pegawai akan meningkat jika faktor-faktor intrinsik (peluang promosi, peluang pertumbuhan personal, pengakuan, tanggung jawab dan prestasi) terpenuhi, tanpa dengan meninggalkan faktor-faktor ekstrinsik (kualitas pengawasan, gaji, kebijakan perusahaan, hubungan antar pribadi, dan keamanan kerja).Kata kunci: motivasi kerja, kinerja, pendidikan kejuruan
PENDEKATAN MANAJEMEN KONFLIK PADA LEMBAGA PENDIDIKAN
Organisasi yang sedang mengalami konflik menunjukkan ciri-ciri sebagai berikut: (1) terdapat pertentangan antar individu atau kelompok, (2) terdapat perselisihan dalam mencapai tujuan, (3) terdapat pertentangan norma, dan nilai-nilai individu maupun kelompok, (4) adanya sikap dan perilaku saling meniadakan, menghalangi pihak lain, dan (5) adanya perdebatan dan pertentangan sebagai akibat munculnya kreativitas, inisiatif, atau gagasan-gagsan baru dalam mencapai tujuan organisasi. Lima jenis konflik, yaitu: konflik data, konflik kepentingan, konflik relasional, konflik struktural dan konflik berbasis nilai. Lima gaya untuk menangani konflik: gay aberkompetisi, gaya menghindar, gaya berkompromi, gaya mengakomodasi, dan gaya kolaborasi. Dalam menangani konflik, perlu meninjau intervensi-intervensi yang tersedia, dan menentukan dulu jenis konflik apa yang dihadapi. Konflik data, konflik kepentingan dan konflik relasional mudah diatasi, sementara konflik struktural dan konflik nilai diatasi dengan melakukan perubahan terhadap pandangan yang dianut orang-orang yang bersangkutan
PENCIPTAAN IKLIM ORGANISASI, PENERAPANNYA PADA PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN
Tercapainya tujuan pendidikan pada pendidikan teknologi dan kejuruandiantaranya dipengaruhi oleh iklim organisasi yang ada pada pendidikan tersebut.Iklim organisasi diartikan sebagai suatu bentuk mengenai persepsi pegawai (dosendan karyawan) pada lingkungan kerjanya, yang dipengaruhi oleh organisasi formal,organisasi informal, kepribadian individunya dan kepemimpinan pemimpinnya.Iklim organisasi pada pendidikan teknologi dan kejuruan yang sehat harus mencakupdimensi-dimensi sebagai berikut: (1) kepemimpinan, meliputi: kepercayaan, ide-idebawahan, dan kebebasan; (2) kekuatan motivasi, meliputi dorongan berprestasi dantingkat kepuasan; (3) komunikasi, mencakup level komunikasi, kelengkapaninformasi, dan prakarsa; (4) interaksi dan pengaruh, mecakup level interaksi danpengaruh serta kerjasama; (5) pembuatan keputusan, meliputi keputusan pemimpindan keputusan bawahan; (6) penetapan tujuan, mencakup cara penetapan tujuan dandukungan; (7) pengawasan, mecakup tingkat pengontrolan dan informasi; serta (8)unjuk kerja
- …
